Aku dan Dosen Maid-ku

Entri Writchal #2

Tema: Maid


Aku dan Dosen Maid-ku 

Oleh: AnkoroMochimochi 

Sore itu, angin berhembus dengan pelan. 

Aku bisa merasakan semilir angin yang sejuk. Wajar saja, hujan baru selesai turun. 

Banyak sekali mahasiswa yang baru berjalan pulang jam segini. Mungkin sebagian dari mereka ada yang menunggu hujan reda. 

Ada yang berjalan sendiri—mereka terlihat seperti menikmati waktu mereka sendiri—ada juga yang berjalan sambil bersama pacar atau temannya. 

Di saat mereka semua sudah berjalan pulang, aku masih duduk di sini, di salah satu bangku yang ada di lingkungan kampus. 

Mungkin kalian bertanya, kenapa aku masih duduk di sini padahal hari makin gelap dan orang orang sudah beranjak pulang? 

Pernahkah kalian merasakan rasa kecewa yang sangat besar, sampai-sampai kalian sudah tidak yakin lagi apakah masih ada orang baik di dunia ini? Kira-kira itulah yang aku rasakan. 

Beberapa jam yang lalu, saat hujan masih turun, aku mendapatkan pesan dari pacarku. Kami sudah berhubungan selama lebih dari lima tahun. Jelas saja, itu bukan waktu yang sebentar. Banyak sekali cerita yang kami alami di tengah perjalanan itu. 

Tapi, pesan yang ia kirim sore ini menjadi akhir dari segalanya. 

Ia memutuskan untuk putus karena menemukan pria lain yang lebih baik. 

Sial. 

Itulah kata yang terus menerus mendengung di kepalaku. Maksudku, aku tahu kalau aku bukan lelaki sempurna, dan bahkan kita sudah berhasil melewati lima tahun bersama. Tapi semuanya harus berujung dengan kamu yang menemukan lelaki lain?

Yang benar saja! 

Frustrasi. Mungkin itu kata yang paling tepat menggambarkan suasana hatiku sekarang. Di tengah kefrustasian pikiranku, tiba-tiba datang seseorang yang ikut duduk di sebelahku. 

Awalnya aku tidak sadar, tapi ketika aku tidak sengaja melihat siluet orang tersebut, aku segera melihat ke sebelahku. Siluet yang aku lihat adalah seorang perempuan yang aku cukup familiar dengannya. 

Dia adalah Bu Rita. Salah satu dosen yang mengajar di kelas ku. Bila kau perhatikan, beliau termasuk salah satu dosen muda yang beruntung dapat mengajar di sini. Wajar saja, karena kebanyakan dosen yang mengajar di sini adalah orang-orang tua yang bisa dibilang sudah sangat sepuh. Jadi cukup menyegarkan memiliki dosen muda seperti beliau ini. 

Tapi, hal lain selain ‘kemudaan’nya yang jadi pusat perhatian adalah penampilannya. Aku tidak bermakusd mendiskreditkan siapapun, tapi siapa sangka di balik parasnya yang cantik ini beliau adalah seorang dosen mata kuliah kalkulus. 

Yep, kau tidak salah baca, kalkulus. 

Bisa dibilang, keberadaannya merupakan perwujudan dari kata ‘sempurna’—cantik, cerdas, dan berkarisma. 

Tapi, ekspresinya sore ini tidak menunjukkan hal itu. Bisa kubilang, ekspresi wajahnya terlihat cukup mirip seperti ku—frustasi. Wajahnya dengan jelas menampakkan ekspresi tersebut sembari jarinya berinteraksi dengan ponsel yang ia genggam. Ia sepertinya melihat sesuatu yang ia kurang sukai di ponselnya. 

Beliau terlihat benar-benar fokus banget dengan ponselnya, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa aku daritadi memperhatikannya. Agar tidak terlalu canggung, aku memberanikan diri untuk menyapa beliau. 

“Um… Bu Rita?”

Ia terkejut. Setelah melihat ada seorang mahasiswa yang memanggilnya, ia segera menyimpan ponselnya di tas nya dan mengubah ekspresinya. 

“Eh! Ah, maaf ibu tidak memperhatikan kamu. Kamu tuh…” 

“Saya Randi Bu, dari kelas kalkulus ibu.” 

“Ah iya, saya pernah lihat kamu di kelas saya… eh, kamu nangis?” 

Waduh sial, aku terlalu termakan pikiran sampai tidak sadar nangis beneran. 

“Anu, ini gapapa kok bu. Hehe. Kalau ibu sendiri kenapa? Keliatannya kayak kesal gitu. Eh, maaf saya bukan maksud buat ikut-ikutan…” 

“Ah iya gapapa. Kan saya juga yang ga sengaja nunjukkin wajah jengkel saya ke kamu. Biasa, urusan kerjaan sampingan saya.” 

“Ibu punya kerja sampingan?” 

“Ya punya dong, kan gaji dosen tuh kecil.”, ucap beliau sambil nyengir. 

Ya mungkin orang dewasa memang punya urusannya sendiri. Tiba-tiba, terdengar suara dering dari ponsel milik Bu Rita. 

“Hadeh, udah jam segini aja. Yaudah ya, saya pergi duluan. Panggilan kerja sampingan saya.” “Oh iya bu silahkan.” 

Bu Rita pun beranjak dari bangku dan pergi. 

Ketika aku kembali mengecek ponsel, rupanya waktu sudah menujukkan pukul 5 sore. Daripada keburu hujan lagi, aku memutuskan untuk langsung beranjak pulang.

Tapi belum sempat aku beranjak, ponselku berdering. Rupanya ada pesan masuk. Tapi pesan ini berasal dari nomor yang tidak dikenal. Yah mungkin iklan paket data atau pulsa. 

Sebelum aku menghapus pesan tersebut, ada sebuah kata yang cukup menarik perhatianku. “…maid…” 

Maid? Jarang sekali ada iklan yang menggunakan kata seperti itu. Karena penasaran, aku memutuskan untuk membuka pesan tersebut. 

“Kamu kesepian? Tinggal sendirian? Baru diputusin pacar? Butuh seseorang buat nemenin dan ngebantuin kamu di rumah? Pesan layanan maid kami sekarang juga! Silahkan hubungi 14022 untuk pemesanan maid.” 

Eh? Bentar, ini seriusan aku bisa memesan layanan maid? Aku kira layanan ini cumin ada di luar negeri aja. 

“Pesan ga ya…” 

Setelah terjadi perdebatan batin antara menjaga norma masyarakat dan mengatasi rasa kesepian, aku pun memutuskan untuk memesan seorang maid untuk malam ini. 

Malam harinya, aku pun menunggu kedatangan maid tersebut di apartemen ku. “Sudah pukul 7 malam…” 

Tidak lama, terdengar suara bel dari pintu. 

Dengan perasaan deg-degan, aku pun perlahan membukakan pintu. Wajar saja, ini pertama kalinya aku menggunakan layanan seperti ini. Yang ada dipikiranku saat ini adalah hal-hal seperti penampilan maid nya, apa yang akan kami lakukan nanti, dan bagaimana bila orang tuaku mengetahui bahwa saat ini aku memesan seorang maid… ah itu tidak penting. Akan kubuka pintu ini, bismillah! 

Ketika pintu tersebut terbuka. Aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat di depanku. Aku pun mulai memperhatikan penampilannya dari kaki, paha, dan tubuhnya…

“Benar-benar seorang maid…” 

Ketika aku melihat wajahnya, aku sangat terkejut. 

“Bu… Rita?” 

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat seorang wanita yang sehari-harinya mengajar dikelasku sebagai dosen kalkulus saat ini berdiri di depanku tengah mengenakan pakaian seorang maid. 

“Eh? Sebentar… Randi?!” 

Wajah Bu Rita juga menujukkan ekspresi yang sama terkejutnya. Aku yakin, beliau juga terkejut saat menyadari bahwa orang yang memesan layanannya adalah mahasiswanya sendiri. 

“Oh yaudah, gapapa kamu ga usah bayar. Biar saya yang batalin pesanannya. Saya pamit dulu ya—” 

“Tunggu Bu!” 

Dengan refleks aku memegang lengan Bu Rita. Aku bisa merasakan, walaupun usianya sudah memasuki tiga puluh tahunan, kulit Bu Rita masih sangat halus seperti perempuan yang seumuran denganku. 

“Gimana kalau… kita bicarakan dulu baik-baik di dalam?” 

Aku berusaha membujuk agar Bu Rita tidak langsung pergi. Dengan wajah ragu-ragu, ia mengangguk dan aku mengajaknya masuk. 

Kami berdua duduk berhadap-hapadan di depan meja berukuran kecil yang berada di ruang tengah dari apartemenku. Walaupun di depan kami ada dua cangkir berisikan teh, tidak ada dari kami yang berani untuk meminumnya. 

“Umm… silahkan diminum bu teh nya” ucapku memulai pembicaraan.

“Ah iya, makasih Randi.” 

Bu Rita pun meneguk teh miliknya. Aku hanya dapat memperhatikan beliau yang saat ini sedang mengenakan pakaian maidnya. Masih sulit kupercaya, dosen cantik dan populer yang sehari hari hanya dapat kulihat dari kursi belakang kelas saat ini berada di depanku mengenakan pakaian maid meneguk teh yang aku buat…. Apa sih yang aku pikirkan astaga. 

Setelah kami berdua meneguk teh kami maisng-masing, aku pun membuka pembicaraan. “Maafkan saya bu.” 

Aku menundukkan kepala ku dan meminta maaf. Kenapa aku meminta maaf? Karena aku berpikir bahwa beliau sangat kecewa mahasiswanya melakukan hal seperti ini. Ditambah orang yang menjadi maidnya adalah dosennya sendiri. 

“Eh? Kenapa…?” 

“Saya yakin, ibu sangat kecewa dengan saya. Disaat saya seharusnya belajar dan yang lain, saya malah melakukan hal seperti memesan seorang maid. Maafkan saya…” 

Bu Rita tertawa kecil, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat ternyata ia tersenyum. Senyumannya… manis sekali. Bisa kubilang, saat ini aku terhipnotis dengan oleh senyumannya. 

“Gapapa kok Randi. Saya tau kamu kan masih muda, jadi saya ga masalah kamu mau coba coba hal kayak gini. Toh kan kamu juga sudah mahasiswa, udah dewasa, kami para dosen udah ga ada urusan lagi dengan kehidupan pribadi kalian.” 

Ia mengatakan semua itu dengan suara yang lembut. Ya, dihadapan para dosen, dan orang dewasa seperti beliau, aku hanyalah tidak lebih dari seorang anak kecil yang baru memasuki masa kedewasaannya. 

“Malah, menurut saya, sayalah yang seharusnya meminta maaf ke kamu. Karena udah menujukkan sisi saya yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh mahasiswa saya sendiri.”

Senyum di wajah Bu Rita perlahan menghilang. 

“Menyedihkan bukan? Saya yang seharusnya memiliki imej sebagai seorang dosen yang professional dan dewasa, saat ini muncul dihadapan mahasiswanya mengenakan pakaian seorang maid. Iya, saya ga masalah kalau kamu mau bilang saya adalah dosen yang menyedihkan, memiliki pekerjaan sampingan seperti ini…” 

Ooh… jadi ini pekerjaan sampingan yang dimaksud. Tapi, yang membuatku bingung adalah kenapa beliau sampai harus sekeras itu mencari pekerjaan sampingan? 

“Bu Rita, kalau saya boleh tau, kenapa ibu sampai segitunya mengambil kerjaan sampingan? Iya saya tau gaji dosen itu kecil, tapi saya tidak mengira kalau akan sekecil itu dan sampai membuat ibu tidak bisa mencukupi kehidupan ibu sendiri.” 

Bu Rita Kembali tersenyum. Tapi senyumnya kali ini bukan seperti tadi, melainkan senyum penyesalan akan suatu hal yang pernah terjadi. 

“Yasudah. Karena sudah terlanjur seperti ini, ibu akan ceritakan semuanya.” 

Bu Rita mulai menceritakan tentang masa lalunya yang menjadi alasan ia mengambil pekerjaan ini. 

“Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi saya itu sudah menikah semenjak saya kuliah. Memang sih suami saya saat itu bisa mencukupi semuanya, bahkan saya bisa tetap fokus kuliah walaupun harus mengurus rumah tangga di saat yang sama. Ketika saya lulus, kami dikaruniai seorang anak. Saat itu, suami saya maunya agar saya fokus menjadi seorang ibu rumah tangga. Tapi, saya tetap memohon agar diizinkan untuk melanjutkan kuliah S2, karena memang saya ingin menjadi seorang dosen.” 

Aku bisa melihat wajahnya terlihat seperti menahan rasa sakit setiap kali ia membicarakan tentang suaminya—atau mantan mungkin. 

“Akhirnya, karena perdebatan kami tidak menemukan ujung. Ia memutuskan untuk menceraikan saya dan membebankan semua tanggung jawab mengenai anak kepada saya. Semenjak itu, saya harus bisa menyelesaikan S2, tapi juga mengurus anak saya di saat yang sama. Untungnya, 

keluarga masih ingin membantu. Karena S2 saya menggunakan beasiswa, jadi tidak ada masalah mengenai biaya kuliah. Tapi, yang menjadi masalah adalah ketika saya menjadi dosen.” 

Sudah kuduga, itu adalah mantan suaminya. 

“Ternyata, gaji seorang dosen masih belum cukup bila saya harus membiayai diri saya dan kebutuhan anak saya. Karena itu, saya selalu mencari pekerjaan sampingan. Pekerjaan sebagai maid ini adalah pekerjaan sampingan saya yang ketiga.” 

Tiba-tiba, aku bisa melihat air mata menetes dari mata Bu Rita. Perlahan-lahan, terdengar suara tangisan dari Bu Rita. Sekali lagi, aku tidak bisa berkata apa-apa tentang pemandangan dihadapnku ini. Dosen ku yang setiap hari mengajar di kelas, tersenyum bila senang, marah bila ada mahasiswa yang membuatnya kesal, kali ini benar-benar menangis karena perasaannya yang tersakiti dihadapanku. 

Aku segera memberikannya tissue untuk mengelap air matanya. 

“Maafkan saya. Seharusnya, saya tidak menanyakan hal itu kepada ibu…” 

“Ah tidak apa. Anggaplah ini agar kita impas. Karena tadi sore saya ngeliat kamu nangis, sekarang kamu bisa ngeliat saya nangis kan? Hehe.” 

Ia tersenyum lagi. Tapi kali ini senyum itu terlihat sangat dipaksakan. Aku ingin sekali mengomentari tentang cerita ia. Tapi siapa aku? Aku hanyalah seorang mahasiswa biasa yang baru saja memasuki usia berkepala dua. Melihatnya mengenakan pakaian maid tidak menjadikan aku seseorang yang spesial kan? Bahkan, ia sampai menangis di depanku… 

“Menurut saya, yang ibu lakukan itu bukan hal yang salah. Saya tau mungkin saya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang bahkan belum bekerja dan masih diberi jajan oleh orang tua saya. Tapi, saya paham tentang bagaimana rasanya harus menanggung sendiri perasaan yang ditinggalkan begitu saja oleh orang yang kita cintai di saat orang tersebut sudah tidak memiliki rasa yang sama lagi. Padahal dulu kita membangunnya Bersama, tapi dia sendiri yang memilih untuk berpaling. Saya paham tentang perasaan itu…” 

“Apa mungkin, itu alasan kamu menangis sore ini?”

“Iya… dan itulah kenapa aku juga mencoba untuk menggunakan layanan ini.” “Kalian… sudah sedekat itu ya?” 

“Bisa dibilang, kami dekat sekali. Selama lima tahun itu, kami berbagi cerita berbagi perasaan, berbagi keseharian kami, tapi di ujung ia memutuskan untuk pergi begitu saja. Ya saya tahu ini hanyalah pacaran, mainan anak kecil yang ga bisa dibandingin sama yang namanya pernikahan. Tapi Bu, lima tahun itu bukan waktu yang sebentar…” 

“Iya, ibu paham kok rasanya.” 

Bu Rita mendekatiku dan mengelus-elus pundakku. Aku kembali menangis seperti tadi sore. Pada akhirnya, walaupun aku adalah klien yang memesan Bu Rita sebagai seorang maid untuk melayaniku, Bu Rita tetaplah orang dewasa dengan berbagai pengalaman hidupnya sementara aku hanyalah seorang anak kecil yang baru saja merasakan patah hati untuk pertama kalinya. 

Setelah itu, walaupun agak canggung, kami pun memutuskan untuk tetap melanjutkan kesepakatan kami. Bu Rita yang sekarang sedang menjadi maid membantuku untuk menyelesaikan urusan rumah, seperti mencuci piring, menyapu, dan mengepel sembari kami mengobrol. 

Ketika aku ditanya tentang orang tuaku, aku memberitahunya bahwa orang tuaku memang suka berpergian keluar kota dan meninggalkan aku sendiri entah dimana. Jadi sampai akhir semester ini aku memang akan sendirian di apartemen ini. 

“Oke, jadi mungkin cukup itu aja untuk malam ini. Udah jam 10 malam juga, sebenarnya udah lewat jam kerja saya, tapi karena tadi kamu udah mau dengerin cerita saya, jadi gapapa deh saya bonusin, hehe.” 

Ketika aku ingin memberikan bayarannya, Bu Rita menolaknya sambil menggelengkan kepala. 

“Gapapa, saya anggap malam ini sebagai sesuatu yang special. Karena kita tau rahasia satu sama lain. Tapi saya harap kamu ga bilang ke orang lain ya.”

“Pasti bu!” 

“Yaudah, saya pamit dulu ya—” 

“Tunggu Bu. Saya boleh minta sesuatu ga?” 

Sekali lagi aku menahan Bu Rita sebelum ia beranjak pulang. 

“Ada apa?” 

“Kedepannya, kalau saya butuh teman cerita, atau sekedar kesepian, apa boleh saya memesan jasa ibu lagi?” 

Bu Rita tersenyum. 

“Boleh kok, kamu bilang aja ke orang yang ditelepon kalo kamu mau memesan talent beranama ‘Rin-chan’.” 

“Eh??” 

“Ah saya belum bilang ya? Nama panggilan saya di jasa pemesanan maid ini tuh ‘Rin-chan’. Hehe, maaf ya agak memalukan. Wajar aja, perempuan tiga puluh tahunan pakai nama kayak gitu—” 

“Engga kok! Bagi saya itu gak memalukan. Selama ibu senang dengan apa yang ibu kerjakan. Dan juga, buat saya nama ‘Rin-chan’ itu terdengar imut.” 

Ah sial malu banget aku bilangnya. Tapi bener kok, ‘Rin-chan’ itu buat aku imut banget. Wajah Bu Rita memerah mendengar aku memujinya. 

Lalu ia tersenyum, dan memuat pose seorang pelayan yang baru saja melayani tuannya. “Oke deh kalo gitu, goshujin-sama.” 

Asli ini? Aku dipanggil ‘goshujin-sama’ sama dosen ku sendiri? Astaga…

Setelah itu, Bu Rita pun pulang. Hari-hari berikutnya kami lanjutkan seperti biasa. Di kampus, beliau Kembali menjaga profesionalitas beliau dengan tetap serius mengajar di kelasku. 

Walaupun terkadang kalau mata kami bertemu, salah satu diantara kami ada yang hampir tertawa. Entah tertawa karena malu, atau karena senang.


Penulis: AnkoroMochimochi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *