Venti is THE MOST PERFECT WIFE in Genshin Impact, and no one can convince me that he is not.

Do you know Venti? That carefree drunk bard that is known to be the Anemo Archon, or Barbatos, by the players? Yes, he is the most perfect waifu in the whole game, as of the time this is written. I will explain to you why he is, but before that, I will give a brief explanation of who Venti is.

Venti is a young boy with a slim body (at least, that is what he appears like now, because he actually takes his friend’s appearance, who died to free Mondstadt, but who really cares? I still want to f*ck him really hard.) Well, as explained above, he is actually a god, the Anemo Archon. About the appearance, he has aqua-green-colored eyes and dark-blue hair which fades into aqua-colored at the braids. He is carefree and playful, and yet he is actually bold and is not afraid to insult those who annoy him, even if the person that annoys him is stronger than him. But, he is actually very well-liked because of his talent as a bard. He is also a very good drinker, and he drinks a lot of alcoholic beverages, although bartenders tend to see him as a minor because he takes the form of his friend, who is (or, at least, looks like) a minor. Now that I already briefly explained who Venti is, let’s jump into why Venti is the greatest creation humanity has ever made.

Venti, a free-spirited bard, is actually a vessel of Barbatos, the God of Freedom, and of course, my one and only wife. I love him so much I am willing to die for him.

Content Warning: contains inappropriate language, viewer discretion is advised. You have been warned.


Firstly, his thighs. Man, do you not see his thighs? Holy smokes those thighs are REALLY smooth. It is really inviting you to sleep in his lap. Just look at his thighs. I mean, who can resist those juicy thighs? Those thighs are way more tender than a f*cking A5 Japanese Wagyu steak. A GODDAMN A5 JAPANESE WAGYU STEAK. You will feel ascended after sleeping on those heavenly thighs, I will guarantee. I once had a dream of me sleeping on Venti’s lap, and OH BOY THAT DAY WAS THE BEST SLEEP I HAVE HAD FOR AT LEAST 5 YEARS.

Secondly, his hair. Okay, I may get subjective here (actually, isn’t the whole article subjective, but who am I to care, right?) because his hair has one of my favorite colors. But come on, his hair color gradient is just perfectly fit for his theme, especially when it glows while Venti is using his skills. It is such a great addition to his beauty. Also, imagine his hair, imbued with the fragrance of the Cecilia flower. I can sniff his hair all day and night without getting sick of it. I can even smell the fragrance of his hair through the screen (really?). That is just how fragrant his hair is.

Thirdly, his voice (before continuing on reading this, I am talking about his JP Voice, which is voiced by Murasa Ayumu, a Japanese voice actor.) Thank you Murase Ayumu for the heavenly voice Venti has. It is very, I mean VERY soothing. Imagine you have a really stressful day after studying or work, then you sit in your room, you open Genshin Impact, and then his soothing voice just enters your ear… If my ears could cum, it would cum like a hentai protagonist filling a loli’s pussy after not having sex for 2 years. It really is that good. Although I no longer play Genshin Impact, I still downloaded Venti’s voice and changed all of my laptop sound system settings into his voice, and you know what? IT WORKS LIKE A F*CKING CHARM. I no longer feel any signs of stress and depression. I suddenly became the most mentally stable person in the world. Nothing can make me feel stressed or depressed as long as I have Venti’s voice as my laptop’s system sound. I don’t need any medications, I have Venti. His voice is truly the embodiment of freedom, my freedom from stress, depression, and all other mental issues.

Fourthly, his feet. Yes, anime girls wearing stockings are one of those things that can ascend you to the heavens. But, have you seen anime femboys wearing stockings? (Spoiler alert: IT’S WAY HOTTER THAN WHAT YOU WOULD EXPECT) Especially, in this case, Venti. I can imagine how hot he is when he moans while I lick his musky feet either with the stocking on or off (although I do prefer him wearing the stocking. It’s even hotter that way.) I don’t even care how sweaty or how much of the hormone that reeks into his feet, one thing that I know is that his feet are never smelly, and will never be. Granted that if his feet are even smelly, I would totally lick his feet regardless. You just can’t resist the moan, that heavenly moan coming out of his throat that echoes into the.

Lastly, his body scent. His HOLY scent. The combination of his smooth yet elevating pheromones and the robust yet soothing aroma of the Cecilia scent that is all over him, just make the best scent combination, even the alcoholic scent he is in every time he gets drunk, would never even mask the scent of his pheromone, combined with the aroma of Cecilia that always lingers on his body. I really want to push him to the bed and sniff all over his body like a rabbit in heat attacking its partner relentlessly while mating.

The conclusion is, that I love Venti. I love him from the deepest of my heart. I don’t care if everyone that knows me calls me gay. It doesn’t really matter anymore. It does not, and will never affect my love for Venti. I want to protect Venti with all my life. My life does not matter if it is about Venti, and only if it is about Venti.  I don’t care if you guys want to harm me, but if anything happens to my wife Venti, I will kill everyone and then kill myself afterward. Venti is love, Venti is life.


Written by: Debin – G’21

Editor note: GWS.

What Awaits upon the End of a Journey?

Entry Writchal #3
Tema: Coming of Age, Fantasy, Psychological, Drama, Romance, Philosophical


“Woah, keren!” 

“Ceritakan lagi, ceritaaa!!” 

“Jadi, bagaimana akhirnya?” 

Sekelompok anak kecil sedang berkumpul di suatu ruangan, mendengarkan dongeng dari seorang  kakek tua. Mereka semua saling menggigiti ibu jari mereka masing-masing, banyak yang mengeluh karena sang  kakek yang sengaja melambatkan temponya bercerita. 

“Ah, sebentar. Aku lupa.” Kakek itu tertawa lebar dan sedikit terbatuk-batuk. 

Setelahnya, seisi ruangan semakin menjadi. Semuanya saling berteriak dan mengeluh tak terkendali.  Anak kecil yang duduk berdekatan sang kakek mulai menarik-narik jubah tua miliknya. Sang Kakek hanya  terkekeh kecil dalam keributan ini. 

“Jadi, selanjutnya… Si Pahlawan akan—“ 

Hanya dengan satu kalimat yang keluar dari bibir keriputnya langsung membuat seisi ruangan sunyi  dalam sekejap. Semuanya langsung kembali duduk manis di tempatnya masing-masing. Ia menghela napas  sejenak. 

Sang Kakek terus melanjutkan ceritanya, sekarang sudah memasuki klimaks. Mungkin tak ada yang  menyadari, tak satupun dari anak-anak kecil yang sedang berada di dalam ruangan mengedipkan matanya  sekarang. Seolah perkataan kakek itu memiliki semacam sihir, memikat semua pendengarnya.  

Ah, bukan seperti itu. Aku tidak punya sihir apapun. Aku juga tidak berpikir penyampaian ceritaku  sebagus itu.  

Tapi, aku tahu seseorang. Dia bisa memakai sihir, dan semua hal luar biasa lainnya. Dia benar-benar  orang yang penuh keajaiban. 

“Lalu ziiing! Si monster lumut berhasil dikalahkannya setelah perlawanan yang panjang. Semuanya  tersenyum dengan luka dan keringat kebanggaan dari wajah mereka.” 

Sang kakek menutup buku cerita miliknya. “Selesai.” 

Prok. Prok. Prok prok. Prok prok prok prok. 

Ruangan langsung dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan dan sorakan. Bisa dilihat wajah-wajah  senang dan penuh semangat dari para bocah laki-laki, juga ada beberapa yang meneteskan air mata dari  beberapa bocah perempuan. Sang kakek menghela napas, ia merasa lega. Jarum jam sudah menunjukkan pukul  delapan malam. Anak-anak pun berdiri serentak, mengucapkan terima kasih dengan kompak. Satu per satu  mulai membentuk antrean untuk meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumah masing-masing. 

Sampai sekarang, mungkin aku masih merasa sedikit kesepian tanpamu, tapi aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Kek? 

“Apa yang menunggu di akhir sebuah perjalanan panjang?” 

Itulah pertanyaan yang sering kali mengganggu pikiranku. Aku hanya memandangi kota dari kejauhan dari atas bukit sambil menggigit malas buah apel yang sedang kupegang.  

Namaku Lacke. Hanyalah seorang pemuda biasa yang membosankan. Aku tinggal di sebuah gubuk  kecil di atas bukit. Sejak kecil aku selalu hidup sendiri, tak memiliki satu pun kerabat. Aku sudah tinggal di  gubuk kecil ini sejak aku masih berusia lima tahun, sejak seorang pak tua membolehkanku untuk tinggal secara  cuma-cuma. Oh iya, apabila kalian penasaran—dia meninggal sebulan setelah itu. Kuburannya ada di lereng  bukit sekarang. 

Setiap hari, aku hanya menjalani hidupku di bukit ini. Tak ada yang spesial. Paling tidak, aku cukup  ahli dalam menangkap kelinci liar dan memanjat pohon untuk mengambil buah-buahan. Namun, hanya  sebatas itu saja. Aku hanya menjalani kehidupan sehari-hariku di bukit ini—tak kurang, tak lebih. Begitulah,  dan lama-kelamaan aku mulai memikirkan pertanyaan seperti itu. 

Mati? Tentu saja aku pernah memikirkan itu. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana rasanya mati. Tak  ada yang bisa bercerita soal itu. Benar, mati hanya sekali dan kau tak bisa kembali lagi. Oleh karena itu, aku  hanya penasaran soal apa saja yang bisa kulakukan sebelum aku mati. Tapi, aku masih tak punya ide sama sekali  soal itu sampai sekarang.  

Mungkin, mati sekarang bukanlah ide yang buruk. 

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Keseharianku hanya berisi kekosongan seperti ini.  

Perlahan kesadaranku mulai menipis, mataku mulai menutup. Namun, beberapa detik kemudian, aku  merasakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku seketika membuka mataku lebar-lebar, dan pandanganku  berputar-putar. Aku sedang menggelinding menuruni lereng bukit. Aku sudah hidup di bukit ini bertahun tahun, dan aku tahu kecuraman lereng bukit ini. Aku takkan bisa selamat setelah sampai di dasar nanti. Entah  apa yang aku pikirkan untuk duduk di atas sana saat aku mengantuk. Aku menutup mataku rapat-rapat. 

Sekujur tubuhku rasanya sakit semua. Aku tidak suka ini. Ini rasanya menyakitkan. 

Apakah mati itu rasanya seperti ini? 

Wooosh! Srak! 

Tiba-tiba aku merasakan tubuhku berhenti menggelinding, rasanya aku dihentikan oleh sesuatu secara  lembut. Aku membuka mataku. 

“Whoa, whoa. Apa yang terjadi di sini, anak muda?” 

Seorang kakek tua berjubah hitam sedang menggendongku sekarang. Aku hanya bisa merasa  kebingungan.  

“Aduh, ah…” Rasa sakit langsung menyergapku. Aku baru menyadari bahwa sekujur tubuhku  sekarang penuh luka dan bersimbah darah. Kakek tua itu buru-buru menurunkanku.  

“Tunggu sebentar…”

Aku hanya bisa meringis kesakitan. Pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan rasa sakit yang  seperti ini. Rasanya perih sekali. Namun, aku tiba-tiba melihat sesuatu yang sama sekali tidak bisa kupercaya  dengan mata kepalaku sendiri. Seketika aku langsung melupakan seluruh rasa sakit yang sedang kurasakan. 

Kakek tua itu tiba-tiba menggumamkan sesuatu, lalu cahaya berwarna-warni mulai keluar dari kedua  tangannya. Ia mendekatkan tangannya kepada luka-lukaku. Seketika, lukaku langsung menutup dan tubuhku  terasa hangat.  

“Hm? Kau tak tampak begitu terkejut, ya.” 

“Eh—ah—” Aku menjadi sedikit tergagap, bingung hendak berkata apa.  

Kakek tua itu tertawa kecil. “Ya ampun. Memangnya kau tak pernah mendengar dongeng?” “Ngg… tak pernah…” 

“Kau serius?” 

“I-itu benar…” 

Kakek tua itu tersenyum. Cahaya di tangannya meredup. Luka di sekujur tubuhku sudah pulih  sepenuhnya, justru sekarang badanku merasa segar. Darah dan kotoran pada pakaianku juga sudah bersih. Aku  kehabisan kata-kata.  

“Di mana orang tuamu?”  

Aku hanya menggeleng pelan. 

Kakek tua itu mengamatiku secara perlahan. “Apakah kau tinggal sendirian?” 

“… Begitulah.” 

Kakek tua itu tersenyum takzim. “Ah, benar. Yang sepertimu memang ada, ya. Maafkan aku.” 

“… Hm.” Aku masih tak bisa berkata apapun. Aku yang selama ini sendirian menyulitkanku untuk  mengikuti percakapan dan rangkaian kejadian ini.  

“Kuberitahu saja.” Kakek itu kembali mengangkat kedua tangannya, dan cahaya berwarna-warni  seperti yang tadi keluar dari tangannya. “Ini namanya sihir. Ini sangat hebat, lho. Kau bisa melakukan berbagai  hal luar biasa dengan ini. Seperti menyembuhkan lukamu yang tadi, itu tak ada apa-apanya.” 

Meskipun tak menunjukkannya, sebenarnya aku cukup terkejut sekarang. Sihir. Aku pernah  mendengarnya dari percakapan orang-orang di kota dulu, namun tak pernah tahu apa itu. Melihatnya secara  langsung di depan mata kepalaku seperti ini, entah mengapa… rasanya hebat. 

“Sihir? Tapi bukankah itu sudah lama sekali hilang…” Paling tidak, itulah yang dulunya sering  kudengar dari orang-orang. 

“Oh? Jadi kau tahu tentang sihir.” 

“A-aku hanya pernah beberapa kali mendengarnya dulu…” 

“Begitu, ya.”

Hening sejenak. Situasi menjadi canggung untuk beberapa detik.  

“Dari yang kau dengar, sudah berapa lama sihir hilang dari dunia ini?” 

“Eng—aku tak terlalu ingat… Tapi sepertinya sudah lama sekali… kurasa sudah tak ada yang  memakainya sekarang.” 

Kakek tua itu mendekat kepadaku, menatap wajahku dari dekat. Ia nyengir lebar. “Kalau begitu,  menurutmu kenapa aku bisa memakainya sekarang?” 

Aku beringsut mundur untuk menjaga jarak. “A-aku tidak tahu…” 

“Ayolah, tebak saja. Memangnya wajah ini tidak memberimu ide sama sekali?” 

Aku berpikir sejenak. Yah, memang dia sudah kakek-kakek, sih… memang mungkin saja dia sudah  hidup sangat lama sejak zaman sihir. 

“Berarti… Kakek sudah hidup sejak zaman sihir masih ada di dunia ini?” 

Dalam sekejap, senyum di wajah kakek tua itu langsung berubah terkejut. “Tunggu dulu. Apa yang  kau bilang tadi?” 

“E-eh? Anu… apakah kakek sudah—” 

“Kau bilang kakek?” 

“I-iya…” jawabku dengan kebingungan. Memangnya ada apa? 

Kakek itu memegangi wajahnya sendiri, merapalkan sesuatu. Untuk beberapa detik, cahaya sempat  keluar dari kedua tangannya. Sekarang ia menatapku tajam. “Bagaimana dengan sekarang?” 

Aku semakin kebingungan. “A-ada apa?” 

“Kau… sungguh tak melihatnya?” 

“Melihat apa?” 

“Eng… sudahlah, lupakan saja.” Kakek itu mengusap wajahnya, lantas kembali tersenyum. “Maaf, tapi  kau harus melupakan semua yang terjadi di sini. Yah, paling tidak aku bersyukur bisa menyelamatkanmu tadi.” 

Setelah itu, Kakek tua itu memegang dahiku dengan tangannya yang kembali memancarkan cahaya.  Ia menggumamkan sesuatu, sama seperti saat tadi ia menyembuhkan lukaku dengan cahaya aneh ini. Apakah  masih ada luka di dahiku? 

Cahayanya meredup, kakek tua itu menurunkan tangannya. Wajahnya tampak terkejut. 

Kakek itu segera memegang dahiku kembali, kini cengkeramannya lebih kuat. Cahaya kembali  memancar dan kakek tua itu kembali bergumam, kini lebih cepat. Setelah ia selesai, tak ada apapun yang terjadi.  Ekspresi terkejut di wajah kakek itu sekarang berubah menjadi panik.  

“… Kek?” 

“K-kau tidak tertidur? Kau tidak merasa mengantuk?”

Aku memegangi dahiku. “Apakah masih ada luka di dahiku?” 

“Tidak, bukan begitu.” Kakek tua itu mengusap wajahnya, menundukkan kepalanya. “Itu barusan  adalah sihir untuk manipulasi ingatan. Seharusnya itu mempan terhadap semua makhluk hidup yang  kutemui…” 

Aku mengusap-usap dahiku. Sudah sejauh ini, dan aku masih kebingungan soal semua yang terjadi di  sini sekarang. “Hm…” 

“Hei, Nak. Kau… masih mengingat semuanya? Soal pembicaraan kita barusan?” 

Aku hanya mengangguk pelan.  

“Saat aku menyembuhkan lukamu juga?” 

Aku kembali mengangguk pelan, sementara kakek tua di hadapanku ini semakin kelabakan. “Anu… apakah kau benar-benar tak bisa melupakannya?” 

“Aku… tidak tahu.” 

Kakek tua itu menghela napas panjang. “Apakah kau akan memberitahu orang lain soal semua yang  terjadi hari ini?” 

“… Aku juga tidak tahu.” 

“Begini, tolong, tolong! Jangan beritahukan soal hari ini kepada siapapun! Kumohon!” Kakek tua itu terdengar sangat gelisah, ia tiba-tiba bersujud di hadapanku. Kini aku benar-benar tak tahu harus apa. 

“A-anu…” 

“Tolong! Aku mohon kepadamu! Aku rela melakukan apapun!” 

“Y-yah, maksudku, aku juga jarang mengobrol dengan orang lain juga… aku menghabiskan  keseharianku di bukit ini.” 

“Benarkah?!” Kakek itu mengangkat wajahnya, ia tampak putus asa.  

“I-iya…” 

“Terima kasih! Terima kasih!” Aku langsung dipeluk erat olehnya. Jujur saja, aku sebenarnya tak  merasa begitu nyaman dipeluk erat oleh seorang kakek-kakek seperti ini.  

“… Kau tidak berbohong, kan? Kau berjanji kepadaku?” 

“Ah… Baiklah. Aku mengerti.” 

Kakek tua itu menghela napas panjang. Ia langsung mengempaskan punggungnya di atas rumput. “Aku sungguh berterima kasih, anak muda. Aku sungguh berterima kasih.” 

Aku tak menjawab. Embusan angin bertiup menyela pohon-pohon dan rerumputan, menerbangkan  anak rambutku dan jubah kakek tua itu.

“Anu… kakek. Apakah aku boleh bertanya sesuatu?” 

“Ah, silakan. Tanyakan apa saja yang kau mau.” Kakek tua itu tersenyum lebar. “Ah, tapi kalau kau  ingin bertanya soal sihir atau yang lainnya, tolong jangan bercerita kepada siapapun, oke?” 

Aku mengangguk lemas.  

“Kakek… bagaimana kalau aku mati sekarang?” 

Senyum di wajah kakek tua itu langsung menghilang, digantikan oleh wajah keheranan. “Maaf?” … 

“Jadi, begini…” 

“Hei—hei! Jangan bercanda hal seperti itu, Nak! Itu tidak baik!” Kakek tua itu segera mengguncang  pundakku.  

“Tapi… aku serius. Aku tidak sedang bercanda.” 

Kakek itu terkesiap seketika. “Nak! Apa yang kau katakan?!” 

“S-sudah kubilang, aku tidak bercanda…” 

Akan tetapi, kakek itu sepertinya tetap salah paham dengan perkataanku dan terus mengoceh  setelahnya. Aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan racauannya.Aku hanya bisa menghela napas panjang. 

“Jadi, Kakek tidak mau menjawabnya, ya…” 

Mendadak, ocehan kakek itu berhenti. “E-eh, tidak! Bukan begitu juga… anu…” 

Kakek itu pun menenangkan dirinya dan mengambil napas panjang. Ia memperbaiki posisi duduknya. 

“Maaf. Padahal aku sudah berjanji sebelumnya. Baiklah, aku akan mencoba untuk menjawabnya  sebisaku terlebih dahulu.” 

Kakek itu menangkupkan kedua tangannya. “Jadi, kau bertanya, bagaimana kalau kau mati sekarang,  begitu?” 

“Iya.”  

“Apakah kau ingin mati sekarang?” 

“Entahlah… mungkin… iya.” Aku menjawabnya dengan penuh keraguan. 

“Hmm.” Kakek tua itu menundukkan kepalanya. “Kau punya suatu alasan untuk itu?” 

“Aku… juga tidak terlalu tahu. Selama ini, aku merasa kosong. Aku terus hidup, tapi tak pernah  melakukan apapun. Makanya, aku mulai bertanya-tanya apakah aku masih perlu melanjutkan semua ini atau  tidak…”

“Jadi, berarti aku yang menyelamatkanmu tadi hanyalah menghalangi keinginanmu untuk mengakhiri  hidupmu?” 

“Tidak… yang barusan itu kecelakaan. Aku tidak sengaja tertidur di puncak bukit dan terjatuh…” “Jadi yang barusan itu bukan karena kehendakmu?” 

“… Bukan.” 

“Apakah setelah ini kau akan mencoba lagi? Bunuh diri?” 

“Soal itu… aku juga tidak tahu.” 

Mata kami berdua bertatapan sejenak, namun aku langsung memalingkan wajahku. Kakek tua itu  menyeringai tipis. “Kau ini memang penuh kebimbangan, ya, Nak.” 

“Memangnya kenapa? Kalau kau merasa memang ingin mengakhirinya, kenapa tak kau lakukan?” Aku tidak menjawab. Justru itulah yang aku bingungkan sekarang.  

“Aku bisa tahu setelah melihatmu sekarang. Kau kesepian, bukan? Kalaupun kau mati, takkan ada  yang tahu ataupun menangisimu. Apakah aku salah?” 

Aku menggeleng. “Sepertinya… memang begitu adanya.” 

“Kalau begitu, apa yang menghalangimu dari itu? Kalau kau mau, kau bisa melakukannya kapan saja.” Aku mengepalkan kedua tanganku, sekujur badanku mulai gemetaran. “Sebenarnya… aku takut.” “Hm? Takut?” 

“Aku memang merasa kosong untuk terus hidup di sini, tapi aku juga tak tahu apa yang akan terjadi  setelah aku mati nanti. Tak ada seorangpun yang pernah bercerita soal apa yang terjadi setelah seseorang mati.  Setiap orang hanya bisa mati sekali, dan itu memang wajar. Aku juga tak terkecuali.  

“Di saat yang sama, aku terus-menerus bertanya kepada diriku sendiri. Apakah ada hal yang bisa  kulakukan di dunia ini sebelum aku mati? Karena mati hanya sekali, dan aku takkan bisa kembali lagi ke dunia  ini. Kalau saja hal seperti itu memang ada, aku ingin melakukannya. Tapi, sampai sekarang, aku tak pernah  menemukannya. Oleh karena itu, aku mulai berpikir… bahwa apakah sekarang adalah saat yang tepat untuk  mengakhiri semuanya…” 

Kakek tua di hadapanku sekarang menggumam panjang sambil mengelus-elus janggutnya. “Ya ampun.  Kau ini benar-benar cocok dengan ‘hidup segan, mati tak mau’. Heheh,” Kakek itu tertawa kecil. Aku juga  setuju, aku tak bisa membalas perkataannya. 

“Jadi, pada intinya, kau ingin melakukan sesuatu yang berguna sebelum kau mati, bukan? Hanya  sesederhana itu.” 

Aku mengangguk lemah. 

“Eng… begini. Kau ingin menemukan sesuatu yang ingin kau lakukan sebelum kau mati?” Aku kembali mengangguk lemah. “Ya, kurang lebih begitu.”

“Hm, baiklah. Satu tahun. Untuk satu tahun dari sekarang, apakah kau mau ikut denganku?” “Hm?” 

“Seperti yang kau lihat, aku ini seorang penyihir, namun aku juga seorang pengembara. Aku  menjelajahi banyak tempat di dunia ini. Bila kau ingin mencari sesuatu yang ingin kau lakukan, kau bisa  mencarinya bersamaku. Bagaimana?” 

Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna perkataan kakek barusan. “Anu…” 

“Aku tahu ini keputusan yang besar, tapi kupikir pemuda kesepian sepertimu tak butuh waktu yang  lama untuk memutuskan. Kau tak punya banyak hal yang perlu dipertimbangkan juga, kan?” 

Kakek itu benar. Aku hanyalah seseorang yang kesepian, kosong, dan tanpa tujuan yang tinggal  menunggu kematian. Namun, hanya saja… 

“… Ke mana saja kakek akan berkelana?” 

Kakek tua itu langsung tersenyum lebar. Wajahnya langsung kembali bersemangat dalam seketika.  “Haha! Tentu saja, seluruh dunia!” 

Aku kembali lagi terdiam, tak bisa langsung memahami perkataan kakek ini secara langsung. “Oi, apa yang kau bengongkan. Jadi, apa jawabanmu?” 

“Eng… Anu…” 

“Aku ini penyihir yang hebat. Banyak sekali hal tak mungkin yang bisa menjadi mungkin dengan sihirku. Kau tak percaya denganku?”  

“T-tentu saja aku percaya hal itu. Hanya saja…” 

Kakek itu menaikkan sebelah alisnya. “Hanya saja?” 

“Aku sama sekali tidak tahu dunia luar akan menjadi seperti apa. Aku saja jarang meninggalkan bukit  ini…” 

“Heh. Itu sudah jelas. Oleh karena itu, kau akan ikut denganku, bukan begitu?” 

Aku memainkan jemariku perlahan. Menundukkan wajahku. Aku masih merasa gelisah. 

“Tenang saja, Nak. Yah… aku memang tidak bisa menjaminmu dunia luar itu seperti apa. Tapi, satu  hal yang bisa kujamin, dunia luar itu sangat luas dan penuh hal baru yang bahkan tak pernah kau bayangkan  sebelumnya.” 

“Apakah dunia luar… menyenangkan? Atau…” 

“Hei, barusan kukatakan, bukan? Aku tak bisa menjamin apapun. Semua hal bisa terjadi di luar sana.  Menyenangkan, ataupun tidak. Aku hanya tak ingin mengecewakanmu.” 

Aku merapatkan gigiku. Mengapa aku begitu gelisah? Aku tak punya apapun yang menghalangiku  untuk menerima tawarannya. Ini mungkin adalah tawaran sekali seumur hidup yang mungkin takkan pernah  kudapatkan lagi kelak. Aku harus melakukannya.

Aku mengangkat wajahku, menatap kakek itu dengan penuh keyakinan. “Aku akan ikut denganmu,  Kek.” 

Kakek itu langsung tersenyum lebar. Ia berdiri sambil memegangi tanganku, memaksaku juga ikut  berdiri. “Itulah jawaban yang kutunggu. Baiklah, kita berangkat sekarang!” 

“E—eh?!” Aku mengeluh pendek. “S-sekarang?” 

“Tentu saja! Menurutmu kapan lagi?” 

Aku sebenarnya hendak mengeluh soal ini, namun kuurungkan. Aku hanya punya waktu satu tahun  dengan kakek ini untuk menemukan hal yang ingin kulakukan di dunia ini dengan berkeliling dunia. Aku  berjanji dengan diriku sendiri, aku takkan melewatkan satu hari pun dengan percuma.  

“Namaku Eon. Kau?” Kakek itu mengulurkan tangannya.  

Aku menjabat tangannya dengan yakin. “Lacke, Kek.” 

… 

“Bagaimana hari ini, Kek?” Seorang penjaga panti bertanya sambil mengelap beberapa perabotan di  ruangan tengah. 

Kakek itu meluruskan janggut panjangnya. “Hmm… Menyenangkan, seperti biasa.” “Sejak kau datang ke sini, kau selalu melakukan ini. Apa kau tidak bosan?” 

Kakek itu tertawa renyah. “Hah? Bosan? Kau pasti bercanda.” 

“Yah… tapi…” 

“Tak mengapa. Memang inilah yang kuinginkan.” 

Penjaga itu menyeduh secangkir teh, menyajikannya di meja kecil di dekat sang Kakek. “Tapi… kau  dulunya adalah pengembara, bukan? Pengembara yang sangat terkenal. Kau berkeliling dunia, melanglang  buana ke semua macam tempat. Menulis cerita tentang semua tempat yang kau datangi. Tak ada yang pernah  mengira bahwa kau akan ‘pensiun’ dari kehidupanmu sebagai pengembara dan akhirnya menetap di tempat  seperti ini.” 

“… Dan kau penasaran?” Kakek itu menyeruput teh hangat miliknya. 

“Yah… tentu saja. Selama ini tak pernah ada yang menanyakanmu karena kau selalu saja menghindari  pertanyaan itu.” 

“… Oh, sampai di mana kita tadi? Uh…”  

Si penjaga panti menghela napas. “Mulai lagi. Berpura-pura pikun. Hentikan itu, semuanya juga sudah  bosan dengan itu.” Ia mengambil teh milik sang kakek, pergi meninggalkan sang kakek sendirian di dalam  ruangan.

“Ah, sepertinya aku membuatnya marah…” 

Sang kakek terdiam, menatap takzim ke arah jendela sambil menerawang jauh. Ia menyeringai halus. 

Tentu saja aku tidak pikun. Malahan, aku masih ingat semuanya sampai detik ini. Semuanya, sampai  mustahil bagiku untuk melakukannya. Ya ampun. 

Hanya saja, aku takkan pernah membeberkannya. Apapun yang terjadi. 

Itulah yang sudah kuputuskan pada hari itu. Dan aku takkan pernah mengingkarinya. … 

Semuanya benar-benar di luar perkiraan akal sehatku. 

Di saat Kakek Eon mengajakku untuk pergi berkeliling dunia dalam setahun, aku masih penasaran  bagaimana itu bisa mungkin. Aku tahu aku tak pernah pergi kemanapun, tapi dunia itu luas, bukan? Sangatlah luas. Bagaimana seseorang akan mengelilinginya hanya dalam setahun? Aku tak pernah terpikir bagaimana cara untuk melakukan hal seperti itu. 

Namun, Kakek Eon tak berbohong soal dirinya. Ia benar-benar seorang penyihir hebat. Dia bisa  melakukan apapun. Ia bisa melakukan sihir teleportasi untuk berpindah tempat ke mana pun di bumi ini dalam  sekejap, yang membuat berkeliling dunia dengan cepat tak mustahil. Membuat sesuatu tak terlihat,  menghasilkan barang dari tangannya, menggunakan sihir elemen, dan banyak lagi. Benar-benar serbaguna. 

Hampir tak ada hal yang tidak bisa dilakukannya.  

Yang aku masih belum mengerti, kenapa Kakek Eon masih bersikeras untuk menutupi ini semua dari  orang-orang. Ia adalah seseorang yang sangat cocok untuk menjadi pahlawan. Kakek Eon juga banyak  membantu orang lain dalam perjalanan. Setelah menggunakan sihirnya di depan orang lain, ia langsung  memanipulasi ingatan semua orang yang sedang menyaksikannya—dan setelah itu, takkan ada yang mengingat  apa yang barusan terjadi. Terus terang, ini membuatku sedikit bingung.  

Saat daerah sekitar sepi, aku sering kali mencoba untuk bertanya. “Kek, kenapa kau selalu  menyembunyikan kekuatanmu dari semua orang?” 

“Oh?” Kakek Eon menoleh kearahku, menyeringai tipis. “Kau ingin tahu soal itu?” “Kau bisa melakukan apa saja, kan? Sihir Kakek sangat hebat. Kau bisa menjadi pahlawan terkenal.” Kakek Eon tertawa keras. “Kakek sepertiku? Pahlawan? Kau sedang bercanda.” 

“Tapi… aku tidak sedang bercanda…” 

Ini sudah yang kelima kalinya aku menanyakan soal ini kepada Kakek Eon. Aku hanya penasaran,  namun tetap saja. Mungkin saja, dia punya suatu alasan tersendiri dan tidak ingin memberitahuku. Lagipula,  Kakek Eon memang orang misterius yang bisa menggunakan sihir. Pasti ia sudah menyembunyikan banyak hal  yang lainnya selama ini juga. Tapi, yang kuanggap aneh, Kakek Eon sepertinya tidak memakai sihir 

penyamarannya. Semua orang yang berinteraksi dengannya sejauh ini memanggilnya ‘Kek’, seperti seorang  kakek-kakek biasa dipanggil. Namun, aku sebenarnya tidak terlalu mempedulikan hal itu sekarang. 

Tak terasa, sudah hampir satu tahun berlalu. Saat pertama kali mengikuti Kakek Eon, aku mulai  menyadari sesuatu, bahwa dunia luar tidak semengerikan yang aku kira sebelumnya. 

Ya, kami berdua benar-benar sudah mengarungi seluruh dunia. Berbagai macam negara, daerah, cuaca,  orang, suku, semuanya sudah pernah kutemui. Semuanya hal-hal yang baru bagiku dan sangat menyenangkan.  Tidak ada hal-hal tak terduga maupun tidak menyenangkan seperti yang Kakek Eon pernah katakan kepadaku  dulu. Tentu saja ada satu-dua masalah kecil yang muncul di tengah perjalanan, namun Kakek Eon bisa langsung  menyelesaikannya dengan sihirnya. Kakek Eon membantu banyak sekali orang, saling tertawa bersama, lalu  berpisah setelah ingatan mereka dimanipulasi. Tentu saja, tak ada yang mengingat apapun setelah mereka  melihat ataupun bertemu dengan Kakek Eon, kecuali aku. Yah, pokoknya perjalanan secara keseluruhan adalah  pengalaman yang luar biasa dan sungguh menyenangkan bagiku.  

Hanya saja, masih ada satu hal yang masih mengganjalku sampai sekarang. Kakek Eon sudah sebaik  ini untuk memberikan kesempatan denganku untuk ikut dengan perjalanan panjangnya, namun sampai  sekarang aku masih belum memenuhi tujuan utamaku untuk mengikuti perjalanan ini.  

Aku masih belum menemukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Dari semua yang sudah kulewati  bersama Kakek Eon, aku masih belum bisa menemukannya. Sekarang, aku merasa bersalah dengan diriku  sendiri. Aku tidak menepati janji yang kubuat kepada diriku sendiri tepat sebelum memulai perjalanan ini.  

Sekarang, apa yang harus kulakukan? 

“Nak.” 

Aku terbuyar dari lamunanku sejenak. Aku melihat Kakek Eon sedang berdiri di ambang pintu kamar  penginapanku. “Iya, Kek?” 

“Maukah kau menemaniku malam ini?” 

“… Menemani? Boleh saja, tapi… ada apa?” Kakek Eon tidak biasanya bertanya seperti ini. Bila ia  ingin aku menemaninya di malam hari, biasanya ia langsung membawaku bahkan sebelum aku mengiyakannya  tanpa perlu repot-repot bertanya. 

“Tak apa, hanya saja…”  

Aku mulai merasa sedikit cemas. Ini pertama kalinya aku melihat Kakek Eon berwajah seperti itu.  Biasanya ia terlihat senang dan bersemangat terutama saat ia menggunakan sihirnya di hadapanku, namun  sekarang ia tampak cukup murung dan lesu. 

“Kek, kau tidak apa-apa…?” 

“Ah, kau tak terlalu untuk memikirkanku. Masih terlalu cepat bagimu seribu tahun untuk  mencemaskanku, tahu.” 

Kakek Eon memasang wajah tersenyum sebelum meninggalkanku di dalam kamar. Aku memang tidak  terlalu berpengalaman soal ini, tapi… hanya saja firasatku mengatakan bahwa pasti terjadi sesuatu dengan  Kakek Eon.

Malam telah tiba. Kami berdua berjalan menyusuri jalanan malam yang ramai. Mulai berjalan menjauh,  memasuki daerah hutan di tepian kota. 

“Anu, Kek… kita akan berjalan ke mana? 

“Diam saja dan ikuti aku.” 

Aku cukup terkejut dengan jawaban dingin itu. Ya, sesuatu pasti sudah terjadi kepada Kakek Eon. 

Kami berdua berjalan melewati sebuah lorong di tengah hutan yang gelap gulita. Tiba-tiba aku merasa  merinding luar biasa. Dari semua tempat di dunia ini yang sudah kudatangi, belum pernah ada yang seperti ini.  Penerangan hanya bersumber dari api kecil yang dihasilkan dari tangan Kakek Eon dengan sihirnya.  

“A-anu… Kek… tempat ini…” 

Kakek Eon tak merespons, hanya terus berjalan menatap ke depan tanpa menoleh sedikitpun. Aku jadi  tambah takut. Aku ingin sekali bertanya tentang tempat ini, namun urung setelah melihat wajah Kakek Eon  yang tampak benar-benar serius. 

“Kita sudah sampai.” 

Di depanku sekarang hanyalah sebuah dataran kosong muram yang tak bisa kulihat ujungnya. Udaranya dipenuhi dengan kabut. Jarak pandangnya sangat terbatas. 

Aku sebenarnya masih ketakutan sekarang, sama sekali tidak tahu-menahu tempat apa ini. Namun,  entah mengapa tubuhku merasa tenang dan rileks. Aku melirik ke arah Kakek Eon di sebelahku. Sepertinya tempat aneh ini bukan dari ulah sihirnya. Lantas, apa yang sedang terjadi di sini? 

“Nak. Selamat datang di Alam Permulaan.” 

Aku melirik ke arah wajah Kakek Eon dengan gemetaran. “… Alam Permulaan?” 

“Kau tahu sosok dengan kedudukan tertinggi di dunia ini, kan?” 

“… Sang Pencipta?” jawabku dengan ragu-ragu. 

“Ya, benar. Sekarang, dia ada di sini.” 

Aku langsung membelalakkan mata. Menelan ludahku dengan kuat-kuat. Bulu roma di sekujur  tubuhku langsung berdiri tajam. 

“D-di sini…? 

“Ya. Aku baru pernah sekali datang ke sini, dan itu sudah beratus-ratus tahun yang lalu. Saat itu, aku  mendapat semacam petunjuk sebelum datang ke tempat ini. Lalu, beberapa jam yang lalu aku mendapatkan hal  yang sama… dan sepertinya dalam petunjuk itu, aku disuruh untuk mengajakmu juga.” 

“Anu… Kakek tid—” 

Tidak. Jelas saja Kakek Eon sedang tidak bercanda. Dari tadi sejak mengajakku ke tempat ini, ia tak  pernah tersenyum sekalipun. Kakek Eon yang kukenal tak pernah bertingkah sedingin ini.  

“Selamat datang, kalian berdua.”

Aku sedikit terkejut. Aku menoleh cepat ke arah seluruh penjuru mata angin. Suara barusan itu… 

“Ya. Beliaulah Sang Pencipta.” Setelah itu, Kakek Eon langsung duduk bersimpuh dan menundukkan  kepalanya. “Kau, lakukan sepertiku sekarang.” 

“Ya ampun. Kau masih saja kaku seperti biasanya, ya.” 

“M-maaf.” Kakek Eon langsung kembali ke posisi duduk biasa.  

“Nak. Kau.” 

Aku langsung merinding. “S-saya…?” 

“Ya, kau. Jangan seperti kakek tua di sebelahmu itu. Duduklah dengan santai saja. Tak perlu sungkan.  Lagipula, aku sendiri yang mengundangmu ke sini.” 

Aku masih gemetaran. Aku diundang ke sini…? 

Aku melirik ke arah Kakek Eon. Ia sedang berkeringat dingin, menatap tanah di depannya dengan  wajah ketakutan. Bila Kakek Eon saja sampai seperti ini, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan  di saat seperti ini. 

“Yah, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak akan melakukan apapun pada kalian berdua atau  apapun, kok. Aku berjanji.” 

Aku menelan ludah. Apakah aku harus percaya kata-kata itu…? Aku sungguh tidak tahu. 

“Jadi, daripada berlama-lama, mari kita langsung ke alasan langsung aku mengundang kalian berdua  ke sini. Kau, Anak Muda, ada hal yang harus kau ketahui, mumpung kau sekarang sudah di sini. Eon, tolong.” 

“Saya mengerti.” 

Kakek Eon lantas berdiri, memegang tanganku. “Ayo.” 

Kami berdua baru berjalan sebentar, dan Kakek Eon kemudian menjentikkan jarinya. Setelah itu, tiba tiba sekelilingku berubah drastis. Sekarang kami berdua sedang berada di dalam sebuah perkotaan yang ramai.  Meskipun aku sudah berkeliling dunia dan mendatangi segala macam tempat, namun aku belum pernah  melihat yang seperti ini. Pakaian yang dikenakan orang-orang terkesan kuno dan ketinggalan zaman.  Bangunan-bangunan di sekitar juga sama, tampak kuno dan sederhana. Rasanya seperti aku kembali ke sebuah  zaman di masa lampau. Aku paham mungkin ini adalah ulah dari sihir Kakek, namun sejauh ini aku belum  pernah melihat yang seperti ini. 

“Kau tahu tempat apa ini?” 

Aku mendengar percakapan orang-orang di sekitar, sepertinya bahasa yang mereka gunakan bukanlah  bahasa kuno atau apapun—hanya logatnya saja yang terdengar berbeda. “Apakah ini… Kota Centro?” 

“Benar sekali. Bahasa yang mereka gunakan sama sekali tidak pernah berubah, bahkan sejak ribuan  tahun yang lalu.” 

Aku menelan ludah. Jadi ini adalah… Kota Centro di masa lampau?

“Kota ini memang dikenal sebagai Kota Permulaan, awal dari segalanya. Kau sudah mengerti  sejarahnya, kan?” 

Aku mengangguk. Siapa yang tidak tahu sejarah kota ini? Semua orang tahu apa yang terjadi di tempat  bersejarah ini. Ya, aku bisa ceritakan dengan singkat.  

Di masa lampau, pernah ada seorang kaisar yang berniat untuk menaklukkan dunia. Ia memang sangat  hebat dan cerdas, namun hatinya benar-benar jahat dan ia menghalalkan cara apapun untuk meraih apa yang  ia impikan. Sudah separuh dunia ia kuasai, dan ia tak berhenti sampai di situ. 

Namun, pada akhirnya negara-negara yang belum ditaklukkan oleh kaisar itu membentuk aliansi  bersama dan melakukan perlawanan balik. Dan pada sebuah hari yang ditakdirkan, kaisar jahat itu berhasil  dikalahkan. Itu adalah tonggak balik dari kemajuan dunia dari zaman kegelapan saat kaisar itu berkuasa. Selesai. 

“Lihatlah itu.”  

Aku kehabisan kata-kata saat melihat apa yang ada di hadapanku sekarang ini. Sebuah patung raksasa  yang terbuat dari batu terlihat mencolok di persimpangan jalan. Di situ terukir sesosok pria yang sedang dalam  posisi telentang, dengan puluhan pedang yang menusuk setiap inci tubuhnya. Jujur saja itu membuatku sedikit  ngeri dan mual, namun aku masih bisa menahannya. Apa ini? Kenapa patung seperti ini bisa ada di tengah kota  seperti ini? Siapa yang memiliki ide untuk membuat patung seperti ini? 

“Jadi begini, Nak. Aku punya pengakuan kepadamu…” 

Aku menoleh ke arah Kakek Eon. “Pengakuan?” 

“Sosok yang terukir di patung itu… adalah aku.” 

“E—eh, apa?” Apa yang Kakek katakan barusan? Apakah aku tidak salah dengar? 

Kematian Kedua Sang Pembawa Bencana. Itulah nama dari patung ini.” 

Aku mulai menyadari sesuatu. “Itu… berarti…” 

Kakek Eon mengangguk lemah. “Akulah sang kaisar kejam itu. Pembawa bencana terburuk yang  pernah hidup di masa lalu.” 

Isi kepalaku mendadak menjadi kosong untuk beberapa detik. Aku kesulitan memproses apa yang  barusan kudengar. 

“Kalau kau mau, kau bisa memastikannya.” Kakek Eon menunjuk ke arah patung tersebut. Aku pun  perlahan mendekat ke patung itu, memperhatikannya dengan cermat.  

Ini adalah wajah Kakek Eon. Tak salah lagi. Wajahnya persis seperti wajah Kakek Eon yang kukenal  sampai sekarang, ia tidak tampak sedikitpun lebih muda. Memang cukup sulit untuk memastikannya bila hanya  dilihat sekilas, tapi tak salah lagi. Tapi, kalau orang-orang di zaman sekarang tahu wajah kaisar itu dan melihat  Kakek sekarang, maka…! 

“KEK!” Aku langsung berlari menghambur ke arah Kakek Eon. Sebelum orang-orang di sekitar  mengenali wajahnya…

“Hei, hei, tenanglah, Nak. Tenang.” Kakek Eon langsung memelukku, mencengkeram punggungku  erat. “Aku tahu apa yang kau cemaskan. Ini bukanlah dunia yang sebenarnya. Ini hanyalah sebuah gambaran  dunia yang kubuat sendiri. Sekarang, coba kau sentuh orang di sebelahmu.” 

Aku awalnya agak ragu-ragu, namun aku akhirnya tetap mengikuti perkataan Kakek Eon. Dan betapa  kagetnya setelah aku mencobanya. Tanganku langsung menembus tubuh orang di sebelahku begitu saja. Orang  itu juga tampaknya tak memberikan respons apapun. 

“Mereka juga tidaklah asli. Mereka takkan bisa menyentuh, mendengar maupun melihat kita. Jadi,  tenanglah,” pungkas Kakek Eon seraya menjentikkan jarinya. 

Setelah itu, sekeliling kami berdua kembali melebur menjadi ketiadaan seperti ruang kosong yang tadi.  Kira-kira sihir apa yang barusan itu, ya? Pasti semacam sihir rumit yang tidak kumengerti sama sekali. 

“Jadi, begitulah, Nak. Patung itu tadi dibuat beberapa tahun setelah ‘kematian’ keduaku. Kau masih  tidak percaya soal diriku yang sebenarnya di masa lalu?” 

“T-tidak, bukan begitu… Tapi…”  

Aku tidak ingin menganggapnya berbohong, aku hanya merasa bahwa semua ini serba terlalu cepat  dan mendadak. Tapi tetap saja… 

“Aku tahu itu memang sulit. Siapapun pasti takkan percaya itu dalam sekali dengar.” “Kalian berdua.” 

Kami berdua langsung menghentikan langkah kami. Suara ini. 

“Lacke, katakan. Apakah kau ingin tahu lebih banyak soal Kakek di sebelahmu itu?” 

Aku menggigit bibirku. Aku sedang berhadapan dengan Sang Pencipta dunia ini sekarang. Aku sangat  takut untuk salah mengatakan sesuatu, namun aku tetap harus mengatakan ini sekarang. 

Aku mengepalkan kedua tanganku dengan kuat. “Saya ingin tahu.”  

“Baiklah. Eon, mulai sekarang aku yang akan mengambil alih. Kau sudah cukup menjalankan  bagianmu. Aku yang akan melanjutkan dari sini.” 

“Dimengerti.” Kakek Eon berkata lirih. 

“Lacke, sekarang berjalanlah lurus ke depan.” 

Aku sedikit terkejut, langsung mengambil langkah tanpa banyak pertimbangan. Aku sedikit menoleh  ke sebelahku, lalu menoleh ke belakang. Kakek Eon tidak ikut?! 

Kakek Eon hanya tersenyum di tempatnya berdiri. Entah kenapa… aku merasa bahwa aku baru  mengenal Kakek Eon lebih dalam di waktu seperti ini. Sebelumnya, aku hanya mengira bahwa ia adalah seorang  kakek yang periang dengan sihir-sihirnya yang hebat. Aku tak pernah menyangka bahwa semuanya akan  menjadi seperti ini.  

“Berhenti, dan duduklah.”

Aku menghentikan langkahku, dan duduk bersimpuh. Apa yang akan terjadi sekarang? 

Tak lama setelahnya, tiba-tiba banyak gambaran berkelebat memenuhi kepalaku secara bersamaan.  Kepalaku merasa pusing luar biasa. Perlahan, aku mulai menyadari sesuatu. Tidak, semua gambaran ini… aku  tak pernah melihatnya sebelumnya. Apa-apaan semua ini? 

Namun, sebelum aku menyadarinya, aku sudah tak sadarkan diri di tengah prosesnya. … 

Aku tidak bisa tidur malam ini. Dan mungkin juga untuk beberapa hari ke depannya. Sial, aku bahkan  mungkin tidak tidur untuk berminggu-minggu karena ini. 

Tengah malam di kamar penginapan. Aku menatap nanar langit-langit kamar yang remang. Hari ini,  banyak sekali yang terjadi sampai kepalaku hampir tidak bisa mengikuti. 

Hanya beberapa menit waktu yang kuhabiskan di Alam Permulaan. Namun, aku merasa sangat  kelelahan hari ini. Semua yang terjadi di Alam Permulaan itu benar-benar menguras pikiranku.  

Aku ingin cepat-cepat tidur. Melupakan semua ini. Rasanya, aku tidak ingin semua ini nyata. Namun,  bagaimanapun aku mencoba untuk melupakannya, semuanya menjadi semakin susah untuk dilupakan dan  selalu terngiang-ngiang setiap saat.  

Singkat cerita, semua kelebat gambar yang memenuhi kepalaku saat itu adalah ingatan. Sang Pencipta  memberikan keseluruhan ingatan Kakek Eon di masa lalu kepadaku. Setelah memutar beberapa cuplikan  ingatan itu di dalam kepalaku sekarang, aku bisa tahu. Kakek Eon adalah benar-benar seorang kaisar bengis itu  di masa lalu. Sosok manusia terkejam yang pernah ada. Ia sudah hidup lebih dari seribu tahun sejak zaman itu  sampai sekarang. 

Dari ingatan itu, aku bisa melihat bagaimana Kakek Eon menjalani kehidupannya selama lebih dari  seribu tahun itu. Dari sejak ia berkuasa, hingga menjadi sosoknya yang sekarang. Selain itu, aku juga  menyaksikan sebuah kisah yang saat ini menarik perhatianku.  

… 

Saat menjadi kaisar, Kakek Eon meninggal karena usia tua. Setelah meninggal, jiwa Kakek Eon masih  ditolak oleh Sang Pencipta. Ia dianggap telah membuat kerusakan yang terlalu besar di muka bumi ini. Sang  Pencipta pun memberikan hukuman kepada Kakek Eon untuk membereskan seluruh kerusakan yang telah ia  buat di dunia ini. 

Mekanismenya sederhana. Sang Pencipta memberikannya kekuatan sihir yang tidak ada tandingannya,  yang dapat melakukan banyak sekali hal—bahkan yang mustahil sekalipun—namun dengan beberapa  pengecualian. Pertama, sihirnya takkan bisa mempengaruhi hati orang lain. Kedua, sihirnya takkan 

memengaruhi aliran waktu. Ketiga, sihirnya juga tak bisa memanipulasi kematian ataupun kehidupan dari  sesuatu. Sang Pencipta mengklaim bahwa aspek aliran waktu dan kematian akan menjadi terlalu berbahaya  untuk dimanipulasi oleh sesosok makhluk hidup. 

Lalu, setiap ada orang yang merasakan kesedihan dan kesengsaraan dari seluruh penjuru dunia, Kakek  Eon akan merasakan rasa sakit yang luar biasa dalam dadanya. Segala jenis sihir penyembuhan takkan bisa  mengobati rasa sakit itu. Rasa sakit itu hanya akan hilang sampai seluruh orang di dunia ini tidak merasakan  kesedihan apapun. Ia juga tidak bisa mengambil jalan pintas untuk mengubah hati orang lain untuk menjadi  bahagia hanya dengan sihir, sesuai dari pengecualian yang tadi. Ia tidak bisa memanipulasi kebahagiaan orang  lain, melainkan ia harus menciptakannya.  

Kakek Eon juga diberikan tubuh yang abadi. Ini tentunya juga untuk mencegah segala jalan pintas yang  bisa ia ambil untuk melarikan diri dari semua ini—lewat bunuh diri atau semacamnya. Sang Pencipta benar benar membuat sebuah sistem di mana Kakek Eon akan terus mengabdi demi membahagiakan orang lain dan  menghilangkan kesedihan dari dunia ini sepanjang hidupnya. Tak ada jalan pintas sama sekali. 

Sang Pencipta menyebut misi jangka panjang ini sebagai misi seorang Pemelihara. Yakni untuk  memelihara dunia ini dari segala macam kesedihan dan hal-hal buruk. 

Begitulah hukuman yang diberikan kepada kaisar terkejam dunia ini. Tak ada jalan pintas untuk keluar  dari semua ini. Sang Pencipta tidak main-main untuk membuat Kakek Eon membereskan semua masalah dan  kerusakan yang telah ia buat di dunia ini.  

Tentu saja pada awalnya, Kakek Eon sama sekali tidak tertarik untuk mengambil peran Pemelihara iniIa hanya akan berusaha untuk terus menjalani kehidupan keduanya seperti kehidupan sebelumnya dahulu. Ia  akan muncul dan menyatakan diri sebagai kaisar yang hidup kembali dan kembali menguasai dunia.  Sesederhana itu. 

Tapi, kenyataannya tidak begitu. Saat ia mengumumkan secara terang-terangan ke seluruh dunia soal  kebangkitannya, tak satupun manusia yang menyambutnya dengan bahagia. Justru semuanya menolak  keberadaannya kembali di dunia ini. Bahkan seluruh bawahan tepercaya, tangan kanan, dan orang-orang yang  kenal baik dengannya sebelum ia mati sekarang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan.  Kakek Eon diserang secara mendadak saat sedang sendirian di dalam ruangannya oleh mantan tangan  kanannya saat di kekaisaran dulu. Jantung Kakek Eon tertusuk dengan telak, namun tentu saja ia adalah  makhluk yang abadi sekarang. Ia hanya merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun ia tidak bisa mati. 

Setelah menyadari ada yang aneh dengan tubuh Kakek Eon, sang mantan tangan kanan tersebut  langsung berteriak dan kabur. Ia tak bisa selamat dari serangan sihir milik Kakek Eon, namun seisi istana sudah  mengetahui kekacauan yang terjadi. Tidak memakan waktu lama untuk kabar bahwa sosok manusia terkejam  di masa lalu sekarang telah hidup kembali—dan kabar buruknya, ia sekarang abadi dan memiliki sihir yang  jauh lebih kuat dari siapapun. Berita ini langsung menggemparkan seluruh negeri, dan juga dunia. 

Singkatnya, semuanya langsung menjadi kacau pada saat itu. Seisi dunia hendak melancarkan  serangan apapun untuk melenyapkan keberadaan Kakek Eon, namun tidak ada yang bekerja dengan baik. Ia  benar-benar abadi. Semua bagian tubuhnya yang hancur ketika menerima serangan hanya akan pulih kembali.  Namun tentu saja ia tetap merasakan rasa sakit yang luar biasa dari semua itu. Semua kegilaan ini membuatnya  hilang kesabaran. Dalam situasi terdesak, ia sempat terpikirkan sesuatu.

Hm. Bagaimana bila aku melenyapkan seluruh manusia di dunia ini untuk menghilangkan rasa sakit sialan ini? Aku memiliki sihir yang hebat sekarang, begitu pikirnya. Sang Pencipta mengatakan bahwa rasa sakit  ini hanya akan hilang saat semua kesedihan dan kesengsaraan yang dialami seluruh manusia di dunia ini  menghilang. Tentu saja Kakek Eon takkan melewatkan kesempatan ini. 

Akhirnya, dalam satu kesempatan, ia melancarkan serangan sihir dalam skala besar yang  meluluhlantakkan seisi kota dalam satu kali serangan. Tak ada satupun jiwa yang selamat dari serangan sihir  itu. Lenyap sudah seisi Kota Centro dalam sekejap. Kakek Eon berdiri dengan jemawa di atas bekas kehancuran  Kota Centro, tertawa dengan panjang dan luwes setelahnya. Rasa sakit di dadanya juga berkurang, walaupun  hanya sedikit. Ia merasa sudah menemukan jalan pintas yang mudah dengan situasinya sekarang. 

Tapi, semua itu hanya untuk sesaat. Tak lama setelah tawa panjang itu, Kakek Eon langsung  memuntahkan darah dari mulutnya terus-menerus, seluruh organ dalamnya terasa hancur berantakan. Rasa  sakit ini jauh lebih parah dari sebelumnya—bahkan lebih sakit daripada kematian yang pernah ia rasakan  sebelumnya. Namun kembali lagi—karena dia abadi—ia hanya bisa menahan rasa sakit itu. Mati bukan  menjadi jalan pintas yang mudah baginya. 

Rupanya, berita soal kehancuran instan negara itu cepat sekali menyebar ke negara-negara yang lain.  Hal itu hanya menambah kesedihan dan kecemasan dalam hati orang-orang di seluruh dunia. Bukannya  berkurang, namun rasa sakit itu hanya semakin bertambah parah dan terus-menerus menggerogoti tubuh  Kakek Eon dalam setiap napasnya.  

Setelah beberapa hari dirundung rasa sakit itu, Kakek Eon tidak bisa berbuat banyak. Ia sudah tidak  tahan lagi. Akhirnya, ia mulai berniat untuk mulai mengikuti apa yang ditugaskan Sang Pencipta kepadanya.  Mencoba melakukan sedikit pekerjaan dari seorang Pemelihara. 

Awalnya, ia hanya berniat untuk membantu seorang anak kecil yang hidup di suatu daerah kumuh.  Tentu saja, saat itu ia menggunakan sihir untuk mengubah penampilannya menjadi seorang laki-laki tampan  di usia 30-an. Ia membelikan sebungkus makanan untuk anak kecil itu dengan setengah hati.  

“Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih!” 

Setelah mengatakannya, anak kecil itu langsung berbalik badan dan berlari dengan cepat. Kakek Eon  hanya bisa mematung di tempatnya berdiri. Awalnya ia hanya ingin sedikit menjalankan perannya sebagai  Pemelihara agar rasa sakit di tubuhnya ini dapat berkurang. Namun… 

Senyum itu. Gigi anak kecil yang ompong itu terlihat dengan jelas dari senyum lebarnya. Setelah  melihatnya, Kakek Eon tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa aneh. 

Aku hanya memberinya sebungkus roti yang murah. Ia tampak senang, dan rasa sakit yang kurasakan  sampai sekarang masih tidak berubah. Tapi… 

Itu adalah perasaan yang baru bagi Kakek Eon. Ia melihat tangan yang barusan ia gunakan untuk  memberikan makanan itu.  

Aku… apakah aku baru saja berbuat sesuatu yang baik? Atau… 

Merasa penasaran, Kakek Eon berjalan mengikuti jalan yang dilewati anak itu barusan. Setelah  beberapa saat berjalan, ia mulai mendengar suara yang sayup-sayup.

“Ini enak sekali, Kak!” 

“Hehe, sudah kubilang. Paman itu baik sekali!” 

“Kalau dia orang baik, apakah aku boleh menikahinya nanti, Kak? Boleh, kan?” 

“Bodoh. Tak mungkin dia mau menikahi anak-anak kotor seperti kita. Mendapat makanan darinya  saja sudah keajaiban, tahu. Tapi tak apa, Kakak akan selalu mendukungmu sampai kau besar nanti!” 

“Mmm! Kakak yang terbaik!” 

Ada dua bocah yang sedang makan di dalam sebuah gang kecil yang tersembunyi ini. Bocah laki-laki  yang tadi dengan adik perempuannya. Sepertinya mereka berdua saling berbagi roti yang kuberikan tadi. 

Aku juga hampir tertawa dengan si adik yang berkata hendak menikahiku tadi. Tapi, apa-apaan? Itu  hanyalah candaan anak kecil. Tapi, kenapa? Kenapa aku tertawa akan itu? 

Dan kenapa… kenapa… 

Bruk. Kakek Eon tiba-tiba terduduk simpuh di atas tanah. 

Kenapa… lututku gemetaran? Kenapa aku tiba-tiba terjatuh di atas tanah?  

Aku sungguh tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadaku. Rasa sakit dalam dadaku sempat bertambah  ringan, meskipun hanya untuk sesaat. Setelah itu, rasa sakit dalam dadaku malah bertambah lagi. Tapi, kali ini  rasanya berbeda… sakitnya tidak terasa mencabik. Melainkan, rasanya seperti sesuatu yang hangat dan pilu… 

Dan kenapa… air mata ini tak mau berhenti mengalir di kedua pipiku sekarang? Kenapa? Ada apa ini? Kenapa sekarang aku menangis seperti anak kecil? Kenapa?  

Tolong, siapapun… beritahu aku… 

“Paman, paman tidak apa-apa?” 

Tanpa Kakek Eon sadari, kedua bocah tadi sudah berada di sampingnya. Wajah mereka tampak cemas. “Ada apa, paman?” Kini sang adik perempuan yang bertanya. 

Kakek Eon langsung menunduk, lantas mengusap wajahnya dan menarik ingusnya dengan cepat. Ia  mengangkat wajahnya, menatap kedua bocah itu bergantian.  

“Saya tidak apa-apa, kok.” 

Wajah bocah laki-laki itu tampak terkejut. “Paman… kau tersenyum!” 

“A-apa? Tersenyum?” tanya Kakek Eon. 

“Yah, soalnya tadi Paman kelihatan murung terus…” 

Kakek Eon memegangi kedua pipinya. Aku… barusan tersenyum. 

“Tampannya…” kata sang adik perempuan lirih dengan pipinya yang memerah. 

Kakek Eon menoleh ke arah sang adik perempuan. Apa? Apa yang barusan…

“Anu… Paman… apakah paman mau menikahiku nanti—” 

“Hei!” Sang kakak langsung sigap menutup mulut adik perempuannya. “Anu, Paman, soal itu…” 

“Yah, mungkin saat kau sudah besar nanti,” jawab Kakek Eon dengan tersenyum. Aku tidak  seharusnya berbohong seperti ini. Namun entah mengapa… instingku secara tidak sadar mengatakan apabila  aku berbohong, aku akan membuat bocah perempuan ini sedih. Dan aku juga tidak mengerti… kenapa aku harus  mengikuti instingku yang seperti ini sekarang. 

“Hei, kau ini! Bukannya berterima kasih, kau malah berkata tidak sopan begitu! Sekarang minta maaf!” Sang kakak memarahi adik perempuannya. 

“E-eh? A-anu… maafkan aku, Paman…” 

“Haha… hahaha…” 

“Sekarang Paman tertawa! Ada apa, Paman?” 

“Tidak, saya hanya…” 

Meskipun hanya untuk momen ini, hanya untuk beberapa saat… 

Aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku sudah sering sekali merasa  puas dan senang dalam kehidupanku yang sebelumnya. Namun, kali ini rasanya benar-benar berbeda. 

Rasanya… seperti aku bisa tertawa dan tersenyum sebebasnya. 

Rasanya… seperti aku terlahir kembali. 

… 

Dan hanya dengan begitu, Kakek Eon merasa ingin mencobanya lagi. Ia mulai lebih sering  mendedikasikan waktu, pikiran dan kekuatannya untuk membantu orang lain. Perlahan tapi pasti, ia semakin  dikenal oleh orang banyak. Sihir teleportasi yang sekarang ia punya juga semakin memudahkan dirinya untuk  berpindah antar tempat. Walhasil, sekarang seluruh dunia mengenal sesosok pahlawan baik hati dan tampan  yang muncul setelah tirani kekaisaran dan kebangkitan sang kaisar sebelumnya. Mereka tidak tahu, bahwa  mereka berdua sebenarnya adalah orang yang sama. 

Hanya dalam waktu beberapa tahun, Kakek Eon berhasil kembali lagi menjadi pemimpin dunia. Kota  Centro yang dulunya ia luluhlantakkan dalam sekejap beberapa tahun yang lalu sekarang sudah kembali  sepenuhnya, juga berkat usahanya. Kota ini sekarang kembali lagi menjadi pusat dari pemerintahan dunia, dan  sekarang Kakek Eon berhasil memimpin di sana. Ia juga membuat cerita palsu kepada masyarakat soal tentang  sang kaisar abadi yang kembali binasa dari kesombongannya sendiri saat menghancurkan seisi kota pada saat  itu untuk menghilangkan kegelisahan masyarakat dunia soal kaisar abadi yang bangkit kembali pada saat itu.  Ia sempat berpikir bahwa, mungkin dengan menjadi pemimpin dunia ini, ia bisa melenyapkan kesedihan di  hati seluruh manusia dengan lebih cepat.

Tapi, sebenarnya tidak sesederhana itu. Walaupun sudah bekerja keras sebagai seorang Pemelihara untuk membahagiakan semua orang dari posisi yang ia miliki sekarang, rasa sakit yang dirasakan oleh Kakek  Eon masih belum hilang sepenuhnya. Pada beberapa kesempatan, hati dan pikirannya sempat bereaksi secara  impulsif untuk memanipulasi orang lain seperti dirinya yang jahat di kehidupan pertamanya. Ia sangat takut  apabila hal itu semakin menjadi, ia tak ingin kembali ke dirinya yang lama. Pasti ada sesuatu yang ia lakukan  dengan salah. 

Setelah mencari, Kakek Eon akhirnya menyadari akan sesuatu yang sudah ia abaikan sejak lama.  Padahal ini hanyalah sesuatu yang sangat sederhana baginya. 

Tanpa ia sadari, ia merindukan perasaan itu. Saat pertama kali ia memberikan makanan kepada kedua  kakak-beradik itu. Saling berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang ia temui secara acak. 

Kakek Eon mulai berpikir. Ya, tidak ada jalan pintas untuk memelihara dunia ini hanya dari menjadi  seorang pemimpin. Menjadi pemimpin dunia berarti meminimalkan waktu untuk berinteraksi langsung  dengan banyak orang—malah cenderung menjauhi banyak orang karena posisinya sebagai orang yang penting.  Hal itu tentunya hanya akan menghambat misinya sebagai Pemelihara. Akhirnya, ia sampai pada sebuah solusi.  Ia tak boleh mencolok di mata orang-orang. Ya, tidak perlu menjadi pemimpin dunia. Lagipula, pasti masih  banyak orang lain di luar sana yang lebih cocok untuk melakukannya dibandingkan dengan tiran kejam  sepertinya. 

Mengapa tidak menjadi pengembara saja? Sederhana. Mengembara ke banyak tempat, dan kau bisa  bertemu dengan siapa saja yang kau mau. Sang Pencipta sudah memberi Kakek Eon keabadian dan kemampuan  sihir yang luar biasa. Tak perlu buru-buru. Perlahan saja, dan membahagiakan semua orang di dunia ini  bukanlah hal yang mustahil. Tapi, tentu saja apabila ingin menjadi pengembara yang takkan menarik perhatian  banyak orang, Kakek Eon perlu melakukan sesuatu yang sangat besar. 

Memanipulasi ingatan seluruh manusia di bumi ini. 

Kakek Eon sudah memutuskan bahwa ia ingin membantu orang lain sebanyak mungkin tanpa diingat  seorangpun. Banyak orang yang mengingat sosoknya hanya akan membuatnya semakin sulit untuk  menjalankan misinya sebagai Pemelihara. Ia juga sudah mengerti betul bahwa jalan yang akan ia lalui akan  menjadi jalan yang panjang, dan dipenuhi kesepian. Namun, ia sudah memantapkan dirinya. 

Akhirnya, Kakek Eon mengumpulkan energi sihirnya dengan matang selama satu bulan penuh.  Sebelum meluncurkan sihirnya, ia memberikan jabatannya kepada tangan kanannya di pemerintahan secara  diam-diam. Pada awalnya, si tangan kanan tentunya menolak dan kebingungan dengan ini. Namun, Kakek Eon  tidak memberikan penjelasan apapun. Ia langsung kembali ke ruangannya dan bersiap-siap. 

Setelah semuanya siap, ia akhirnya meluncurkan sihir skala global itu. Ia berhasil menghapus ingatan  manusia di seluruh dunia terhadap sosoknya sekarang. Sekarang tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang  mengingat soal sosoknya. 

Sihir manipulasi ingatan milik Kakek Eon akan menghapus ingatan dan menggantinya dengan sesuatu  yang lain. Ingatan yang menggantikan biasanya akan terbuat dengan sendirinya, yaitu skenario yang mungkin  terjadi tanpa interferensi dari ingatan yang dihapus tadi. Jadi dalam kasus ini, seharusnya ingatan orang-orang  soal ‘pahlawan’ dan ‘pemimpin dunia’ yang telah melekat padanya sekarang seharusnya sudah berpindah 

kepada mantan tangan kanannya di pemerintahan yang sekarang menjadi mengambil jabatannya sebagai  pemimpin—dan si tangan kanan itu sendiri juga takkan ingat pernah bekerja dengannya.  

Dengan begini, Kakek Eon sekarang bukanlah siapa-siapa di mata orang-orang. Ia tidak perlu cemas  soal dirinya menjadi terkenal lagi meskipun ia akan bertemu dan membantu banyak orang lain kedepannya.  

Pengembaraan pun dimulai. Sama seperti dulu, ia akan menjelajahi banyak tempat dan berusaha sebisa  mungkin membahagiakan semua orang yang dia temui. Dengan sihirnya yang sangat beragam dan hebat, ia  menyelesaikan segala macam masalah yang bisa dia temukan selama ia mengembara. Masalah perorangan,  politik, komunitas, atau yang bahkan berskala negara. Ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan  semua masalah sampai ke akar-akarnya, dengan tujuan agar semua orang bisa benar-benar merasa bahagia.  

Tentu saja semua ini bukan tanpa pengorbanan. Kakek Eon harus terus mengerahkan segenap pikiran  dan tenaganya untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Sihir teleportasi, manipulasi ingatan, dan  penyamaran menjadi yang paling banyak ia gunakan dalam menyelesaikan permasalahan, terutama urusan  antar hubungan manusia. Berpindah-pindah ke banyak tempat, menyamar menjadi orang lain, dan banyak hal  lainnya. Semuanya harus ia lakukan sendiri tanpa bantuan dari orang lain sama sekali. Apabila  permasalahannya memang besar dan rumit, itu bisa memakan hingga berbulan-bulan, atau bahkan tahunan  bagi Kakek Eon untuk menyelesaikannya hingga tuntas ke akar permasalahannya—bahkan dengan  kemampuan dan sihirnya yang luar biasa. Setelah masalah diselesaikan, ia akan memanipulasi ingatan seluruh  orang yang bersangkutan untuk melupakan soal sosoknya. Dengan begitu, ia sendiri bisa yakin bahwa ia telah  berbuat sesuatu yang baik untuk orang-orang. 

Semuanya memang sangat melelahkan baginya, namun Kakek Eon merasakan bahwa ada sesuatu yang  berubah. Ia mulai merasakan rasa sakit yang ia alami sekarang sedikit lebih ringan dari biasanya seiring waktu  berjalan. Itu artinya cara yang ia lakukan sekarang bekerja lebih baik daripada menjadi seorang penguasa seperti  dahulu. Ia juga kembali familiar dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan selama ia menjadi seorang  penguasa. Tentu saja, yaitu berbagi kebahagiaan dengan orang lain secara langsung.  

Setelah beberapa tahun hidup sebagai Pemelihara, Kakek Eon mulai merasa nyaman dengan dirinya  sendiri. Bila terus begini, semuanya akan baik-baik saja, begitu pikirnya. Namun, sebenarnya Kakek Eon baru  akan mengerti sebuah hal penting yang masih ia lupakan setelah sebuah reuni dengan seseorang. Atau bisa lebih  tepat dibilang, benang merah takdir yang mulai melilitnya tanpa ampun. 

“Permisiii!” 

Kakek Eon membalikkan badannya. Sepertinya ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.  “Apa ada yang bisa saya bantu—” 

Kakek Eon langsung dihadapkan dengan seorang wanita berjubah tudung, ia mengira bahwa wanita  itu berusia 25 sampai 30-an. Ia sedang mengelap keringat di dahinya, sepertinya ia kehabisan napas setelah  berlari. Wajahnya sangat cantik, bahkan membuat Kakek Eon sempat tersipu sejenak. 

“Anu, Tuan… apakah saya pernah bertemu dengan anda sebelumnya?” 

Kakek Eon menaikkan sebelah alisnya. “Tidak…? Saya tidak tahu, tapi sepertinya tidak…”

Wanita itu berjalan semakin mendekat. Wajahnya tampak cemas dan kebingungan. “Anu, begini… Apakah Tuan memiliki waktu luang?” 

“Hmm… Ada apa memangnya? Apakah anda punya keperluan dengan saya?” 

“S-sebenarnya…” Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya. 

Baru sebentar berbicara dengan wanita itu, Kakek Eon langsung menyadari sesuatu. Raut wajahnya  memang cemas, namun ia sebenarnya juga sedang menyimpan sesuatu yang lain yang takut untuk ia utarakan.  Sudah tak terhitung jumlahnya Kakek Eon sudah menemui orang seperti ini dalam pengembaraannya— lagipula, memang salah satu target utama pekerjaan seorang Pemelihara adalah kelompok orang yang seperti  ini. Kakek Eon pun langsung mengambil inisiatif. 

“Bagaimana kalau kita membicarakan ini sambil makan siang di suatu tempat?” Kakek Eon tersenyum  untuk meyakinkan wanita itu. 

“B-baiklah…” 

“Anda punya rekomendasi tempat?” 

“Anu… kalau soal itu… mungkin yang di sana saja.” Wanita itu menunjuk sebuah kedai yang hanya  berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdua berdiri. 

“Hm, baiklah. Ayo kita lanjutkan di sana.” 

Mereka berdua pun berjalan ke arah sebuah kedai terdekat. Bangunannya terasa kecil dan sederhana  dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di kota ini. 

“Selamat datang.” Sang pemilik kedai menyapa dari tempatnya berdiri setelah pintunya dibuka. 

Mereka berdua pun duduk di salah satu meja. Suasana di dalam cukup sepi, sedang tidak ada pelanggan  lain selain mereka berdua. Menu sudah disediakan di atas masing-masing meja. 

“Tak perlu sungkan. Saya yang akan mentraktir untuk ini,” kata Kakek Eon. 

“T-tidak! Saya yang akan membayar,” jawab wanita itu dengan nada yang cukup tinggi. Kakek Eon  paham akan apa artinya itu, dan tidak membantahnya lebih jauh lagi. 

Wanita itu pun berjalan ke arah kasir untuk membayarnya, dan kembali lagi ke kursinya. Kakek Eon  tersenyum tipis. Wanita berdikari, ya. 

“Baiklah.” Kakek Eon menelungkupkan kedua tangannya di atas meja. “Jadi, apakah kita bisa mulai  sekarang?” 

Sang wanita mengangguk pelan. 

“Hm. Jadi, sebelumnya anda berkata bahwa anda pernah bertemu dengan saya. Di mana, dan kapan  tepatnya?” 

“Soal itu… sebenarnya… saya tidak tahu…” 

“Anda bahkan juga tidak ingat soal itu?”

“T-tapi…! Saya benar-benar… tolong tunggu sebentar.” Wanita itu merogoh tasnya, lalu ia  mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya. Lalu ia langsung menyodorkannya ke arah Kakek Eon. 

Kakek Eon membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya. Tulisannya tidak rapi dan penuh  coretan, seperti tulisan anak kecil. Seiring ia membaca, ia mulai menyadari sesuatu. 

“Eng… Apakah ini surat wasiat?” 

“B-betul. Itu surat wasiat dari kakak saya.” 

Kakek Eon berhenti membaca, menutup kembali lipatannya. Ia menyodorkannya kembali ke wanita  itu. “Anu… saya mungkin tidak sopan, tapi sebaiknya anda tidak boleh membiarkan orang asing seperti saya  untuk membaca isi surat wasiat milik kakak Anda…” 

“Tidak, bukan begitu… tolong baca isinya terlebih dahulu.” 

“Tapi, saya pikir saya tidak bisa membacanya…” 

“Tolong bacalah, Tuan!” 

Sang wanita tiba-tiba menaikkan nadanya, membuat Kakek Eon sedikit terkejut. “Ya ampun,  tenanglah dulu. Tapi, saya benar-benar tidak bisa membaca ini. Seperti yang saya bilang, saya tidak bisa  sembarangan untuk membaca sesuatu seperti ini…” 

“Anda bukan orang asing!” 

Kakek Eon mengerutkan dahinya. Ia juga separuh terkejut. “Maaf?” 

“Anda… saya yakin saya pernah bertemu dengan Anda… hanya saja, saya sama sekali tidak bisa  mengingatnya…” 

Kakek Eon berpikir sejenak. Apa mungkin karena saat itu? Saat aku memanipulasi ingatan semua  manusia di bumi ini? Tapi kenapa dia sepertinya tahu sesuatu soal diriku… 

“Saya tahu ini terdengar sangat bodoh dan tidak bisa dipercaya. Tapi, begini… kakak saya meninggal  ketika kami berdua masih kecil. Dia meninggal karena sebuah penyakit parah. Setelah itu, beberapa tahun  kemudian, semua ingatan dalam kepala saya tiba-tiba berubah.” 

Kakek Eon mengangguk-angguk. Sepertinya tebakanku benar. 

“… Anda tidak merasa bahwa saya barusan mengatakan hal yang aneh?” 

“Tidak. Lanjutkan saja.” Yah, lagipula itu aku yang melakukannya, sih. 

“B-baiklah. Jadi, begini… saya tidak tahu persis semua saja yang terjadi sebelum ingatan saya berubah.  Saya masih ingat bahwa saya adalah seorang yatim piatu bersama dengan kakak saya dulu. Saya sempat  dipindahkan ke panti asuhan beberapa tahun sebelum ingatan saya berubah. Tapi, ada satu hal yang tidak saya  mengerti…” 

Wanita itu kembali merogoh tasnya. Kali ini, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan  menyodorkannya kepada Kakek Eon.

“Saya sama sekali tidak tahu kenapa ada gambar-gambar ini di kamar panti saya.” 

Kakek Eon melihat isi kertas-kertas itu. Gambarnya memang tidak terlalu bagus, namun ia bisa melihat  dua sosok anak kecil dengan seorang pemuda sedang tersenyum dalam gambar itu. Hampir semua gambar di  kertas itu diisi oleh ketiga figur itu.  

“Itu semua gambar dan tulisan saya sendiri. Dua anak kecil dalam gambar itu jelas kakak saya dan saya  sendiri, tapi saya sama sekali tidak tahu soal pria yang ada di situ. Sebelumnya, saya mengira bahwa saya hanya  menghabiskan masa kecil bersama dengan kakak saya saja. Tapi, sepertinya saya juga pernah bertemu dengan  pria ini di suatu tempat, dan saya tidak bisa mengingatnya sama sekali. Dari sinilah saya sadar bahwa ada yang  aneh dengan ingatan saya.” 

Kakek Eon berhenti melihat kertas-kertas itu sejenak. Tunggu dulu. Sepertinya firasatku tidak enak  soal ini… 

“Saya tidak tahu apa-apa soal pria yang ada di situ. Namun, setiap kali saya melihatnya, dada saya  terasa sesak. Saya tidak tahu mengapa. Semakin saya mengingat dan melihatnya, dada saya terasa semakin sesak.  Lalu, setelah kembali membaca wasiat milik kakak saya, saya akhirnya mengerti. Semuanya menjadi jelas.” 

Kakek Eon mulai berkeringat dingin, ia mulai bisa membaca ke mana arah pembicaraan ini menuju.  “Anu… apakah saya benar-benar boleh untuk membaca surat wasiat kakakmu ini?” 

“Ya, silakan. Saya memang ingin Anda membacanya…” 

Kakek Eon kembali membuka lipatan surat wasiat itu. Sekarang, ia benar-benar akan membaca semua  isinya. 

*** 

Hei, Gi. Ini kakakmu. Yah, pertama, maaf kalau tulisanku jelek. Kita berdua memang belum pernah  sekolah sebelumnya, kan? 

Lalu, pak dokter bilang kalau aku tidak akan hidup lebih lama lagi. Yah, itu memang menyebalkan, sih.  Aku masih anak kecil, dan masih banyak yang ingin aku lakukan. Tapi hei, kita berdua yatim piatu dan tidak  punya uang. Jadi, kupikir tidak buruk juga bila seperti ini. 

Hanya saja, aku cemas denganmu. Aku takkan bisa menjagamu lagi. Kau masih kecil, dan kau perlu  seseorang untuk menjagamu. Dan soal itu, sepertinya aku tahu seseorang.  

Kau tahu, aku minta maaf soal hari itu. Aku seharusnya tidak marah-marah kepadamu pada hari itu.  Kalau kau memang serius menyukai orang itu, kejar saja dia. Kau juga tahu dia orang yang baik, kan? Kalau  itu kau, aku yakin pasti bisa melakukannya. Orang itu pasti bisa menjagamu dengan baik kelak.  

Aku baik-baik saja di sini. Malah, aku jauh, jauh lebih cemas denganmu. Jaga dirimu baik-baik, ya. 

*** 

Kakek Eon menyelesaikan surat wasiat itu dengan membelalakkan matanya. Sekarang ia paham  sepenuhnya apa yang sedang terjadi sekarang. 

“Saya… telah jatuh cinta kepada Anda, Tuan.” 

Deg. Kakek Eon tersadar dari lamunan singkatnya setelah mendengarnya. 

“T-tidak, tidak, bukan begitu…” 

“Memang begitulah keadaannya sekarang, Tuan.” 

“Tidak! Anda pasti salah orang…” 

“Saya yakin bahwa saya tidak salah orang.” 

“Dan bagaimana Anda bisa seyakin itu?” Bagaimana ini semua bisa terjadi? Ini semua cuma kebetulan,  bukan?! 

Kakek Eon masih berusaha untuk tetap bersikap tenang, namun ia benar-benar tak habis pikir.  Penyamaran yang digunakannya selalu ia ubah setiap kali ia berpindah kota, dan ia tak pernah lupa untuk  memastikannya. Meskipun ia memang selalu memilih sesosok pria dewasa untuk penyamarannya, wajah dan  perawakan yang ia tampilkan dengan sihirnya selalu berbeda-beda.Ia yakin sihir penyamarannya masih bekerja  sekarang. 

“Soal itu… sejujurnya, saya sendiri juga tidak terlalu mengerti. Saya langsung merasakannya begitu  saya melihat Anda tadi…” 

“Merasakannya…?” 

“…Betul. Kembali lagi, saya mungkin tidak waras saat mengatakan ini. Saya mengatakan sebelumnya  kalau dada saya terasa sesak saat melihat gambar-gambar ini, bukan? Itulah yang terjadi tadi.” Wanita itu  kemudian meletakkan tangannya di depan dadanya sendiri. “Begitu saya melihat sosok Anda, dada saya  langsung terasa sesak. Bahkan jauh lebih sesak dari biasanya, membuat saya kesulitan bernapas. Seakan, saya  mendengar hati saya berkata, ‘Aku harus mengejar orang itu. Apabila kulepaskan, aku pasti akan menyesal  seumur hidupku’ di dalam kepalaku.” 

Kakek Eon mulai menyadari apa yang terjadi. Tidak, tidak. Aku telah membuat kesalahan. Ini semua  terjadi karena kelalaianku. 

Benar. Kakek Eon memang bisa memanipulasi pikiran dan ingatan, tapi ia tidak bisa mengubah hati  seseorang. Itulah masalah yang sedang terjadi kepada wanita di hadapannya sekarang.  

Sepertinya, pemahaman terhadap waktu oleh Kakek Eon memang sudah berubah. Hidup abadi dan  mengembara membuatnya merasa semuanya berlalu tanpa terasa. Ia sama sekali tak merasa semua sudah  berlalu selama itu. Bocah perempuan kecil di lokasi kumuh puluhan tahun yang lalu itu sekarang sudah tumbuh  menjadi wanita dewasa yang cantik nan jelita di hadapannya sekarang. Rupanya, yang dikatakan oleh wanita  itu saat ia kecil dulu bukan hanya sebuah candaan semata—dan perasaan itu masih melekat kuat sampai  sekarang. 

Kakek Eon menatap wajah wanita di hadapannya sekarang itu. Tak ada keraguan dalam tatapan  matanya. Ia benar-benar serius soal ini. 

Kakek Eon langsung memikirkan banyak hal dalam kepalanya. Takkan ada sihirnya yang bisa  memengaruhi wanita ini sekarang. Hatinya sudah tertambat kepada Kakek Eon sejak pertemuan mereka  puluhan tahun yang lalu. Ia harus segera menemukan solusi dari ini semua. 

Kakek Eon tidak bisa menggunakan alasan penyamarannya. Wanita itu tidak mempunyai ingatan apapun soal wajah Kakek Eon ketika bertemu pertama kali dulu. Ia memang selalu mengubah penyamarannya,  namun ia selalu menyamar menjadi seorang pria dewasa sejak dulu. Meyakinkan wanita itu bahwa ia  sesungguhnya adalah kakek tua yang sedang menyamar hanya akan memperumit masalah. 

Meninggalkan wanita ini sekarang bukanlah jalan keluar. Lagipula,sepertinya sumber kegelisahan dan  ketidaknyamanan darinya juga bersumber dari semua permasalahan ini. Meninggalkan wanita ini berarti  mengabaikan tugasnya sebagai seorang Pemelihara. 

Atau… menerima pengakuan cintanya…? Apakah itu bisa menjadi solusinya? 

Kakek Eon menggaruk kepalanya dalam frustrasi, menggeleng. Tidak, tidak, tidak! Ingat siapa dirimu  di masa lalu! Kau sama sekali bukan orang yang pantas untuk itu! 

Kau sedang dalam misimu sebagai Pemelihara. Kau sama sekali tak bisa melibatkan siapapun dalam  ini. Bukankah kau sudah berkomitmen? Isi hati Kakek Eon berkecamuk. 

“Maaf, tapi tetap saja… Saya tidak bisa menerima lamaran Anda. Saya tidak bisa menjamin untuk  membahagiakan Anda…” 

“Tidak apa-apa! Saya sudah bisa hidup mandiri sekarang. Sebenarnya… saya bekerja sebagai model pakaian sekarang. Saya sudah bisa mencukupi diri sendiri. Saya bukan lagi anak yatim piatu seperti dulu—” 

Bruk! 

“Sudah, cukup!” 

Kakek Eon memukul meja. Ia kehabisan ide atas apa yang bisa ia lakukan dalam momen itu. Baru  pertama kali ini ia merasa sebuntu ini terhadap suatu permasalahan. Ia merasa sangat frustrasi. 

“Saya minta maaf sekali lagi, tapi tetap saja, saya tidak akan menerima lamaran ini. Ini semua terlalu  mendadak, dan saya juga takkan membahasnya lebih lanjut lagi. Oleh karena itu—” 

Kakek Eon menghentikan perkataannya secara tiba-tiba. Wanita itu seketika berlinangan air mata di  hadapannya. Kakek Eon segera mengaktifkan sihir ruang miliknya, membuat hawa keberadaan mereka berdua  lenyap dan membuat mereka berdua tak terlihat. Suara juga takkan bisa keluar dan masuk dariruang buatannya. Pelayan dari dapur hendak mulai mengirimkan makanan ke meja, namun ia dibuat kebingungan ketika melihat  dua orang yang duduk di sana barusan tiba-tiba lenyap menghilang tanpa jejak. 

“Tenanglah, Nona. Maaf, saya tidak bermaksud untuk…” 

“Saya sudah… saya sudah berusaha… tsk… hiks…” 

“Saya minta maaf.” Kakek Eon sekarang mengelus-elus punggung wanita itu, berusaha  menenangkannya.  

“Saya… selama ini… selalu mencari Anda…”

Kakek Eon tertegun seketika. Mencari? 

“Maafkan saya, Nona.” Kakek Eon pun akhirnya tak punya pilihan, ia menempelkan tangannya ke  dahi wanita itu untuk melihat isi ingatannya dengan sihir. Ia terpaksa melakukan ini karena ia tak ingin  membuat kesalahan lagi. Apabila ia tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini, ia mungkin bisa  bersikap lebih rasional dan lebih waspada ke depannya. 

Memang benar, ingatan soal Kakek Eon sudah lenyap dari kepala wanita itu. Wanita itu juga tidak  berbohong soal latar belakangnya sama sekali. Soal kakaknya yang meninggal di usia kanak-kanak, rasa sesak yang ia rasakan di dadanya, wasiat milik kakaknya, dan semuanya. Setelah beranjak dewasa, parasnya juga  mulai berubah jelita, dan ia pun mulai mencoba keras untuk memasuki dunia permodelan pakaian. Memang  sangat sulit, namun dengan usahanya yang juga tidak setengah-setengah, ia akhirnya berhasil sukses dalam  industri tersebut. Ia berkeliling dunia dalam pekerjaannya. Di setiap kota yang ia singgahi, ia selalu mengadakan  acara amal yang ia adakan secara mandiri untuk anak panti asuhan ataupun anak tidak mampu dalam kota itu sebagai bentuk rasa pedulinya, juga sebagai pengingat untuk pengalaman masa lalunya. Pada saat waktu luang  seperti itulah, ia akan mengenakan jubah tudung seperti yang sedang ia kenakan sekarang, berkeliling mencari  kota. Untuk mencari seseorang. 

Kakek Eon melepaskan tangannya. Wanita itu mulai menjadi lebih tenang sekarang, hanya terisak  ringan. 

“… Sudah merasa lebih tenang?” 

Wanita itu mengangguk lemah. 

“Baiklah.” Kakek Eon kembali lagi ke kursinya. “Jadi, apakah Anda benar-benar… menganggap saya  seseorang yang berharga?” 

Wanita itu kembali mengangguk lemah. 

“…Saking berharganya, sampai kau ingin menikah denganku?” 

Wanita itu kembali mengangguk, kini sambil menundukkan kepalanya. 

Kakek Eon menghela napas. “Baiklah, saya mengerti.” 

Wanita itu mengangkat kepalanya. 

“Saya akan memikirkannya. Berikan saya waktu satu bulan.” 

Dalam sekejap, kedua mata wanita itu langsung berbinar-binar seolah wajah sedihnya barusan tak  pernah terjadi. “S-sungguh, Tuan?” 

Kakek Eon mengangguk. 

Wanita itu kemudian menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. “Terima… kasih…” “Tapi, ada satu syarat.” 

Wanita itu tampak sedikit terkejut. “A-apa itu, Tuan?”

“Dalam waktu itu, saya akan ikut dengan Anda dan mengamati keseharian Anda. Apabila saya benar benar akan menikah dengan Anda nantinya, saya harus tahu seperti apa orang yang akan saya nikahi, bukan?” 

“Begitu…” Wanita itu mengangguk-angguk. 

“Bagaimana? Apakah Anda keberatan?” 

“T-tidak sama sekali, Tuan!” Wanita itu menggeleng cepat.  

“Baiklah, kalau begitu.” Kakek Eon kemudian menjentikkan jarinya, menghilangkan ruangan khusus  yang ia buat sebelumnya. Untung saja isi kedai masih kosong, kemunculan mereka berdua yang tiba-tiba setelah  sihir ruangan itu dibatalkan bisa menyebabkan keributan yang akan merepotkan bagi Kakek Eon. Hanya  pelayan saja yang sedikit kaget melihat Kakek Eon bersama dengan wanita itu yang tiba-tiba mendatanginya  untuk membayar makanan setelah melihat mereka berdua menghilang dari kursi barusan. 

Setelah itu, dimulailah masa percobaan bagi wanita model itu. Sayangnya, Kakek Eon sebenarnya  tidak berencana untuk benar-benar menikahinya di akhir nanti—soal bagaimana jalan keluarnya saat itu tiba akan ia pikirkan nanti. Ia hanya ingin sedikit bernostalgia dengan salah satu figur penting yang pernah  ditemuinya di masa lalu. Namanya Gi, seorang wanita model pakaian. Ia ingin melihat secara langsung,  bagaimana bocah perempuan pemalu yang pernah ia temui puluhan tahun yang lalu itu sekarang sudah tumbuh  menjadi seorang wanita dewasa yang mandiri. 

Hari-hari pun berlalu. Selama satu bulan mengamati, tentunya Kakek Eon takkan memakai sihir  apapun selain sihir penyamaran yang selalu ia gunakan sepanjang waktu. Setiap harinya, Kakek Eon akan terus  bersama dengan Gi untuk mengamati kesehariannya dari jauh. Itu berarti, apabila Gi benar-benar akan sering  berpindah kota sesuai dengan ingatan yang ia intip, maka ia juga harus mengikutinya. 

Dan sampai sejauh ini, itu terbukti benar. Pada hari-hari kerja yang sibuk, Gi akan menjadi sangat  sibuk dengan jadwalnya. Dari pagi buta sampai malam hari, hampir tak ada waktu istirahat yang cukup baginya. Ia selalu berpindah-pindah kota dan penginapan setiap beberapa waktu karena pekerjaannya. Sama dengan  ingatan yang sempat Kakek Eon intip sebelumnya. Itu membuktikan bahwa ia benar-benar bekerja keras, tidak  hanya sedang berusaha untuk membuat dirinya terlihat lebih baik di hadapan Kakek Eon. 

Gi menggunakan akhir pekannya untuk mengunjungi panti asuhan yang ada di kota yang sedang ia  kunjungi, memberikan sejumlah bantuan finansial dan berinteraksi dengan anak-anak di dalamnya. Ia juga  akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian masyarakat sekitar. Ia selalu menggunakan jubah  bertudung dan nama samaran setiap kali menghabiskan hari liburnya. Semua ini juga masih sama persis dengan  ingatan yang dilihat Kakek Eon. 

Kakek Eon sudah bercerita kepada Gi bahwa ia adalah seorang penyihir, dan ia tampaknya sama sekali  tidak keberatan dengan itu. Lagipula, reputasi penyihir pada zaman itu sudah kembali membaik setelah  sebelumnya dicap sebagai amunisi mematikan dalam peperangan saat zaman Kakek Eon masih berkuasa dulu. Sesekali mereka makan bersama, mengobrol ringan. Gi sekarang tampak jauh lebih tenang saat mengobrol  dengan Kakek Eon dibandingkan dengan pertemuan pertama mereka dulu. 

Pekan berlalu, dan tenggat waktu satu bulan sudah dekat. Memang rencananya, Kakek Eon juga ingin  mengambil sedikit jeda dari misinya sebagai Pemelihara. Ia benar-benar menikmati waktunya saat mengawasi  Gi. Meskipun mereka berdua hanya sempat mengobrol dan berinteraksi untuk beberapa menit sehari, namun 

ia tetap menikmati hari-hari yang mereka habiskan bersama. Sering kali, ia mengamati Gi yang bermain-main  dengan anak-anak panti asuhan dari kejauhan sembari membaca buku.  

Semua ini membuat Kakek Eon merasakan ketenangan dalam jiwanya. Sering kali, ia bahkan  melupakan rasa sakit di dadanya yang sebenarnya masih sering mengganggu kesehariannya. Ia merasa begitu  tentram dan rileks. Ia belum merasakan hal seperti ini sepanjang ia hidup—entah di kehidupan pertamanya,  maupun sepanjang misinya sebagai Pemelihara sekarang. 

Lama-kelamaan, Kakek Eon mulai melupakan janji yang sudah ia buat. Walaupun setelah lewat satu  bulan, ia belum meninggalkan Gi. Ia perlahan mulai menikmati kehidupan barunya. Hanya bersantai dan  mengamati Gi yang ceria dari kejauhan dengan anak-anak panti. Gi juga sepertinya tak masalah dengan Kakek  Eon yang berada di sekitarnya, ia sama sekali tidak mengungkit soal perjanjiannya dengan Kakek Eon soal  waktu percobaan itu. 

Sampai pada suatu hari. Setelah mereka berdua berpindah kota, rutinitas berjalan seperti biasa. Di  akhir pekan, Gi akan memakai jubah tudungnya untuk menyembunyikan identitasnya dan mengunjungi panti  asuhan di kota tersebut. Namun, ada sebuah masalah. Di kota tersebut, tidak terdapat panti asuhan. 

Gi sudah bertanya kepada banyak penduduk sekitar, namun mereka semua menjawab bahwa tidak ada  panti asuhan di kota ini. Kakek Eon merasakan ada sesuatu yang aneh. Sebuah kota biasanya selalu mempunyai  sebuah panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim dan tidak mampu di dalam kota. Namun, kota yang  kali ini mereka kunjungi sepertinya tidak mempunyainya. 

Kakek Eon tidak terlalu memikirkan soal masalah itu pada awalnya. Gi sepertinya juga demikian.  Mengetahui kota kali ini tidak memiliki panti asuhan, Gi langsung berkeliling kota untuk mengumpulkan  seluruh anak-anak yang tinggal di jalanan. Ya, tidak mempunyai panti asuhan bukan berarti kota tersebut tidak  mempunyai anak-anak yatim-piatu maupun yang kurang beruntung. 

Gi mengumpulkan mereka semua di penginapan, dan bermain-main dengan mereka semua. Berbagi  sedikit kebahagiaan bersama anak-anak jalanan dan yatim-piatu, seperti yang biasa ia lakukan. Kakek Eon tetap  mengawasi dari pojok ruangan sambil menyamarkan hawa keberadaannya. Namun, semuanya tidak berjalan  mulus setelahnya. 

Keesokan harinya. Tiba-tiba, penginapan tempat Kakek Eon dan Gi menginap menjadi ramai. Beberapa orang dengan penampilan tidak biasa langsung berduyung-duyung memasuki pintu depan,  mengejutkan Gi dan anak-anak yang lain. Kakek Eon melihat mereka. Ia bisa merasakannya. Beberapa dari  mereka adalah penyihir. Ia mempunyai firasat yang buruk soal ini. 

Anak-anak menjadi ketakutan, mereka semua bergerumbul di belakang Gi. Gi berusaha menenangkan  mereka sejenak, lantas maju selangkah untuk menghadapi sekelompok orang tersebut.  

Sekelompok orang tersebut menanyakan soal apa yang Gi lakukan bersama dengan anak-anak itu di  dalam penginapan. Gi menjawab dengan nada bergetar, bahwa ia hanya sedang bermain-main dengan mereka.  Kakek Eon menyadari langsung bahwa Gi sebenarnya juga sedang ketakutan. Ia hanya berusaha bersikap  tenang dan tegar di depan anak-anak.

Percakapan berlangsung cukup alot. Sekelompok orang itu menyuruh Gi untuk membatalkan semua  kegiatannya bersama anak-anak ini. Tentu saja Gi menolaknya secara halus pada awalnya, namun lama-lama  percakapan berubah menjadi semakin intens dan menegangkan. Kedua pihak sama-sama keras kepala. 

“Lagipula, kenapa kota ini tidak memiliki panti asuhan? Itu aneh sekali. Setiap kota seharusnya  memilikinya,” sergah Gi. 

“Memangnya ada peraturan yang seperti itu? Tidak ada sama sekali!” Orang yang berdebat—yang  sepertinya merupakan pemimpin dari kelompok itu—menyanggah dengan tak kalah keras. 

“Tapi, dengan begitu, mereka semua ini kasihan, tahu! Mereka kelaparan dan harus tidur di luar setiap  hari! Pemerintah kota ini seharusnya—” 

“Oi, kau tidak punya hak untuk bilang begitu. Kau bahkan tidak pernah meminta izin atau apapun  untuk mengadakan kegiatan seperti ini kepada kami, otoritas kota.” Kakek Eon meningkatkan kewaspadaannya.  Seperti yang ia duga, mereka pasti ada hubungannya langsung dengan petinggi kota ini. 

“Memangnya hanya berkumpul dengan anak-anak seperti mereka ini juga memerlukan izin dari  kalian segala?!” 

“Tentu saja! Kau bahkan bukan penduduk kota ini, bukan? Kau hanya pengunjung di sini!” Orang  itu semakin menaikkan nadanya, ia seperti hampir berteriak.  

Kakek Eon sudah bersiap untuk melakukan sesuatu, namun Gi membuat isyarat dengan tangan di  belakang punggungnya bahwa ia tidak apa-apa. Kakek Eon sebenarnya merasa cukup ragu dengan ini, namun  ia bisa melihat senyuman percaya diri Gi dari belakang. Ia berusaha untuk percaya. 

“Apapun yang terjadi, saya akan ada selalu berada di pihak anak-anak ini.” 

Pemimpin kelompok itu mendecak. “Sudah cukup! Pokoknya, hentikan semua ini. Kalau kau hendak  mengadakan sesuatu seperti ini, kau harus melaporkannya kepada otoritas kota terlebih dahulu. Memang  begitu aturannya. Semua yang menginjakkan kakinya di kota ini perlu mematuhinya, tak peduli siapapun itu.  Cukup sampai di sini. Kalian semua, ikut dengan kami!” 

Pemimpin kelompok itu mengisyaratkan anak-anak untuk berbaris dan meninggalkan penginapan, mengikuti mereka. Namun mereka semua tampaknya masih terlalu takut untuk mematuhi instruksi itu.  Pemimpin kelompok itu kembali mendecak dan meninggalkan penginapan bersama dengan kelompoknya.  

“Dasar anak-anak sialan tidak berguna. Cepat! Berbaris yang rapi, dan keluar dari sini!” 

Pemimpin kelompok itu membentak dengan lantang, dan akhirnya anak-anak itu mengikuti  instruksinya dengan wajah ketakutan. Secara spontan, Kakek Eon langsung berdiri dan merangsek menuju  kelompok orang itu.  

Tap. 

Gi langsung menangkap tangan Kakek Eon. Kakek Eon yang terkejut menoleh ke arah Gi. Dengan  wajah lesu, Gi menggelengkan kepalanya. 

Meskipun begitu, Kakek Eon bisa merasakan Gi sedang gemetaran hebat ketika memegang tangannya.  Cengkeramannya juga terasa sangat kuat. Dia pasti juga merasa sangat marah sekarang. 

Anak terakhir sudah keluar dari pintu depan penginapan, mengikuti kelompok orang itu. Gi dan  Kakek Eon pun kembali berjalan menuju kamarnya masing-masing dengan lemas. Tidak ada yang bisa mereka  lakukan sekarang.  

Mereka berdua sudah sampai di kamar Kakek Eon. Begitu Kakek Eon memasuki kamarnya, Ia juga  menarik Gi untuk masuk. 

“Tunggu dulu Tuan, kenapa—” 

Kakek Eon menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia memasukkan kuncinya ke dalam kantong  pakaiannya. “Hentikan saja. Aku tahu apa yang kau pikirkan.” 

Gi tidak membalas perkataan Kakek Eon, ia hanya bisa mengalihkan sorot matanya.  

“Aku tahu kau mau melakukan sesuatu untuk anak-anak itu, kan? Hentikan saja. Kita tak bisa  melakukan apapun untuk malam ini. Untuk membawa mereka kembali, kita butuh informasi soal kota ini dan mencari tahu soal masalah mereka dengan anak-anak itu—” 

“Tapi, tidak ada waktu untuk itu, Tuan!” Gi memotong dengan keras.  

“Tenanglah! Tak ada yang akan berakhir baik apabila terburu-buru. Kita harus memikirkan solusi  untuk ini dengan baik dan matang. Untuk sekarang, kau akan tidur di kasurku. Aku akan berjaga sambil  memikirkan solusi yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan semua ini.” Kakek Eon kemudian duduk di  kursi dan menyalakan lilin di mejanya.  

“Tapi—” 

“Jangan membantah! Ikuti perkataanku untuk saat ini. Percayalah denganku.” 

Gi pun akhirnya mengempaskan badannya di atas kasur sambil mendecak. Sepertinya kekesalannya  sedang memuncak. Namun, mau bagaimana lagi. Untuk menyelesaikan masalah di daerah yang belum pernah  ia datangi sebelumnya, Kakek Eon harus mengumpulkan informasi terlebih dahulu. Ia pun membuka diari  pengembaraan yang ia miliki. Mungkin ia mempunyai informasi soal daerah terdekat dengan kota ini yang  pernah ia kunjungi sebelumnya. 

Satu jam ia membaca diari miliknya, dan ia tidak menemukan banyak informasi yang berguna. Yang  ia dapatkan, kota-kota terdekat dari sini yang pernah dia kunjungi tidak memiliki banyak masalah yang  tergolong aneh. Kakek Eon memijat dahinya. Membolak-balik halaman diarinya dengan malas.  

Sesaat kemudian, ia mendengar suara dari arah kasur. Sepertinya Gi mulai berdiri, ia belum tidur dari  tadi. 

“Apapun yang kau rencanakan, kau tidak akan bisa keluar dari sini. Tidak dalam pengawasanku,” kata  Kakek Eon tegas tanpa mengalihkan pandangan dari diarinya. 

“Saya hanya ingin minum sedikit, ya ampun…” 

Kakek Eon melirik ke arah Gi. Ia memang hanya sedang meminum air dari cangkir miliknya. 

Selesai meneguk dari cangkirnya, Gi menoleh ke arah Kakek Eon. “Anu, Tuan… apakah hanya firasat saya saja, tapi… wajah Anda terlihat aneh?” 

Kakek Eon langsung mematung seketika. Sebelumnya ia memang yakin dalam pengawasannya,  namun mendengar perkataan itu membuatnya panik dalam seketika.  

Ada apa dengan penyamaranku? Apakah dia melihat sesuatu yang aneh dalam penyamaranku? 

Kakek Eon tidak ingin penyamarannya terbongkar di depan Gi, paling tidak untuk sekarang. Sampai  sekarang, penyamarannya belum pernah bocor kepada siapapun. Tapi, dengan Gi yang dulu bisa mengenalinya  langsung bahkan setelah ingatannya terhapus, mungkin ini adalah sesuatu yang berbeda yang tidak bisa ia duga  sebelumnya.  

“… Aneh, katamu?” 

“Iya. Aneh, Tuan. Lihat—” Gi melangkah mendekat kepada Kakek Eon. Ia mulai menyentuh kedua  pipi Kakek Eon, memutar kepalanya hingga wajah mereka berdua sekarang saling berhadapan dari dekat.  

“H-hei! Apa yang kau lakukan—” 

Cup. 

“Ap—eh? Eh?!” 

Tanpa ada hujan, tanpa ada angin. Dalam sekelebat, Gi mencium Kakek Eon tepat di bibirnya. Kakek  Eon langsung refleks menggeser kursinya untuk menjauh. Ia menjadi salah tingkah. “Apa yang barusan kau  lakukan?!” 

“Maafkan saya, Tuan.” 

“Yang barusan itu… Apa—” 

Gi sekarang sedang merapalkan sesuatu dengan cepat di mulutnya. Kakek Eon merasa seperti pernah  mendengar itu. Ia seketika bergerak untuk menghentikan Gi. Namun, ia kalah cepat. Gi dengan cepat langsung  menempelkan sebuah kertas di dahi Kakek Eon. Seketika, kesadarannya mulai memudar dengan cepat.  

“Maafkan saya, Tuan. Saya telah berbuat kesalahan. Saya akan bertanggung jawab soal ini. Saya…  benar-benar… minta maaf…” 

Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, Kakek Eon melihat sosok Gi yang mulai berderai air mata dan tersenyum pahit. Ia benar-benar ingin bangun dan melakukan sesuatu soal itu, namun ia tidak bisa. Ia  langsung tertidur lelap setelahnya. 

Malam akan berlangsung panjang, dan Kakek Eon sekarang hanya akan menghabiskannya dengan  terlelap di atas kursinya. 

“AAAAHH!!” 

Kakek Eon langsung bangkit dari tidurnya. Sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Ia kehabisan  napas seperti setelah berlari untuk waktu yang lama. 

Apa… yang barusan kumimpikan itu?

Kakek Eon barusan bermimpi buruk soal Gi. Ia melihat ada sebuah kertas sihir yang terjatuh di lantai  kamarnya. Ia memungutnya, dan ia seketika panik. Itu adalah kertas sihir tingkat tinggi yang sangat mahal dan  langka. Dengan kertas sihir itu, penggunanya bisa memohon hal-hal di luar nalar dengan satu syarat yang  bebannya setimpal. Dalam kasus ini, Gi pasti meminta agar Kakek Eon bisa tertidur lelap dengan waktu yang  lama dengan syarat menciumnya secara langsung di bibir. Tapi, Kakek Eon juga masih bingung dengan semua  ini. 

Memangnya hanya dengan ciuman bisa setimpal dengan membuatku tertidur lelap untuk waktu yang  lama? Tunggu dulu, lagipula bagaimana caranya bisa mendapatkan kertas ini?! Ini bukan atribut sihir biasa  yang bisa didapatkan dengan mudah. Sial, pasti aku melewatkan banyak hal ketika melihat ingatannya dulu… 

Kakek Eon sadar ia harus bergerak cepat. Apabila Gi benar-benar ingin melakukan sesuatu terhadap  anak-anak itu, dia pasti berada dalam istana kota sekarang. Tapi, itu semua tidak lebih dari sekadar perkiraan.  Kakek Eon harus benar-benar mencari lokasi pastinya, dan tentu saja tidak ada waktu untuk mencarinya dengan berkeliling untuk sekarang. Ia terpaksa harus memakai sihir skala besarnya kali ini. Ia menggunakan  sihir pendeteksi dengan radius satu kota penuh. Sihir berkala besar memakan banyak sekali stamina dan energi  sihir miliknya, jadi Kakek Eon biasanya jarang menggunakannya. Namun, sekarang bukanlah saatnya untuk  ragu.  

Konsentrasi penuh. Kakek Eon mulai melancarkan sihir deteksinya. Kepalanya akan cepat pusing  dengan segala informasi yang ia peroleh dalam waktu singkat, jadi ia benar-benar harus mencarinya dengan  cepat. Setelah beberapa detik, Kakek Eon akhirnya menemukannya. 

Dugaanku benar. Dia sekarang berada di istana kota. Di bawah tanah. 

Sihir deteksi Kakek Eon hanya bisa mendeteksi hawa keberadaan benda dan makhluk hidup. Ia tidak  tahu apa yang sedang terjadi dengan Gi sekarang. Namun, ruang bawah istana kota bukanlah tempat yang  normal untuk sekadar jalan-jalan di malam hari.  

Kakek Eon langsung bersiap untuk merapal sihir teleportasinya. Namun seketika itu juga, ia baru  teringat akan sesuatu. Ia tidak bisa berteleportasi ke suatu tempat apabila ia belum pernah ke sana atau tidak  melihatnya secara langsung. Ia baru datang di kota ini, dan belum berkeliling ke banyak tempat. Ia menyumpahi  dirinya sendiri. Ia jadinya harus berteleportasi secara bertahap hingga mencapai istana kota. Ini tentunya sangat  menghambat pergerakannya. 

Kakek Eon butuh sekitar sepuluh menit untuk berteleportasi bertahap menuju istana kota. Sihir skala  besar dan teleportasi beruntunnya sampai ke istana benar-benar menguras energi sihirnya dengan drastis. Di  atas semua itu, ia juga harus menghilangkan hawa keberadaan dan penampilannya dengan sempurna setiap  waktu—karena penyihir dalam istana dan di jalanan kemungkinan masih bisa mendeteksinya apabila ia lengah. 

Penjagaan di istana sepertinya sedang diketatkan, ia merasa bahwa jumlah penjaga yang berpatroli tidak  sebanyak ini. Ia mulai kehabisan napasnya dan berkeringat deras. 

Duar!  

Kakek Eon tiba-tiba mendengar suara ledakan. Suara itu terdengar dari lantai. Para penjaga mulai  curiga, dan mulai bergerak untuk mencari sumber suara.

Kakek Eon juga langsung sigap bergerak. Dengan sunyi, ia bergerak mendekat kepada setiap penjaga  yang ia temui dan langsung menyerang tengkuk mereka, membuat mereka pingsan seketika. Kakek Eon juga  berusaha bergerak dengan cepat dengan berusaha mencari sumber suara barusan dan sebisa mungkin untuk  tidak membuat suara. 

Duar! Duar! Duar!  

Kali ini, ia mendengar suara ledakan beruntun. Dinding-dinding istana mulai bergetar. Kakek Eon  memepercepat langkahnya. Pasti sesuatu yang gila sedang terjadi di bawah! 

Kakek Eon pun akhirnya menemukan tangga menuju bagian bawah tanah istana. Ia mendengar dua  ledakan lagi dalam perjalanan menuju ke bawah. Ia kembali mempercepat langkahnya saat menuruni tangga.  

Dengan kepayahan, akhirnya ia sampai di ruang bawah tanah istana kota. Ruang bawah tanah istana  biasanya berisikan penjara-penjara kriminal bangsawan. Kakek Eon sudah sangat sering melihat pemandangan  seperti ini. Namun, pemandangan kali ini terlihat berbeda.  

Penjara bawah tanah istana sekarang tampak seperti habis dilanda bencana. Semua jeruji besi pada sel hancur berkeping-keping. Lantai penjara dipenuhi dengan reruntuhan dan puing-puing dari dinding penjara  yang hancur. Bau darah, debu, dan asap memenuhi ruangan. Beberapa titik api kecil masih menyala di beberapa  sudut ruangan. 

Kakek Eon akhirnya bisa melepaskan sihir penghilang tubuhnya. Ia memakai sihir api miliknya untuk  penerangan. Begitu dapat melihat keseluruhan ruangan secara jelas, Kakek Eon kehabisan kata-kata.  

Gi sedang terduduk di pojokan salah satu sel di ujung penjara. Kakek Eon hanya bisa merasakan hawa  kehidupan Gi yang sudah sangat lemah sekarang. Di sekeliling Gi terdapat banyak jasad anak-anak yang  terbakar habis. Ada juga jasad seorang penyihir di dekatnya bersamaan dengan jasad seorang penjaga istana  yang kehilangan kepala di dekatnya. Di beberapa sel, terdapat jasad orang dewasa yang juga terbakar dengan  parah. 

Kakek Eon mulai memeriksa kondisi Gi dari dekat. Sebagian besar bagian tubuh atas Gi terkena luka  bakar yang mematikan, dan terdapat juga beberapa luka tusukan besar di badannya yang darahnya masih  sedikit menetes. Kakek Eon juga baru menyadari kalau darah sampai menggenang di lantai sel.  

Pertama, Kakek Eon menggunakan sihir pembaca pikirannya pada Gi untuk memastikan apa yang  sebenarnya terjadi di penjara bawah istana ini. Ia memegang dahi Gi dan mulai merapal. 

… 

Dari yang ia lihat, sepertinya Gi membeberkan identitas aslinya sebagai model terkenal agar dapat  masuk ke dalam istana. Ia masih mempermasalahkan soal anak-anak yang tadi. 

Gi dan petinggi kota sempat terlibat dalam perdebatan hebat. Dari Gi maupun pemerintah kota,  keduanya tidak ada yang mau saling mendengarkan dan mengalah. Setelah mendengar bahwa anak-anak itu  sekarang berada dalam penjara bawah tanah istana, Gi kehilangan kesabaran dan berteriak penuh amarah di 

dalam istana. Di saat itulah, para penyihir dan penjaga istana sepertinya memutuskan untuk mengurungnya di  penjara bersama dengan anak-anak itu. 

Gi berjalan bersama seorang penjaga istana bertombak dan penyihir menuju penjara bawah tanah.  Anak-anak itu dikurung di sel yang berbeda-beda, beberapa dari mereka bahkan dikurung bersama dengan  narapidana yang menempati sel itu sebelumnya. Mereka semua terkejut dengan kedatangan Gi, namun  tentunya tidak dapat berbuat apa-apa soal itu. Gi dikurung dalam sel yang kosong di pojokan penjara. 

Setelah penjaga dan penyihir itu pergi, Gi langsung melancarkan aksinya. Ia berhasil menyelundupkan  banyak kertas sihir ledak tingkat tinggi ke dalam istana di dalam pakaiannya—sepertinya ia selalu menyimpan  itu dalam pakaiannya untuk saat-saat seperti ini. Bahkan jeruji penjara istana bukan tandingan sebuah kertas  sihir tingkat tinggi yang ia miliki. Gi menempelkan selembar kertas peledak itu di jeruji selnya, lantas merapal  sebuah mantra. 

Duar! Kertas sihir itu meledakkan jeruji sel dengan hebat. Suara ledakannya memekikkan telinga.  Sangat berisiko, namun rencana Gi berhasil. Ia berhasil keluar dari selnya hanya dengan luka-luka kecil. 

Gi tentunya menyadari kalau suara ledakan barusan akan memancing perhatian istana dengan segera.  Ia pun langsung bergerak cepat, menempelkan kertas sihir miliknya ke semua jeruji yang berisikan anak-anak  itu. Ia berteriak, menyuruh mereka untuk menjauh dari jeruji untuk sesaat. Ia pun merapalkan mantra seperti  sebelumnya, dan semua kertas itu meledak secara bersamaan. Ledakan beruntun yang terjadi sangat hebat,  hingga membuat seisi penjara seperti dilanda gempa. Semua jeruji berhasil diledakkan dengan telak.  Narapidana maupun anak-anak jalanan langsung berhamburan keluar dengan luka-luka. Namun, semua tidak  berjalan semulus itu. 

Hanya beberapa detik setelah Gi meledakkan semua jeruji, penjaga dan penyihir yang barusan  mengantar Gi sudah kembali. Murka, penyihir itu langsung melancarkan sihir api dalam skala yang cukup besar.  Narapidana lama yang hendak kabur menjadi target pelampiasan amarah sang penyihir. Tak ada yang selamat  dari mereka setelah serangan itu. Anak-anak semakin ketakutan setelah melihat pemandangan itu, mereka  semua beringsut mundur dan mengambil perlindungan di belakang Gi.  

Gi dan anak-anak itu terus mundur, hingga mereka menyentuh dinding. Mereka tidak bisa mundur  lagi, sementara penyihir dan penjaga yang marah terus bergerak mendekati mereka.  

Pada awalnya, nyali Gi sempat menciut ketika ia melihat serangan api dahsyat itu. Ia hendak  mengambil selangkah maju, namun… 

Salah seorang anak tiba-tiba berteriak kencang, dan merangsek maju dengan cepat. Lalu, satu-persatu  anak-anak yang lain juga mengikutinya.  

“Demi Kak Gi!” 

“Maju!! Jangan takut!” 

“Aaaaahh! Semuanya, maju!” 

Di luar perkiraan Gi, anak-anak jalanan itu justru berubah berani, bergerak kompak untuk maju dan  membelanya. Gi tahu betul apa yang akan terjadi setelahnya, tapi ia sudah sangat terlambat untuk mencegahnya.

Dalam sekejap, penyihir itu mengeluarkan sihir apinya, kini bahkan lebih besar dari yang tadi. Api itu  langsung melahap habis gerombolan anak-anak itu. Tak lebih dari sepuluh detik, hanya jasad hitam dan abu  yang tersisa dari luapan api itu. 

Melihat pemandangan itu, Gi langsung kehilangan kendali. Ia berteriak parau penuh keputusasaan,  dan langsung merangsek maju. Penyihir itu kembali melancarkan sihir api miliknya, dan menghantam telak Gi.  Namun, Gi tidak berhenti sampai di situ. Ia terus maju dan melawan api itu, mengabaikan tubuhnya yang  terbakar dengan cepat. Sampai akhirnya, ia berhasil menerobos sampai berhadapan langsung dengan penyihir  itu. Penyihir itu sepertinya sama sekali tidak menyangka soal ini. Dalam sekelebat, ia mengeluarkan kertas sihir  ledak dari pakaiannya dan langsung menempelkannya ke tubuh penyihir itu. Ia merapal mantra dengan cepat,  dan langsung mundur dengan cepat setelahnya.  

Duar! Ledakan itu telak. Penyihir itu tumbang seketika. 

Masih ada satu penjaga lagi yang harus diurusi. Gi kembali merangsek maju untuk menyerang, namun  penjaga itu sepertinya sudah mengetahui taktik sederhana Gi. Ia lebih terbiasa dalam pertarungan jarak dekat.  Ia menusukkan tombak miliknya bertubi-tubi ke tubuh Gi. Setelah Gi merasa bahwa ia sama sekali tidak bisa  mendekati penjaga itu, ia pun mencoba sesuatu yang lain. 

Ia mengambil seluruh kertas sihir yang masih tersisa. Kebanyakan sudah bolong dan basah oleh darah,  dan hanya menyisakan selembar yang kondisinya masih cukup baik. Gi meremas kertas itu, dan melemparkan  gumpalan kertas itu ke arah penjaga itu. Di saat yang bersamaan, ia merapalkan mantranya dengan cepat.  Walhasil, lemparan itu berhasil meledak tepat di depan wajah penjaga itu. Penjaga itu pun tewas seketika. 

Setelahnya, ia langsung melepaskan tombak itu dari tubuhnya, dan menyeret tubuhnya menuju jasad  anak-anak yang terbakar habis. Sekarang, sudah tidak ada yang bisa ia lakukan. Seluruh amunisi kertas sihirnya  sudah habis dan rusak. Ia sedang sekarat, hanya tinggal menunggu saja. 

Baru beberapa saat kemudian, ia mendengar lamat-lamat suara langkah kaki mendekat untuk  memasuki penjara bawah tanah. 

… 

Kakek Eon sudah paham sepenuhnya akan situasinya sekarang. Ia sekarang hendak menggunakan sihir penyembuhnya. Namun, setelah beberapa detik mencobanya, ia sadar bahwa ia sudah sangat terlambat  untuk melakukannya. Dalam kondisi primanya, ia bisa menyembuhkan luka fatal yang sudah sangat parah  dengan segenap kekuatannya. Namun, dengan energi sihirnya yang sudah sangat terkuras seperti sekarang, itu  mustahil dilakukan. Ia bisa merasakan Gi masih bernapas perlahan dengan denyut nadi yang sangat lemah. Ia  tak punya pilihan lain. 

Ini adalah saat-saat terakhir Gi. 

“Uhuk, uhuk…”

Gi terbatuk lemah. Kakek Eon memegang tangan Gi dan merapalkan sihir teleportasi. Saat menyusup  ke dalam istana tadi, sepertinya ia sempat menemukan sebuah tempat kosong yang tidak dilewati sama sekali  oleh penjaga yang berpatrol. Untuk sekarang, hanya sebatas ini yang bisa ia lakukan.  

Bruk. Pendaratan mereka tidak terlalu mulus dan sepertinya membangunkan Gi. 

“Tuan…?” Gi membuka matanya perlahan, menatap lurus wajah Kakek Eon di hadapannya sekarang.  

“Jangan banyak bergerak.” Kakek Eon berusaha selembut mungkin untuk membaringkan tubuh Gi. Gi bahkan tidak berteriak kesakitan apapun, wajahnya terlihat tenang. Sepertinya ia sudah tidak bisa merasakan  bagian tubuhnya yang terbakar parah sama sekali. 

“Ini… di mana… Kenapa… Anda ada di sini… uhuk!” 

Kakek Eon mengeluarkan sihir penyembuhnya yang lemah di daerah dada Gi. “Maafkan aku.  Sepertinya aku tidak bisa berbuat banyak.” 

“Bukankah sekarang Anda seharusnya sedang tidur…” 

“Apa yang kau bicarakan? Selembar kertas seperti itu takkan bisa menghambatku semudah yang kau  pikirkan, tahu.” 

“Padahal, saya sudah meminta agar kertas itu untuk menidurkan Anda hingga fajar… tapi sepertinya  saya gagal, ya.” Gi mengulas senyuman tipis di wajahnya. 

“Ya ampun. Kau ini memang gegabah. Sangat gegabah.” 

“Sepertinya, saya takkan bisa bertahan lebih lama lagi, ya.” 

“… Kupikir begitu.” Kakek Eon mengatakannya dengan nada berat. 

Gi terbatuk dengan cukup keras, mengeluarkan banyak darah. Kakek Eon membagi sihir  penyembuhannya. Tangan kirinya menyembuhkan daerah dada, sementara tangan kanannya di daerah leher Gi. Ia juga meningkatkan intensitas penyembuhan, meskipun energi sihir yang ia miliki tinggal sangat sedikit. 

“Tuan… kenapa…” 

“Hanya ini yang bisa kulakukan. Kalau kau punya kata-kata terakhir, katakan saja. Aku akan  mendengarkannya dengan baik.” 

“Ya ampun, bahkan di saat seperti ini…” 

Hening sejenak. Kakek Eon masih harus berfokus untuk mempertahankan sihir yang ia gunakan. Ia  tak bisa berbuat banyak di saat seperti ini. 

“Perkataan terakhir, ya. Apakah saya boleh mengatakan apapun?” 

“Silakan saja.” 

Gi menutup matanya perlahan. “Apa ya, yang harus saya katakan… Kurasa saya hanya ingin membuat  pengakuan.” 

Kakek Eon mendengarkan dengan takzim.

“Sebenarnya, saya bukanlah seseorang yang baik. Saya sama sekali bukan seperti yang Anda lihat dari  luar. Saya sebenarnya tidak terlalu suka dalam bermain dengan anak-anak seperti mereka. Saya selama ini  melakukannya demi membuat diri saya terlihat baik di mata orang lain. Terutama Anda, Tuan… orang yang  selama ini saya cari dan saya cintai.” 

Fokus Kakek Eon menjadi terganggu. “Kau sedang berbohong. Aku tidak memercayai itu.” 

“Tidak… saya tidak berbohong. Niatan saya selalu seperti itu sejak pertama kali melakukannya dulu.  Sampai sekarang pun tidak berubah. Namun, hanya saja…” 

“Hanya saja?” 

“Saat melihat mereka semua mati begitu saja di hadapan saya… saya tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri. Saya merasa bahwa saya adalah orang paling payah sedunia karena tidak bisa mencegah itu terjadi. Beritahu aku, Tuan. Apakah saya salah dengan berpikir seperti itu?” 

Kakek Eon berpikir sejenak. “… Saya tidak berpikir kalau itu salah.” 

“Kenapa…?” 

“Pada akhirnya, kau tetap peduli dengan anak-anak itu, bukan? Tak peduli niatan awalmu seperti apa. Kau bahkan rela sampai berbuat sejauh ini. Tidak salah lagi, kau pasti melakukannya untuk mereka. Meskipun  kau tidak menyadarinya, namun kau sudah banyak berubah dari tujuan awalmu yang seperti itu.” 

“Bagaimana… Anda bisa tahu sampai sejauh itu?” 

Kakek Eon tersenyum tipis. Ia sudah berurusan dengan berbagai macam orang untuk tahu seperti apa  orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, ataupun orang-orang yang licik. 

“Siapa saja bisa melihatnya. Saat bersama anak-anak… kau terlihat begitu senang. Kau selalu  tersenyum lebar. Kau tampak begitu bahagia, menikmati setiap detiknya. Semua yang kau tunjukkan ketika  bersama dengan anak-anak itu… sama sekali tidak terasa palsu. Semuanya terasa tulus, penuh kasih sayang.” 

“Apakah… saya memang terlihat seperti itu di mata Anda, Tuan?” 

Kakek Eon tertawa lirih. “Tidak hanya saya sendiri. Saya yakin, semua orang yang melihatmu juga  akan berpikir demikian.” 

“Tapi, sepertinya tadi saya berubah menjadi orang kesetanan di dalam, sih… apakah Anda  melihatnya? Saya tidak terlalu ingat banyak hal saat itu terjadi…” 

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kau sendiri sudah melakukan yang terbaik dalam situasi yang  sedang kau hadapi, dan saya sangat menghargai akan hal itu. Berbahagialah dengan apa yang sudah kau capai.” Kakek Eon memilih untuk tidak mengungkit soal fakta bahwa Gi barusan sudah membunuh dua orang dengan  tangannya sendiri. Sepertinya Gi tidak mengingat apapun saat ia mengamuk tadi. Terkadang, sesuatu memang  lebih baik untuk tetap menjadi rahasia hingga akhir. 

Gi memasang senyum lemas. Ia memejamkan kedua matanya untuk sejenak. “Kalau begitu,  syukurlah… uhuk!”

Gi kembali batuk berdarah dengan kencang. Kakek Eon berusaha untuk tetap fokus dan menambah  intensitas sihir penyembuhannya, tapi ia sudah tidak bisa melakukannya lagi. Energi sihir dan tenaganya sudah  mulai habis. 

“Selama ini, saya… hanya tak ingin mengecewakan Anda dan Kakak. Saya sudah berusaha keras untuk  mendapatkan pekerjaan, agar dapat mandiri menghidupi diri sendiri. Saya juga sudah mencoba untuk terlihat  baik saat bermain dengan anak-anak jalanan. Saya selalu mencari Anda di waktu luang yang saya miliki. Semua  itu dengan harapan… agar saya dapat menjadi orang yang pantas apabila saya bertemu dengan Anda suatu saat  nantinya. Dan lihatlah, sekarang Anda berada tepat di hadapan saya. Pada akhirnya, saya sama sekali masih  belum pantas…” 

“Siapa yang bilang begitu?” 

Seketika, raut wajah Gi berubah. Ia menatap Kakek Eon, tampak kebingungan. 

“Kau sudah pantas, kok. Saya mengakuimu sekarang. Saya sudah cukup mengamatimu selama ini.  Meskipun tidak mulus, namun kau sudah melakukan yang terbaik hingga sekarang.” 

“Apakah itu berarti… lamaran saya…” 

Kakek Eon hanya mengangguk seraya memasang senyum lembut di wajahnya. Ia mengelus ubun ubun Gi dengan lembut. “Kau lulus.” 

Setelah itu, terdapat setetes air mata terjatuh dari kelopak mata Gi. Ia juga tersenyum tipis sambil  menatap langit malam yang berbintang. “Kakak… akhirnya… aku berhasil melakukannya…” 

Kakek Eon tiba-tiba teringat sesuatu. Ia akhirnya menghentikan sihir penyembuhan yang ia lakukan.  “Sebenarnya, saya juga punya pengakuan.” 

Sekarang, ia menempelkan dahinya dengan dahi Gi. Ia mengerahkan semua energi sihirnya yang masih  tersisa, menggunakannya untuk membagi ingatan yang ia miliki saat ia bertemu dengan Gi dan kakaknya saat  mereka masih kecil dulu. Hanya memori yang singkat, namun Kakek Eon merasa bahwa ia harus melakukannya. Setelah melakukannya, ia sudah benar-benar kehabisan tenaga dan energi sihirnya. Sihir yang ia gunakan untuk  menyamar menjadi pria dewasa selama ini juga mulai menghilang. Sekarang ia kembali ke wujud aslinya,  seorang kakek tua yang kurus dan penuh keriput. 

“Ingatan ini… begitu, ya. Seperti yang saya duga. Saya pernah bertemu dengan Anda sebelumnya.  Bersama dengan Kakak juga.Dan ternyata Anda selama ini menyamar, yah… saya tak pernah bisa menebaknya.  Uhuk, uhuk!” 

Kondisi Gi menjadi semakin parah dengan cepat tanpa sihir penyembuhan Kakek Eon. Kini, waktunya  benar-benar sudah tidak lama lagi.  

“Tapi, perasaan saya takkan berubah, kok. Tuan memang selalu menjadi orang yang baik hati dari dulu  sampai sekarang. Perasaan ini akan saya bawa sampai mati. Yah, tapi tetap saja, waktu saya memang sudah  tidak banyak lagi, ya? Uhuk-uhuk.” Gi memasang senyuman polos, sedikit bercanda. 

“Kau, bahkan di saat seperti ini… masih saja…” Kakek Eon mulai menitikkan air mata.

“Sebenarnya, saya masih menyesal karena tidak bisa menyelamatkan anak-anak itu, tapi apa boleh buat  sekarang. Aku… hanya bisa berharap… mereka semua… baik-baik saja… di alam sana.” Napas Gi semakin  lemah, tempo perkataannya juga melambat. 

“Keberadaan Anda… dan Kakak… adalah sesuatu… yang tak tergantikan… dalam kehidupan saya.  Saya benar-benar… merasa bersyukur… untuk bisa… bertemu dengan Anda… sebelum saya mati. Saya…  benar-benar… bahagia.” 

Kakek Eon hanya bisa terdiam di tempatnya sembari terisak lirih. Rasanya benar-benar menyakitkan  untuk mendengar perkataan Gi yang terputus-putus seperti ini. 

“Tuan… Terima kasih… untuk segalanya. Dan…” 

Gi berhenti sejenak, mengambil napas yang sangat panjang. 

“Saya mencintai Anda… Tuan Eon.” 

Senyap. Yang tersisa hanyalah isakan lirih Kakek Eon. Barusan itu adalah napas terakhir Gi. Kakek Eon  berusaha menghentikan isakannya, ia menutup kedua kelopak mata Gi yang masih sedikit membuka. Ia  meninggal dalam keadaan tersenyum, wajahnya tampak begitu damai.  

“Aku… juga mencintaimu, Gi.” 

Kakek Eon berusaha tersenyum, walaupun suasana hatinya sekarang sedang begitu getir. Ia  membopong tubuh Gi yang mulai dingin, meninggalkan lingkungan istana dalam senyap. 

Ah, benar. Ini adalah kedua kalinya aku menangis seumur hidupku. Yang pertama kali, saat itu aku  juga sedang bersama denganmu. Bukankah begitu, Gi? 

Kakek Eon membawa jasad Gi ke hutan perkotaan yang terisolasi dari orang-orang. Pagi harinya,  Kakek Eon sudah mengisi kembali sejumlah energi sihir miliknya. Ia menggunakannya untuk mencari kuburan  kakak Gi—ia berniat memakamkan Gi di sebelah kakaknya apabila bisa. Namun, setelah dua hari penuh  mencari dengan berteleportasi yang tak terhitung jumlahnya, kondisi jasad Gi mulai memburuk. Kakek Eon  memutuskan untuk menyerah mencari. Ia memutuskan untuk memakamkannya di kota terakhir mereka  bertemu.  

Maaf, Gi. Aku tidak bisa menemukan kuburan kakakmu. Tapi tenang saja, aku takkan melupakan  kalian berdua seumur hidupku. Kakek Eon berkata dalam hatinya setelah selesai mengubur jasad Gi. Ia  berencana untuk berkunjung setiap bulannya. 

Kakek Eon mulai merenungi soal kehidupan keduanya ini seiring ia melanjutkan pengembaraannya.  Ia sudah berkeliling dunia—mengunjungi berbagai macam tempat, dan bertemu dengan berbagai macam  orang. Sudah tak terhitung berapa banyak permasalahan yang dia selesaikan, dan kebahagiaan yang sudah dia  berikan kepada orang-orang. Namun, pertemuannya dengan Gi adalah sesuatu yang sangat spesial.  Mengajarkannya perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. 

Perasaan bahagia. Khawatir. Cinta. Frustrasi. Keputusasaan. Kesedihan mendalam setelah  ditinggalkan oleh seseorang yang berharga. Gi adalah orang pertama yang mengajarinya semua itu. Ia takkan 

pernah melupakannya seumur hidupnya. Terkadang, apabila ia memikirkan sosok Gi, dadanya merasa sesak.  Rasanya menusuk dalam, membuatnya merana.  

Jadi, seperti ini rasanya orang-orang saat kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Dulu, aku tak  pernah memikirkan soal ini. Ternyata rasanya bisa sesakit ini.  

Tak terhitung sudah berapa banyak orang yang kubuat untuk merasakan hal memilukan seperti ini di  masa lalu. Ya ampun, memangnya aku diperbolehkan untuk merasa sedih soal ini? 

Benar. Saat ini, hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Melanjutkan misiku sebagai Pemelihara, dan  melanjutkan hidup. Kali ini, akan kulakukan untuk Gi juga. 

Akhirnya, Kakek Eon mulai kembali fokus kepada misinya. Mencari tahu masalah apa yang  sebenarnya terjadi pada kota tersebut, dan menyelesaikannya. Setelah pencarian dan penyelidikan yang ia  lakukan dengan teliti, rupanya kota itu biasanya akan menunggu hingga anak-anak yatim-piatu dan anak  jalanan di sana menginjak usia dewasa, lalu menculiknya dan menjadikannya budak ataupun dijual ke tempat  lain. Sungguh masalah yang rumit. Namun, sekarang tanpa interferensi apapun yang mengganggu, Kakek Eon  pada akhirnya tetap berhasil mengatasinya dengan sihir dan kecerdasannya, dan sekarang kota tersebut sudah  mempunyai panti asuhan, sebagaimana mestinya dimiliki oleh setiap kota untuk menampung anak-anak yang  kurang beruntung. 

Kakek Eon juga mulai menambahkan beberapa catatan dalam pengembaraannya. Pertama, ia harus  benar-benar teliti dan waspada dalam bertindak. Ia sekarang paham betul dengan batasan kemampuan sihirnya.  Terutama soal ia bisa mengubah pikiran seseorang, namun tidak bisa mengubah hati mereka. Ia harus  memastikan dengan betul bahwa hasil pekerjaannya tidak diketahui siapapun—itu artinya ia harus benar-benar  membatasi penggunaan sihirnya yang berisiko terlihat orang lain dengan mudah, dan memastikan untuk tidak  terlalu berhubungan dekat dengan siapapun agar sosoknya tidak membekas di hati mereka di luar  sepengetahuannya, seperti yang terjadi pada Gi. Itulah yang terpenting.  

Dan dengan begitu, tahun-tahun berlalu dengan cepat. Melewati berbagai zaman dan peradaban yang  semakin berkembang dan berubah.  

Seperti yang sudah ia ikrarkan kepada dirinya sendiri. Menjalani kehidupan. 

… 

Dan begitulah masa lalu dan kisah cinta seorang tiran terkejam yang pernah hidup di dunia ini. Aku  tidak bisa menahan deraian air mataku di akhir kisah cinta dari Kakek Eon tersebut. Aku tak pernah mengira  kalau Kakek Eon memiliki kehidupan yang seperti itu di masa lalu. Padahal, itu hanya salah satu dari sekian  banyak kisah hidup panjang Kakek Eon yang terekam dalam ingatan ini. 

Lalu, bukan hanya itu saja alasanku tidak bisa menutup mataku rapat-rapat untuk tidur sekarang. Ini  juga karena sesuatu hal yang dikatakan Sang Pencipta kepadaku saat itu.

Eon telah melakukannya dengan baik sampai sekarang, bahkan jauh melampaui ekspektasiku. Aku  berubah pikiran tentangnya. Oleh karena itu, dalam waktu tujuh hari, Eon akan menyelesaikan perjalanan  panjangnya. 

Sekarang, apakah kau bersedia untuk menjadi penerusnya? 

Menjadi seorang Pemelihara.  

Begitulah yang disampaikan kepadaku. Itu berarti, Kakek Eon akan segera pergi dari dunia ini. Aku  tidak tahu harus merasa bagaimana soal ini. Kurasa, Kakek Eon sudah menjadi sosok yang tak tergantikan  dalam hidupku. Aku tidak ingin dia pergi… 

Sepertinya percuma saja aku mencoba untuk tidur malam ini. Aku memutuskan untuk bangun dari  tempat tidurku, hendak mencari Kakek Eon. Dilihat dari suasana hati Kakek Eon sejak pulang dari Alam  Permulaan tadi, sepertinya aku tahu di mana dia sekarang.  

Setelah lima belas menit berkendara dari penginapan, aku akhirnya sampai di menara jam kota.  Aku turun dari tumpangan kuda yang kupesan. Mengucapkan satu-dua patah kata terima kasih kepada si  kusir. Kemudian aku mendongak ke atas.  

Sudah kuduga.  

Aku menaiki menara jam itu hingga ke pucuknya. Sepertinya menara jam ini setinggi bangunan  sepuluh lantai, membuatku kehabisan napas ketika menaikinya.  

“Apa yang kau lakukan di sini, Nak?” 

“Uh… selamat malam, Kek.” 

Kakek Eon sedang duduk di balkon yang menghadap langsung ke kota. Aku ikut duduk di  sebelahnya. Dari ingatan yang kuperoleh, Kakek Eon sepertinya suka menghabiskan malamnya dengan  menatapi suasana malam dari ketinggian apabila suasana hatinya sedang tidak enak. Aku melangkah  mendekat, dan duduk di sebelah Kakek Eon.  

“Dari mana kau tahu aku berada di sini?” 

“S-soal itu…” 

“Sudahlah, aku sudah tahu. Ini pasti ulah dari Sang Pencipta, bukan?” 

Aku menelan ludah. Aku tidak punya kata-kata apapun untuk menyanggahnya.  

“Tak perlu takut seperti itu, hei. Santai saja. Kita berdua sekarang sedang menikmati pemandangan  kota dari atas sini, bukan? Tak pernah membuatku bosan.” 

Aku setuju kalau pemandangannya bagus. Hanya saja… 

“Kurasa, aku tak perlu menyembunyikan apapun lagi darimu, ya, Nak.” 

TUNG! TUNG! TUNG! 

Aku refleks menutup telingaku dan bergerak mundur. Menara jam sedang berdetak keras tepat di  belakangku, menandakan tengah malam. Kakek Eon tidak bergerak sesenti pun dari tempatnya duduk, sepertinya ia tak terpengaruh sama sekali oleh suara keras itu. 

“Mulai dari sekarang, tujuh hari lagi, aku akan menyelesaikan perjalananku dan menghilang dari  dunia ini. Lalu, kau mendapat penawaran untuk menjadi Pemelihara untuk menggantikanku. Begitu,  bukan?” 

“I-iya…” 

“Apakah kau akan rindu denganku setelah aku pergi?” 

“Tentu… Tentu saja! Sangat!” 

Kakek Eon tertawa ringan. “Bagaimana, melihatku di masa lalu dari sudut pandangku sendiri? Kau  merasakan rasa sakit di dada yang kurasakan?” 

“Tidak… kurasa tidak begitu. Aku tidak merasakannya…” 

“Begitu, ya. Apakah mengasyikkan? Seberapa banyak yang sudah kau lihat?” 

“T-tidak terlalu banyak. Sampai sekarang, baru ingatan dengan wanita model itu…” 

“Ah, maksudmu Gi? Ya ampun, sudah berapa ratus tahun yang lalu, ya? Sudah lama sekali aku  tidak berkunjung ke kuburannya. Yah, mau bagaimana lagi, kuburannya dulu digunakan sebagai lahan  pembangunan. Apa boleh buat.” Kakek Eon tertawa lepas setelahnya. 

“… Tidak, bukan begitu. Aku bukan bermaksud untuk menertawakan itu. Hanya saja… untuk  seseorang yang sudah hidup lama sepertiku, perspektifku terhadap waktu mulai berubah. Hal yang terjadi  ratusan tahun lahu, terkadang rasanya seperti baru kemarin terjadi.  

“Gi adalah… sosok yang sangat berharga bagiku. Meskipun aku tak bisa berkunjung ke kuburannya  lagi, dia takkan pernah kulupakan dari ingatanku. Kau sudah melihat apa yang dia lakukan di ruang bawah  tanah istana? Dia sangat hebat, bukan?” 

Aku mengangguk-angguk. Gi memang sosok yang luar biasa.  

“Dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Yah, walaupun begitu, bukan berarti kita berdua bisa  bersama. Bahkan dari awal, sebenarnya aku sudah tidak pantas untuk jatuh cinta dengan siapapun. Aku juga  sadar diri dengan siapa diriku di masa lalu. Aku sebenarnya sudah sangat kelewatan dengan jatuh cinta  seperti itu, kau tahu?” 

“T-tapi, tetap saja… Anda—” 

“‘Anda sudah berbuat kebaikan selama ratusan tahun juga’, begitu yang ingin kau katakan?” Aku terdiam. Mudah sekali terbaca, rupanya. 

“Kau salah paham. ‘Berbuat baik selama ratusan tahun’ mungkin terdengar seperti sesuatu yang hebat.  Tapi, sebenarnya itu sama sekali tidak. Justru sebaliknya, aku sama sekali tidak merasa bahwa aku telah  menyelesaikan apapun dalam kehidupan keduaku ini.”

Aku hendak mengatakan sesuatu, tapi langsung mengurungkannya. Dunia ini sudah menjadi jauh  lebih baik sekarang, kan? Tidak ada lagi perang, tak banyak konflik, dan kedamaian di mana-mana. Bukankah  itu karena kerja keras Kakek Eon juga? 

“Kau ingat, kalau aku diberi hukuman dengan rasa sakit di dalam dadaku ini? Sampai sekarang pun  aku masih merasakannya. Memang tidak separah dulu, namun ini sebenarnya masih terasa sakit. Masih banyak  orang-orang di dunia ini yang tidak bahagia dan berada dalam kesedihan. Saat kupikir aku sudah  membahagiakan seluruh orang di dunia ini, rasa sakit ini tetap ada dan tak pernah hilang sepenuhnya. Itu  artinya aku belum berhasil dalam misiku ini. 

“Lalu, apakah kau juga ingat? Saat hari pertama kita berdua bertemu. Itu bukanlah kebetulan. Lebih  tepatnya, itu seperti sebuah takdir.” 

“Takdir…?” 

“Beberapa hari sebelum bertemu denganmu, Sang Pencipta sudah memberitahuku soal hari akhirku  yang sudah dekat. Pada saat itu, aku merasa sangat bingung. Seperti yang kubilang, aku sama sekali belum  menyelesaikan tugasku sebagai seorang Pemelihara. Kukira aku akan hidup abadi—aku bahkan sudah siap  untuk itu. Namun, ternyata tidak demikian.  

“Sang Pencipta juga mengatakan bahwa aku akan bertemu dengan seorang pemuda, dan ia  menyuruhku untuk berteman dengannya selama satu tahun. Pada awalnya, kukira itu tidak mungkin—karena  pada dasarnya, aku memang tidak boleh berhubungan dekat dengan siapapun demi kelancaran misiku. Namun,  pada akhirnya aku tetap bertemu denganmu di bukit itu. Saat kupikir aku bisa meninggalkanmu dan  memanipulasi ingatanmu begitu saja, aku salah besar. Ini seperti, Sang Pencipta sengaja membuat pengecualian  hanya untukmu agar aku tak bisa menjauhimu. Begitu menyadari hal itu, aku pun menyerah dan mengajakmu  dalam perjalananku.” 

Aku merasa sedikit merinding. Aku adalah pengecualian? Ditakdirkan untuk bertemu dengan Kakek  Eon?  

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau itu ‘orang yang ditakdirkan’, lho.” Kakek Eon tertawa ringan,  menepuk punggungku perlahan. 

“Aku… masih tidak merasa bahwa aku adalah orang yang pantas sebagai orang yang ditakdirkan seperti itu,” kataku dengan nada pesimis. “Lagipula, aku bahkan masih belum terlalu mengerti apa itu artinya  menjadi seorang Pemelihara. Apakah menjadi seorang Pemelihara berarti… melakukan apa yang Kakek Eon  lakukan selama ini?” 

“Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin saja.” 

“K-kalau begitu, pasti banyak orang lain di luar sana yang jauh lebih cocok dariku untuk menjadi  Pemelihara… Kenapa harus aku—” 

“Sudah, sudah,” potong Kakek Eon cepat. “Sebaiknya jangan terlalu kau pikirkan soal Pemelihara itu.  Bahkan dari awal, seharusnya aku tetap tak boleh membiarkan orang lain yang mengambil tanggung jawab dari  misi yang diberikan kepadaku ini. Kau tidak perlu menanggung beban apapun dari masalah yang kubuat. Kau 

belum menemukan sesuatu yang ingin kau lakukan, bukan? Lebih baik pikirkan saja apa yang terbaik untuk  dirimu sendiri sekarang.”  

“Apa yang akan terjadi… bila aku tidak menjadi Pemelihara?” 

“Hm? Kupikir tidak akan terjadi apa-apa, kok. Ya ampun, kau ini khawatir sekali.” Kakek Eon kembali  tertawa kecil, lalu beranjak berdiri. 

“Dunia takkan berubah hanya karena seorang kakek tua sepertiku menghilang. Maksudku, lihatlah.  Aku mungkin seorang Pemelihara, namun kesedihan dan kesengsaraan takkan pernah menghilang sepenuhnya  dari dunia ini. Jadi, yah, apabila hari itu tiba… 

“Aku hanya akan menghilang dari dunia ini. Begitu saja.” Aku melirik ke arah Kakek Eon sejenak. Ia  tampak tersenyum lebar. Namun, aku merasakan ada sesuatu yang ganjil dari senyuman itu. 

Kakek Eon pun berbalik, mulai berjalan menuruni menara jam. 

“Kek…!” 

“Ah, aku hanya sedikit lapar. Kau mau ikut?” 

… 

Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa tidur di malam itu. Setelah pembicaraan itu dengan Kakek Eon,  semakin banyak hal yang sedang berkecamuk di kepalaku. 

Apakah aku memang orang yang pantas untuk menjadi seorang Pemelihara? Aku tak henti-hentinya  berkata seperti itu dalam hatiku.  

Masih ada masalah yang lain. Apa yang harus kulakukan dengan ingatan Kakek Eon yang berada di  dalam kepalaku sekarang ini? Apakah aku harus meminta… tidak, Kakek Eon sudah bilang bahwa dia tidak  bisa memanipulasi ingatan milikku bagaimanapun juga. Dia juga bilang, bahwa pengecualian yang terdapat  padaku pasti memiliki suatu campur tangan dari Sang Pencipta. 

Aku terus berpikir. Apa hubungan dari semua ini? Pertemuanku dengan Kakek Eon yang ditakdirkan.  Aku yang dijadikan sebuah pengecualian agar bisa bersama dengannya. Ingatan kehidupan Kakek Eon yang  diberikan kepadaku. Menawariku untuk menjadi Pemelihara. Setelah kupikir-pikir lagi, dari semua itu selalu  ada campur tangan dari Sang Pencipta. Tak salah lagi. 

Sang Pencipta secara tidak langsung sudah memilihku sebagai penerusnya sebagai Pemelihara. Tapi  tetap saja, pertanyaan itu masih belum bisa kutemukan jawabannya. Kenapa harus aku? Sang Pencipta pasti  punya suatu alasan untuk ini, yang belum aku ketahui.  

Di hari-hari terakhirnya, Kakek Eon memutuskan untuk tidak berpindah kota. Aku sekarang lebih  sering untuk menghabiskan waktu di dalam kamar, melamun. Selalu terngiang-ngiang soal tempo hari. Mau  bagaimanapun aku menimbang-nimbang soal tawaran itu, aku tidak pernah menemukan jawaban yang pasti 

untuk apa yang harus kulakukan. Terkadang, aku hanya bisa menghibur diri dengan melihat potongan potongan ingatan Kakek Eon sewaktu-waktu. Mencoba mencari jawaban atas kebimbanganku di sana. 

Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Sekarang sudah hari terakhir sebelum kepergian Kakek Eon. Aku  akhirnya benar-benar tanpa harapan, buntu. Aku akhirnya memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan di luar  penginapan, untuk menjernihkan kepalaku yang sekarang. 

Situasi tidak terlalu berbeda. Hanya keseharian yang normal. Orang-orang yang berlalu-lalang, hari  yang cerah dan sedikit berangin. Kakek Eon juga tidak melakukan banyak hal yang berbeda dari biasanya— berbagi kebahagiaan dan senyuman dengan orang lain yang ia temui di jalanan.  

Ini tidak membantu. Aku masih merasa jenuh dengan semua ini. Terutama ingatan milik Kakek Eon  di dalam kepalaku sekarang ini. Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa dengan ingatan ini. Mau berapa  kali aku mencoba untuk melihat potongan ingatan dari seribu tahun kehidupannya, aku tidak bisa menemukan  jawaban yang pasti dari kebimbanganku ini.  

Apakah aku bisa memanfaatkannya untuk meniru cara hidup Kakek Eon? Tidak, itu tidak mungkin.  Aku bukanlah penyihir hebat sepertinya. Aku bukanlah siapa-siapa, hanyalah seseorang kesepian yang  kebetulan bisa bertualang bersama dengan seorang yang hebat seperti Kakek Eon. Aku hanya bisa merasa  kosong setiap kali melihat Kakek Eon yang bisa melakukan banyak hal hebat dalam kehidupan keduanya itu.  Seperti… semua ingatan ini hanya ada untuk membebaniku.  

Pada akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa memikirkan ini sendiri. Aku butuh masukan orang  lain untuk masalah ini—selain Kakek Eon, tentunya. Tapi, kembali lagi—aku tidak tahu harus bertanya ke  siapa yang cocok untuk masalah ini. 

Aku melihat anak-anak kecil dengan pakaian kumuh yang berlarian di jalan. Membuatku berpikir di  dalam hati. Masih ada anak-anak seperti mereka di jalanan seperti ini, meskipun Kakek Eon sudah berusaha  keras selama ini. Kalau Kakek Eon saja tidak bisa melakukannya, lantas apa yang bisa kulakukan? 

Setelah berjalan sebentar, aku melirik ke salah satu lorong kecil yang gelap. Terdapat seorang anak— yang kuasumsikan yatim-piatu—sedang duduk di sana, tampak murung. Aku tidak tahu kenapa anak  sepertinya tidak dimasukkan ke dalam panti asuhan—namun bukan itu hal yang penting sekarang. Sesuatu  langsung tebersit dalam kepalaku. 

Apakah aku memang bisa melakukan yang seperti dilakukan Kakek Eon? Aku tidak bisa melakukan  hal-hal luar biasa dan besar yang seperti Kakek Eon lakukan dengan sihirnya. Aku tidak cukup pintar ataupun  memiliki kemampuan yang cukup untuk membantu orang lain menyelesaikan permasalahan mereka. Namun,  aku masih berandai-andai. Satu-satunya hal yang biasa dilakukan Kakek Eon, yang masih mungkin bisa kulakukan. 

Apakah aku bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang barusan kutemui begitu saja?  Aku pun melangkah mendekati anak kecil di lorong itu. Aku menyapanya dengan canggung. “H-halo.” 

Anak kecil itu menoleh dengan pelan kearahku. Ia tidak memberi jawaban apapun, hanya  memperlihatkan wajah kumal dan pucatnya. 

“A-anu…”

Sial. Bahkan sebelum memulai pembicaraan, aku sudah bingung mengatakan apa. Aku hanya spontan  menyapa anak kecil di hadapanku ini, berpikir bisa sedikit membuatnya lebih bahagia seperti yang biasa Kakek  Eon lakukan. Aku sama sekali tidak mempunyai rencana soal ini. 

Tapi, aku sudah telanjur memulainya, dan aku tidak bisa mundur dari posisiku yang sekarang. Aku  harus memikirkan sesuatu dengan cepat.  

Sekarang, hanya ingatan kehidupan Kakek Eon yang ada bersamaku. Mungkin saja, apabila aku…  

“B-begini… aku tidak punya uang atau makanan. Tapi… begini… Apakah kamu ingin mendengarkan  sebuah cerita? Eng…” 

Aku masih patah-patah dalam perkataanku. Anak kecil itu juga tampaknya tak tertarik. Situasinya  semakin canggung. Tapi kembali lagi, aku tidak bisa mundur sekarang. 

“Judulnya… Sang Penyihir yang terbang tinggi di Gunung Es.”  

Aku sendiri langsung merasakan penyesalan dalam hatiku begitu mengatakannya. Itu hanyalah judul  yang kubuat seadanya berdasarkan salah satu potongan ingatan Kakek Eon yang sudah aku lihat sejauh ini.  

Anak kecil itu menoleh ke arahku, membulatkan kedua matanya. “Penyihir…?” 

“Eh? Iya, penyihir…” 

“Kakak… Kakak tahu soal penyihir…?” 

“Anu… sepertinya begitu…” 

“Kakak mau bercerita? Kakak mau bercerita soal penyihir?” Anak kecil itu beranjak berdiri, mendekat  kepadaku. Matanya semakin berbinar-binar. Kembali lagi, aku hanya bisa mengiyakannya dengan canggung. 

“Terima kasih… Kakak! Sebentar, aku akan panggilkan yang lain…”  

Anak kecil itu mulai berlari-lari kecil, menghilang di ujung lorong. Dia akan memanggil teman temannya yang lain?  

Aku menggaruk-garuk kepalaku dengan keras. Ya ampun, apa yang baru saja kulakukan?!  Apakah aku dalam masalah sekarang? Kenapa sekarang jadi seperti ini? 

Beberapa saat kemudian, anak kecil barusan kembali dengan teman-temannya yang lain. Sekarang  anak kecilnya berjumlah empat orang.  

Aku mengamati wajah mereka masing-masing. Dua dari mereka tampak berbinar-binar dan antusias  seperti anak yang tadi, dan satunya lagi berwajah masam. Anak berwajah masam tersebut terus saja mengeluh  soal penyihir yang sebenarnya tidak ada. Sedangkan tiga dari mereka semuanya antusias soal cerita penyihir  yang akan kuceritakan. Sepertinya aku sudah memahami apa yang terjadi dengan anak-anak ini sekarang. 

“Baiklah. Kalian semua duduklah.” 

“Eh? Kakak tidak membaca buku cerita?” 

“… Eng… kurasa tidak. Aku hafal ceritanya.” Aku memasang senyum polos.

Entah mengapa, aku menjadi lebih rileks setelah melihat wajah-wajah mereka barusan. Kini, aku mulai  lebih merasa percaya diri dan berusaha untuk mengurangi semua kecanggungan yang ada.  

Akhirnya, aku pun duduk dan mulai bercerita. Ini adalah kali pertamanya bagiku, jadi tentu saja tidak  berjalan mulus. Penyampaianku masih patah-patah, bahasa yang kupakai juga berantakan dan kaku. Lalu di  tengah-tengah, aku juga sering kali lupa dengan alurnya yang harus membuatku berhenti sejenak untuk  mengintip ingatan Kakek Eon kembali.  

Setelah lima belas menit aku bercerita dengan segala kekurangannya, aku mengelap wajahku yang  berkeringat. Aku gugup sekali tadi.  

Prok. Prok. Prok. 

Di luar dugaanku, anak-anak di hadapanku sekarang bertepuk tangan. Hanya satu anak yang dari tadi  memasang wajah masam yang tidak bertepuk tangan. Ia hanya mendecak, dan terus mengeluh soal ceritaku  yang mengada-ngada. Ia lantas berlari menjauh setelahnya. 

“Jangan dipedulikan, Kak. Dari dulu dia memang tak pernah percaya soal penyihir.” “Iya, lanjutkan dong, Kak! Bagaimana nasib penyihir setelah ia mengalahkan naga es itu!” “Lanjutkan, Kak!” 

“Penyihir itu hebat sekali! Dia benar-benar berani!” 

Aku terdiam, menyaksikan antusiasme anak-anak jalanan di hadapanku sekarang ini. Mereka semua  benar-benar mengikuti ceritaku dengan penuh perhatian—terlepas dari penyampaianku yang jauh dari kata  sempurna. Mereka tidak tahu, kalau aku hanya menceritakan ulang soal sebuah potongan ingatan Kakek Eon  dari masa lalu. Aku hanya tidak menyebutkan nama-nama orang secara eksplisit saja, tidak lebih dari itu. Aku  memang masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi sekarang, namun… 

Aku melihat wajah mereka satu per satu. Mereka tersenyum lebar. Mereka tampak senang. Wajah  muram bocah yang tadi, menjadi seolah tak pernah ada sebelumnya. Dan yang terpenting… 

Apakah aku berhasil membuat mereka merasa bahagia? 

“A-apakah kalian merasa senang?” tanyaku dengan ragu-ragu. 

“Hm! Hm!” Salah satu anak mengangguk antusias. “Kakak, apakah Kakak punya cerita tentang  penyihir yang lain? Atau kelanjutan dari yang tadi?” 

“E-eh? Anu, sebenarnya—” 

“Apakah Kakak pernah bertemu dengan penyihir itu?” Salah satu anak yang lain memotong cepat. “Apa? S-soal itu…” 

Wajah penasaran ketiga anak itu semakin mendekat, membuatku kelabakan.  

“Soal itu… tidak. Sayangnya, aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku hanya suka membaca buku  cerita. Kebetulan ini adalah cerita kesukaanku…”

Terdengar nada kekecewaan dari mereka bertiga. Maaf saja, tapi aku memang benar-benar tidak boleh  membocorkan identitas Kakek Eon yang sebenarnya kepada siapapun. Hanya ini yang bisa kulakukan. 

“Yah, tapi meskipun begitu, aku sepertinya masih berada di sini untuk besok, dan aku mungkin bisa  membawakan cerita yang lain—” 

“Sungguh, Kak?! Hore!” Ketiga anak itu langsung bersorak senang, tidak membiarkanku  menyelesaikan kalimatku. Aku hanya bisa ikut tersenyum. 

“Lalu, bagaimana dengan teman kalian yang tadi pergi?” 

“Oh, dia? Dia sama sekali tidak percaya dengan sihir. Begitu mendengar sesuatu soal sihir ataupun  penyihir, dia biasanya langsung marah-marah sendiri. Biarkan saja.” 

“Ya, biarkan saja dia! Dia sama sekali tidak seru!” 

“Padahal sihir itu seru… dia memang aneh!” 

Ketiga anak itu pun sekarang masing-masing membicarakan salah satu teman mereka yang kabur tadi.  Begitu melihat mereka yang seperti itu, aku baru mulai menyadari sesuatu.  

“Sudah, sudah. Kalian tidak boleh begitu. Tidak baik mengolok-olok teman kalian sendiri saat dia  sedang tidak bersama kalian.” 

“Eh? Tapi… dia memang begitu anaknya. Apabila kami semua berkumpul, dia malah lebih suka  menyendiri. Dia memang menyebalkan!” 

“Ingat, Sang Penyihir tadi tidak pernah berkata buruk soal kawannya, bukan? Dia selalu mendukung  mereka. Apabila mereka bertengkar, mereka saling meminta maaf satu sama lain. Kalian tidak ingin menjadi  seperti Sang Penyihir?”  

Seketika, raut wajah ketiga anak itu melunak. Mereka juga terdiam seketika.  

“M-maafkan aku, Kak…” 

“Jangan meminta maaf padaku. Minta maaf pada teman kalian yang tadi. Kalau dia memang tidak  percaya dengan penyihir, bukan berarti kalian harus bermusuhan dengannya, bukankah begitu?” 

Ketiga anak itu kembali terdiam. 

“Berbaikanlah dulu dengannya, dan besok aku akan datang lagi. Kurang lebih di jam yang sama seperti  sekarang. Kalian mengerti?” Aku beranjak mendekat dan berjongkok, mengelus kepala mereka satu persatu.  

“B-baiklah, Kak!” Mereka bertiga kompak menjawab dengan lantang. 

Aku memasang senyum lebar. “Bagus. Kalau begitu, sampai jumpa besok.” 

“Mhm! Terima kasih banyak untuk hari ini, Kak!”  

“Terima kasih, Kak!” 

“Besok… janji, ya, Kak!”

Setelah itu, mereka bertiga langsung berbalik dan berlarian di lorong gelap yang sempit ini. Mereka  masih bersorak senang, sepertinya antusiasme mereka belum luntur. Aku pun beranjak berdiri, meninggalkan  lorong sempit ini.  

Aku berjalan kembali ke penginapan. Sebelum aku menyadarinya, ternyata aku tidak bisa berhenti  tersenyum. Hanya dari pertemuan yang tadi, aku mendapatkan sesuatu yang sangat penting. 

Hari mulai berganti malam. Aku masih melamun di dalam kamarku, menimbang-nimbang banyak  hal. Namun, suara jam di dinding tetap terus berdetak di tengah kesunyian. Tengah malam semakin dekat. Aku  harus mulai memutuskan. 

Aku membuka pintu kamar Kakek Eon. “Kek…?” 

“Oh, masuklah.” 

“Permisi…” Aku melangkah masuk ke dalam. Tirai jendela kamar sedang dibuka lebar walaupun  sedang malam, memang kebiasaan Kakak Eon untuk melakukannya. Kamarnya sekarang berada d lantai dua  penginapan, dan jendelanya menghadap langsung ke jalanan di depan penginapan. Di malam hari,  pemandangan dari jalanan malam yang ramai dan cahaya bangunan di sekitar yang indah memang adalah  kesukaan Kakek Eon.  

Kakek Eon sedang terbaring di ranjangnya, menutup kedua matanya. Aku duduk di kursi sebelah  ranjangnya. 

“Ya ampun, kau jangan terlihat murung begitu. Ini bukan akhir dunia atau apapun itu.” Kakek Eon  tertawa di tempat tidurnya. 

“Jadi… apakah Kakek… benar-benar akan pergi malam ini?” 

“Aku… sejujurnya juga tidak tahu.” 

“Tidak tahu? Jadi…” 

“Hei, hei, bukan begitu.” Kakek Eon melambaikan tangannya. “Bukan berarti juga kalau aku akan  tetap di sini. Aku bilang, aku tidak tahu. Aku juga merasa lebih lemas dari biasanya sekarang, jadi jangan  berharap banyak.” 

Aku mengulas senyum tipis. “Ya, aku mengerti, kok.” 

“Hm? Kau tidak tampak begitu murung, ya. Kau tidak akan sedih ketika aku pergi?” “B-bukan begitu! Tentu aku juga akan merindukanmu, Kek. Hanya saja…” 

Kakek Eon tertawa. “Heh. Tidak apa-apa. Justru seharusnya kau tidak perlu melakukan itu. Kau tidak  perlu merindukanku atau apapun itu…” 

Aku menundukkan kepalaku. “T-tapi…” 

“Yah, maunya aku berkata seperti itu. Tapi, sepertinya aku membuat kesalahan yang sama lagi, ya? Aku sudah meninggalkan kesan yang terlalu kuat untuk kau lupakan. Sama seperti saat dengan Gi dulu.” 

Aku tetap terdiam. Masih belum berani menatap wajah Kakek Eon secara langsung.

“Kalau aku memang akan menghilang dari dunia ini saat tengah malam nanti, Aku ingin berterima  kasih kepadamu untuk satu tahun ini. Aku benar-benar merasa senang kau bisa menemaniku dalam waktu ini.” 

Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Kakek Eon barusan. “T-tidak, itu bukan seberapa…”  

“Ya ampun, ada apa dengan kau ini? Wajahmu suram sekali. Aku berterima kasih kepadamu, lho.  Setidaknya tersenyumlah.” 

“H-hanya saja… saya yang seharusnya berterima kasih kepada Kakek. Saya bisa melihat banyak hal di  dunia ini, juga berkat Kakek. Sungguh… saya berterima kasih…” 

“Hm-hm. Cukup dengan berterima kasihnya. Ya ampun, suasana di sini jadi kaku sekali.” Kakek Eon  melambaikan tangannya. “Jadi, bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang ingin kau lakukan?” 

Aku tersenyum yakin. “Sudah, Kek.” 

Kakek Eon menaikkan sebelah alisnya. “Oh-ho? Benarkah begitu? Beritahu aku.” 

“Saya ingin meneruskan tugas Anda, menjadi Pemelihara.” 

Hening sejenak. Kakek Eon menatap wajahku dengan tatapan keheranan. “… Apa?” … 

Satu jam menuju tengah malam.  

“Apa aku tidak salah dengar?” 

“Tidak, Kek.” 

“Kau serius?” 

“Aku serius.” 

Kakek Eon mengalihkan pandangannya. Ia bergumam lirih. “Kau pasti sedang bercanda…” “Kenapa Kakek sebegitu tidak percayanya denganku? Aku benar-benar serius soal ini.” 

“Tapi, pikirkanlah lagi!” Kakek Eon terduduk di kasurnya, kedua matanya melotot ke arahku. “Kau  tidak perlu repot-repot untuk melanjutkan pekerjaan orang tua ini. Sudah kubilang, kau tidak perlu terlibat  dengan semua masalah yang kubuat ini. Hidupilah hidupmu sebebas mungkin!” 

“Justru itu, Kek. Ini bukan paksaan siapapun. Aku sendiri yang memilih jalan ini.” 

“Tapi kenapa? Kau tidak tahu apa konsekuensi dari menjadi seorang Pemelihara—” 

“Aku tahu, Kek,” potongku cepat. “Aku sudah tahu banyak hal setelah melihat ke dalam ingatanmu.  Dan setelah menimbang-nimbangnya, aku menjadi yakin sekarang.”

Kakek Eon mengusap wajahnya. “Tapi, kau bukan penyihir… bagaimana kau akan menjadi seorang  Pemelihara? Aku saja gagal, lho! Rasa sakit dalam dadaku ini masih belum hilang, bahkan sampai sekarang.  Sampai akhir, aku tidak bisa menyelesaikan misiku sejak lebih dari seribu tahun yang lalu—” 

“Justru di situlah aku berpikir Kakek Eon salah berpikir,” aku memotong. 

Kakek Eon tercekat. “Salah berpikir? Tentang apa?” 

“Menurut saya, Kakek Eon sudah melakukannya dengan sangat baik. Sang Pencipta tidak salah soal  itu.” 

“Hah? Apa yang kau katakan?” 

“Kakek Eon sepertinya melupakan sebuah hal penting dari peran Pemelihara ini. Bukankah begitu?” “Aku? Melupakan sesuatu? Apa yang kulupakan?” 

Aku membenarkan posisi dudukku. “Sejujurnya, aku masih bingung dengan apa yang harus  kulakukan dengan masa depanku sampai hari ini. Sampai tadi siang.” 

“Apa yang terjadi?” 

Aku pun bercerita soal kejadian tadi siang saat aku bertemu dengan beberapa anak jalanan, dan mulai  bercerita soal salah satu potongan kehidupan dari Kakek Eon yang penuh petualangan dan pengembaraan.  Kakek Eon sempat merasa cemas, lalu aku pun memberitahunya kalau aku tidak membocorkan identitasnya  yang sebenarnya saat bercerita—semuanya baik-baik saja. Aku tertawa kecil setelah bisa membuatnya sedikit  panik. 

“Menjadi seorang Pemelihara bukan berarti harus membahagiakan semua orang. Menjadi seorang  pemelihara berarti merawat dan menjaga. Bukankah begitu, Kek?” 

Kakek Eon tidak menjawab, ia hanya mendengarkanku dengan wajah fokus sekarang. 

“Seorang dokter akan merawat pasiennya, dan seorang peternak akan menjaga ternaknya. Namun,  bukan berarti dokter bisa menyelamatkan semua pasiennya, maupun seorang peternak bisa menjaga seluruh  ternaknya setiap waktu. Mungkin saja dokter bisa membuat kesalahan saat dia sedang banyak pikiran, pun  dengan serigala yang tiba-tiba memakan sebagian besar ternak dalam waktu semalam tanpa sepengetahuan si  peternak. Hal itu sangat lumrah terjadi, bukan? 

“Mereka juga manusia, tidak bisa melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Yang terpenting,  mereka sudah melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugas mereka. Sama seperti Kakek. Kakek sudah  konsisten menjalankan tugas sebagai seorang Pemelihara dalam waktu yang sangat lama—lebih dari seribu  tahun—dan saya sangat mengagumi hal itu. Kakek Eon tidak bisa membahagiakan semua orang ataupun  memelihara seisi dunia ini dengan sempurna, namun Kakek Eon sudah melakukan yang terbaik untuk  melakukan semua itu.  

“Menurutku, itulah hal terpentingnya. Menjadi seorang Pemelihara itu bukan soal keharusan untuk  membahagiakan dan memelihara seisi dunia ini, namun berusaha sebaik mungkin untuk melakukan kedua hal  tersebut. Begitulah menurutku. Eh, Kek? Ada apa?”

Tiba-tiba, Kakek Eon menitikkan air mata di hadapanku. Aku sendiri tidak tahu kenapa. 

“Ah, sial. Kenapa aku seperti ini…” Kakek Eon mengusap wajahnya. Aku hendak mengatakan sesuatu,  tapi urung. 

“Kau benar, Nak. Kau memang betul. Aku… aku tidak pernah menyadarinya sama sekali. Tidak  sekalipun dalam seluruh kehidupanku ini. Aku telah melupakan sesuatu yang sepenting itu… 

“Kupikir, aku harus menebus seluruh dosa yang telah kulakukan dengan membuat semuanya bahagia.  Hanya itu yang ada di pikiranku selama ini, dan aku tak pernah menyelesaikannya. Aku tak pernah menyadari  arti dari kata itu secara menyeluruh. Ya ampun, aku ini memang bodoh…” 

Kakek Eon tersenyum, mengelap pipinya sambil terisak secara bersamaan. Aku tidak benar-benar tahu  aku harus berekspresi seperti apa di saat seperti ini. 

“Kau tahu, selama ini aku terus berpikir. Aku sudah hidup lebih dari seribu tahun tanpa diingat  siapapun. Gi adalah orang terakhir yang benar-benar mengetahui identitasku di kehidupan keduaku ini. Kau  adalah yang kedua.” Kakek Eon selesai mengelap wajahnya, kembali berbaring di atas kasurnya. Ia menatap  kosong langit-langit kamar. 

“Kupikir, aku masih sangat jauh dari garis finis yang hendak kucapai. Apapun yang kulakukan, rasa  sakit ini takkan pernah hilang sepenuhnya. Lantas, mengapa tiba-tiba aku mendapat seorang teman  pengembaraan seperti dirimu setelah ribuan tahun menyendiri? Saat itu, aku sama sekali tidak mengerti. 

“Awalnya, aku sebenarnya merasa tidak pantas untuk menerima ini. Misiku masih jauh dari selesai,  begitu yang kupikirkan. Namun, saat bersamamu, aku tak bisa menahannya. Setelah sekian lama, aku bisa  bersama dengan seseorang di mana aku bisa tertawa dan bercanda dengan bebas sesuka hatiku. Rasanya benar benar luar biasa. 

“Aku juga tidak menyangka ketika Sang Pencipta mengatakan bahwa waktuku akan habis di dunia ini  setelah satu tahun bersama denganmu. Saat itu, kupikir aku akan dijatuhi hukuman karena misiku yang tak  kunjung selesai. Namun, ketika aku bersamamu, aku sama sekali tidak merasa ini adalah sebuah hukuman.  Malahan, rasanya seperti sebuah anugerah. Aku selalu bertanya-tanya kenapa seperti itu, dan sekarang akhirnya  aku tahu jawabannya.” Kakek Eon kembali terisak lirih. 

“Hei, Nak… beritahu aku… apakah aku sudah menjalankan tugasku dengan baik sampai sekarang?” “Eh? Um, soal itu…” 

“Kalau iya, elus kepalaku.” 

Aku terkejut. “E-Eh?!” 

“Ayolah. Beritahu aku.” Kakek Eon tersenyum lebar. 

“Eng… Um…” 

Aku menjadi salah tingkah dan ragu-ragu. Namun, aku tidak bisa menahan ekspresi wajah Kakek Eon  yang begitu mengharap. Akhirnya, aku memberanikan diriku. Tanganku perlahan meraih ubun-ubun Kakek 

Eon, mengelusnya dengan selembut mungkin. Pertamanya aku sedikit takut, namun akhirnya aku tetap ikut  tersenyum setelah melihat wajah Kakek Eon yang tersenyum lebar seperti anak kecil. 

“Anda sudah menjalankannya dengan baik, kok, Kek.” 

“Terima… kasih… Nak…” 

Setelah itu, kami berdua melanjutkan obrolan ringan bersama. Bernostalgia soal satu tahun yang kita  berdua habiskan bersama. Terkadang, Kakek Eon juga bernostalgia soal masa lalunya—anehnya, aku juga bisa  bernostalgia karena aku memiliki ingatan Kakek Eon, padahal aku tidak pernah mengalaminya secara langsung.  Kami berdua benar-benar menikmati sisa waktu terakhir yang kami punya sebelum tengah malam. 

Sampai tinggal beberapa menit sebelum tengah malam. Aku kelelahan, dan sepertinya begitu juga  dengan Kakek Eon. Kami berdua benar-benar membicarakan banyak sekali hal. Dalam menit-menit terakhir  ini, suasana di dalam kamar sudah menjadi jauh lebih tenang. Wajah Kakek Eon mulai tampak pucat. 

“Ah, aku terlalu banyak bernostalgia, sampai terlupa. Soal masa depanmu. Kalau kau memang seyakin  itu, bagaimana kau akan hidup sebagai Pemelihara? Kembali lagi, kau bukanlah seorang penyihir sepertiku.” 

“Oh, soal itu. Aku berencana ingin menjadi penulis cerita!” 

“Penulis cerita…?” Kakek Eon menaikkan sebelah alisnya. 

“Aku percaya bahwa Sang Pencipta memberikan ingatan kehidupan Kakek kepadaku untuk suatu  tujuan. Dan sekarang, akhirnya aku mengerti alasannya, juga bagaimana untuk menggunakannya dengan baik.” 

“Tunggu dulu. Kau akan menulis kehidupanku ke dalam cerita?” 

“Yah… kurang lebih begitulah.” 

“Tidak! Itu ide yang buruk.” 

Sekarang aku yang terkejut sekaligus kebingungan setelah mendengar itu dari Kakek Eon. “Eh?  Memangnya kenapa?” 

“Itu hanya akan menimbulkan banyak masalah. Membiarkan orang-orang tahu dengan perbuatanku bukanlah ide yang bagus. Kau juga tahu sendiri kan? Aku hanya membuat masalah kepada diriku sendiri setelah  orang-orang mengetahui tentang apa yang kulakukan. Membuat diriku terlupakan dari semuanya adalah cara  yang terbaik untuk menjalankan misi ini—” 

“Tunggu dulu, Kek. Bukan seperti itu.” Aku memotong. 

“Huh?” 

“Sudah kubilang, bukan? Aku bercerita kepada anak-anak itu tadi tanpa menyebut nama Kakek ataupun nama orang-orang yang Kakek temui. Aku akan melakukan hal yang sama nantinya—kebanyakan  ceritaku akan bersifat anonim, seperti di dongeng-dongeng. Tentu aku juga ingin menceritakannya sebaik  mungkin, karena itulah aku ingin menjadi penulis yang hebat.” 

“Tapi, tetap saja… rasanya…”

“Tidak apa-apa. Aku juga sadar, bahwa aku bukanlah Kakek Eon. Aku bukanlah orang hebat yang bisa  membuat perubahan besar seperti yang Kakek lakukan. Kakek Eon sudah melakukan banyak hal hebat dan  membuat dunia ini seindah sekarang, dan tidak ada yang mengetahuinya. Yang bisa kulakukan, hanyalah untuk  memberitahu orang-orang bahwa selama ini, ada ‘seorang tanpa nama’ yang melakukan banyak hal demi  kebaikan dunia ini tanpa pamrih sama sekali. 

“Aku pikir, orang-orang harus mengetahui soal kisah hidup Kakek. Aku sangat mengagumi semuanya. Banyak sekali pengalaman hidup yang tak bernilai di dalamnya. Aku yakin, dunia bisa menjadi lebih baik  apabila banyak orang bisa mengetahui soal kisah-kisah yang hebat ini. Aku adalah orang yang sudah diberikan  seluruh ingatan yang luar biasa ini. Oleh karena itu, inilah tugasku untuk melanjutkan misi Kakek, sebagai  seorang Pemelihara.” 

Kakek Eon hanya terdiam sambil menatapku. Setelah itu, dia tersenyum tipis. Wajahnya benar-benar  putih sepucat susu sekarang. 

“Kalau kau percaya itu yang terbaik, maka terserah kau, Nak. Buatlah itu semua terjadi. Aku akan  percaya kepadamu. Kau pasti bisa melakukannya, aku yakin itu. 

“Jadilah Pemelihara yang baik, Lacke. Aku… mengandalkanmu…” 

Tung. Tung. Tung.  

Jam kota di luar sudah berdenting, menandakan waktu tengah malam. Aku mendekatkan jariku ke  bawah hidung Kakek Eon. Tidak ada napas. Aku pun menutup kedua kelopak mata Kakek Eon yang masih  sedikit terbuka. Sekarang, Kakek Eon terlihat seperti terlelap dalam mimpi indah dengan senyuman di wajahnya.  

Aku menitikkan beberapa air mata, namun aku langsung berusaha menghentikannya. Bukan  waktunya untuk ini. Beberapa saat kemudian, aku langsung merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadaku.  Aku langsung jatuh tersungkur di lantai, meremas dadaku dengan gemetaran.  

Jadi, inilah rasa sakit yang dirasakan Kakek Eon selama lebih dari seribu tahun… Dan ini pasti jauh  lebih parah saat pertama kali ia menerimanya.  

Ini sungguh menyakitkan, namun aku tetap berusaha untuk bangkit. Jam kota sudah berhenti  berdenting di luar. Aku merapatkan gigiku dan mengepalkan tanganku. 

Mulai sekarang, aku akan terus menjaga dunia yang sudah ditinggalkan Kakek Eon ini. Aku memang  bukan orang yang hebat atau apapun itu, namun aku tetap akan melakukan yang terbaik. Aku akan  membuktikan kalau aku bisa melakukannya.  

Menjadi seorang Pemelihara, dan memastikan seluruh ingatan dan kisah hidup ini tetap terjaga,  sampai akhir kelak. 

… 

“Kek. Kau yakin kau baik-baik saja?”

“Tentu saja. Memangnya kenapa? Uhuk!” 

“Kau sedang sakit, Kek! Jangan memaksakan diri. Memangnya kau tidak ingin mengambil satu hari  untuk libur, atau apa, begitu? Anak-anak itu bisa menunggu untuk ceritamu di hari-hari lain.” Penjaga panti  bergerak cepat, mencegah sang Kakek bangkit dari tempat tidurnya. 

“Tidak… Aku tetap akan melakukannya. Inilah tugasku. Menyingkirlah.” Sang Kakek masih berusaha  berontak, namun tentu saja tetap tak bisa mengalahkan penjaga panti. 

“Sudahlah, Kek! Tidurlah saja yang nyaman. Kalau besok kau sudah membaik, kau boleh untuk  bercerita lagi. Aku takkan menahanmu seperti ini. Tapi jangan lupa—itu kalau keadaanmu sudah membaik,  ya.” Penjaga panti lantas berjalan keluar kamar, menutup pintu dan kemudian menguncinya dari luar. Sang  Kakek melengos kecewa, dia sekarang terkunci di dalam kamarnya. Ia menatap keluar jendela dengan takzim. 

Aah. Di sinilah aku sekarang. Menyedihkan, rasanya, bukan? 

Ah, kalau kalian belum tahu… ya, ini aku, Lacke. Lihat, aku sudah tua sekarang. Waktu benar-benar  berlangsung tanpa terasa, ya? 

Ya. Aku masih seorang Pemelihara sampai sekarang. Aku tak mengingkari janjiku dengan Kakek Eon.  Aku sudah menjadi penulis dan bercerita ke banyak orang. Aku tak tahu apakah aku sudah melakukannya  dengan baik, tapi aku berjanji aku telah berusaha.  

Soal peran Pemelihara ini, sebenarnya terjadi beberapa perubahan. Sang Pencipta memberitahuku  bahwa peran Pemelihara setelah Kakek Eon takkan memperpanjang usia. Rasa sakit di dada ini masih terus ada,  sampai sekarang. Rasa sakit ini yang selalu mengingatkanku bahwa pasti ada seseorang di luar sana yang masih  menderita dan merasakan kesedihan. Sama seperti yang Kakek Eon katakan dulu—meskipun menyakitkan,  lama-lama kau akan terbiasa, atau bahkan mensyukurinya. 

Sekarang, aku memiliki pertanyaan untuk kalian. Menurut kalian, apa keuntungan dari menjadi  seorang Pemelihara? Sebenarnya, tidak ada sama sekali. Aku tidak mendapatkan kehidupan yang sangat  panjang atau apapun itu, dan aku juga tidak memperoleh sihir yang hebat. Aku juga bukanlah seseorang yang  menganggap peran ini sebuah misi yang penting sebagai bentuk penebusan dosanya. Justru aku harus terus  menahan rasa sakit di dada yang merepotkan ini sampai sekarang. Yang aku dapat hanyalah serangkaian ingatan milik seorang kakek tua. Lantas mengapa aku masih menjalankan peran ini sampai sekarang? 

Jawabannya, sederhana saja. Aku bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Aku bisa melihat lebih  banyak orang tersenyum, dan aku bisa berkelana ke banyak tempat, untuk sekadar menulis buku dan bercerita  kepada anak-anak kecil tentang kisah-kisah hebat ini. Dengan itu semua, aku bisa merasakan ketenangan hati  yang bahkan bisa mengalahkan rasa sakit di dada ini, meskipun hanya untuk sementara. Yah, meskipun sudah  beberapa tahun belakangan ini, aku sudah berhenti mengembara. Badan tuaku sepertinya sudah tidak kuat  untuk melakukan pengembaraan seperti dulu lagi. Apa boleh buat.  

Apakah peran Pemelihara ini bisa diberikan ke orang lain? Bisa. Sama seperti yang terjadi pada Kakek  Eon denganku. Ingatan setiap Pemelihara pendahulu juga akan diwariskan. Namun, kembali lagi, aku ingin  bertanya kepada kalian. Apakah dengan rasa sakit ini, seseorang mau menerima peran ini? Seperti yang  kukatakan, Pemelihara sebenarnya tak mendapat keuntungan apa-apa yang signifikan atau apapun itu. Hanya  mewarisi ingatan saja. Apakah itu sebanding dengan rasa sakit tanpa akhir ini?

Satu pertanyaan lain. Lagipula, apakah peran Pemelihara memang masih dibutuhkan di dunia ini?  Seperti yang terjadi pada Kakek Eon, mau seberapa keras dan lamanya seorang Pemelihara berusaha untuk  membahagiakan dan memelihara dunia ini, itu takkan menghapus segala masalah dan kesedihan di seluruh  dunia ini sekaligus. Rasa sakit ini takkan pernah hilang. Apabila peran Pemelihara lenyap dari dunia ini, juga  takkan membuat dunia ini berubah banyak. Dunia takkan berubah menjadi sentosa selamanya, apapun yang  terjadi. Jadi, kuulangi lagi. Apakah peran Pemelihara benar-benar masih dibutuhkan di dunia ini? 

Apalagi, Sang Pencipta mengatakan bahwa aku dibolehkan untuk tidak mencari seorang penerus. Sang  Pencipta menyuruhku untuk memilih yang terbaik, menurut keputusanku. Aku tahu aku diberi kebebasan,  namun akhirnya aku tetap bingung. Aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk menerima peran ini. Di saat  yang sama, kembali lagi. Tetap tak bisa dipungkiri bahwa peran ini memang tak terlalu dibutuhkan, tak memiliki  banyak keuntungan, dan takkan mengubah dunia secara drastis atau apapun itu.  

Apakah peran ini akan menghilang begitu aku mati kelak, ya? 

Krek. Krek. Krek.  

Terdengar suara kunci pintu dibuka. Seorang anak kecil membuka pintu. 

“Hm? Kau…” 

“Kek!” 

Salah seorang anak panti melangkah masuk ke dalam kamar. Aku sepertinya mengingatnya. Dia adalah  anak terpintar di panti asuhan ini, dan ia jarang mengikuti sesi ceritaku karena ia selalu belajar setiap waktu.  

“Kau… bukankah kau anak teladan? Kenapa kau ada di sini?” 

“Tidak! Aku bukan…” 

Si anak teladan hampir menangis, aku mengelus kepalanya untuk menenangkannya. Aku melihat ke  arah ambang pintu. Kunci-kunci kamar milik penjaga panti masih menggantung di sana. Aku tersenyum  simpul. 

“Tenang. Itu bukan salahmu. Salah sendiri, dia lupa untuk mengambilnya kembali.” “Tapi… tapi…” Si anak teladan masih gemetaran. 

Aku tahu anak teladan ini. Dia sangat penurut, dan hampir tidak pernah membuat masalah di antara  anak-anak yang lain maupun penjaga. Namun, ia terkesan selalu dikurung untuk terus belajar karena kepala  pintarnya demi kepentingan panti. Mungkin ia menunggu kesempatan langka ini untuk memberanikan diri  mengunjungiku. 

“Jadi, untuk apa kau ke sini, Nak?” 

“Aku… aku… ingin menjadi seperti Kakek!” 

Aku menaikkan sebelah alis, setengah terkejut. “Hm?” 

“Aku… aku tidak pernah mendengar saat Kakek bercerita kepada anak-anak yang lain. Namun, malam itu, aku tidak sengaja mendengar Kakek bercerita soal pahlawan dengan monster lumut saat itu… dan 

aku benar-benar tertarik dengan itu. Aku ingin mendengar Kakek bercerita lagi… belajar itu sangat menyebalkan…” 

“Sshh. Jangan berkata begitu. Kau anak teladan, bukan? Semua anak-anak yang lain juga  mengagumimu.” 

“Tapi… saat aku bilang aku ingin mendengar Kakek bercerita… para penjaga tak pernah mau  mendengarkanku. ‘Kau adalah masa depan panti’, atau apapun itu. Aku sudah malas mendengarnya.” 

Aku tertawa kecil. Ah, ‘masa berontak’ yang seperti ini memang tinggal menunggu waktu saja, ya. 

“Tapi tetap saja, kau tak boleh seperti itu. Patuhi apa kata mereka, mereka lebih tahu soal apa yang  terbaik untukmu.” 

Si anak teladan hampir menangis lagi. “Pada akhirnya… Kakek sama saja…” 

“Kau patuhi mereka, dan sebagai gantinya, aku yang akan masuk ke dalam kamarmu dan bercerita  kepadamu setiap malam. Hanya kau dan aku, berdua. Bagaimana? Terdengar menyenangkan, bukan?” 

Si anak teladan langsung membulatkan matanya, menatapku dengan antusias. “S-sungguh, Kek?” “Aku berjanji.” Aku tersenyum, berusaha meyakinkannya. 

“Hore!” Si anak teladan mengangkat kedua tinjunya ke udara. “Malam ini, ya, Kek! Dan besok juga!  Lalu, besok besoknya juga! Janji, ya!” 

Aku menelan ludah, menahan senyumku untuk meyakinkannya. Padahal aku sendiri juga sebenarnya  tidak yakin apabila melakukannya tiap hari, tapi apa boleh buat. “Ya. Aku berjanji.” 

“Terima kasih banyak, Kek!” Si anak teladan langsung menghambur menuju pintu, dan meninggalkan  ruangan. Aku menghela napas. Sepertinya aku barusan menambah masalah untuk diriku sendiri… tapi  sudahlah. Selama dia merasa senang. 

Aku kembali menerawang keluar jendela. Aku sepertinya terlalu banyak merenung sendiri sekarang.  Bernostalgia di dalam kepalaku. Persis seperti kebanyakan orang yang sudah tua, memang. Heh. 

Jujur saja, saat ia mengatakan bahwa ingin menjadi sepertiku, aku sempat tebersit sesuatu—apakah  anak itu mungkin saja bisa meneruskan peran Pemelihara-ku ini. Sekarang, rasanya aku bersalah sudah berpikir  seperti itu. Aku seharusnya tak memaksakan peran ini kepada siapapun. Aku hanya berpikir… akan  menyenangkan apabila memiliki penerus. Tapi, kembali lagi, aku tak boleh egois. Andai saja, andai saja… anak  itu ataupun seseorang yang lain akan menerima peran ini—aku hanya berharap untuk kebaikan dan  kebahagiaan mereka sendiri juga. Jangan sampai mereka membebani mereka sendiri dengan peran ini, apabila  suatu saat nanti mereka akan menerimanya dengan sukarela. 

Lalu, kembali lagi ke pertanyaan penting sejak masa mudaku dulu. 

Apa yang menunggu di akhir sebuah perjalanan panjang? Ada seseorang bertemu dengan orang yang  dicintainya sejak lama, dan cintanya berbalas dengan indah di akhir. Seseorang yang lainnya pada akhirnya bisa  benar-benar merasa bahagia dengan dirinya sendiri dan apa yang telah ia capai, dan menjadi pahlawan dan  sumber inspirasi yang sangat berharga bagi seseorang yang lain.

Sepertinya aku juga sudah mendekati akhir dari perjalananku sendiri, ya. Apa yang akan menungguku  di akhir kelak, ya? Apakah aku bisa meninggalkan sesuatu yang bermakna untuk orang lain? Apakah aku bisa  meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan? Apakah seseorang akan bersedia menerima peran Pemelihara ini  dan bisa menjalani hidupnya dengan bahagia setelahnya? Dan apabila tidak ada yang menerima peran ini,  apakah dunia masih akan seperti ini seterusnya, ataukah justru membaik atau memburuk? 

Ya ampun, sekarang aku tak bisa berhenti senyum-senyum sendiri saat membayangkannya.


Penulis: MysticaLoof

Redemption Trip to Holy Land

Entry Writchal #3
Tema: Mati


Di Levanṭīnīye, atau dahulu disebut disebut sebagai Levantinopel, Sultan, sekaligus kaisar Latin Timur Baru, Padishah Aḥmed Salajakoğlu, terlihat sangat frustasi dengan wajah yang diliputi oleh kemarahan. Para menteri dan bawahan Padishah paling terpercaya pun tidak berani memecah keheningan di ruang sidang Istana. Mereka takut tanpa sengaja menuang minyak dalam api yang sedang berkobar. Ketika Menteri Ekonomi Kesultanan, Jalāl ud-Dīn Pasha hendak memecah keheningan dengan memberanikan diri membuka pembicaraan dalam sidang istana, tiba-tiba Sultan Aḥmed langsung memotong pembicaraan.

“Jalāl ud-Dīn Pasha ! Apakah kamu memiliki kabar terbaru terkait putraku, Şehzade  Altaïr Çelebi?” Tanya Sultan dengan perlahan dengan penuh ketegasan.

Semua yang hadir di sidang Istana diam seribu bahasa, termasuk Jalāl ud-Dīn. Sultan yang merasa diabaikan itu pun terlihat berusaha menahan amarahnya. Suasana sidang istana sangat mengekang saat itu. Kemurkaan Sultan bisa saja menjadi akhir dari karir, atau bahkan kehidupan mereka. 

Sudah seminggu sejak jejak Şehzade  Altaïr Çelebi, yang tanpa izin dari Sultan, memimpin invasi ke Beylik Dulkadir di selatan, hilang tanpa jejak.  Kabar terakhir yang diterima Sultan dan Levanṭīnīye terkait adalah keberhasilan pasukan Şehzade  mengambil alih beylik, dan kabar kematian seluruh keluarga Bey Dulkadir, termasuk tunangan dan teman masa kecil Şehzade  dalam sebuah kudeta berdarah yang terjadi sebelum Invasi. Setelah itu  Şehzade   meninggalkan posnya dan menghilang tanpa jejak. Baik bawah maupun pasukannya tidak mengetahui keberadaan Şehzade   setelah itu. 

Bey, setara dengan duke, sebelumnya merupakan bawahan Sultan, sebelum perang saudara pecah dan banyak bey yang memerdekakan diri dari Kesultanan saat kekosongan kekuasaan. Namun kini kesultanan telah kembali pulih dan mulai mengintegrasi kembali wilayah-wilayah yang sempat memerdekakan diri. Salah satunya di Dulkadir. 

Suasana tegas di ruangan sidang istana kemudian dipecah dengan kedatangan seorang pejabat kesultanan yang masih muda. Dia belum genap kepala tiga, namun telah memperoleh kehormatan untuk menggunakan gelar “Pasha” dalam namanya.

“Salam Padishah, semoga Dewa yang Maha Tunggal selalu memberkahimu. Sebelumnya saya mohon maaf karena telah mengganggu jalannya sidang istana pagi ini dan yang paling penting terlambat untuk menghadiri sidang istana pagi ini.” Jelasnya sembari menundukkan kepala untuk menghormati Sultan. Berbeda dengan sebelumnya, Sultan yang sekarang terlihat sedikit lega dengan kehadiran Zaganos Pasha, dengan tenang membuka dialog dengan Pasha mudanya. 

“hmm…mmm…Zaganos Pasha, sebelumnya angkat kepalamu,….” Jawab sultan.

“Sebagai komandan pasukan Yeŋiçeri, disiplin merupakan hal yang mutlak. Jadi, apa yang menghambatmu, Zaganos Pasha ?” Lanjut Sultan setelah Zaganos Pasha kembali menegakkan kepalanya. 

“Ada kabar baik Padishah ! Kami berhasil melacak keberadaan Şehzade  . Setelah sidang ini saya akan berangkat sendiri untuk menjemputnya. ” Jawab Zaganos dengan sumringah.

Sultan juga terlihat lega dan lebih tenang dengan kabar ini, begitu juga menteri, pasha dan pejabat kesultanan lainnya. Ini merupakan kejelasan yang mereka tunggu sepanjang minggu ini. 

“Zaganos Pasha ! Mohon jelaskan dengan lebih detail terkait kabar tersebut, termasuk bagaimana Anda akan menjemput Şehzade  .” Sahut seorang Pasha senior dalam sidang.

“Ya, paparkan dengan lebih detail terkait kabar ini, Zaganos Pasha!” Sahut Sultan.

“Baik, Sultan Aḥmed!” Jawab Zaganos.


“Gluk…gluk….gluk……ahhhhhh!” 

Seorang pemuda yang mengenakan pakaian pengelana menghabiskan persediaan air minum yang dia miliki dalam perjalanan melintasi gurun. Namun hal itu bukan masalah berarti karena dia tidak jauh sebuah kota oasis, dan berencana mengisi kembali persediaannya disitu.

“Wah kelihatannya sangat nikmat sekali!” Suara dari seorang gadis terdengar di dekatnya.

“Percuma, aku tidak bisa membagi ini kepadamu. Lagian juga kamu tidak membutuhkannya juga bukan ?” Sahut si pemuda.

“HMNNNNNNN!” Gerutu gadis itu dengan muka masam dan kesal di wajahnya.

“Aku tahu itu!! Tapi kamu sepertinya sangat puas menikmatinya! Aku jadi iri tahu!” Sahut gadis itu dengan muka cemberut. 

Sementara si pemuda itu hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah laku gadis itu. 

“Kau tidak berubahnya ya ….” Gumam si pemuda. 

Perlahan senyuman si pemuda itu itu perlahan menjadi senyuman getir. Si gadis masih memalingkan pandangan ke si pemuda itu ketika ia mencoba untuk mengusap kepala si gadis tersebut, seperti yang biasa dia lakukan di masa lalu. Namun dia sadar satu hal, si pemuda itu tidak bisa menyentuh gadis tersebut. Senyum si pemuda itu berubah menjadi raut wajah kesedihan yang menunjukan penyesalan yang mendalam. 

Di mata si pemuda, dia memang berbicara dan mengobrol dengan seorang gadis, namun dimata orang lain, dia seperti orang yang berbicara sendiri. Hal itu karena gadis yang ada bersamanya sebenarnya merupakan arwah dari seseorang yang telah meninggal. 

Hanım Fatma Abdul-Qadir, Putri Bey Muhammad Abdul-Qadir, Bey Dulkadir.  Memerdekaan diri ketika Kesultanan mengalami kekosongan kekuasaan, kemerdekaannya kini terancam oleh kebangkitan kesultanan yang berusaha kembali mengintegrasi Beylik-Beylik yang memerdekakan diri. Terkenal sebagai diplomat ulung, Muhammad Abdul-Qadir sukses mempertahankan kemerdekaan Beylik dengan permainan diplomatik antara dua kesultanan besar di perbatasannya, Yaitu Kesultanan Salajakiyah di utara dan Kesultanan Mamalik di selatan. Ketika kudeta terjadi di Dulkadir, ia merupakan satu-satunya bekas wilayah kesultanan Salajakiyah yang belum berhasil direbut kembali oleh kesultanan. Meskipun semua pencapaian ini telah berakhir dengan kematian tragis Muhammad dan keluarganya dalam kudeta, termasuk Fatma. 

….

“Hanım hati-hati!” 

Seorang pelayan memberikan peringatan kepada seorang gadis cilik yang berlarian di sekitar Kastil Pegunungan di Manisa, Kesultanan Salajakiyah.

“Hahahahha, coba tangkap aku bibi!” Jawab si gadis cilik itu.

Kesal karena orang tua terlalu sibuk untuk menitipkannya di tempat asing tanpa persetujuannya, gadis bernama Hanım Fatma ini menjadi gadis nakal. Dia selalu melanggar aturan di kastil, membangkang dan tidak pernah menuruti pelayan atau yang ada di kastil. Padahal kastil itu terletak tebing tinggi dan curam di Pegunungan Banteng sehingga sangat berbahaya untuk berkeliaran . Dan benar saja, Hanım terpeleset dan terjatuh ke jurang. 

KYYYYAAAAAHHHHHHH!!

Dalam kondisi kritis itu, Hanım dapat hanya melihat puncak kastil yang terlihat semakin menjauh. Dia tidak berani untuk melihat ke bawah. Dia ketakutannya. Dia berharap ada seseorang yang mau menyelamatkannya. Namun itu tidak mungkin. Dia merupakan gadis yang nakal, semua orang pasti membencinya. Hanım menutup matanya, dia ketakutan untuk melihat bagaimana dia akan meregang nyawa akibat kecerobohannya. 

Tiba-tiba dia merasakan seseorang merangkul tubuhnya. Hanım terkejut dan penasaran, namun ia terlalu takut untuk membuka matanya. Setelah mengalami beberapa kali hentakan dan benturan, kehilangan kesadarannya. Hal terakhir dia ingat, ia kesulitan bernafas sebelum tidak sadarkan diri.

Ketika siuman , orang pertama yang terlihat di ada di hadapannya, adalah seorang anak laki-laki dengan wajah dengan tubuh yang basah kuyup dan penuh luka. Dia terlihat kelelahan, dengan bilah pedang yang patah di dekatnya. Tidak jauh dari tempat mereka, terdapat sungai yang kemungkinan menjadi tempat mereka mendarat, karena Hanım juga mendapati pakaiannya yang dia kenakan juga basah kuyup. 

“Hanım Fatma,….kamu baik-baik saja?” Tanya anak laki-laki itu.

Hanım menganggukkan kepalanya.

“Huh! Merepotkan sekali. Saya sedikit panik ketika mendapatimu tidak sadarkan diri ketika berhasil membawamu ke tepian sungai. Yah…..beruntungnya kamu hanya, Arrggrrhh….pingsan…saja.” Lanjut anak laki-laki itu ketika dia tanpa sengaja mengerang kesakitan ketika menganti sikap duduknya.

Melihat kondisi penolongnya yang memprihatinkan, Hanım tidak kuasa menahan air matanya, Dia menangis sesegukan. Menurutnya semua tidak akan berakhir seperti ini jika dia lebih patuh terhadap penjaga dan pelayan yang ada di kastil. Jika dia tidak tidak terlalu nakal dan keras kepala, mungkin anak laki-laki itu tidak akan terluka separah ini. 

Anak laki-laki itu dengan susah payah karena menahan nyeri karena luka disekujur tubuhnya, ketika dia berusaha untuk menenangkan Hanım dengan mengusap kepalanya.

“Sudah-sudah!…….. Ini bukan sepenuhnya salahmu kok! Lagi pula,….. kamu menjadi keras kepala karena ……kesepian selama tinggal disini bukan, Hanım ….Fatma?”

Tangisan Hanım seketika berhenti ketika anak laki-laki itu dengan halus mengusap kepalanya. Dan mendengar pertanyaan anak laki-laki itu, Hanım mengangguk ringan seraya mengusap air mata yang masih mengalir dengan deras dari sudut-sudut matanya.Sejak tinggal di kasti dan berpisah dari keluarganya, Hanım memang merasa sangat kesepian. 

Mendengar jawaban Hanım, anak laki-laki itu pun tersenyum seraya melanjutkan kalimatnya. 

“Kalau begitu, kamu mau jadi teman saya tidak selama disini?  Saya berjanji tidak akan membuatmu kesepian lagi selama kamu tinggal di kastil ini. Sebelumnya perkenalkan, Saya Altaïr. Salam kenal!”

Kata anak laki-laki itu sebari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Namun bukan jabat tangan yang diperoleh Altaïr, melainkan pelukan erat dari Hanım. Pelukan ini cukup erat hingga menekan luka-luka pada tubuh Altaïr dan mengakibatkannya mengerang kesakitan. Erangan cukup keras untuk membantu penjaga dan pelayan kastil menemukan posisi mereka. Kemudian Altaïr dan Hanım segera memperoleh pertolongan.

Sejak kejadian tersebut, hubungan antara Altaïr dan Hanım Fatma menjadi semakin erat. Mereka selalu bermain dan menghabiskan waktu bersama ketika memungkinkan. Hanım Fatma masih merupakan gadis nakal dan keras kepala, meskipun kehadiran Altaïr membantu pelayan atau penjaga kastil mengendalikan kenakalannya. 

Beberapa tahun kemudian, Altaïr harus pergi untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah Tinggi Levanṭīnīye. Hal ini menyebabkan intensitas pertemuan atau waktu mereka untuk menghabiskan waktu bersama semakin sedikit. Namun, kebersamaan mereka baru benar-benar berakhir ketika Hanım Fatma dipanggil pulang ke Dulkadir oleh ayahnya. Meskipun pada awalnya sangat berat bagi mereka untuk berpisah, namun mereka sudah cukup dewasa untuk menyadari posisi mereka masing-masing, sebagai bangsawan penting baik di Dulkadir maupun di Salajakiyah. 

Setelah Hanım beranjak dari Kastil di Manisa, Altaïr banyak menghabiskan waktunya di Levanṭīnīye untuk menuntut ilmu untuk mempersiapkan dirinya menjadi Padishah Salajakiyah selanjutnya. Sedangkan Bey Dulkadir memanggil kembali Hanım Fatma untuk membantunya memperkuat posisi politiknya di Dulkadir. 


Memimpin tentara tanpa izin Sultan, untuk menginvasi negara lain, merupakan sebuah pelanggaran tingkat tinggi, bahkan untuk Şehzade   sekalipun. Apapun alasannya, Şehzade   harus dibawa ke sidang militer istana untuk mempertanggungjawabkan tindakan untuk menggunakan angkatan perang tanpa izin. 

Sultan memutuskan untuk tentara yang berpartisipasi dalam invasi ke Dulkadir, mendapatkan pengampunan penuh karena mereka hanya mengikuti perintah dari atasan mereka, Şehzade   Altaïr. Namun dengan satu catatan, mereka tidak berusaha untuk menyembunyikan keberadaan Şehzade   dan bersedia untuk kooperatif dan membantu pencarian dengan tidak menyembunyikan informasi terkait keberadaan Şehzade  . Namun, tidak ada satupun berhasil melacak keberadaan Şehzade  , Kecuali badan intelijen dibawah pasukan Yeŋiçeri, yang bernama Beksiçeri. 

Badan intelijen Beksiçeri, secara akurat selalu berhasil melacak posisi mereka melalui agen-agennya yang cakap. Namun semua kesempatan, kemungkinan mereka gagal meneruskan informasi terkait posisinya. Semua agen Beksiçeri yang berhasil melacaknya selalu langsung dihabisi oleh Şehzade  , yang kebetulan selalu berhasil mengkonfrontasi mereka. Şehzade   menjadi brutal sejak kehilangan tunangannya dan menghabisi siapapun yang berusaha untuk menghalanginya ke Tanah Suci. 

Hanya satu agen Beksiçeri yang Altaïr ampuni nyawanya untuk banyak alasan, bahkan setelah agen tersebut berhasil menemukan posisinya. Altaïr sadar waktunya semakin terbatas. Dia harus secepatnya segera sampai di Tanah Suci. Hal ini membuatnya kesulitan untuk tidur dan terus terjaga malam hampir di sepanjang malam. 

Hal itu juga terjadi di kota oasis tempat dia dan arwah Hanım beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci. Altaïr masih terjaga, untuk mengantisipasi kedatangan agen Beksiçeri yang mungkin datang menyergap setelah dia membiarkan salah satu agennya meloloskan diri.

“Altaïr…Kamu harus beristirahat! Kita sudah melakukan perjalanan panjang melintasi gurun seharian. Apakah kamu tidak kelelahan?” Tanya Hanım

“Hanım, saya baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya.” Jawab Altaïr

Altaïr mencoba beranjak dari posisi duduknya ketika, tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan hampir saja terjatuh. 

“Upss!” ucap Alitair

“Altaïr!!” Teriak yang setengah berlari mendekati Altaïr. 

Meskipun segera memperoleh kembali keseimbangannya, Altaïr yang tanpa sengaja menunjukkan batasan tubuhnya. Kejadian ini membuat kekhawatiran Hanım padanya mencapai puncaknya. Dia tidak mampu lagi berbohong kelelahan dan kondisi tubuhnya yang mulai menurun. 

“Aku sudah Bilang bukan!” Kata Hanım dengan setengah berteriak. 

“Ah… Hanım…ugh…. ini hanya….” Balas Altaïr yang mencoba mengelak. 

“Cukup! Cukup Altaïr! Berhenti mengelak!” Bentak Hanım.

Altaïr terkejut hingga membisu. Sedangkan mata Hanım mulai berkata-kaca dan nafasnya sesegukan karena mulai menangis. Hanım kemudian menundukkan kepalanya, dan meletakkan kedua tangannya di dada. Kemudian melempar pandangannya kembali ke Altaïr. Dia menunjukkan matanya berkaca-kaca, dan meneteskan air mata kecemasan. 

“Bukan kali ini saja kamu terjaga seperti ini! Hampir disetiap malam!  Bahkan…bahkan sebelum kamu memutuskan untuk membubarkan agen itu hidup, kamu…kamu…kamu tidak bisa tidur nyenyak bukan. Aku merasakannya….aku merasakan bagaimana mimpi buruk itu terus menghantuimu! Aku benar bukan!” Lanjut Hanım.

Altaïr hanya terdiam mendengar Hanım memarahinya. Sudah lama sekali sejak terakhir Hanım memarahinya. 

“Hey! Katakanlah sesuatu! Şehzade   Altaïr!” Teriak Hanım.

Altaïr masih terdiam. Namun tiba-tiba ekspresinya berubah, dan dia tidak mampu menahan gelak tawa. Hal ini membuat Hanım kebingungan. 

“Kenapa kamu malah tertawa! Kalau kamu meninggal karena kelelahan….aku…aku. ….akan ” Lanjut Hanım dengan terbata-bata.

“Bukannya dengan itu saya bisa menyusulmu, (bertindak seakan-akan mampu menyentuh pipi Hanım) menyentuhmu, dan terus berada disampingmu…., bukan? hehehehe…” Balas Altaïr dengan setengah tertawa. 

“Itu tidak lucu, Altaïr! Berhenti bercanda tentang kematian! Terutama kematianmu! Kamu tahu…..kamu tahukan…… kalau bukan karena karena kematian, kita bisa…kita bisaa….” Lanjut Hanım 

Dengan spontan, Altaïr, meletakkan jari telunjuk di bibir Hanım untuk meminta berhenti melanjutkan kalimatnya. Hanım tanpa sadar mengikuti keinginan Altaïr dan berhenti berbicara. 

“Fatma sayang, kematian merupakan ketetapan dari Dewa. Menyalahkannya berarti sama saja dengan menyalahkan Dewa. Hal tersebut tidak pantas bukan sebagai hambanya!” Kata Altaïr. 

“Fatma !?? Tapi…..ta—-tapi….” Kata Hanım dengan menahan tangisannya yang hampir pecah.

Al….ta….ïr…aku….” Lanjut Hanım dengan masih berusaha menahan tangisannya.

Wajah Hanım yang sudah dibasahi air mata sudah menunjukkan bahwa dirinya sudah tidak mampu lagi menahan luapan kesedihan dan kepedihan yang sudah dia tahan sepanjang perjalanan. Sedangkan dalam bayangan Altaïr, terbesit kilasan ingatan masa lalu tentang bagaimana Hanım menangis dihadapannya untuk hal yang sepele. Namun ketika dia melihat arwah Hanım kembali akan menangis di hadapannya, dengan tubuh remajanya, bukan anak-anak lagi seperti dimasa lalu, Altaïr tidak kuasa menahan hasratnya pada Fatma. 

Tanpa keraguan sedikitpun, Altaïr dengan dalam melakukan hal seperti halnya dia mencium Hanım Fatma dengan dalam. Namun, tidak sedikitpun kehangatan, kelembutan dan wangi bibirnya mampu Altaïr rasakan. Hanya dinginnya malam, kekosongan dan kehampaan yang dia rasakan. Meskipun demikian, Altaïr tetap melakukan nya seakan-akan dia benar-benar dapat merasakan Fatma di bibirnya. 

Hanım yang tinggal arwahnya saja saat ini tanpa sadar melupakan kesedihan dan kepedihan yang tadinya memenuhi hatinya. Dia tidak mampu merasakan apapun. Benar benar tidak mampu merasakan apapun, baik dingin, panas, dan kehangatan, apalagi aroma dari Altaïr. Dan tanpa sadar dia juga tenggelam dalam ilusi kepalsuan yang mungkin serupa, atau bahkan sama dengan yang ilusi yang kini menipu Altaïr. Mereka hanyut terlalu dalam, dan kepalsuan yang mereka lakukan menjadi nyata.

Altaïr mendorong Fatma hingga terbaring diatas atas kasur tempatnya beristirahat. Dia akhirnya dapat menyentuh Fatma dan merasakan kehangatan tubuhnya malam itu. Mata mereka terpaut, dan memperhatikan wajah Hanım yang dia cintai sejak kecil dengan seksama. Wajah Fatma memerah karena malu diperhatikan oleh Altaïr. 

Keduanya tidak sadar, sejak kapan mereka saling jatuh cinta satu sama lain. Perasaan ini mulai tumbuh sejak mereka tinggal Di Manisa, dan semakin kuat sejak mereka berpisah. Dengan semakin faksi pro-Mamalik di Dulkadir, sejak aneksasi Beylik Haramian, kekuatan politik di Bey Dulkadir perlahan melemah. Ancaman oposisi yang semakin menguat, serta Sultan Aḥmed yang mengkhawatirkan pengaruh Mamalik yang semakin, menyebabkan Bey Muhammad dari Dulkadir memutuskan menerima tawaran pertunangan putrinya dengan Şehzade   Salajakiyah. Hal ini awalnya sangat ditentang oleh Şehzade  , mengingat masih lemahnya kekuatan militer Sultan di wilayah itu sejak banyak tentara yang dialihkan ke Haramian. Şehzade   mengkhawatirkan pembalasan dari oposisi pro-Mamalik di Dulkadir yang terancam. Bahkan Şehzade   mengumpulkan tentara secara rahasia yang berada langsung dibawah komandonya untuk disiagakan di sekitar Dulkadir.  

Dan benar saja, kudeta berdarah terjadi di Dulkadir. Meskipun dengan semua persiapan yang telah dilakukan , Şehzade   gagal menyelamatkan nyawa Hanım. Penyesalan yang menghantuinya terus menjadi mimpi buruk baginya. Dan sejak itu pula, hubungan dengan ayahnya menjadi semakin renggang.

Malam itu, Altaïr semakin dalam mencumbu Fatma. Tangannya mulai menjadi liar dan menjamah bagian tubuh sensitif Fatma. Fatma pun berusaha menahan desahan erostisnya, meskipun hal itu justru membuat Altaïr semakin bergairah. Mereka benar-benar hanyut aliran hasrat satu sama lainnya. 

Namun semua itu berakhir ketiak ilusi kepalsuan pada akhirnya itu pecah. Altaïr sadar bahwa sebenarnya tidak pernah menyentuh Fatma selama ini. Sensasi kehangatan dan kelembuatan yang dirasakannya sebelumnya kini kembali menjadi dingin dan penuh kehampaan. Keduanya tersadar dari khayalan mereka masing-masing, yang kebetulan paralel. Mereka telah tersadar dari kepalsuan yang mereka ciptakan dan kembali ke dunia nyata.

Mata mereka saling bertemu, dan kedua secara bersalaman memalingkan wajahnya satu sama lain. Mereka sudah kembali sadar, dan merasakan sangat malu dengan apa yang hampir mereka lakukan sebelumnya. Dan ketika mata mereka sekali lagi saling menatap, keduanya sadar bahwa kebersamaan mereka akan segera berakhir, cepat atau lambat. Pada akhirnya, mereka dapat mengungkapkan perasaaan cinta masing-masing dengan formal, yang menjadi simbolisasi perasaan cinta masing-masing yans selama bertahun-tahun terpendam. Terpendam hingga kematian memisahkan mereka. Kemudian mereka menghabiskan waktu untuk saling memeluk bertindak seakan-akan saling memeluk satu sama lain.  

Setelah perjalanan melintasi gurun yang melelahkan, akhirnya mereka tiba di Qaba, Qaba, merupakan tempat yang dahulu digunakan persinggahan dalam Migrasi Suci. Di sini terdapat kuil suci yang disebut Kuil Persinggahan. Yang berarti sekarang kami telah tiba di Tanah Suci. Atau setidak wilayah yang secara administratif merupakan bagian dari Tanah Suci. 

Tanah Suci sendiri merupakan sumber dari kepercayaan Dewa yang Maha Satu. Disini, terdapat Kuil Hitam Agung yang merupakan tempat paling suci dalam kepercayaan ini. Secara administratif, wilayah Tanah Suci daerah otonomi khusus yang dipimpin oleh seorang Sharīf, dibawah kekuasaan dan perlindungan dari Kesultanan Mamalik, rival utama Kesultanan Salajakiyah.

Setibanya di Qaba, Altaïr pada akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Bayangan penyergapan dari agen-agen Beksiçeri bahkan korp Yeŋiçeri masih menghantui pikirannya. Namun, setidak kini mereka sudah tiba di Tanah Suci, tujuan mereka telah tercapai. Mereka menghabiskan waktu selama 2 malam di Qaba, dengan Altaïr, pada akhirnya bisa tidur dengan nyenyak di malam hari. 

Sebagai arwah, Hanım tidak merasakan lelah, lapar, dan batasan kemanusiaan lain. Meskipun demikian dia sangat khawatir dengan kondisi yang dialami oleh Altaïr selama perjalanan yang selalu diliputi paranoia dan kecemasan. Sehingga Hanım sangat lega ketika pada akhirnya bisa menghabiskan malamnya dengan tenang. Meskipun ketenangan mereka tidak berlangsung lama.

Selepanya dari Qaba, mereka tiba-tiba disergap dan dikepung gerombolan penunggang kuda. Awalnya Altaïr berpikir bahwa penunggang kuda tersebut merupakan penyamun, meskipun sebenarnya tidak terpikir dalam benaknya ada penyamun yang berani merampok ziarawan yang sedang berada di Tanah Suci, kecuali orang yang benar-benar gila. Dan, benar saja, dari potongan baju zirah yang digunakan , serta wajah bertopeng yang tersibak dari jubah penunggang kuda tersebut, mereka merupakan korp Yeŋiçeri. Dan Hanım, meskipun merupakan arwah, namun ia tidak dapat menyembunyikan ketakutannya. Dia bertindak seakan-akan mampu menyentuh pundak Altaïr dan berusaha bersembunyi di balik punggungnya. Altaïr pun tanpa sadar bertindak seakan-akan dia berusaha menyembunyikan Hanım dibelakangnya. Meskipun, sebenarnya gimmick yang mereka lakukan sebenarnya tidak ada gunanya.  

Setelah turun dari kudanya, penunggang kuda tersebut membuka jubah dan menunjukkan diri mereka sebagai bagian korp Yeŋiçeri. Mereka Beksiçeri Altaïr tidak mampu memastikan, karena hampir tidak ada batasan atau perbedaaan antara keduanya. Lebih mengejutkan lagi, Altaïr menemukan salh satu dari mereka tidak atau mungkin baru saja melepas topengnya. 

Rambut panjang kemerahan yang berkilauan memantulkan teriknya matahari di Tanah Suci, kulit kaukasoid dengan banyak bekas luka disekitar wajah dengan bekas luka di pipi kiri yang paling menonjol. Dan bola mata biru terang yang dalam bayangan menatap cerah dan bersinar, namun kini menatapnya dengan dingin dan kosong. Altaïr sangat mengenalnya, jauh sebelum ia jatuh cinta dengan Hanım.

“Charlotte…..” Sahut Altaïr dengan sangat getir.

Charlotte, membacakan secara singkat surat penangkapan dengan cap kesultanan di dalamnya.  Charlotte berusaha untuk memalingkan wajahnya dan menghindari kontak mata dengan Şehzade  . Setelah menunjukkan cap kesultanan sebagai bukti legalitas dokumen, dia kemudian membacanya secara singkat isi surat tersebut.

“Şehzade   Altaïr Çelebi Salajakoğlu, Anda ditangkap atas tuduhan penyalahgunaan kekuatan dan menggunakan angkatan bersenjata tanpa izin! Saya harap Anda dapat bersikap kooperatif! Hai ini akan meringankan dalam persidangan.”

Dengan tatapan kosong dan penuh kehampaan, Charlotte membacakan surat perintah penangkapan dengan lantang dan terasa dingin tanpa emosi sama sekali. Sepertinya mereka mereka orang asing satu dengan lainnya. 

“Apa yang mereka lakukan kepadamu,….Charlotte? sahut Altaïr dengan nada sedih.

Charlotte, merupakan agen Beksiçeri terakhir yang berhasil melacak dan berusaha menangkap Altaïr (charlotte tidak bisa melihat Hanım). Dia gagal dan ketika Altaïr berusaha menghabisinya, identitasnya terbongkar lebih dahulu. Hal ini sangat mengejutkan bagi Altaïr. Dia tidak mungkin menghabisinya, karena dia adalah teman masa kecil yang sangat berharga baginya saat masih tinggal di Istana. Dia kemudian melarikan diri bersama Hanım sebelum charlotte kembali siuman. 

Hanım menatap Charlotte dan Altaïr dengan penuh kebingungan. Apakah mereka sebelumnya saling mengenal? Sedangkan di samping charlotte, seseorang bergerak mendekati Altaïr seraya membuka topeng dan menunjukkan topengnya. Dibalik topeng itu, tampak perawakan yang sangat familiar di mata Altaïr dan Hanım.

“(H)Tuan Zaganos Pasha-(A)Ah….., Lama tidak jumpa,…. Guru.”Ucap Altaïr dan Hanım dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Akhirnya setelah cukup lama, kami bisa melacak mu. Sebenarnya, Beksiçeri telah berkali-kali menemukan keberadaan, sayangnya Şehzade   selalu tidak membiarkan agen-agen tersebut untuk kembali hidup-hidup. Beruntung, kami memiliki dan mengutus dia (sambil menepuk pundak Charlotte). Aku rasa mencegahnya masuk harem istana merupakan keputusan yang….”

Zaganos memulai percakapan.

“Apa yang selama ini kamu lakukan terhadap Charlotte, Sialan !!? Anda mencuci otaknya bukan !?” Potong Şehzade   seraya menarik bilah pedang yang tersimpan di pinggangnya. 

Melihat Şehzade   menarik pedang, dengan refleks, semua pasukan Yeŋiçeri yang mengepungnya seketika juga menarik pedang dan memasang posisi siap bertarung, dalam waktu yang hampir bersama. Kecuali Zaganos, bahkan Charlotte bersama pasukan Yeŋiçeri lainnya mengacungkan pedangnya ke arah Şehzade  . Situasi pun menjadi panas dan tegang. Zaganos Pasha, dengan wajah yang nampak sedikit kecewa, berusaha untuk mencairkan situasi dan meredakan ketegangan.

“Sigh…, memang tidak ada cara lain ya ?” gerutu Zaganos

“Komandan, mundurlah.” bisik Charlotte sebari berusaha untuk melindunginya.

“Baiklah…. Cukup! Yeŋiçeri! Turunkan senjata kalian” Ucap Zaganos lantang sebari menepuk pundak Charlotte dengan keras. Cukup keras hingga Charlotte terkejut.

“KYYYAAAAAAHHHHH”

Pasukan Zaganos termasuk Charlotte perlahan menurunkan pedang yang sebelumnya mereka acungkan ke Şehzade  . Sedangkan Şehzade   sendiri masih mengacungkan bilah pedangnya ke Zaganos, sebelum akhirnya ikut menurunkannya. Ketegangan yang terjadi sebelumnya perlahan mereka. Sedangkan Zaganos, justru dengan memegang pedang di pinggangnya melanjutkan narasinya.

“Sebagai komandan, aku tidak ingin bertanggung jawab memulai pertumpahan darah. Terutama di Tanah Suci. Alasanku menyergapmu disini juga untuk meminimalisir pertumpahan darah yang mungkin terjadi saat penangkapan. Tapi, memang pada akhirnya…(perlahan menarik pedang dipinggangnya)…penangkapan memang mengharuskan pertumpahan darah, Şehzade  .” Ucap Zaganos.

Melihat Zaganos menarik pedangnya, Altaïr kembali mengacungkan pedang yang sebelum diturunkan, ke leher Zaganos. Dan Zaganos juga melakukan hal yang serupa. Mereka pun memasang sikap siap masing-masing untuk bertarung.

“Begini perjanjiannya! Kamu menang, kamu akan mendapatkan penangguhan penangkapan selama 10 hari. Aku menang, kamu harus menyerahkan diri! Setuju?” Cetus Zaganos.

“Terdengar tidak adil ?” Balas Şehzade  

“Saya harus mengalahkanmu hidup-hidup. Sedangkan kamu tidak. Apakah masih kurang adil ?” Lanjut Zaganos

“Sigh….! Baiklah! Aku terima!” Sahut Şehzade   dengan lantang. 

Untuk meminimalisir pertumpahan darah, Zaganos Pasha memutuskan untuk menantang Şehzade   dalam duel pedang. Tantangan ini diterima oleh Şehzade   Altaïr, berikut dengan aturannya. Selama duel, Zaganos menitipkan komando pasukan Yeŋiçeri kepada Charlotte. Meskipun meragukan keputusan komandannya, namun, Zaganos memastikan bahwa semua akan baik-baik saja. Zaganos tahu kehormatan dan kebanggaan dinasti Salajakoğlu yang mengalir di nadi Şehzade  . Zaganos yakin bahwa Şehzade   pasti akan mengikuti apapun hasil dari duel ini, dan tidak melanggar maupun melarikan diri. Mendengar penjelasan, membuat Charlotte teringat potongan kenangan masa kecilnya saat bersama Şehzade  . Hal ini tanpa sadar membuatnya matanya berkaca-kaca.

Sedangkan, Hanım, dengan penuh kecemasan berusaha menghentikan Şehzade   dari pertarungan dengan Zaganos. Dia sangat takut sesuatu terjadi terhadap Şehzade  . Hanım masih mengingat bagaimana, Şehzade   selalu gagal mengalahkan Zaganos selama latihan di Kastil Manisa. 

Namun ketika Hanım menatap mata Şehzade  , dia sadar betapa kuatnya pendiriannya saat ini. Seperti masa lalu, Hanım tidak memiliki kemampuan untuk menggoyahkannya. Şehzade   secara spontan bertindak seakan akan dia sedang mencium Hanım. Masih, dalam delusi tentang bagaimana kehangatan dan kelembutan yang dimiliki Hanım. 

“Saya mencintaimu, Fatma!” bisik Şehzade  

“Altaïr, aku juga….! Oleh karena itu, kembali dengan selamat! Urusan kita di tanah suci belum selesaikan di Tanah Suci, bukan ?” balas Hanım dengan mata berkaca-kaca.

“Saya berjanji, Fatma !” lanjut Şehzade  

Dengan berat hati, Hanım melepaskan Altaïr, yang kemudian maju untuk bertarung melawan Zaganos. Sebelum memulai pertarungan, Zaganos sempat membuka percakapan singkat sebelum duel.

“Sepertinya ada sesuatu yang perlu aku beritahu sebelum duel” Kata Zaganos Pasha

“Lakukan dengan cepat! Saya tidak punya banyak waktu untuk mendengar ceramah dari Anda.” Balas Altaïr

“Sigh…..!.Jadi, kamu tahu alasan mengapa kami tidak segera menyergapmu ketika kami sebenarnya telah berhasil melacak lokasi mu? Itu karena Charlotte masih mencemaskan kondisi pada saat itu. Gadis itu tidak ingin menyergap orang yang kurang tidur, makan, dan kelelahan. Kami akhirnya membiarkan kamu dapat beristirahat di Qaba, dan baru menyergapmu dalam kondisi prima. Dia sepertinya masih sedikit mencemaskanmu” Jelas Zaganos.

“Aneh sekali. Logikanya harusnya anda menyergap seseorang tidak dalam kondisi fitnya bukan ?.” Sahut Altaïr.

Dan dengan demikian, Duel perang antara guru dan muridnya dimulai. Meskipun bukan merupakan keharusan, tetapi semua yang menonton duel ini sadar bahwa duel ini baru akan berakhir jika salah satu dari mereka terbunuh. Bahkan Zaganos yang sebenarnya harus menangkap Şehzade   hidup-hidup memancarkan aura untuk membunuh yang sama kuatnya dengan Şehzade  , yang sedang terbakar amarah karena Charlotte.

Şehzade   memulai inisiatif serangan dengan beberapa serangan beruntun. Semua berhasil ditangkis dengan mudah oleh Zaganos. Setelah rentetan serangan Şehzade   berakhir, Zaganos membalas dengan serangkaian serangan teratur yang sulit ditangkis oleh Şehzade  . Rentetan serangan balasan ini perlahan membuka pertahan Şehzade   dan memungkinkan Zaganos melancarkan serangan mematikan secara langsung terhadap Şehzade  .

Şehzade   berhasil menghindari serangan tersebut, namun serangan tersebut ternyata berhasil menggores bahu kiri Şehzade  , yang dia sadari dari robekan dan noda darah yang mengotori jubah yang Şehzade   dikenakan. Hal ini membuat Şehzade   terlihat sedikit panik. 

Memanfaatkan kebingungan lawannya, Zaganos mengambil inisiatif serangan. Rentetan serangan Zaganos mampu ditangkis oleh Şehzade  , namun hal itu membuat pertahanannya melonggar sebagaimana yang zaganos harapkan. Ketika pertahanannya terbuka , Şehzade   menangkis serangan dengan kekuatan yang berlebihan. Hal mengganggu ritme serangan Zaganos, yang membuatnya tidak mampu memanfaatkan cerah yang sudah susah payah dia ciptakan sebelumnya. Hal ini membuat kehilangan sedikit kekuatan untuk menangkis serangan kuat dari Şehzade  . Beruntungnya luka yang ditimbulkan tidak terlalu dalam karena Zaganos sempat membelokkan arah serangan. 

Meskipun memiliki keunggulan dalam teknik berpedang, namun zaganos kesulitan  untuk menangkis serangan Şehzade   yang masuk. Sedangkan Şehzade   hanya mengandalkan kekuatan kejut untuk mendobrak pertahanan Zaganos, karena tidak mampu mengimbangi teknik berpedangnya. Duel ini menjadi sangat berimbang. Tidak satupun pihak berhasil memanfaatkan keunggulan yang dimiliki untuk menekan lawannya. 

Sejam berlalu, setelah pertempuran pedang yang intens dengan jual beli serangan, dan saling memotong rentetan serangan masing-masing, serta melancarkan serangan balasan yang mematikan. Baik Şehzade   dan Zaganos sama-sama sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Namun belum ada satupun yang meraih keunggulan. Pada akhirnya, duel ini menjadi duel ketahanan, dimana Zaganos kurang diuntungkan dalam pertarungan semacam ini. Meskipun memiliki keuntungan karena menggunakan baju zirah di balik jubahnya, itu justru mengharuskan Zaganos harus secepatnya mengakhiri duel dengan melakukan serangan telak yang menentukan, sebelum tubuhnya tidak lagi cukup kuat melakukan serangan semacam itu. 

Sekali lagi, serangan demi serangan efektif dari Zaganos sukses membuka celah dalam pertahan Şehzade  . Dia berhasil menacing Şehzade   menggunakan serangan kuatnya ke tempat yang salah, membuatnya pertahanannya terbuka. Şehzade   bertindak cepat dengan menutup celah tersebut. Namun, hal itu membuat kehilangan kontrol terhadap bilah pedangnya, sehingga pedangnya terlempar cukup jauh. Melihat lawannya kehilangan senjatanya, Zaganos justru kehilangan fokus dan kesabarannya yang menjadi keunggulannya selama duel. Akibatnya, dia melakukan serangan yang terburu-buru. Dengan mudah serangannya terbaca dan mampu dihindari oleh Şehzade  . Dan Şehzade   tidak berhenti di situ.

Bencana dimulai ketika Şehzade   tanpa diduga memanfaatkan teknik gulat yang pernah dipelajarinya. Şehzade   menggenggam erat tangan Zaganos. Kemudian dia membanting Zaganos sebelah kiri dengan kekuatan yang luar biasa. Şehzade   membantingnya beberapa kali lagi, kekanan, kedepan, sebelum terakhir melemparnya ke belakang. Zaganos yang sedikit terkejut tidak mampu memberikan respons atau perlawanan yang berarti. Baju zirah yang digunakan Zaganos secara ironis memperparah dampak dari serangan tersebut. Perlu waktu beberapa detik sebelum zaganos mampu kembali bangkit setelah beberapa kali dibanting oleh Şehzade  . Sedangkan Şehzade   memanfaatkan kondisi lawannya untuk mengambil kembali bilah pedang yang terlempar sebelumnya. 

Dampak bantingan dari Şehzade   mengakibatkan kemampuan dan teknik berpedang Zaganos tidak sebaik sebelumnya. Meskipun mengambil inisiatif menyerang untuk menyembunyikannya, Şehzade   sangat merasakan kemampuan berpedang gurunya turun drastis semenjak membantingnya beberapa kali. Berusaha memanfaatkan momentum tersebut, Şehzade   berbalik mengambil inisiatif serangan. Rentetan serangan yang dilancarkan Şehzade   pada akhirnya berhasil membuka lebar pertahanan rapi yang dipertahankan oleh Zaganos sepanjang duel sebelumnya. Mengingat bahwa Zaganos menggunakan baju zirah Yeŋiçeri, Şehzade   memutuskan mengakhiri duel dengan menikam dada kiri Zaganos. 

Seketika, suasana hiruk-pikuk duel berubah menjadi tenang dan sunyi. Zaganos menjatuhkan bilah pedang yang digenggam dengan mantap sepanjang duel. Şehzade   merasakan darah Zaganos yang mengalir deras membasahi bilah pedang dan tangannya. Perlahan Şehzade   menarik bilah pedangnya, dan mengambil jarak dari Zaganos. Dia melihat luka tikaman yang terus mengeluarkan darah  di dada kiri Zaganos. Tangan kanan Zaganos menahan luka di dadanya, sedangkan tangan kirinya menahan mulutnya yang terus memuntahkan darah. Sedangkan Şehzade   berdiri dihadapannya seraya berusaha mengatur ritme nafasnya. 

Zaganos kemudian roboh berlutut,yang membuat Charlotte dan sebagian pasukan Yeŋiçeri di sekelilingnya berusaha menopang tubuhnya. Semua yang melihat kejadian itu sadar Zaganos yang sekarat itu sudah tidak tertolong lagi. Şehzade  , menahan dan menyembunyikan emosi yang dia rasakan saat itu. Setelah mengibaskan pedangnya, kemudian ia menyarungkan kembali pedang itu di pinggangnya. Şehzade   menghampiri Hanım yang sedang menangis melihat konklusi dari duel yang baru saja berakhir. 

Seolah-olah menepuk pundak Hanım, Şehzade   bertindak seakan-akan hendak menghiburnya. Kemudian Hanım merespons gimmick tersebut dengan memeluk Altaïr, dan menangis dalam pelukannya. sedangkan pasukan Yeŋiçeri di dekatnya membukakan jalan bagi Şehzade   untuk melanjutkan perjalanan. 

“Şehzade   Altaïr! Tunggu!” teriak Zaganos dengan sisa kekuatan yang masih dimilikinya. 

“Dia….gadis nakal itu……bersamamu….., bukan ? Urrgggh! ” Ucap Zaganos yang kembali muntah darah.

Şehzade   akhirnya sadar, selama ini, Zaganos, atau mungkin seluruh pasukannya menyadari gimmick yang selama ini dia lakukan dalam kepada Hanım, atau sikap yang menunjukan bahwa Şehzade   tidak sedang melakukan perjalanan sendirian.

“Sampaikan….urrggghh….salam….maafku…. Hanım….Fatma…. dari Dulkadir…Şeh….zade .” Kata Zaganos.

“Baiklah…guru! Dan…. Terima kasih atas untuk semuanya!” Sahut Şehzade .

Seakan tidak ingin melihat akhir hidup dari Zaganos, Şehzade   segera bergegas meninggalkan lokasi duel sebelumnya, dan melanjutkan perjalannya ke selatan, dengan tujuannya adalah Kuil Hitam Agung. Meskipun demikian, Şehzade   sempat sekali menengok kebelakang, dan mendapati air mata di wajah Charlotte yang sedang membantu menopang tubuh Zaganos. Şehzade   segera memalingkan kembali pandangannya ke depan, tanpa pernah sekalipun kembali menengok kebelakangnya lagi.


Tanah Suci, seperti namanya, merupakan tempat paling suci dalam Kepercayaan Dewa yang Maha Satu. Sebagai saksi mata perjuangan awal yang beriku dalam penyebaran wahyu dan ajaran Dewa Yang Maha Satu, wilayah ini merupakan destinasi utama untuk ziarah religi. Semua penganut kepercayaan ini datang ke Tanah dari berbagai sudut dunia, untuk menjalani rangkaian ritual dogmatik  yang dipraktekkan dan dipertahankan sejak lebih dari 7 abad yang lalu. 

Pernah menjadi pusat kekuatan spiritual dan politik di masa lalu, kini Tanah Suci hanya menjadi pusat peribadatan dan spiritual para penganut kepercayaan Dewa yang Maha Satu. Kini tanah suci secara bukanlah kekuasaan politik yang kuat apalagi Independen, setidaknya dalam nama. Sejak teokrasi, kekuatan politik yang berpusat di Tanah Suci tumbang, wilayah ini selalu jatuh di bawah perlindungan penguasa kuat dan religius yang terus berganti setiap waktunya. Bagi mereka, menguasai Tanah Suci merupakan suatu pencapaian yang paling prestisius yang mungkin penguasa dunia dapatkan dalam hidup, selain karena beberapa alasan duniawi untuk seperti lokasinya yang strategis sebagai pos perdagangan internasional. 

Meskipun selalu di bawah perlindungan penguasa dari luar, mereka lebih sering menjadi penguasa nominal saja, karena administrasi wilayah ini secara langsung kepada penguasa lokal , yang disebut Sharīf. Kekuasaan dan otonomi yang dimiliki oleh Sharīf Tanah Suci juga sangat dinamis, dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hal ini bergantung kepada seberapa kuat kontrol penguasa pusat terhadap Sharīf. 

Penguasa Tanah Suci saat ini, Kesultanan Mamalik, secara administrasi menerapkan kontrol langsung terhadap Tanah Suci. Sharīf Tanah Suci merupakan utusan sekaligus perpanjangan tangan kekuasaan Sultan Mamalik di Tanah Suci. Namun dalam prakteknya, terkadang Sharīf ini memerintah layaknya penguasaan bawah, setara amir atau bey. Hal ini terkadang terjadi karena jaraknya yang cukup jauh dari pusat kekuasaan, dan pergolakan politik yang melemahkan kontrol pusat terhadap Sharīf yang berkuasa di Tanah Suci.

Namun demikian, Ketika Sultan Muzaffar Al-Ikhwan Burj berhasil menuntaskan pergolakan politik di Mamalik, ketika Şehzade  tiba di Tanah Suci, dia mendapati dirinya mampu bergerak lebih leluasa dibandingkan saat wilayah kekuasaan Mamalik lainnya. Sharīf di sana lebih seperti penjaga ketertiban umum daripada pejabat Kesultanan Mamalik. Hal ini diperparah dengan renggangnya hubungan Sharīf dengan Sultan yang berkuasa saat ini . Lemahnya kontrol Mamalik di Tanah Suci juga memungkinkan pasukan asing seperti Yeŋiçeri atau Beksiçeri dari Salajakiyah mampu beroperasi dengan bebas dan bertindak di luar wilayah yuridiksinya. Dan selama mereka tidak menggangu ziarawan dan ketertiban umum di Tanah Suci, Sharīf dan otoritas Tanah Suci tidak akan bertindak.  Hal itu pula yang mungkin menjadi alasan Zaganos baru bisa menyergapnya setelah memasuki wilayah Tanah Suci.

Ziarah ke Tanah Suci sendiri merupakan sebuah ibadah yang wajib dijalankan bagi setiap individu yang beriman kepada Dewa YMS. Dia akan berdosa jika mampu untuk melakukannya, namun memilih untuk mengabaikannya. Banyak rumor dan keajaiban yang dapat terjadi disini, mulai dari mata air suci yang tidak ada habisnya hingga rumor pasangan yang berziarah bersama akan bersama selamanya jika mereka memohon demikian kepada Dewa (Meskipun permohonan kepada Dewa lebih sering terkabul selama menjalani ibadah ziarah).

Pergi untuk berziarah bersama orang-orang yang dia sayangi merupakan hal yang sangat dia inginkan sedari kecil, agar permohonannya untuk bisa hidup bersama Şehzade  selamanya bisa terkabul. Keinginan sederhana yang tidak pernah tercapai, karena banyak hal, hingga kematian menjemputnya. Hal yangg mungkin menyebabkannya enggan untuk meninggalkan dunia dan melanjutkan perjalanan ke kehidupan setelah kematian. Şehzade  menuntunnya ke Tanah Suci dengan tujuan selain untuk mengabulkan keinginannya, juga untuk membuat Hanım bisa melanjutkan perjalan ke kehidupan setelah kematian, menyusul kedua orang tuanya. 

Namun sebenarnya, Şehzade  memiliki harapan tersendiri. Dia ingin memohon kepada dewa untuk dapat kembali lagi hidup bersama dengan Hanım. Şehzade  yakin bahwa permohonan selama ziarah ke Tanah Suci akan terkabul. Entah seberapa tidak masuk akalnya permohonannya itu, seperti menghidupkan orang mati. Untuk memenuhi harapan itu. bahkan Şehzade  rela untuk menentang ayahnya, menyalahgunakan wewenang dan melarikan diri dari tanggung jawab, menjadi buronan, dan pada akhirnya membunuh guru dan bawahan favorit ayahnya, Zaganos Pasha, hanya karena Zaganos berusaha menghalangi  perjalanannya ke Tanah Suci. Meskipun demikian, ia tidak menyesal sama sekali. Şehzade  sangat mencintai Hanım, dan dia akan rela melakukan apapun jika memang ada secercah harapan untuk dapat kembali bersama Hanım.

Akan tetapi, perlahan Şehzade  melihat bahwa dirinya semakin sulit melihat keberadaan Hanım. Arwah Hanım menjadi semakin pudar setelah mereka memasuki tanah suci. Hal ini semakin kentara ketika mereka sudah semakin dekat dengan Kuil Hitam Agung. Selain semakin, sulit untuk dirasakan keberadaannya, Arwah Hanım juga hampir tidak terlihat lagi dalam pandangan nya. Arwahnya semakin transparan, seakan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini baru terjadi sejak keduanya tiba di Tanah Suci, dan Şehzade  baru saja menyadarinya. Şehzade  mengambil kesimpulan bahwa semakin melemahnya keberadaan Hanım berkorelasi dengan keberadaan mereka di Tanah Suci itu Sendiri.

Sebelum Hanım benar benar lenyap, Şehzade  menghenikan perjalanan mereka ke Kuil, dan meminta pendapat Hanım terkait keanehan yang terjadi. Hanım sedikit tertegun, dan membatu beberapa saat. Kemudian dia menundukkan kepalanya.

“Sepertinya….tidak ada yang bisa kusembunyikan lagi dari Altaïr” Kata Hanım.

Hanım dengan berat hati mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi ketika kudeta berdarah terjadi di Dulkadir. Kenyataan bahwa bukan keinginan atau harapannya yang sangat kuat untuk berziarah atau menghabiskan waktu lebih lama bersama Şehzade  yang sebenarnya menyebabkannya terjebak dan tidak bisa melanjutkan ke kehidupan setelah kematian. Melainkan apa yang terjadi menjelang kematian Hanımlah yang menyebabkannya tertahan menjadi arwah gentayangan. 

Ketika kudeta berdarah terjadi, penjaga istana pro-Mamalik yang telah bekerja sama dengan konspirator bertarung dan menghabisi penjaga istana yang loyal. Penjaga loyal yang lebih sedikit dengan cepat di babat habis. Bey Muhammad bertarung bersama penjaga-penjaga loyal yang masih tersisah untuk melindungi wanita dan anak-anak yang ada di dalam istana. Setelah bertarung dengan gigih dan heroik, Bey Muhammad terbunuh dengan kepala yang terpenggal serta belasan anak panah tertancap di tubuhnya. Di meninggal bersama orang-orang yang masih loyal padanya hingga akhir. 

Sedangkan wanita dan anak-anak di istana yang dipimpin oleh Hanım Fatma melarikan diri dari Istana Marasha melalui jalan rahasia menuju Kayseıri. Rencananya mereka akan meminta suaka ke Salajakiyah  dengan bantuan langsung dari Şehzade  Altaïr Celebi Salajakoğlu yang kebetulan sedang berada di sana. Namun usaha mereka gagal, karena seorang konspirator mengetahui tentang rencana tersebut, termasuk jalan rahasia yang mereka gunakan. Konspirator Pro-Mamalik itu mencegat mereka di pintu keluar jalan rahasia. Hanım Fatma bersama beberapa pelayan yang mampu bertarung melawan para pencegat tersebut, dan memberikan kesempatan untuk beberapa dari mereka melarikan diri. 

Seperti ayahnya, Muhammad, Hanım Fatma bertarung tidak kalah heroik. Berbekal kemampuan berpedang yang dipelajari selama di Manisa, Hanım bahkan berhasil mengalahkan seorang pencegat tersebut. Namun keadaan tiba-tiba berbalik ketika pasukan pro-mamalik datang membantu para pencegat. Hanım dan sekutunya terdesak. Satu-persatu pelayan dan penjaga setia yang selalu berada di sininya jatuh satu-persatu. Melihat orang-orang yang peduli dengannya terbunuh satu-persatu membuat Hanım tidak mampu menahan emosinya. Dia bertarung tanpa arah dengan serangan yang hanya dipenuhi kemarahan, tanpa arti. 

Gadis tidak berdaya itu dipermainkan oleh para konspirator. Dengan membunuh dan menyiksa orang-orang yang sebelumnya bertarung bersamanya, Hanım semakin jatuh dalam keputusasaan. Hanım masih berusaha bertarung meskipun dia tahu itu sia-sia. Dan serangan balik dari para konspirator tersebut membuatnya semakin tidak berdaya. Dengan luka di sekujur tubuh, pakaian penuh robekan, dan pertarungan tanpa peluang untuk menang bahkan melarikan diri, masih ada asa dan harapan di matanya. Harapan bahwa Şehzade  Altaïr, orang yang paling dia cintai, akan datang dan menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan orang-orang yang peduli padanya. Seperti halnya pangeran berkuda putih, atau pahlawan kesiangan yang datang menyelamatkannya di saat terakhir. Namun keajaiban itu tidak pernah terjadi.

Waktu berlalu, harapan itu semakin meredup. Begitu juga semangatnya untuk terus bertarung. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada keajaiban. Kepala Hanım mulai pusing karena telah kehilangan cukup banyak darah. Keseimbangannya mulai kacau. Hanım mulai kesulitan untuk berdiri, bahkan untuk bertarung. Sedangkan konspirator pro-Mamalik yang menjadi lawannya berusaha untuk melemahkan resolusi bertarungnya, dan menangkapnya hidup-hidup. Mereka masih membutuhkan untuk Hanım Fatma tetap hidup dan menuruti kehendak mereka.

Untuk itu, mereka terus berusaha untuk membuatnya menderita hingga menyerah. Mulai dari membunuh pelayan dan penjaga yang sekarat di depan matanya, mempermainkan jasadnya jika telah terbunuh, bahkan memamerkan kepala anak kecil yang terpenggal (bagian dari kelompok yang mencoba melarikan diri ke   Kayseıri). Namun tindakan kejam tersebut bukannya membuat Hanım menyerah karena putus asa, namun membuatnya semakin marah dan terus mengutuk tindakan keji yang dilakukan oleh konspirator tersebut. Semangat Hanım untuk bertarung semakin tinggi, akan tetapi kondisi fisiknya semakin lemah, hampir tidak mampu bertarung lagi. Meskipun demikian, Hanım sempat melancarkan serangan fatal yang melukai lawannya, membuatnya hampir terbunuh.

Pencegat itu akhirnya sadar bahwa usaha mereka untuk menjinakkan Hanım sia-sia. Meskipun berhasil pada akhirnya, nyawa Hanım sendiri mungkin tidak tertolong lagi. Mereka memutuskan untuk menghabisi nyawa Hanım dan menggunakan kepalanya sebagai peringatan di pintu gerbang Marasha. Dipercayakan beberapa orang untuk tugas ini, sedangkan yang lain beranjak untuk mengurus pemindahan kekuasaan.

Hanım Fatma yang hanya hampir tidak mampu lagi berdiri, hanya mengayun-ayunkan pedangnya tanpa arah. Salah satu eksekutor memotong tangannya, membuat pedang Hanım terlepas. Eksekutor yang lain menebas punggungnya dan membuatnya tidak berdaya. Namun bukannya langsung mengeksekusi Hanım dengan memenggal kepalanya, ketiga eksekutor tersebut justru tega menghancurkan kehormatan gadis yang tidak berdaya tersebut dengan memperkosanya bergiliran. Mereka memotong sisa tangan dan kaki yang gadis tersebut ketika mencoba melawan, hingga dia tidak mampu memberikan perlawanan lagi.

Rasa sakit baik secara fisik maupun mental yang dialami Hanım selama penyiksaan membuat pikirannya melayang. Tanpa sadar, gadis sekarat itu membayangkan orang yang memperkosanya itu sebagai orang yang dicintainya, yaitu Şehzade  Altaïr. Hal itu sedikit mengobati luka psikis yang gadis itu alami sepanjang penyiksaan. Hanım akhirnya bisa bermesraan dengan orang yang dicintainya, meskipun hanya dalam khayalan. Hal ini membuatnya memperoleh sedikit ketenangan batin, hingga pada akhirnya bisa menjemput maut dengan senyuman kebahagian yang terasa sangat tragis. Ketika gadis malang itu sudah tidak bernyawa lagi, eksekutor yang memperkosanya bergiliran itu memenggal kepalanya, dan melapor ke atasan mereka, dengan, perasaan yang sangat puas. 

Mendengar kabar tersebut, Şehzade  jauh berlutut. Matanya berkaca-kaca dan air mata terus mengalir di pipinya. Şehzade  menangis dengan erangan yang sangat menyedihkan. Arwah Hanım berusaha untuk menenangkan, namun usahanya sia-sia karena keberadaan. Karena waktu yang dimilikinya sudah tidak banyak lagi, Hanım memutuskan untuk bertindak seakan-akan memeluk Şehzade  untuk membuatnya sadar akan keberadaannya saat ini. 

“Terimakasih untuk semuanya…..Altaïr!” bisik Fatma. 

Dengan membisikkan terima kasih di telinga  Altaïr sebelum sepenuhnya menghilang, tepat di depan mata Şehzade  sendiri. Altaïr sadar keberadaan Fatma yang tadinya dirasakan, kini menghilang. Merasakan kehilangan sesuatu yang sangat penting baginya, secara tiba-tiba di depan matanya, Altaïr mengalami serangan mental yang hebat. Dia berusaha dengan penuh kesia-siaan meraba sekitar, dan berusaha memanggil-manggil Fatma. Dia terus-menerus melakukannya sehingga dianggap sebagai orang gila dan diamankan oleh otoritas Tanah Suci. Dia menolak dan melawan penangkapan otoritas, sekali lagi karena masih harus mencari keberadaan Hanım. Hal ini membuat otoritas tidak sengaja menggunakan kekerasan untuk membuat Altaïr dapat ditangkap dan ditertibkan oleh otoritas. 

….

Pikirannya kembali ke momen dimana Şehzade  kehilangan sosok yang dia cintai. Beberapa orang yang melarikan diri ke Kayseıri, kebanyakan berhasil ditangkap dan dijadikan budak sebagai balasan akibat perlawanan mereka. Sedangkan sebagian dari mereka yang terus memberontak pada akhirnya dipenggal. Yang berhasil sampai di Kayseıri, hanya sebagian kecil, dan mereka benar-benar sangat beruntung.

Kabar ini dengan cepat sampai di telinga Şehzade . Berita yang direspon dengan sangat cepat. Pasukan yang disediakan dengan cepat dikumpulkan dan bisa berangkat dari Kayseıri dalam hanya dengan semalam persiapan. Pasukan ini bergerak dengan sangat cepat ke Marasha. Sangat cepatnya, hingga para konspirator tersebut bahkan belum sempat mengonsolidasikan kekuasaannya di Dulkadir. Pertempuran singkat di perbatasan berakhir bencana. Dan Kota Marasha ditinggalkan begitu saja tanpa perlawanan. Mereka memutuskan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan mereka di Malayata, seraya memohon bantuan kepada Mamalik melalui seorang utusan. 

Marasha jatuh ke tangan Şehzade  tanpa perlawanan berarti. Namun, dia hadapan pada pemandangan yang sangat menyakitkan. Di Gerbang Depan Marasha, beberapa bendera Dulkadir yang bersanding dengan bendera Mamalik, berkibar dengan kepala yang terpenggal di puncaknya. Mereka adalah kepala Bey dan keluarganya yang dipropagandakan sebagai pengkhianat yang menjual kemerdekaan Dulkadir kepada Salajakiyah. Salah satu kepala di puncak bendera itu, dengan rambut panjang terurai yang menari karena hembusan angin. Wajah dan rambutnya, dihiasi noda darah, yang masih tidak tidak mampu membuat kecantikan alaminya pudar. Dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, Şehzade  melihat kecantikan yang memikatnya dari kejauhan. Ketika Şehzade  melihat itu, dia merasa semua telah berakhir, dan usahanya yang terlambat sia-sia. Şehzade  kehilangan orang yang dicintainya.

Waktu berlalu. Pemakaman keluarga Bey dilakukan dengan prosesi singkat. Malayata jatuh dengan pengepungan singkat. Pemerintahan pro-Mamalik ini tidak mampu memberikan perlawanan terorganisir, dan desersi pasukan Dulkadir menjadi hal umum. Keruntuhan pemerintahan pro-Mamalik terjadi dalam waktu yang luar biasa singkat. Dan Kesultanan Mamalik tidak bisa membantu banyak akibat terjebak masalah internal. Meskipun meraih kemenangan yang luar biasa, hal itu seakan tidak berarti dan tanpa makna bagi Şehzade . Semua terasa hampa di pusat kekuasaan barunya di Malayata, hingga dia bertemu dengan arwah Hanım yang gentayangan.

….

Perlu waktu beberapa lama hingga kewarasan Şehzade  pulih. Şehzade  mendapatkan langsung bimbingan spiritual khusus dari Sharīf Tanah Suci, hingga pada akhirnya bisa menerima kepergian Hanım Fatma. Dan berdasarkan keterangan dari Sharīf, yang juga kepala kuil utama setara dengan pendeta tertinggi,  jiwa bisa tertahan dan menjadi arwah gentayangan jika melakukan hal yang tidak suci sebelum kematiannya. Dan untuk mensucikan arwahnya, dia perlu pergi ke Tanah Suci dengan permohonan untuk mensucikan diri. Tergantung seberapa kuat dan tulus permohonan dari si arwah terhadap Dewa YMS, bahkan sebelum ritual dan peribatanpun, arwah tersebut akan tersucikan dan dapat melanjutkan perjalanannya ke alam setelah kematiannya. Sharīf memilih waktu yang tepat untuk memberikan informasi ini, sehingga Şehzade  bisa lebih menerima kabar tersebut dengan penuh kesabaran. 

Waktu yang dihabiskan Şehzade untuk pemulihan spiritual hingga kembali stabil mungkin cukup. Ketika Şehzade  bertemu dengan Sharīf di keesokan harinya, beliau bersama pasukan Yeŋiçeri, yang hendak menangkapnya. Meskipun awalnya cukup terkejut, namun Şehzade  segera bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Berdasarkan kedekatan ajaran Bestasiyah di Yeŋiçeri dan  aliran Keimaman lokal, Şehzade  sudah menduga hal ini akan terjadi. Menghargai janjinya setelah duel maut dengan Zaganos, Şehzade  menyerahkan diri tanpa perlawanan lebih lanjut. 


Setelah menyerahkan dirinya kepada pasukan Yeŋiçeri yang kini berada di bawah komando Charlotte, kabar tidak menyenangkan datang dari Kesultanan Mamalik. Sultan Muzaffar Al-Ikhwan Burj, pada akhirnya berhasil mengatasi persoalan internal di Mamalik. Al-Ikhwan kini mengalihkan perhatiannya ke Dulkadir.

Persoalan internal selama ini menjadi hambatan bagi Mamalik dalam merespons perkembangan eksternal, termasuk kudeta pro-Mamalik yang terjadi di Dulkadir. Hal ini menyebabkan Pasukan Salajakiyah dibawah komando Şehzade   bertindak lebih cepat, dan mengambil alih pusat kekuasan. Pasukan ini juga mengisi kekosongan kekuasaan dengan mendirikan pemerintahan militer dengan pusat kekuasaan di Benteng Malayata.

Berdasarkan informasi yang didapat dari Beksiçeri, Al-Ikhwan sedang merencanakan invasi ke Dulkadir dengan target utamanya adalah Benteng Malayata, pusat kekuasaan pasukan Şehzade. Merespons informasi ini, Şehzade   meminta Charlotte untuk mengizinkannya kembali memimpin pasukannya di Dulkadir untuk mempersiapkan kemungkinan Invasi dari Kesultanan Mamluk. Pada awalnya, Charlotte yang tidak mengizinkannya. Namun, Şehzade   berhasil membujuk Charlotte untuk mengizinkannya kembali ke pasukannya di Malayata.

Memanfaatkan kesempatan yang diperolehnya dengan baik, Şehzade dengan cepat memantapkan dirinya sebagai penguasa de facto di Dulkadir, dari pusat kekuasaannya di Malayata. Dengan posisinya saat ini, Şehzade memutuskan untuk menghukum mati semua kolaborator pro-Mamalik , dan melakukan eksekusi publik di Malayata. Mereka semua di eksekusi dengan tuhan berkolaborasi dengan kekuasaan asing,dan menggulingkan penguasa yang sah dengan kekerasan.

Belum cukup puas dengan eksekusi publik, Şehzade juga memanjang kepala dan sisa tubuh dari para konspirator itu di dinding Benteng Malayata. Hal ini direspons langsung oleh Al-Ikhwan dengan membuat pengakuan diplomatik terhadap pemerintahan pro-Mamalik di Dulkadir, meskipun sebenarnya sudah tidak ada lagi. Untuk mendukung pemerintahan yang mereka anggap sah tersebut, Mamalik memutuskan untuk ‘membebaskan’ Dulkadir dari angkatan bersenjata asing yang menumbangkan ‘pemerintahan yang sah’ dengan kekerasan. Dan dengan ini, Kesultanan Mamalik dengan resmi menyatakan perang terhadap Kesultanan Salajakiyah.  

Melihat perkembangan yang tidak terkendali di Dulkadir, Charlotte melaporkan kejadian ini langsung ke Sultan Aḥmed. Pecahnya perang dengan Mamalik, tindakan Şehzade   selama Dulkadir, dan kematian bawahan favoritnya ditangan Şehzade, membuat kesabaran Sultan Aḥmed habis. Sultan menghancurkan gagang tongkatnya hanya dengan kekuatan genggaman tangannya karena menahan amarah ketika mendengar semua perkembangan yang terjadi di Selatan.

Dia memutuskan untuk mengakhiri arogansi putranya dengan konfrontasi langsung. Sultan Aḥmed bergerak ke selatan dengan membawa pasukan besar dari Levanṭīnīye, termasuk sebagian besar pasukan elit Yeŋiçeri yang berada dibawah komando langsung Sultan.  Sementara  Şehzade Altaïr, tetap terlihat tenang menghadapi invasi dari Mamalik dari selatan dan konfrontasi ayahnya yang datang dari utara ketika Charlotte menghampirinya di Malayata.

“Menyerahlah, Şehzade! Hentikan semua kegilaan ini!” Bentak Charlotte.

“Semuanya masih sesuai rencana. Situasi ini masih dalam kendali. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Selain itu, terima kasih karena dengan segera menghubungi ayahku terkait perkembangan yang terjadi di sini.” jawab Şehzade.

“Apakah kamu tidak takut akan terbunuh karena perkembangan ini?” Lanjut Charlotte dengan nada cemas

“Saya hanya mencari cara untuk menyalurkan kemarahanku. Karena, saya tidak tahu kemana harus membalas dendam! Kalaupun harus terbunuh karena ini, saya tidak peduli lagi” Jawab Altaïr. 

Charlotte secara refleks mendekati Altaïr, dan menyentuhnya jika memungkin. Namun Charlotte segera membatalkannya, kemudian memalingkan diri. Tidak ada kesempatan baginya untuk membujuk Şehzade mundur. Sebelum meninggalkan Şehzade   sendirian di tenda kerjanya, Charlotte tiba-tiba berhenti di pintu tenda dan menoleh kebelakang . Şehzade   yang menyadari ini juga menoleh ke belakang, dan secara kebetulan mata bertemu. Waktu yang serasa membeku bagi Charlotte dan Şehzade  . Kenangan masa kecil keduanya terlintas di pikiran masing-masing. Masa lalu yang indah, dan telah mati. 

Secara refleks, Charlotte kembali memalingkan wajahnya. Matanya berkaca-kaca akibat kilasan masa kecilnya bersama Şehzade  . 

“Şehzade  , mungkin Anda tidak menyadarinya. Namun, masih banyak orang yang membutuhkanmu, dan peduli padamu. Jadi, jangan menjual nyawamu terlalu murah!” Kata Charlotte 

Charlotte bergegas meninggalkan tenda kerja Şehzade  . Sedangkan Şehzade   perlahan berhenti menatap Charlotte yang setengah berlari meninggalkan tendanya, seraya menyeka matanya.  Ia kembali menatap peta di meja kerjanya. Redemption

“Jika saja saya dapat bertindak lebih cepat dulu…” gumam Şehzade  .

Pasukan Al-Ikhwan memasuki Dulkadir, bersamaan dengan kedatangan pasukan Sultan Aḥmed. Kabar ini mengejutkan kedua belah pihak. Al-Ikhwan mengira dia hanya akan menghadapi pasukan Şehzade  , dan tidak mengantisipasi bala bantuan yang datang dari Sultan Aḥmed. Menghadapi pasukan Aḥmed yang lebih besar, Al-Ikhwan mundur teratur dari Dulkadir untuk menunggu bala bantuan lebih besar yang belum siap saat. Dan untuk menghambat Aḥmed, Al-Ikhwan melancarkan serangkaian serangan skala kecil 

Sedangkan pasukan Aḥmed yang tidak siap tempur menjadi korban dari serangkaian serangan skala kecil yang dilancarkan Mamalik. Mereka tidak menyangka akan bertemu pasukan Mamalik secepat ini. Akibatnya, banyak pasukannya yang terbunuh. Kekalahan yang terus menerus dialami oleh Sultan Aḥmed, menyebabkan moral pasukannya melemah. Kelemahan yang ditunjukan oleh pasukan Aḥmed ini bahkan menyebabkan Al-ikhwan membatalkan rencananya untuk mundur dari Dulkadir dan memutuskan untuk mengkonfrontasi pasukan Aḥmed yang menurutnya telah cukup dilemahkan.

Pertempuran ini terjadi Barat laut kota Marasha, yang kemudian dinamakan Pertempuran Marasha. Pada awalnya, Mamalik kalah jumlah mampu menekan pasukan Aḥmed sedemikian rupa hingga pasukan tersebut nyaris kolaps. Namun disiplin tinggi yang ditunjukkan korp elit Yeŋiçeri di posisi-posisi vital pasukannya, mencegah Al-Ikhwan mengamankan kemenangan cepat dalam pertempuran ini. Namun, serbuan kavaleri elit Mamalik membuat barisan Salajakiyah kalang kabut dan sebagian besar melarikan diri dari pertempuran. Sedangkan elemen-elemen korp elit Yeŋiçeri dengan gigih bertahan, dan mengalami kerugian yang signifikan. Meskipun  kondisi yang semakin memburuk, Aḥmed menolak untuk melarikan diri dari pertempuran. Kemenangan Mamalik sudah di depan mata, namun tiba-tiba pupus ketika pasukan Şehzade  dari Malayata datang di medan tempur dan menyerang pasukan Mamalik di bagian sayap kanan dan belakang. 

Seketika pasukan Mamalik langsung kolaps. Al-Ikhwan langsung melarikan diri, ketika Şehzade   tiba bersama pasukannya. Dia memasrahkan nasib pasukan kepada Sultan Aḥmed dan Şehzade   Altaïr. 

Pertempuran melawan musuh eksternal berakhir dengan singkat. Namun badai belum berakhir. Perseteruan antara ayah dan anak terkait kekuasaan masih belum mencapai titik terang. Perseteruan, yang bahkan menyebabkan invasi Kesultanan Mamalik, rival utama Salajakiyah terasa bagai angin lalu. 


Penulis: Narusaka

H(OURS) Time: Spin off, Last Chance

Entry Writchal #3
Tema: Mati


Tuhan adalah suatu sosok yang wujud, zat dan keberadaan-Nya absolut di alam semesta ini. Semua yang berada di luasnya semesta ini termasuk salah satu ciptaan-Nya. Dia memiliki 99 nama sebutan, di samping itu namanya pun termasuk kemampuannya.

Malaikat, jin, setan, roh dan manusia hidup di dimensi yang berbeda. Terdapat penghalang bagaikan tembok cahaya yang membatasi para makhluk guna menjaga kedamaian antar dimensi dan penduduknya.

Terdapat tiga dimensi di alam semesta ini: Dimensi Bawah, Dimensi Menengah dan Dimensi Atas.

Malaikat memiliki izin atas ketiga dimensi tersebut. Dikarenakan mereka memiliki kewajiban akan perintah Tuhannya. Mereka sangat patuh kepada Tuhannya tersebut.

Setan hanya memiliki kehidupan di dimensi bawah. Mereka pernah melakukan kesalahan besar yang menyebabkan dijatuhkan dari dimensi atas ke dimensi bawah. Namun beberapa dari mereka masih ada yang mampu berpindah dimensi.

Jin dan manusia tinggal pada dimensi yang sama. Namun terdapat sebuah perbedaan. Jika manusia terbentuk karena adanya wujud jin yang dibaluri tanah dari bumi sebagai bentuk fisiknya. Dan jin hanyalah bentuk roh biasa tanpa adanya bentuk fisik yang terlihat.

Lalu untuk roh adalah keberadaan yang berbeda dari mereka semua. Roh terbentuk atas kehendak Tuhan karena adanya suatu tindakan dan kekuatan pikiran yang terbentuk dari ke-4 makhluk yang lain. Seperti contoh, para dewa.

Namun ada pula roh yang terbentuk karena keinginan suatu fenomena besar yang ada. Keberadaannya tidak pernah diketahui dan diperbolehkan oleh Tuhan. Dan mereka semua disebut sebagai Roh Iregular (Irregular Spirits)

 

“Hai Rani, selamat malam. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun semenjak terakhir kali aku kemari bersama Amelia.” Berdiri di hadapan batu nisan bertuliskan nama ‘Rani’. “Mungkin kau di sana sedang membicarakan diriku dengan yang lainnya ya, haha.”

Seorang pemuda yang telah kehilangan ketiga istrinya dan seorang putrinya, yang tersisa hanyalah kedua putrinya. Rakha, sosok pahlawan yang menyelamatkan banyak siswa dari insiden King Goblin dan sosok penjahat yang menyulut Perang Dunia ke-3 juga pembunuh para Pahlawan Besar.

“Kau tahu Rani. Hidupku saat ini sangat tidak baik-baik saja. Aku takut semuanya akan hilang begitu saja saat di dekatku. Bahkan kalian pun pergi meninggalkanku. Bukankah itu tidak adil?” Menaruh setangkai bunga yang berbeda-beda warnanya pada setiap batu nisan.

Di sebelah makam Rani terdapat makam ketiga istri juga satu putrinya. “Aku hanya bercanda, kalian lah yang menentukan pilihan itu. Meskipun rasa sakit ini tetap ada, kalian adalah cintaku yang sangat pemberani dan ku hormati.” Mencium satu per satu batu nisan dan pergi meninggalkan pemakaman itu dengan rambut panjang yang diberai tertiup angin malam.

~***~

Jauh di atas sana, salah satu mantan malaikat agung, malaikat maut, Azrael, dipenjara karena menentang perintah Tuhan dan juga memilih seorang manusia dibanding dengan tugasnya. Karena hal itu, dirinya diberi julukan sebagai Broken Angel, yang artinya, sebuah malaikat yang gagal dalam memenuhi tugasnya.

Namun karena adanya beberapa insiden yang baru saja terjadi, Azrael terbebas dari penjara Dimensi Atas. Memang pada awalnya Azrael ingin sekali pergi secara paksa, tetapi dirinya merasa sebuah keberuntungan sedang berada pada pihaknya. Ia pergi melarikan diri ke Dimensi Tengah, Galaksi Bima Sakit, Bumi.

Karena aturan semesta yang berlaku, sayap Azrael yang awalnya berjumlah 49 pasang pada saat di atas, hanya menjadi tiga pasang saja saat turun ke bumi. Kekuatannya pun turun lebih dari 90% semulanya. Yang dia mampu lakukan hanya beberapa sihir sederhana tingkat atas.

Tujuan dirinya memilih bumi karena ingin bertemu dengan seseorang, yaitu Lucifer. Dirinya mengetahui beberapa rumor beredar mengenai pemberontakan Lucifer. ‘Sempat melawan bahkan memojokkan Tuhan’, itulah yang Azrael incar. Karena jika hal itu betul kebenarannya, maka akan ada kesempatan baginya untuk mewujudkan impiannya.

“Mungkin aku harus menghilangkan terlebih dahulu sayapku,” memandangi punggungnya yang terdapat tiga pasang sayap hitam.

Hitam ya … wajar saja, karena aku sudah dibuang oleh Tuhan. Rambutku jadi hitam juga.

Dengan menekan aura dan juga kekuatannya, sayap pada punggungnya menghilang dan pakaian yang dikenakan berubah mengikuti sekitar yang ada. “Pakaian apa ini? Yukata? Apakah ini Jepang?”

Mungkin bagi Azrael yang sudah lama tidak melihat bumi dan juga tidak tahu peristiwa apa saja yang sudah terjadi, semua itu akan langsung dikaitkan dengan pengetahuan terakhirnya. 

“Permisi,” menyapa seseorang yang kebetulan melewati Azrael menggunakan bahasa Jepang.

“Ya?” orang itu kebingungan dengan sapaan Azrael, mungkin lebih tepatnya bingung dengan bahasa yang digunakannya.

“Apakah kamu tahu di mana kuil, tempat untuk aku berdoa?” menggunakan bahasa Jepang.

Orang itu kebingungan dengan bahasa yang digunakan oleh Azrael, “Anu … apakah kamu berasal dari pulau seberang?”

Entah kenapa meskipun aku tidak tahu bahasa apa ini, tapi aku dengan mudah paham dengan artinya.

“Ah maksudku, apakah kamu tahu di mana kuil, tempat untuk aku berdoa?” mengulangnya dengan bahasa yang digunakan orang tadi.

“Kuil ya. Kamu tinggal lurus saja dan di sana ada tangga menuju ke atas. Di sanalah tempatnya.”

“Terima kasih banyak,” membungkukkan badannya sedikit, seperti budaya Jepang bada umumnya.

Dengan melihatnya, orang tadi sedikit kebingungan dengan sikap Azrael. Karena memang benar, tempat itu bukanlah Jepang yang biasa Azrael kenal lagi.

Benar sepertinya, ini bukan Jepang. Tetapi akulturasi budayanya hampir mirip. Aku pun tidak merasakan lagi energi beberapa makhluk mistis yang seharusnya ada di sini.

Berjalan lurus ke depan menuju arah kuil. Sepanjang jalan hanya terlihat tenda-tenda untuk orang berdagang. Hal itu membuat Azrael berpikir lagi, ‘Apakah benar ini adalah Jepang yang ia kenal?’

Tak jauh setelah dirinya berjalan, ia melihat beberapa patung dewa yang biasa disembah sudah hancur sebab kerusakan yang disengaja. Tidak hanya itu, dia pun mendengar orang-orang yang terus mengeluh tentang Perang Dunia ke-4.

Perang Dunia ke-4?! Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan bumi?

Karena rasa penasarannya itu, Azrael mencoba untuk mendeteksi seluruh permukaan bumi dengan sihirnya. “Teknik Sihir: Detect.” Pada dasarnya, kekuatan malaikat miliknya sudah diambil oleh Tuhan. Tetapi dia menyimpan sisanya pada 49 pasang sayap yang berubah menjadi hitam itu.

Benar-benar situasi yang sangat buruk — itulah yang dipikirkan Azrael saat melihat kondisi bumi saat ini.

“Permisi paman,” dengan suara imutnya, seorang gadis kecil menepuk-nepuk punggung Azrael. Hawa kehadirannya benar-benar tidak terasa sama sekali.

Sentuhan itu membuat Azrael melepas sihir deteksinya, “Ya? Ada apa ya?”

“Apakah tuan ini seorang malaikat?” tanya seorang gadis dengan pakaian serba tertutup. Mata dan alisnya terlihat berwarna putih. Rambut yang sedikit terlihat pun berwarna putih.

Azrael terkejut saat ada yang mengetahui keberadaannya itu. Seharusnya tidak banyak yang bisa mengetahui identitas malaikat saat sedang di bumi. Kecuali penyihir tinggi juga Legendary Heroes, Alden dan Aghatha.

“K-kau siapa?”

“Ah maaf, perkenalkan diriku Mila.” Membuka penutup wajahnya.

Benar seperti ekspetasi Azrael, semuanya serba putih.

“Manusia?”

Gadis itu tersenyum tipis saat ada yang menanyakan rasnya, “Hihi, apakah aku terlihat seperti bukan manusia?”

Sebenarnya Azrael sedikit curiga dengan gadis itu. Bukan hanya karena penampilannya, namun juga aura yang dipancarkan sangat berbeda dengan yang lain. Dan juga tak terasa energi sihir sama sekali pada dirinya.

“Apakah kamu terkejut melihat diriku yang tidak memiliki sihir? Wajar saja sih, karena pada umumnya setiap manusia memiliki energi sihir meskipun hanya sebesar biji wijen.”

“Jadi ‘apa’ dirimu itu?”

“Kau mengganti pertanyaannya, hihi. Ini semakin lucu saja. Tak kusangka ada malaikat sebodoh ini. Tenang saja, aku ini benar-benar manusia. Hanya saja aku tidak memiliki energi sihir, mirip seperti ayahku.”

“Ayahmu?”

“Ya, ayahku, Rakha. Orang yang berhasil melawan satu dunia ini. Hebat kan?!”

Apa-apaan gadis kecil ini! Dunia ini?! Seorang manusia!? 

“Namun sayang sekali ayahku sedang tidak ada di sini. Omong-omong, paman sedang mencari seseorang?” melanjutkan perkataannya.

“Bagaimana kamu tahu nak?” Mengangkat Mila seperti seorang ayah yang menggendong anaknya.

“Aku bisa melihatnya … warna paman. Seperti seorang anak kecil yang tertinggal oleh ibunya.”

Aura?

“Paman ini malaikat kan? Tunjukkan sayapmu dong.”

“Tidak bisa nak, di sini sedang banyak orang. Mungkin lain kali saja.”

“Eeehhh ….”

Entah bagaimana dan kenapa, Azrael merasa mudah akrab dan dekat dengan Mila. Ada suatu perasaan yang terlupakan oleh memori Azrael tapi tubuhnya tetap mengingat itu.

“Ah iya bagaimana jika kamu membawaku kepada ayahmu saja. Paman ingin berkenalan dengannya.”

“Tidak bisa,” langsung dijawab dengan cepat. “Lokasi ayah tidak diketahui sama sekali, kecuali paman mau membantuku.”

“Baiklah, paman akan bantu sebisa mungkin.”

“Yosh! Ayo kita pergi!”

Mungkin aku tidak perlu buru-buru dengan tujuanku. Akan ku nikmati dulu momen bersama anak ini.

Mereka mulai dengan mengelilingi tempat tadi. Azrael tahu bahwa akan sulit untuk menemui Lucifer, tapi mungkin momen ini bisa ia nikmati dulu. Nostalgia sangat terasa pada perasaan dan pikirannya. Teringat dengan sosok istrinya.

“Paman?” Mila memanggilnya karena melihat Azrael diam bengong memandang langit. Mila mencoba untuk mendekati dan menanyakan sesuatu kepada Azrael, “Paman ini sebenarnya ingin melakukan apa jika sudah bertemu dengan orang itu?”

“Sebenarnya aku ingin menghancurkan konsep kematian pada semesta ini.”

Mila yang mendengarnya sedikit terkejut. Tetapi dia hanya tersenyum dan tertawa tipis untuk menanggapinya, “Haha, paman ini benar-benar malaikat yang bodoh dan lucu.”

“Begitu ya? Haha.”

Karena melihat Azrael yang murung, Mila mencoba untuk menghibur Azrael. Dirinya itu seperti melucu sebagaimana halnya tingkah anak kecil. Karenanya itu, Azrael tersenyum dan tertawa melihat kelakuan Mila.

“Kau ini benar-benar mengingatkanku pada seseorang, haha,” mengusap kepala Mila. “Terima kasih nak. Mungkin mulai sekarang aku akan mencari orang ini sendiri. Nak Mila kembalilah kepada ayahmu itu.” Membelikan sebuah permen kapas untuk Mila.

“Tidak paman, aku akan menemanimu. Lagian aku belum ingin bertemu ayahku.”

Karena terpaksa, Azrael merasa harus membawa Mila dalam perjalanannya. Dia harus tetap mencari Lucifer untuk mewujudkan impiannya. Dengan berpikir dirinya dengan Lucifer adalah sesama mantan malaikat, dia berharap akan dibantu olehnya. Tetapi Azrael belum tahu dengan kondisi semesta saat ini.

Perjalanan panjang sudah ditempuh oleh Azrael dan Mila, melewati pulau Cina. Menurut kabar yang ada, setelah Perang Dunia ke-3, Daratan Cina terpecah-pecah karena ledakan nuklir yang begitu besar hingga membelah benua. Informasi-informasi ini terasa sangat baru bagi Azrael. Bahkan dirinya bingung, ‘Kenapa manusia ingin sekali menghancurkan diri mereka sendiri’.

Dari informasi itu juga, Azrael mengetahui bahwa Malaikat Agung Maut yang baru, Yehudiel, biang keladi dari Perang Dunia ke-4. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang terlihat oleh Azrael hanyalah dunia tanpa Tuhan. Informasi ini sangatlah akurat dan terbukti kebenarannya. Setiap tempat yang dia lewati sudah tidak berbentuk dan jumlah penduduk yang dirasakan pun lebih sedikit dari biasanya.

“Paman Azrael, istirahat dulu. Mila lelah berjalan.”

Mereka memutuskan untuk berhenti dan istirahat sejenak. Sejujurnya daya hidup Azrael hanya tinggal 5 tahun lagi. Tidak banyak energi sihir yang bisa digunakan lagi. Hal itu sudah terasa pada setiap sel-sel tubuhnya, menjerit seperti kesakitan.

Azrael mengeluarkan secarcik surat dan sebuah foto Lucifer. Di surat itu juga terdapat sebuah alamat dan peta yang menunjukkan sebuah tempat.

“Paman Luci!” Mila menunjuk foto itu seolah-olah memanggilnya.

Azrael terkejut saat Mila berteriak, “Kau mengenalnya?”

“Iya! Paman Luci itu yang merawatku dan kakak-kakakku, jika Ayah pergi bekerja.”

“Apa kau tahu di mana dia sekarang?” memegangi bahu Mila.

“Mi-Mila tidak tahu, paman. Paman Luci tidak pernah datang lagi semenjak pergi bekerja bersama ayah.”

“Begitu ya … Kalau begitu kita sementara waktu istirahat dan tidur di sini ya.”

Mila tertidur lelap di atas tumpukan jerami yang sudah disiapkan. Azrael tetap terjaga karena takut akan ada orang yang menyerang dirinya dan Mila. Sambil melihat ke arah langit berbintang, dirinya teringat dengan sebuah momen yang membuat dirinya diasingkan Tuhan dan dipenjarakan.

~***~

Rambut yang berwarna perak terang dan sayap yang begitu gagah menerangi ruangan kerjanya. Kekuatan yang terasa sangat kental dan juga melimpah. Azrael sedang mengerjakan berkas-berkas yang perlu dibuat untuk dilaporkan kepada Agares, sang Tuhan.

Tepat di tengah kesibukannya itu, seorang malaikat bawahannya, malaikat maut, melaporkan sesuatu yang mengganjal pada pekerjaannya. Dia melaporkan bahwa manusia yang menjadi target selanjutnya sudah bisa melihat dirinya. Padahal itu masih berada pada tahap 365 hari sebelum hari kematiannya.

Seperti yang sudah diketahui dan dipercayai banyak orang beriman, setiap manusia dapat melihat malaikat maut tepat saat 40 hari sebelum kematiannya. Itu adalah peringatan dan kesempatan terakhir bagi manusia untuk memperbaiki dirinya. Aturan itu sudah berlaku sejak Adam dan Hawa turun ke bumi.

Namun untuk hal ini, muncul sebuah kasus khusus yang perlu ditangani oleh pimpinan malaikat maut saat itu, salah satu malaikat agung, Azrael. Seorang gadis berumur 24 tahun telah melihat malaikat maut pada 365 hari atau tepat 1 tahun sebelum kematiannya. Kejadian itu sangat langka bahkan bisa saja hanya akan terjadi setiap 10000 tahun sekali.

Dengan menggunakan avatarnya, Azrael turun ke bumi dan menemui gadis itu. “Hai nona, selamat pagi.” Sapaan pagi di sebuah ladang gandum yang begitu luas. Bahkan gesekan antara tanaman gandum yang disebabkan hembusan angin terdengar berirama dan begitu nyaman.

Jas rapi yang dikenakan Azrael seperti seorang bangsawan kelas tinggi nan gayanya yang sopan memberikan sebuah salam hormat. Saat Azrael mengangkat badannya dan memandangi gadis itu. Tubuhnya itu seketika membeku dan padangannya tidak bisa dialihkan ke yang lain. Sebuah kisah malaikat memiliki sebuah rasa kepada manusia untuk pertama kalinya.

Aneisha Clarabel, seorang putri pemilik ladang gandum di Uni Eropa, Jerman. Rambutnya yang berwarna cokelat, diberai tertiup angin menyatu dengan para gandum. Wangi dan hembusannya begitu terasa tenang saat dihirup. Wajahnya yang manis dan ceria membuat orang-orang di sekitarnya begitu senang hingga menular kepada yang lain. Sosok manusia yang hampir menyentuh kata sempurna.

“Iya? Selamat pa—gi?” dengan terkejut melihat seorang pria dengan pakaian sebegitu formalnya datang ke ladangnya. “Maaf, ada keperluan apa ya?” menundukkan kepalanya.

“Aahh, tidak perlu sesopan itu,” — Azrael berpikir adanya perbedaan kasta di sini yang menjadi pembatas antara bangsawan dan petani — “tenang saja, aku hanya ingin berjalan-jalan.”

“Aaa, maafkan saya. Silahkan lanjutkan jalan-jalan Anda.” Terus menerus menundukkan kepalanya.

Kesopanan dan sifat lembut merendah itu terlihat lucu bagi Azrael. Meskipun sudah berumur 24 tahun, kesannya seperti melihat anak kecil berumur 13 tahun yang sedang belajar tata krama.

Aku akan terus memerhatikan dirinya dari kejauhan saja — pikir Azrael.

Berdasarkan pengamatannya, gadis itu tidak memiliki energi sihir yang begitu besar, hanya seukuran manusia biasa. Bukan suatu alasan dirinya bisa melihat malaikat karena sihir. Azrael terus memperhatikannya. Pekerjaan yang ia lakukan sangat tertata dan konsisten. Sikap sopan dan riangnya saat menyapa orang yang melewatinya, benar-benar tidak menggambarkan umurnya.

Apa yang sebenarnya membuat dirinya bisa melihat malaikat ya? — menatap langit sembari tiduran di atas tanah berumput hijau.

“Ah, tuan yang tadi!” suara seorang gadis tepat di belakang Azrael.

“Hmm?” menengok ke arah belakang, melihat Aneisha ada di sana.

Mereka berdua saling bertatapan mata. Pupil berwarna emas milik Aneisha melihat tepat menuju mata Azrael yang berwarna biru laut. “Matamu cantik ya tuan,” Aneisha memberikan pujian kepada Azrael.

Untuk pertama kalinya Azrael memasang wajah malu karena pujian seorang manusia. Dia memalingkan wajahnya, “Oh, begitu ya.”

Dengan tawa kecilnya yang imut, Aneisha bertanya kepada Azrael, “Apakah kamu bukan seorang manusia?”

Tubuh Azrael dengan reflek langsung melihat Aneisha, dia berpikir kenapa Aneisha bisa mengetahuinya. Namun, hal itu langsung terjawab setelah melihat matanya. “Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan, ya?”

“Kau mengetahuinya?! Mata ini!” dengan penasarannya sampai sedikit mendorong Azrael. Tatapannya yang menyala itu menatap serius wajah Azrael.

“Y-ya, aku tahu.”

Tanpa disadari posisi Aneisha berada di atas Azrael. Wajah manis Aneisha terlihat jelas di balik bayangan yang menutupi sinar matahari di langit. Rambut cokelatnya itu mengelilingi wajah Azrael, hingga benar-benar yang ada dihadapannya hanya wajah Aneisha.

“A-anu ….”

Sial, martabatku menghilang! — menyadari diri sendiri kalau mengatakan ‘Anu …’ karena terbiasa dengan bahasa Jepang membuat dirinya seperti menjadi manusia biasa.

Aneisha yang terlambat menyadarinya langsung beranjak dari posisi tadi, “Aaa! Maafkan saya!”

“T-tidak apa-apa.” Mereka berdua merapikan pakaiannya yang sedikit acak-acakan. “Kau sangat penasaran dengan mata itu?”

“Iya. Entah bagaimana caranya aku bisa memiliki mata ini. Saat terbangun dari tidur yang ku lihat hanya bagian dunia yang tidak pernah ku lihat.”

“Karena memang itulah arti dari ‘Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan’, meminta sang pemiliknya untuk melihat seisi dunia.” Azrael menunjukkan mata yang sama kepada Aneisha. “Mata itu memilihmu karena kau memiliki keinginan yang sama dengannya.”

“Melihat seisi dunia ya … Aku kira itu hanya mimpi.” Keputusasaan terpampang pada raut mukanya.

Hanya karena melihat wajahnya, Azrael mengerti dengan perasaan Aneisha. Perasaan terkekang oleh sesuatu yang merenggut kebebasan miliknya. Dirinya itu hanya tersenyum dan berkata, “Maafkan ketidaksopananku, sebelumnya aku tidak sempat memperkenalkan diriku ya. Aku adalah Azrael, kamu bisa memanggilku Rael. Dan tepat seperti dugaanmu, Aku bukanlah manusia, tetapi seorang malaikat. Lebih tepatnya, malaikat maut.” Dengan pose tangan kanan pada dadanya yang penuh hormat.

“Ma-malaikat maut?”

“Benar sekali, malaikat maut. Untuk satu tahun ke depan ini, aku akan menjagamu hingga ajal yang sudah ditentukan menjemputmu, Aneisha Clarabel.”

~***~

“Pa-man … Paman bangun!” suara yang samar semakin jelas terdengar. “Paman malaikat bangun!”

Secara terkejut, Azrael terbangun dari tidurnya. Di sekelilingnya sudah terdapat banyak orang berpakaian serupa seperti orang kantoran. Mila sudah berada ditangkapan mereka. “Sepuluh orang ya — malaikat?”

Salah satu dari perwakilan mereka mendekati Azrael, “Kami malaikat Dimensi Atas datang untuk menangkapmu lagi. Perintah langsung dari pimpinan untuk menangkap tahanan melarikan diri, Azrael.”

Azrael hanya tersenyum dan mulai berdiri dari posisi duduknya. Mengeluarkan energi sihirnya, “Teknik Sihir: Death Touch.” Tangan kanan Azrael seperti mengeluarkan aura berwarna ungu gelap pekat, serasa tidak ingin menyentuhnya. “Hanya dengan ini, kalian semua bisa ku ratakan.”

“Semuanya bersiap!!!” perwakilan tadi memberikan aba-aba. Untuk sesaat, situasi menjadi hening dan tegang. Keduanya saling mempersiapkan kesiapannya untuk bertarung. “Tangkap dia!”

Semua malaikat tadi langsung menyerbu Azrael secara bersama-sama. Tetapi, “Menyerangku langsung ya? Tidak berguna. Teknik Sihir: Lubang Buaya.” Di saat mereka semua melompat ke arah Azrael, beberapa lubang terbentuk di bawah mereka. Dan lubang itu menarik mereka untuk masuk ke dalamnya.

Setelah mereka semua masuk ke lubang itu, datang seperti penutup yang di bawah permukaannya terdapat ujung pedang yang mampu membunuh malaikat. “Matilah kalian semua,” ucap Azrael.

Mila yang sedang dipegangi—mungkin ditawan oleh seorang malaikat tidak memasang wajah panik sama sekali. Dia hanya terdiam melihat Azrael sembari dipegangi oleh seorang malaikat.

Melihat itu membuat Azrael sedikit kesal terhadap perlakuan malaikat itu kepada Mila. Tanpa disadari, Azrael sudah berada di belakang malaikat itu. “Kau juga … susul lah teman-temanmu.” Azrael mengangkat malaikat itu dengan tangan kanannya. Tubuh malaikat itu langsung mengering dan energinya terserap ke dalam tubuh Azrael.

“Memang seharusnya seperti ini,” ucap Azrael. Matanya itu berubah menjadi hitam meskipun pupilnya tetap berwarna biru.

Kekuatan yang Mila rasakan pada Azrael, “Kekuatan paman terasa sangat sesak.”

Beberapa malaikat yang yang selamat dari lubang buaya tadi menampakkan dirinya dengan tubuh penuh luka tusukan. “Azrael, kau benar-benar pengkhianat Tuhan.” Mereka mulai mengeluarkan sayap-sayap malaikat mereka.

“Aku tetap tidak perlu menggunakan kekuatan untuk mengalahkan kalian,” gertakan Azrael dengan mengeluarkan aura energi sihir yang begitu melimpah. “Kenapa kalian tidak berhenti saja,” dengan senyuman lebar nan sadisnya.

Para malaikat pun bergetaran saat melihatnya. Namun karena itu adalah sebuah perintah, “Karena malaikat sepertimu — Azrael, kau baru saja memulai kehancuran pada dunia ini. Serang dia!” Para malaikat mengeluarkan sebuah lingkaran sihir pada punggung mereka. “Teknik Sihir Cahaya Gabungan: Heavenly Chain.” Dari lingkaran sihir itu muncullah semacam rantai cahaya yang mengikat Azrael.

Heavenly Chain?! Bagaimana para keroco ini bisa memanggil salah satu senjata surgawi — itulah yang ada dalam pikiran Azrael.

“Kami, para malaikat bawahan Yehudiel, mampu memanggil salah satu senjata surgawi jika dilakukan bersama. Nah, sekarang kau ikutlah dengan kami.”

Cih! Aku ka— ucapannya terpotong. Tiba-tiba saja datang seorang pria dengan rambut sepanjang bahu. Dia datang begitu saja tepat di tengah-tengah pertarungan. Sosok misterius itu membuat para malaikat terdiam tak berkutik saat melihatnya. 

“Akhirnya aku menemukanmu, Mila.” Pria itu menggunakan pakaian serba hitam, seperti baru saja melayat. Wajah misteriusnya itu terlihat saat angin mengibaskan poninya, meskipun hanya terlihat sebagian wajahnya saja.

“Ayah!”

Ayah? Jadi begitu ya … dia adalah ayahnya. Dia benar-benar terlihat sangat kuat.

Mila mendekati ayahnya dan meminta untuk menggendongnya. Mereka berdua terlihat sangat cocok seperti ayah dan anak. Hal itu membuat Azrael teringat sesuatu yang sudah dirinya lupakan.

“Kau pasti Azrael ya?” Pria itu mendekatinya dan juga mulai memperkenalkan dirinya, “Aku Rakha, ayah dari gadis ini. Kuucapkan terima kasih karena sudah menjaganya.” Dia juga melepaskan rantai-rantai cahaya yang mengekang Azrael hanya dengan menyentuhnya.

Kuat sekali ….

“Kau … manusia! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?!” salah satu dari malaikat itu berteriak kepada Rakha.

“Bagaimana? Oh, ya aku hanya tinggal menerjang mereka semua.” Yang dibicarakan oleh para malaikat itu adalah ribuan pasukan malaikat yang berniat menghadang Azrael jika berhasil melarikan diri lagi.

Para malaikat itu mulai geram dengan perkataan dan sikapnya, “Jangan sombong kau manusia! Teknik Sihir: Angel Feathers.” Mereka menembakkan bulu-bulu dari sayap mereka menuju Rakha. Tetapi dengan mudahnya, Rakha hanya perlu mengangkat satu jarinya untuk melenyapkan bulu-bulu itu.

“Kau berniat memberiku terapi akupuntur ya? Terima kasih, tapi tidak dulu deh. Lebih baik kalian yang di sini membantu malaikat-malaikat lain yang sedang terkapar di sana.” Rakha membukakan celah dimensi untuk mereka semua.

Para malaikat benar-benar sedang terpojok. Mereka terpaksa untuk mundur dan pergi menyelamatkan rekan-rekannya terlebih dulu. “Kami semua akan kembali lagi, Azrael, dan juga kau, Rakha!”

“Ok semuanya sudah selesai. Ayo kita pulang, Mila.”

“Tidak! Mila harus membantu paman ini. Dia sedang mencari seseorang.” Mila menatap serius mata sang Ayah. Tatapan yang membuat Rakha tidak bisa bereaksi apa-apa lagi.

“Baiklah terserah dengan apa yang kau lakukan, tetapi ayah tidak bisa menemani kalian. Karena ada yang harus kuselesaikan dulu.” Menurunkan Mila dari pangkuannya.

“Tidak apa-apa, kami berdua akan mencarinya bersama,” ucap Mila.

Rakha hanya bisa menghelakan nafasnya, “Baiklah tapi hati-hati ya. Kutitipkan lagi anakku padamu ya, Azrael. Kalau begitu aku pamit.” Membukakan celah dimensi untuk pergi ke sebuah tempat.

“Tunggu sebentar!” Azrael meenghentikan Rakha. “Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apakah kau tahu di mana Lucifer saat ini? Jika kau mengenal diriku seharusnya kau juga mengenali Lucifer kan?”

Tanpa membalikkan badannya, Rakha menjawab dengan datar, “Dia sedang dalam sebuah misi yang membutuhkan kekuatannya. Lebih baik kau cari saja orang yang sangat ingin kau temui itu, daripada memikirkan mimpimu yang kosong itu.” Rakha langsung pergi memasuki celah dimensi itu dan menghilang begitu saja.

“Mimpi … yang kosong.” Azrael mengulangi perkataan Rakha tadi.

Benar juga, yang kuinginkan itu bertemu dengannya. Bukan embel-embel menghilangkan kematian.

“Paman! Ayo kita lanjutkan perjalanannya.” Mila mengulurkan tangannya.

“Ya, ayo kita pergi.”

~***~

Azrael dan Mila pergi melanjutkan perjalanannya yang tidak tahu ke mana arahnya. Saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah pada pasir. Tanah Arab, tempat yang sangat gersang dan sangat sulit menemukan sumber air. Tetapi itu pada zaman dulu. Saat ini, Arab sudah dipenuhi dengan tumpukan salju yang sangat putih. Meskipun matahari terik tetap terasa pada ujung kepala, tumpukan salju ini tidak meleleh sama sekali.

“Ini adalah dampak dari perang dunia ketiga. Pusat dari medan magnet bumi terkadang berpindah-pindah, sehingga membuat kondisi iklim sangat tidak stabil,” penjelasan singkat dari Mila.

Hanya mendengar penjelasan itu, perasaan Azrael menjadi sangat tidak menentu. Ambisi dan keinginannya saling bertabrakan sehingga membuat perasaan Azrael sangat labil. “Dari dulu aku sangat benci untuk mencabut nyawa seseorang, tapi aku juga ingin bertemu kedua cintaku. Namun, dengan kekuatan seperti ini … aku hanya bisa melakukan salah satunya.”

Mila mendekati dan memegangi tangan Azrael, “Takdir akan selalu menuntun kita.”

Kalimat itu membuat Azrael mengingat sesuatu yang sangat lama waktunya. Itu adalah di saat-saat dirinya dan Aneisha mendapatkan kebahagian barunya. “Aku ingat.” Azrael langsung menggendong Mila, mengeluarkan sayap hitamnya dan terbang jauh menuju Jerman. Tempat di mana dia memulai dan mengakhiri semuanya.

Dengan kekuatannya itu, terbang dengan kecepatan Mach pun tidak membuat dirinya mengalami gesekan dengan udara. Dia membuat dinding sihir yang tebal di sekitar tubuhnya. Meskipun maksudnya mengurangi gesekan yang ada, sebenarnya tujuannya itu untuk menahan serangan-serangan udara di atas langit medan perang. Dari atas sana, Azrael melihat tanah-tanah yang seharusnya hijau menjadi hitam tandus tanpa kehidupan.

“Menyedihkan.”

Tak lama dari medan perang itu, mereka berdua akhirnya sampai di negara Jerman. Azrael berusaha mengingat-ingat tempat dirinya dengan Aneisha tinggal bersama. Tanpa menggunakan sihir yang ada, akhirnya sampai pada tempat tujuan.

Tempat itu, sudah sangat berubah. Keanggunan ladang gandum dan juga tawa ceria para penduduk menghilang tak terasa oleh Azrael. Mila pergi meninggalkan Azrael, “Eh, kau mau pergi ke mana?” Tampaknya Mila merasakan sesuatu yang membuatnya penasaran. Azrael hanya bisa mengikuti dan mengejarnya.

Padahal hanya tertinggal sedikit, Azrael kehilangan jejak Mila. Tak disadari, dirinya memasuki hutan yang begitu gelap. Ingatan muncul samar-samar sedikit demi sedikit saat berjalan di dalam hutan itu. “Mila, kau di mana?” Berteriak memanggil Mila yang tidak tahu di mana lokasinya.

Saat berjalan-jalan, dia melihat bayang-bayang ingatan lamanya. Dia bahkan mengingat tempat di mana dirinya memperkenalkan dirinya yang malaikat maut kepada Aneisha. “A-neisha?” Bayangan Aneisha muncul begitu saja di hadapan Azrael. Tetapi bayangan itu hanya tersenyum dan pergi menghilang lagi.

“Hei, kamu pergi ke mana Aneisha?!”

Azrael merasakan ada energi yang tidak wajar pada suatu tempat. Dia juga sesekali melihat bayangan Aneisha pergi ke arah yang sama ke tempat dia ingin pergi. “Tunggu sebentar!” Mila di dalam sebuah gubuk melihat Azrael sedang berlari ke arahnya. “Mi-la?” Terlihat gumpalan energi sihir yang begitu padat di dekat Mila. “Awas Mila!”

Duarr!!! Suara ledakan yang begitu besar, bahkan menggetarkan daratan. Sebuah bentuk ledakan seperti serangan nuklir yang berbentuk jamur menembus langit. Hempasan udaranya bahkan terasa hingga ribuan kilometer jauhnya. Lokasi sekitar dengan radius lima kilometer rata tak bersisa.

Di tengah-tengah pusat ledakan itu terlihat gumpalan bulu-bulu hitam yang sedang menutupi sesuatu di dalamnya. Setelah beberapa menit ledakan itu terjadi, bulu-bulu hitam itu menggugurkan dirinya. Mila yang berada di dalamnya sedang dipeluk oleh Azrael yang ternyata sedang membentangkan sayapnya.

Aku sudah tidak kuat lagi … Energi sihirku hanya akan mampu menahan daya hidupku selama satu hari lagi. — Tubuh Azrael mulai terdisintegrasi.

“Paman … tanganmu ….” Mila terbangun dari tubuhnya dan melihat lengan Azrael seperti tanah liat yang retak.

“Pa-Paman tidak apa-apa, bagaimana denganmu.” Menarik kembali sisa-sisa sayap yang masih menempel pada punggungnya.

“Berkat sayap paman, Mila tidak apa-apa.”

Azrael tersenyum, “Baguslah.”

Terdengar suara teriakan dari atas langit, “Akhirnya aku menemukanmu, AZRAEL!” Seperti sebuah roh yang terbang menghampiri Azrael.

“Azrael! Hancurkan roh itu, jangan biarkan dia memasuki dirimu!” Rakha yang mengejar roh itu berteriak kepada Azrael.

“Sudah terlambat!” Roh itu memasuki tubuh Azrael. Dan membuat Azrael berteriak kesakitan.

Sebuah celah dimensi terbuka di sebelah Mila, “Mila cepat masuk ke dalam sana!”

Sebuah ledakan kedua terjadi yang berasal dari tubuh Azrael. Rakha yang sedang terbang hanya terdiam, membiarkan ledakan itu mengenai dirinya. Bukan berarti dirinya tidak bisa melarikan diri, hanya saja ledakan itu bukan masalah besar baginya.

Ledakan kedua ini tidak sebesar yang pertama. Hanya saja daya kejut yang dihasilkan lebih besar dari yang pertama. Hal ini mungkin disebabkan karena energi yang digunakan berasal dari energi murni malaikat. Efek yang diterima pun hanya berpengaruh kepada orang yang memiliki energi sihir yang besar saja. Tidak berpengaruh untuk Rakha yang tidak memiliki energi sihir.

“Aku tidak bisa menutup daya ledaknya karena akan membuat Azrael dalam bahaya.”

Dia masih belum boleh mati.

Dari balik dalam ledakan itu, terlihat Azrael mengeluarkan sayap putih dan hitam secara bersamaan. Aura asing bercampur aduk dengan milik Azrael. Bentuk tubuhnya pun seperti chimera yang memiliki dua kepala. Dan untuk pertama kalinya, malaikat memiliki tanduk pada dahinya, seperti iblis.

Rakha yang berada di atas langit menggunakan tekniknya untuk menekan Azrael ke tanah. “Teknik Pikiran: Press.” Hanya dengan teriakan Azrael, teknik itu langsung dipentalkan. Kekuatan yang tiba-tiba meningkat itu membuat Rakha sedikit terkejut.

“Aku adalah Yehudiel, sang malaikat agung … aku akan menghapuskan kematian dari semesta ini.”

“Omong kosong.” Rakha tepat berada di belakang Azrael yang sedang dirasuki Yehudiel itu. Menempelkan jari telunjuk pada punggungnya, “Cepat keluar dari tubuhnya atau —”

“Atau apa? Aku tidak takut, karna energi ini hanyalah avatar sementara yang kugunakan. Tubuh asliku masih berada di Dimensi Atas. Lakukan saja yang ingin kau laku—” Sebelum ucapannya selesai, Rakha langsung menembakkan sebuah peluru hitam dari jari telunjuknya tepat pada jantung Azrael.

Peluru hitam, lebih tepatnya sebuah tetesan elemen kegelapan yang mampu menembus dan menelan apa pun yang disentuhnya. Lubang yang dihasilkan pada dada Azrael, membuat dirinya jatuh terkapar pada tanah. “Maaf saja … aku tidak senaif itu untuk berbelas kasih saat membunuh orang,” ucap Rakha.

Mila yang berada di celah dimensi langsung memunculkan dirinya di sebelah Azrael, “Hentikan ayah! Jangan bunuh paman ini!”

“Menyingkir nak, biar ayah musnahkan dirinya bersama dengan iblis yang mengaku sebagai malaikat itu.” Tangan kanan Rakha sudah dipenuhi fluida cair berelemen gelap.

“Biarkan paman ini menyelesaikan urusannya sendiri,” sorot mata serius itu membuat Rakha mengingat sesuatu yang sangat ingin ia lupakan.

“Baiklah, jika ada apa-apa. Ayah akan langsung membunuhnya.” Rakha berjalan mendekati tubuh Azrael dan menempelkan semacam kutukan pada dadanya. “Lakukan yang Mila inginkan, ayah akan menonton saja.”

“Kita tidak perlu melakukan apa pun,” gumam Mila.

~***~

Di dalam alam bawah sadar yang penuh kegelapan. Kesepian, penderitaan, dan rasa sakit akan kehilangan, semua itu terkandung dalam kegelapan alam bawah sadar ini. Batas alam yang tak berujung sama sekali. Hukum dimensi waktu dan ruang tidak berlaku di dalam alam ini.

Azrael dengan penampilan malaikat bersayap hitam berjalan ke depan tanpa tahu arah yang ditujunya. Bukan hanya sayapnya, tetapi rambut, pakaian, mata bahkan aura yang dikeluarkan pun berwarna hitam gelap. Lelah berjalan, Azrael berdiam diri, duduk termenung menghadap ke bawah. Dia melihat pantulan akan penampilan dirinya.

“I-Ini … aku?” Melihat cerminan dirinya yang sangat jauh dari kata ‘malaikat’.

“Ya, itu dirimu,” ucap seorang yang bercahaya sangat terang, tetapi cahayanya tidak dapat memancar keluar karena terhalang kegelapan.

Azrael melihat ke arah orang bercahaya itu, “Siapa kamu?”

“Aku, Yehudiel, hanya seorang malaikat maut biasa.” Yehudiel berjalan mendekati Azrael, “Menjadi malaikat maut itu sangat menyebalkan. Kita harus mencabut banyak nyawa, baik itu orang yang dermawan, kaya raya, miskin, bahkan orang yang kita cintai,” — Yehudiel mencoba untuk memancing emosi Azrael — “dengan menghilangkan konsep kematian kita bisa terbebas dari penderitaan ini. Dan juga … kita bisa bertemu lagi dengan orang yang telah tiada.” Yehudiel mengulurkan tangannya kepada Azrael.

Azrael ingin sekali menggapai tangannya, tetapi sebelum itu terjadi muncul seorang wanita dengan jubah putih, mata biru seperti milik seorang malaikat, pedang suci yang energinya sangat terasa, dan juga energi sihirnya yang terasa seperti milik Aneisha. “Hentikan di sana, Yehudiel.” Wanita itu mengarahkan pedangnya ke arah Yehudiel.

“Tak kusangka kau bisa masuk ke dalam sini.”

“Dasar malaikat bajingan.” Wanita itu langsung menghunuskan pedangnya pada kepala Yehudiel.

“Pedang biasa ini—oh, begitu ya … Pedang Suci Terkutuk, tak kusangka manusia bisa menggunakannya.” Yehudiel merasakan getaran energi yang mampu menghancurkan setiap sel energi sihirnya.

Pedang Suci Terkutuk, pedang legendaris yang biasa digunakan para malaikat namun telah diinfus dengan energi sihir kutukan ke dalamnya. Kekuatan di dalamnya menjadi sangat tidak jelas dan sulit dikendalikan. Pedang ini biasanya digunakan oleh beberapa malaikat agung dan juga petinggi dewan Dimensi Bawah.

“Untuk rencana ini akan ku anggap kalian memenangkannya, tetapi tidak untuk lain waktu. Sampai Jumpa.” Yehudiel pergi dari alam tersebut sebelum seluruh rohnya dilahap oleh pedang tersebut.

“Akhirnya aku tepat waktu, ayah.”

“A-ayah?”

Wanita itu tersenyum manis dan mengikis segala kegelapan, “Hai, ayah.”

Senyuman itu mengembalikan semua ingat Azrael yang sudah menghilang karena terkoyak oleh keinginan balas dendamnya, “Anakku.”

~***~

Teknik Pikiran: Kutukan Selaput Kegelapan—Rakha memberikan kutukan pada dada Azrael. “Lakukan yang Mila inginkan, ayah akan menonton saja.”

Saat Rakha berjalan menjauhi tubuh Azrael, datang seseorang berjubah putih dengan pedang sudah berada posisi untuk menghunus seseorang. Orang itu langsung menusuk kutukan Rakha pada dada Azrael yang sedang terkapar. Saat ujung pedang itu menembus tubuh dan menyentuh tanah, semuanya terasa sangat hening. Hanya Rakha yang sedikit terkejut di sana, sedangkan Mila seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

“Sudah saatnya … Ayah!” Mila memanggil ayahnya. Keluarlah roh Yehudiel dari dalam tubuh Azrael, “Ayah hancurkan roh itu!” Dengan mudahnya, Rakha hanya menembakkan peluru hitamnya lagi pada roh itu. Setelah mengenainya, roh Raphael terpecah-pecah menjadi abu dan tertiup angin.

Aku akan kembali lagi dan pastinya dengan wujud juga kekuatan sejatiku,” ucap Yehudiel samar-samar terdengar oleh Rakha.

Pedang yang tertancap pada dada Azrael tiba-tiba menghilang begitu saja. Dan tubuh Azrael sendiri seperti kembali pada wujud malaikatnya dengan sayap putih serta pakaian formal malaikat agung. “Jadi begitu ya, kau adalah anakku.” Datang menghampiri orang berjubah putih itu. “Maafkan aku, karena sudah melupakanmu. Aku terlalu terlena dengan ambisi kosongku.” Membuka poni yang menghalangi wajahnya, “Kau terlihat mirip sekali dengan ibumu.” Memeluknya dengan begitu erat dan memberikan kecupan pada keningnya.

“Rakha,” memanggil dan menghampiri Rakha. “Benar seperti yang kau katakan, ‘dunia tanpa kematian’, hal omong kosong itu akan sulit untuk kami, para malaikat juga roh-roh tinggi, pahami.” Rakha hanya melihat Azrael tanpa memberikan respon apa pun, bahkan sama sekali tidak berkedip. Tetapi Rakha tetap memberikan senyuman dan juga mengulurkan tangannya.

Kematian adalah seni yang kita tuangkan pada kanvas yang bernama kehidupan. Itu adalah hasil terakhir dari kehidupan kita. Semuanya tergantung pada warna yang kita tuang selama hidup. Kematian itu seni manusia yang paling indah.

Untuk sesaat Azrael terdiam melihat tangan Rakha lalu menanggapinya dengan tawa, “Haha, kau lucu sekali. Tapi bukan ide yang buruk.” Azrael menggapai genggaman Rakha. Keduanya hanya saling memberikan senyuman yang menandakan terlahirnya dan juga berpisahnya sepasang teman.

“Hai, nak Mila.”

“Paman.” Mila mendekap Azrael dengan begitu erat, bahkan pakaiannya terlihat semakin kusut. “Warna paman menjadi lebih cerah dan lebih ringan.”

“Seperti itu ya? Syukurlah.” Mengelus-elus kepala Mila, sedangkan anaknya sendiri tidak melihat dirinya sama sekali. “Energi kehidupanku sepertinya tersisa beberapa detik lagi, aku tak bisa berlama lagi di sini.” Sebelum dirinya benar-benar sirna, Rakha mengambil sesuatu dari lengan Azrael. “Kutitipkan harapan terakhirku padamu, Rakha.”

“Terima kasih, semuanya.”

Jaga dirimu baik-baik, anakku. Keinginan dan janjiku sudah terpenuhi.

~***~

“Hei Rael, sisa hidupku tinggal 9 bulan lagi kan? Aku ingin sekali memiliki anak. Tetapi aku tidak ingin meninggalkan suamiku berduaan dengan anakku. Hanya saja, aku bisa saja membiarkan anakku bersama denganmu,” ucap Aneisha di depan api unggun.

“Bukankah kamu ingin mengelilingi dunia dan melihat segala isinya?”

“Maksudku, akan menyenangkan jika memiliki anak sebelum kematianku datang.”

“Tetapi bagaimana dengan nasibnya nanti, dia pasti akan hidup tanpa seorang ibu.”

Aneisha hanya melemparkan tanggung jawab itu kepada Azrael, “Kau pasti bisa menanganinya.”

Tak lama dari perbincangan itu, Azrael memutuskan untuk menerima permintaan Aneisha. Pada dasarnya, malaikat dan manusia tidak dapat berhubungan tubuh. Namun dengan kekuatan tertentu, Azrael mampu membuat Aneisha mengandung seorang anak. Dia menggunakan energi sihir murninya untuk membentuk sebuah janin pada rahim Aneisha.

“Aku berjanji akan membuatmu melihat keturunanmu, sebelum aku mengangkat nyawamu,” ucap Azrael. Tetapi, kalimat itu tidak direspon sama sekali oleh Aneisha.

Azrael menyesal melakukan itu semua. Dia tak sadar bahwa dirinya sudah melihat aura berwarna putih pekat pada tubuh Aneisha. Untuk memastikannya, ia kembali ke Dimensi Atas untuk mengecek sisa umur yang sebenarnya dari seorang Aneisha Clarabel. Dan ternyata ia melihat sebuah manipulasi data yang dibuat secara sengaja oleh seseorang.

Umur dari Aneisha Clarabel hanya tinggal tersisa empat hari lagi dan kandungannya baru saja menginjak umur 6 bulan. Masih ada waktu tiga bulan, agar janin di dalam rahimnya membentuk bayi sempurna. Azrael tidak ingin mengambil nyawanya itu sebelum Aneisha melihat sang buah hatinya terlahir. Ia menggunakan kekuatannya untuk melindungi Aneisha dari para malaikat yang ingin mengambil nyawa Aneisha. Agar tak terlihat oleh Aneisha, setiap pertarungan dilakukan di dalam dimensi buatan miliknya.

Tak terasa, tiga bulan sudah berlalu. Hari di mana Aneisha melaksanakan persalinan, akhirnya tiba. Suara rintihan kesakitan terdengar dari dalam rumah di tengah hutan. Azrael memanggil beberapa rekannya yang paham mengenai persalinan. Butuh banyak usaha agar Aneisha melahirkan anaknya itu. Tangan Azrael digenggam erat oleh Aneisha. Keringat yang dihasilkan Aneisha yang sedang berusaha dan juga Azrael yang khawatir dengan kondisinya terus menetes ke bawah.

Semuanya begitu tegang … hingga suara tangisan bayi terdengar di seluruh isi rumah, bahkan para penghuni hutan pun mendengarnya.

Azrael mencoba untuk menggendong bayi itu, “Kau berhasil Aneisha, bayi mu lahir dengan wajah yang mirip sepertimu —” ucapan dengan nada bahagia itu terhenti setelah melihat kondisi Aneisha.

Napas Aneisha semakin tidak teratur, dia juga tidak dapat melihat apa pun. Semuanya menjadi gelap begitu saja. Bahkan dengan usaha lebih pun, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Tentu saja, Azrael tidak tinggal diam. Dia ingin Aneisha melihat bayinya sebelum ia mencabut nyawanya. Dengan segala bentuk energi sihir ia keluarkan, namun kondisi sakaratul maut Aneisha tak kunjung menghilang.

Aneisha meminta telinga Azrael untuk didekatkan kepada mulutnya. Lalu ia membisikkan sesuatu padanya. Ditengah bisikkan itu, Sabit Surgawi, Heavenly Scythe, sabit yang dimiliki Azrael, terbang begitu saja ke tubuh Aneisha dan menarik rohnya dengan begitu lembut. Tanpa rasa sakit, Aneisha pergi meninggalkan sang buah hati yang baru saja terlahir. Ia meninggalkan senyuman yang begitu tenang terhanyut pada wajahnya.

Tidak ada penyesalan pada kehidupanku”, itulah yang tersirat pada wajah Aneisha.

“Aneisha?” Azrael dengan wajah shoknya menembakkan energi sihirnya ke langit. Karena tembakan itu, ia dibawa oleh beberapa malaikat agung yang turun dari Dimensi Atas. Lengan, kaki, badan, sayap, bahkan lehernya terikat rantai cahaya. 

Aku telah gagal menepati janjiku.

Di sebuah aula yang begitu megah, disaksikan oleh para roh, petinggi alam semesta, dan juga oleh sang Tuhan, Agares. Azrael diadili oleh sang hakim semesta, Adjudicator. Dengan timbangan miliknya, ia memungut suara para roh lainnya mengenai hukuman yang harus diterima oleh Azrael. Dan hasilnya adalah nihil, dengan artian seimbang. Maka dari itu, Adjudicator melemparkan keputusannya langsung kepada sang Tuhan.

“Azrael,” — Agares turun ke bawah, menghampiri Azrael dan memberikan tekanan sihir yang berat — “karena memberontak dari tugas utama malaikat maut, turun ke bumi dengan wujud asli, bahkan menembakkan energi sihir ke Dimensi Atas. Dengan begini, saya, Agares, mewakili dari ketiga roh pencipta, menjatuhkan hukuman penjara selamanya dan juga pencabutan hak beserta kewajibannya sebagai malaikat agung.”

Seisi aula terkejut dengan keputusan Agares, karena pada dasarnya hukuman mati adalah hukuman untuk para pemberontak. Tetapi untuk satu ini, dirinya hanya memberikan hukuman pencabutan kekuatan dan juga hukuman penjara selamanya. Sontak hal itu membuat seisi aula protes dengan keputusannya. Tetapi Agares langsung mengobarkan kekuatannya di sana.

“Siapa pun yang menolak keputusanku, turunlah kemari.” Karena tidak ada yang berani untuk turun, dia menghilangkan kobaran kekuatannya dan mulai pergi meninggalkan ruangan. “Azrael, aku memberikan kamu satu kesempatan terakhir. Jangan sia-siakan dan tunggu saja momentumnya,” bisik Agares kepada Azrael.

Selesailah pengadilan.

Azrael dimasukkan ke dalam penjara Dimensi Atas. Dia terus menerus mengingat janjinya dan tetap terus ingin menepatinya. Dengan rencana melarikan diri, dia akan mengambil roh Aneisha dan mempertemukannya dengan sang anak. Untuk melakukan rencana itu, ia harus menonaktifkan atau menghapus konsep kematian.

Anak? Anak siapa?

Karena beban pikiran yang terlalu berat. Ia mulai melupakan tujuan utamanya dan hanya berfokus dengan menghapuskan kematian. Perubahan yang sangat besar terjadi pada Azrael, hingga saat itu muncul. Ia terbebas dari penjara dan turun ke bumi. Dan seluruh kejadian itu terjadi begitu saja. Ia bertemu dengan sang anak. 

Bisikan Aneisha sebelum dirinya wafat, ternyata teknik untuk menempelkan sisa energi sihirnya kepada Azrael. Energi itu akan aktif jika Azrael bertemu dengan sang anak. Dalam alam bawah sadar Azrael, energi Aneisha bertemu dengan sang anak. Dirinya melihat wajah sang anak dan mengucapkan, “Kau benar Azrael, dia sangat mirip denganku. Dengan begini aku sepenuhnya telah tenang untuk pergi.” Aneisha terbang mendekati, menyentuh wajah, dan mencium Azrael, “Terima kasih telah menepati janjimu.” Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan milik Aneisha terlihat begitu dekat oleh Azrael.

“Dan kau juga nak ….”

“Namaku Aloysia Rosafie … ibu,” wanita berjubah putih ini mengepal erat kedua tangannya, menatap wajah ibundanya.

“Maafkan ibu, tidak memberimu nama. Ibu senang bertemu denganmu, keinginan untuk melihatmu sudah tercapai. Pasti hidupmu dipenuhi rintangan ya. Tapi kamu pasti sudah bisa melewati semuanya ya. Jujur saja, ibu ingin sekali hidup bersama dengan kalian semua.” Mengecup kening Aloysia dan langsung menghilang begitu saja.

Ibu sayang kalian berdua,” kalimat terakhir yang menggema dalam pikiran.

“Ayah juga sepertinya akan menyusul ibumu. Energi kehidupan ayah sudah tidak tersisa lagi. Maafkan ayah, untuk semuanya.” Azrael hilang begitu saja ditelan alam bawah sadarnya sendiri.

Selamat tinggal, ayah … ibu.

⎡ Aloysia mendapatkan Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan ⎦


Penulis: Garpit

Life Cycle

Entry Writchal #3
Tema: Hidup-Mati


I switch on my bedroom light. 

My vision is filled with a thick fog. I walk across the bedroom while rubbing my eyes. As  my consciousness grows, my vision becomes clearer. I look at the broken mirror in the bathroom.  My face appears on it, but it seems weird. I splash water on my face and rub my eyes again. Now  all I see is the normal me, the sad normal me with my work shirt on. 

Behind me, I can see my wife, Fidelia standing in front of our bed. Her flowing hair blocks  the morning sunlight from the window. Her smile shines brighter than the sun itself. She enters the  bathroom while bringing my tie. Her hand moves my head to look at the mirror, preventing me to  look at the bedroom’s cracked wall. I try to smile as much as I can while looking at her reflection.  She ties my tie and then rests her head on my shoulder. 

She holds my hand. “You look perfect, my love.” 

“I could never be as perfect as you, love. 

I’m not even kidding whenever I said that she’s perfect. She’s born to rich parents and  quickly become a model in her teens. She has a lot of money, yet somehow, she vowed to be my  wife. Every single aspect of her life is perfect, except for me and this run-downed apartment that  I can rent. Why did she even want to stay with me? 

She puts her head up. “You should smile more. Let’s eat breakfast. Don’t be late for your  job.” 

“What’s our breakfast today?” 

“Just a normal jam toast. We don’t have much food left until your next payment.” I turn around and look at her. “It doesn’t matter what we eat as long as you’re here with  me. I’ll work hard for both of us.” 

She smiles. “I know you will. Now, let’s eat.” 

We hold hands while walking out of the bathroom and through the bedroom. Fidelia had  already plate the toast on a small dining table that’s only fit for two people. A lone burner is placed next to it, located next to a cupboard that we use for storing anything. Everything here just feels  so crowded that it’s choking me. 

The toast Fidelia makes is still warm out of the toaster. It smells delicious but it doesn’t  excite me. All that I can think of is my life and the future. If I keep going like this, how am I  supposed to live my life.

The chair creaks as I pull it. I sit on the old chair, opposite of Fidelia. The jam tastes bitter  as I munch on it even though everyone says that it’s supposed to be sweet. Fidelia holds my hand. “Hey, you don’t smile when you eat today’s breakfast. Is there  something wrong with the toast?” 

“The toast is as good as it’s usually is. I’m just sad I’m not able to be as perfect as you. Why do you even want to be a person like me?” 

She grips my hand tight. “You’re already perfect the way you are. I know you work very  hard for the both of us and that’s enough reason for me to stay with you.” 

I look down. “I’m very sorry for our condition now. I’m so sorry for not being able to fulfill  any of your dreams, living in a house with a swimming pool, supply for food, or even a status to  be looked upon.” 

“Look at me.” 

I stay still. I can’t look at her after I have failed her multiple times. She’s perfect and I’m  not. I couldn’t let her live with me. 

She holds my chin and points it to her face. “I say look at me. Those are my past dreams,  dreams before I meet you. With time flowing, I realized that this is the life that I’ve always  wanted,” says her while extending her arm to the whole room. “I realized that the only thing that  I’ve been searching for this entire time is living a happy life with the person I trusted the most.  Nothing can change how I feel about you, no matter how much imperfection we have.” 

“Oh, my love Fidelia. What did I do to deserve a wife like you? You deserve a much better  life and I’ll work hard for that.” 

She smiles even brighter. “Stop being so hard on yourself. Sometimes you need to relax  and concentrate on living on the present. The future is unknown but we can face it together. If only  you could see yourself through my eyes.” 

A ringing starts from inside our bedroom. I instantly look at it. There’s no more time to  waste then. I must go to work now or I’ll be late. 

Fidelia releases my arm. “You should go now. I’ll handle the dishes.” 

The chair creaks as I stand up. I rush to the door and pick my coat from the rack. My hand  busily checks my pocket to make sure I didn’t forget anything. 

“Goodbye, my love. I’ll be patiently waiting here until you come back the evening,” says  her.

“I’ll see you too.” 

I close the door and look out of the apartment. The two-floored apartment I’m standing on  is old. All the paints are cracking and the pipes are rusting. Beyond the floor railing, opens a  parking lot with a single car on it, my work-car. That dusty machine reminds me of my past dreams,  forgotten and uncared for. 

I walk down the stairs, holding to the rusty railings. The farther I get away from my  apartment room, I feel worse about myself. Leaving Fidelia makes me remember the hardships of  my life. The constant cycle of waking up, working, and sleeping every day makes me feel dull. I  don’t feel anything beyond the warmth of Fidelia’s arms. I’m so tired of my life that I almost forget  that I’m still a living being and not a robot. But I shouldn’t think like that. I’m still alive, I must  stay alive for Fidelia’s happiness. 

I enter my car and start driving to the highway. The sun rises higher to the sky. Vehicles  starts to fill the highway, more than it usually is. I start to worry as cars in front of me slows down.  The highway is the quickest way to my workplace. Going to any other route will take much longer  time. This can’t be happening. I’ve always come on time my whole life. I can’t just break that  record. There has to be something that I can do to pass this traffic jam. 

I stomp the accelerator pedal but it was too late. Two cars have closed my path and slowed  down drastically. My fingers busily tapping on the driver wheel while I look at the time on my  car’s dashboard. No, there’s no way I’m getting there on time now. Why can’t I be perfect at  anything? 

Half an hour later I arrived at my workplace, the Microbiology Testing Center. With my  tired hands, I tidy my name tag with the title “Virologist” written on it. A dull grey building stands  behind a huge parking lot with lots of cars. Wall surrounds this place, expanding to the back of the  long building. Not even a single window in sight. I remember inside there, eternal hours of work  under artificial light. Not even a single plant is allowed inside that building. 

I step outside of my car. In front of the double-door, I can see my boss smoking his usual  cigarette. He must be waiting for me. 

I walk to him while looking down. “Good morning, Boss, I’m so sorry that I’m late.” He puffs a cloud of smoke. “I expected better from you. The corporate wants everything to  be perfect since we can’t make a single mistake here.” 

“I’m so sorry for failing you. I won’t do a mistake again.”

“You better be or else the corporate will force me to fire you,” he says while pointing a  finger at me. 

“I understand. I’ll go straight to work.” 

“Good. I’m just going to remind you once again. Make a single mistake and you’ll be fired.  I’ll head back to work or else they will fire me too.” 

Boss stumps his cigarette and goes inside. I walk right behind him. He enters his room,  right in the corner of the long main hallway. Before he closes his door, he nods at me. I head  straight to the lab I work at, passing multiple identical lab with huge glass window in front. When  I arrive, my lab partner, Treone is already inside, preparing the equipment for today’s observation. 

He smiles at me when I enter the lab. I take my lab coat and mask then step inside the air  chamber between the lab and the dressing room. I stare at the lab with no passion. I still remember  the first day I work here. I was really nervous and proud to be assigned in this lab. But working  with the same thing over and over again have eroded me. I no longer feel any passion left in my  work. 

“Good morning. You look as tired as always,” laughs him. “Do you want a coffee?” “No. Just head to work and finish this day.” 

He continues to prepare the equipment. “Work will be more enjoyable if you’re happy  about it. We can joke for a bit you know.” 

“No. This job is very important to me. I can’t just lose it because we joked while we work.  I expect you to be serious about this job too.” 

“I’m sorry then. I thought that since we’ve been lab partner for years, we might want to  know each other better,” he says while putting the last equipment in place. “We can talk another time, but for now we have a job to do. How’s our specimen condition  today?” 

Treone opens the cooler and pulls out a tray of virus specimens that I’ve been working for  years. This is my life work, if this fails, then I’m just a failure. The specimens must succeed.  Treone put the tray on the table while I’m checking the electron microscope. He walks away to  pick up our lab journal. I pick up one of the specimen vials. 

Treone touches my back. “Don’t forget to be careful.” 

I instantly push his hand away. “You almost made me drop the specimen. I’ve been doing  this for years; I know what I’m doing. There will be no more mistake.”

“Okay then. I’ll make sure I won’t bug you. I’ll observe from here.” 

I look away from him and focus on the vial. I open the lid and quickly put the specimen  under the microscope. I look at the computer and observe it’s RNA. There’s no change in this  specimen. Another day of failure. With this sample, I don’t think the other specimen is going to  change too. 

“False again,” I say to Treone. 

“That sucks. But we still have to check every single specimen. There may be a mutation in  one of the other specimens.” 

“I’ve lost hope for years of not finding anything. I’m just doing this observation for  payment. Have you written the observation yet?” 

“Oh yeah. I almost forgot,” he says then quickly write on the journal. 

I look back at the microscope. “I need you to be more serious.” 

I take the vial out of the electron microscope and put the lid back on. My hand moves  quickly, swapping the vial with the new one. I open the lid, observe the specimen, see more failure and close the lid again. I do the same thing over and over until my shift is over. No mutation is  seen today. 

I’ve been trying to find a virus mutation that can replicate DNA strands to produce selected  cells instead of making more virus bodies. With that kind of mutation, it will be a breakthrough in  the medical field. A lot of people can be healed. Another benefit that I can’t ignore is the income. With that breakthrough, I can finally have enough money to buy the house I and Fidelia have been  dreaming of. I can finally be happy. But it doesn’t seem that it’ll happen soon. It’s been years and  all I got is mutations that’s not what I’m searching for. My time is running too quickly. Maybe I  won’t find the mutation until I die. 

Treone touches my back. “Hey, our shift is already over. It’s the evening. We should clean  up now.” 

I keep observing each vial. “You can go home. I’ll stay here.” 

He walks closer. “We can continue tomorrow you know. You haven’t even taken a rest  today.” 

I brush his hand off my back. “Just go. I’ll clean up everything when I’m done.” “Are you sure you don’t need any help?” 

“No. Just go,” I say loudly at him.

“Okay then. Just be careful,” say him while closing the door to the air chamber.  The air chamber blows Treone’s outfit and then he hangs the lab coat and put down the  mask. He waves at me one last time before closing the lab door. I look back at the specimens, my  failures. 

“One of you must mutates. For my family, for the world.” 

I check another specimen, but there’s still no mutation. Why can’t I just get my happy  ending? 

I put back the vial to the rack then I slam the table. I’ve been doing the same thing for  hours, but to no avail. There’re only a few specimens left to check. I have to do check it now. I  can’t rest without knowing what could be inside one of those specimens. 

My shaking hand take a vial and open its lid. I put it inside the electron microscope with  no hope left in me. My eyes widen as I look at the monitor screen. There’s a mutation in it’s RNA. “Please let it be the mutation that I wanted.” 

I put some bacteria samples on a petri dish then I drop a few specimens on the same petri  dish. I put it on the electron microscope and I observe the screen. The virus starts to dig into  bacteria and get near its DNA. Something weird is happening. The virus is not attacking the DNA,  instead it’s copying the DNA substance. This is it. Now to test if it will give the DNA to another  cell. 

I take a cancer cell and put it in another petri dish and mix it with the virus with bacteria’s  DNA. Under the microscope I can observe everything. The virus digs through the cancer cell  membrane and meet with its DNA. But something bad happens. The cancer cell took over the  DNA and the virus die with it. 

I slam the table. “Why is this happening to me? I was so close to my breakthrough but it’s  another failure. Why am I so useless to everyone? What’s even the purpose of me living if I’m  going to fail for my entire life?” 

I quickly put the vials to the rack and put it inside the cooler again. I clean up every  equipment but suddenly my head starts to spin. A headache rushes into my head, slowing down  my movement. I’ve probably worked myself too much, I need to go home now. I quickly finish cleaning up and head out of the lab. On the front door, I see my boss leaning to the wall, smoking  another cigarette. 

“Another rough night shifts?” asks him while puffing a smoke cloud.

“Yeah. Still no progress on my project today.” 

“Don’t you worry. Your life will soon change for the better.” 

“I’ll leave now, boss. If you don’t mind.” 

He puffs another smoke cloud. “Call me Mort.” 

“Okay, Mort. I’ll head back now.” 

He nods. 

I head to my car with a growing headache. It feels like something is growing inside my  head. I try to ignore that pain and drive straight out of the building. The night fog has come again,  covering much of my view. I drive through an empty highway, but still, I have to focus on the  road. Pain surges come as I drive. I try to hold the pain back, but I fail. I lose focus a few times  before I get out of the highway. 

I slap myself on the face. “Focus on the road. I’m almost home.” 

The pain come again, even stronger this time. I hold my head in pain as my other hand try  to grip the steering wheel. Why is my head like this? 

I’m a few meters away from my apartment. A surge of pain strike my head and I lose  control of the steering wheel. I try to hold back the wheel while stomping the brake pedal. I manage  to stop but I hit something hard. I can’t see much beyond the night fog. All I can hear when the  collision happen is a woman screaming. 

I walk out of my car to check while still holding my head. 

“No, oh no” 

I come running to the victim. There lay my beloved wife, Fidelia in a pool of blood next to  the apartment building. 

I hold her head up. “Fidelia, my beloved wife. Talk to me. Please stay awake.” “Hello, my love. I thought I’ve lost you,” she says with her bloody mouth. “What are you doing out here?” I ask as I try to hold back my tears. 

Fidelia rubs her cold hand on my cheek. “I was searching for you. You said you’ll be here  by the evening.” 

I hold her hand tight. “Oh, Fidelia. I’m so sorry for everything. Sorry for not keeping my  promise. Please stay awake for me. I’ll call an ambulance.” 

“It’s too late now for that. I can feel my consciousness slowly losing its grip,” she says  while looking away from me.

I point her face at me. “Please, don’t leave me.” 

“Don’t blame yourself, my love. I will always love you forever.” 

Blood spew out of her mouth and her eyes close on me. I cry out a scream of pain as tears  pour down from my chin. I can’t feel her breath, her veins, nor even hear her heart beating. She’s  gone forever now.  

I scream. “Why am I like this? I can’t even fulfill my promise to my own wife. Why must  I be so useless to this world?” 

This is all my fault. I’m not ready to let her go. I still want to see her. I don’t want her to  go like this. I haven’t fulfilled her dreams. I haven’t been a good person. No matter what I do, I  always fail in the end. I’m tired of always failing over and over and over. There’s no more thing  that held me back from getting off this world. 

I let go of Fidelia’s bloody hands and walk upstairs, to my apartment room. Everything  feels empty. The air is cold, there’s no Fidelia’s warm hug to greet me, there’s no more joy in this  place. I walk to the cabinet, picking up a kitchen knife as I look at a cold dinner prepared for me.  My feet walk on itself to the bedroom that’s still the light still on. My headache strike again and I  accidentally bump the lit stove and an oil bottle fell on it. Fire starts to spread fast, but I was too  dead inside to care. 

I enter my bedroom. The bed sheet is clean and empty. I open up the window next to the  bed and look up at the foggy night sky. I can’t even see the beautiful stars on my death day. I’m  such a failure

My headache keeps growing until I can’t take it anymore. I hold up the knife in pain. The pain surges and I scream out all of my lungs. I can’t handle it anymore. 

“Fidelia, we will meet again.” 

I strike my throat with the knife, ending the endless sound of my scream. Blood gush out  of my throat as I fell to the floor. My vision is slowly fading. I start to lose everything in my  memory. 

The fire keeps burning through the apartment, entering the bedroom. I can vaguely see the  fire climbing up the wall, burning everything in its path. Soon it hits the lightbulb. The fire switch off the bedroom light.


Writer: P. C.

Gray Katie (Writchal Edition)

Entry Writchal #3
Tema: Hidup-Mati


Dark fumes rise to the heavens. The field reeks of burnt metals. Caitlyn hesitantly reopens her eyes; she thought the blast consumed her. She screens her face with an arm as she supports her body with her other arm. The battle vehicle that once stood there with all his pride, the symbol of ArC’s ground dominance, is now left in flames. It has become nothing more than a hunk of aesthetically strewn together metals; its parts are scattered all around, never returning home.

Amidst the barren parts is her android comrade lying just several inches beside her, her face is to the ground. Caitlyn crawls to her position and flips her around. The body remains there motionless. Her eyes are fixed to the reddish gradient of the sky, blanketing the field. She let out a deep breath as she reaches for her face, closing her eyes. Inside, she wishes that her storage memory could be recovered. The universal design doesn’t allow that to instil sentience in the Androids. So, when they fell in battle, their memories, personalities, and anything that makes them a person is gone. The unit, if recoverable, will be salvaged and recycled to give birth to a new one.

Caitlyn then catches a growing rumble. A glance to one side brings her a sight of three squad of Vindicators’ Guards supported by their tank, Gauntlet, advancing to her position. They are most likely catching up with the rest of their lines. But that requires them to march past her.

So, Caitlyn stands up to her feet as soon as possible and begin sprinting away from them.

Decisions have always been a gamble, especially amidst the heat of a battle. She thought she could dive through the flank of that exposed Vindicator’s land-ship and deals some damage. The damage however, is negligible, and that maneuver just cost her the entire platoon. Four tanks lost in exchange for nothing.

And now she has three squads of enemy infantries and a tank on her tail, especially when one of them has spotted her.

The Gauntlet’s machine gun opens fire at her. She raises her arms, shielding her head from tiny shrapnel and dust that kicks off as the cartridges fall just short of her. It appears that the shot is not intended for harm, merely to pin her down. But she doesn’t intend to let herself fell captive to those grunts in crimson-outlined armor.

Caitlyn keeps on running. Her effort eventually brought her to a wooded region. There, a concussive grenade round unfortunately struck a tree trunk beside her, toppling her balance, blurring her sight. Then another one falls and her back hits the ground again.

“Ghh…huh…!” She grunts as she quickly attempting to regain herself.

But a squad of Guards is already on her, weapons trained to her heads. She decelerates her breath and, with a heavy heart, she raises her hands.

As soon as one of the Guards is about to pull her up, the ground behind the Guards burst out dirt as far as about a quarter up the tree trunks. Caitlyn screens her face as the dirt rains on her. As the Guards’ attentions turn elsewhere, they are met by a hail of machine gun fire. The barrage takes three Guards down, before the remainder of the squad scatters away like they have just seen eldritch superstitions.

“You, there!” A rough male voice blaring through her utilizer. “At your eight!”

Caitlyn turns around, surprised to find an ArC tank a hundred meters from her, still in his ghillie coat. She makes haste toward its position with no second thought.

“Thank you.” She says, her breath heavy.

“Thank me later, lady.” A voice from the tank says. “We gotta get out of here first. My crew is dead, and I am left on manual drive as they passed.”

She doesn’t need the voice to say it again. They are both in a precarious situation. And the only way out can be achieved through cooperation. Besides, the ArC can’t afford to provide their nemesis with an intact technology of their own. She has to command the tank.

“I’m going to turn on your autopilot.” She says to the voice.

“Yes, hand over my tracks back.”

Caitlyn turns her glance around her for a second before climbing up the tank and enter through the turret hatch. Two motionless body greets her as she reaches the tank’s interior.

“They’re both humans. A rocket scores a direct hit and the shockwaves took those poor souls.” The voice says.

Caitlyn takes a deep breath and casts aside her sentiment for the moment. For if she doesn’t make it, if the tank doesn’t make it, there would be no one to attend their funeral. She steps over them, reaching for the tank’s control panel. Her fingers run swift on a keyboard, typing a command that grants the tank the ability to steer themselves.

“There we go!” The voice yells, seemingly relieved, as soon as Caitlyn pressed a button on the keyboard. A sudden jerk of movement follows, throwing Caitlyn’s head against the tank’s interior nearest to her. “Sorry, for that.”

“It’s okay.” Caitlyn rubs her head. “Now get us out of here.” She says to the voice.

The engine rumbles louder and the interior begins to vibrates as the tank turns and increases its speed.

“By the way,” The voice speaks again. “Since I’m about to go wild to drive us home, get those safeties off me and man the weapons, got it?”

For a moment she thought she is going to be the one who would provide the orders. Instead it’s the other way around. In terms of survivability however, it doesn’t matter who gives the order. One just has to trust the other party they are cooperating with.

Caitlyn taps on some buttons on a panel beside the keyboard and flicks a lever. “Safeties off and manual weapon system on.”

“Here we go!”

She holds on as the tank accelerates past the redline. Safeties off allows enhanced movement feature such as more speed and sensitive turning. Those features have proven to be advantageous in moments that requires quick armoured response. But they are harmful to the tank’s integrity. Using them continuously in a long duration or within short but frequent timespan with no repairs in between could cause significant breakdowns.

Right now, withdrawing is the top priority. So breaking past the tank’s limit is an essential decision that Caitlyn has to take.  She just hopes that he could last long enough until they return to friendly lines.

Suddenly Caitlyn catches a loud rumble. The tank’s hull is being hailed by a rain of dirt as shown by the screens which is connected to the tank’s optic. It appears something is aiming for them but missed.

“Is that a Gauntlet firing at us from behind?” The voice says.

Caitlyn scrambles to turn the tank’s periscope behind. She takes a closer look to one of the screens. There she indeed finds an enemy tank dashing through the trees, slowly creeping towards them.

“Yes, it is.”

Another shell lands near them, barely hitting the tank’s engine compartment.

“For Primus’ sake, that was close!”

“We have to do something.” Caitlyn says.

“I thought we’re rushing straight back to base.”

“Their next shot is going to land at us. I doubt your integrity is enough to withstand an AP round from that thing.”

“Alright,” The voice sighs. “Pull the smoke triggers and hang on tight.”

Caitlyn presses a button that launches smoke grenades from both sides of the main gun on the front side of the turret. Each fragment in a split second they reached mid-air, creating a white smoke screen that should obscure the visions of their chaser. A second later they emerge on a relatively flat plain. The tank turns hard right, drifting in the process. And as soon as its front hull turned, it slams the reverse gear. With the presence of the smoke screen, that Gauntlet won’t discover that the tank’s turret is aimed at their left when it emerges from the wooded area.

Not long after, the screen extrudes and shifts along a metal vehicle that clears through them.

“Fire!” The voice yells.

Caitlyn pulls the trigger. Another rumble followed up by flames bursting from the target vehicle.

“Got him.” Caitlyn wanted to cheer out, but her composure doesn’t allow her to.

“Nice shot, lady!”

Caitlyn just nods.

The tank turns left and cranks up his speed again. As he does so, a voice comes through the interior speaker as well as Caitlyn’s utilizer.

“51st Tank Platoon, are you the friendly triangle behind the crimson line?”

            Crimson line? Caitlyn freezes for a moment. She wishes that the phrase never has to come through the audio system.

“Command, please specify ‘crimson line’ over.” Inside, she already knows what that supposed to mean. She is just still too petrified on what that implies.

“There’s a whole Guards battalion ahead of your position. And a platoon of Gauntlet just broke off to meet you. Contact ETA 30 seconds.”

Just as she thought. As far as her experience went, fate has never been kind to her.

An enemy tank platoon, at the moment, consists of three Gauntlet battle tanks and various support units. Each has more armour than her own. On normal occasions they can still go toe to toe, holding each other in place while reinforcements swing around and deals with the other for good. Usually it is IFVs equipped with AT rockets, but sometimes squads of infantries with anti-tank missiles could do the job as well.

In this case however, the Gauntlets outnumber hers. In addition to that is the wavering hull integrity of the tank, thanks to the rocket hit. She is sure that one or two shots from the Gauntlet could turn her tank into a ball of flame, even from the front.

“Requesting support over. We can’t hand over this tank to the enemy!” Caitlyn replies frantically through her utilizer.

“The 12th Combined Proxy Company shall break through the battalions and hold a point for three minutes. If you don’t find yourself there when that time runs out, destroy that tank immediately.”

“But sir-”

The transmission cuts.

“Damn it!” Caitlyn slams her thigh.

“It’s just you and me now lady.” The voice comes through again. “I believe in you.”

The tank believes in her. For the first time ever, a tank entrusts his life to her. She doesn’t even believe in herself. Not after the shenanigans that costs her an entire platoon. It’s even a fortune that she is here at the moment. And that’s because that concussive round fell on her just some distance from an abandoned tank.

“Hey lady…” Caitlyn raises her head as the tank addresses her. “Have you ever enabled safeties off before?”

Caitlyn recalls her experience of working with tanks of the same design before. “I don’t think I have.”

“Did you know that my loader would also go wild under that condition?”

“If you meant faster…”

Caitlyn’s words are interrupted by a loud rumble. A shell lands just in front of the tank, barely missing him again.

“Contact! Direction 45.” The voice yells. “Yes, yes. I meant faster.”

Caitlyn sees three crimson triangles on the radar screen advancing toward her. Peering through the periscope, the enemy tanks look just as real and menacing. There’s no more time for her to think. She has to make another decision.

She quickly brings up a screen that shows the terrain in a kilometre radius from her. On one corner she spots a sort of an orchard with dense foliage.

“Take us uphill, toward that vegetations at 330.” Caitlyn says while pulling the smoke triggers twice in a considerate interval. The screens not only obscure vision, but also disrupt radar, concealing the vehicle for a brief moment.

“Got it.” The voice replies. The tank turns toward that direction.

Caitlyn fires another smoke screen just as the tank about to enter the orchard.

“Just so you know that’s my last smoke screen.”

“I’m aware of it.” She nods. “Don’t worry, we’ll make it. I’m putting a waypoint on the screen, take up position there.”

“Heading over.”

“Turn off any lightings you have.”

Darkness is already upon them. The tank is still covered in his ghillie coat. With the help of the foliage, those Gauntlets should have a hard time finding them here.

“All flashy things are off.”

If they indeed decide to scour the orchard. Caitlyn doesn’t wish to stay put while knowing a company is bleeding their way to clear a path for her. That’s just doesn’t seem fair to her. She has to put some effort, to do her part. She has to fight back.

“Now we wait.” Caitlyn says, gently touching one side of the interior to her left. “Then let’s see how fast your loader works under safeties off.”

“Understood.”

Then the radar picks up the three Gauntlets ahead of them heading to their left, seemingly unaware of their position. Caitlyn’s gaze falls at the periscope screen ensuring that the enemy tanks are there.

“Do you see them?”

“I see them.”

Caitlyn trains the main gun at the lead tank. Her attention leers for a brief moment to the amount of AP rounds available. It is enough. She then takes a deep breath.

“Here we go!” She says, pressing the fire button hard.

The main gun of the tank roars again. Followed up by another, shortly. And another. And another. Five shells are fired toward the enemy’s lead tank in quick succession. Two falls short. One got deflected and the other two disables the main gun. The other two turns their turret as soon as the shells hit.

“That was fast.” Caitlyn astonished.

“I told you.” The voice replies. “Anyway, no time for cheers. They’re on to us now. What’s your next plan.”

“Charge them.” She says. “Full speed ahead.”

The cabin is silent for a moment.

“What?”

“I said charge!” Caitlyn raises her tone. “Go, go, go!”

The tank jerks forward before going downhill at an incredible speed. The inclination allows them to reach such pace in a short amount of time. Caitlyn brings herself to a seat and straps the safety belt.

“I don’t like the looks of this.”

“Don’t stop!” Caitlyn yells again. She turns the turret ninety-degrees to the left.

The Gauntlet they’re rushing to perhaps know what they’re up to now. But it is too late for them. As they’re turning their front hull to Caitlyn’s direction…

“Arrgh!” The voice grunts

Two pieces of steel collides under the dim glare of the stars. The head-shattering noise echoes to the corner of the plains; every critter that caught them tremble and scatter in terror. The crash is enough to throw Caitlyn’s head to the interior in front of her again. Even in the presence of the tightly strapped safety belt. Of course, being an Android, she is able to withstand the slight metallic bump on her forehead.

Caitlyn hastily releases the safety belt and scrambles to the weapon system again.

“Hit the reverse gear and turn right!” She says.

The tank reverses and turns to the right, circling behind the Gauntlets’ formation. The one that they crashed into doesn’t show any further movement. Perhaps the crash is sufficient to knock out the crew.

“My head is still ringing from that crash.”

“You don’t have one.”

“If I had one.”

Caitlyn turns the turret toward the immobilized tank and fires straight to the engine compartment on their rear. The 125mm AP round shot through a rifled barrel makes a quick work through the Gauntlet’s rear hull and butchered its engine. As Caitlyn turns the turret to face the last Gauntlet, she notices where its turret is aiming. And on a whim…

Stop! Stop! Now!” She yells, slamming on the cabin’s walls while holding tight on something. And just after they stops, the ground in front of them burst dirt to the air. A shell just landed there, barely hitting them.

“That was too close!”

Caitlyn presses the fire button, launching two consecutive shot toward the Gauntlet’s side, slightly to the rear. The enemy tank then burst into flames.

“Ha! Take that!” The voice cries.

“Go, now! Get us out of here!”

The tank swing around, accelerating past his redline again. Caitlyn takes the chance as the tank passes the enemy lead Gauntlet that got its gun disabled, and fires a shot at their tracks. It hits, and now that Gauntlet is no longer near a threat to them.

“We made it! We made it!” The voice cheers.

Caitlyn gaze falls on the screen that shows three disarmed Gauntlet that grows smaller as they get further. They sit helpless amidst the flat plain, lit by the moonlight. Their crimson outlines are still visible within this distance. She takes a deep breath in the absence of their threat. A brief pause that allows her to cool down. And a relief that she managed to get over them and emerge alive with additional kill counts. Fate isn’t so hard on her after all. For now, she just nods and replies gently.

“We made it.”

But amidst her cheering heart and relieving tension, the voice utters something…

“Uh-” Something that she wanted to hear the least.

“What’s going on?” She asks, pretending that it is not a dire concern. It could be one indeed. But pretending gives her a better edge of remaining calm; an attitude expected of all leaders and commanders.

Just as she finished asking, a bang from the rear hull echoes its way to the cabin and catches her attention.

“What was that?” She asks before taking a glance at one side of the control panel. Something definitely goes off, and that doesn’t appear to be good news since the result is the gradual reduction of the number shown by the speedometer.

“That’s my engine.” The voice says as the tank finally comes to a halt. “That’s an example of what would happen if limits are broken for too long.”

“An example?” Caitlyn shakes at what that implies. “You mean there’s more damage you are sustaining?”

“Loader is actually not in a decent condition now.” The voice says. “Sure you can use it, but there’s a high risk of the shell exploding before it leaves the barrel. That should spell your end.”

            Damn.

“I should be able to repair you.” Caitlyn says. She just came out of an engagement victorious, one where she is outnumbered. She is so close. There has to be friendlies waiting on the other side of the prairie. Once there they only have to drive a bit further through the gap that they made, before finally reaching safety behind their lines.

“I’m afraid…” The voice pauses. “That’s not an option.”

“Why?”

“I’m getting target locks from along direction 300 to 60.” He responds. “We’re surrounded.”

Caitlyn climbs up to the hatch as soon as the voice ends his statement. As soon as she does, she finds crimson pointers trained at her. Some of the glare caught her eyes. The infantries lurking in the darkness begins to creep forward, revealing themselves. She takes a deep breath.

“Well, that was a good fight. We’ve resisted well.”

“It’s good knowing you.” Caitlyn says, raising her hands.

When the tank is about to commit a self-destruct sequence, the Guards that surround them suddenly, and collectively, turn their sight to the skies behind them. Caitlyn hears it too, something is splitting the air, across the sea of darkness above. A second later, it falls on them. Particularly on the Guards, hailing them with missiles and gunfires.

Caitlyn quickly ducks, leaving a small part of her head still exposed so she could see the events unfolding. That thing sweeps above them in a split second. But it’s enough for her to make the form of its silhouette.

The ArC’s attack aircraft, Cosmos.

Its flyby is followed by an artillery barrage that scatters the Guards.

“51st Tank Platoon, this is Captain Fort of the 12th Combined Proxy Company speaking.” A voice comes through her utilizer. “We have utility units advancing to your position and commence extraction shortly. Two Vertices squad will reach you prior to their arrival for support. Over.”

“They’re here! We’re saved!” The tank says to Caitlyn. He then proceeds to reply. “This is the 51st Tank Platoon speaking. Allow me to personally express my gratitude for you Captain Fort.”

“Mine as well.” Caitlyn follows.

“That can be done later when we got you out of there.” Fort replies.

All in all, it is safe for her to assume that she is indeed finally safe. She collapses to a seat in her cabin, her head resting on its headrest.

            At last…

It has been one hectic evening for her. She wishes that fate allows her to have her much needed rest for the day. Especially when she hasn’t calibrated herself in the span of the week thanks to the operation.

“By the way, I haven’t caught your name.” The tank speaks again.

He’s right. For some reason, they managed to survive without knowing each other. Perhaps that owes to how overwhelming the odds are against them. But now that they made it, she guesses that it’s the right time to shake hands.

“It’s Caitlyn.” She says to the voice. “Grauwelle Caitlyn.”

“Grauwelle Caitlyn, eh?” The voice says in a tone that should show him forming a smirk on his face if he ever had one. “What a beautiful name.”

Caitlyn grins and shrugs at that response. “Thank you.” She turns her sight down believing that she could do better than that, if only not due to the exhaustion and adrenaline of breaking through enemy lines to withdraw. “How about you?” She asks the voice in return.

“Mine is Protivotankoviy,” The voice speaks with a sign of confidence. “I suggest you find an alternate name based on that, because I doubt you could spell that amidst the chaos of battle.”

She turns to tank’s ceilings while reaching deep into her processor. It doesn’t take long for her to come up with something.

“PT.” Caitlyn says to Protivotankoviy. “I’ll call you PT.”

“Sounds brilliant to me.” PT replies.

“Good.” Caitlyn nods.

“And how about I call you…” PT speaks again. “KT.”

Caitlyn shrugs. That sounds quite unsettling to her. But to honour the tank that has helped her out of the enemy lines, she’ll just let that one pass.  “Fair trade, I guess.”

“If they allow you to be my commander, that’d be our callsigns okay? Just between us.”

Caitlyn waves two fingers besides her head. “Aye aye.”

She then chuckles. Throughout her career, she never thought that the Automatons could develop a personality like PT. It felt like she was conversing with a human or another Android. It comes as a strange tingling feeling to her core. It warms her that she could learn more about PT. At least, when he came out of manufacture, his first battle, and how he got here. And for some reason, Caitlyn wishes that they assign her to be PT’s commander.

Fortunately, fate would have it her way.

–**–

            The Ground Combat Vehicle Mark V ‘Redeemer’ is ArC’s battle tank that have seen deployment countless of times, dating as far as The Primus’ conquest. Weighing about sixty-nine tons, it sports a 125mm rifled gun with an effective range of 4500 meters, as well as an automatic loader to allow rapid and accurate fire volley. However, it can take less hit compared to the TeV’s counterpart, the Gauntlet. In compensation, it is able to move swiftly from one point to another. The Primus demands a quick death of his enemies in battle, and the tank is that demand manifested. They are most devastating when used in cover or to flank enemy positions. Their high explosive shells can damage any enemy equipment, or straight up destroy most of them.

Caitlyn stares out the window of her hab. Three days flew past without PT. She requested several days off to command to rest herself. Mostly a mental concern. She just saw her own platoon got decimated because of her decision. The faces of her dead comrade often come to meet her when she closes her eyes. It’s hard for her to imagine how it would feel for them to lay dead on the battlefield knowing no one would come to extract them; especially for the human personnel, who have families back home waiting for their return. The command granted her request, considering they also need to do something about the 51st Tank Platoon.

The clock eventually hits lunch break for the day. At least that’s how it should be for the human personnel. Nevertheless, she decides to leave for the mess hall. She marches past a crowd of Proxies filling the hallways. Some groups are having conversation on one side, some hurries past in a fraction of a second; stumbling on almost anyone in the hallways. At one point, one of those men nudge Caitlyn’s shoulder. He glances around to state a brief apology. But Caitlyn only leers at him without any words.

The mess hall is even more crowded; A mix of individual chattering and the clatter of dishes being stacked are the noises that dominates the space. Caitlyn utters no second thought as she walks toward a certain fridge on one side of the mess hall and grabs a battery from columns of them stored there.

She rushes to an empty seating around the corner as soon as she spots it. Once she sits down, she plucks the charging tube from the battery. The hatch on her nape opens, revealing a circular notch sticking out from her neck. Caitlyn plugs one end of the charging tube to that notch, and the other toward the notch on one side of the metallic cylinder the size of her grip. She takes a deep breath as azure sparkles travel along the surface of the charging tube from the battery’s notch to her notch. Her core is filled with relief that she even finds a vacant space amidst this space crowded with a mass of personnel.

Caitlyn takes a glance at the brand on the battery.

Prime Respite.

An odd name, she thought. The company have been supplying rations to the men ever since the late period of the first war. A long-time dedication. She sometimes wonders the story behind their dedication to The Primus, especially their name which is apparently an adaptation of his name. Are they an independent company? Or just another property of The Primus? Either way, she couldn’t deny that a lunch break is always delightful with their battery tin.

“Oh, look!” A girl voice coming from her left. “It’s Caitlyn!”

She turns her attention, finding two girls standing just across her separated by the length of her seating.

“How are you doing, Caitlyn?” The other one says.

Caitlyn sighs. They are her colleagues during her times in the NCO school.

“Good day, Alezia, Lyzmy.” She waves to the two of them before grabbing her battery tin and standing up.

“Wait, you’re leaving?” Lyzmy asks her.

“We just came here. Don’t you want to have a bit of a chit-chat with us? This might be the first time we’ve been together ever since we graduated.” Alezia follows.

There are truths in her words. The burden of tasks on her shoulder have exploded ever since she became an NCO. Her duties now involve administering a unit, which have consumed a huge portion of her times. She even barely has times for herself, let alone to converse with others during leisure. She is indeed, free at the moment. But she just doesn’t feel like it. And it’s not that these two girls worsen her burden at one point before. They went through the NCO school just like how they went through various operations and battles. Trusting and supporting each other have been the norm among them. But now…

“I need to be alone, for a while.” She says to them, sharing a brief glance.

Alezia and Lyzmy don’t even look disappointed; instead worries cloud their faces.

Lyzmy sighs. “Fine, take care Caitlyn.”

Caitlyn nods before marching away from them, putting her battery tin in the pocket of her coat. From the corner of her eyes, she can see them conversing with each other. And amidst the hubbub of the mess hall, she could catch some words coming out of their mouth.

“…when…she become this? How?”

“Shh…let her…”

She pities herself that she has to instil worry on her comrades.

Back at her hab, she finds a maid with a blonde hair of shoulder length with small side-braid to her left temple standing in front of her hab door with her sight to her pad. It doesn’t take long for the maid to notice her arrival.

“First Sergeant Grauwelle Caitlyn,” The maid presents a salute as soon as Caitlyn reaches her. “Maid Corporal Genesis Zenith, reporting.”

Caitlyn takes a second look at her. An Android. She is clad in her combat gear. Her sight is sharp and her figure is firm. Given that she is a maid corporal in the frontlines, tough times which mostly involves firearms should be her best friend. And her face doesn’t show any sense of worry or anxiety that she might die anytime soon. She appears more than willing to spill Vindicators’ blood at any times without any doubt.

“How do you know it’s me?” Caitlyn asks.

“I am well informed that this hab here is yours.” Genesis replies.

“How long have you been standing there?”

“Not much,” The maid replies. “Only fifteen minutes. Or less, probably.” She checks the time shown by her utilizer strapped to her left wrist.

Caitlyn sighs. “Very well.” She says gently. “State your business, maid corporal.”

“The command has a new order for you. And I am here to take charge in supporting you.” Genesis says, handing the pad to Caitlyn.

Caitlyn grabs the pad and read the document it currently views. Apparently, reports came to them that some TeVs are spotted moving towards a settlement recently captured by the ArC. A counter-attack perhaps. And she is ordered to provide armoured support for the current garrison of that position, holding them off and buying time whilst command is assembling a unit to consolidate it.

“How about my reinforcement?”

“Command is still taking care of that matter.” Genesis says. “For now, they expect you to make do with what you currently have.”

Caitlyn takes a deep breath.

“And in accordance with that, I shall be the second personnel in your tank.”

“And the Creeper?”

“My colleague is going to operate that utility truck.”

“I assume you are capable to operate the tank.”

“I have been trained in that field, and have gone through plenty of drills.” Genesis nods. “You only need to provide me with directions, ma’am.”

“Very well.” Caitlyn hands over the pad back to Genesis before entering her hab. She unpacks her combat gear, pausing for a second to gaze on her helmet as soon as she pulls it out of her container in the hab. It is the same helmet that has accompanied her throughout her carreer as a tank crew ever since she is a Recruit. It is still there with all of its glories; a witness to all the hard-times Caitlyn have went through. Especially the annihilation of her previous platoon.

Once she has her combat gear strapped, Caitlyn emerges out from her hab and locks it.

“Let’s move.” She says to Genesis.

Genesis nods, maintaining her sharp sight. She locks the metal cap on her head as soon as Caitlyn begins to march away from her hab.

It is time. Duty calls her again. Her break time is over. She once again has to smell death amidst the roaring 125mm guns. But it is so that there can still be foods on the dinner table for those children. At least, with the presence of PT, the smell of death possesses a different flavour.

The garage has always been crowded during operational hours. It is a large space able to hold up to thirteen Redeemers, a number worthy of a tank battalion. Utility-class Proxies and Maid Sections are those often found scurrying inside and within the vicinity of the place. They conduct repairs, inspection, and other labour to ensure the proper function of the combat vehicles in the field.

A laser welder hisses as Caitlyn marches toward her new tank platoon. There she sees a Redeemer, a Creeper, and another maid scrutinizing the Redeemer, probably inspecting him.

“KT!” The tank greets her first as soon as she is nearing him.

“Good day, PT.”

“Come get to know this maid, she has been decent to me.”

Caitlyn raises an eyebrow. “Define decent.”

“You know, good old talks during inspection. Kept me delighted throughout what should be a boring procedure.”

“So you call him PT, huh?” Genesis asks.

“For convenience.” Caitlyn replies, waving her hand at her.

“It appears that your tank has an extraordinary interest in talking with others.” The maid on the tank says. She has a long hair with pale golden hue that is barely reaching her waist. Her two locks that extends to her chest on both sides are tucked into black rings with a chipped side. She is also clad in her combat gear. Her metal cap is already locked on her head.

She jumps down from PT’s hull and presents a salute as soon as she puts her pad aside. “Maid Lance Corporal Charlotte Cavatica, at your service.”

Caitlyn salutes in return. “How is PT doing, Maid Lance Corporal?”

“Last inspection is yesterday. Result is the same. Everything is in check, ready for action.”

“Excellent.” Caitlyn nods. “Everyone assumes your position and let’s head to that distressed grid.” She says to Genesis and Charlotte.

“Yes ma’am.” The two maid replies in unison.

Genesis rushes toward the crew’s cabin inside PT through the driver’s hatch while Charlotte hops swiftly to the Creeper’s driver seat.

“By the way,” Caitlyn speaks through the utilizer as she follows through the turret’s hatch, addressing both maids. “Allow me to call you by name. You can just call me Caitlyn in turn.”

“Understood, Caitlyn. Charlotte should be fine.” Charlotte replies through her utilizer.

“Call me Genesis then, yes?” Genesis says to her directly as she enters the crew’s cabin.

“Can do.” She then proceeds to run her fingers on the control panel. “PT man the gun for now, and keep on watch.”

“Sensor on maximum awareness. Looking out for hostiles.” The tank exclaims.

Genesis pulls a lever. The engine roars. The cabin vibrates though it is barely noticeable.

“Oh, and…” Something suddenly struck Caitlyn’s processor, something that she missed. “I haven’t caught the Creeper’s name.”

“Khorosho Priyom.” The utility truck replies through her utilizer. Her rough voice is of a female in her adolescence. “Thought for a moment there you’re going to forget me.” She says, her humming engine also comes through Caitlyn’s utilizer.

“It’d be a sleepless calibration for me should that happen.” Caitlyn replies.

“I told you, she won’t forget.” Charlotte voice is heard through the channel.

“Garage Control, this is the 51st Tank Platoon currently comprising of a Redeemer and a Creeper requesting clearance for departure, over.” Caitlyn speaks through her utilizer via a channel that can be heard by everyone in the platoon.

“51st Tank Platoon this is Garage Control,” A male voice gently replies to her. “Command wanted you in K8-2-8 to assess the incoming TeV incursion. You’re clear to head there, over.”

“Appreciate that.” Caitlyn says.

Genesis hits the gear and turns to align PT with the garage’s main pathway. The Creeper follows close. The large garage door shifts to the sides. Every personnel on the garage’s main pathway swiftly moves aside and make way for the departing 51st Tank Platoon.

“Here we go.” Genesis accelerates PT to maximum speed.

Caitlyn climbs up to the turret hatch. The light of day falls on them as PT emerges out of the garage. She puts a hand on top of her helmet as the breeze streams against her face. To PT’s flanks are sporadic mass of Proxies and Maids. On one side are the Maids hauling crates into carrier trucks, the Runners. On the other are Direct-class Proxies filling armoured personnel carriers, the Crescents. Caitlyn catches a platoon of them departing the base, perhaps reinforcing another position along the front.

Then a squadron of Cosmos streaks through the skies above her. She watches them disappears in the distance. It must be exciting to see all your enemies from above. The way they move and maneuver in the field. Satellite tracking could only do so much. Sometimes they don’t update hostile presence on the map until after contact is made. Hence ground forces still have to rely on their senses.

“Hey Genesis,” Charlotte voice comes through her utilizer. “Don’t you think you’re driving too fast?”

Caitlyn glances behind her, at the utility truck. She is indeed, getting further and further.

“You’re at top speed already?” Genesis replies.

“You do realize that KP is way heavier than that tank, right?”

“Let us regroup at a point before advancing to the desired position.” Caitlyn opens up her utilizer and marks a point at the map. “There, I’ve marked it for you.”

“As you say, Caitlyn.” Charlotte responds.

“The path that’ll take us there should be secured. There has to be no Vindicators around.”

“Guess I’ll see you there then, Charlotte.” Genesis chuckles.

“Fine.” Charlotte sighs. “But you owe me battery tins if I don’t find you there.”

Genesis continues speeding up as Caitlyn turns her gaze to the front again.

Suddenly a notification on her utilizer. She brings it up and her breath is caught when she finds out that it’s PT.

“Good to have you back, by the way. I suppose you’re feeling well now?”

Caitlyn types her reply. “Why are you sending me text messages?”

“This is personal, ok? I don’t want that maid to eavesdrop on our conversation.”

A tank wanted a personal conversation with her? It sounds weird at first glance. But that peculiarity is sending a warm tingling to her core. One that drives a smile on her face. She decides that she would go his way. He has saved her anyway, and he has yet to receive anything in return from her.

“Fine.” She replies. “What is up in your mind?”

“Still the same question.”

Caitlyn shrugs. “I hope so. Enough to do this one task I suppose.”

“At one point, I was worried that you won’t be able to lead anymore.”

“I need a break, PT. It’s not every day you’re responsible for the death of an entire platoon.”

“Don’t think about it too much okay? The dice just doesn’t favour you at that time, and there’s nothing you can do about it. At least you got me out of there alive.”

“I think you’re right.”

Caitlyn can see the sign. PT is quite a talkative Automaton. He just lost his crew, and his other Redeemer partners as well. It must have broken him, the way the destruction of her platoon broken her as well. She shouldn’t have locked herself in her hab.

“I’m sorry for leaving you alone.”

Silence.

She crosses her arms on top of PT’s turret hull before hiding her face there. She shouldn’t have said that. Her action has left him worried. It is indeed the right thing to say. But maybe it’s not the right time to say that. Caitlyn slaps the turret hull with her left hand repeatedly. PT must feel weird reading that statement, as much as she is cringing for sending it. She wishes that she didn’t write that. She wishes that she could be more patient in sending that message.

But to her surprise…

“Hey, it’s not like I’m your priority.” PT replies. “As long as you’re fine, I can take more hits to my rear than an average Redeemer could.”

His words brought a smile to her face. Maybe he felt that clapping on his turret.

“Thank you.”

“My pleasure.”

They continue their advance as soon as they regroup with Charlotte. A small settlement lies ahead of them. The buildings are hollow and worn down, most likely a product of artilleries and air-strikes. Caitlyn sees some Runners arrayed diagonally along a sidewalk, their front is facing an aisle too small for them to drive through. The Maids are unloading the Runners of their crates. It must be the first wave of supplies that just made it to the place. They drift off the sidewalk once they’re empty, turning to the direction from which they arrived and hit their top speed.

Caitlyn turns to her utilizer and speaks through the local channel.

“This is the 51st Tank Platoon, notifying of arrival. Command has yet to reinforce us, so you only have one Redeemer at hand, over.”

“Good to see you again, first sergeant.” A familiar voice replies. “This is Captain Fort of the 12th Combined Proxy Company. I’m the one commanding the defence of this position. Supporting us is the 94th Foot Proxy Company, and they have Amplifier Proxies entrenched in critical choke points to suppress enemy advance, over.”

“They told me to support your defence. Do you have any specifics?”

“We will hold you in reserve for now. Depending on the situation, you might not need to fire that big gun of yours.”

“Well isn’t that convenient?” PT’s words come through the utilizer.

“We’ll see how kind fate is to you today.” Fort replies.

“Understood.” Caitlyn says. She then switches to her platoon’s channel. “Genesis, Charlotte, we’re going to stand by at the settlement’s centre, over.”

“Command received.” Genesis says.

“Heading there.” Charlotte responds.

“By the way first sergeant,” Caitlyn receives Fort’s words again. To her surprise, he speaks through the whisper channel. “Maid Corporal Genesis Zenith is with you right?”

“Yes, she is with me.”

“Good.” He responds. “Report immediately if you see something strange happening to her, over.”

What?

Caitlyn sets her sight ahead of her. That part of the captain’s words caught her attention. What could he possibly mean by something strange?

But before her processor wander around that topic, her sentiment of obedience caught up. She has to reply to the captain’s words first.

“Yes, sir.”

Not long after, KP pulls up to PT’s left, stopping slightly behind. That is when Genesis emerges out of the second turret hatch just beside Caitlyn. She stretches her arms high overhead, making it looks like she wanted to detach them from her.

“Aah…” She breathes out a piece of air.

Caitlyn puts her head on her left hand as her gaze falls upon Genesis, her left elbow is standing on the turret’s hull. She wonders whether that counts as something strange that happens to her.

It doesn’t take long for Genesis to notice. She turns her glance toward Caitlyn.

“What’s the matter?” She asks.

“Captain Fort asks me to report any strange occurrences centred around you.”

Genesis’ wide-eyed gaze falls on Caitlyn for a moment. She chuckles a few seconds later.

“Eh, it’s just the captain,” Genesis waves her right hand before her face as she tilts away from Caitlyn. “He is always worried about me.”

Her bubbling joy left Caitlyn pouting with a slightly frowned face.

What a naïve girl.

It’s a wonder for one to have someone in higher places constantly concerned about them. They should cherish such blessing since it leads to their higher chance of survival. The command doesn’t really care if she is lost and unrecoverable in battle. The events three days ago show just that. It is only when they see a Redeemer cruising through the field that they begun their contact. Because, obviously, it is an expensive equipment that the command hardly could afford to lose. She however, is not. She is just one amongst millions other Androids that the ArC could arm for the war.

Caitlyn is quick to brush that expression away as soon as she feels like replying.

“You’re such a fortunate one, aren’t you?”

“Not really.” Genesis shrugs. “You are aware that the Maids are sometimes sent into combat, right?”

“Sometimes, yeah.”

“If there is a list of descending priorities of Maids that will see combat, I’d be at the bottom-most one.” Genesis crosses her arms. “Not fair as far as I deem. Charlotte got to be one of the highest on the list.”

Caitlyn smirks at that implication.

“Ah, because you’re the captain’s crown jewel, eh?”

Genesis puts her arms on her waist and bends toward Caitlyn. “I don’t have any relations with Captain Fort, alright.” She then leers away for some reason. “Although to me he is indeed, quite.”

“It is fair, I think.” A calm voice coming from their left. The two glances down and finds Charlotte leaning against PT’s side armour. “As a commanding officer, would you like it if you see one of your men charging the enemy formations by themselves despite the clear order of retreat or withdrawal?”

Throughout her job as a platoon leader, Caitlyn have seen at least one Redeemer that break formation so they could charge the seemingly vulnerable enemy flank. It is the tank commander’s will. He was hungry for personal glory. And his rash action has costed the entire platoon. These kinds of people are indeed a burden, and it always annoys her when it happens.

Caitlyn now turns a curious gaze toward Genesis; one of her eyebrows is lifted. She wonders, whether Genesis is that kind of person.

Genesis returns Caitlyn’s gaze with an apparent, although slightly, worried expression. “Charlotte, come on.” She says, turning to Charlotte.

“Maybe, like me, you could top that list if you spent more time in the sniping range, sweetie.” Charlotte turns to Genesis with her left eye shut and a wide smile to her face.

Genesis sighs while sinking into the hatch. She crosses her arms on the turret’s hull and places her chin there.

“My anxiety always gets me whenever we wait for them to come. So, I thought it would be better to just get it over with.” She pouts.

It appears that murky skies just gloomed over her. Caitlyn understood that feeling. Who is not terrified knowing death is on the other side, slowly marching toward their position? Losing a life means ceasing everything you’ve worked for so far. The longer it takes for that certain death to arrive, the more space available for one’s mind to peer through time, remembering both their past achievement and those that are about to come. And the more reminiscent one becomes, the more willing one is to hold on to their lives. And hence their reluctance to engage the enemy.

It is perhaps this that Genesis despises.

Caitlyn pats her shoulder in an attempt to cheer her up.

“It’s fine, Genesis.” Caitlyn says to her. “We’ve all been through that. It is unpleasant indeed. But this is war, everything is unpleasant. Hence we at least have to think of a course of action that could make it a bit more pleasant on our side.”

Genesis rises back. Her sight gradually turns to Caitlyn. “I guess you’re right.”

“And since you’re my driver,” Caitlyn continues. “I trust you to get me and PT out of this alive, okay?” She raises her right hand; the tip of its index is touching the tip of its thumb.

Genesis straightens her stature and replies with a similar gesture. “I’ll see to it.” She returns Caitlyn’s smile.

“Good.” Caitlyn pats her back.

“You know you could just force me on the wheel and get us out of any pickle, right?” PT voices comes through.

Caitlyn slams her hand hard to the turret’s hull, maintaining her grin toward Genesis.

“You know that doesn’t hurt right?”

Caitlyn tilts her head to the right. “Please forgive the tank.” She says.

Genesis shrugs, turning her sights forward. “No problem.”

“Incoming!” A yelling that comes through Caitlyn’s utilizer.

A ball of flames burst on the roof of a barren house some distance ahead of Caitlyn, followed by a loud explosion noise. Black smokes spew outward, trailing above in accordance to the wind. Charlotte nimbly rushes back to KP, while Caitlyn and Genesis submerge and closes the turret hatch above them.

“There they are.” Genesis says as she scrambles back to the driver seat.

The rumbling continues, some are stronger than the others. The cabin trembles slightly as the shells keep on pounding the ground in proximity to their position. Then huge tremors with deafening roar, that of a bellowing beast, permeates inside PT. Caitlyn and Genesis hold on to something to keep themselves stable as instances of shockwave burst through them.

“We are being shelled, you two are okay there right?” PT asks.

“We’re fine, PT.” Caitlyn replies.

“I hope those Maids got to shelter in time.” Genesis says.

“I’m safe inside here, right?” Charlotte’s voice comes through the utilizer.

“My armour is thicker than that metallic lump with firing mechanism there.” KP says.

“Hey!” PT responds in a raised tone, his rough voice blares through all their utilizers. “Who do you call metallic lump, huh!?”

“It can be anyone. Too bad I don’t have fingers to point that out for you.” There’s a slight chuckle in KP’s tone. One can picture a smug forming on her face if she has any.

“Well I wish you’re not responsible for babysitting me, dirty hag.”

Caitlyn chuckles at what that implies. PT can land a shell or two on that utility truck’s hull. That is, when the command is not looking.

“Smoke screen to the east.” Says a Proxy.

“Another one to north-northeast.”

“And to the southeast.”

Caitlyn checks out the map shown by one of PT’s screens. Judging by the smoke deployment, the TeV is commencing an assault along the settlement’s frontiers. This position must have been essential to them. Hence the defence must hold at all cost. She hopes that more reinforcement is coming to consolidate their position there.

“Platoons of Guards are advancing through the smoke, supported by Carapaces.” Says another voice which is drenched deep in commotions of rapid rifle fire, cartridges ricochets, and 20mm shell impacts.

Carapaces are TeV’s walking metallic shell. Creeping on six legs, they are armed with two 7.62mm machine guns and a double-barrelled 20mm autocannon to provide dense fire support able to tear through fortifications. Their thick armour meant that they can survive even more hits than the Gauntlets.

“There are eight of them coming from this side.”

“An additional four is spotted emerging from the north-northeast.”

Fort’s voice then comes through, “Twelve Carapaces, copy. Direct Proxies, unload your RPGs on those things. Maids get two crates of those rockets to the outposts along defence line beta.”

From PT’s periscope, Caitlyn sees the Maids sprung into action, loading the available Runners with crates supposedly filled with anti-tank rockets. The work is done in such a pace that left Caitlyn’s eyes wide. In fifteen seconds, the Runners, two of them filled with AT rockets crates, have already left the scene.

“You Maids are an impressive breed.” Caitlyn turns to Genesis.

Genesis shrugs. “I mean, our master zips from one side of the battlefield to the other in mere minutes if not seconds.”

“Sir Microv Edward?”

Genesis nods, her hands are tapping on the steering wheel.

Caitlyn heard a story of that man, the second highest authorities in the ArC, one of the few that possess superhuman abilities.

“It’s a basic drill for us frontline Maids. They even gave us enhancement modules to speed up the job by ten folds. But of course, the speed never matches that of our master. He is on a different level.” Genesis continues.

It is said that he personally supports the defence of five chokepoints at the same time during the Siege of Vaniyya in The Primus’ conquest. And whichever point he is in, the Vindicators’ advance there is halted. Such is the power of The Primus’ right-hand-man. She couldn’t imagine what The Primus himself is capable of.

“We owe a great deal to you then.” Caitlyn grins as she crosses her arms.

“Sort of.” Genesis replies, turning her attention to Caitlyn. “But our master has ensured that you don’t.”

But still, such a great feat is worthy of something in return to them from the Proxies themselves. At least, that is how it should be as Caitlyn thought. Because logistics are the backbone of every military force.

“Our recognition should suffice, I guess?” She says.

“But of course,” Genesis turns her gaze ahead, leering at Caitlyn with her left eye shut. “Who wouldn’t notice cute girls in maid uniform running around the battlefield armed with carbines and an emitter katana?”

Caitlyn chuckles. “You are indeed a sight, huh.”

“We have Gauntlets making a run for our position.” A calm voice in contrast with the roaring RPGs in the background, followed by even more bullet ricochet.

“Copy,” Fort replies. “First Sergeant Caitlyn, I believe your tank demands something to shoot at. Go around them from the hills to the north and give them a pounding.”

“I do think demand is an overstatement.” PT replies first.

Caitlyn nods to Genesis the second Captain Fort provides the direction. She turns PT around and drive the tank along the path leading to the hills that he mentioned.

“We’re heading there, sir.” Caitlyn responds.

“Be careful you three.” Charlotte says through the platoon channel as the tank dashes out of the settlement.

They eventually reach the hill. It is an elevated position with a rather lightly wooded area. They could assume a position where PT’s gun just peeks out of the hill toward the two Gauntlets to the settlement’s north-northeast. If they return fire, their shot would unlikely hit them since they have to fire uphill. Even still, PT can survive some hits from the front. And if situation gets critical, Genesis could just hit the reverse gear and bail out of the position.

“Take us there, Genesis.” Caitlyn says, marking a position on the map that’s visible to both of them. “We should be able to fire down on them from there.”

“Taking us there.” Genesis replies.

But as soon as they climbed the hill…

“Ow!” PT cries.

Along with that is the shaking of the cabin in the wake of a missile crashing to PT’s front hull. Unlike the Androids, the Automatons don’t have pain receptors. The way PT responds in such a manner when hit in the face by a missile is probably him being shocked at the sudden reduction of his hull’s integrity.

The cabin shakes again as two more rockets hits PT’s front hull.

“We have contacts!” Genesis yells.

In front of them are two squads of Guards supported by a Carapace armed with anti-tank missile launcher instead of the autocannon. PT fires a shot at the Carapace but that just bounces off its front armour.

“No penetration!? You can’t be serious.” PT exclaims.

Caitlyn pulls the smoke triggers. “Back up! Back up!” She says.

Genesis hits the reverse gear and PT gradually rolls down the hill.

“We can’t support them like this.” Genesis says, glancing at Caitlyn.

“Well we can’t go there without any support either.” PT replies. “Unless of course, you fancy going out in a blaze of glory.”

Caitlyn falls silent. Available forces are all tied down in the defence of the settlement. There’s no way she would ask for reinforcement from the captain. Even if she does, her request would most likely be denied. But she has to take care of those Gauntlets, to alleviate the defences and save as much men as possible. She could send a request for air support, but that is too expensive for such a small detachment facing them.

There is one option left for her.

“Genesis,” Caitlyn turns to her. “I’ll leave those Guards to you.”

“What?” Genesis asks, her eyes meet Caitlyn’s.

“Charlotte claimed that you prefer to charge the enemy. Thus, I assume that you are a capable fighter.”

“Well, sort of.” Genesis tilts her head.

“Then get out there, and take care of them.” Caitlyn says while running her fingers on the control panel, turning the autopilot on. “PT will take the wheel. We will handle that Carapace.”

Genesis nods. “Very well.” She grabs her carbine that is leaning against the left side of the cabin, and loads a magazine. Then she opens the hatch above her and jumps out of the tank.

“We’re counting on you, Genesis.”

Genesis only raises her right thumb as she advances into the smoke screen. As soon as she vanishes into the smoke, Caitlyn hears a barrage of gunshot from beyond.

“Let’s hope she’ll make it.”

“That maid looks tough. She’ll be alright.”

Caitlyn nods as she assumes control of PT’s gun. “Take us a few more meters north, we shall make our return to the hill there.”

The Carapace, seeing that its big target gone, should now be unoccupied. Which means, there is no guarantee that it won’t lay fire on Genesis. She is not only facing hostile fire from the ten Guards, but also the Carapace’s machine guns. Caitlyn grips her fists at that scenario which most probably is occurring at the moment.

Hang in there, Genesis…

They make their climb again on the other side of the hill as soon as they circumvent a small part of it. Caitlyn’s breath caught when they come across a sight of five Guards running to the right, against the direction of their previous climb, followed by the Carapace that slowly creeps backward; its machine guns firing at the smoke screen that’s about to clear up. Caitlyn takes a quick glance to what the walker is firing at. There she finds Genesis cowering behind a tree trunk solid enough to brave the machine gun fire; bracing herself with her head tucked. After a closer look, Caitlyn finds that with her is the TeV’s anti-tank missile launcher.

Unfortunately, her back is against the side where Caitlyn is. So perhaps she is unaware that they have returned to the fray.     When Caitlyn is about to notify her, she emerges out of cover and fires a missile at the Carapace. It hits the walker’s missile launcher, but the damage appears to be negligible. And as soon as she is about to return to cover, three of the machine guns’ cartridges make it through her.

The maid collapses.

“Genesis!” Caitlyn cries through her utilizer.

“You bastard!” PT yells out. “KT, hit that trigger!”

Caitlyn turns and sees that PT has his turret aimed at the walker’s missile turret. Without any doubt, she slams on the trigger.

PT’s gun roars as soon as the Carapace align its front to PT’s direction. The 125mm armour-piercing shell slips inside the Carapace’s launcher barrel, and further into the high-explosive missile loaded inside.

Within a split second of contact, the walking metallic shell burst into flames, its parts rocket as far as the tree-tops before falling down in fiery pieces reek of burnt metals.

“PT,” Caitlyn says as she scrambles out of the tank. “Assume position slightly behind the marker that I’ve previously set.”

“Roger.” PT moves toward the designated point as soon as Catilyn jumps out of him.

She then takes a thousand steps toward Genesis. Electric sparks are leaping out of the holes on her body formed by the 7.62mm cartridges. Caitlyn draws her ear closer toward Genesis’ chest. She could still hear a faint hum coming from within. It indicates that her core is still functioning. Perhaps her consciousness is shot by the shock of bullet impacts. But she is still alive at the moment, and can still be saved.

Caitlyn straps Genesis’ carbine to her, before putting the unconscious maid body on to her back. She trots toward PT’s location.

“Uh, KT.” The tank speaks to her.

“What is it?”

“The Gauntlets are pulling back.” He says. “Their turrets aimed at our position.”

Caitlyn puts Genesis on PT’s hull before climbing it, doing so while processing what the tank words’ means.

“They are aware of us now.” She sighs.

“Well at least we tried.” PT says. “At least they pull back right?”

They indeed pulled back, which provides a breathing room for the defenders. But they will definitely return. And by the time that happens, they would already have this position fortified as to prevent further flanking maneuver such as what they were trying to achieve. It would then be difficult to contain those Gauntlets if the settlement is not reinforced anytime soon.

“First sergeant, the Gauntlets to the north-northeast are pulling back. But I don’t see any shots landing on them.” Fort’s voice comes through.

Caitlyn scrambles down the hatch, laying Genesis down inside the cabin in an as much as comfort deemed possible in such a cramped space.

“Our position has been compromised.” She responds. “They have stationed two squads of Guards and a Carapace prior to our arrival. We took care of them but Genesis is down.”

“Artillery, take cover!” A Proxy voice that spikes as soon as Caitlyn finishes her sentence.

That yelling prompts her to peek out of the hatch. She is met by hails of projectiles trailing through the blue sky, before finally landing at several points in the settlement. The thundering explosions follow a few seconds after the shells land on houses, streets, and decorations. Caitlyn cranes her head up, tracking the trajectories of those shells. Her gaze eventually falls to a direction where the enemy artillery is most probably stationed.

“Charlotte, are you still there?” Caitlyn calls her.

“Still alive. Receiving artillery fire but KP is still holding so far.”

“Genesis is down.”

“What?” Charlotte asks in her calm tone that doesn’t imply any sort of concern.

“She got shot and need attention. PT could use some too.”

“Guess you want me there, don’t you?”

“We’ll rendezvous at a mid-point just like previously.”

As soon as Caitlyn says that, the captain’s voice interrupts.

“First Sergeant Caitlyn, can you see where did those shells come from?”

Caitlyn turns her gaze to the previous direction where her suspicion of enemy artillery presence rings.

“It is about five degree west of north sir, a few clicks from my position.”

“Excellent,” Fort commends with a slightly raised tone. “Now get there and blow them to hell.”

“But sir, Genesis is injured and I could use some repairs on PT.”

“Denied.” Fort states. “This artillery barrage doesn’t stop those Guards from picking us off from the distance. We have to abandon our position.”

“Don’t we have reinforcement coming?”

“I don’t know what the command is doing back there. But there don’t seem to be one anytime soon.” Fort’s voice is mixed with the trembling noise of crashing high-explosive shells, as well as machine gun fire. “We are about to stage a fighting retreat, but with that artillery piece lying around I’m afraid it would take less than a few seconds for it to be a full rout.”

Caitlyn falls silent. Her situation is just like three days ago, the time when she met PT. All alone deep in enemy lines, as her comrades are retreating. Why does it have to be like this? Why she has to be the one that advances while everyone else is falling back? It was a fortune that she and PT made it out alive back then. She doubts that it would occur again for the second time. This time there’s almost no guarantee that there would be allies breaking through to get to them. She might have to break through the enemy lines by herself.

“Hey, KT.” PT calls out to her.

She turns towards one of the screens that shows a wiggly line with peaks that spikes whenever PT speaks.

“We can do this.” He says to her. “We’ve made it before. We’ll make it again.”

“First sergeant!” Fort’s voice becomes louder. “Do you hear me? Are you there?”

Caitlyn shuts her eyes, trying to ignore the captain’s voice.

“I’m not sure, PT.” Her hand touches the screen with the line as she turns her gaze down.

“Hey, listen.” PT’s voice gentle down. “We’ve been through hell okay? That’s why they’re depending on us. They wanted us to go because no-one dares to do that. We can do this, I believe we can.”

A tank asked her to believe that they could make this daring assault. Just like what had happened before. The thought of that left a bubbling impression in her core.

“Caitlyn, what should it be?” That’s Charlotte voice coming through.

“I’m going to take the maid’s word for it. Remember what you’re fighting for, and remember just that, nothing more. Then, we charge their position and show them who’s boss.”

Caitlyn grips her hand that she placed on the screen. If only PT has a hand…

It doesn’t take long for her to nod.

“Very well.” She moves to her seat and man the gun again. “Direction five degrees west of north, full speed ahead.”

“That’s the spirit!” PT exclaims. “Five degrees west of north it is.”

Caitlyn then pulls up her utilizer. “Captain Fort, we’re advancing toward that artillery piece, over.”

“I’ll make sure something is up for you back here, once you are done.” He replies. “Also, there will be air supports for you. They’re going to abide my request for this one.”

“Much obliged, captain.”

“Yeah they better be!” PT yells out.

“Caitlyn?” Charlotte calls for her again.

“I’m after that enemy artillery so you could safely retreat.” Caitlyn replies.

“I wish fate sides you this day.”

“Thank you.”

Caitlyn glances at the speedometer. It shows Redeemer’s top speed. They are now cruising toward the enemy artillery position. There might be some Guards stationed there for protection. But with careful approach, they could sneak up and snipe those damned cannons, and haul away before those Guards could catch up to them. She and PT just needs an elevated position so they could fire down on the enemy position.

And as fortune has it, Caitlyn finds a slightly higher ridge after a careful observation of the surrounding environment. In addition to that is a dense vegetation covering the whole ridge, allowing an excellent concealment should the enemy return fire. Caitlyn orders PT to slow down as to not give away their position. They prowl ever closer on a designated position along the ridge. And as soon as they reached it, as soon as they got view on the enemy artillery position…

“Whoa…” Caitlyn’s mouth gaped.

“What the hell is that…” PT expresses his astonishment with a tone that mimics a whisper.

Down there is a plaza of a barren village. Perhaps it is once used as a place for the townsfolk to gather. And on that plaza are two massive tanks, two times the size of PT. Their large hull is carried by four pieces of tracks, two on each side. Their overwhelming turret bears the weight of two 155mm barrels, something that Caitlyn sure is able to penetrate PT’s side in a single volley. Their barrels are currently angled upward. The implication of that sends shiver down Caitlyn’s spine.

“This is the enemy artillery that is bombarding the settlement?”

“Those shots originated here right? There’s nothing else around here but those two monstrosities.”

            Monstrosities…

Even PT is afraid of that thing.

And the affirmation of their fears is served on a silver platter not long after.

Their barrels roar in turn repeatedly, firing a salvo toward the heavens. The ground rocks in their wake, the trees shed their foliage for each shell that leaves the barrel. Even one of the desolated structures in their proximity collapses. It is as if they brought doomsday with them, a representative of a mythological titan who quakes the world with his raging roar. PT’s cabin vibrates hard. Caitlyn cowers as the tanks keep on firing, tucking her head and covering her ears. She couldn’t imagine what sort of madness that drive one to create what even PT refers to as monstrosities.

The firing soon ends, and Caitlyn collapses to her seat. It feels like she has just gone through the end of the world and survived. But that took away all her energy, her spirit. She is not sure whether she alone could bring such a massive machinery down.

“Do you think we could pierce that thing’s armour?”

“No.” PT replies. There is no continuation to his statement. “We can deal damage. But alone, they would be negligible.”

After finding no Guards around, Caitlyn reaches for the last glimmer of hope of taking that thing down.

“But at least they are artillery pieces, right?” She asks. “They’re not meant for direct combat.”

“KT! Brace Yourselves!” PT yells frantically, as he hits the reverse gear.

Caitlyn attempts to do what he told her, but the movement transition happened too fast that she is thrown to the front side of the cabin.

“Aah…!” Caitlyn yelps as she braces herself in the wake of terrifying shockwaves that quakes PT’s cabin. “PT!” She calls out to him.

The shock is so powerful that it topples PT’s balance. But he quickly regains it.

“What was that?” Caitlyn says.

As the dirt rains down and the dust clouds clears up, PT opens his mouth again if he had one.

“Death…”

From the other side of the dust clouds emerges the same monstrosity that they have observed from the ridge, slowly creeping toward them. Caitlyn’s breath is caught as its size grows ever more overwhelming as the tank approach them steadily. Their barrels are straightened, aimed at them. And in the seconds between life and death, Caitlyn’s processor freezes; her mouth gaping in the sight of that monstrosity.

“That’s it!” PT shouts. “I’m getting us out of here!” His words, and a sudden jerk of movement snaps Caitlyn back to reality.

And just as PT drives away, two shells land on where they were standing.

“Bloody hell!” PT yells again. “KT! Are you there!?”

“I…” Caitlyn stutters, her breath heavy. “I’m here…” She holds on to the vibrating cabin as she tries to recover herself.

“Thank the Primus you’re okay.”

“Get us…” Caitlyn pauses, catching her breath. Her core is still quaking from that last shot coming out of that monster’s barrel. She looks deep to find herself. But all she finds is only the thought of getting annihilated by its shell. “Get us away from that thing!” Caitlyn then cries. “Anywhere away from them!”

“That’s what I’m doing right now! Stay calm and get your processor back in shape.”

As soon as he said that, he suddenly stops. Caitlyn once again got thrown to the cabin’s front as there is no deceleration. PT just stops as if he crashes into a massive boulder strong enough to hold his advance.

“PT!” Caitlyn cries at him as she rubs her head.

“I can’t move!”

“What’s going on!?” Caitlyn asks, her tone is filled with all the concerns that she could come up with. She looks around and finds the displays of the screens surrounding her are getting distorted and covered in statics. “What’s going on!?” She asks again with a louder tone.

“That bastard snared me!”

In the next second, Caitlyn could perceive a backward movement occurring. She scrambles out of the hatch and turns her gaze to PT’s rear. There the monstrosity has its turret aimed at PT. But there is something different about it. There is quite a space between its two barrels. And in that space is a large circular compartment. That compartment is now opened, firing a crimson beam that is holding PT in place.

Even worse, the beam is pulling PT closer to it.

And then the massive tank aligns its front toward PT’s rear. As soon as that happens, some contraptions emerge out from under the front hull. They then unpack, revealing their cylindrical shape that is perpendicular to the tank’s width as well as the sharp thermal blades attached to them. Caitlyn soon realizes what they are as they begin to spin at an uncanny rate.

“PT, drive…” She says as soon as she sinks back into the hatch. “Drive! Drive!” Her voice gets louder with each word.

“I’m at full speed!”

But despite of it, they keep going backward; they are being dragged backward.

Caitlyn scrambles for the turret control and tries to turn it to the tank’s direction. But it doesn’t work.

“Turn your turret and unload some AP on that thing!” Caitlyn yells

“I can’t either!”

Caitlyn can hear the noise of the spinning blades gets louder and louder. She dares herself to peek out of the hatch. And that is a mistake. As she is greeted by the sight of the blades that gets closer, their song for her demise grows ever evident. And she feels that her soul, if she even has one, just departed from her.

“DRIVE, YOU USELESS JUNK! DRIVE!!!” She yells out an order to PT in an unusually deafening tone.

“I CAAAN’T!!!!”

Caitlyn sinks and cowers.

By that point, the spinning blades barely reached PT’s rear.

When suddenly an explosion occurs on the massive tank’s circular compartment. And that releases PT from its grip. He nimbly rolls off, leaving the monstrosity behind further and further in a short time span, as another explosion occurs on the tank’s track.

Two Cosmos streaks past overhead.

“We got you covered 51st Tank Platoon.” Says one of the pilots.

The massive tank should be able to fire on PT. But for some reason, it decides not to.

“Thank…” PT pauses. “You.”

“Where are you going? I thought you’re heading for that artillery.” Says the other.

“Negative.” PT replies. “We have to abort. The enemy have a new toy that caught us off guard and renders my commander combat ineffective.”

“Roger that.” The first pilot says. “Command is evacuating the settlement at the moment. There will be gunships escorting you, they are on their way to your position.”

“I appreciate that.”

Caitlyn only listens to that conversation in silence, all while she is regaining her senses.

“KT…” PT calls her out.

But Caitlyn remains silent. Her hollow sight is turned down. She gathers the remainder of her strength and position herself beside Genesis.

“KT…” PT calls her again, in a gentler tone.

She takes a glance at Genesis’ composed face. Of course, she is unconscious and didn’t experience the horror that she has just witnessed.

“KT?”

The vibrating cabin and the hum of PT’s engine blows a drowsy breeze into the cabin. Too much have happened to her for the day, most that makes it up comes from the recent occurrence, the encounter with that monstrosity. The image of that massive hunk of machinery is still vivid in her processor.

Caitlyn wonders…

“Hey KT, please tell me you are there.”

Whether closing her eyes could make it disappear. Whether following Genesis up could help her forget that monstrosity.

And after taking a deep breath, her heavy head falls on Genesis’ right shoulder and her sight turns dark.

“Hey KT!”

–**–


Writer: PrimDom

Writchal #3 – Opposites

“I’ve got two sides, and both of them keeps messing my life up.”

The harmony and the dissonance. The tranquil and the cacophony. Every conflict begin with an opposition, and reaching a compromise between the two is a writer’s job. It just so happen compromising between hobby and academics are one of the area author is bad at.

Onto the news.

Writchal #2 berlangsung dari 5 Februari 2021 hingga 5 Maret 2021. Pada awalnya ada usulan untuk mengusung tema valentine, namun karena tema Writchal #2 berada di seputar hal yang sama (High School Romance), akhirnya kami mengadakan gacha tema untuk Writchal #3. Tema yang terpilih kali ini adalah salah satu dari Hidup dan Mati. Kadiv awalnya berniat untuk menciptakan semacam dua segmen Writchal yang bertentangan dengan menggunakan grand theme Opposites“, namun setelah melihat banyak yang menginterpretasi pilihan tema menjadi Hidup-Mati saja, pada akhirnya dibiarkan–it is what it is.

Lalu anda mungkin bertanya kenapa baru dipublikasikan tanggal 20 Maret 2022. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena deadline dari Writchal #3 diperpanjang hingga 19 Maret 2022 akibat Kadiv yang belum selesai menulis. Sampai sekarang Kadiv juga masih belum selesai menulis entri Writchal #3 (See Paragraph 1 for reference). Jadi ya sudahlah.

Berikut adalah submisi Writchal #3:

If things go well and life demands it, mayhaps we will meet in the next Writchal.

Until then, fare thee well!

Innocence Lost

Entry Writchal #3
Tema: Mati


Innocence Lost

We were told that your people are savages. A bloodthirsty lot who craved nothing but violence. 

We were told that your nation is full of hate. The endless fires of anger. The willingness to kill without remorse. 

We were told that you have no understanding of compassion or love. 

We were told that you are a people of cruelty. 

We were told that your people worship God in complete disregard of His will. 

As the author of one of my favourite poems put it, “You have wronged us. You have wronged me.”

We were told that you have wronged us, and you have wronged all your own people. You have brought your hate here. You have sent your soldiers to violate the sanctity of every human being to do violence in the name of avarice. 

With that in mind, I have no reason to think twice when I pulled the trigger on you. 

You are the scourge of the Earth, and I am the agent of justice.

So, I pulled the trigger and shot you. 

But then… what I saw was not the savage killer that we were told. 

Not the heretic who is unable to accept the will of God. 

Not the man who cannot learn compassion.

Not the hate-filled, bloodthirsty spirit of revenge.

The only thing I saw was but a boy who was as scared as anyone else.

You looked at me, and then you looked down at the ground, and then you looked up again. And you were shaking.

You began to cry.

It was as if I had made your heart break.

“What have I done? What have I done?”

You cried.

“Why do you have to do this to me? I just want to go home! I just want to go home!”

You looked at me, and I saw a face that was full of fear and pain.

I saw a boy who did not appear to even know his own age.

I saw a face full of confusion, and you began to scream.

“Don’t do this to me!”

“Please, don’t do this!”

“I just want to go home! Please!”

“Mother! Anastasia!”

I felt an overwhelming sense of guilt.

All I could think was, “I’m sorry.”

I’m sorry for pulling the trigger.

I’m sorry for shooting you.

I’m sorry for your pain.

I’m sorry for your tears.

I’m sorry I took your life.

I am left with many questions.

Do you think it’s possible to forgive me?

All those people that I have killed.

Have I sinned all this time?

Is it really possible to forgive the person who murdered you?

You were still human. 

You were still our brother.

You were still loved.

You were still valuable.

You were still living in the world that God made. 

You were still made in God’s image.

But Your life was just taken from you without any consideration or grace.

I cannot undo my action. 

I cannot get you back to your family, to the life you were used to.

You will die before your time.

You had so much more to give,

Oh, your soul had so much more to give.

All that was stolen from you by hate.

Do you think God will forgive me?

Can God forgive me? 

Do you think that I have sinned so deeply that I am no longer worthy to go to heaven?

Can I forgive myself?

I didn’t ask to be here.

I didn’t ask for this responsibility.

I don’t want to be here anymore.

Why does it have to turn out like this?

Why did God let this happen?

As you cried for your mother and your sister in your dying breath.

I was in tears.

I cried, and then I cried harder.

Because if only I could take your life back.

I could right so much wrong.

All those people that I have killed.

God forgive me.

I killed a boy.

He was just a boy.

He was just 17.

If only I could take away your pain,

As I sat in front of your shallow grave.

Nameless and unremarkable.

With only a rusty old rifle to mark it. 

I thought to myself.

That I will never be forgiven.

I thought that it would be my eternity here in this place.

I thought that I could never return to the world that I know.

The last vestige of my innocence.

Tainted by my own hands.

Over the blood of a fellow human.

I couldn’t make it right.

Why did this happen?

Who decides such things?

Why do I get to grow older, and he doesn’t?

Why did God let this happen?

Why did you have to die?

It doesn’t make sense.

None of it makes sense.

When will it make sense?

Maybe for the rest of my life.

I will live in misery. 

Maybe for the rest of my life.

I will never be able to forgive myself. 

Maybe for the rest of my life.

I will live with the memories that I took away from you. 

And everyone that lost their life by my hands.

I’m sorry.

I’m sorry.

I’m sorry.


Penulis: Von Grenadus

Prime Respite (Part 8: Final)


Chapter 8: Final

It’s sunrise when the Proxies pour down the island in response to their leader’s call.

Trails of dark smoke sway as they rise to the heavens. The grandeur of the gardens an hour ago is nowhere to be found. Only shredded decorations remain, shadows of their former self. The ground reeks of heated shrapnel, those that came from the same muzzles that defiled his serene respite. Who would’ve seen that coming? Who would’ve thought to send a force to raid a mansion of no strategic value?

Then something come to his mind. His personal computer inside is an archive to all his reservoir researches. It’s his secret that won him his conquest, and the seat above every ArC personnel. Hence everything about them has to be as far as possible from everyone. Who knows what those thralls might come up with now that they have uncovered it. His world dominance has dropped from certain to probable. If he wishes to remain on the top, he has to do something.

How they concluded that he stored his reservoir researches in his mansion is beyond him for now. Maybe fortune sprinkles all over them as they made their decision. Maybe they have agents among his men.

“Microv.” He then calls to his subordinate. “How’s Lena?”

“She requires our finest medical treatment if you wish her to live.”

He takes a deep breath.

“Looks like someone is concerned.”

“She was, mesmerizing. The fragrance that she left on me resembles that of the hyacinth I picked once in my dream. She…care for my well-being, and committed herself to it. Who am I then to deny her of my compassion?”

“Even though you’re charging her?”

“That is another story.”

He begins to turn to the remaining three children that has attempted to drive those thralls out. The girl, Julia if he is not mistaken, has a wrapping around her abdomen and her left thigh. The red marks on them appear vivid and fresh. One of the boys have blood streaking down his temple and an arm supported by a sling, while the other has bandages covering his left eye and another on his shoulder.

“The other children then?”

“They’ll live alrite.” He responds, nodding at them. “They’ll recover. Though not sure about that boy’s eye.”

He peers to his left, to the Proxies that gathers up the other children who, unlike the three, aren’t as fortunate. They’ll receive a proper burial. But for now…

He steps past his subordinate and confronts the children, his posture seemingly towering over since the children are on the ground. Was there any more of those thralls’ agents? Among these three, perhaps? He might be able to answer but that would require quite a delay. There is however, one thing for sure.

“You’ve opened your arms for a hostile agent.”

The three shares a glance. Julia speaks up. “Sir, how are we supposed to know that she is a Vindicator?”

“Regardless. Since there’s a written regulation concerning such deed, you too shall be charged.”

Julia gasps. She gazes down in silence, her face turns to ground with a hint of tears beginning to trickle down her cheeks.

“Charged?” The boy, which bear the name Lennard as Microv told him, asked with his unusually low tone. “Charged, huh!?”

He then stands up. “Hey, listen up.” He says, taking a step closer. “Who the hell are you!?” His yell causes all the Proxies watching him ready their rifles. “We are meant to serve a leader indeed. But in turn, that leader has to protect us, provide for us. After then we would abide by their words. But you…” Lennard points his left index to the Primus.

“Your war had milked us to the very edge, till there’s nothing left!!! And then you just cast us aside like toys that you don’t want to play with anymore!”

“Are we obliged to serve you then? Do you have the right to boss us around then?” He proceeds to point at the arrays of his comrades’ corpses laid side by side. “No, we aren’t. No, you don’t! My friends lost their lives, believing they did the right thing for you. You should be grateful that we even listen to your rally.”

A silence ensues. A standoff between the most powerful man in the world, and a fragile boy with a broken wing. The Proxies share a glance to each other, considering whether or not they should take immediate action.

“What!? Now you’re planning to kill me or something? Execute me in this very moment maybe?”

“Lennard.” The boy named Zen calls out his friend.

“I’m spitting facts here, Zen! Are you going to deny those truths!?”

The Primus is silent. Heat begins to converge on the top of his head. But as much as he is willing to unleash it, he doesn’t intend to repeat the accident that costs his office’s maid colonel her beauty. Especially against a young boy that’s already a victim both from the thralls’ incursion and his own ambition. He turns to gaze at the mesmerizing sunrise in the distance. The gradient sky that signals of the rising sphere of light. The magnificent view caught his attention for a few moments. And before he realizes it, the heat on his head disappears. Now he can view things the way they should be viewed. The way everything the boy said is true.

He takes a deep breath and turns back to the boy.

“As much as I have torn families apart, I can’t be cruel to my own citizen who obeys me with their heart.” He says with a gentle tone.

His calm response surprises Lennard as he relaxes his muscle. Microv lifts a finger, and the Proxies turn down their rifles.

“But written regulations remain the way they are. Stepping over them is treason, and ought to be dealt to maintain order.”

The three children share a glance. Lennard looks down at his feet. It means he’s still going to charge them for allowing hostile infiltration.

The Primus steps closer and holds Lennard by his shoulder.

“However, I have a proposition. A compensation for you children.”

–**–

It’s a week after the incident.

I trudge along a hall with my cleaning equipment, occasionally pressing my left arm to my abdomen, where the remainder of my stab wound is. Despite the hull of my torso plating, the daggers that struck there felt incredibly painful. I wonder…

Hunnggh!

The noise that I made as I wrinkle under the flaring wound. I thought I was fully recovered. Turns out the pain still lingers after seven days of treatment. That golden-haired girl was really meant to kill.

Ouch.

They sent me back to Creatio Genetrix. I was in the treatment bay when I regain my consciousness. To my surprise, the maid colonel herself is beside me as soon as I open my eyes. But what comes out of her mouth was a terrible news.

“…Thereby, Valeska Helena, is under charge for the violation of private properties, especially the properties of the Primus himself…” She said.

And for that occasion, he confiscated all my life savings, as well as cutting my accommodation to just enough for my daily needs.

“I’m sorry…” is the only phrase that she uttered after, before she leaves the room.

I let out a deep exhale as that fact come to haunt me again.

Now how am I going to buy a land and restore my family’s wealth?

I was so close. Yet I lost it all.

Given my cut, I’m not sure how long until I have enough. That is assuming land prices aren’t rocketing due to scarcity in accordance with population growth.

Everything just goes on simultaneously within my head. They are too much for me to process. I don’t know what to think. I don’t know what should I feel. And then a sniffle comes through. My sight remains on the floor, but I believe anyone else near catch that. This failure, it cuts deeper than those daggers that had stabbed me. I raise my left arm to cover my eyes as they begin to well up.

But with that, gone are my sights. And that happens, again. I slipped.

All my body, from head to feet crashes against the floor. I couldn’t bring myself together, thanks to the injuries that are screaming due to the collision. So I remain on the floor, cowering to hold against the pain.

Why does this happen to me?

I don’t understand. What sin have I committed to deserve this? Maybe restoring my family’s wealth isn’t meant to be my path. Maybe following them up is one. If only that fall lands a nail in my coffin. If only the empress wasn’t there to shield me. If only the flames that evening consumed me. If only my dad didn’t bother to fertilize my mom. Damn it. If only the slipping could just kill me right here, right now. I would greatly appreciate it, even though I have nothing to show my gratitude.

Mom, dad, forgive me. I could only go this far…

“Lena!” Suddenly I heard a female voice. I wish it is my mom. I wish she would come, pick me up, and caress me like old times.

To my surprise, I’m really picked up. Oh, how I miss you mom.

“Lena, please stay with us.”

Of course, mom. Why would I…

Wait, us? Ah, of course.

I reopen my eyes to a face of a girl calling out to her surroundings. Her arms are around my back, supporting my body. She then leers back on me.

“She’s back!” She shouts before wrapping my arm around her shoulder. “Come on.”

“Hnggh!” I grunt as the injuries whine again when she is helping me to stand. I press my left arm against my stomach.

“Thank…” It’s the only word that comes out of me as the pain stands out.

That’s when I see other maids gathering near me.

“She doesn’t look good, initiative treatment perhaps?”

“Lena, Lena, have you had your breakfast?”

“I can get you something from the lounge.”

“How about some rest? I’ll handle your tasks.”

The chatter goes on. But I’m in quite a physical pain that prevents me to reply. I just ask them for a place to lie down. They then bring me to one side of the hall. What they do is quite astonishing. One of them hastily pulls their half-apron and lays it on the floor. Another sits on her calf on one side. And the girl that is supporting me carefully lays my head on the other girl’s lap, the one that is sitting on her calf.

It appears that these maids suddenly concerned about me. I appreciate that. But if it isn’t genuine, then why bother?

“W-why are you helping me?”

The four maids share a glance.

“Um…” The girl that helped me up speaks first. “I heard about your stories. I’d love to hear it from you.” She taps her indexes against each other. “My name is Zara. How about we become friends in turn?”

Friends?

“Hey, hey, me too!” The girl that offers me her lap exclaims. “Oh, it’s Anne by the way.”

“I’m Saskia. Pleased to meet you”

“And you can call me Thalia.”

Ah…friends. Something that I have been missing since that fateful evening.

–**–

A year passed.

The days I’ve spent with Zara, Anne, Saskia, and Thalia paid off. They make time flies fast. And for some moment, I forgot that I still have to pay for my charges. That the Primus confiscate all my life savings and cut my accommodations. The colors they brought brings a new flavor to my gray, tasteless world. I still am heartbroken over the fact that I’m going to need perhaps another decade to purchase a land. But with them here, they don’t hurt as much.

I appreciate them. Some more to my debt list.

It is then when I got orders to pack all my belongings. They don’t specify the purpose, only saying that I’m about to be moved somewhere else. It’s probably something to do with my punishment. I’m being moved somewhere for my arrest. Well, I’m in no state to disobey so I just follow their orders.

I bid farewell to my new friends, saying that we shall meet again. And then I take off.

I’m still in my maid uniform when the air transport lands. To my surprise, I return to the island of the Primus’ vacation site. I’m then put in a transport along with my belongings. As the trip goes, I gaze out the window. Out there are majestic arrays of trees and mountains. It feels peaceful. Something about them soothe my pain and ease my worries. Before long, I find myself wanting to stare at them for the rest of my life. Perhaps it’s the greatest joy that I could obtain for the moment.

I grin at that thought. Nature really is fascinating.

Eventually the transport stops.

I step down to a sizeable piece of flat-land. On the other side is what appears to be a farmhouse. The sight left me in awe. And along with that astonishment is a ponder. Why would they bring me here?

“Here we go.” The transport man says to me as he walks up beside. “We’ll be taking care of your belongings. For now, they’re waiting for you.” He says, pointing his thumb at a specific direction.

“Why am I here?” I ask him.

“Just, go to them over there.” He says.

I turn my gaze to the direction he is pointing. There I see a large group of Proxies, and three familiar faces beside them. They are Julia, Lennard, and most importantly, Zen. My heart is relieved. I am all stuffed with glee at the fact that they survived the incident.

I stride to them.

They wave at me as I draw near.

“Lena!”

“Over here!”

That’s Julia and Lennard yelling in turn. Zen remains calm beside them, with a grin that warms my heart. I notice an eyepatch on his left eye. Nevertheless, that doesn’t reduce his gorgeous features.

“It’s been a while, isn’t it Lena?” Julia says with her captivating smile.

I nod. “I’m glad you’re all still in one piece.”

Everyone then turns to Zen. “Well, not exactly…” Lennard says. “But acceptable.” He shrugs.

I also turn to him. My feelings got in the way, forming way too many words to convey. I couldn’t decide what to say. So I just wave my hand saying,

“How are you, Zen?”

“I’m fine. Thanks for asking.” He says, nodding at me.

“Hey,” Lennard barks again. “You two haven’t see each other for a year. Is that anything you have to say?”

Zen and I share a glance. His gleaming eyes gaze straight into mine. It is an enchanting moment. I couldn’t believe I manage to find a stranger of my age, to whom I would give my compassion. I think I am fortunate that he also feels the same way.

I glance to Lennard. “Maybe the rest will come later.”

“Ehh, the rest?” Julia says with a smug. “Do you really plan to do that later?”

Uhh…what?

“Julia, please.” Zen says to her.

“Alright, alright.” Julia raises her hands.

Ah I see. That. When a couple hasn’t seen each other for a long time, what would they do? Normally, a hug, a kiss, and then…

“Ah look, Lena is red again.” Julia chuckles with a hand covering her lip.

Again? I take a deep breath. Oh well… That might be too mature. But I’m not denying that I would do that with him.

In any case, I decide to change the topic. I gently shake my head.

“By the way,” I say. “What’s going on here? And what’s with all the Proxies over there?” I point at the large group of Proxies with my thumb.

“Well…” Lennard says, pausing midway to leer at Zen.

“I think it’s better for the man himself to explain the case.” Zen says.

The man?

Not long after, someone comes out of the farmhouse. It’s sir Microv. It doesn’t take long for him to turn over here.

“Hey,” He directs his yell toward the farmhouse. “The delinquent lass is here!”

Oh my…Even after a year, he still refers to me with that phrase.

Then a middle-aged couple I’m not familiar with emerges out of the farmhouse. They turn their gaze this way. The ones that come after them are Colonel Iva, and the Primus, respectively. They all stand there in silence for a second. The Primus moves first, gesturing to the rest behind him to follow up.

“Are you still in pain?” He asks.

“Physical?” Because I still have some inner pain that still lingers. The loss of my parents, for example. “They’re long gone by now.”

“Excellent.” He turns to sir Microv. “That’s one medical achievement.”

“One for the books.” Microv responds, tapping on his utilizer.

“How is your mansion doing, sir?” I ask him a fake question, hoping to break the ice after a year lacking of words exchange.

“Rebuilding. Should be done any time soon.”

As he turns to the direction where his mansion is supposed to be, I guess it’s time for the real question.

“So, sir…” I call him again. “What’s all of this?”

He turns to me. “This is your land now.”

“Huh…?” What!? My land!? Wait, he can’t be serious. Am I in a dream right now? There’s no way this is happening. This…this is just a dream right. Right?

“He’s telling the truth, Lena.” Julia adds. “I don’t think a person like him would pull this huge of a prank.”

“Whoo…” Lennard follows up with a clapping. “Congrats.”

Still, I couldn’t comprehend the fact that he just gives me away a land this vast. It takes me five minutes’ walk to get here from my drop point. There has to be something behind this. This is too good to be true.

“B-but…why?”

The Primus glances to the spacious empty land to his right.

“The confiscation of your life savings, as well as your accommodations’ cut is directed for this.” He says. “It’s an alternative for you, and your friends, to pay for the charges.”

“I have to cultivate this land.”

He nods. “Think about it. Not only you’ll achieve your dream, but this island will also flourish like it once had.” He then turns to me again. “But you have a condition in turn.”

 Ah yes, here they come.

“From now on, you will no longer be a part of the Creatio Genetrix’s maids. Reapplication in advance will be denied. And in the next five years, you will have to reach a certain net worth. Success means you’ll keep everything, and a pardon will apply to all of you. You are still pardoned if you fail, but you have to forfeit all of this as I assign someone else to take over.”

I nod. “That means I won’t be receiving any more accommodation from you?”

“And no more salary.”

“I understand.”

“Instead, this couple will accommodate you.” He says, pointing to the middle-aged couple who step forward. “Come get to know them. They’re your godparents now.”

Godparents? I gape at the fact that he went this far as giving me godparents.

“Glad to see you, Lena. I’m Glas Weisskopf. Just call me Weiss.” He says. Mr. Weiss then turns to his wife. “Give it a go, honey.”

“With pleasure, I’m Rosemarie. You can call me anything around that. Rose, Marie, or perhaps Mrs. Weiss.”

“Pleased to meet you Mr. and Mrs. Weiss.” I present a bow.

“I think I like this girl.” Mrs. Weiss says to her spouse.

“Colonel Weisskopf is a shining fella on the front.” Microv barks. “So captivating that our enemies are all going for him. So dangerous that Mrs. Weisskopf keep wishing for his safety twenty-four seven.”

“I appreciate the introduction Mr. Edward.” Mr. Weiss nods at sir Microv.

“And those men there, are his.” Microv continues, nodding at the direction of the large group of Proxies. “They’ve seen countless unpleasant times that we consider them to retire.”

“But of course…” The Primus speaks again, raising his hand. “That is if you succeed, in five years.” He says. “Your failure equals to sending him back to the front, as well as his men.”

Hearing that, Mr. and Mrs. Weiss turn to each other with a smile that seems to be forced.

“What if I reject your offer?” I say to the Primus.

“Then you’ll return to Creatio Genetrix and live up with your cut salary and accommodation until you’re pardoned. Your friends will be a subject to the Proxies discipline, and will be sent to the front along with Colonel Weisskopf and his men. This place, will be my private property.”

That left me in silence, pondering of the situation. If I succeed in cultivating this land under the timespan that he proposed, I’ll be the lady of this land. Just like my mother. And my family’s name will be restored in the process. I can’t imagine what happens next if I fail. Well, I’m not concerned for myself. It’s more about Julia, Lennard, and Zen. Perhaps even Mr. Weiss. I believe Mr. Weiss have seen quite a thorn in the front. Meanwhile, Julia, Lennard, and Zen have gone through a rough beginning. If they are all sent to combat the Vindicators in the main stage…

I don’t know. Now it’s not just my family’s wealth at stake, but also the lives of Julia, Lennard, Zen and these men. It’s no longer personal. And due to that, my doubt is over the roof.

Apparently, my silence is noticed by everyone. From the corner of my eyes, I see the Primus jerks his head, gesturing for everyone to disperse for a moment. He then approaches me.

“Sir…” I stutter.

“You’ve made it this far. You have no reason to be discouraged.”

“They’re in danger, sir. You said you’ll send them to the front if I fail.”

“That is if you fail.”

“But the first task that I am entrusted with ended in failure.”

The Primus sighs. “Take lesson then, Lena.” He says with a gentle tone that somehow feels heartwarming. “No one has ever succeeded in the first try. But I believe you’ll succeed now. After all you’ve been through, and given your determination.”

I turn to everyone who is now standing within distance from me. They all seem to be cheering out for some reason, getting to know each other. Especially the maid colonel.

“Retirement is cool, indeed.” That’s sir Microv barking in the distance. “But I ain’t stopping now. Who the hell is up to sweep his mess along the way?”

His mess probably refers to the Primus’.

“Can I talk to Zen please?”

The Primus nods. He strides to where the crowd is and gestures for him. It doesn’t take too long for Zen to come after me.

“What’s the matter?” Zen asks.

“Did you know that he’s sending you, Julia, and Lennard to the front if I fail?”

“We’re aware of that, Lena.”

But not only that. They will be assigned to Colonel Weisskopf’s unit which, as far as sir Microv’s description goes, apparently tends to bear the burden of dangerous tasks. The fact that there remains around fifty men left in his unit implies the numerous amounts of casualties associated with achieving the objectives given to them. The odds of survival are certainly minimal at best. Zen probably won’t survive another day in a mission handed to his unit.

“The Vindicators have killed nearly all of your friends that night. It’s dangerous out there.”

Zen takes a deep breath. “Look Lena,” He says, getting even closer to me. Perhaps the closest one. His bright captivating features this close begins to drive me wild. “You shouldn’t be concerned about that. Focus instead, on how to make the best of these and succeed.”

I turn my gaze down. “You know I led a team once and failed. And that’s only for a simple task of caring for the Primus.” I mean, owning a land is indeed my dream. But, “I don’t know about cultivating this land under a deadline.”

“Don’t worry Lena.” He says. “The frontlines are brutal places. I’m pretty sure Mr. Weiss and his men have little to no desire in returning there, even though they’re made for it. And that’s why I believe they will also do their best to help you, alongside us.”

My sight is raised back at him. This feeling blossom even brighter within as I trace the details of his features. Eventually, I give in to my temptation. I step closer, placing my hands on his chest just below his shoulders, and leans my head against it.

“If you’re going to the front, then I’ll come with you.” I say gently. I believe I have the sufficient fitness drills. But for the role, anything could work. As long as I’m with him.

“If you insist…” He says, wrapping his arm around my shoulders.

My heart races, like a pendulum that sways faster with each tick. The smooth texture of his shirt provides a comfort for my head. I silently rejoice in the presence of his delicate scent that pervades to every corner of my nostril. The vast grass lands in spring where he offers his hand while wearing a glimmering royal suit is now within grasp. Only without the glimmering royal part. Nevertheless, I remain grateful.

Who would’ve thought that it would come to this? For the first time ever, nothing else feels matter for me. Just him all the way. The way his warmth permeates within me raises my confidence by a huge amount. No matter what the world has to offer, I believe I could withstand it. I want to stay like this forever.

“But for now, let’s do our best together. Promise. At least you did something for the best of this place.”

I nod. “You’re right.”

Zen then turns to the crowd. “Do you want me to get them?”

“I’d be much obliged.”

Zen walks to them. And in the next moment, they all come marching here. I turn to the Primus and make my statement be heard by everyone here.

“I’ll accept your offering. And I shall meet your demand as well.” I say to him.

“That’s the spirit!” Lennard shouting at me.

“Way to go, Lena.” That’s Julia cheering me up.

“I’ll be here if you need me.” Of course you will, Zen.

The Primus turns to sir Microv and Colonel Iva. He then pulls out his utilizer.

“There are some starter seeds that you could work with in the farmhouse’s storage. There will also be some transport at your disposal, including a cargo ferry that should carry your commodities abroad. Here are the licenses and contracts that you’ll need. The number of the net worth is also attached. The name of this place is for you to decide. Register it once you are assured.”

I retrieve all the documents he sent to my utilizer.

“Do you need anything else?” The Primus proceeds to ask me.

I take a deep breath. “I think that’s everything, sir.”

“Colonel Weisskopf?”

“All is well, sir.”

“Take care of them, that’s an order.” The Primus points at him.

Mr. Weiss stands in order and salute him without saying a word.

“Yeah, I’m blaming you if one of their arses caught fire.” Sir Microv points at Mr. Weiss.

“Hush, Microv.” The Primus says. He then turns to Colonel Iva. “Iva, parting gesture? This could be the last time you see her.”

She nods before stepping forward. The maid colonel has been silent through this moment, but she never seemed more joyful before.

“Ma,am…” I salute her.

Colonel Iva present a gentle smile toward me, a genuine one that she never seems to be able to commit before. “Drop that formality. You won’t be taking orders from me anymore.” She says.

“Uhh…” Just as she said, I gradually lower my salute. “As you say, Ma’am.”

“Ms. Iva.”

“Yes, Ms. Iva.”

“Thank you.” She nods at me. “For that, for your service…” The maid colonel makes an unexpected pause. “For everything…”

I, of course, notice what she is referring to.

“I’ve heard about you from him.”

Colonel Iva steal a glance to the Primus behind her. He sighs and turns his gaze down. She turns back to me and nods. Her eyes however, starts to glitter.

“Thank you for trying to protect us.” I say to her

In a split second she grabs me and hugs me with all her might. Her face is against my left shoulder, which begins to feel damp. Sniffles and whimpering come after.

“I’m in your d-debt…forever.” She says.

“Ms. Iva…”

The prestigious maid colonel who appears to be strict all the time falls apart before me. The Primus turns around and takes several steps away, followed by sir Microv.

“I don’t know what you did. But one night, when he told me to bring him a chocolate pudding, he raises the spoon and put it into my mouth piece by piece. He proceeds to brush my hair, dropping the best fragrance he has as he tidies them up. And as I lay on my bed, he gently put my blanket on before sitting next to me for bedtime stories. When I give in, he kisses my forehead, wishing me a good night before apologizing.”

A tear comes running down my cheek.

“Thank goodness…” I say. “How I’m relieved to hear that, Ms. Iva.”

She nods on my shoulder before letting go. After wiping her own eyes, she pulls out her napkin and wipes her leftovers on my left shoulder.

“Promise me you’ll not fail.” She then says. “I’ll not be the only one who mourn should you fail. Hana, Rina, Eri, and Theo will as well.”

Now that the maid colonel, Ms. Iva, mentioned it, I have to succeed. As it’s not only for my family’s wealth, Zen, and the lives of others. But also for her, as well as my fallen team.

Hana, Rina, Eri, Theo…If you are watching, listening, I hope you note this.

“Don’t worry, I won’t fail.”

She sniffles once more. “Tell me if you need anything. I’ll gather all the help I could get.”

“Don’t be too harsh on yourself, Ms. Iva.”

“But for you, I insist.”

I nod.

“Iva!” That’s sir Microv calling her out in the distance. “Transport is here. Your father wants you to come over as soon as possible.”

“I’ll be going, take care Valeska Helena.” She says to me before trotting to catch up with Microv.

This has to be the greatest prize in my life. I never thought that I’d receive something like this. Despite the condition, this is something that will make me forever indebted to him. Imagine the possibilities. I could expand my family’s wealth. I could get a place for Uncle Bark who had ransomed me. And perhaps, Hana’s last will…

Will I ever see him again? Will he still be alive once this place reaches its pinnacle? Will I ever be able to repay him?

My body surges first before I knew it. I call out for him once more.

He turns around.

“Thank you, sir.” I say, bowing to him with teary eyes. But now, they are tears of joy. “Thank you for everything.”

“Thank me later. When you’ve reached that net worth.” He says, stroking my head.

“I promise to see you through to your end.”

He gently shakes his head. “You don’t have to.”

I sniffle as I raise my head. And he wipes my tears.

Ah…

“If only Iva is your age, if only Genesis and Katrina are still alive…You all would make the best of friends.” He says, turning his gaze to the skies.

Despite all of his misbehavior, he is still a human. Despite all of his cruel deeds, he only longs for a daughter. His hostilities and ruthless tendencies arise to protect the tender part of his soul, the part which he couldn’t give to anyone since there’s only a tiny remain of them.

“Don’t stop disciplining people, Lena. That’s an order.”

That’s the last thing he said to me, before departing with his transport.

I wave farewell as everyone converges on me.

“Hey Lena, you might want to give this place a name.” Lennard says to me.

“I concur.” Mr. Weiss adds. “Just, not after this island.”

“I suggest something that could encourage our gear to grind this land, to meet his demand.” Zen says.

I look around, trying to find the perfect phrase. Fortunately, it comes when I stare at his transport that gradually disappears in the distance.

“Prime…”

“Oh, so we’re naming it after him?” Lennard asks.

“Not quite.” I respond. It’s more of how this island functions as his primary venue for his leave.

“Prime Respite.”

–**–

A calm day. The foliage is rustling at the presence of a smooth breeze, blowing down from the top of the hill. Here I stand, on a decorated courtyard at one serene part of the island. A resting place for its inhabitants who have passed away. Their memorials are carefully established using ceramics which shines every evening, emblazoned by the setting sun. It is as if the spirits sit upon them, together watching the mesmerizing view of the sun meeting the sea.

“And so that’s it, as told by my mother herself.” A middle age man says to me.

“Did the she ever meet the Primus again?”

The man shakes his head. “Sadly…” He says. “She would stand here at the end of every week, gazing at the sky, waiting for his return.”

“But he never came back.”

“Well, what should I say?” The man pulls his pipe out of his mouth. “My mother’s foundation has created such a noise in his vacation site. He probably migrated to another one, he can do whatever he wants.”

My glance turns on the stones that lies before me. There are four of them laid side by side.

Karl Schneider Luetzen

Valeska Helena

Julia Ferrata

Wilhelm Lennard Santoso

The names that are inscribed on each stone from left to right, respectively. They who have established the greatest contributor to the Creationists’ cause. It is said that he, who was once the most powerful man in the world, named me after the girl on the right. He claimed that she was captivating, not only in figure and feature but also heart and soul.

On another layer a bit lower than them, lies another four.

Tanaka Hitohana

Shabrina Agonskaya

Erika El-Nabila

Fiona Theodora

The maids that accompanied Mrs. Lena on that fateful task. Even though they decided to abandon her, she still wanted them to be buried alongside her. The first one, Tanaka Hitohana, is a remarkable maiden. As my great grandmother puts it, ‘Without her, the Terran Vindicators are toast under the march of the Artificial Creationists’. Even though they lost, they went out in a mighty blaze visible to the ends of the world.

“Yuki!” A woman’s voice calling me from behind. I turn around, finding her marching to my position. “It’s getting dark. You need to return to the inn.”

“Sylvana come on…” I say to her. She is my great grandmother. “Just a bit longer.”

“I’m afraid that is not possible.” She says, crossing her arms. “As a daughter of the most powerful man in the world and the greatest theocratic monarch, you too shall manifest their discipline.”

“Well, well,” The man, Mr. Valeska Kolya Luetzen, says to Sylvana. “This woman fits the description laid by my mother.”

Sylvana takes a deep breath. “I have no choice. The ArC is a menace. The raid I had conducted once was to undermine their logistics as much as possible.”

“Don’t sweat it, my lady.” The man bows before her. “I was about to thank you for saving my mother.”

Sylvana’s gaze returns to Mr. Kolya. “Blinded by hatred, my men ran wild like savage dogs that would pounce at any flesh in sight. I couldn’t control them. Imagine if they catch up to her first, instead of me.”

A silence ensues. Sylvana and Mr. Kolya gazes upon each other for a moment.

“Anyway, I’m here to pick our young empress.” She says, grabbing my hand and dragging me away from Mr. Kolya. “Come, you have to study.”

“No, no. Wait!” I squeal in a way so that she let go of me. “Sylvana, please…”

But instead of letting go…

“Aeliana Julia Kinetica Pratama Tribhuwana,” That sounds terrible. “Your delinquency throughout the day has pushed me into a state where I couldn’t tolerate them any further this evening. You shall return to your room, immediately.”

“Aw….”

“We shall part here for a moment, Mr. Kolya.” Sylvana says, glancing at him. “I appreciate that you look after her through the day.”

“With pleasure.” He shrugs, putting his pipe back in.

“Goodbye, Mr. Kolya.” I wave to him.

“Till next time, her majesty.”

As we stroll under the crimson shade of the setting sun, I glance at Sylvana who is still holding my hand. The decorations on her figure are radiant before the light of the evening. To her, I call out.

“Sylvana…”

“Yes, my dear?”

“Why did you save her, of all the others? Even though you ordered the destruction of her village?”

She halts her steps and gazes down.

“It’s my subordinate who did that.” She said. “I was outraged when the result came out. I hustle as soon as possible to try and restrain my men. But it’s too late.”

“Still, why would you do that?”

“If you’re fighting monsters, you have to see that you don’t become monsters yourself.”

Don’t become monsters yourself… I turn my gaze forward for a moment, pondering at her statement. It’s when another question pops out.

“Do you regret saving her, then? Since she is the reason behind the apparent perpetual rotation of the gears of ArC war machine.”

Sylvana turns to her left. Toward a magnificent view of huge interconnecting domes, floating around the island. The domes that house sanitized environments, sustaining thousands of lives scarred by the wars, providing them a decent life.

“No,” She shakes her head and grins. “Not at all.”

–END–


Prime Respite

Prime Respite (Part 7)


Chapter 7

And just when I thought this mission couldn’t get any worse. I hunker down in the bunk, my back against its door, with my combat gear strapped; A set of shoulder, knee, elbow guard, armlets, greaves, and a torso plating able to generate protective shield. Fortunately, the armor used for daily drills are heavier than this one. Hence, this should be convenient for me.

“Situation?” The Primus’ voice comes through my utilizer.

A moment ago I received a call from him, informing the presence of hostile forces in the island. Their objectives aren’t yet clear and their position isn’t yet known. Thus, he ordered me to stay on guard.

 I link up my utilizer to the surveillance cameras across the mansion and skim through their footages. He made this feature accessible to me just now. In fact, he made all the remote features of this mansion available for my use.

“Still no one, sir.”

“Hang tight, I’m heading there.” He says before cutting off the transmission.

I take a deep breath. We still don’t know how lethal this hostile force is. The Primus told me to expect the size of what a speedboat could contain. Regardless, I’m not sure I myself could mount a resistance to keep them at bay. I’ve also contacted Zen about this. He said that he and his colleagues are already on guard, per sir Microv’s warning. He promised me that we would rendezvous first before confronting this threat, as soon as they’re spotted.

I hope this mansion isn’t their objective. I thought, cowering even deeper. But I think that’s too much of an expectation. Even though I had combat training, I never wish to see the real one myself. Not ever since that evening. It is also the reason why I left Uncle Bark, who lives just behind the front and is a potential target for hostile raids, for the capital that’s safe behind all of her sons and defenses.

As my sweat trickles down my face, and my fist clenched to hold against the shivering, I wish so that this will be over as soon as possible. Why does things keep getting worse over time? I just wanted to accomplish my duties as a maid. Why does this incursion have to occur?

“Oi delinquent lass, it’s your Household Manager again.” I’m surprised to find sir Microv’s voice blaring through my utilizer. This time he speaks with a gentler tone, compared to the last time he talks to me. “As much as how my word pierced you that night, which it might did, I wanted to you to stay calm. You’re a combatant citizen, so stay calm and remain on watch. Depending on their strength, you might not need to participate in butting their arse.” He says.

“Where are you right now, sir?”

“Hustling for the place where your boyfriend settles.”

For a moment, I remark how he just mentioned that in a situation like this. I slap myself, trying to dismiss that. There is a greater concern.

“Excuse me sir but, do you really believe that you’d made it here in time?”

“We would if Microv modded his module.” That’s the Primus’ voice.

“What good does it do if you aren’t slapping in a synergized configuration?”

“You know you can just install those that shows a percentage of performance increase on their tags.”

“Hmmh,” Sir Microv chuckles. “You mean like how we could just throw all our armors to take the thralls’ fortified positions? Sure I can.”

These two people. They are aware that there are hostiles roaming this island without knowing their whereabouts. Yet they still able to throw leisure conversations. Was it a feature only available to the most powerful man in the world? And perhaps his direct subordinate?

“Anyway, maintain that alert stance.” The Primus says to me.

“Y-yes sir.”

I take a deep breath once again. And just as I do…

I hear gentle tapping on the floors outside. Footsteps. Steadily creeping across the mansion. When I skim through the surveillance footages, two of them shows armed men with crimson outlines on their combat gear. It’s them, the Vindicators. The people who razed my village. They’re here.

But how? How did I miss them? How could I not see them coming? There are surveillance cameras installed outside. Perhaps, my thoughts are too occupied, that I didn’t check the footages often. I quickly disable the transmission function of my utilizer and send a warning message to both Zen and the Primus. Please come quick…

In total there are six men on the mansion. Turns out not to be a large force. One of the footages however, ripped my heart out of my chest and tear the flesh to which my bottom jaw clings. It shows a girl with the same maid uniform as mine.

“Hana…”

Why? How long have you been scheming with them? Is this the reason why you left me? Most importantly, where are the others? Rina, Eri, Theo? Did you…?

No…

She strides to the stairs and climbs it. Her steps are gentle, almost devoid of noise. Is she coming for the Primus? Are they here to assassinate him? I guess it’s a fortune that he is not here for the moment. But still, he is in danger if he decides to come here.

I have to do something. But I can’t confront them all by myself.

It’s when I receive a message from Zen.

We’re mobilizing.

Yes please, come here as soon as possible. For the first time ever, I desperately want a boy to come over to my place.

Perhaps I could get the jump on Hana. I check the surveillance to see her breaching the door to the Primus’ room. That’s one property violation. She roams around the room, her sight constantly looking around. A moment later, she brings up her utilizer, perhaps contacting her units. Before long she thrusts her short sword through the Primus’ bed, perhaps out of a frustration of not finding the man here.

She then proceeds out of the room and head to the top floor, where the Primus’ personal office is.

As I notice that the armed men are scattered all around, I gently push the bunk door open. It creaks, but hopefully not enough to alert those men in the mansion. I slip out, taking one gentle step after another. I direct the energy of my combat gear to suppress the noise of my footsteps. Since this place is massive, I believe they won’t notice me unless I get near them.

There are two stairways and they are segmented by each story. I constantly shift to whichever would raise the bare minimum of their alertness. But as I reach the topmost story where the Primus’ office is, my shin crashes against the last step. It doesn’t hurt that much but it makes quite a noise. I quickly press my hand against my mouth as I hold my body with an arm.

I leer downstairs and sees a man turn his glance to my direction. There’s an obstruction of course, but I can see him paying attention to the noise that I made.

Damn it. Once he gets around the obstruction, he’ll spot me. I’ll be done for.

“Pavio!” A voice blares from the other side of the room. To my relief, that man’s attention turns to him. “Look! This man adored Julius Caesar!”

“So?”

“There’s a bit of me in him, and the other way around yeah?”

Whilst they are occupied with anything they find, I hastily foot it through the final step. I begin to prowl to the office room. From the distance, I can see Hana standing before the Primus’ personal computer. I gently pull out my short sword, the wakizashi, as I near her. I make up a rectangular object as I get closer. That looks like a hard-drive. She must be retrieving crucial informations.

Seems like I am the only one standing between her and the reality where those details are published widespread. I can’t let that happen. That hard-drive shall not go anywhere.

And also, this is for your betrayal…

Since her torso is as protected as mine, a sweep through her neck is probably the best option. But once my blade is going for that point, she casually turns around and meet my wakizashi mid-air with hers.

“Sweet Lena…” She says, with a smirk that obviously humiliates me. “I am no Maid Color Sergeant for nothing.”

She shoves my blade away and proceeds with a powerful kick to my stomach. I got thrusted back. Before long, my back crashed against the wall, breaking a picture and a plant decoration in the process. The injury isn’t serious thanks to the shield generated by my combat gear.

I quickly rise up and rolls to the side to avoid a slashing wave from Hana. It struck the wall where I crashed and left a slashing mark. The wall is too thick to cut through, the wave only made it just some tiny distance deep from the surface.

“So we really settling this with force?” She rotates her katana around. “I’ll drink to that.”

If it is down to this, I don’t think I have a problem handling it. As the maids of Creatio Genetrix, we both are trained under the same martial art. I only need to hold until help arrives.

Then I leer to the sides, toward the hard-drive sitting just before the monitor. At least I have to stop the transfer as soon as possible without damaging that computer.

I pull my katana and commit three slashing waves before hustling around Hana to reach the computer. But she beats me to it and meets me with a slash to the stomach. I’m fortunate to notice that and mounts my katana just before it to block Hana’s strike.

“This is the reason you left me? Because you’ve been working with them all along?” I say as I struggle keeping her blade at bay.

“The Primus must pay for his sins.” She exclaims.

She shoves me away but I’m able to launch a sweeping attack against her. But it appears that Maid Colour Sergeant is more than just a rank, as she successfully parries my next eight successive strikes.

Hana counterattacks with two nimble and strong blows. I slightly stagger away from her. But as soon as I recover my stance, she dives toward me with one powerful slash that drags my footing back. Just as I recover from the shock of her katana crashing against mine, Hana launches me to her flank with her kick.

I rise back to some distance between her and me. My stance is on, and the tip of my katana leans to her direction. She remains in place as I hear footsteps gathering behind me. I leer to find six men training their rifles at me.

This, is bad.

“Those men are trained to kill you know?” Hana says. “Make one move and you won’t see the next dawn. Surrender now and we’ll spare you.”

Damn it. Why does everything keep getting worse for me over times? Will this actually be my end?

“Hana, why are you doing this?”

“Five…”

What!? A countdown?

“Hana!”

“Four…”

“Hey, listen!”

“Three…”

“They’re going to shoot me anyway, might as well spare me the motive behind your merit.”

“Two…” She keeps on counting. Her smirk gaze turns into a glare. “One…”

Ah, I think this is it. This is my end. I close my eyes as they begin to well up. For a moment, I can see their faces zipping past me in the dark. My parents, Uncle Bark, Rina, Eri, Theo, Zen, sir Microv, and The Primus. I have, once again, failed them. Even if my gear is made to withstand projectile damage, it does no good under a barrage of one. They would still gun me to death even if I turn around and parries every bullet coming for me.

A gunshot. So that’s it…

But only one shot?

Not only that.

Its faint roar seems like it doesn’t come from anywhere inside the mansion. There must be someone else. I sigh a relief. It seems like they’re on time. Hana however, doesn’t seem to be amused anymore.

“They’re closing in, the militias.” A voice comes through her utilizer. A voice that somehow, I recognized. But I couldn’t remember.

“All of you get down there and hold our position.” She says to the six men. They then hustle downstairs with no second thought.

Whoever fired that shot, I’m in your debt too. And that makes me think for a moment, to grab a paper and lists everyone to whom I am indebted.

I reopen my eyes and directs a grin at Hana.

“Well, looks like it’s just us now.” I say to her.

“Not bad for a corporal.” She says. “Guess you really deserved to be one.”

“Hana.” I call her name again. “Why are you doing this!?”

Hana is silent as she gazes to her feet. Her arms are relaxed, she doesn’t have a stance on. But that doesn’t mean I have a chance. Based on the encounter just recently, she could mount her stance in a split second, deflects my strike and counterattacks like flipping a hand.

“Why am I doing this?” She says, her tone deepens. “How could I not? He took my parents from me!” She yells, extending her left arm, pointing toward The Primus’ seat.

“You’re not the only one who suffered such fate!” I yell back.

“But that is not the case!” Her left foot shifts slightly forward, her sight is sharp like a pike piercing through mine. “My father was a master of his domain. He led his people to resist against The Primus during his conquest. I was a child back then. I see him return home every night bloodied, filthy, all soaked in the odor of war. It’s so that our belief’s presence in this continent is preserved.

“But our resources are not as abundant as The Primus’, and our men aren’t as well armed as his. When it’s over, my father was forced to surrender so that his legacy remains intact, his people, our belief. Do you know what The Primus did next?”

I squint my eyes. Given his personality, his stance toward the believers, and the motive behind his hostilities to them, I think it’s obvious.

“Of course, we all know what he did. But how he did them…His men led my father and his people to a camp deep within the woods. When the lights went out, and everyone starts dozing off, he lobbed fire on those camps. My father, along with all of my people, perished in one night. The women are sold to slavery, my mother included. I was fortunate to be raised in an orphanage. But when I return for her with my prosperity as a color sergeant, she has already passed away, overworked to death. And that is long before I’ve even gained this rank.

“It’s true, that given one’s will, they could prosper under The Primus’ realm. But prosperity my crap! What good are gold and silver if the people that shared your compassion aren’t there for you!?” She yells at that last question; a tear comes trickling down her cheek.

Such atrocities…

Typical of The Primus’ will to erase the believers off of this world. But how wouldn’t he do them? The believers have sinned him, taking his daughters away two times. That should have been an equal trade.

In any case, that doesn’t mean the Vindicators are all-righteous guardians that protect their subjects from miseries.

“Do you think the Vindicators stick away from the wicked merit of The Primus?”

“They are the most powerful believers’ nation in this continent. They protect us all, and allow our belief to remain in this world, of course they are our savior.” She says, nodding in my direction.

“Well,” I take a deep breath. “Your wretched empress also burned my settlement and massacred everyone but me.”

Hana raises an eyebrow.

“My parents, their legacy, their wealth, all perished in one evening.” Heat is building up on my limbs’ end as I utter those words. As miserable as it is that evening. It is as if I want to surge forward and commits wide and quick slashes.

So, this is what it feels like. This is what anger feels like. This is what The Primus felt when he lost his wife, just so that a believer girl could stay under his roof. This is what he must have felt like when he lost his daughters two times to the same people.

“Heheh…” I hear Hana chuckles. That chuckles gradually turn into a wicked laughter. She takes a deep breath at its end. “I guess we really have a reason to murder each other, don’t we?” She flinches her head.

“Loud and clear, sarge.” I respond with a gentle tone. But my expression says otherwise. To Hana, I would seem to be no longer hesitant in committing to the fight. My sight is now all covered with a violent intention. I will not only stop her from extracting anything from The Primus’ personal computer.

I will kill her. Here, and now.

Our roars are silent, thanks to the maid discipline of maintaining our grace. Powerful shockwaves blast through under our greaves, propelling us forward against each other. Once more, our katana clashed with a might of an even greater magnitude. As our sight pierce each other, I realize. This will be a bloodbath.

–**–

The local militia breaches through the main gate and hastily assume a position around the first level of the mansion. Some open fire, suppressing the hostiles as a handful of theirs climb toward the fourth level. The mansion complex is too large for the militias to isolate, so there is a chance or space for the hostiles to escape.

“Push them up everyone! Step by step!” Fred yells out from a cover in one of the gazebos.

There are three hostiles opening fire to them. Meanwhile they split their forces in two platoons, each consists of fourteen men. And it’s divided further into two squads.

Still, those three men held firm. It seems like they’re part of an elite force. So far, the militias haven’t been able to take any of them down. Meanwhile Fred and Julia’s squad each have already lost two men.

“Julia,” Fred speaks through his utilizer. “We’ll flank them from the left. Give us covering fire.”

“Roger.” Julia responds. “All units, rise from cover and spray some lead.”

The remaining boys and girls that she is leading stands up and fire full auto toward the hostile position. One of the hostile men peeks out, fires a controlled shot and takes down one more of Julia’s squad.

“Two of you come with me!” Fred says to his squad.

The remaining two opens fire to cover them.

“Zen, Lennard, how are your progress?” Fred asks to the leader of the third and fourth squad.

“We’re taking heavy losses!” Lennard responds. “Zen is trying to enter that mansion, and my squad follows him up for cover. We’re down to three men!”

“How about you, Zen!?”

“Doing fine.” He replies gently through his utilizer.

“What do you mean fine?” Lennard grumbles. “That charge literally costs you five of your men!”

“At least we had one of them. Two more.”

“Damn it, hang in there I’ll reinforce you!” Fred says.

“You two, continue the flanking maneuver. I’ll head there and fire at them from behind.” He says to the two boys that follows him. They nod and commit to that order.

It is certain. These soldiers aren’t just regular soldiers. They must have been special forces. This is bad. Neither The Primus nor his right-hand man shows a sign of being nearby. Under this weight, they will be slaughtered very soon.

If only Vittoria is here. If only she is here to turn the tide and push those hostiles away from this place. Other than being a bloom in the kitchen, she has shown herself to be a prominent combatant. If she is here right now, they surely stand a chance against these forces.

Bullets fly, muzzles flash, and the noise of the rifles clashing against each other roar through the night. After a brief sprint, Fred suddenly halts in the presence of a shaded figure. But that figure has a prominent feature that makes them noticeable, even when being shaded by the darkness.

The golden hair.

“Vittoria…?” Fred utters her name.

“Yes, it is me.” She says stepping out of the darkness, revealing her strapped combat gear with crimson outlines.

It’s a sight that left Fred trembled.

“Wh-why?” He asks. “Have you…all this time…” His jaw left open. His figure remains sturdy on the ground, but the revelation shreds his will to nothing. Fred wishes that this is just a dream. That the golden haired-Android, to whom he shares a compassion with, in that crimson outlined armor is just his mind trying to mess up with him.

But it’s useless. As she walks closer to him, her presence becomes ever closer to reality.

“Vi-vittoria…”

Vittoria reaches for his right cheek. She strokes it gently, before turning her gaze down.

“I’m sorry, Fred.” She says. “But thank you, for everything.”

In a split second, she pulls out her thermal dagger and thrusts it against Fred’s chest, at the point where his heart is supposed to be.

Fred’s sight wavers. “Ah…so that’s it.” He says before collapsing.

Vittoria embraces him while getting on her knees. She strokes his back for a time before putting him down beside her. She places his hands on top of his stomach before pulling out her dagger.

“Fred! Fred!” A voice comes through his utilizer. “Fred, where the hell are you! Answer damn it!” That sounds like Lennard.

But it doesn’t matter.

He’s going to have a taste of her dagger too.

“I’m sorry everyone.” Vittoria says.

–**–

The sound of clashing blades echoes throughout the mansion. The slashing waves emitted by the blades flies here and there, wreaking havoc to the mansion’s interiors. Plenty of vases, shelves, tables, and sofas got sliced. The very least is that each got a slashing mark, which still counts as a property violation if the owner is concerned.

A shockwave topples me back. Thankfully, I land on my feet. But as soon as that, Hana charges again with incredible force. I pull back before swinging my katana forward, meeting hers. The gust that comes with her surges through me. But I held my ground.

I shove her katana away and make a sweep for her stomach. She steps back and pulls an uppercut, which I barely dodge by leaning back. I think I would be done for when she activates her emitters. It turns out, she didn’t. Perhaps all the energy reserves her gear can offer goes to enhance her mobility and strength. The slashing waves emitted by our weapon might be powerful, as it could slash enemies from a distance. But it drains a lot of energy to maintain the emitters.

And as my misfortune has it, Hana’s strikes are even more powerful than before.

Her blade sweeps for my head from left, then right. It’s a mighty strike that could sweep my head clean. I manage to parry them, but at the cost of my energy reserves since I have to enhance my strength against such powerful blows. She proceeds with her momentum after the right sweep, spinning once for another sweep with an even greater magnitude.

I don’t believe I could hold that one, so I crouch. Luckily, I see an opening. Hence, I swing my katana upward, against her left shin. But it only damages her greaves.

She then spins her katana, its tip aiming straight at me, and thrusts it. I dodge to the right and dashes through, slicing her left arm in the process.

“Agh!” She yelps as blood spurts out of it.

Hang on? Blood? I thought our combat gear have shields.

I’ve recovered my stance as that thought comes to mind, a slight realization. But the slight delay gives Hana an opportunity to launch a charged slashing wave to my direction.

“Hngh!” I grunt as the force throws me back. My back crashes against the wall. Thanks to my shield, I survived. But it’s gone now. I stand up to the fact that I’m no longer safe from her dangerous attacks.

But it seems that she doesn’t have her shield either.

“Impressive.” She says, leering to her wound. “The maid discipline really is formidable.”

Ah…

I pause as I catch my breath. Her attacks are truly devastating. The strain on my muscles are compensated slightly by my gear. But if I don’t have the air to move them, what purpose does it serve?

It seems like I should’ve died a few moments ago. Her violent moves are meant for a quick takedown of her adversaries. I assume no one have ever made it alive. That’s the reason she disables the shield feature of her gear, to conserve her energy reserves. But now she’s fighting me, another maid of Creatio Genetrix with the same training, the same drills, and the same gear. The card that she used to rely on couldn’t work on us.

“I guess a more careful approach is better.” As soon as she says that, azure light flashes around her, indicating an active shield feature.

Now this is trouble.

She now has a shield on, meanwhile I’m completely vulnerable. I absolutely couldn’t keep this up. Given her fierce melee prowess, she’s untouchable on a one versus one duel. I’ll be the one who would fall first.

“What’s wrong? Tired already?” Hana says, followed up by her smirk. “There’s more from where that came from.”

I can still hear gunshot from outside. Zen and the others must still be fighting against those men. If I let her defeat me, then she could reinforce her men and slaughter everyone.

No…

I can’t let that happen. I won’t allow her to touch Zen.

My glance turns to the railings. Beyond them is a gap that links directly to the ground floor. Most importantly, the living room which is close to the kitchen.

I think I know what should I do.

I take a deep breath.

“If you’re not coming for me, then don’t mind if I do.” Hana says, readying her stance.

This is it…

She surges forward just like what she did before. Her blade shines, indicating an incoming slashing wave, as she raises it over her right shoulder.

As she’s nearing the right point, I leap forward, thrusted even more by the shockwave that comes down my feet. I land on one foot on her left shoulder and use it as a step to propel me for the gap. Another shockwave that comes down my greave slams her face against the wall behind me. And with that, I begin my fall.

I use my remaining energy reserves to reinforce my feet.

The loud thud as my feet meet the ground floor trembles nearby properties. And with that, I ran out of my energy reserves. With no second thought, I hustle for the kitchen. The fact that Hana hasn’t followed up is a fortune. She probably takes the stairs for one or two stories before dropping down to ease the fall and conserve her energy.

She’s probably saving them to finish me off with the most powerful slashing wave she could come up with.

“You can not hide Lena!!” She yells.

I don’t respond.

In the next seconds, I finally reach the kitchen. As soon as I do, I slip on my long skirt. My face crashes against the floor. But it’s not as painful as when I am not wearing my combat gear. That, however, isn’t in my plan. As embarrassing as it is, it might be the distraction that I need. I crawl backward as I hear footsteps rushing in this direction. I hope it’s Hana. Then I grab on to the stove handle to help me up.

Sure enough, it’s her.

“You’re bold to come after me.” I say to her.

“Well, rank prerequisite.” She says.

“You know,” I gaze downwards, deliberately showing my weakness. “That was an excellent fight.”

“Do you think I’d back down?” She shakes her head. “You’ve missed your chance to surrender.”

“No.” I say. “I’m saying that this is your end.”

She strikes me with her malicious smile. “Said someone who is cornered to my mercy.” Hana takes a deep breath. “Fine,” she says raising her katana, its blade begins to shine again. “I’ll make this quick then. You won’t feel a thing once it is done. That is for being the first to wound me, physically.”

I nod.

Hana then charges. The same movement as before, presumably more powerful. In a split second, I jump, roll, and slide to my left, barely avoiding the vertically aligned slashing wave that was coming to my direction. At the end of my slide, I sweep kick a one legged-table. Its face is now to Hana’s direction.

And that’s it.

The gas compartment of the stove is split in two, along with the gas tank inside it. Our contempt gaze fell on each other as the gas bursting in Hana’s proximity. She doesn’t seem to care about it, as she ready her katana again. But this is the end.

The Primus provided me access to every remote-controlled system in the mansion. Including the stove. So, I raise my left arm and presses a button on my utilizer, within Hana’s sight.

Fortunately, the stoves are lit. And with all the burners active…

It’s as if time has stopped. As the mansion tremble under the thunderous swarm of the ember monarchs, I cower behind the table, concealing myself from their rage. A sudden glimpse of the past. That evening, when columns of them rain hell upon my home. The evening where I lost my parents. There is nothing but flames blazing here and there as far as the eye can see. I reach for my father as he returns inside the mansion for my mother. But the mansion collapses first before they make it.

The incredible heat is reminiscent of that time, when I try to find safety by myself, across the sea of flames that ready to pounce on me at ease. The dark smoke fills the scene, blinding my sight. I could only make up those that is really close to me. I couldn’t think of where to go, still consumed by the loss of my parents. When I failed to track my friends amidst the noise of crackling embers and adults’ screams, I trip and fall to the ground. It is when a flaming debris collapses on to me. I thought I was toast, meeting the same fate as my parents.

But now I remember…

I remember a monarch that comes to my aid. The largest of her kind. She braved the debris with her majestic ember wings that has a flash of crimson across them. The wings flutter as she pulls me tight in her embrace. The debris doesn’t scratch her by a bit. She doesn’t even flinch as it crashed on her back. The sole warmth that the lone monarch brought, so it is her. The empress herself, Tribhuwana the second.

Then the heat diminishes. I reopen my eyes as I realize it. I rise from cover, to a room filled with crackling fires. Since there’s no flammable materials around, these fires won’t last long.

On the other side of the kitchen, I found her. Her back is against the wall, and her head is tilting to one side. I thought she is dead, until I notice that her body is still pulsating gently. I approach her. She is all-bloodied from head to toe, shrapnel injury. There are two sizeable pieces of metal sticking out of her left thigh and her stomach. Burn marks are also visible on her arms, hands, and a bit of her face, defiling her beauty.

It doesn’t take too long for her to look up on me.

“Ghh…ghh…” She shut her eyes as tears streak down her cheeks. “I’m sorry…Mother. Father…” She whimpers.

I kneel down and land my finger on her lip.

Her eyes, glittering, turns to me.

“I’ll make this quick, for that chocolate cake.”

She sniffles at my statement. But it doesn’t take long for her to shut her eyes again and nod.

I move around her and kneel again. My left hand holds her chin up, pressing the back of her head to my stomach. Then I pull my wakizashi, putting it just on her throat.

“Do you have something to say?” I ask her.

“I hope…” She halts as she spits blood out of her mouth. “Your family’s wealth is restored in no time.” Hana then raises her sight to gaze on me, who is facing down on her. “And promise me Lena…by then, you will protect innocent families…so there won’t be, a second me. There won’t be…any more…broken houses.”

My teeth are clenching against each other, and it’s never been this hard. It takes another second for me to realize that my eyes are welling. It’s hard to believe she just said that at her last moment.

“There won’t be a second me as well.” I reply.

Hana gives her last smile. And that’s when I run my blade across her neck.

“Rest in peace, sarge.” I say, reclining her body on the ashen floor reeks of burnt ceramics, putting her hands gently on her stomach.

I place both palms of my hands on my face, taking a deep breath while running them across it.

How many more people like Hana out there? Those who are wounded by the conflict? Those who bled and lost under The Primus’ gruesome ambition? Who is at fault here? Who is to blame? Everyone has their reason for their deeds. Everyone has their loss that justifies their motives. If that’s the case, then will there ever be someone to blame?

Or maybe it’s never about finding the root where it began…

If two branches could speak, would they be concerned if one towers higher than the other because it used up the provisions that are meant for their shorter counterparts? Or would they just go along living side by side as if there has never been any conflict between them?

Then I realize that it is already silent out there. The gunshots are no longer heard. My nerve rises over the roof. Did Zen succeed? Or is it the other way around?

I…

I obviously couldn’t stand a chance against those men, especially in my current condition. If there’s one thing that I could do, is to destroy that hard-drive on the Primus’ desktop.

–**–

He was right to be suspicious of her since that night when she separated herself for stargazing. She has pretty much committed lethal takedowns to the remaining militia. Lennard is wounded and unconscious, presumably dead. Perhaps the same fate also befalls Fred and Julia since they’re not responding. He survived thanks to his superior melee skill. But it costs him a stab in his left shoulder and a slash through his left eye and his right thigh.

Still, surviving now won’t do anything. There are still four of those elite forces left. And with his wound, there’s no way he could take them all by himself.

Nevertheless, he still drags himself across and leans against something solid. That something might have been one of the railings before getting blasted away by the projectile exchanges.

He pulls out his pistol, aiming it at the four men who are cornering him, and opens fire. Of course, the bullets ricochet. These four men still have their shield active. That shield, projected by their combat gear, deflects the incoming bullets. Even if they don’t have their shields, the bullets would still bounce off or just sticks into their body with no significant outcome since they’re Androids.

“Hey, kid. Just give up. We’ll spare you.” One of them said.

“Yeah, promise.” The one next to him follows up.

“Never.” Zen says, reloading his pistol and opening fire again.

“You know, I feel bad for him.” The elite force says. “Let’s just end his suffering.”

As one of them trains his rifle at Zen, his colleague who stands at the rightmost points to the left.

“Uh…”

They all turn to that direction, and finds two men leisurely marching to them. They quickly form a line and aims their rifles at them. Zen also turns to the direction they are facing.

“Picking a fight with a wounded seventeen-year old? That’s some flogging for you blokes!” One of them says as he stands at some distance from them.

The other is still catching up. Once he is near the first one, he bends over with his hands on his knees.

“Goddamnit, you’re ruining my entrance.” The first man says to him.

“Your entrance shall accompany these thralls to whichever abyss you’re sending them to.”

“Fire!” One of the elite forces shouts out. In the next second, bullets are storming the two men’s direction.

“The Primus is here! Repeat, The Primus is here!” The other yells through his utilizer.

For a moment, Zen is shocked and tries to reach for the two men. But as soon as he does, he’s greeted by the sight of the first man leisurely extending his right arm to their direction. The bullets don’t go further than his right hand. It is as if they enter a sphere held by his hand, and keeps on bouncing inside the sphere with blue wiggly lines bounding them.

It is not long until the elite forces ran out of bullets. They turn down their rifles, astonished by the spectacle they are witnessing.

“So,” He says to The Primus beside him. “As usual?”

“As usual.”

Then the bullets are arrayed into a rectangle as wide as the elite forces’ line. Its sharp end points toward them. And all of a sudden, the bullets turn blue with electric sparks flying around them. In a split second, the bullets surges through the four men at blinding speed. They collapse thereafter.

It’s not the first time Zen witness such wonder. He saw it just few days ago with Lena on the same garden. But still his gaze filled with astonishment. How could one possess such power?

“Scientia, victrix!” The first man yells out. His loud voice blares through the night.

“Now take care of the wounded,” The Primus says “I’ll tend to the minor nuisance inside.” He then turns around and strides for his mansion.

“There’s someone else there?”

“There’s no way that one-person radio someone else beside him.”

“Rite…” He says before turning to Zen. “Now, hang in there. First aid coming through.” He reaches into his one of his mantle’s pockets.

“I’m twenty-one you know?” Zen says to him.

“Eh,” The man shrugs. “You all look the same. Somewhere around that year-olds.”

 Zen takes a deep breath. He wishes that Lena is doing fine.

–**–

I hustle back upstairs. I think the transfer should be done by now. But it doesn’t matter. I could just destroy that hard-drive.

As soon as I return to the office, I am surprised to find someone else there. And how petrified I become when I recognize that prominent feature of her.

The golden hair. The girl behind that vendor. She is now clad with that crimson outlined armor, the harness of the Vindicators. So, the one that warns Hana and her men of Zen’s arrival with the others, it’s her.

Noticing me, she puts the hard-drive inside one of her pockets. I take a step back. Her face remains indifferent just like when I met her that day. But that’s what menacing about her.

Then I realize something. The firefight outside has ended. Could it be…

No…

“Y-you…you killed them all?”

She turns to me and says, “I’m afraid that’s an improper way to initiate a conversation.”

“You killed them all.”

The girl raises her right hand. “The men are doing well. I am just easing their burden.”

That means…Zen.

No…No…No, no, no. It can’t be true right? He…he is still alive right? He can’t be killed that easily right? Right? Right?

She sighs. “Now excuse me, I shall take my leave.” She says as she begins to stride at the nearest office window to her. That window head straight outside. Presumably, this girl is going to jump through and hustle away.

I’m not going to let that happen. Not after what she did to Zen, Julia, and Lennard. She is going to pay.

“The Primus is here! Repeat, the Primus is here!” A voice, all soaked in the roars of more gunshot, blares through her utilizer.

This is my chance.

My body surges on its own. Before I realize it, I’m already standing between her and that window she is heading for.

She sighs again. “Do you really want to do this?”

“Over my dead body.” I say, raising my katana to her direction.

Without a warning, like a sudden jerking that allows me to react, she just shoves my katana away. And in a split second, her dagger pierces through my stomach.

“Agh!” I grunt as blood begin to spurt out of my mouth.

Her dagger somehow manages to penetrate my torso-plating and dive through my stomach.

Yet she doesn’t stop there.

As soon as she pulls out her dagger, she crouches and slashes my left thigh, followed by another one to my right shin. Both scores a hit as my blood streaks out. I haven’t even processed this hole in my stomach, yet I have to receive more?

Then a quick and strong blow to my right thigh with the butt of her dagger. That topples my balance. My sight is to the floor. As I’m about to fall to my knees, she uppercuts my face with her fist. A robust fist that indicates her synthetic nature. I lost her when she slips past me. That is when she stabs me again from behind, just some distance to the right of the previous stomach wound.

 “AHH!” I made no effort to suppress my loud yelp as that dagger pierces my stomach again, only from behind. My gaze turns to the ceilings, to the lightings installed there. They begin to blur as my head throbs harder.

As if I haven’t had enough already, she proceeds with a slash through my right arm before shifting back to my front. There she pauses and stabilizes me for some reason, making sure I’m still standing. With the last of my strength, I train my sight at her. And there it comes. A diagonal uppercut against my front torso.

My gaze once again turns to the ceilings as I see my blood droplets flies all around me.

Hah…huh.

The force of that swing pushes me slightly back. But that is when she commits a mighty kick against my chest, supported by a shockwave.

My body flies through the window pane, penetrating it. Yes, my body. Because I’m not sure that I’m alive anymore. That’s not even counting the fall. I heard something break as soon as my back hits the ground. They’re probably my bones.

“Ahhh…”

I’m not sure I could survive this wound. Even if I do, I’d probably be disabled for life. With my blurred vision, I make up the outlines of that golden-haired girl perching on the remains of the window pane, before finally blasting away. She disappears into the darkness, soon after.

Maybe I’ll see her there again.

In the darkness…

Because my sight is blacking out.

A breeze blows through the night. Those monarchs with their dazzling ember wings, they’re here again, circling above me. There’s a handful of them. The way they flutter around along curly trajectories, forming an ever-shifting pattern illuminated by a small garden torch, is such a relieving show. The radiant theatre with a background of the serene night sky makes an excellent anesthetic. For a moment, I forgot about my wounds.

“…Z-Zen…look. Beautiful…aren’t they?”

My hand then reaches out, hoping for more share of their warmth. To my sorrow, they begin to disperse. Fluttering away, leaving me alone amidst the shivering night.

Ah…so cold…

Feels like…sleep…


 Prime Respite