Parallelogram β

Entri Writchal #1

Tema: Kakak Adik


Parallelogram β

Ketika itu, hujan turun. Di bawah payung hitam adalah sepasang saudara kandung, tertunduk menatap nisan yang basah akibat rintik hujan. Tertulis nama dari ibu dan ayah saudara tersebut. Kini keluarga yang tadinya empat menjadi dua. Muda, tidak berpengalaman dan tanpa ada seorang pun untuk bersandar—bahkan Tuhan. Seumur hidup tidak ada yang memperingati mereka untuk bersiap mengalami kejadian ini. Mereka hanya dapat menelan mentah kenyataan, tapi kala itu hanya sang Kakak yang menitikkan air mata.

Di sampingnya, berdiri tegak dengan kepala tertunduk juga, sang Adik. Tatapannya kosong, seolah menatap sesuatu yang berada di balik sisi dunia ini. Hatinya hampa, sebuah bukti dari pribadi yang naif dan polos. Hidup sang Adik belum cukup panjang untuk mengolah rasa dan emosi yang ‘sesuai’, seperti yang sering diucapkan—”pengalaman adalah guru terbaik”, dan kini dia diberi ujian tanpa guru untuk membimbingnya.  

Apa yang seharusnya kurasakan saat ini? Tampang apa yang seharusnya aku tunjukkan? Aku tidak tahu.

Memutuskan bahwa siapapun yang ditatap mata kosongnya tidak akan menjawab, sang Adik menorehkan pandangannya ke satu-satunya manusia yang tersisa di dunia saat itu—dunia sempit di bawah payung hitam yang sedikit bergemetar. Jarak sepanjang lima tahun bukanlah sesuatu yang singkat, lagipula itu adalah setengah dari umur hidupnya. Sang Adik tahu itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah direbut seumur hidupnya, kenyataan yang sudah terbentuk jauh sebelum kelahiran dirinya. Ia berharap jarak lima tahun tersebut dapat membantu sang Kakak untuk memberikannya jawaban.

Suaranya tersedu, air mata mengalir deras seolah membutakan pandangannya. Ketimbang kematian orangtuanya yang mendadak, hatinya lebih tergerak ketika melihat sosok Kakak yang ia kagumi selama ini seketika berubah menjadi tumpukan emosi yang tidak terkontrol. Senyum lembut dan tatapan penuh sayang yang dimilikinya tak lagi tampak. Ia tahu bahwa kakaknya tidak selamanya tersenyum. Namun ia juga tahu bahwa kakaknya selalu berusaha untuk tersenyum di hadapannya, tidak memandang kesulitan apapun yang sedang dialami. Itulah awal kelahiran dari kagum sang Adik, dan mengapa dirinya merasa emosional melihat akar dari kagum itu tercabut seketika.

Seakan sebuah program otomatis berjalan, air mata mulai terkumpul tanpa sepengetahuan sang Adik.

Seberapa kuat luapan emosi yang tertumpuk di hatinya untuk menghapus senyum tersebut? Mengapa aku merasa kasihan yang mendalam ketika melihat Kakak? Rasanya seperti ada yang menggenggam hatiku dengan erat. Seakan Kakak akan pergi karena tidak nyaman ditinggal sendiri. 

Oh, apakah aku merasa bersedih? 

Tak terbendung, air mata menetes. Di pikirannya, sang Adik tidak ingin melihat Kakaknya berada dalam kondisi seperti ini. Dalam hatinya, ia meyakinkan diri untuk selalu berada di samping sang Kakak. Seolah berusaha untuk mewujudkan keinginan tersebut menjadi nyata, sang Adik menggenggam pakaian Kakaknya dengan erat.

~***~

“Pagi, dek!” 

Sinar matahari menembus jendela setelah sang Kakak menarik gorden tipis dari kamar kecil dan sempit yang ditinggali kedua saudara kandung. Kehidupan seketika menjadi sulit bagi sepasang kakak-beradik setelah kehilangan dua pilar utama yang menyokong hidup mereka. Sang Adik kini hanya dapat bersandar pada satu orang—Kakak.

“Sarapan sudah ada di meja. Favoritmu, telor dadar.”

Hari ini adalah hari Selasa. Sang Kakak bangun lebih pagi dari biasanya demi kerja sambilan—satu dari sekian banyak yang digarapnya. “Hnn, terimakasih, Kakak,” balas Adik dengan nada datar, mata setengah terbuka.

Hari ini kita tidak sarapan bareng, lagi.

Ujar sang Adik dalam hati. Seakan mendengar sautan gaib, sang Kakak meringkuk dan mengelus kepala adiknya dengan penuh rasa sayang. Gerakannya sangat lembut dan perlahan, seakan mengundang penerimanya untuk kembali ke dunia mimpi.

“Maafkan Kakak, ya. Kamu jadi harus bersiap-siap sendiri lagi,” ucap sang Kakak dengan senyum manis. Walaupun tersenyum, sang Adik menyadari terdapat sesuatu yang berbeda dari senyum tersebut. Semenjak hari dimana sang Adik melihat sosok Kakaknya menangis dibawah payung hitam dan hujan, sesuatu berubah dari pribadi Kakak yang ia tadinya kagumi. Kala itu, tidak hanya sang Adik yang meyakinkan diri—lebih dari itu, sang Kakak berjanji untuk memberi kasih sayang dan perhatian bagi adiknya yang tidak mungkin lagi didapatkan dari kedua orangtua mereka.

Dia tersenyum,

Dia lemah lembut,

Dia penuh perhatian.

Tidak ada yang berubah dari perilakunya, tapi sang Adik menyadari perubahan yang sangat kecil dibalik semua tingkahnya. Seakan ada lubang kecil di hati. Ruang hampa dibalik lubang tersebut. Kekosongan yang selama ini sang Adik berusaha untuk isi, namun tidak pernah berhasil.

—dan kali ini, entah untuk yang keberapa kalinya, hari yang sama akan terulang tanpa dirinya berhasil mengisi kekosongan tersebut—pikir sang Adik sebelum terhenti bersamaan dengan elusan kakaknya. Walau ia belum melepaskan tangan dari kepala adiknya, tatapan sang Kakak seperti terpusat ke sesuatu yang tidak ada disitu. Lima detik terlewat dalam diam hening.

Tatapannya lebih kosong dari biasanya.

“Kakak ga berangkat? Nanti telat, loh,” ujar sang Adik, nada masih datar namun matanya terpaku pada saat ini serta kakak yang ada di hadapannya. Terbawa kembali ke kenyataan, sang Kakak terperanjat dan berdiri seketika. Sang Adik sedikit kecewa, namun tidak memperlihatkan itu di raut mukanya.

“Kalau begitu Kakak pergi kerja dulu. Jangan lupa sekolah, dek!”

Cklik. Suara pintu tertutup, meninggalkan sang Adik seorang diri di kamar kontrakan mereka berdua. Jam masih menunjukkan pukul 5, sekolah dimulai dua jam lagi. Setelah terdiam sesaat, sang Adik memutuskan untuk memejamkan matanya kembali. Pikirannya tidak tenang, begitu pula hatinya. Alih-alih kembali tertidur, ia merenung dibawah sungkupan bantal yang cukup keras.

Jam 4 pagi. Kakak terbangun, ia menyetrika hasil cucian kemarin yang sudah kering.

Setengah 5. Ia bersiap untuk kerja pagi sekaligus sekolah kemudian memasak sarapan untukku, bekal untuknya.

Jam 5.  Kakak membangunkanku lalu berangkat menuju kerja pagi, mengantar surat kabar dengan sepeda.

Jam 7. Kakak menuju sekolah.

Jam 10. Istirahat pertama. Kakak menyelesaikan tugas yang baru saja diberi bila ada, atau membereskan yang belum selesai.

Jam 12. Istirahat kedua. Kakak membantu pekerjaan karyawan sekolah demi upah yang tidak seberapa.

Jam 4 sore. Kakak pulang sekolah dan menuju ke tempat kerja berikutnya. Di hari Senin, Rabu, Kamis—ia menuju restoran lokal sebagai pelayan. Hari Selasa, Jumat—ia pergi ke pasar, membantu mengangkut barang dari dan ke dalam.

Jam 5 sore. Kakak belanja untuk kebutuhan malam ini dan besok. Secukupnya.

Jam 6 sore. Kakak sampai rumah dalam keadaan letih dan lesu, namun tidak pernah mengeluh dan melepas senyumnya.

Jam 7…

Sang Adik merenungi kehidupan yang dijalani kakaknya selama ini. Waktunya habis, tiada kesempatan untuk bermain maupun bercengkrama dengan teman sebaya. Tenaganya terkuras hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan adiknya.

Sampai kapan hari-hari seperti ini akan berlanjut? Suatu saat semuanya akan berakhir. Tapi kapan?

Perasaan kasihan dan putus asa senantiasa mengawani hati dan pikiran sang Adik semenjak hari dimana kedua dari mereka harus menelan kenyataan pahit setahun yang lalu. Keinginannya untuk selalu berada di samping kakaknya tidak pernah terwujud. Jarak usia mereka terlalu jauh untuk bersekolah satu sama lain. Senyum lama kakaknya tidak akan pernah kembali, dan ia tidak pernah berhasil mengisi kekosongan hati orang terpenting dalam hidupnya. Tiap kali sang Kakak tersenyum dan mengelus kepalanya, hatinya bergejolak dan menahan rasa perih bagai digenggam dengan erat untuk sesaat. Kini semua perasaan tersebut tercampur, ditambah dengan perasaan ingin meringankan beban hidup kakaknya.

“Andai aku bisa mandiri dan tidak merepotkan Kakak.”

Kalimat yang ditujukan pada diri sendiri. Sang Adik bukanlah orang yang cerdik, namun pintar. Ia paham jika dirinya bertindak di luar ekspektasi, ada kemungkinan sesuatu yang buruk akan terjadi—tetapi tiap kali ia menawarkan bantuan, sang Kakak selalu berucap ‘Gapapa, kakak aja.’ Dalam lubuk haitnya, sang Adik juga paham bahwa dirinya adalah alasan utama kakaknya masih berusaha untuk hidup. Ketergantungan seorang kakak yang bekerja keras adalah seorang adik yang tak berdaya. Ia khawatir jika dirinya berubah, kakaknya akan kehilangan alasan hidup dan menjadi hampa.

Sama seperti hari-hari lainnya, sang Adik mengakhiri renungan pagi harinya dengan—

Hari ini akan kujalani saja seadanya.

~***~

Matahari pagi cerah, hangat, dengan sedikit semilir angin tersisa dari dinginnya malam. Sesampainya di sekolah, langkah sang Adik terhenti di tengah lapangan depan. Degup jantungnya berdetak kencang, nafasnya terengah-engah. Punggung sang Adik terasa seperti ditusuk oleh pisau dingin, sementara suhu sekujur tubuhnya seakan terbakar. Sensasi di pangkal tangan, kaki, dan leher sang Adik bak terputus—ia bisa menggerakkan bagian tubuhnya namun tidak merasakan apapun.

Tidak. Mungkin, sensasi ini lebih tepat dibilang sebagai terkoyak. Disorientasi? Entah, bahkan bernafas aja menjadi sulit, dan tiap tarikan nafas justru mengeluarkan suara serak bagai tenggorokan yang bolong. Secara refleks, sang Adik menggenggam lehernya hanya untuk menyadari bahwa sepanjang lehernya utuh.

Adek?!

Sang Adik mendengar sautan yang tidak asing dari belakang dirinya. Lehernya dengan gesit menengok ke belakang meskipun rasanya sakit—hanya untuk disambut oleh muka-muka murid lain yang keheranan.

Itu jelas suara Kakak, tapi di saat yang bersamaan…terasa berbeda. Suaranya seakan Kakak penuh dengan kecemasan dan putus asa. Ia tidak pernah sekalipun menunjukkan rasa gugup dan panik seperti itu…Kakak selalu tenang dalam keadaan apapun. 

…Beberapa detik kemudian, sensasi tangan dan kakinya kembali. Detak jantungnya melambat. Rasa lega tersebar seiring darah kembali mengalir ke sekujur tubuhnya.

Hanya perasaan buruk, pikirnya.

Sang Adik kembali berjalan menuju kelas, sedikit gemetar di tiap langkah kakinya.

Lagipula, sekolah Kakak jauh dari sini.

~***~

“Oh, selamat datang, Dek!”

Terkejut, sang Adik hanya dapat menatap dengan mata terbelalak melihat kejadian di depan matanya. Perasaan buruk yang menyelimuti ketika menyadari bahwa pintu rumah tidak terkunci seketika lenyap, dan tergantikan dengan kenyataan yang seperti tidak nyata.

“Haha, rasanya Kakak tidak pernah pulang duluan sebelum Adek, jadi rada canggung ngucapin selamat datang.”

Masih tercengang, sang Adik kebingungan apa yang harus dicerna dari pemandangan yang ia lihat. Entah itu sang Kakak yang pulang lebih cepat darinya, gerakan tangannya yang mencurigakan karena bergegas menyembunyikan sesuatu, atau senyum palsu yang tidak dapat disanggah lagi merupakan kebohongan.

Kakak ngapain? —sang Adik tahu lebih baik tidak untuk mengusung pertanyaan itu.

“Tumben pulang cepet.”

“Ya…hari ini mau pakai jatah libur.”

Tapi kerja sambilan tidak memberikan jatah libur. Lagipula kakak pasti akan selalu memilih upah tambahan jika diizinkan.

Ia yakin semua ucapan kakaknya saat ini adalah kebohongan—namun pasti beralasan. Sang Adik berpikir selagi masih terdiam, berusaha mencari cara untuk meringankan suasana yang sedikit tegang di dalam ruangan ini.

Kalau begitu, ayo kita makan keluar saja. Mumpung masih sempat.

“Kala-”

“Adek, Kakak boleh minta tolong sesuatu ga?”

Sang Adik terpotong, kehabisan kata. Untuk kesekian kalinya, ia terkaget atas kejanggalan yang beruntun dalam waktu singkat. Kali ini, kakaknya memohon bantuan darinya, sesuatu yang ia selalu harap kakaknya akan ucapkan dari dulu. Walaupun sang Adik tahu sepenuhnya permohonan ini tidak mungkin terjadi tanpa alasan—tapi di samping itu, sang Adik lebih gembira atas berita tersebut. 

“Ya!”

Tanpa berpikir panjang, mulut sang Adik tersenyum lebar, kepalanya mengangguk dengan antusias. Seakan-akan semua kejanggalan tadi tidak penting dan terlepas dari pikirannya.

~***~

Sore itu, langit cerah terbakar oleh jingga matahari terbenam. Sang Adik berjalan dengan langkah lebar dan senyum lebar. Bagaikan tugas rumah pertama seumur hidupnya, ia menjalani permohonan kakaknya dengan tekun dan berhati-hati. Dengan secarik kertas di genggamannya, ia diminta untuk pergi belanja kebutuhan hidup untuk besok—sesuatu yang selalu dilakukan oleh kakaknya.

 Langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar sirene dari penyeberangan rel kereta berbunyi. Palang rel kereta turun, menghentikan seluruh elemen yang akan menyeberang jalan ini. Hembusan angin sore lenyap, memberikan impresi seakan waktu terhenti. Sang adik berdiri tepat di balik palang kereta, namun bising sirenenya terdengar seperti semakin menjauh di tiap siklus. Seakan mendorong dirinya keluar dari euforia secara paksa, suatu firasat menyadarkan sang Adik.

Entah kenapa, ia merasakan firasat buruk dari keganjilan yang dialaminya saat itu. Tangannya secara perlahan mengangkat, secarik kertas muncul ke dalam pandangan.  Sang adik mencoba untuk membaca apa yang tertulis dalam daftar belanjaan yang diserahkan oleh kakaknya. Ia berusaha sekeras mungkin untuk membaca tulisan kakaknya, namun tidak ada yang mampu diterima oleh ingatannya. Hurufnya jelas, tulisannya rapih, namun seuatu perasaan buruk menghalangi sang Adik untuk memahami makna tiap kata

Telur.

Susu.

Tali.

Tambang.

Kertas.

Setiap barang dilafalkan sekeras mungkin dalam pikirannya. Bagaimanapun caranya, ia harus kembali ke kenyataan sesegera mungkin. Seakan didesak oleh waktu, keringat dingin terasa di belakang lehernya. Kemudian—

Klakson kereta membangunkannya. Pandangannya sekejap berubah dengan cepatnya gerbong melaju. Matanya tak dapat mengikuti laju                                                                                                                                                                                                                                                 perubahan yang sangat cepat.

Aku harus pergi…

Langit kala itu jingga dan sedikit lebih redup dari biasanya. Sang Adik melangkah, menyeberangi rel kereta setelah sirene terhenti dan palang terangkat. Raut wajah serta langkahnya lebih tenang ketimbang sebelum ia menyeberang.

~***~

Sang adik pulang membawa belanjaan. Selama perjalanan, ia merasa janggal dan teringat akan kejadian saat hendak menyeberangi rel kereta. Keganjilan tersebut terasa sangat nyata, namun di waktu bersamaan tida, seakan ada yang memenuhi pikiran dan hatinya saat itu. Alasan dirinya berusaha untuk membaca daftar belanjaan adalah perintah intuisi yang mengikat dia ke kenyataan di dunia. Sang adik khawatir ia akan tereret ke dunia asing diluar nalar yang dapat ia pahami—untungnya saja, tidak terjadi.

“Kakak, adek pulang.”

Cklik. Pintu tertutup, suasana hening. Siulan teko air rebusan bergaung memenuhi gendang telinga.

Kakak gak matiin air matang, jarang-jarang.

Secara refleks, sang Adik langsung menuju dapur untuk mematikan kompor yang masih menyala. Perlahan siulan teko mengecil dan heningnya kembali.

“Hm?”

Sang Adik menyadari keberadaan dapur sedikit lebih bersih dari biasanya. Di samping kompor terdapat sepiring nasi dan telor dadar, di sampingnya cangkir kosong dengan sebuah teh celup kering.

Pikiran sang Adik mulai meronta ke segala arah. Segala macam skenario muncul dalam kepalanya yang bahkan ia tidak berani pikirkan dengan sengaja. Satu kata terhentikan di ujung lidahnya, sebuah bukti tak terbantahkan yang dapat berarti akhir dari kecemasan dirinya ataupun akhir dari dunia.

“Kakak?”

Hatinya berdegup kencang, keringat dingin mengucur seketika. Kakinya melangkah keluar dapur, satu langkah terasa sangat lamban dan berat. Ia berusaha keras untuk tidak bergerak namun sesuatu tetap mendorong dirinya untuk melangkah. Ruang utama kosong, barang-barang sedikit terserakan dan terdapat kantung kresek berisi belanjaan. Ia mempunyai firasat bahwa isinya tidak berbeda dengan apa yang dipegangnya saat itu. Mengabaikan firasat tersebut, sang Adik melanjutkan langkah beratnya. 

Tidak sampai lima langkah, ia sampai ke depan kamar kakaknya. 

Meskipun nafasnya tidak terkontrol, sang Adik mengetuk pintu kamar kakaknya seperti biasanya. Tidak ada respon.

“Adek masuk, ya?”

Tangannya yang gemetar berusaha untuk memegang gagang pintu tersebut namun kesulitan. Gagang besi tersebut terasa sangat dingin dan licin, entah hanya bayangan dirinya atau karena keringat sang Adik yang daritadi mengucur.

Cklik. Pintu dibuka dengan sangat perlahan, seakan tidak ingin membangunkan siapapun yang sedang ada di dalam kamar. Kamarnya sedikit redup, hanya cahaya matahari sore dari jendela menyinari langsung ke dalam. Cercah sinar tersebut terhalangi oleh sesuatu, membentuk bayangan yang memanjang dan sedikit pudar di lantai. Gerakannya tidak alami, seolah-olah ada benda mati yang tergantung, menghalangi cahaya yang menembus jendela..

Seluruh bagian tubuh sang Adik gemetar. Bulu kuduk berdiri di tiap tubuh. Ujung jari tangan dan kakinya kedinginan hingga mati rasa. Tak terkontrol, pikirannya sudah penuh dengan skenario berisi keniscayaan, sementara perutnya mual bagai memaksa keluar apapun yang ada di dalamnya. Ketika sudah terasa di mulut, tangan sang Adik refleks menutup mulutnya. Matanya terbelalak, namun kepalanya masih tertunduk.

Aku harus kuat.

Ia tidak ingat siapa yang menanamkan kalimat tersebut dalam dirinya. Mungkin itu merupakan respon natural dari alam bawah sadar dirinya sendiri. Orang tuanya sudah tiada, dan kakaknya tidak pernah menyuruh dirinya untuk menjadi kuat. Lantas siapa yang mendorong selain dirinya sendiri?

Apapun hal tersebut, sang Adik memutuskan untuk menengok ke atas ruang utama. Terpampang di depan matanya adalah sesosok kakak yang ia pernah kagumi, tak bernyawa. Kulitnya pucat dan kehilangan pendar jiwa raga orang yang masih berada di dunia ini. Raut wajahnya memiliki tatapan kosong tanpa senyum, seakan-akan tidak rela hidupnya berakhir saat itu juga.

Frustrasi. Putus asa. Tak berdaya.

Sang Adik tak bisa melepas pandangannya dari apa yang dia lihat. Matanya berkaca-kaca dan merah, entah karena menahan isak tangis akibat badai emosi atau karena tidak berkedip semenjak dari firasat buruknya di dapur. Yang jelas, ia menolak untuk melepas figur sang Kakak dari pandangannya, berusaha untuk membakar seluruh detail yang terlihat ke dalam memori. Namun semakin lama ia melihat, semakin kacau isi pikiran dan hatinya. Rasa mual yang tak tertahan mengakibatkan sang Adik memuntahkan kekosongan, kata-kata yang dirangkai di mulutnya tidak bisa terucap, kaki yang gemetar tak lagi kuat untuk mengambil satu langkah pun. Teringat ia akan renungannya di pagi hari.

Semuanya pasti akan berakhir suatu saat, dan suatu saat itu adalah hari ini.

~***~

Hening, tapi mencekam. Suatu kesepian yang ditemani oleh rintik hujan yang tidak ramah. Keesokan harinya, pemakaman sang Kakak hanya dikabungi oleh satu orang. Kali ini tak ada sosok yang memegangi payung untuknya, ia hanya menerima dingin tetes hujan di sore hari yang gelap itu tanpa perlawanan. Lagi-lagi, pikirannya berputar ke segala macam arah, tatapannya kosong tidak terpaku pada dunia ini.

Kini aku sepenuhnya sendiri.

Perasaan sakit seperti mencengkeram hatinya, tiap tarikan nafas terasa berat dan melelahkan. Entah karena yang berada di balik liang lahat tersebut adalah sang Kakak, atau karena sang Adik sudah lebih dewasa kali ini. Meskipun diselimuti rasa sedih, tetap air mata sang Adik tidak mengalir, hanya sebatas merefleksikan matanya menjadi berkaca-kaca. Lebih dari itu, ia merasa kebingungan.

Tentang kemarin.

Tentang hari ini.

Tentang masa depan.

Apa yang…harus kulakukan.

Memejamkan matanya, ia mencoba untuk mengubur seluruh gundahnya saat itu. Jika kakaknya masih ada di sampingnya…tidak, bahkan dirinya saat ini tidak lagi yakin apa yang kakaknya akan ucapkan di saat seperti ini. Ia tidak lagi yakin apa yang takdir akan bawa ke dalam hidupnya lagi. Namun, jika ada satu hal yang ia yakini, sang Adik dengan percaya diri akan menjawab.

Aku harus kuat.

Sang Adik memalingkan dirinya. Ia menarik nafas dalam,, mengembalikan kehangatan ke tubuh dan rasionalitas ke kepalanya. Tatapannya tajam, terfokus pada kenyataan. Ia melangkah pergi, menuju masa depan. Sekilas, ia melihat sesosok figur yang juga berpaling di pohon dekat makam kakaknya, namun ia tidak menghiraukan siapapun sosok itu. Derasnya hujan dan gelapnya langit tidak membantu penglihatannya pula.

~***~

Semenjak kematian kakaknya, sang Adik tinggal di kediaman kerabat jauhnya di luar kota. Sejujurnya, ia merasa asing dan tidak diterima dalam keluarganya, baik dirinya maupun keluarga mereka merasakan bahwa kehadirannya hanya membebani hidup. Rasa tidak nyaman tersebut terakumulasi dan pada hari kesepuluh, ia memutuskan untuk kabur dari kediaman tersebut. Sang Adik hanya meninggalkan secarik kertas dan sejumlah uang yang tadinya ia pinjam dari kerabat jauhnya.

Uang bukan menjadi masalah baginya saat ini. Sisa tabungan kakak, warisan orang tua, jika ia menginginkannya, pergi ke luar negeri adalah pilihan. Namun, ia tahu itu hanya akan mempercepat kemunculan masalah di masa depan. Sang Adik hanya berjalan tanpa tujuan menjelang Maghrib. Meskipun tak bertujuan, langkahnya secara tidak sadar membawanya ke arah stasiun, perantara yang menghubungkan kota ini dengan kota asalnya.

Sang Adik tidak tahu sejak kapan ia menganggap kota yang ia tempati bersama kakaknya sebagai kota asalnya. Orangtuanya berasal dari luar pulau, dan tidak pernah bercerita banyak tentang asal muasal mereka—bahkan menginjak tanah asal orangtua saja ia tidak pernah.

Aku…tidak siap kembali ke rumah.

Memutuskan bahwa kembali merupakan ide yang buruk, sang Adik menyeberang rel dan menunggu di peron yang tujuan keretanya menjauh dari kota asalnya. Bepergian dengan kereta memudahkannya untuk kembali jika ia sudah siap, lagipula sang Adik juga memiliki suatu ketertarikan terhadap kereta. Semenjak kejadian di penyeberangan rel di hari itu, ia merasakan hubungan yang tidak dapat dijelaskan setiap kali ia berangkat dan pulang sekolah menaiki kereta.

Aku sudah memutuskan untuk pergi…tapi tidak siap untuk kembali juga.

Selagi sang Adik memikirkan hal tersebut, jam menunjukkan pukul 19.00 dan kereta melintas di hadapannya, perlahan berhenti. Pintunya terbuka, semilir angin AC dari dalam gerbong sedikit mengangkat rambutnya. Satu langkah, ia mendekati pintu tersebut. Langkah kedua, lebih dekat. Langkah ketiga membawa dia menembus celah peron ke dalam gerbong. Ketika ia melintasi pintu kereta, sesuatu mencegat langkahnya. Perasaan tidak asing, suatu firasat yang membawanya ke masa lalu. Ia menengok ke samping, namun hanya ada penumpang lain yang sibuk dengan perhatiannya masing-masing.

Dejavu? Tidak…perasaan ini sama seperti tiap kali Kakak datang menjemputku ke sekolah.

Meskipun perasaan ini mengingatkannya terhadap sang Kakak, ia hanya dapat merengus. Seakan-akan dirinya paham ini hanya trik yang dimainkan oleh hatinya yang kosong dan pikirannya yang tidak bisa diam. Ketika menengok ke belakang, ia disambut oleh pintu kereta yang menutup. Firasat tersebut hilang, dan ia kembali sadar bahwa kereta mulai bergerak. Entah membawa dirinya ke mana.

~***~

Lima tahun berlalu.

Sang Adik masih hidup seorang diri, menempati tempat yang tadinya ditinggali bersama kakaknya. Pemilik bangunan tersebut sempat khawatir dan mempertanyakan niatnya untuk pindah kembali ke tempat tersebut, namun sang Adik hanya menggelengkan kepala dan tersenyum ikhlas. Walaupun benar, minggu pertamanya penuh dengan rasa tidak nyaman dan malam yang tidak nyenyak—ia pun cukup terkejut betapa mudah dirinya terbiasa dengan kehidupan sendiri di rumah lamanya.

Hari-hari berlanjut, dan yang tersisa hanya kenangan indah. Sedikit demi sedikit, bukti hidup kakaknya terkikis dan tergantikan oleh barang-barang miliknya. Setelah lima tahun, kini ruangan tersebut lebih mencerminkan tempat tinggal perempuan seorang diri. Meskipun begitu, sang Adik tidak pernah sekalipun melangkah ke dalam kamar tempat kakaknya gantung diri. Sejauh ini, ia hanya berani sampai memegang gagang pintunya. Dinginnya masih sama seperti lima tahun lalu, begitu pula gemetar dari telapak tangannya.

Kak, aku berangkat.

Sang Adik bukanlah seseorang yang begitu percaya terhadap kejadian supernatural, tetapi dalam dirinya masih tersimpan keyakinan bahwa fragmen dari kehidupan kakaknya  masih tersisa di dalam ruangan itu—terjebak oleh waktu. Ia mengetuk, menyapa, dan terus memanggil kakaknya tanpa balasan. Kini yang ia lakukan hanya sebatas gumam dalam hati, namun ia tidak ingin melepaskan diri dari kebiasaan tersebut. Ia khawatir jika ia memberanikan diri untuk membuka kamar tersebut, maka ia dengan segera akan merelakan kehilangan eksistensi dari sosok yang tadinya ia kagumi.

Hari ini adalah yang terakhir kalinya, semoga.

Sang Adik melangkah keluar rumah.

Klik. Suara pintu menutup. Pagi hari yang cerah menyambut kehadirannya. Sembari berjalan, sang Adik memikirkan kehidupan dirinya selama lima tahun ke belakang.

Setelah lima tahun, sang Adik menduduki bangku SMA kelas 2. Berbeda dengan kakaknya, ia memasuki SMA negeri yang cukup ternama. Atas dasar kondisi keluarga, ia diberikan perlakuan khusus oleh sekolahnya—salah satunya adalah dibebaskan dari iuran wajib. Semester pertama, kehidupan sekolah sang Adik dipenuhi oleh tatapan kasihan dan dendam, namun kini ia memiliki sahabat yang senantiasa menemaninya. Meskipun ia tidak begitu aktif dalam segi organisasi, dirinya banyak memenangkan lomba, lebih tepatnya lomba menulis. Sebagian besar murid sebayanya banyak mengenal dirinya sebagai “Gadis Penulis Tragis”. Guru sekolahnya menganggapnya sebagai murid teladan yang ditimpa oleh takdir yang lebih kejam.

Mungkin ini kehidupan yang kakak akan jalani jika saja aku tidak ada.

Gumam sang Adik, dengan muka tersenyum.

Ironis, mungkin saja hidup ini dapat kujalani karena kehilangan kakak.

Mengandaikan skenario kini menjadi kebiasaan bagi dirinya. Terkadang, skenario-skenario tersebut menjadi inspirasi baginya untuk menulis karya baru. Seiring waktu berjalan, ia semakin terbiasa menyunting pengalaman dalam hidupnya menjadi sebuah tulisan yang dapat menyentuh hati orang. Di satu sisi, dirinya merasa bersalah tiap kali memori buruknya dijadikan sebuah karya fiksi yang menghasilkan uang, namun sisi lainnya bersyukur ia pernah mengalami hal tersebut. Dua tahun yang lalu, hati nuraninya harus menghadapi konflik tersebut, namun kini ia menganggap bahwa hal tersebut merupakan dua sisi dari kepingan yang sama.

Menjadi manusia, adalah untuk menyukuri sekaligus menyesali hidup.

Tap. Tap. Langkah kakinya lebih ringan dan rileks dibandingkan lima tahun lalu. Kali ini bertujuan, dan tatapannya terpaku pada kenyataan sembari memandang ke depan. Hari ini adalah hari Selasa, hari yang sama seperti kejadian itu.

Sesampainya di makam sang Kakak, ia terdiam sejenak. Kunjungannya sudah menjadi rutinitas tahunan, dan hari ini adalah kunjungannya yang kelima. 

Kunjungan pertama, ia masih murung dan kebingungan dengan hidup.

Kunjungan kedua, tekad muncul dalam tatapan mata dan kepalan tangannya.

Kunjungan ketiga, ia meninggalkan carikan kertas berisi coretan selama episode depresinya.

Kunjungan keempat, ia meletakkan novel yang berhasil dipublikasi atas namanya.

Kunjungan kelima, ia membawa novel kedua, senyuman, dan sebuah surat yang ditulis tangan.

Kakak. Kini kita seumuran. Aku tidak tahu apakah aku sudah bisa disebut dewasa atau tidak. Dibandingkan jerih payah yang harus kau lakukan selama setahun itu, aku rasa lima tahun ini jauh lebih ringan. Seakan-akan kau membawa seluruh kesengsaraan dalam hidupku bersamamu.

Tahun ini menandai diterbitkannya novel keduaku, “Dibalik Kereta yang Melintas”. Premisnya simpel. Suatu saat terpikirkan olehku jika yang meninggalkan dunia saat itu adalah diriku, dan Kakak yang harus bertahan hidup sendiri. Dalam cerita tersebut, Kakak adalah sosok yang pandai melakukan segalanya. Pintar, atletis, berani, dan tangguh. Seluruh orang mencintaimu, dan meskipun kehilangan orangtua, kita tidak pernah sendiri. Andai…andai saja saat itu aku menyadari gelap kelam yang menghantui hatimu. Mungkin aku dapat membantu lebih banyak dan meringankan beban yang kau putuskan untuk pikul sendiri.

Kalau tentang kereta…kurasa itu karena aku sekarang menjadi seorang penggemar kereta, hehe. Entah kenapa tiap kali kereta melintas, aku teringat akan dirimu, dan kuharap—walaupun hanya sebuah harapan kosong—suatu saat aku dapat melihatmu kembali setelah kereta melintas.

Terkait kelanjutan ceritanya, jujur saja, aku terbawa suasana. Aku mencoba untuk menjamah gaya tulis yang berbeda. Kalau ending-nya, hehe, tidak akan kuberi tahu. Aku masih ingin berbicara denganmu, dan itu tujuanku membawa satu salin dari novel ini. Tentu sudah kutandatangani. Bukti valid seorang penulis, loh.

Jika kau tidak mampu mendengar suara hati ini, tenang saja. Aku menulis hal yang sama di kertas surat ini. Semalam suntuk aku memikirkan apa yang harus kuucapkan, jadi aku hapal semua isinya.

Kalau begitu, sampai jumpa di lain waktu.

Sang Adik berpaling, mukanya masih tersenyum dengan lembut.

Ini bukan perpisahan, melainkan janij untuk bertemu lagi. Dan ketika kita bertemu lagi, aku akan memandang masa depan sembari tersenyum, seperti dirimu yang selalu kukagumi.

Tanpa ia sadari, langit terbakar dalam lembayung senja. Ia memutuskan untuk berjalan kaki, sama seperti ketika berangkat. Meskipun jaraknya yang jauh, ia tidak merasa lelah sama sekali. Jika dibandingkan dengan frustrasi memikirkan kelanjutan cerita dari novel yang ia tulis, ini bukan seberapa. Seperti biasa, pikirannya masih terbawa kemana-mana, mengandaikan berbagai hal.

Indahnya sore hari ini jika ia berjalan bersama kakaknya.

Waktu yang tepat untuk menikmati sebatang es krim setelah mereka berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Jika mereka beristirahat sejenak di kursi dan berbincang tentang kejadian di sekolah.

Alas, semua hanya andai. Namun sang Adik paham pikiran seperti itu hanya akan menghambat karirnya sebagai penulis. Segenap permohonan maaf ia ucapkan dalam hati, mungkin bertindak sebagai pemaling rasa bersalah atas segala hal yang ia tidak pernah lakukan ketika kakaknya masih hidup.

Langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar sirene dari penyeberangan rel kereta berbunyi. Palang rel kereta turun, menghentikan seluruh elemen yang akan menyeberang jalan ini. Hembusan angin sore lenyap, memberikan impresi seakan waktu terhenti. Sang adik berdiri tepat di balik palang kereta, namun bising sirenenya terdengar seperti semakin menjauh di tiap siklus.

Suatu firasat…menghampiri sang Adik dan mendorongnya keluar dari dunia imajinasi.

Kembali ke realita.

Ia mengangkat pandangannya dan menghadap ke seberang rel kereta. Sesosok pria yang bertampang rapih dan berpakaian serba hitam berdiri rileks. Mukanya pasrah, seakan-akan sudah letih menghadapi takdir yang menyulitkan hidupnya. Jika dilihat sekilas, figur orang tersebut bagaikan orang yang rela melepas kehidupannya di dunia ini. Sesuatu dalam hati sang Adik merasa terpanggil. Bukan firasat buruk seperti lima tahun lalu, lebih tepatnya rindu lima tahun yang terbayarkan.

Tampangnya mirip kakak jika ia sekarang masih hidup.

Langit mendung seketika, rintik hujan turun perlahan. Sang Adik tidak menghiraukan bajunya yang mulai basah, melainkan pandangannya terfokus pada orang yang ada di hadapannya. Sirene masih berbunyi kencang, disertai gemuruh hujan yang semakin deras. Namun seluruh suara tersebut terasa sangat jauh, seakan terpendam karena seluruh indera sang Adik dikerahkan untuk memandang orang di hadapannya. 

Tindakan manusia sangatlah mudah dipengaruhi firasat. Contohnya firasat ketika Anda sedang diperhatikan seseorang dengan seksama. Mungkin itulah yang mendorong orang di hadapan sang Adik untuk melihat dirinya.

…Tidak, bukan mirip.

Dan ketika keduanya saling bertukar pandang–

“Kakak?”

Di saat yang bersamaan, klakson kereta berbunyi. Pandangan sang Adik dipenuhi oleh gerbong kereta yang melintas dengan cepat. Ia merasa suaranya tidak berhasil mencapai orang tersebut dan ingin memanggilnya sekali lagi. Namun, entah kenapa, kalimat berikutnya tertahan di tenggorokan, seakan-akan mencoba untuk mencegah suatu hal buruk terjadi.

Secara refleks dirinya melangkah, tangannya terkepal dan mulutnya menganga. Matanya berkaca-kaca meskipun semalam ia berjanji tidak akan menangis hari ini.

Tuhan, jika itu memang kakak. Kumohon. Hanya untuk kali ini saja. Setelah kereta ini melintas, berikan aku satu kesempatan lagi!

Sang Adik memejamkan mata. Matinya indera penglihatan menajamkan pendengarannya. Gemuruh hujan, bising sirene, deram gerbong kereta yang melintas menciptakan simfoni kekacauan—kakofoni. Degup hatinya sangat kencang. Nafasnya terengah-engah.

Dan dalam sekejap, semua suara tersebut hilang.

Ia memberanikan diri untuk membuka matanya yang terpejam. Langit senja yang terbakar oleh jinggamatahari terbenam. Angin sore berhembus, menyebabkan rambut pendek dan rok yang masih kering menari mengikuti alunannya. Secara refleks, ia mengangkat tangannya untuk menyingsingkan rambut yang menghalangi mukanya. Gerakannya terhenti ketika ia menyadari tangannya menggenggam secarik kertas. Kertas tersebut sedikit kusut dan penuh coretan yang tidak asing.

Telur.

Susu.

Tali.

Tambang.

Kertas.

…Kata-kata tersebut seakan-akan menjadi sebuah ritual yang mempertahankan dirinya di dunia ini. Sebuah panggilan untuk menerima kenyataan. Seketika, semua hal yang terjadi menjadi masuk akal bagi sang Adik. Seperti potongan terakhir dari puzzle yang akhirnya terselesaikan.

 Sang Adik melangkah—berlari, menjauhi rel kereta dan kembali ke arah rumah. Raut wajahnya merupakan gabungan dari cemas, rindu, lega, dan muram. Langkahnya tidak pernah lebih cepat seumur hidupnya.

Aku harus pergi.

SELESAI


Penulis: AJIBEH