Pierce

Entri Writchal #2

Tema: Kolonial


“Tidak bisa Nona, sahaya tidak mungkin pergi bersama nona. Terkutuklah sahaya jika pergi meninggalkan Bendoro. Bagaimana dengan pernikahan nona dengan tuan? Maafkan bila sahaya lancang namun, Bendoro (majikan) akan sedih bilamana Nona meninggalkannya,”

Mbok Asih menarik lengan Sang Gadis memohon untuk tidak memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sang Gadis berhenti, menepis tangannya lalu menatap tajam Mbok Asih.

“Aku tak ingin kehidupanku hanyalah menjadi istri seorang pembesar Mbok, duduk manis selalu sedia melayani dan mengabdi lalu melahirkan anak, beruntung bilamana ia masih tetap mencintaiku, namun bila tidak?”

“Nona dari keluarga terpandang, tidak ada satupun lelaki yang berani berbuat seperti itu.”

Sang Gadis mulai menampakkan kesedihan dimukanya.

“Bukan, bukan itu maksudku Mbok,” Sang Gadis menghela nafas panjang.

“Kita pergi, pergi jauh meninggalkan bangunan tua ini, perkebunan yang selalu indah untuk ini, angin tenang tanpa marabahaya. Kita pergi jauh, ke padang yang luas, ombak yang terus bergerak dengan ganasnya tanpa kenal lelah, jauh ke tempat di mana tidak ada siapa pun mengenali kita Mbok. Memulai kehidupan baru, identitas baru. Kita mulai hal itu Mbok.”

“Apakah Mbok mau terus-terusan hidup seperti ini? Hidup diperintah dan disuruh-suruh oleh orang lain? Selalu bersembah sujud memohon ampun bahkan untuk perbuatan yang bahkan bukan Mbok lakukan? Seberapa banyak hutang keluarga Mbok sama bapak? Biar aku belikan!”

Mbok terdiam mendengarkan perkataan itu, menundukkan muka dan mulai menitikan air mata. Sang Gadis baru saja menyadari bahwa perkataannya menyakiti hati Mbok, Mbok Asih yang selalu menemaninya, membantunya di segala kesulitan dengan segala keterbatasannya namun ia tdak pernah menyerah, membuatkan makanan favoritnya di saat ia murung dimarahi oleh Bapak. Pembantu dan teman setia ini, ia remukkan hatinya yang lembut.

“Mbok, aku minta maaf, maafkanlah perkataanku yang hina tadi. Tolong kau kutuk sajalah aku, pukul aku apapun itu tapi kumohon jangan kau jauhi aku. Aku minta maaf Mbok.” Sang Gadis memeluk Mbok Asih, ia pun mulai menangis dan menyesal dengan perkataannya.

“Tidak, akupun tetap tidak ada keberanian untuk mengutukmu apalagi untuk memukulmu.”

“Kumohon Mbok, janganlah kau tinggalkan aku. Mari kita pergi bersama-sama, aku tidak bisa tanpamu. Aku sayang Mbok,” Isak Sang Gadis.

Mereka berdua berpelukan dan dalam tangisan bersama.

“Aku tunggu Mbok di dermaga jam 11 malam, kita pergi bersama-sama ya,” Sang Gadis menghapus air mata Mbok Asih. Mbok Asih mengangut-ngangut lemah.

“Terima kasih, Mbok.” Sang Gadis kembali memeluknya.

Ombak tenang menyentuh badan-badan kapal, angin lembut berhembus, beberapa orang lalu lalang mengangkut barang. Sang Gadis sudah berada di dermaga 1 jam sebelum keberangkatan. Sang Gadis menunggu dengan sabar sambil menahan dinginnya angin malam.

“Mbok pasti akan datang, aku percaya itu!”

Katanya berusaha menyemangati diri.

Kapal yang ditujunya pun mulai berlabuh, berdiri tegak dan beberapa penumpang turun dari kapal tersebut. Waktu kian berlalu, dilihatinya terus jam tangan, lima belas menit lagi akan keberangkatan si kapal namun Mbok tidak menunjukkan kehadirannya.

“Mbok pasti datang,” ucapnya lagi berusaha menyemangati diri. 

Sang Gadis mulai tidak sabar, ia jalan kecil berputar-putar di tempat yang sama. Tiga menit lagi sebelum keberangkatan. 

“Mbok, kamu dimana?” Isak Sang Gadis.

Ditaikkannya jangkar oleh seorang awak kapal, mesin dinyalakan dan membuat suara bising. Kapal pun berangkat pergi menjauhi pelabuhan. Jauh di sana, dengan bangunan belanda tua khasnya, Mbok Asih menangis dalam kamarnya.

“Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji ini.”


Penulis: redlilypaper