Membangun Kembali Peradaban : You Can(not) Advance

Entry Writchal 1
Tema: Alternate history, Kaderisasi, Soviet Union


Revolusi Oktober mengmbil alih Respublik Petuhk secara menyeluruh dan ini semua ialah salah buruh. Bagai badai pasir yang menerjang semenanjung Suez, buruh-buruh ini merampas segala harta benda yang tersisa di jalanan maupun di istana. Semuanya ludes ataupun hancur. Sebagai orang yang bukan lagi anggota partai buruh, ini merupakan kondisi yang dilematis bagiku.

“Hancoerkan segala matjam hal milik kapitalis rakoes”

“Jayalah internasionalisme”

Selama lima hari berturut-turut bahkan lebih bunyi internasionalisme dan sirene tidak berhenti digengungkan oleh kaum buruh. Kiranya banyak sekali orang yang tak tahan akan hal ini dan memutuskan untuk keluar rumah. Mereka pun mati.

“Memaki kaum kiri sama halnya dengan mati. Kalian akan mati sebagaimana pula dengan bigot kapitalisme”, mungkin seperti itu kata-kata dari mereka.

Sudah 7 hari diriku terkurung di bilik sempit, atap pendek, dipinggir selokan berbau anyir di bangsal milik PKI. Mungkin sejenak kita bisa memikirkan bahwa tempat ini lebih cocok menjadi kuburan daripada tempat tahanan politik, dan memang benar. Beberapa dari mereka mati bersimbah darah ataupun terpanggang di tempat ini.

“tok-tok…. Tok-tok…”

Suara ketukan pintu yang tidak membawa aura baik sama sekali terdengar dari triplek berukuran 1×2 meter di timur. Setiap ketukan yang terdengar bagaikan lonceng kematian yang berdengung terus menerus.

Tanpa pilihan lain Aku membukakan pintu tersebut.

“Iya ada ap-”

*Brag…..*Bug…..*Bug….

Cepat sekali, Aku tidak bisa melihat apapun selain tiga orang buruh yang memukulku dengan batang musket menuju uluh hati ku. Pukulan itu membuat seluruh tubuhku mati kecuali otak yang menjaga kesadaran ini.

Diriku yang tak berdaya dibopong, dimasukkan kedalam kantung plastik mayat yang kiranya akan dibuang. Mereka kemudian menutupnya tanpa tahu apa yang terjadi didalamnya. Kesakitan yang luar biasa ini membuatku tidak sadarkan diri.

“Selanjutnya 636”

Bunyi TOA membangunkanku dari ketidaksadaran. Diriku sudah dipindahkan ke Barak Konsentrasi. Aku tidak menduga hal ini bisa terjadi, seorang petinggi yang kini jatuh dan mati di tempat ini, lucu bukan?

“Hey-hey Sutejo”

Seorang wanita memanggil sambil menarik bajuku dari belakang.

“Iya ada apa?”

Aku menoleh kebelakang dan memandanginya. Aku ingat dia, aku tau siapa dia. Akari adik Ayumu nomor dua. Sekilas jikalau dilihat Ayumu dan Akari bagai kembar siam yang berhasil dipisahkan.

Berlainan dengan kakaknya, Aura genki-girl terpancar dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Perawakannya memang mirip seperti Ayumu, tapi sungguh jika kau mendengar kata yang pertama kali terucap dari mulutnya kau sudah yakin kedua orang ini berbeda.

Diriku sendiri tidak cukup berinteraksi banyak dengannya. Selain berbeda keyakinan pada saat dulu, Ia juga menjalin banyak koneksi dengan dunia barat, dikarenakan almamaternya, MIT. Oh iya? Kalian pernah mendengar perang sipil Amerika, ya benar dia ikut.

“Kenapa kau ada disini? Mana kakak?”

“Ayumu  tidak ada disini, Ibukota sudah kacau, Aku tidak bisa membawanya kesini”

“Masuk akal juga. Sekarang jawab pertanyaan pertamaku”

“Aku pensiun”

Jawabanku membuat rahangnya turun sepanjang 5 cm dan matanya melotot keheranan. Sebagai Tokoh yang berjasa “memerahkan” Jawa tengah, ini merupakan tindakan yang tidak masuk akal.

Namun, tindakan kaum buruh mencerminkan ketidakbenaran, dan mendorongku untuk melakukan hal ini. Ideologi ini tidak akan bertahan untuk waktu yang lama.

“Benarkah? Aku tidak pernah menyangkanya.” Sambil mengembalikkan posisi rahangnya.

“Semuanya bilang begitu, Keputusanku sudah bulat dan seperti kau lihat, berada disini bersama penentang lainnya”

“Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?”

“Entahlah, menunggu kematian mungkin lebih baik”

Jawaban dinginku untuk menghentikan percakapan ini aku nilai cukup. Dia tak akan lagi menanyaiku

“Bagaimana dengan Ayumu dan anakmu? Kau tidak kasihan dengannya?”

Jawaban itu menusuk, Sakit sekali. Aku tidak benar benar ingin mati, Aku hanya ingin menghentikan obrolan dengan hipokrit seperti dirinya.

“Kenapa diam? Fufu aku tahu kau masih mencintainya. Kau mau jalan keluar?”

Sejenak aku terkaget akan hal itu, aku menoleh ke arahnya dan dengan pandangan kegirangan. Dan seketika ATP dalam tubuh ini tersintesis secara semu.

“Benarkah?”

“Benar, tapi dengan satu syarat”

“Jangan membuat syarat yang tidak bisa dilakukan oleh pria tua seperti ini”

“Tenang-tenang mudah saja. Dimana Ayumu?”

Aku tertegun, dan bertanya pada diri mengapa hal itu yang ia tanyakan. Walaupun secara fisik kedua kakak-beradik ini mirip, namun keduanya tidak dapat dipersatukan, ribut masalah ideologi sampai main fisik dan sumpah-sumpahan, menjadi hal yang pasti terjadi dikala mereka bertemu.

“Memangnya kenapa?” Ku jawab dengan tegas

“Apakah tidak boleh seorang adik menanyakan keberadaan kakaknya?”

Aku terdiam, bukankah dengan pertanyaan ini aku bisa bertemu dengan Ayumu secepatnya? Mengapa tidak ku jawab saja? Tidak, Akari tidak berniat sedikitpun untuk membantuku, memeras informasi dariku tujuannya. Keselamatan Ayumu ada di tanganku.

“Aku tidak tahu, dan jikalau tahu aku tidak akan memberi tahu”

Dengan semangat aku  menjawab hal tersebut. Aku pun berlari menuju pintu darurat yang berada di Timur Akari. Menggunakan badanku aku mendorong pintu tersebut sampai terbuka.

*DOR…..*

Peluru berkaliber 9mm menembus kepalaku tepat di pintu darurat. Dengan sisa usaha aku menoleh kebelakang dan melihat TT-33 berasap yang di kokang oleh Akari.

Aku tidak bisa berbuat lagi, Selamat tinggal Ayumu.


Prequel: contact: AyamLodeh #1722 (Discord)

Penulis: AyamLodeh

Leave a Reply

Your email address will not be published.