Telat

Entry Writchal 1
Tema: Alternate history, Kaderisasi, Masjid Salman


Terik matahari di musim panas sangat menyebalkan. Ditambah suara bising instrumen tonggeret memenuhi isi kepalaku. Andai saja aku tinggal di daerah tropis, pasti aku tidak akan bertemu dengan musim menjengkelkan ini. Hmm rasanya jadi ingin makan es serut pak somad. Oke, aku putuskan untuk mampir ke Warung Pak Somad terlebih dahulu.

Fiuh. Akhirnya sampai juga. Aku langsung bergegas masuk.

“Cekring”, suara khas furin menyambut datangnya musim panas.

Saat memasuki warung, hawa sejuk seketika menyelimutiku, rasanya menemukan oasis di  luasnya padang pasir.

“Meser”

“Meser”

“Meser”

Buset dah gak di waro, kemana pergi Pak Somad? Dia pasti sedang ada di dalam, mana ada dia meninggalkan warungnya tanpa mengunci pintu. Aku masuk kedalam warung sambil mengucapkan “meser”. Nah bener kan, Pak Somad sedang rebahan di atas tatami sambil menonton liga inggris.

“Meser”, teriak ku.

“Buset dah, berisik amat, siapa sih, udah malem woi jangan teriak-teriak” Jawab Pak Somad.

“Mbuset, ini masih jam 12 siang pak, makanya jangan kebanyakan nganggur.”

Pak Somad mengambil kacamata, menatap jam dinding lalu jendela dan terakhir ke arah ku.

“Oh pantes si Coki” sambil menghela nafas, “mau ngapain kamu disini?”

“Jelas buat beli es serut dong, masa beli es krim pedelpop rainbou. Dibungkus ya pak.”

Pak Somad terdiam terlebih dahulu lalu berkata“Ah yasudah ayo kedepan”

Pak Somad mengeluarkan es dalam kulkas dan menaruhnya ke mesin es serut. Sambil menyerut es, Pak Somad bertanya “Betewe, gimana kaderisasi di 工業大学? Dah dimarah-marahin belom sama dosen jepang?”

“Biasalah dimarahin mah, udah makanan sehari-hari sama ibu. Jadi udah biasa”

Pak Somad terdiam kembali, lalu bertanya

“Eh, udah kamu, dah makan belom? Bapak punya ayam goreng sisa tadi malam…eh siang maksudnya.”

“Udah makan tadi di Masjid Salman, lagi ada acara bagi-bagi box makan siang.”

“Oalah, yaudah nanti bapak bungkusin buat nanti kalau laper ya”

“Waaa, terimakasih banyak pak, tau aja aku lagi ga ada duid hehe.”

Pak Somad menyiapkan es serut dan membungkus ayam goreng.

“Ini es serut sama ayam gorengnya. Gak usah bayar, bapak traktir.”

“Wadoo maaf merepotkan pak, terimakasih banyak Pak Somad” Kata ku sambil berdiri tegak menghormat menghadap Pak Somad.

“Udah jangan hormat-hormat, Bapak bukan matahari. Pergi sana.”

“Mbuset, kasar amat dah. Dadah Pak Somad”

“Oh ya, kalau ada apa-apa, kesini aja ya.”

“Siap pak”

Pak Somad melambaikan tangannya. Wah emang rejeki anak soleh, baru pulang solat jumat dikasih bingkisan dari Pak Somad. Lucky 100. Baru sepuluh langkah, Pak Somad berteriak.

“COKI JANGAN LUPA MINUM OBATNYA.”

“SIAP PAKK”

Mbuset, tadi marah gara-gara aku teriak, sekarang di teriak juga. Tapi gapapa, yang penting aku dapet makanan gretong. 10 menit berlalu. Aku sampai kerumah.

Aku membuka pintu rumah dan mengucapkan salam.

“Aku pulang.”

“Oh, kamu dah pulang Coki. Itu kamu beli apa?”

“Tadi barusan mampir ke warung Pak Somad dulu. Pak Somad lagi baik, ngasih es serut terus dikasih ayam goreng gratis.”

“Oala. Oke sekarang kamu mandi terus belajar biar Jepang bangga padamu. Dan jangan grinding arknight mulu.”

“Siap bu.”

Aku langsung menuju ke kamar. Diatas meja bungkus obat berserakan. Oh ya aku harus minum obat. Aku pun langsung minum obat dengan es serut.

Kakiku lemas, aku pun terjatuh. Kepalu tiba-tiba pusing. Ada apa ini? Minum obat dengan es serut sebagai minuman bukan ide yang baik. Arghh.

“…”

Ah aku tersadar sesuatu. Aku bergegas ke dapur untuk menemui ibu.

“…”

Ah tidak ada disini,

“Ibu!”

“Bapak!”

“Kakak!”

Tidak ada yang menjawab.

“…”

Aku coba membuka gorden jendela.

Dan benar saja.

Hari sudah malam.

“…”

Sepertinya aku telat minum obat.

Besok aku harus minta maaf ke Pak Somad.

Andai saja aku tidak menghentikan golongan muda mendesak Pak Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan. Mungkin keluarga aku akan lengkap.

“…”


Penulis: haitenzen

Leave a Reply

Your email address will not be published.