My Calling

Entry Writchal #2
Tema: High school drama with some romance


Pletak!

“Kamu! Jangan tidur di  kelas!”

“Aduh!”

Semua pasang mata di kelas sekarang memandanginya. Kebanyakan menyeringai, beberapa saling berbisik. Seseorang menjadi korban lemparan kapur Pak Yan.

Pak Yan mendecak. “Kemarin ujianmu masih mengulang, kan? Sudah tahu begitu, masih saja tidur setiap kali saat pelajaran saya. Kerjakan soal ini sekarang!”

“E-eh, soal seperti itu mana bisa saya, Pak…”

Kelas menjadi semakin berisik oleh suara bisikan. Pak Guru mendesis untuk menenangkan seisi kelas. “Yang lain bagaimana?”

Sekarang seisi kelas jadi benar-benar terdiam. Meskipun semuanya barusan saling berbisik ketika soal tidak bisa dijawab, namun sebenarnya tidak banyak yang bisa menjawab pertanyaan yang sedang ditanyakan Pak Yan di papan tulis. Pak Guru kembali mendecak, menepuk jidat.

“Kalian ini… ini soal latihan untuk ujian kelulusan kalian nanti, lho. Kalau kalian tidak bisa menjawab ini, entah bagaimana nasib kalian nanti.”

“Kami kan baru saja naik kelas tiga, Pak. Ini, sih, sudah soal ujian masuk kuliah! Bagaimana cara kami mengerjakannya?”

“Betul, Pak! Jangan salahkan kami, dong…”

Begitulah, seisi kelas kembali ribut. Kebanyakan protes kepada Pak Yan tentang soal yang diberikan. Memang, itu soal sulit yang belum dipelajari oleh siswa kelas tiga sekarang. Pak Yan jadi agak bingung menenangkan para siswa, lagipula ini sebenarnya hanya keisengannya sendiri untuk mengetes para siswa.

Tiba-tiba terdengar suara kursi didorong. Seisi kelas menoleh ke arah sumber suara. Setelah itu, seisi kelas kembali berbisik.

“Dia lagi, ya…”

“Yah, sepertinya memang hanya dia yang bisa. Siapa lagi?”

Pak Yan menyerahkan kapur. “Kamu itu, ya. Beri kesempatan anak lain untuk menjawab, dong…”

“Tidak, tidak perlu. Mereka tidak akan menjawab soal seperti ini sekarang. Lagipula, sekarang memang belum waktunya.”

Goresan cepat kapur di papan tulis terdengar memnuhi isi ruangan. Semuanya hanya memerhatikan dalam diam. Dalam hitungan detik, papan tulis sudah penuh oleh coret-coretan. Soal matematika yang diberikan oleh Pak Guru berhasil diselesaikan dalam cepat, bahkan dengan tiga cara yang berbeda yang terpampang jelas di papan tulis. Seperti biasa, anak-anak yang lain hanya bisa bertepuk tangan perlahan.

Pak Yan menghela napas, menulis sesuatu dalam jurnalnya. “Huff, baiklah. Zeth, lagi…”

Namanya Zeth. Tak terlalu banyak yang bisa diceritakan darinya. Anak terpintar di sekolah. Tak lebih dari itu, tak kurang. Ia hanya dikenal anak-anak lain dari kepintarannya saja. Di sekolah yang tidak terlalu prestisius ini, bakat dan kepintarannya sebagai seorang siswa sering dinilai tidak cocok dengan lingkungannya. Ia sudah cukup sering ditanyai perihal ini oleh para guru, namun ia tidak pernah memedulikannya. Ia tak berniat terlibat dalam hal-hal yang merepotkan.

Kesehariannya juga cukup sederhana. Semua kegiatannya hanya berkisar di sekolah dan rumahnya. Belajar, makan, tidur. Tak ada yang lain. Tidak punya teman di sekolah? Ia juga tidak terlalu peduli. Hal terpenting adalah, berkuliah dan lekas mempunyai penghasilan yang layak untuk menyokong keuangan keluarganya yang pas-pasan. Bergantung pada orang lain—yang ia anggap sebagai pertemanan—justru menurutnya hanya akan menghambat semua upaya yang sedang ia lakukan untuk mencapai tujuannya yang sekarang.

Aku tidak terlalu ingin berhubungan dengan orang lain selama itu bukan urusanku.

Sore hari itu, Zeth sedang melakukan tugas piketnya. Sekolah sudah sepi saat ia menyelesaikan tugas piketnya. Cahaya lembayung menerabas masuk dari jendela-jendela kelas. Zeth bersiap untuk merangkul tasnya dan hendak pulang.

Zeth berjalan menyusuri lorong-lorong yang lengang. Menuruni tangga sebanyak dua kali. Sebelum menuruni tangga, ia hendak kencing sejenak. Namun, sebelum masuk toilet, ia mendengar suara sayup-sayup dari balik dinding. Dinding sebelah adalah toilet perempuan, namun ia seperti mendengar suara berat seorang laki-laki barusan. Ia awalnya sedikit penasaran, namun ia masih mengurungkan niatnya untuk mencari tahu lebih lanjut.

Setelah kencing pun, Zeth masih mendengar suara laki-laki dari balik dinding. Akhirnya, Zeth sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Aku hanya ingin melihat sebentar. Sungguh, kata Zeth dalam hati.

Zeth mulai memelankan langkahnya. Semakin ia melangkah mendekat, semakin jelas suara yang terdengar. ia mencoba untuk sedikit menoleh ke dalam kamar mandi perempuan itu.

Belum satu detik ia melihat, ia sudah dibuat terkejut dengan apa yang sedang ia lihat sekarang. Ia refleks untuk menempelkan punggungnya ke dinding terdekat untuk bersembunyi.

“Hei, ini belum semuanya, tahu. Jilat semuanya, dong!”

“Ya ampun, kawan. Aku tahu kau menghukumnya, tapi aku tetap tidak suka ini. Fetish-mu ini benar-benar membuatku jijik. Berikan hukuman yang lain, dong!”

“Lalu, apa maumu? Dia tidak membayar pajaknya hari ini. Terserah aku mau lakukan apa, kan?”

Zeth menelan ludahnya. Ia mencoba menoleh ke dalam sekali lagi. Mencoba untuk melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi.

Tiga anak laki-laki dengan penampilannya yang berantakan sedang mengerumuni seseorang yang sedang terduduk di lantai toilet. Zeth langsung mengenali tiga orang itu—mereka termasuk ke dalam geng berandal sekolah yang terkenal. Sedangkan seseorang yang sedang mereka rundung sekarang—Zeth menjorokkan kepalanya lebih dalam agar dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Ternyata seorang perempuan, Zeth tidak mengenali wajahnya. Dari dasi yang dikenakannya, sepertinya dia satu angkatan dengannya tetapi beda kelas. Ia tidak pernah melihat wajahnya. Perundungan dan meminta uang saku oleh anak-anak berandal seperti itu memang sudah biasa dalam sekolah kecil seperti ini. Namun, bukan itu semua yang menyebabkan Zeth terkejut.

Seragam gadis itu penuh dengan noda kusam dan kumal. Awalnya Zeth hanya menganggapnya sebuah candaan, namun gadis itu benar-benar sedang melakukannya sekarang. Ia benar-benar menjilati sepatu dari seorang berandal yang badannya paling besar di sana. Dilihat dari wajahnya, ia tampak pasrah dan tidak menunjukkan tanda-tanda hendak melakukan perlawanan.

“Hah? Siapa di sana?”

Zeth refleks memalingkan kepalanya. Seseorang dari tiga berandal itu sempat menoleh ke arahnya untuk sekilas. Ia langsung bergegas melangkah menjauh, juga berusaha untuk melangkah cepat tanpa menghasilkan banyak suara. Ia memutuskan untuk mengambil jalan memutar agar tidak dikejar oleh berandal tadi. Ia memegang lengan tasnya erat-erat.

Tenangkan dirimu. Perundungan itu sudah biasa. Sudah biasa…

Zeth terus melangkah sambil meyakinkan dirinya dalam hati. Sebenarnya, ia hendak mengabaikan semua yang ia lihat barusan. Namun, bagian hatinya yang lain tetap saja terus kepikiran. Ya, perundungan memang sudah biasa di sekolah ini. Akan tetapi, perundungan biasanya hanya berupa pemalakan uang saku ataupun perundungan fisik yang tidak terlalu berat. Baru kali ini ia melihat sesuatu yang seperti ini.

Apa yang barusan terjadi? Anak itu tidak melawan? Dia menjilat sepatu orang lain, lho! Di dalam toilet pula. Entah apa yang akan terjadi nantinya bila seperti itu…

Zeth terus berjalan menuruni tangga dengan semua perasaan tidak enak ini. Ia biasanya dengan mudah mengabaikan semua perundungan yang terjadi di sekitarnya, namun kali ini berbeda. Setelah pulang sekolah pun, ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di toilet perempuan tadi. Konsentrasinya saat belajar menjadi terganggu, pun dengan waktu tidurnya.

Keesokan harinya, ia menawarkan dirinya sendiri untuk membantu piket sore kelas. Para siswa yang melakukan jadwal piket hari itu cukup terkejut—karena memang Zeth pada dasarnya jarang berinisiatif sendiri terhadap sesuatu selain dalam hal pelajaran. Namun mereka tetap mengiyakan, katanya tidak masalah.

Zeth punya firasat buruk terhadap apa yang terjadi kepada gadis yang ia lihat kemarin. Biasanya, perundungan oleh berandal seperti mereka hanya menargetkan anak-anak tertentu saja—terutama anak-anak yang tidak punya teman dan tidak percaya diri. Apalagi, perundungan tidak akan berakhir sebelum para perundung merasa puas. Dan dari yang ia dengar kemarin, sepertinya orang-orang itu masih belum puas dengan apa yang terjadi kemarin.

“Zeth, memang ada sesuatu yang terjadi? Kau dari tadi seperti melamun terus. Apa yang kau pikirkan?” tanya Cero, si ketua kelas yang sedang piket hari ini.

“Hm? Ah, tidak ada apa-apa, kok,” jawab Zeth dengan nada datar.

“Tumben sekali melihatmu seperti ini. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja.” Cero meletakkan sebuah tumpukan kertas yang cukup tebal. “Ngomong-ngomong, bantu aku antarkan berkas-berkas ini ke ruang guru. Sepertinya Pak Yan melupakan ini setelah mengajar tadi.”

Zeth dan Cero berjalan beriringan menyusuri lorong. Sebentar lagi, mereka akan sampai di depan toilet perempuan yang kemarin. Zeth menelan ludah, menundukkan kepalanya.

“Cepat, cepat!”

“Hari ini akan menyenangkan, lho!”

Zeth terkejut. Ketika berbelok hendak menuruni tangga, ia berpapasan dengan beberapa orang. Dan suara yang baru saja ia dengar langsung mengingatkannya pada ingatan yang buruk—benar, mereka adalah para berandal yang kemarin. Ia langsung menoleh ke belakang.

Tiga berandal yang kemarin sedang berjalan bersama dengan seorang gadis. Terdengar suara pintu toilet perempuan dibuka. Langkah Zeth terhenti seketika.

“Hm? Zeth? Ada apa?”

Badan Zeth mulai gemetaran. Ia tahu ia memang sengaja ikut piket hari ini demi momen ini, namun sekarang ia malah bimbang. Ia mulai menyadari sepenuhnya bahwa, ikut campur dalam hal ini sama saja dengan melompat masuk ke dalam sarang macan.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Zeth memberanikan dirinya untuk melihat ke belakang.Pintu toilet perempuan sudah tertutup. Ia semakin meragukan dirinya sendiri dalam hati.

“Oi, Zeth! Kau ini kenapa, sih? Jangan berhenti!”  Cero berkata dengan nada setengah teriak. Zeth tersadar dari kebimbangannya seketika.

“T-tidak, bukan apa-apa…”

“Kau jadi aneh sekarang. Apakah orang-orang barusan mengganggumu? Kalau tidak salah, mereka itu para berandal sekolah, kan? Kau punya masalah dengan mereka?”

Zeth hanya memasang wajah murung. “Tidak…”

Cero menaikkan sebelah alisnya, semakin tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.

“Lupakan saja. Maafkan aku. Ayo lanjut jalan.”

Keesokan harinya.

Zeth benar-benar tidak bisa tidur saat malam. Ia sekarang benar-benar merasa bersalah dengan dirinya sendiri. Ia tak bisa berhenti memikirkan nasib gadis itu. Seusai mengantarkan berkas ke ruang guru, ia harus menunggu semua yang piket untuk pulang terlebih dahulu—karena ia pikir apabila seseorang melihatnya masuk ke dalam toilet perempuan tanpa sebab, ia akan dikira orang yang aneh. Saat ia akhirnya bisa mengecek setelah semua temannya pulang, gadis dan para berandal itu sudah tidak ada di sana. Yang ia temukan hanyalah lantai toilet dengan beberapa untaian rambut kumal dan dinding yang basah. Itu pasti ada hubungannya dengan apa yang dialami gadis itu di sana.

Ah… kalau memang niatku memang ingin membantunya, seharusnya aku tidak perlu peduli dengan hal seremeh itu…

“Zeth!”

“Eh—iya, pak!” Zeth tersentak setelah mendengar namanya dipanggil. Lamunannya buyar seketika. Pak Yan dan seisi kelas sekarang sedang memperhatikannya dengan wajah keheranan.

“Ada apa? Wajahmu kelihatan pucat. Kau kurang tidur semalam?”

“B-begitulah…” Zeth hanya menjawab seadanya.

“Seperti bukan dirimu saja. Memangnya apa yang kau pelajari? Kupikir kau sudah tak perlu repot-repot belajar sampai segitunya…”

“Hei, Pak, tidak adil. Meskipun genius, orang sepertinya pasti tetap butuh belajar, tahu!” Seseorang menyahut dari belakang kelas.

“Yah, daripada Zeth, tetap saja kau yang butuh lebih banyak belajar, Ter.”

Seisi kelas tertawa. Zeth hanya menutup telinganya, ia tidak suka kebisingan.

“Sudah, sudah, semuanya. Baiklah, Zeth, kerjakan nomor dua belas di papan tulis. Lalu kau, Ferie…”

Hari berlalu dengan sangat lama bagi Zeth. Kelir langit sudah mulai berubah lembayung. Bel pulang sudah berbunyi. Zeth mulai mengemasi barangnya dengan malas. Rasanya, dari tadi pagi ia hanya ingin menemui gadis itu. Namun, pertanyaan mulai bermunculan dalam kepala Zeth.

Bagaimana aku harus bertemu dengannya? Apakah dia akan bersama dengan para berandal itu lagi hari ini? Kalau bertemu, apa yang harus kulakukan? Minta maaf? Atau…

Tunggu dulu. Aku bahkan belum tahu namanya. Bodohnya aku.

Zeth menggaruk-garuk kepalanya, semakin kebingungan. Kalaupun ingin mencari tahu, bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu dia anak kelas mana. Apabila aku bertanya soal itu kepada guru, bagaimana pula caraku menjelaskannya…

Akhirnya kepala Zeth buntu juga. Rasanya, baru pertama kali ia merasa muak dengan sekolah kecil dengan lingkungan yang seperti ini. Perundungan menjadi hal lumrah, tak ada yang peduli—bahkan para guru sekalipun. Selama ini, ia hanya mengabaikannya dan menjauh dari hal-hal seperti itu. Melihat apa yang terjadi pada gadis itu kemarin benar-benar mengubah pola pikirnya selama ini.

Apapun itu, perundungan bukanlah hal sepele untuk dilewatkan begitu saja.

Bruk.

“Eh, maaf!” Zeth tersadar dari lamunannya.

Ketika melihat wajah sosok yang ditabraknya, betapa terkejutnya Zeth. Benar sekali, dia adalah gadis yang belakangan ini selalu ada dalam pikirannya. Zeth langsung jadi salah tingkah, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“A-anu… kamu… n-anu…”

Gadis itu hanya menatap Zeth datar. Zeth buru-buru menepuk kedua pipinya dengan keras. Apa yang sedang aku lakukan?!

“N-nama… kalau boleh tahu… siapa namamu?”

“Floe.” jawab gadis itu dengan nada lesu.

Setelah dapat mengontrol dirinya sepenuhnya, ia baru bisa melihat sosok gadis di hadapannya sekarang ini dengan lebih jelas. Matanya setengah terbuka dan tampak sayu. Rambut hitamnya yang panjang terurai terlihat kumal dan tidak terawat. Seragam sekolahnya juga kusut dari kerah sampai lutut. Ia juga tidak sedang membawa tas sekolah seperti siswa lainnya yang sedang pulang sekolah. Namun, di saat yang bersamaan, ia juga mulai sadar akan bau yang sekarang menusuk hidungnya cukup dalam—sepertinya memang berasal dari gadis ini. Ia langsung refleks menutup hidungnya.

Namun tak lama setelah itu, setelah sadar akan perbuatannya yang tidak sopan, Zeth buru-buru menurunkan tangannya. “Anu, bukan begitu! Maafkan aku, ini hanya refleks… terjadi begitu saja. Aku tidak bermaksud buruk…”

Gadis itu hanya memalingkan matanya, menatap nanar tanah di sampingnya.

Zeth berusaha untuk fokus kembali. “Kamu… dari kelas berapa?”

“Kelas E.”

Zeth menelan ludah. Kelas E adalah kelas terburuk dalam sekolah kami. Bila kelas A sampai D diurutkan berdasarkan nilai perorangan yang didapat dari yang terbaik hingga terburuk, kelas E berbeda. Kelas E diisi oleh para siswa yang bermasalah di sekolah—dan sayangnya para guru selalu enggan bila harus berurusan dengan kelas ini. Kelas ini bak sudah menjadi sarang bagi para berandal sekolah secara tradisi. Bahkan, jumlah para siswa bermasalah di sekolah ini kian bertambah setiap tahunnya, dan kelas E semakin lama semakin besar dan tidak terkendali. Dari sepengetahuan Zeth, bahkan kelas D pada angkatan anak kelas satu sudah mulai dimasuki para berandal. Pengaruh kelas E pada sekolah ini hanya akan semakin parah seiring waktu berjalan.

“B-begitu, ya…”

Hening seketika. Suara ketukan sepatu anak-anak lain yang pulang membuat Zeth semakin gugup. Kepintarannya yang selalu menjadi kebanggaannya sama sekali tidak berguna di saat seperti ini. Berpikirlah, Zeth! Dasar bodoh!

“A-anu—”

“Yo.”

Zeth tercekat. Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia terpaku di tempatnya, tak berani memalingkan wajahnya ke belakang.

Suara itu adalah suara berandal yang kemarin. Kedua temannya juga menyapa Zeth dengan sok ramah. Ketiganya sekarang berdiri di hadapan Zeth.

“Kau ada urusan dengan anak ini?” tanya berandal dengan badan paling besar. Ia langsung merangkul tubuh Floe yang cenderung kecil dan ringkih. Melihatnya, nyali Zeth langsung menciut.

“A-aku hanya—”

“Ada apa kau malu-malu seperti ini, kawan?” Berandal dengan tubuh kurus menimpali. Perasaan Zeth semakin tidak keruan.

“Oh! Jangan-jangan… kau mau nembak dia?” Berandal terakhir dengan tubuh gempal juga ikut bertanya. Mereka bertiga sekarang tertawa keras bersamaan.

“Kuakui, seleramu tak buruk. Tapi, sangat disayangkan, kawan, kau tak bisa melakukan itu. Kami akan bersenang-senang dengannya setelah ini.” Si Kurus mendekatkan wajahnya dengan wajah Zeth. “Tunggu dulu. Sepertinya aku pernah melihat wajahmu…”

Zeth merasa bak habis disambar halilintar. Ia mulai berkeringat dingin, menutup mulutnya rapat-rapat. Sial! Apakah aku ketahuan? Apakah orang ini yang tempo hari sempat melihatku sekilas? Dia masih mengingatnya?!

Di saat Si Kurus sibuk melihat wajah ketakutan Zeth dari dekat, Si Besar tiba-tiba menarik kerah seragam Si Kurus. “Ah, dasar cabul. Melototin dari dekat begitu. Memangnya kau suka laki-laki sekarang, ya?”

“Agh, berisik! Aku tak mau dengar itu darimu.”  Si Kurus melepaskan tarikan Si Besar. Mereka bertiga pun lantas pergi meninggalkan Zeth yang hanya mematung di tempatnya berdiri sekarang. “Kalau kau memang ada urusan dengan anak ini, lupakan saja mulai sekarang. Ingat itu, kawan!” seru Si Kurus sambil berjalan menjauh.

Zeth yang sekarang hanya bisa mengamati mereka pergi menjauh dari tempatnya berdiri. Ia mulai jatuh dan duduk berlutut, kehabisan kata-kata. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Ia kecewa kepada dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Floe… Gadis itu… kenapa dia tidak berbicara sama sekali barusan? Dia tidak meminta tolong kepadaku? Orang lain? Di sini sekarang sedang cukup ramai, kan?

Untuk sekilas, Zeth menoleh ke arah sudut jalanan dekat semak-semak. Di sana, ia bisa melihat dua siswa sedang dirundung oleh sekelompok berandal sekolah yang lain. Di sudut lain dari cakupan pandangannya, ia juga bisa melihat perundungan lain yang sedang terjadi. Setelah itu, ia kembali menatap para siswa yang berjalan menuju pagar sekolah dengan tenangnya.

Tidak ada… yang peduli… Kenapa?

Zeth menundukkan kepalanya, menatapi kedua telapak tangannya.

Aku juga sama saja.

“Zeth? Sedang apa kau di sini?”

Zeth mengangkat kepalanya. Cero sedang berdiri di sebelahnya sekarang. Ia mulai berdiri.

“Cer. Lihatlah itu.”

“Hm, apa?”

Zeth menunjuk ke sudut jalanan.

“Eh? Ada apa memangnya?”

“Kau tidak lihat?”

“Lihat apa memangnya?

“…Kau serius?”

Cero menaikkan sebelah alisnya, keheranan dengan perilaku Zeth. “Sungguh, dari kemarin kau ini kenapa, sih? Dari kemarin kau selalu saja bertingkah aneh…”

Zeth sudah berada di batasnya. Ia tidak bisa lagi menahan semua perasaan frustrasi ini.

“AAAH! Kau tidak lihat siapa dan apa yang sedang terjadi di sana?!!”

Cero langsung mundur selangkah setelah Zeth barusan “meledak”. Mereka berdua langsung menjadi perhatian bagi banyak siswa yang sedang berjalan pulang.

“H-hei, kawan, tenangkan dirimu… Ada apa denganmu, sih? Aku sungguh bertanya kepadamu. Kali ini, jangan berbohong. Pasti ada sesuatu, kan? Jangan diam saja, dong! Aku juga cemas, tahu!”

Zeth semakin merasa tidak keruan. Ia menatap wajah Cero dengan tatapan yang begitu dingin.

“Kalau begitu, kau mencemaskan orang yang salah.”

Setelah itu, Zeth langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan Cero begitu saja. Ia menerabas kerumunan siswa yang sedang berjalan di trotoar. Sejak tenggelam dalam kebimbangannya tadi, ia ketinggalan jejak dari mereka berempat. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena tidak segera mengambil tindakan.

“Huff… huff… hei! Zeth!        “

Cero berhasil mengejar langkah Zeth hingga membuatnya tersengal-sengal. “Kau ini… larimu selalu saja cepat. Dasar merepotkan…”

Zeth menatap balik Cero dengan sinis. “Huff… Merepotkan? Memang aku menyuruhmu untuk mengikutiku?” katanya dengan nada ketus.

“Ya ampun…” Cero mengambil botol minuman dari tasnya, meneguk isinya sekali. “Jadi, apa sih yang kau cemaskan? Semua anak di kelas menganggapmu aneh sekarang, lho.”

“Siapa peduli. Aku dari awal memang tidak pernah punya teman di kelas.”

“Oi, oi, jangan begitu. Kalau begitu, aku ini siapa? Jadi aku bukan temanmu?”

Zeth berbalik, mulai berjalan kembali menuju sekolah. “Diamlah. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan candaanmu.”

Cero langsung menahan gerakan Zeth dengan mencengkeram pundaknya. “Aku tidak bercanda. Aku bisa membantumu apabila kau ada masalah. Dasar, kenapa kau diam saja dari kemarin? Apakah kau bersikeras ingin menyimpan masalahmu sendiri? Aku juga punya tanggung jawab, tahu.”

Zeth berpikir sejenak. Yang dia katakan sebenarnya ada benarnya juga. Lagipula, dia adalah seorang ketua kelas dan mantan ketua OSIS. Bukan berarti dia sampai mengikutiku seperti ini karena sekadar iseng.

“Kalau begitu, ikut aku ke ruang guru sekarang.”

“Eh? Kenapa?”

“Kalau tidak ikut juga terserah kau.” Zeth sudah mulai berjalan kembali menuju gerbang sekolah.

“Hei, tunggu!”

Setelah itu, mereka berdua berjalan beriringan. Cero masih terus mengeluhkan soal Zeth yang menjadi menyebalkan belakangan ini.

“Ngomong-ngomong, kau tahu gadis bernama Floe dari kelas E?” potong Zeth.

“Floe? Siapa?”

Tentu saja kau tidak mengenalnya, ya. “Floe ya Floe. Aku juga barusan tahu namanya,” jawab Zeth malas.

“Kenapa? Kau ingin menemuinya?”

“B-begitulah.”

“Kau membuat masalah dengannya?”

“Jangan bercanda.”

Cero tergelak. “Aku tak bisa membayangkan kau menggoda seorang perempuan. Bakal jadi seperti apa, ya?”

Zeth merasa kesal. “Aku akan ke ruang guru duluan.” Setelah mengatakan itu, Zeth lantas mulai berlari kencang. Cero lantas ikut berlari sambil terus mengeluh.

Mereka berdua sekarang sudah sampai di gerbang. Zeth hanya berdiri di dekat pagar, menunggu Cero yang sampai dengan tersengal. “Huff… Kau ini! Sudah cukup! Berhenti main-main denganku.”

“Huff… huff… Bermain-main? Bukannya kau yang bercanda sebelumnya?”

“Ah, iya, iya! Aku minta maaf.”

Lantas, mereka berdua kembali berjalan beriringan. Kali ini Cero sudah tidak mengeluh lagi.

“Cer.”

“Apa?”

“Bagaimana menurutmu soal sekolah ini?”

“Sekolah ini? Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Jawab saja.”

Cero berpikir sejenak. “Bagaimana, ya? Ini bukan sekolah yang begitu terkenal. Menurutku sih, semuanya hanya biasa-biasa saja—”

“Bagaimana soal semua perundungan yang terjadi?”

Cero terdiam sejenak, lantas sedikit menunduk. “Ah, sekarang aku paham maksudmu. Maaf aku tidak menyadarinya sebelumnya.”

“Apa kau sama seperti semua orang di sini? Kau akan menutup matamu rapat-rapat soal ini?”

“Kalau soal itu, bagaimana, ya… susah menjawabnya.” jawab Cero dengan penuh keraguan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Zeth terus termenung. Jauh dalam lubuk hatinya, dia tahu betul bahwa dia bukanlah orang baik yang begitu peduli dengan sesama sampai-sampai harus menceramahi orang lain soal ini. Siapa memangnya kau ini, Zeth. Dasar sok suci.

Namun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? Bukannya selalu begitu?

Entahlah, mungkin aku hanya mencari pembenaran untuk diriku sendiri dengan kata-kata itu.

Tanpa disadari, mereka berdua sekarang sudah berada di depan pintu ruang guru.

“Setelah ini, kau takkan bisa kembali lagi. Kau yakin?”

Cero menyeringai, menatap Zeth penuh keyakinan. “Heh, jangan remehkan aku. Aku sudah terbiasa dengan tanggung jawab yang menyebalkan.” Ia kemudian membuka pintu ruang guru.

Lima belas menit kemudian.

Zeth dan Cero menghentikan langkahnya. Mereka sekarang berada di depan sebuah gang kecil yang cukup gelap. Saat di ruang guru tadi, beruntung Wali kelas E masih ada di sana walaupun sudah lewat jam kerja. Ia juga tak banyak bertanya saat Zeth meminta alamat tempat tinggal Floe. Saat berjalan tadi, Zeth juga sudah menceritakan seluruh detail permasalahan ini kepada Cero. Cero mendengarkan keseluruhannya tanpa banyak bertanya.

Zeth memastikan alamat yang ditulis di secarik kertas kecil dengan gang kecil yang tampak gelap di hadapannya sekarang. Seharusnya betul, tapi… bukankah ini agak menyeramkan?

“Ngomong-ngomong, aku baru kepikiran. Kau yakin mereka sekarang berada di sini?”

Zeth menelan ludah seketika. “Soal itu…”

“Kau juga tak tahu, ya. Baiklah.”

Zeth benar-benar lupa sebelumnya dengan kemungkinan seperti itu. Ia malu dengan dirinya sendiri sekarang.

“Aku hanya… punya firasat kalau mereka sedang berada di sini. Apakah dengan begitu terdengar meyakinkan?”

Cero tertawa. “Hah, tidak sama sekali.”

Zeth menutupi wajahnya, khawatir apabila firasatnya salah.

“Sudahlah, kawan. Aku mengerti perasaanmu. Kalau memang semuanya sesuai dengan yang kau ceritakan, aku juga berpikir seharusnya mereka berada di sini sekarang. Toh, kalau memang tidak kita temukan di sini, kita bisa mengecek ke rumah-rumah berandal itu. Kalau tidak ada, bisa kita pikirkan esok hari. Jangan memaksakan dirimu.”

“Rumah berandal itu? Tapi—” Zeth juga sekarang mulai menyadari sepenuhnya soal apa yang telah ia perbuat sampai sekarang. Ia benar-benar sedang bertaruh di dalam sarang harimau. Yang ia pikirkan selama ini hanyalah melepaskan gadis itu dari para berandal itu, namun ia sama sekali belum memikirkan caranya. Aku tidak pandai berkelahi, Cero pun juga sepertinya begitu. Bagaimana kami akan menghadapi mereka?

“Sudahlah, ayo masuk. Sebelum malam jadi semakin matang. Persiapkan dirimu.” Cero sudah mulai melangkahkan kakinya ke dalam gang. Zeth mengikutinya dengan gelisah.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak selebar dua meter yang minim penerangan lampu jalan. Matahari barusan saja tenggelam, dan itu membuat suasana di sini menjadi semakin mencekam. Kebanyakan bangunan di kanan-kiri jalan terkesan terbengkalai dan tanpa penerangan. Satu-dua bangunan masih menampakkan cahaya remang dari dalam—namun tetap saja terasa menyeramkan. Sampah-sampah berserakan di sepanjang jalan setapak, menyebabkan bau yang cukup menusuk hidung. Beberapa orang yang berpapasan dan sempat melihat mereka berdua selalu memberi tatapan mata yang tidak mengenakkan.

“Hm? Kau takut, Zeth?”

“E-eh, takut?” jawab Zeth dengan gemetaran. “T-tidak, kok… sama sekali…”

“Dasar penakut. Aku bisa tahu dari wajahmu.” Cero tertawa kecil.

Zeth merasa sedikit tersinggung. “Yah, mau bagaimana lagi? Di sini gelap, bau, dan menyeramkan. Ada apa di sini?”

Cero menghela napas. “Kau sungguh tidak tahu tempat apa ini?”

Zeth menaikkan sebelah alisnya. “Hah? Tempat apa memangnya?”

Cero mengusap wajahnya. “Ah… kau kebanyakan belajar dan menyendiri, sih. Pantas saja.”

Pipi Zeth memerah, namun tak ada yang bisa melihatnya karena gelap. “M-memangnya salah?”

“Bukan salah juga, sih. Tapi setidaknya kau harus tahu lebih banyak hal lain selain pelajaran di sekolah…”

“Ah.” Cero menunjuk salah satu bangunan kecil yang terbuat dari kayu. “Coba tempelkan telingamu ke dinding sebelah situ.”

Zeth tidak terlalu paham dengan apa yang Cero bicarakan, namun ia tetap menurutinya. Ia menempelkan telinganya ke salah satu dinding rumah itu. Baru beberapa detik, ia langsung terperanjat dan mundur beberapa langkah.

“Ini…” kata Zeth dengan gemetar.

“Sshhh.” Cero mengisyaratkan untuk tidak berbicara dengan keras. Ia berbisik ke telinga Zeth. “Kau mengerti sekarang?”

Zeth menelan ludah. Ia kurang lebih mengerti sekarang. Mereka berdua pun lanjut berjalan.

“Lihat ini.” Cero menunjuk ke sebuah lampu kecil yang sedang menyala redup di dinding depan rumah itu. “Kalau menyala seperti ini, berarti sedang ‘ditempati’. Bangunan dan rumah lain yang memiliki lampu seperti ini, berarti juga digunakan untuk ‘itu’.”

“S-semuanya?”

“Mana aku tahu. Yang jelas, di sini bukanlah tempat untuk anak-anak seperti kita berkeliaran.”

Zeth merinding. Anak-anak? Hei, aku juga baru sadar kita bahkan masih memakai seragam sekolah kita! Kita harus melepasnya sekarang—

“Wow, apa yang anak sekolah lakukan di sini?” Seorang wanita yang kebetulan berpapasan tiba-tiba bertanya. Ia mengembuskan asap rokok yang sedang diisapnya ke arah depan, membuat Zeth dan Cero terbatuk. Sial! Timing-nya buruk sekali…

Zeth menatap wanita di hadapannya. Bajunya cukup terbuka, tangan kanannya sedang memegang rokok yang menyala. Wajahnya ditindik di beberapa bagian. Nyalinya menjadi ciut seketika.

Cero memasang wajah polos. “Ah, Kakak. Bukan apa-apa, kok. Jadi begini,” ia lantas membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.

“Wah! Menarik sekali. Ngomong-ngomong, sepertinya tadi juga anak dari sekolah kalian yang datang ke sini. Anak-anak zaman sekarang memang sesuatu, ya. So wild.” Wanita itu tertawa lebar.

“Tentu saja, Kak! Kami ingin menghabiskan masa muda yang menyenangkan.” Cero merangkul Zeth dengan sebelah tangan. “Anak ini memang pemalu, tapi aku sudah mengenalnya dengan baik. Aku akan melakukan yang terbaik!”

Wanita itu sekarang malah terpingkal keras. Zeth masih belum paham apa yang dikatakan Cero sampai membuatnya seperti itu. Zeth hendak mengatakan sesuatu, namun Cero memberi isyarat dengan memasang wajah tegas dan menggeleng tipis. Jangan bicara apapun sekarang.

“Maaf, maaf. Aku baru dengar yang seperti ini, soalnya. Ternyata memang benar ada, ya. Haha.”

Cero menggandeng tangan Zeth, lantas mulai berjalan. “Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Kak!”

“Semoga beruntung, kalian berdua!” Wanita itu melambaikan tangan dari tempatnya berdiri.

Setelah berjalan menjauh, Cero mengembuskan napas yang begitu panjang. “Aaaaah. Ya ampun. Kita selamat.”

“Hei.” Zeth melepaskan gandengan tangan Cero. “Kenapa kita berdua harus bergandengan tangan?”

“Yah, aku tidak kepikiran cara lain…”

“Kau memikirkan hal yang aneh-aneh, ya?” Setelah mengatakan itu, sekujur tubuh Zeth tiba-tiba menggigil sejenak. “Hiii. Jijik.”

Cero menghela napas. “Aah, sudahlah. Mau bagaimana lagi. Jangan mengeluh. Oh iya, setelah ini kita belok kanan.” Ia kembali memerhatikan bangunan di kiri-kanan gang dengan cermat.

Zeth hanya bisa memendam rasa kesalnya. Ia juga sepertinya hanya akan memperburuk keadaan apabila Cero tidak mengambil alih percakapan tadi. Lagipula, mereka berdua bahkan bisa mendapatkan konfirmasi soal keberadaan gadis itu secara tidak sengaja dari wanita tadi. Zeth mulai merasa bahwa ia benar-benar perlu memperluas pengetahuannya soal dunia luar dan kemampuan berkomunikasi yang selama ini selalu ia abaikan.

Cero menghentikan langkahnya. “Di sini. Kalau alamat yang diberikan ini tidak salah, maka seharusnya ini rumah yang benar.”

Mereka berdua akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil. Penampakannya gelap dan muram sama seperti bangunan yang lain. Dan satu hal lagi yang membuat Zeth terkesiap, ia melihat lampu kecil di dinding depan rumah yang sedang menyala.

Zeth langsung berinisiatif untuk melirik di celah jendela agar bisa mendapat lebih banyak informasi soal apa yang ada di dalam, namun sepertinya mustahil untuk melakukannya tanpa menghasilkan suara yang keras. “Sepertinya mereka benar-benar berada di dalam sini. Cukup mengerikan juga bila berpikir bahwa ini adalah rumah dari salah seorang siswa di sekolah kita…” kata Zeth dengan nada berbisik.

“Yah, seharusnya tidak begitu mengejutkan kalau dia berasal dari kelas E.”

“Aah, bagaimana, ya. Kita bahkan belum tahu apa yang menunggu di dalam.” Zeth merapatkan giginya. “Ini menyebalkan.”

“Aku punya rencana, Zeth.” Cero menyeringai tipis ke arah Zeth.

“Rencana?”

“Jadi begini, sederhana saja. Kau akan bersembunyi, aku akan memancing mereka keluar. Setelah itu, bawa gadis itu keluar. Mudah, kan?”

“Hmm…” Zeth mengiyakan dengan penuh keraguan.

“Tapi itu hanya rencana saja. Kita tetap harus bertaruh di sini.”

“Bertaruh? Maksudmu?”

“Kita masih kekurangan informasi sekarang. Pertama, kita masih belum tahu pasti apakah mereka benar-benar berada di dalam atau tidak. Kedua, seperti yang kau bilang. Apabila mereka benar-benar bertiga, aku juga tidak yakin apakah aku bisa memancing semuanya keluar dan seberapa lama aku bisa menahan mereka. Kau mau bertaruh akan itu semua?”

“Menahan? Kau akan berkelahi dengan mereka?”

“Jelas tidak, dasar genius. Apa memangnya yang bisa kulakukan selain kabur?”

“T-tunggu dulu!” Zeth memegang pundak Cero. “Kalau soal kabur, aku lebih cocok! Kau bisa menyelamatkan Floe—”

“Begini, Zeth. Aku juga tahu kalau larimu lebih cepat. Tapi, bisa lari cepat saja takkan menyelesaikan masalah. Kita juga harus memancing mereka semua keluar dulu. Hanya aku yang bisa melakukannya di sini sekarang.”

Cero melepas seragam bagian atasnya, menyisakan kaus bagian dalam. Ia memasukkan seragam itu dengan asal ke dalam tasnya. “Ayo, kau juga. Lepas seragammu. Bisa gawat kalau ketahuan mereka.” Zeth pun tanpa banyak bertanya langsung mengikuti instruksi Cero.

“Kita mulai rencananya.” Cero menyerahkan tasnya kepada Zeth. “Maaf, tapi tolong jaga tasku juga. Aku butuh kecepatan maksimal saat kabur nanti.”

Zeth mulai gemetaran. “…Setelah masuk, apa yang harus kulakukan?”

“Yang perlu kau lakukan? Tentu saja membawa gadis itu keluar, bukan? Untuk sekarang, bersembunyilah di sana. Jangan biarkan mereka sadar kalau kau ada di sana.” Cero menunjuk sebuah sudut di depan rumah yang tak tersorot cahaya sama sekali. Zeth melirik ke arah tempat yang ditunjuk Cero. Ia menelan ludah.

“Oi, oi, jangan takut seperti itu, dong. Santai, santai saja. Anggap saja uji nyali di sekolah saat malam hari. Lagipula, sekarang kau takkan bertemu hantu, kok.” Cero tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Zeth untuk menenangkannya.

“A-apabila gadis itu berhasil kubawa keluar dari sini… apa yang harus kulakukan dengannya?” Zeth terlampau gugup, ia sama sekali tidak menghiraukan lelucon Cero.

Cero terkekeh kecil. “Ya ampun, kau masih ragu soal itu? Sederhana saja. Kau yang ingin menyelamatkannya dari awal, bukan? Maka dari itu…”

Cero menepuk pundak Zeth, tersenyum lembut. “Selamatkan dia.”

Zeth perlahan menundukkan kepalanya. “…baiklah.”

“Hm.” Cero mengangguk-angguk. “Ayo kita lakukan ini.”

Zeth kemudian melangkah menuju tempat yang ditunjuk Cero. Ia duduk meringkuk di atas tanah, menutupi wajahnya dengan tas—berusaha membaur dengan kegelapan di sekitarnya. Cero mengacak-acak rambutnya, lalu berdiri di depan pintu.

Di luar sepengetahuan Zeth dan para siswa di sekolah, Cero sebenarnya cukup kompeten dalam kemampuan akting dan berbicara miliknya. Sebagai mantan ketua OSIS dan selalu menjadi ketua kelas setiap tahunnya sejak kecil, ia sudah terbiasa berurusan dengan berbagai macam kepribadian orang. Satu-satunya alasan ia tidak mengikuti klub drama di sekolah adalah karena kesibukannya saat menjadi ketua OSIS dahulu.

Meskipun ia bisa dibilang cukup ambisius saat menjabat sebagai ketua OSIS, namun ia cenderung mengabaikan soal masalah perundungan seperti ini. Setelah mendengar cerita Zeth, ia akhirnya sadar bahwa semua ini perlahan terus bertambah parah tanpa sepengetahuannya. Ia merasa telah meninggalkan sebuah tanggung jawab yang sangat penting dari jabatannya dulu.

Cero menghela napas. Ia mengetuk pintu. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam mendekat. Meskipun Cero cukup percaya diri dengan rencananya ini, ia tetap merasa gugup dengan semua ini. Kecemasan masih selalu menyertainya, terlebih soal bagaimana Zeth akan bertindak nanti.

Pintu terbuka. Seorang remaja berperawakan gemuk sekarang berdiri di hadapan Cero. Aku tahu anak ini. Dari dulu dia memang selalu membuat ulah dengan dua komplotannya yang lain, sesuai dengan cerita Zeth.

Si Gemuk menatap Cero dengan sinis. “Apa yang kau lakukan di sini, bangsat? Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?”

Cero menelan ludahnya sejenak, berusaha untuk tidak terbawa arus. Ia berusaha sebisa mungkin untuk memasang ekspresi palsu yang meyakinkan. “Oi, oi, kawan. Jangan kaku, dong. Aku barusan jalan-jalan di sekitar sini, lalu…”

“Aku tak pernah melihat wajahmu di sekitar sini. Kau anak baru? Sendirian?”

“Y-yaah, begitulah. Namaku Sera, rumahku sebenarnya cukup jauh dari sini. Kau tahu, aku habis diputusin pacarku. Padahal sebelumnya kita sudah memesan tempat di sini, eh dia barusan meneleponku dan membuangku begitu saja. Ah, aku bisa gila, tahu.” Cero berusaha untuk berbicara dan memasang wajah yang sesuai dengan topik pembicaraan.

“Haha! Berarti dia memang jalang yang kurang ajar, ya. Kasihan… Hahaha.”

Cero merasa sedikit lega dalam hati. Alasan yang dia buat mendadak barusan memang sepertinya kurang bagus.  Untung saja dia bodoh. Siapa juga yang mau membawa pacarnya ke gang prostitusi seram seperti ini.  

“Jadi, begini…”

Setelah itu, Cero berusaha menjelaskan soal alasannya datang ke sini—yang tentu saja dibuat-buat—dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan informasi dari seorang wanita penghuni gang tentang kedatangan mereka berempat ke rumah ini. Tak tanggung-tanggung, Cero juga mengatakan bahwa ia tertarik dengan apa yang terjadi di dalam. Dengan kemampuan aktingnya yang cukup bagus dan lawan bicaranya yang tidak menaruh curiga, Cero berhasil meyakinkan berandal itu untuk membawanya ke dalam.

Oh, sial. Aku berhasil sampai di sini. Jangan kacaukan ini semua.

Mereka berdua sampai di sebuah ruangan di bagian belakang rumah. Hanya inilah satu-satunya ruangan yang lampunya menyala di rumah kecil ini.      Pintu dibuka.

Cero hanya bisa terdiam. Ruangan itu lengang di bagian tengah dengan beberapa rongsokan dan sampah yang mengelilinginya. Di tengah ruangan itu terdapat dua komplotan lain berbadan besar dan gemuk yang sedang duduk di lantai—berarti taruhannya benar. Lalu, tentu saja tak lupa…

Gadis yang diceritakan Zeth. Namanya Floe. Sekarang ia sedang berbaring diantara dua berandal itu. Ia sekarang bertelanjang dada, seragam dan bra-nya tergeletak kumal di lantai. Raut wajahnya tampak lemas. Kabar baiknya, sepertinya rok yang ia kenakan belum dilepas. Cero hanya bisa menyaksikannya sambil mematung di tempatnya berdiri sekarang.

“Hei, ke mana saja kau—Oi! Siapa itu yang kau bawa ke dalam sini?” Si Badan Besar menatap Cero tajam.

“Tenang, kawan. Dia ini…” Si Gemuk pun membisikkan sesuatu ke telinga Si Badan Besar. Ekspresi wajah Si Badan Besar sedikit melunak.

“Hmh, alasan yang aneh. Jadi, kau datang ke sini karena tertarik dengan ini, huh? Hei, duduklah.” Si Badan Besar menarik rambut gadis itu, memaksanya duduk.

Cero mulai gemetaran. Pemandangan seperti ini seharusnya sudah diantisipasi oleh Cero sejak memasuki gang gelap ini, namun tetap saja ini merupakan pengalaman pertamanya menghadapi sesuatu seperti ini. Ia tak memiliki kontrol penuh terhadap situasi yang dihadapinya sekarang. Emosi dalam dirinya sekarang benar-benar bercampur aduk. Di satu sisi, ia merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu terhadap gadis itu sekarang. Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa ia tak boleh gegabah dalam situasi seperti ini.

“Ada apa kau ini, dari tadi diam saja? Kau gugup?”

“Hm? Oh, benar, maaf. Jujur saja, aku belum terlalu terbiasa di sini…” Cero berusaha melakukan yang terbaik agar ia tetap bisa terus memasang senyum palsu.

“Haah? Kau membosankan. Untuk apa malu-malu di sini?” Si Badan Besar menepuk bahu Cero.

“Kau tertarik, bukan? Kau bahkan tak mau menyentuhnya?”     Si Gemuk menimpali.

Cero justru tidak bisa menatap lurus ke arah Floe dan menurunkan pandangannya. Pikirannya yang logis mengatakan bahwa ia harus berusaha untuk mengikuti alur pembicaraan hingga dapat menemukan kesempatan yang bagus untuk memancing mereka semua. Namun, hati nuraninya di sisi lain tetap mengatakan bahwa semua ini tak boleh dilakukannya. Selama ini ia sudah berusaha menahannya, namun kali ini sudah melebihi batas.

Saat semua berandal sedang sibuk dengan ‘urusan’ mereka dengan Floe, Cero langsung melihat kesempatan. Dengan gemetaran, ia meraih smartphone­ dari sakunya, lantas buru-buru berdiri dan merekam video ketiga berandal dan Floe di hadapannya sekarang.

Baru selang beberapa detik kemudian, Si Kurus menyadari perbuatan Cero. “Hei, apa yang kau lakukan, hah?!”

“Brengsekkk!”

Sekarang, ketiga berandal mulai berdiri mendekat dan memojokkan Cero ke sudut ruangan. Raut wajah mereka semua sekarang dipenuhi oleh amarah.

Cero yang masih gemetaran sempat ciut ketika dipojokkan seperti ini. Namun, begitu melihat keadaan Floe yang sekarang, ia menguatkan hatinya.

Aku tak boleh takut di saat seperti ini. Pasti ada yang bisa kulakukan. Aku tak boleh biarkan ini semua sia-sia.

“Mana hape kau?! Cepat berikan, sini!” Si Badan Besar membentak dengan emosi.

Cero terdiam sejenak, lantas tersenyum tipis. Bahkan ia sempat terkekeh sebentar. Si Badan Besar pun lantas mencengkeram kaos Cero dengan kasar.

“Apanya yang lucu, Kawan? Hah?!”

Cero merapikan rambutnya sejenak. Ia menyeringai lebar, percaya diri. “Heh, kau sudah lupa aku siapa, bangsat?”

Ketiga berandal pun terkejut seketika.

“Aku punya barang buktinya. Kalian sudah tak bisa apa-apa lagi sekarang.”

“Kau… kau…! Ketua sialann!!” Si Badan Besar menguatkan cengkeramannya, bersiap melayangkan bogem mentah ke wajah Cero. Namun Cero sudah paham betul akan ini, dan ia tanpa ampun mengirimkan tendangan keras menuju kemaluan Si Badan Besar. Cengkeraman Si Badan Besar pun terlepas, dan Cero tidak melewatkan kesempatan ini sedetik pun. Ia langsung mengambil langkah seribu untuk keluar dari tempat itu.

“Oi, kembali kau ke sini! Bajingaaan!”

BRAK!

Cero berhasil keluar, di belakangnya ketiga berandal sudah mengejar dengan kecepatan penuh sambil menyumpah. Ia tak sempat melihat ke arah Zeth bersembunyi untuk memastikan, ia hanya fokus untuk melarikan diri. Ia sadar kemampuan larinya tidak secepat Zeth, jadi ia benar-benar tak ingin tertangkap sekarang.

Cero sudah membeberkan identitas aslinya kepada mereka. Namun sebagai gantinya, semua berjalan sesuai rencana dan Zeth bisa membawa Floe keluar dari sana tanpa gangguan.

Sekarang giliranmu, penyelamat.

Di sisi lain, Zeth yang tadinya masih bersembunyi sekarang benar-benar terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Pintu didobrak dengan keras, lantas beberapa siluet orang keluar dari sana—sepertinya terjadi kejar-kejaran.

Barusan berapa bayangan orang yang kulihat? Apakah Cero sudah menyelesaikan urusannya di dalam?

Zeth menggenggam tas Cero dan miliknya sendiri dengan erat, lantas segera melangkah masuk ke dalam rumah. Ia langsung berjalan menuju sumber cahaya yang berasal dari belakang rumah.

Sial… dia benar-benar melakukannya. Aku tak boleh takut sekarang. Aku harus melakukan ini.

Zeth langsung masuk ke dalam ruangan yang menyala terang. Begitu melihat kondisi Floe yang sedang terduduk di lantai, ia langsung menjatuhkan kedua tas dan beringsut mundur sejenak. Ia memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya.

Ah. Ini buruk sekali.

Selang beberapa detik, Floe tidak bereaksi sama sekali. Ia bahkan tidak menatap ke arah Zeth sama sekali. Hanya menatap nanar lantai di dekatnya, tanpa ekspresi.

Zeth akhirnya mulai memberanikan diri untuk menghadapi situasi di hadapannya dengan tegas. Aku harus melakukan ini, atau semua yang Cero lakukan akan sia-sia. Zeth mulai berjalan mendekat, lantas berjongkok dan mengulurkan tangannya. “Anu… kamu bisa bangun?”

Floe tidak merespons.

“Jadi, begini… maaf, tapi aku mengikutimu tadi—Ah, sebentar, pakaianmu…” Zeth masih belum berani menatapnya langsung, ia buru-buru mengambil bra dan seragam milik Floe yang tergeletak di lantai, namun ternyata seragamnya sudah dipenuhi dengan noda bekas terinjak-injak sepatu. Zeth yang mulai salah tingkah dan sedikit panik sekarang buru-buru mengambil seragam miliknya yang berada di dalam tas, lantas memberikannya kepada Floe dengan malu-malu. “Ini, pakailah…”

Meskipun begitu, Floe tetap tidak bereaksi. Tidak berinisiatif sama sekali untuk memakainya. Zeth jadi kebingungan melihatnya.

“H-hei! Tolong cepat dipakai…”

“Apakah Anda tidak senang dengan saya yang seperti ini?”

Zeth terdiam sejenak. “A-apa?”

Floe mengulangi kalimatnya. Wajah Zeth langsung memerah seperti kepiting rebus. “T-tidak! Kamu salah paham! Aku… aku tidak berniat buruk…”

Hening seketika. Situasinya menjadi benar-benar canggung sekarang.

Ah, sial. Aku tidak boleh berlama-lama di sini.

“Anu… pokoknya, tolong pakailah sesuatu dulu—”

Tap. Tap. Tap.

Zeth terpaku di posisinya. Ia mendengar langkah kaki. Sial! Mereka sudah kembali?!

Suara langkah itu semakin mendekat. “Floooe. Kau tidak kabur, kan? Jangan membuatku cemas denganmu, lhooo!!”

Zeth mulai bersiap diri. Sekarang, ia sudah tidak punya kesempatan kabur lagi. Mau tak mau, ia harus menghadapinya.

“Flo—Hah, siapa kau?! Sedang apa kau di sini?” Sosok berandal kurus menampakkan dirinya di ambang pintu ruangan, seketika terkejut.

Zeth sudah siap dalam posisinya. Ia berdiri di depan Floe, merentangkan kedua tangannya. “Seharusnya aku yang bicara begitu.”

“Kau—kau ingin membawanya pergi dari sini? Kau bekerja sama dengan mantan ketua sialan itu—”

Si Kurus membelalakkan matanya, ia langsung sadar akan sesuatu.

“Aha! Sekarang aku tahu. Kau yang mengajak mengobrol anak itu tadi, kan? Kau juga yang sempat mengintip tempo hari. Ada apa, hah? Kau juga tertarik dengannya?”

Si Kurus berkata dengan nada menantang, namun Zeth takkan membiarkan nyalinya ciut dari itu. “Huh. Tebakan yang buruk.

“Dasar sok suci. Jangan berbohong. Tak mungkin kau sampai menguntit ke sini dengan niatan sebaik itu hanya untuk sampah sepertinya.”

Zeth semakin kesal, menggigit bibirnya sendiri. Aku tahu kalau aku ini memang sok suci. Menyebalkan, memang, tapi aku tak bisa membantahnya. Tapi…

“Tapi, paling tidak aku tak serendah kalian yang sampai seenaknya mengotori gadis seumuran sampai seperti ini. Kalianlah yang sampah!” seru Zeth dengan penuh ketegasan. Ia sama sekali tidak menurunkan kedua tangannya, menatap Si Kurus dengan penuh amarah.

Wajah Si Kurus menjadi semakin bengis. “Kau…”

Bukk!

Sebuah bogem mentah melayang ke arah pipi Zeth, membuatnya terhuyung. Tak lama kemudian, ia akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Ia memegangi pipinya yang sedikit membengkak sekarang.

“Ada apa? Tak bisa melawan, hah? Pengecut! Tolol!”

Setelah itu, berandal kurus itu lanjut menendang dan menginjak-injak tubuh Zeth yang sekarang tersungkur di lantai. Zeth berusaha bangkit, namun berandal kurus itu tidak memberinya celah. Hampir sekujur tubuh bagian atasnya terasa nyeri sekarang.

Zeth! Bangun, bodoh! Dasar menyedihkan!

Tak ingin ini semua berakhir begitu saja, Zeth akhirnya berusaha mulai melawan balik. Ia memegangi salah satu kaki Si Kurus, lantas menariknya sekuat tenaga yang membuat Si Kurus juga terjatuh.

“Argh! Brengsek!!”

Kini Zeth tidak tinggal diam. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia segera berdiri, lantas segera menendang dengan sekuat tenaga pada bagian vital Si Kurus—kemaluannya. Si Kurus langsung berteriak kesakitan dengan keras, kedua tangannya refleks memegangi bagian yang ditendang Zeth.

Zeth menyambar seragam miliknya yang tergeletak di lantai, memakaikannya langsung seadanya pada Floe yang sedang duduk dengan gemetaran. Ia tak punya waktu untuk memikirkan kesopanan atau apapun itu. Ia menggenggam pergelangan tangan Floe. “Ayo, kita keluar dari sini!”

“Anu… ah—” Belum menyelesaikan kalimatnya, Floe langsung ditarik oleh Zeth yang sudah hendak kabur.

“Kau…!” Si Kurus yang dari tadi mengaduh kesakitan di lantai sekarang mulai bergerak, mencengkeram pergelangan kaki Floe. Tanpa basa-basi, Zeth langsung menginjak tangan Si Kurus, membuat cengkeramannya lepas seketika. Si Kurus kembali berteriak kesakitan.

“Ayo!”

Zeth terus menarik gadis itu menuju pintu depan rumah. Begitu sampai di ambang pintu, Zeth langsung menahan langkahnya. Sosok Si Badan Besar dan Si Gemuk terlihat berjalan mendekat. Ia langsung menyumpah dalam hati.

Tanpa pikir panjang, Zeth langsung menarik Floe menuju sudut gelap tempat ia bersembunyi di awal tadi. Kini mereka berdua dalam posisi jongkok, juga sangat dekat. Zeth juga refleks menempelkan tangannya di mulut Floe, mengingatkannya untuk tidak membuat suara. Ia hanya terus merapal dalam hatinya, semoga tidak ketahuan. Semoga tidak ketahuan…

Doanya langsung terkabul. Mereka berdua tidak ketahuan. Dua berandal itu tak menyadari keberadaan mereka yang tidak tersorot cahaya lampu. Satu detik setelah bayangan punggung kedua berandal itu memasuki pintu depan, Zeth kembali menggenggam tangan Floe, berusaha sebisa mungkin untuk berlari tanpa menimbulkan suara.

Zeth berlari menuju arah datangnya berandal tadi kembali. Sesuai perkiraannya, siluet Cero langsung tampak sedang tengkurap di tanah. Sepertinya ia tak berhasil kabur jauh. Zeth langsung menghampirinya.

“Cer! Bangunlah! Kita akan keluar dari sini!” Zeth menggerak-gerakkan tubuh Cero.

“Zeth…” Cero membalikkan tubuhnya dengan susah payah. Kini Zeth kurang lebih bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tak mengejutkan, memar dan luka berdarah memenuhi setiap sudut wajah Cero. Zeth merasa tak tega melihatnya.

“Kau… pergilah terlebih dulu. Jangan pedulikan aku.”

“Tapi—”

“Sekujur tubuhku sekarang terasa nyeri luar biasa, Kawan. Aku hanya akan memperlambat. Aduduh…” Cero mendesis kesakitan saat berusaha menggerakkan tubuhnya.

“Tapi… tetap saja!”

“Sudahlah. Cepat pergi sebelum para berandal itu datang. Gadis itu lebih butuh bantuanmu sekarang daripada aku. Jangan lupakan itu.”

Zeth menoleh ke arah Floe. Ia menggigit bibirnya. “Baiklah…”

Seketika, Zeth mendengar suara teriakan para berandal itu dari rumah yang tadi. Tanda bahwa ia harus segera pergi.

“Maaf, Cer.”

Cero hanya menyeringai tipis. “Tak apa. Kerjakan saja bagianmu, pahlawan.”

Zeth berdiri, menggenggam tangan Floe. “Ayo.”

Mereka berdua menyusuri jalanan gelap itu hingga ke pintu masuk gang tadi. Untung saja, saat ditanya Floe mau memberitahu jalan keluarnya.

Namun, Zeth masih belum bisa bernapas lega sekarang. Setelah semua kejadian yang barusan ia lalui, sekarang ia baru sadar akan satu hal yang tadinya sempat ia lupakan.

Harus kuapakan gadis ini sekarang?

“Anu…” Floe berkata lirih.

Zeth berpikir untuk beberapa detik, namun ia tak kepikiran ide sama sekali. Di sisi lain, sepertinya ketiga berandal tadi masih berkemungkinan mengejar mereka. Ia harus cepat memutuskan.

“Baiklah. Kita akan ke rumahku sekarang untuk bersembunyi. Ikuti aku.”

“Apabila demikian, apakah Anda akan senang?” tanya Floe tiba-tiba.

Dia bertanya seperti itu lagi. “I-iya… aku akan senang, kok. Ayo. Sekarang kita harus cepat sebelum terkejar oleh mereka.” Zeth menanggapi pertanyaan aneh itu seadanya. Meskipun masih penasaran, ia tak ingin membuang-buang waktu lebih lama.

Malam seperti ini, angkutan umum sudah jarang lewat—mereka berdua harus berlari-lari kecil untuk sampai di rumah Zeth dengan segera.

Lima belas menit kemudian, mereka berdua sampai di depan rumah Zeth. Daripada dibilang rumah, ini lebih cocok dikatakan sebuah kamar sewaan. Kamarnya tidak terlalu besar—hanya berukuran empat kali empat dan terletak di lantai satu, terpojok di ujung. Zeth hendak membuka pintu, namun baru di saat itu ia teringat sesuatu.

Gawat. Aku lupa dengan tasnya.

Zeth biasanya menyimpan kunci kamar di dalam tasnya. Ia sebenarnya juga memiliki kunci cadangan, tapi kunci itu sekarang berada di dalam kamarnya. Ia mulai gugup dan berkeringat dingin, lantas mulai berjalan mondar-mandir sambil memegangi dagunya.

Kunci cadanganku ada di dalam. Aku tak bisa kembali untuk mengambil tasku sekarang. Lagipula, sekarang ada Floe denganku dengan penampilannya yang seperti itu…

Zeth akhirnya kehabisan ide. Ia terduduk lemas di depan pintu kamarnya, menghela napas panjang. “Maaf, kunci kamarku sepertinya tertinggal di dalam tasku, aku lupa membawanya tadi. Untuk sekarang, kita tidak bisa masuk ke dalam. Duduklah saja dulu,” ujar Zeth saat melihat Floe yang masih berdiri canggung di dekatnya.

Floe pun mulai duduk dengan patah-patah. “Anu…”

“Hm? Apa?”

“Apakah Anda senang dengan ini?” tanya Floe dengan lirih. Ia tak berani menatap langsung wajah Zeth sekarang.

“Ah, pertanyaan itu lagi. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tidak, tidak. Aku tidak akan melakukan yang aneh-aneh. Aku bukan seperti mereka.” Zeth menyeringai, melambaikan tangannya. “Lagipula, jangan memanggilku ‘Anda’. Ya ampun, kita berdua ini seangkatan, lho. Namaku Zeth. Panggil saja begitu.”

Floe mulai memeluk lututnya lesu, tak berani menjawab. Zeth hanya menatap malas bulan yang sedang bersinar separuh di langit malam.

“Yah, tapi kalau kamu bertanya seperti itu, tentu saja aku senang. Aku bisa membawamu keluar dari tempat seperti itu. Usahaku dengan Cero hari ini tidak sia-sia. Oh, kamu belum kuberitahu, ya? Cero itu temanku. Apakah kamu bertemu dengannya kemarin?”

Floe tidak menjawab. Zeth terkekeh kecil, mulai perlahan menutup matanya.

“Heh… ah, sudahlah. Sungguh… hari yang melelahkan…”

Tak lama setelah itu, Zeth mulai mendengkur halus. Floe akhirnya memberanikan dirinya untuk melirik sedikit ke arah Zeth.

Begitu melihat wajah tidur Zeth yang damai, Floe malah bertambah murung. Namun perlahan, ia akhirnya juga tertidur dalam duduknya.

“Zzz… Apa… wah!”

Zeth terbangun dari tidurnya dan langit masih gelap. Ia cukup kaget begitu melihat kepala Floe yang masih terlelap tersandar pada bahunya. Ia perlahan memindahkannya agar kepala Floe tersandar pada dinding. Setelah itu, ia juga baru menyadari ada sesuatu yang mengganjal di kakinya sekarang. Ia juga tak kalah terkejutnya setelah melihatnya.

Kenapa… tasku ada di sini? Memang siapa yang membawanya ke sini?

Saat itu, Zeth benar-benar tak punya ide soal siapa yang bisa menemukan tasnya dan membawanya ke sini. Ia sempat berpikir Cero, namun setelah melihat kondisinya semalam sepertinya itu sulit dipercaya. Ia merogoh isi tasnya. Sepertinya semua isinya baik-baik saja. Dan yang terpenting…

Kring. Kring. Zeth menghela napas lega. Kuncinya ada di dalam. Ia mengecek jam tangannya.

Ah, jam empat pagi.

Zeth membuka pintu kamarnya dan mulai membereskan isi kamarnya. Ia sebenarnya tak tega membangunkan Floe yang masih terlelap. Namun dalam situasinya sekarang, sepertinya tidak ada cara lain.

Berbeda dengan situasi yang menegangkan seperti tadi malam—sekarang setelah semuanya kembali cukup tenang, Zeth menjadi salah tingkah dan malu-malu ketika melihat bagian tubuh atas Floe yang hanya dipakaikan seragam miliknya seadanya—tanpa dalaman juga. Sepertinya aku juga harus melakukan sesuatu soal ini.

“H-hei, Floe. Bangunlah. Hari sudah siang.” Zeth menggoyang-goyang pundak Floe. Di luar dugaannya, Floe langsung bangun dan mengerjap-ngerjap.

“Mmm… A-ah! Ketiduran… Aduh… Maaf…” Floe mendadak berbicara terpatah-patah setelah bertatapan langsung dengan Zeth.

“Yah, maaf sudah membangunkanmu. Sebenarnya aku masih ingin membiarkanmu tidur lebih lama, tapi…”

“M-maaf…”

“Yah, pokoknya, masuklah terlebih dahulu dan bersihkan dirimu. Setelah itu, pakailah ini.” Zeth menyodorkan satu setel baju rumah miliknya dan sebuah handuk. “Aku tahu ini untuk laki-laki dan ukurannya sepertinya tidak pas, tapi hanya ini yang kupunya sekarang, jadi…”

Floe menerimanya dengan wajah cemas. “A-anu …”

“Hm?”

“Apakah dengan ini, Anda-ehm, maksud saya… anu…”

“S-sudahlah, pokoknya jangan banyak tanya sekarang. Masuklah dan bersihkan dirimu, setelah itu kita bisa mengobrol dengan nyaman di dalam. Mengerti? Tenang, aku tidak akan mengintip. Aku akan menunggu di luar.” Zeth membukakan pintu kamar mandi dalam kamarnya.

Floe terpatah-patah berdiri, perlahan melangkah masuk dengan gemetaran. Zeth beranjak keluar dan duduk di luar kamarnya, menutup pintu depan. Sepertinya dia masih ketakutan. Yah, mau bagaimana lagi. Untungnya dia mau menurut.

Lima menit kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka dari dalam. “Kamu sudah selesai?”

Tiga puluh detik tanpa jawaban. Zeth mengulangi pertanyaannya. Floe akhirnya menjawab dari dalam dengan nada lirih dan ketakutan. Zeth hanya bisa geleng-geleng ringan sambil tersenyum sebelum kembali masuk ke kamarnya.

Floe sekarang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan pakaian rumahan milik Zeth. Rambut panjang sebahunya masih belum kering, kaus dan celana milik Zeth yang sekarang ia pakai tampak kebesaran. Sorot matanya yang sayu masih belum berubah, badannya menggigil. Ia menundukkan kepalanya, masih belum Zeth menggaruk kepalanya. Kuminta mandi pukul tiga pagi sepertinya bukan ide yang bagus juga, tapi… sudahlah.

“Duduklah.” Zeth beranjak duduk di atas kasurnya, lantas menepuk-nepuk bagian kasur di sebelahnya. Kegelisahan masih tampak jelas terpapar dari wajah Floe.

“Tenang saja, aku takkan menggigit kok. Jangan sungkan—”

Begitu mendengar perkataan Zeth, raut wajah Floe menjadi semakin ketakutan. Zeth memegangi bibirnya seketika, memalingkan wajah.

Sial, sepertinya aku salah bicara. Fokus, Zeth!

“P-pokoknya, duduklah terlebih dahulu. Kumohon. Aku ingin mengobrol denganmu.”

Dengan kikuk, Floe akhirnya beranjak duduk di sebelah Zeth. Tak ingin situasi canggung berlangsung lebih lama lagi, Zeth berniat memulai pembicaraan.

“Baiklah, mulai saja dari perkenalan diriku. Namaku Zeth, panggil saja begitu. Aku dari kelas A. Aku tinggal di sini sendirian, terpisah dari orang tuaku. Keuangan kami pas-pasan. Di hari libur, aku mengambil kerja sampingan di supermarket di dekat sini untuk menambah uang saku. Hal kesukaanku… yah, sebenarnya aku tak punya sesuatu yang benar-benar kusukai atau semacamnya. Karena kondisi keuanganku yang begini, jadi aku harus belajar mensyukuri apa yang kupunya sekarang. Ha ha… ” Zeth tertawa kecil dalam mengakhiri ceritanya. “Lalu, bagaimana denganmu?”

Beberapa detik kemudian, Floe masih belum menanggapi. Yang ada, malah membuat raut wajah Floe menjadi semakin muram dan gelisah. Zeth kembali menyumpahi dirinya sendiri di dalam hati karena tidak peka dengan situasinya sekarang. Dia jelas punya trauma. Mana mau dia kuajak mengobrol panjang-lebar sekarang.

“E-eng… begini. Aku minta maaf karena sudah memaksakanmu banyak hal sampai sekarang. Sebenarnya, aku ingin menanyaimu beberapa hal, tapi kurasa sekarang bukanlah waktu yang tepat. Untuk sekarang, aku hanya ingin menanyaimu satu hal.” Zeth mengambil jeda sejenak.

“Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”

Floe masih belum menggerakkan bibirnya.

“Apakah kamu ingin kembali ke rumah itu kemarin? Sekarang?”

Masih tanpa jawaban.

“Tapi, sebenarnya, kamu juga boleh tetap di sini, kok. Aku tidak akan mengusirmu. Kamu bisa tinggal di sini sampai situasinya membaik. B-bagaimana?”

Sebenarnya, Zeth memiliki banyak keraguan dalam perkataannya yang barusan. Memang membiarkan seorang gadis asing di tempatnya untuk menginap bukanlah ide yang bagus, namun hanya ini yang terpikirkan oleh Zeth sekarang agar Floe tidak kembali berakhir di gang menyeramkan itu.

“T-tidak tahu…”

Zeth sedikit terkejut saat mendengar Floe akhirnya mengatakan sesuatu. “Hmm?”

“S-saya… tidak… tahu…”

“Tidak tahu apa?”

Floe semakin menundukkan kepalanya. “Semuanya… saya benar-benar… tidak… tahu…”

“Katakan saja. Apapun yang kamu pilih, aku akan tetap membantumu.”

“Bukan… begitu…”

Zeth semakin dibuat bingung. Ya ampun, ini benar-benar sulit.

“Baik… buruk… saya tidak tahu. Tidak bisa memilih. Saya… tidak bisa… memilih…”

Zeth mengerutkan dahinya sejenak, lantas ia terpikir sebuah dugaan. Namun, ia masih harus memastikannya.

“Apakah harus aku yang memilihkannya kepadamu?”

Selang jeda beberapa detik, Floe mengangguk lemah. Zeth merapatkan bibirnya. Begitu, ya.

Dari yang bisa kutangkap sekarang, trauma yang dialaminya sepertinya sudah cukup parah. Kalau diingat lagi, bukankah dia tak pernah berkata ‘tolong aku’ sekalipun? Sepertinya, dia selalu pasrah dengan keadaannya yang seperti ini dan menggantungkannya kepada orang lain—mungkin sama halnya dengan kejadian semalam dengan tiga berandal itu. Aku masih harus mencari tahu lebih banyak lagi…

“Baiklah. Kalau begitu, untuk sementara waktu ini, kamu akan menginap di kamarku ini sampai situasinya membaik. Jangan masuk sekolah dulu, juga jangan keluar dari kamar ini sampai aku pulang nanti. Aku dan temanku akan mencari jalan keluarnya, aku berjanji. Bagaimana…?”

“… Apakah Anda merasa senang dengan itu?”

Zeth mengulas senyum lebar. “Tentu saja. Senang sekali.” Sepertinya sekarang aku paham dengan maksud pertanyaannya itu.

Begitu mendengarnya, Floe langsung mengangkat wajahnya dan menatap Zeth secara langsung. Ia tersenyum tipis. “Terima… kasih…”

Senyuman Zeth menjadi semakin lebar. “Sama-sama. Oh iya, kamu lupa, ya. Aku bukan ‘Anda’, namaku Zeth.”

“… Dimengerti.”

Zeth tertawa kecil. “Ya ampun, tolong jangan terlalu kaku begitu, dong…”

Setelah itu, cahaya matahari pagi sudah mulai terlihat di ufuk timur. Zeth mulai bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia hanya berpesan kepada Floe bahwa persediaan makanan di kamarnya hanyalah beberapa kemasan mi instan—dan ia juga memberitahu Floe cara untuk membuat air panas dengan pemanas air. Setelah itu, ia berangkat dan meninggalkan Floe di kamarnya. Sebenarnya ia masih cemas apakah Floe akan baik-baik saja dan menuruti perkataannya, namun sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu.

Benar. Aku harus segera bertemu kembali dengan Cero dan menyelesaikan semuanya. Sebelum semua masalah ini menjadi lebih parah. Demi kebaikan gadis itu. 

Ya ampun. Tahun terakhirku di SMA ini akan menjadi sedikit lebih sibuk dari biasanya.

              

              

              

              

              

              


Leave a Reply

Your email address will not be published.