From that Rainy Day, let’s Live.

Entri Writchal #1

Tema: Drama, Tragedy, Time Travel, Romance


Gruuuk. Gruuk. 

Langit mendung seperti biasanya. Musim hujan seperti sekarang ini membuat keseharianku jadi muram. Matahari yang bersembunyi di balik awan membuat udara dan angin yang berembus berasa menusuk sampai tulang. Aku bersedekap dengan erat, berusaha mencari kehangatan dalam jaket tebal yang sedang kupakai. 

Aku sedang menunggu bus umum yang sering kunaiki sepulang kerja. Entah mengapa, sepertinya jadwal untuk hari ini terlambat—aku sudah menunggu di halte ini setengah jam lebih lama dari jadwal kedatangan bus itu. Smartphone milikku juga habis baterainya, jadi aku hanya bisa duduk melamun menatapi langit yang kelabu. 

Lamunanku baru terpecah ketika tetes pertama air hujan jatuh mengenai atap halte, membuat bunyi yang cukup nyaring. Setelah itu diikuti jutaan tetes selanjutnya yang membasahi semuanya. Hujan langsung turun dengan derasnya, dan aku pun kembali terhanyut dalam lamunanku seiring indra pendengaranku sedang penuh oleh riuh hujan. 

Pikiranku melayang ke mana-mana. Dalam satu kesempatan, aku mulai mengingat hal hal di masa lalu. 

Benar. Dulu, saat itu kondisinya juga seperti ini. Hujan deras sedang mengguyur tanpa ampun di halte ini. Saat itu… apa yang sedang kulakukan, ya? 

Ah, itu. Saat pertama kali aku berada di halte ini. Sudah berapa tahun yang lalu, ya? Aku sudah lupa banyak detailnya. Saat itu, aku bertemu dengannya. Kalau sekarang mengingatnya, bagaimana aku menyebutnya, ya… 

Itu adalah cinta pertamaku, sekaligus terakhirku. 

Sembari hujan yang terus mengguyur, aku terus membayangkan soal hari itu. Aku masih tidak tahu harus merasa seperti apa soal yang terjadi di hari itu. 

Saat itu, aku bersama kedua orang tuaku sedang belanja bersama ke sebuah swalayan yang tak terlalu jauh dari rumah. Tapi sialnya, hari cepat berubah mendung ketika kami pulang dan kami semua lupa membawa payung. Begitu hujan turun deras dengan cepat, kami segera berteduh di halte bus terdekat. Saat itu, tidak ada orang lain selain kami bertiga di sana. 

Deru hujan yang memenuhi telinga membuatku hampir tidak bisa mendengar apa-apa saat itu—bahkan aku dan kedua orang tuaku harus berteriak untuk bisa berbicara satu sama lain. Karena situasi menjadi seperti ini, aku memutuskan untuk tidur sejenak saat itu—orang tuaku yang akan menjaga barang bawaan kami. 

Namun begitu aku bangun, ternyata kedua orang tuaku malah sudah terlelap di tempatnya masing-masing. Begitu kupikir sekarang, perbuatan itu sebenarnya cukup lalai juga, ya. Setelah itu, barulah itu terjadi. Pertemuan yang ditakdirkan, yang masih kuingat sampai sekarang. 

Yah, sebenarnya itu bukan sebuah pertemuan juga. Lebih ke, aku hanya seenaknya mencuri pandang dari kejauhan. Seorang gadis yang sedang berjalan perlahan menembus hujan tanpa menggunakan payung di trotoar. Saat itu, aku baru saja bangun dari tidurku di halte itu dan sejak tatapanku menangkap sosoknya, seluruh rasa kantukku langsung hilang. Seperti aku terbiuskan oleh parasnya saat itu. 

Ia mengenakan hoodie yang tudungnya dinaikkan, dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku hoodie tersebut. Ia berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya, rambut hitam panjangnya yang terurai basah kuyup. Ia hanya menatap trotoar di depannya dengan lesu. Namun, justru itu yang sangat menarik perhatianku di saat itu. Parasnya yang memesona nan misterius saat itu bak sihir yang langsung membuatku jatuh hati seketika. 

Pada saat itu, aku hanya melamun dan memerhatikan sosoknya dari tempat dudukku tanpa bergerak sedikitpun. Namun, yang terjadi setelah itu masih belum pernah kulupakan hingga hari ini. 

Di saat aku masih melamun memandangi gadis itu, aku sama sekali tidak menyadari banyak hal di sekitar. Lampu lalu lintas masih dalam keadaan hijau, meskipun kendaraan yang lewat cenderung sepi. Gadis itu menyeberang jalan begitu saja tanpa menoleh ke kanan-kiri terlebih dahulu ataupun memerhatikan lampu lalu-lintas. Lalu… 

Ah. Aku benar-benar tidak ingin mengingatnya. Tapi apapun yang kulakukan, ingatan ini tak pernah bisa hilang dari dalam kepalaku. 

Begitulah kisah cinta pertamaku berakhir tragis begitu saja. Setelah itu, aku terus tumbuh besar tanpa pernah beruntung dalam kisah cintaku. Semua hubungan yang kujalani maupun itu di sekolah, kuliah, ataupun di kantor tempatku bekerja tak pernah ada yang berhasil. Hingga saat ini, aku terus berharap agar bisa tahu bagaimana rasanya untuk berada di dalam sebuah hubungan romantis. 

Keadaan keluargaku juga tidak membantu. Memang saat aku masih kecil, kedua orang tuaku masih seperti orang tua pada biasanya yang sayang kepada anaknya. Namun, semuanya berubah ketika aku mulai memasuki jenjang sekolah yang semakin tinggi. Dengan nilai pelajaranku yang cukup bagus, kedua orang tuaku jadi semakin memasang ekspektasi kepadaku. Kamu harus jadi ini, kamu harus jadi itu. Aku sampai bosan mendengarnya. Mereka jadi sering memarahiku hampir setiap hari, bahkan terkadang sampai menggunakan kekerasan. Aku bukannya menyalahkan mereka, tapi keluargaku memang dulunya kurang berkecukupan. Maksudku, siapa yang tidak ingin anaknya yang pintar dapat bekerja dengan gaji besar yang dapat membantu keuangan keluarganya yang hanya pas-pasan? 

Hingga sekarang, hubunganku dengan kedua orang tuaku masih tidak akur dan sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun. Aku tidak berhasil memenuhi ekspektasi mereka dan hanya bisa menjadi pegawai kantoran. Setiap kali aku mengirim uang bulanan kepada mereka, aku selalu mengirimnya dengan berat hati. Aku mungkin anak yang tidak baik di pandangan orang lain, tapi aku sendiri juga jujur tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa melawan balik, dan aku juga tetaplah selamanya seorang anak. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. 

Huaaaah. 

Aku menghela napas panjang. Lumayan lama juga aku bernostalgia soal masa lalu. Tiap kali aku duduk di halte ini dan hujan mulai mengguyur, aku selalu seperti ini. Hanya bisa melihat kembali ke masa lalu sembari tersenyum takzim soal semuanya yang sudah terjadi. Sekarang pun sama saja. Sekarang tinggal menunggu kedatangan bus yang sudah terlambat hampir sejam untuk sekarang. 

“Hei, kamu.”

Aku terkejut. Tiba-tiba ada suara seseorang di telingaku. Aku refleks menoleh ke kanan-kiriku. Tidak ada siapa-siapa. 

“Iya, kamu.” 

Aku refleks bergeser dari tempatku duduk. Aku juga langsung melihat ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa? 

“Kamu lihat ke mana?” 

Sekarang, aku hanya bisa mematung di tempatku duduk. Keringat dingin mulai mengucur deras di sekujur tubuhku. Aku benar-benar tidak tahu asal suara ini datang dari mana, namun jelas-jelas tidak ada satu orangpun di sekitarku sekarang dan suara misterius ini terdengar sangat jelas di tengah deru hujan ini. 

“Tak perlu untuk panik. Aku bukan di sini untuk menakutimu.” 

Aku mulai memberanikan diri. “S-siapa Anda?” tanyaku dengan lirih. 

“Siapa? Aku hanyalah suara dalam kepalamu. Kamu tak perlu tahu apapun soal diriku. Aku hanya mampir untuk bertanya padamu satu hal.” 

Aku semakin bingung dengan suara misterius ini. Rasanya sulit untuk memahami apa yang terjadi pada diriku sekarang, namun lebih baik aku tidak mengambil langkah gegabah— ikuti saja alur pembicaraannya untuk sekarang. Aku menangkupkan kedua tangan di daguku. 

“Baiklah, apa yang ingin Anda tanyakan?” 

“Katakan, wahai manusia. Andaikan waktu bisa diputar kembali, apa yang ingin kamu lakukan dengan itu?” 

Oke, sekarang aku benar-benar bingung. Namun aku tetap berusaha untuk menjaga napasku agar tetap normal dan tidak panik. “Andai waktu bisa kembali, ya. Kurasa tidak ada,” jawabku sekenanya. 

“Oh? Tidak ada? Mengapa begitu?” 

“Yah, lagipula aku yang sekarang dibentuk dari aku yang berasal dari masa lalu. Aku sudah merasa cukup dengan kehidupanku yang sekarang. Apabila masa lalu itu berubah, justru aku tidak akan menjadi aku yang sekarang, kan?” 

“Hm, menarik. Akan tetapi, apakah kamu yakin dengan itu?” 

“Ya, aku cukup yakin.” 

“Kamu yakin tidak memiliki penyesalan? Atau apapun itu di masa lalu?” 

Setelah suara itu menyinggung soal ‘penyesalan’, aku langsung teringat oleh sesuatu. “Yah, kalau penyesalan, mungkin ada.” 

“Kalau begitu, kembali lagi. Andai waktu bisa diputar kembali, apakah kamu ingin memperbaiki semuanya? Penyesalan yang kamu miliki sekarang ini?” 

Aku tak habis pikir. Perkataan suara misterius ini dari tadi tidak masuk akal, namun entah mengapa rasanya aku tidak bisa mengabaikannya. 

“Maksudmu, aku akan kembali ke masa lalu, begitu? Bukannya itu tidak mungkin?” “Hm? Tidak mungkin? Mungkin, kok.” 

Aku jadi semakin tidak percaya. Perasaanku semakin gelisah. 

“Aku bisa membuktikannya. Coba kamu pejamkan matamu sekarang.” 

Aku semakin takut, tapi aku sepertinya tak punya pilihan lain untuk saat ini. Kupejamkan mataku. 

“Sekarang, buka matamu.” 

Sebelum kubuka mataku, aku merasakan sesuatu yang sangat ganjil. Suara hujan deras yang dari tadi memenuhi telingaku tiba-tiba menghilang begitu saja. Perlahan kubuka mataku. 

Untuk sekilas, aku tidak bisa memercayainya. Hujan deras yang mengguyur sudah hilang, digantikan dengan matahari yang sudah bersinar dengan seketika. Hanya tersisa beberapa butir air yang menetes dari atap halte. Trotoar di sekitarku juga sudah hampir kering. Apa yang sebenarnya barusan terjadi? 

“Barusan, kamu melompat ke masa depan.” 

Aku terdiam sesaat setelah mendengar kalimat itu. “Eh?” 

“Sekarang, dunia sudah berjalan satu jam setelah kamu memejamkan mata tadi. Hujan sudah berhenti setengah jam yang lalu.” 

“Tunggu, tunggu dulu!” Aku memerlukan waktu sejenak untuk mencerna seluruh informasi ini di dalam kepalaku. Yang benar saja? Aku baru saja melakukan perjalanan waktu? 

“Tidak, itu tidak mungkin! Perjalanan waktu itu tidak mungkin terjadi. Itu mustahil.” “Lantas, kenapa? Kamu masih tidak percaya?” 

“Tentu saja tidak!” Apa maksudmu aku percaya—” 

Aku menghentikan perkataanku begitu melihat seseorang di trotoar yang sedang lewat menatapku dengan tatapan heran. Aku langsung memasang senyum canggung. Ah, benar juga, ya. Aku jadi terlihat seperti orang gila, tidak ada orang lain di sekitarku sekarang untuk diajak bicara. 

Setelah orang tadi lewat, aku melihat jam tanganku. Untuk sesaat, aku tidak bisa memercayai apa yang sedang kulihat. Barusan aku benar-benar melompati waktu. 

“Sudahlah. Kembali lagi pada pertanyaan awalku. Penawaran yang terakhir. Apakah kamu ingin kembali ke masa lalu?” 

Aku mendadak bimbang. Aku beranjak duduk dengan gelisah, menangkupkan kedua tangan di bawah daguku. 

“Hei.” 

“Bagaimana?”

“Katakan padaku. Mengapa kau tiba-tiba datang kepadaku di saat seperti ini dan melakukan semua ini?” 

“Aku tidak akan menjawabnya. Aku datang hanya untuk memberimu tawaran ini saja.” 

Aku mendecak kesal dalam hati. Sial, aku tetap tidak bisa menggali informasi darinya sama sekali. 

“Apabila aku kembali ke masa lalu, lalu apa yang akan terjadi? Apakah aku akan kembali ke masa sekarang ini? Atau—” 

“Sederhana. Kamu akan menjalani kehidupan baru setelah kamu kembali ke masa lalu.” 

“Berarti, aku takkan bisa kembali lagi dan harus meninggalkan semua kehidupanku sekarang ini?” 

“Benar. Yang akan berpindah ke masa lalu hanyalah jiwamu semata.” 

Aku mulai menimbang-nimbang. Apabila aku harus meninggalkan kehidupanku yang sekarang, maka… 

Tidak, tunggu. Ini pilihan yang mudah bagiku. Bahkan, aku sebenarnya tidak perlu memikirkannya sama sekali. 

Kau tahu? Persetan dengan kehidupanku yang sekarang. Aku yang tidak pernah beruntung dalam percintaan, hubungan dengan orang tuaku yang tak kunjung membaik, dan kehidupan yang membosankan. Siapa yang menginginkan semua itu? Yang jelas tidak denganku. 

Apabila memang benar ada kesempatan untuk mengulang dan memperbaiki semuanya kembali, mengapa tidak? 

Demi keluargaku. Demi gadis itu. Juga tentunya, demi diriku sendiri. 

“Hei.” 

“Jadi, bagaimana?” 

“Baiklah. Aku akan terima tawaranmu. Berarti, kau tahu harus membawaku ke mana, kan?” 

“Tak perlu cemas. Penyesalanmu, isi hatimu. Aku mengetahui semuanya.” Aku tersenyum canggung. “Berarti, kau sudah tahu jawabanku dari awal, ya.” “Sekarang, pejamkan matamu.” 

Aku menghela napas. Aku sebenarnya tidak perlu banyak persiapan, toh aku juga akan meninggalkan semuanya yang ada di sini. 

Aku pun memejamkan mataku. “Baiklah, sekarang aku siap.” 

“Mulai sekarang, jalanilah hidupmu dengan sepenuh hati. Takkan ada lagi kesempatan ketiga. Jangan biarkan ada penyesalan lagi di antaramu, wahai manusia.”

Dalam seketika, aku merasakan perubahan pada tubuhku. Suara hujan deras langsung kembali memenuhi telingaku. Aku pun membuka mataku. 

Suasana ini. Semuanya persis seperti dalam ingatanku. Aku sedang duduk menunggu hujan reda di halte ini bersama kedua orang tuaku, dua puluh tahun yang lalu. Aku sekarang berada dalam tubuh kecilku yang masih berusia lima belas tahun. Kedua orang tuaku sedang terlelap di sebelahku, dengan kantong belanjaan di sebelah mereka. Aku menepuk dahi sembari tersenyum canggung. Aku terus memandangi wajah tidur mereka berdua sambil senyum-senyum sendiri. Ya ampun, sungguh aku rindu kedua orang tuaku yang seperti ini. 

Mendadak aku teringat sesuatu. Aku langsung menggeleng-gelengkan kepala. Tidak, prioritasku yang sekarang bukanlah ini. Ada hal penting lain yang harus kulakukan. Salah satu alasan terpentingku untuk datang ke masa ini. 

Demi mencegah sebuah tragedi yang akan terjadi tepat di depan mataku sendiri. 

Aku pun duduk dengan gelisah sambil memerhatikan trotoar tempat gadis itu akan lewat. Aku tidak tahu tepatnya kapan gadis itu akan lewat, tapi aku tak boleh melewatkannya. Hanya inilah satu-satunya kesempatanku, seperti yang suara misterius itu katakan kepadaku. 

Lima belas menit menunggu, akhirnya aku bisa melihat gadis itu di kejauhan. Ia sedang mengenakan hoodie, persis seperti dalam ingatanku. Ketika aku bisa melihat sekelebatan wajahnya di bawah derasnya hujan, aku tak bisa memalingkan wajahku darinya. 

Misterius dan menawan. Hanya itu kata yang bisa terpikirkan dalam kepalaku dalam momen sesaat itu. 

Namun kembali lagi, aku tidak bisa berlarut-larut dalam nostalgia sekarang. Aku harus mencegah gadis itu dari melintasi persimpangan jalan dalam waktu dekat. 

Ketika gadis itu sudah berada cukup dekat dengan halte, aku pun berdiri dan berjalan keluar dari naungan halte, membiarkan berjuta tetes air hujan yang dingin mengguyurku begitu saja. Aku berdiri di hadapan gadis itu, membuat langkah gadis itu terhenti. 

Agar tidak kalah oleh derasnya hujan, aku mengeraskan nada bicaraku. “Kakak, apakah kakak tidak ingin berteduh di halte dulu? Nanti kakak bisa sakit, lho.” 

Untuk beberapa detik yang canggung, gadis itu hanya diam saja. Kemudian, ia lanjut berjalan melewatiku begitu saja tanpa berkata apapun. Aku pun berbalik, meraih tangannya. 

“Ayo Kak, sebaiknya kita berteduh di halte dulu—” 

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, gadis itu langsung melepaskan tanganku dan langsung berlari. Ini di luar dugaanku, dan aku langsung panik. 

“Hei! Kak! Tunggu! Hei! Tolong, berhenti! Berhenti!” 

Aku terus berteriak menyuruhnya untuk menghentikan langkahnya sembari mengejarnya. Sialnya, trotoar yang tergenang air dan licin sama sekali tidak membantuku dan gadis itu masih bisa berlari dengan cepat. Begitu ia sampai ke persimpangan jalan, ia berbelok untuk menyeberang jalan. Dalam sepersekian detik, ini membuat panikku bertambah seratus kali lipat.

Sesuai dengan ingatanku, hari ini suasana jalanan dan trotoar memang cukup sepi tanpa banyak kendaraan dan orang yang berlalu-lalang di tengah hujan deras ini. Namun entah mengapa oleh suatu benang takdir, saat itu ada sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi tepat di saat gadis itu sedang menyeberang jalan. Yah, tapi apa boleh buat— 

lampu lalu lintas memang sedang berwarna hijau saat itu. 

Sialnya, itu juga sama sekali tidak berubah untuk kali ini. 

Tepat ketika aku melihat kilauan lampu mobil di depan yang samar-samar di tengah guyuran hujan mendekat dengan kecepatan tinggi, kami berdua masih berada di tengah jalan. Apabila gadis itu tak menghentikan langkahnya, mobil itu pasti akan menabraknya dengan telak, sama seperti dulu. Akhirnya, aku pun tak punya pilihan lain dalam sepersekian detik yang tersisa ini. 

“BERHENTI!!!” 

Dengan usaha terakhir, aku pun melompat ke depan sejauh yang kubisa, mendorong gadis itu dengan paksa ke seberang jalan. Untuk sekelebatan juga, aku bisa melihat cahaya lampu mobil yang melaju kencang itu hanya beberapa senti dari wajahku. 

Kalau ini memang takdir yang harus kuambil, maka biarlah. Aku sudah merelakannya. Salah satu tujuanku bisa tercapai—menyelamatkan gadis itu. Di sisi lain, aku juga sebenarnya menyesal karena tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan kedua orang tuaku di masa ini. Tapi biarlah, toh juga hubunganku dengan mereka di masa ini masih baik-baik saja. Mereka tak perlu untuk berubah jadi membenciku di masa depan kelak. 

Selamat tinggal, dunia. 

… 

Aku membuka mataku. 

Tunggu dulu, ini bukan alam baka atau apapun itu. Ini… rumah sakit? 

Aku mengerjap-ngerjap, menoleh ke arah sekelilingku. Dinding putih, bau yang khas dan peralatan medis di sekelilingku yang berdesing dan mengeluarkan bunyi-bunyi kecil. Tidak salah lagi, ini memang rumah sakit. Aku memasang senyum tipis. Berarti, aku memang belum mati, ya. Syukurlah. 

Sembari memerhatikan sekitar, aku tak melihat keberadaan orang. Hanya peralatan medis yang berdenyut dengan beberapa selang yang tersambung ke tubuhku. 

Tubuhku masih terasa lemah, namun aku langsung mencoba untuk berubah ke posisi duduk. Barulah pada saat itu, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. 

Aku sama sekali tidak bisa merasakan tubuh bagian bawahku. 

Mau bagaimanapun kugerakkan, kedua kakiku enggan merespon. Dalam benakku, sempat tebersit sebuah pemikiran yang tidak mengenakkan soal ini. Aku buru-buru menggelengkan kepala, berusaha untuk menyingkirkan pemikiran itu. Pertama, aku harus mencoba untuk—

Brak! 

Aku mengaduh kesakitan. Begitu aku memaksakan diri untuk duduk, kedua kakiku tetap enggan untuk merespons dan hasilnya aku pun terjatuh dari kasur, selang-selang yang menempel padaku juga lepas. Darah mulai mengucur dari luka tusukan selang infusku. 

Baru beberapa saat kemudian, pintu dibuka dan beberapa orang berjalan masuk dengan terburu-buru. Di antara mereka ada beberapa orang perawat dan seorang dokter. Mereka semua menatapku untuk beberapa detik, baru kemudian mereka semua tersenyum dan sigap membantuku berbaring di tempat tidur dan memasang infusku kembali. Aku masih tidak bisa merasakan kakiku. Ah, sial. Sepertinya memang… 

“Permisi… sebenarnya apa yang terjadi pada saya, ya?” tanyaku. 

“Oh iya, maaf saya belum memberitahumu soal ini dari tadi.” Pak Dokter mengambil tempat duduk di sebelah tempat tidurku. “Namamu… Poe, ya?” 

“I-iya…?” jawabku dengan ragu-ragu. 

“Jadi Dik Poe, kamu sudah tak sadarkan diri selama seminggu lebih. Kamu terlibat dalam kecelakaan mobil. Untuk kondisi tubuhmu… kamu menderita gegar otak ringan dan patah tulang yang parah pada kedua kakimu. Kami sudah mencoba melakukan operasi secepatnya untuk mencegah skenario terburuk, tapi sangat disayangkan…” 

Seketika, rasanya seperti sebuah petir menyambar sekujur tubuhku dalam sekejap. Aku mulai berkeringat dingin, namun aku tetap berusaha menenangkan diri. Jadi, sepertinya firasatku memang benar. Aku sudah merelakan apabila aku memang akan mati saat itu. Tapi untuk sekarang, ketika aku harus terus hidup dengan kondisi seperti ini, rasanya jadi agak… 

“B-begitu, ya,” jawabku lirih. 

“Maafkan kami… Kerusakan pada tulang kakimu sepertinya juga merusak sistem saraf keseluruhan pada kakimu juga, sehingga bisa dibilang bahwa kedua kakimu sekarang sudah tidak bisa digerakkan lagi. Sebenarnya, kami hendak mempertimbangkan tentang amputasi kepada kedua orang tuamu, tapi…” 

Setelah Pak Dokter mengatakan itu, semuanya di dalam ruangan langsung terdiam dan memasang wajah yang semakin muram dari sebelumnya. Firasatku jadi semakin tidak enak. 

“Eh… eh? M-memangnya… ada apa dengan kedua orang tuaku?” tanyaku dengan penuh keraguan. 

Pak Dokter berlutut, menatapku lurus. Ia menghela napas panjang. “Tolong dengarkan, ya, Dik. Saya tahu kamu baru saja bangun. Tapi saya pikir, lebih baik untuk tidak memberitahumu soal itu sekarang—” 

“Tidak apa-apa, Dok,” potongku. 

Semuanya di dalam ruangan terdiam seketika. Aku menelan ludah. Aku ini bukanlah anak kecil. Aku kurang lebih sudah tahu apa yang terjadi dari gelagat mereka yang seperti ini. 

Pastinya bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk didengar seorang bocah lima belas tahun di hadapan mereka sekarang ini. 

“Sesuatu pasti terjadi kepada kedua orang tuaku, kan? Beritahu saja kepadaku, sekarang.” 

“E-eh? Tapi…” 

“Tidak apa. Beritahu saja,” kataku sambil meyakinkan Pak Dokter. 

Pak Dokter pun menghela napas. Ia menoleh ke arah para perawat yang mendampinginya di ruangan ini, dan mereka semua saling mengangguk kecil satu sama lain. 

“Kedua orang tuamu… meninggal dalam kecelakaan yang sama menimpamu di hari itu.” 

Aku menelan ludah, sekujur tubuhku merinding. Tidak, kau tidak harus seperti ini, Poe. Aku seharusnya sudah menduganya, tapi tetap saja… 

“Pengemudi mobil jadi hilang kendali setelah menabrakmu, lalu… kedua orang tuamu…” 

Pak Dokter berhenti di tengah kalimatnya untuk sejenak. “Dan yang sangat disayangkan, kami tidak bisa menyelamatkan keduanya.” 

Aku menghela napas panjang. Meskipun aku sudah tahu dari gelagatnya, tapi mendengarnya langsung seperti ini tetap membuatku sedih. Dadaku terasa sakit. Sangat sakit. Aku meremas dadaku dengan segenap kekuatan di tanganku yang masih lemas. 

Tanpa sadar, aku langsung meneteskan air mata. Aku seharusnya tak perlu menjadi sesedih ini apabila mereka berdua menghilang dari hadapanku, tapi kenapa? Apakah karena aku berada dalam tubuh remaja ini? Apakah karena aku ini anak mereka? Atau… 

Apakah aku sebenarnya masih sayang kepada mereka berdua selama ini? 

Apapun itu, yang terjadi sudah terjadi. Suara misterius itu juga mengatakan, ini adalah kesempatanku yang kedua untuk memperbaiki masa laluku—takkan ada lagi lebih dari ini. Semua ini adalah konsekuensi dari pilihan yang sudah kuambil. 

Jadi, sekarang apa? Tak lama setelah aku pergi ke masa ini, aku sudah kehilangan kedua orang tua dan kedua kakiku. Sekarang, apa lagi? 

Ah. Aku langsung teringat hal lain yang tak kalah pentingnya. 

“Gadis itu! Anu… kalau tidak salah, seharusnya ada seorang gadis di sana pada saat itu. Apakah Anda tahu sesuatu tentangnya?!” tanyaku dengan terburu-buru. 

“Eh, gadis? Oh ya, gadis itu. Ah, soal dia, ya… uh…” 

“Ada apa, Pak?” 

“Dia… ada di ruangan lain. Kami di sini juga sedang merawatnya.” 

Tunggu. Jadi, gadis itu masih hidup? 

“Apakah dia sedang dirawat? Apakah dia juga terluka sepertiku?” 

Pak Dokter menggaruk kepalanya sedikit, memalingkan tatapannya. “Bukan, dia sebenarnya tidak terluka parah dari kecelakaan itu. Hanya saja…”

“Hanya saja?” 

“Dia jadi punya masalah dengan kondisi mentalnya, dan kami sedang berusaha untuk memberinya dukungan…” 

“Kondisi mental? Ada apa memangnya?” 

“Uh… begini.” Pak Dokter mendekatkan kepalanya, dan para perawat yang lain sedikit mundur. Ia berbisik ke telingaku. 

“Sebenarnya, ia sudah mencoba untuk bunuh diri beberapa kali. Beruntungnya kami bisa mencegahnya untuk sejauh ini, dan kami sekarang sedang memberinya perawatan dan terapi.” 

Seketika, aku tidak bisa bernapas untuk beberapa detik. “B-bunuh diri?” 

Pak Dokter kembali ke posisinya, berdeham. “Begitulah. Kalau ada kabar lebih lanjut, kami juga akan mengabarimu—” 

“Tolong bawa aku bertemu dengannya!” potongku cepat. Semua orang di dalam ruangan langsung memasang wajah terkejut. 

“Bertemu? Memang seharusnya boleh-boleh saja, tapi saya sangat tidak menyarankan untuk bertemu dengannya sekarang,” jelas Pak Dokter. 

“Kenapa?!” 

“Begini, Dik Poe. Masalah pada kondisi mental seseorang itu masalah yang cukup serius. Tidak seperti sakit biasa di mana kamu bisa menjenguknya kapanpun—” 

“Tidak ada hubungannya!” potongku lagi, kini dengan nada bicara yang lebih tinggi. Iya, aku sudah tahu. Aku ini tidak semuda yang Anda lihat, Dok. 

Pak Dokter menghela napas sejenak. “Begini, Dik. Saya beritahu kamu saja untuk sekarang.” 

Kemudian Pak Dokter kembali mendekatkan kepalanya kepadaku, berbisik. “Kedua orang tua gadis itu… mereka bunuh diri setelah kecelakaan itu menimpa putri mereka.” 

Begitu mendengarnya, aku membeku seketika. Aku menelan ludah. 

Sungguh… apa saja yang terjadi selama aku tertidur di sini? 

“Tapi, tetap saja, Dok.” Aku meremas permukaan kasur. “Tolong, biarkan saya melihat gadis itu sekarang. Saya mohon.” 

“… Kamu dari tadi bersikeras untuk bertemu gadis itu. Apakah kamu mengenalnya?” “Tidak, tapi hanya saja…” 

Aku tidak bisa bilang soal suara misterius dan segala hal tentang melompati waktu yang aku lakukan. Ini sangat penting bagiku sekarang. 

Kalau sampai terjadi apa-apa pada gadis itu, maka lenyaplah segala alasan aku harus kembali ke masa ini dalam hidupku.

Tanpa sadar, aku sudah menundukkan kepala dan suaraku mulai bergetar. “Saya mohon, Dok. Saya hanya butuh untuk melihatnya sekarang. Hanya melihat wajahnya saja, itu sudah cukup.” 

Suasana di dalam ruangan berubah hening untuk beberapa saat. 

“Huft, baiklah. Kami bisa mengantarmu ke depan ruang kamarnya untuk sekarang. Tapi, hanya untuk melihatnya saja, ya. Dari jendela kamarnya seharusnya sudah cukup. Bagaimana?” 

“…. Baiklah.” 

Akhirnya, para perawat dan Pak Dokter mulai membantuku ke posisi duduk, kemudian memindahkanku ke sebuah kursi roda. Tubuhku masih lemas setelah tidur berhari hari, jadi aku masih tidak bisa banyak bergerak. Salah seorang perawat mendorong kursi rodaku untuk keluar dari ruangan. 

Setelah menyusuri beberapa lorong rumah sakit yang cukup ramai, aku pun sampai di depan pintu kamar rawat gadis itu. Dari jendela pintunya, aku bisa mengintip ke dalam ruangan. Tidak banyak yang bisa kulihat, namun aku bisa melihatnya dari sini. 

Sosok gadis itu. Ia sekarang sedang terduduk di kasurnya dengan mata terpejam. Ekspresi wajahnya tenang—sepertinya ia sedang tidur. Terdapat balutan perban di kepala dan lengannya. 

Wajah sayu itulah hal yang tak pernah kulupa darinya sampai sekarang. Begitu melihatnya untuk sekelebat, rasanya seperti sebagian besar beban dari pundakku lepas begitu saja. Tanpa sadar, aku sudah tersenyum lebar. 

Begitu, ya. Gadis itu benar-benar masih hidup. 

Pengorbananku tidak sia-sia. Masih ada harapan. 

Aku masih bisa memperbaiki masa laluku. 

… 

Dua minggu telah berlalu sejak hari itu. Aku mulai menjalani beberapa program rehabilitasi di rumah sakit untuk mulai membiasakan diri beraktivitas dengan kursi roda. Aku bisa berlatih untuk beberapa aktivitas seperti makan, menggerakkan kursi roda dan yang lainnya. Namun, kegiatan-kegiatan yang tidak bisa kulakukan sendiri seperti membersihkan diri, 

buang air, dan sebagainya masih harus memerlukan bantuan perawat. Sejujurnya, aku masih malu saat pertama kali harus diurus seperti anak kecil, namun lama-kelamaan aku juga sudah mulai terbiasa—toh aku juga nantinya harus membiasakan ini untuk seterusnya. 

“Selamat pagi, Dik Poe.” 

“Oh, selamat pagi juga, Pak Dokter.” 

Aku sedang menikmati suasana pagi hari dari kamarku. Pak Dokter datang dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.

“Jadi, saya punya kabar baik untukmu.” 

Aku menaikkan sebelah alis. “Hm?” 

“Berhubung proses pemulihan dan terapinya berjalan dengan cukup lancar, kondisi gadis itu sudah mulai membaik. Kamu sudah bisa bertemu dengannya sekarang. Dia masih ada di kamarnya.” 

Seketika, mataku menjadi berbinar-binar setelah mendengarnya. “Sungguh? Sekarang?” Pak Dokter mengangguk. “Mau saya antar?” 

“Ya!” jawabku dengan cepat. 

Akhirnya, hari yang ditunggu telah tiba. 

Kami berdua menyusuri lorong-lorong rumah sakit seperti dulu. Aku sudah mulai cukup terbiasa dengan kursi roda ini, meskipun untuk berpindah ke tempat yang lebih tinggi ataupun rendah membutuhkan usaha lebih dan harus ekstra hati-hati. 

Pada akhirnya, kami berdua sampai di depan pintu kamar gadis itu. Sebelum membuka pintu, Pak Dokter mengingatkanku. 

“Tolong, sebisa mungkin hindari topik pembicaraan yang bisa memantik trauma miliknya. Mengerti, Dik?” 

Aku mengangguk dengan yakin. “Tentu saja.” 

Tanganku memutar knop pintu. Aku mulai masuk ke dalam dengan perlahan. 

Aku akhirnya bisa melihat gadis itu dari dekat. Ia sepertinya sedang melamun, tatapannya yang sayu menerawang ke luar jendela. Sepertinya dia belum menyadari keberadaanku di sini. 

“Permisi… maaf mengganggu.” 

Gadis itu menoleh ke arahku. Kedua mata kami saling bertemu untuk beberapa detik. Aku hanya mengulas senyum simpul. 

Dia… terlihat baik-baik saja. Akan tetapi, mungkin saja… 

Aku tertawa kecil. “Ada apa? Kenapa kamu melihatiku terus dari tadi?” 

Gadis itu masih menatapku seolah tidak percaya apa yang sedang ia lihat. “Kamu… kamu…” 

“Ah, iya. Kamu masih ingat wajahku? Lalu… eh?” 

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, gadis itu sudah bercucuran air mata. Ia masih menatapku seolah tidak percaya, namun air matanya mengalir deras dari kedua kelopak matanya. Kemudian, ia menundukkan kepalanya. 

“Syukurlah…”gumam gadis itu lirih.

Gadis itu terus terisak di kasurnya. Aku mendorong kursi rodaku mendekat, hendak mengelus punggungnya. Namun ujung-ujungnya aku mengurungkan niatanku—suasananya masih sangat canggung dengan keberadaan Pak Dokter di belakangku. 

Aku menoleh ke arah Pak Dokter di belakangku. “Maaf, Pak Dokter. Apakah aku boleh mengobrol empat mata saja dengannya?” 

“Eh? Tapi…” 

Aku mengedipkan sebelah mata, tersenyum meyakinkan. “Tak perlu cemas. Serahkan saja kepadaku, Dok.” 

Pak Dokter menghela napas. “Kamu ini… baiklah. Kali ini, saya serahkan kepadamu. Tapi, tolong jangan lupa apa yang saya peringatkan tadi. Silakan gunakan waktumu sesukamu.” Pak Dokter pun kemudian meninggalkan ruangan, menyisakan kami berdua di dalam. 

Gadis di sebelahku ini masih belum berhenti menangis. Setelah Pak Dokter meninggalkan ruangan, aku pun memberanikan diri untuk mengelus punggung gadis itu. Setelah aku mengelus-elus punggungnya untuk sekitar lima menit, ia baru mulai berhenti terisak. Firasatku benar. Dia mungkin terlihat baik-baik saja dari luar, namun trauma seperti yang sedang ia alami seharusnya tidak bisa sembuh secepat itu. 

“Sudah merasa baikan?” tanyaku. 

Gadis itu mengangguk perlahan sambil mengusap wajahnya. 

“Bagaimana kalau kita mengobrol dulu? Mulai dari perkenalan. Namaku Poe. Kalau kamu?” 

Gadis itu masih menundukkan kepalanya, enggan menatapku secara langsung. 

“Tak apa. Aku takkan menggigit, kok. Mari kita mengobrol dulu. Mumpung Pak Dokter sudah membolehkanku berkunjung ke sini.” 

Ia masih enggan menjawab. Aku harus tetap bersabar. 

“Uhm, halo?” 

“M-maaf…” 

Oh? Akhirnya gadis itu mengeluarkan suara. 

“Iya?” 

“Maafkan… aku…” 

Aku menghela napas. “Aku bertanya namamu, bukan menyuruhmu untuk meminta maaf.” 

Setelah aku berkata seperti itu, gadis itu menjadi salah tingkah. “Eh… maafkan ak— maksudku, anu…” 

“Namamu,” potongku cepat. 

“Eh… ya! N-nama, ya… anu… saya… namaku… V-Vaye…”

Melihat gelagatnya secara singkat, aku jadi kurang lebih paham beberapa hal. Aku mulai memikirkan cara berbicara yang cocok untuknya sekarang. 

“Vaye. Sebenarnya apa yang membuatmu ketakutan seperti ini? Apakah kamu takut denganku?” 

“S-soal itu… anu…” 

“Atau… kamu masih sering kepikiran soal hari itu?” 

Seketika, Vaye langsung mematung. Ekspresi wajahnya langsung berubah muram. 

Maaf, Pak Dokter. Gadis ini mungkin terlihat stabil dan baik-baik saja dari luar, namun sebenarnya ia jelas masih memiliki trauma soal hari itu. Begitu aku menyinggungnya, ia langsung menjadi seperti ini. 

Aku mengepalkan tanganku. Kalau ada seseorang yang ia butuhkan untuk memberinya motivasi, itu adalah aku. Aku harus membicarakan ini dengannya. 

“Pastinya, ya. Memang, apa yang terjadi hari itu bisa jadi sangat sulit dilupakan bagimu. Kamu pasti melihat pemandangan yang sangat mengerikan pada hari itu.” 

Vaye menjadi gemetaran, kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri dengan erat. Ia mulai terpatah-patah dalam suaranya. Aku juga langsung mengambil tindakan. Dengan payah, aku berpindah dari kursi rodaku ke atas kasur dengan menggunakan kedua tanganku, dan sekarang aku berhadapan dengan gadis itu. Aku langsung mencengkeram kedua pundaknya. 

“Vaye. Maafkan aku. Aku seharusnya tidak mengejarmu pada hari itu dan menyebabkan semua ini—” 

“T-tidak! Semua ini adalah salahku! Salahku…” potong Vaye dengan suara bergetar, sepertinya ia hendak menangis lagi. Aku menguatkan cengkeramanku pada pundak Vaye. 

“Dengar, Vaye. Aku ingin kamu camkan satu hal ini dalam hatimu. Kamu tidak bersalah. Jangan salahkan dirimu. Mengerti?” 

“Tapi… Tapi… orang tuamu… dan orang tuaku… mereka semua…” 

“Itu kecelakaan, Vaye. Kecelakaan! Semuanya ikut andil. Pengemudi itu juga, aku sendiri juga. Bukan hanya kamu saja.” 

“Tapi… aku… tapi…” 

Aku terus berusaha menenangkan Vaye, namun gadis itu terus menyanggah semua perkataanku. Ia sepenuhnya percaya bahwa semua ini adalah kesalahannya sendiri. Pada akhirnya, aku mulai sedikit kehilangan kesabaran juga. 

“VAYE!” 

Vaye pun terdiam seketika. Aku melepaskan cengkeraman tanganku. Suasana langsung berubah menjadi hening seketika.

“Aku tahu. Kita berdua baru saja ditimpa kejadian yang mengerikan seperti ini. Aku juga dengar, kamu baru saja kehilangan kedua orang tuamu karena… bunuh diri. Aku… juga turut berduka atas itu. Tapi! Tapi…” Aku berhenti sejenak. 

“Tapi… kamu juga jangan ikuti apa yang mereka lakukan. Jangan, sekalipun, berpikir, untuk melakukan bunuh diri. Tolonglah.” Tanpa sadar, aku menjadi semakin emosional. Aku mulai mengecilkan suaraku. “Tolong, hentikan itu semua…” 

Suasana menjadi hening sejenak. Bahkan aku sendiri mulai terbawa suasana. “S-saat hari itu…” 

Aku mengangkat kepala. Dia mengatakan sesuatu? 

“Mengapa… mengapa kamu menyelamatkanku?”’ 

Aku terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan itu. Tentu saja aku tidak bisa berkata apapun soal perjalanan waktu atau apapun itu. 

“Aku… tidak tahu. Mungkin tubuhku bergerak dengan sendirinya saat itu… aku juga tidak tahu.” 

Vaye kembali menundukkan kepalanya. “Padahal, aku sebenarnya tidak perlu diselamatkan. Andai saja hari itu aku ma—” 

“Cukup!” potongku cepat. “Sudah kubilang, tolong jangan pernah berpikiran seperti itu lagi. Kumohon…” 

Suasana kembali jadi hening. 

“Kamu… tidak mengerti. Aku menderita setiap hari karena kedua orang tuaku. Setiap hari, rasanya ingin mati saja. Namun, sekarang setelah mereka tiada, aku malah…” 

Tubuh Vaye mulai gemetaran. Kali ini, aku kurang lebih paham perasaannya tentang orang tuanya. Seharusnya aku membencinya, namun ketika hal seperti ini terjadi, aku juga malah… 

Aku juga tidak bisa membantah perkataan Vaye barusan. Aku juga tidak tahu apa-apa soal kehidupan macam apa yang ia jalani sampai sekarang. Mungkin aku sudah menarik kesimpulan terlalu awal. 

“Apakah hidup memang seberat itu bagimu?” tanyaku. 

Vaye hanya bungkam, mengangguk lemah. 

“Apabila kamu mati, bagaimana dengan orang lain yang dekat denganmu? Kerabatmu yang lain? Atau… mungkin orang yang peduli denganmu? Seperti temanmu, mungkin?” 

Vaye menggeleng lemah. 

“Tidak ada? Benar-benar tidak ada?” 

Vaye masih tidak mengeluarkan suara. 

“… Satu pun?”

Hening. Aku mulai mengepalkan kedua tanganku. 

“Kamu… kamu pasti bisa bermanfaat kepada orang lain asalkan kamu terus melanjutkan hidup juga, kan? Bukankah kamu juga berpikir begitu?” 

Lagi-lagi, aku hanya berbicara sendiri. Gadis itu hanya bungkam seribu bahasa. 

Aku mulai kehabisan ide. Permasalahan gadis ini lebih dalam dari yang kuperkirakan. Aku memang menyelamatkannya di hari itu, namun semua itu menjadi tidak berarti apabila ia memang sudah tidak mempunyai keinginan untuk terus hidup. Perkataan-perkataan motivasi seperti apapun takkan berguna kalau sudah begini. 

Kalau begini ceritanya, malah aku seperti jadi orang yang salah, dong? Sudah sok menasihatinya padahal belum tahu apapun soal apa yang sebenarnya terjadi? 

Apakah semua usahaku untuk menyelamatkannya pada hari itu sia-sia seperti ini? 

“Hei. Setelah semua yang aku katakan tadi, apakah kamu masih memiliki keinginan untuk… uh… mati?” tanyaku dengan penuh keraguan. 

Masih tak ada jawaban dari gadis itu. Ia hanya terus menundukkan kepalanya sambil memasang wajah muram. 

Aku mulai muak kepada diriku sendiri. Aaah! Apakah semuanya akan berakhir seperti ini?! Begitu saja?! 

Dokter, maafkan aku. Sepertinya aku memang sepayah itu dalam menasihati orang lain. Kalau tahu akan begini, seharusnya aku tak perlu susah payah ikut campur dari awal. 

Rasanya, semua yang kulakukan tak pernah ada yang berjalan dengan benar. Baik itu di masa depan, ataupun masa sekarang ini. 

Semuanya hanya berujung pada kesia-siaan. 

“… Hei, Vaye. Apabila kamu memang ingin mati, silakan saja. Silakan saja sana. Aku tidak akan melarangmu. Ya… aku tidak akan melarangmu. Tapi… tapi… apabila itu terjadi… apabila kamu mati… 

“… aku… akan merasa sangat sedih apabila itu terjadi. Aku… aku…” 

Tes. Tes. Tes. 

Eh? 

Kenapa… aku menangis? 

Di saat aku menyadarinya, seprai kasur di bawah wajahku sudah basah oleh tetesan air mataku sendiri. Aku langsung panik. 

“Ah! Ah… maafkan aku. Aku hanya…” perkataanku terputus-putus karena sesenggukan. Aku buru-buru mengelap wajahku yang sembab dengan kedua tanganku. 

Dengan perasaan malu yang luar biasa, aku langsung refleks berpindah tempat. Namun, sekarang aku lupa dengan kondisi kedua kakiku yang lumpuh total. Aku langsung terjatuh di sebelah kasur dengan telak. Aku menyumpah-nyumpah dalam hati. 

“A-anu…” 

“Jangan lihat! Jangan hiraukan aku.” potongku galak sambil membelakangi Vaye. 

Dengan susah payah, aku akhirnya kembali duduk di kursi rodaku. Aku buru-buru mendorong pelek kursi rodaku untuk meninggalkan ruangan. 

Beberapa perawat di lorong-lorong rumah sakit sempat kebingungan melihatku yang terburu-buru, namun aku tidak peduli. Yang aku inginkan sekarang hanya kembali ke kamarku. 

Sesampainya di kamarku, aku baru bisa mengatur napasku dengan normal. Baru pertama kalinya aku ‘berlari’ pakai tangan dalam hidupku—rasanya cukup aneh. 

Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku tidak bisa becermin sekarang, namun aku sangat yakin bahwa wajahku sedang semerah tomat sekarang. 

Ya ampun, apa yang baru saja kukatakan tadi?! 

Aku tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Aku benar-benar sudah terbawa suasana tadi. Aku bahkan tidak sadar saat aku mengatakannya—semuanya seolah terjadi secara instingtif. Di saat aku menyadarinya, kedua pipiku sudah basah oleh lantunan air mata. 

Yah. Sebenarnya, yang kukatakan itu juga bukan kebohongan juga, sih. 

Semua itu sepertinya memang isi dari lubuk hatiku yang terdalam yang tak pernah bisa kuutarakan selama ini. 

Ya. Pada awalnya, rencanaku adalah untuk menyelamatkan gadis itu dan mencoba untuk berkenalan dan memulai hubungan baik dengannya—bagaimanapun, dia adalah cinta pertamaku dahulunya dan aku ingin memperbaiki semuanya dari awal. Namun, obrolan tadi sedikit-banyak sudah mengubah cara pandangku terhadapnya. 

Ia memiliki hubungan yang buruk dengan keluarganya, sepertinya dengan orang lain juga. Dari apa yang ia katakan, ia memang benar-benar sudah menyerah dalam hidupnya— bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku mulai berpikir—apakah aku di sini adalah pihak yang salah untuk ‘menyeret’-nya kembali untuk terus melanjutkan kehidupan? Aku bukanlah seorang motivator yang dapat mendorong niatan baik pada seseorang, pun aku juga tak ingin menjual janji-janji manis soal kehidupan untuknya—berkaca dari pengalaman hidupku sendiri yang menyedihkan dan sudah merasakan getirnya kehidupan orang dewasa. 

Pada akhirnya, aku memang tak bisa menyelesaikan apa-apa, ya. 

“Permisi…” 

Aku menoleh kebelakang. Ternyata seorang perawat yang berada di ambang pintu. “Ada apa, Dik? Kamu tadi melaju cepat seperti itu di koridor…” 

“Maaf, tapi tolong tinggalkan aku sendiri untuk kali ini. Kumohon.” Aku kembali memalingkan wajah. 

“Uhm… baiklah kalau begitu. Kalau ada masalah, langsung katakan saja, ya. Kami akan segera membantumu.” 

Dan dengan begitu saja, perawat itu menutup pintu dari luar. Aku mendekat ke arah kasur, berusaha untuk berpindah ke atas kasur dengan usahaku sendiri—aku masih kepayahan dalam urusan ini. Saat aku akhirnya bisa tiduran di atas kasur, aku menghela napas panjang. 

Sekarang, apa yang harus kulakukan, ya? 

Kepalaku pusing. Entah mengapa, obrolan tadi banyak menguras pikiranku. Aku benar-benar jadi tanpa arah sekarang. 

Tapi, itu semua bisa kupikirkan untuk nanti. Untuk sekarang, aku hanya ingin tidur sejenak. 

Persetan dengan semua ini. Apapun itu, aku akan melanjutkan kehidupanku yang payah ini. Meskipun semua yang kujalani akan berakhir sia-sia dan tak bermakna. Akulah telah memilih jalan ini. 

Aku akan terus hidup. 

Aku harus tetap hidup. 

… 

Hari-hari berikutnya, aku mulai bersiap dengan segala urusan administrasi yang kubutuhkan untuk meneruskan kehidupan. Warisan dari kedua orang tuaku, di mana aku akan tinggal seterusnya, dan lain sebagainya. Semua ini juga berjalan seiring proses rehabilitasi yang juga sedang kujalani. Pihak rumah sakit banyak membantu juga, jadi aku merasa sangat bersyukur atas itu. 

Semua perihal tetek bengek itu akhirnya bisa kuselesaikan dalam satu bulan. Sebagian besar warisan orang tuaku—yang memang tidak banyak—habis untuk membayar biaya rumah sakit. Sisanya harus kugunakan dengan sehemat mungkin agar aku bisa tetap bertahan untuk sekarang. 

Lalu, agar bisa tetap bertahan, tentu saja aku harus bekerja. Dengan kondisiku yang sekarang, tentunya aku tidak bisa sembarang memilih jenis pekerjaan—pekerjaan kantor yang kulakukan sebelumnya juga tentu takkan membantu untuk situasiku yang sekarang. Tapi, yah, itu bisa diurus nanti. Bukan prioritas utama untuk sekarang. 

Untuk tempat tinggal, aku tidak punya banyak pilihan selain untuk tinggal di panti asuhan. Aku juga sudah menentukan pilihanku—sebuah panti yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Pertimbangannya yang paling penting, tentunya biaya hidup di sana relatif lebih murah daripada di pusat kota. Memang tidak akan ada perawat yang bisa membantuku menjalani rutinitas sehari-hari seperti sekarang, tapi aku tidak terlalu mempedulikannya. Toh, nanti lama-lama aku juga akan terbiasa dengan sendirinya. 

Lagipula, aku juga ingin melupakan segala macam kenangan buruk yang aku miliki di kota ini sampai sekarang. 

Akhirnya tiba hari terakhir aku menginap di rumah sakit ini. Sebenarnya aku sudah diperbolehkan pulang sejak seminggu yang lalu, tapi aku memilih untuk tinggal di sini lebih 

lama sampai semua urusan administrasi yang kubutuhkan selesai kuurus. Dan yah, semuanya baru bisa kuselesaikan kemarin siang. 

Malam hari ini lebih banyak kuhabiskan dengan berbaring di kasur. Masih memikirkan banyak hal untuk kedepannya. 

Mulai besok, aku akan memulai hidup baru. Ya, beginilah hidupku sekarang. Aku tidak punya pilihan selain menjalaninya dengan sepenuh hati. Meskipun kedua tujuan awalku kandas di tengah jalan dengan cepat, namun aku tetap tidak akan menyerah begitu saja. Kalaupun ada hal yang masih sangat aku sesali, tentu saja itu perihal Vaye. 

Apapun itu, aku hanya bisa berharap yang terbaik untuk gadis itu kedepannya. Apapun yang akan ia lakukan, jalan seperti apa yang dia pilih. 

Tapi, ya, aku hanya bisa berharap. Tak lebih dari itu. 

Tunggu dulu, untuk apa aku berharap? Bukannya harapanku tak pernah terwujud? Ah, sudahlah. 

Isi pikiranku kemana-mana. Aku menguap lebar—mungkin sudah saatnya aku harus tidur. Aku perlahan mulai memejamkan mataku. 

Tok tok. 

“Permisi?” 

Aku langsung membuka mataku kembali. “Oh, iya masuk saja.” 

Pintu kamarku pun dibuka. Ada dua orang yang masuk. Salah satunya adalah perawat, dan… 

Hm? Apa aku tidak salah lihat? Vaye? 

Mereka berdua sekarang berdiri di sebelah kasurku. Vaye hanya berdiri canggung sambil memalingkan wajah. “Maaf mengganggu di malam hari, namun ada sesuatu yang harus saya sampaikan kepadamu sekarang,” kata perawat. 

Aku menaikkan sebelah alis. “Hm? Ada apa?” 

“Uh, begini. Kamu kenal dengan gadis ini, bukan? Namanya Vaye. Dia selalu saja bertanya soal keadaanmu setiap hari. Saat kami memberitahunya bahwa hari ini kamu akan pulang, dia langsung berubah cemas.” 

Wajah Vaye seketika berubah merah. 

“Yah, pokoknya seperti itu. Kamu akan melanjutkan ke panti asuhan di pinggiran kota setelah ini, kan?” 

“I-iya?” 

“Nah! Kalau begitu, Vaye akan pergi bersamamu. Dia akan menjadi pengurusmu selama berada di sana.” 

Aku hanya diam mendengarnya. Butuh beberapa saat bagiku untuk mencerna perkataan perawat barusan.

“E-eh? Vaye… akan pergi bersamaku? Ke panti asuhan itu?” 

“Benar. Ya, kan, Vaye?” 

Gadis itu hanya mengangguk kecil, menundukkan kepalanya. 

Aku masih diam dalam ketidakepercayaan. Eh? Benarkah? 

“Yah, sebenarnya hanya itu informasi yang ingin saya sampaikan sekarang. Maaf informasinya cukup mendadak, kami dari pihak rumah sakit baru menginformasikan soal kepulanganmu kepada Vaye hari ini. Rencana kami awalnya adalah untuk memulangkan Vaye ke rumah pamannya dalam waktu dekat, namun ia selalu menolaknya. Siapa sangka, ternyata Vaye justru memutuskan untuk ikut denganmu dan menjadi pengurusmu,” jelas perawat. 

“Kalau begitu, saya permisi dulu. Mungkin kalian berdua bisa saling mengobrol terlebih dahulu untuk rencana ke depannya.” 

Perawat pun meninggalkan kamarku, menyisakanku dengan Vaye di dalam. Suasana menjadi canggung untuk beberapa saat. Pada akhirnya, aku yang mencoba untuk memulai pembicaraan. 

“H-hei… kenapa kamu berdiri di situ terus? Ada kursi itu lho, duduklah.” Aku menunjuk ke arah kursi di dekat dinding. Vaye pun mengikuti perkataanku tanpa menjawab. 

Ah, ya. Berbasa-basi dengannya hanya akan membuang-buang waktu. 

“Aku akan langsung ke intinya saja. Jadi, kenapa kamu memutuskan untuk ikut denganku?” 

Hening. Dia sepertinya masih malu untuk berbicara. Seperti biasanya, huh. “Kamu ini, ya. Kalau kamu memang hanya ingin diam, kamu bisa keluar dari sini, kok.” “A-aku…” 

Ugh. Akhirnya, dasar. 

“Tolong keraskan suaramu.” 

“Aku… aku… ingin tetap hidup.” 

Aku menaikkan sebelah alis. “Huh?” 

“Aku sudah tidak ingin mati lagi sekarang. Aku ingin terus hidup.” 

Butuh berapa detik bagiku untuk mencerna perkataannya barusan. “… hidup? Maksudmu…?” 

“Karena perkataanmu saat itu, aku memutuskan untuk tetap hidup. Aku sangat berterima kasih untuk itu.” Gadis itu mulai tersenyum tipis. 

Akhirnya aku baru paham apa yang Vaye katakan. Aku jadi salah tingkah. “O-oh…? Begitukah? Kalau begitu syukurlah…” 

“Ya.”

Situasi menjadi hening untuk beberapa saat. Hei! Kenapa aku justru jadi malu-malu sekarang? Aku ini sudah dewasa. Lagipula, jangan malah besar kepala dulu. Memangnya apa yang kukatakan hari itu? Seingatku, aku sama sekali gagal dalam memotivasinya saat itu… 

Tidak, tunggu dulu. Jangan bilang… 

“Saat kamu berkata kamu akan sedih apabila aku mati, aku… sangat senang mendengarnya.” Vaye akhirnya mulai bisa menatapku secara langsung. Ia tersenyum lebar, membuatku sedikit terkesima. 

Sial. Dugaanku benar. 

Sekarang aku benar-benar jadi malu sendiri. Yang kukatakan pada saat itu hanyalah sebuah naluri impulsif dariku, tak lebih dari itu. 

Tapi, yah, apa boleh buat. Aku mulai tersenyum sendiri. 

Kalau itu memang berhasil membuatnya berubah pikiran dan ingin melanjutkan hidup, maka aku justru bersyukur sudah mengatakan hal itu kepadanya. 

“Aku tidak tahu apa alasanmu menyelamatkanku pada hari itu, dan aku juga tidak tahu mengapa kamu begitu peduli denganku. Namun, hanya dengan itu saja, itu sudah cukup untuk membuatku bahagia dan memberiku harapan. 

“Lagipula, aku juga mulai paham perkataanmu saat itu. Itu memang kecelakaan, tapi itu semua tidak akan terjadi apabila aku tidak memutuskan untuk menyeberang jalan saat itu. Apapun itu, aku tetaplah pihak yang paling bersalah dalam kecelakaan ini. Dan akibatnya, kamu jadi seperti ini. Justru aku yang sekarang masih baik-baik saja. Aku juga akhirnya jadi lebih mengerti maksud perkataanmu yang ingin aku untuk terus melanjutkan hidup.” 

Aku terdiam. Ternyata Vaye bisa berbicara sebanyak ini. 

“Oleh karena itu, aku juga ingin membalas budi. Kamu yang sudah menyelamatkanku sampai sekarang, maka sekarang adalah giliranku untuk membantumu. Biarkan aku yang mendorong kursi rodamu itu. Aku masih bisa berjalan dengan baik, jadi aku yakin aku pasti bisa melakukannya.” 

Lagi-lagi, aku kehabisan kata-kata. Sungguh, sudah seberapa banyak dia berubah sejak obrolan kita berdua pada hari itu? 

“Kamu memang orang yang baik, ya,” ucapku lirih. 

“Apa?” 

“Ah, tidak. Aku hanya berpikir, kamu tidak perlu melakukan itu juga untukku. Soal menjadi pengurusku, atau apapun itu yang tadi.” 

“Eh? Kenapa?” 

“Yang seperti itu merepotkan, lho. Aku tidak ingin banyak merepotkanmu. Maksudku, selama kamu sudah semangat untuk hidup lagi, itu sudah cukup membuatku senang…” 

“Tidak. Ini adalah caraku untuk membalas budi. Tolong biarkan aku melakukannya,” tegas Vaye sambil menatapku secara langsung. 

Aku bungkam untuk sesaat. Dia… sepertinya memang serius soal ini. 

“Tapi aku memang sudah tidak perlu banyak bantuan lagi, kok. Aku sudah mulai terbiasa menjalankan keseharianku dengan kursi roda ini, jadi—” 

“Meskipun begitu, tapi tetap ada hal yang tidak bisa kamu lakukan sendiri di kursi roda itu, kan?” potong Vaye cepat. 

“Apa memangnya?” 

Vaye memalingkan wajah, pipinya memerah. “Y-ya… seperti… urusan hajat… atau…” 

“Tidak!” potongku cepat. “Urusan itu… aku juga kurang lebih sudah bisa melakukannya sendiri. Kamu tak perlu mempermasalahkan soal itu…” 

Sial, aku juga ikut malu kalau begini jadinya. Aku bahkan harus spontan berbohong sedikit—sebenarnya aku juga masih kesusahan melakukan hal seperti itu sendiri. 

“T-tapi, tetap saja… kalau ada orang lain yang membantu, semuanya akan jadi lebih mudah, kan?” 

Aku masih malu-malu sendiri. Sial. Dia benar-benar serius. 

Akhirnya, setelah beberapa detik hening, aku menghela napas panjang—menenangkan diri. “Baiklah, aku mengerti. Terserah kamu saja. Aku tidak akan mempermasalahkannya.” 

Vaye pun mengulas senyum lebar. “Terima kasih banyak!” 

Aku juga hanya bisa tersenyum takzim melihat Vaye yang sekarang. Sejak awal aku bertemu dengannya, aku selalu terkesan dengan parasnya yang sedikit muram dan misterius. Namun sekarang… 

Wajahnya yang ceria dan penuh dengan senyuman seperti ini… 

Membuatku seperti jatuh hati untuk kedua kalinya. 

“Hm? Ada apa?” Tiba-tiba wajah Vaye tepat berada di hadapanku. 

“Ah! Uh…” 

Aku terkejut seketika. Sial, sepertinya tadi aku malah melamun dan senyum-senyum sendiri. 

Kalau sudah jadi seperti ini, maka hanya ada satu hal yang sekarang harus kulakukan. 

Aku berdeham. “Baiklah kalau kamu memang bersikeras dengan itu. Tapi, aku juga punya syarat untuk itu.” 

“Syarat?” 

“Ya. Syaratnya, kamu tidak boleh menjadi pengurusku.” 

Vaye langsung menatapku kebingungan. “Apa…? Maksudnya…?” 

“Ya, tidak perlu memasang wajah bingung seperti itu. Maksudku, aku tidak mau hubungan kita menjadi seperti itu. ‘Pengurus dan pasiennya’, itu tidak terdengar bagus, bukan?”

“Hm… ya…” Vaye mengangguk pelan. 

“Kalau begitu, aku ingin mulai dari berteman. ‘Kamu adalah temanku, dan aku adalah temanmu’. Bagaimana? Terdengar lebih baik, kan?” 

Vaye kembali tersenyum. “… Aku setuju.” 

“Bagaimana? Maukah kamu berteman denganku?” 

Vaye mengangguk dengan antusias. “Tentu saja!” 

“Baiklah. Kalau begitu, kuperkenalkan lagi. Namaku Poe. Kamu?” Aku menyodorkan tanganku. 

“Namaku Vaye,” jawabnya sambil menjabat tanganku. 

Kami berdua pun tertawa bersama. 

Rasanya seperti mimpi. Setelah aku pikir semuanya sudah berakhir dengan kegagalan, gadis ini tiba-tiba muncul di hadapanku dengan penuh harapan dan senyuman. Seperti aku melihat dua orang yang benar-benar berbeda dari sejak aku pertama kali bertemu dengannya di hari hujan deras itu, sampai sekarang. 

Atau, apakah gadis ini memang sebenarnya ceria seperti ini dari awal? Kalau begitu, ia pasti mengalami banyak sekali hal buruk yang sampai membuatnya seperti itu. Yah, ini hanya semata-mata tebakanku. Aku juga sebenarnya tidak tahu. 

Ya. Mulai dulu dari berteman. Sekarang, aku masih punya kesempatan untuk memulai hubungan baik dengannya. Aku sudah tidak kehilangan arah dan tujuan lagi. 

Aku masih bisa memperbaiki masa laluku ini. 

<<< TO BE CONTINUED (hopefully, yes.) >>>


Penulis: Mystyros

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *