Rendezvous Adieu Reunion

Entri Writchal #4
Tema: Child Care


“Uwaaaah!”

Pria kantoran itu mengeluh panjang ketika ia menghamburkan badannya yang lelah di atas kasurnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan seragam kantornya yang masih penuh dengan keringat.

Namanya Yaji. Dia hanyalah seorang pegawai kantoran yang biasa kalian temui. Bekerja dari jam delapan pagi sampai malam, begitulah kesehariannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Isi kamar kontrakan yang ia tempati—seperti yang kalian harapkan untuk pria kantoran biasa di akhir usia dua puluhannya. Semuanya serba berantakan—bungkus makanan kosong tersebar di mana-mana, tumpukan piring kotor yang diletakkan begitu saja di wastafel tanpa dicuci dengan segera sampai mengeluarkan bau tak sedap, baju kotor yang juga berserakan—pokoknya segala hal yang biasa kalian temui di kamar laki-laki pemalas yang hidup sendirian.

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Pekerjaan kantornya yang biasanya ia terkesan monoton dan membosankan tiba-tiba melonjak parah untuk hari ini. Hal ini masih lumrah terjadi, namun Yaji tetap tak pernah terbiasa dengan anomali seperti ini. Prinsip hidupnya yang ia selalu pegang teguh—kalau bisa dikerjakan orang lain, lantas mengapa harus aku yang mengerjakannya?—kurang lebih seperti itu. Ia tak pernah ambil pusing dengan segala macam proyek ataupun pekerjaan ekstra di kantornya. Selama ia mendapat gajinya dengan rutin setiap bulan, ia tak membutuhkan hal lain lagi. Kehidupan yang membosankan? Yaji sama sekali tidak memedulikan hal itu. Untuk apa bersusah payah demi sesuatu yang penuh risiko dan tidak pasti.

Yaji menundukkan kepalanya ke dalam laci di dekat wastafel, bergumam dengan nada kesal. Sial, di mana kutaruh bungkus kopi itu terakhir kali?

Ia terus mencari kopi saset favoritnya itu. Menurutnya, ia takkan bisa melewatkan sehari tanpa secangkir kopi panas di malam hari. Ia selalu merasa lebih rileks di malam hari dengan meminum kopi. Menghabiskan semalam suntuk bersantai bermain game setelah bekerja adalah hal yang paling ia sukai, terlebih lagi sejak hari ini yang tergolong cukup melelahkan.

Lima menit kemudian, kopi seduhnya sudah siap di dalam cangkir, mengepul panas. Ia menyalakan televisi, kemudian menghubungkannya dengan konsol game miliknya. Ia mengempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan bersemangat. Salah satu tangannya sudah bersiap memegang konsol, sedangkan satu tangannya lagi meraih cangkir di sebelahnya yang masih di mengepul tepat di sebelahnya, menyeruputnya perlahan. Persiapannya sudah siap. Esok adalah hari libur, jadi ia bisa bermain sepuasnya semalaman suntuk. Ia menyeruput kopi panasnya.

Tok, tok, tok.

“Ugh!”

Yaji langsung tersedak seketika, sekitar sepertiga isi cangkir juga tertumpah di atas bajunya. Ia menyumpah-nyumpah kesal sambil merintih. Sekarang bibirnya terasa seperti terbakar.

Suara ketukan itu terus berulang setiap beberapa detik. Amarah Yaji semakin menjadi jadi.

Ia beranjak berdiri, sedikit kesusahan ketika melangkahi lantai kamarnya yang penuh dengan barang-barang yang berserakan. Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar.

“Siapa, hah?! Ini sudah tengah malam, tahu—”

Yaji terhenti di tengah kalimatnya. Ia menurunkan pandangannya. Seorang gadis kecil sekarang sedang berdiri di ambang pintunya. Ia sama sekali tidak mengenalnya. Gadis itu sedang memeluk erat boneka beruang di tangannya. Secara langsung, Yaji bisa menyadari bahwa ia sepertinya sudah berlebihan. Gadis kecil itu mundur selangkah, memasang wajah ketakutan, badannya sedikit bergetar. Namun setelahnya, gadis kecil itu langsung memaksakan senyum di wajahnya yang membuat Yaji sedikit keheranan.

“Halo, kak!” Gadis kecil itu berkata dalam nada riang.

“Eeh? Apa yang kau lakukan di sini, hah?” Yaji agak kebingungan dengan situasi ini. Sebenarnya ia sedang merasa kesal luar biasa dari apa yang terjadi kepadanya barusan, namun melihat gadis kecil yang mengetuk pintu kamarnya di waktu seperti ini membuatnya bersikap lebih waspada.

“Anu…”

Sepertinya gadis kecil itu tidak bisa terus mempertahankan aktingnya. Sekarang senyum di wajahnya sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh wajah penuh kecemasan dan ketakutan.

“Kalau kau tidak ingin mengatakan apapun, pulanglah saja sana. Untuk apa kau berada di luar jam segini? Mana orang tuamu—”

“Aku… aku s-sebenarnya ter… tersesat… apakah aku… boleh… masuk k-ke… ke… dalam…”

Melihat si gadis kecil itu yang sepertinya hampir menangis, Yaji pun tak tega untuk meninggalkannya begitu saja dalam situasi seperti ini. Tepat setelah itu, angin malam yang dingin langsung berembus cukup kencang di depan pintu kamar Yaji, membuat gadis itu menggigil. Tanpa pikir panjang, Yaji langsung menyuruh gadis itu memasuki kamarnya.

“Yah, memang beginilah tempat tinggalku. Maaf kalau berantakan,” kata Yaji malas. Ia kemudian berjalan perlahan ke arah televisi yang masih terhubung dengan konsol game-nya, kemudian mematikan seluruh peralatannya. “Untuk malam ini, kau tidurlah di sini. Maaf kalau berbau seperti kopi, tadi aku menumpahkannya sedikit.”

Dengan gemetaran, gadis kecil itu mulai melangkah patah-patah mendekati Yaji. Saat melihat kondisi sofa yang penuh dengan bungkus-bungkus jajanan yang kosong serta remah remah makanan, gerak-gerik gadis itu menjadi semakin kak—ia juga mulai berkeringat dingin.

“Sudah, jangan sungkan. Tidurlah untuk sekarang. Hoaammm.” Yaji menguap lebar. “Maaf, tapi aku sangat mengantuk sekarang. Aku akan tidur terlebih dahulu,” pungkas Yaji seraya kembali menguap lebar. Ia berjalan sempoyongan menuju area di belakang sofanya, lalu dengan cepat ia langsung terkapar di lantai—ia bahkan belum sempat mematikan lampu. Sepertinya ia memang tak bisa mengalahkan rasa lelah yang telah terkumpul seharian tadi.

Dan malam berlalu begitu saja. Yaji bangun kesiangan, jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia mengucek-ngucek matanya dengan malas. Namun tak lama kemudian, ia langsung berubah panik ketika ia sudah bisa melihat sekitarnya dengan jelas.

Seperti biasa, kamarnya memang masih berantakan seperti biasa. Namun, kali ini berbeda. Banyak sekali barang-barang yang raib dari tempatnya berada. Terutama barang barang berharga dan penting seperti perangkat elektronik, dan sebagainya. Ia menoleh ke arah pintu. Pintu kamarnya sedikit tertutup, namun dengan kunci yang menggantung dari dalam. Tepat di momen itu, Yaji langsung tersadar.

Kamarnya dimasuki pencuri tadi malam.

Yaji berteriak lantang, kesal dengan dirinya sendiri. Semua rangkaian kejadian yang belakangan ini ia alami sampai kemarin seperti mengizinkan pencuri itu untuk mencuri di dalam kamarnya dengan begitu leluasanya tadi malam. Pertama, dia memang sudah sejak lama menjadi penghuni tunggal di bangunan ini. Bangunan yang sudah cukup tua dan lokasinya yang tidak strategis membuat semua penghuni lain selain dirinya sudah berpindah ke tempat lain sejak lama. Ditambah, kemarin ia memang sangat kelelahan hingga membuatnya bisa terlelap dengan pulas sampai tidak menyadari apapun yang terjadi tadi malam. Lalu, bangunan ini memang tak pernah dipasangi kamera pengawas—karena Yaji sendiri memang tak pernah terpikirkan untuk membutuhkannya sebelumnya. Dan inilah yang terjadi.

Sekarang kamarnya benar-benar hanya berisi tumpukan sampah yang berserakan di lantai. Sekarang ia tak memiliki apa-apa lagi. Ia berbaring di atas sofanya, menatap langit langit kamar.

Ah, memang bagus sekali. Sekarang apa?

Yaji bisa merasakan bahwa seisi darah dalam tubuhnya sedang mendidih sekarang, namun ia memilih untuk tidak banyak mengekspresikannya. Semalam ia sudah terlampau lelah dan terganggu oleh kedatangan seorang gadis kecil di dalam kamarnya, lalu tepat keesokan harinya ia harus mengalami hal seperti ini. Menelepon dan berurusan dengan polisi untuk sekarang pun ia malas untuk melakukannya, paling tidak untuk sekarang.

Yaji benar-benar tidak paham apa yang sedang menimpanya sekarang. Ia sungguh tak merasa telah berbuat sesuatu yang terlampau salah sampai sekarang. Dari dulu, ia hanya ingin terus hidup tenang dan damai tanpa banyak gangguan yang berarti. Semenjak kedua orang tuanya bercerai saat ia kecil dulu, ia cenderung memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan-urusan yang membuatnya repot. Di saat ia diasuh oleh neneknya pun, ia lebih memilih untuk menutup diri dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Neneknya meninggal saat ia lulus kuliah, tepat waktu baginya untuk memulai bekerja dan memulai kehidupan sendiri— terbebas dari keluarganya yang sudah ia benci dari dulu.

Terlepas dari semua itu, ia juga baru saja ingat. Hari ini sebenarnya masih hari kerja, namun tentu saja ia takkan berangkat di jam segini, juga dengan situasi seperti ini. Meskipun suasana hatinya sedang sangat buruk, akhirnya ia tetap memutuskan untuk membersihkan kamarnya—sesuatu yang tak pernah ia lakukan dengan serius sejak ia tinggal di sini bertahun-tahun silam.

Semua sampah ia kumpulkan dalam beberapa kantung plastik sampah yang besar, kemudian menaruhnya di pojokan ruangan. Seluruh sudut ruangan ia sapu, lalu ia pel untuk menghilangkan noda-noda yang masih menempel di lantai.

Setelah selesai membersihkan kamarnya, ia mengelap keringat di dahinya dan melihat ke arah jendela. Tak terasa, matahari sudah hampir terbenam begitu ia selesai membersihkan kamarnya. Ia juga baru menyadari bahwa ia belum makan apapun sejak bangun tadi. Dompet miliknya tentu saja juga tercuri, sehingga ia tidak mempunyai akses ke uang ataupun tabungan miliknya sama sekali untuk sekarang.

Apa boleh buat. Yaji membuka lemari persediaan makanannya. Masih ada beberapa bungkus mi instan dan kopi untuk beberapa hari ke depan. Ia mulai menyalakan kompornya.

Setelah sarapan—atau bisa juga disebut makan sore—Yaji pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan melihat situasi di luar. Rasanya sudah lama sekali sejak ia hanya sekadar berjalan-jalan untuk melihat situasi sekitar di luar jam pekerjaannya.

Oh iya. Ngomong-ngomong, soal bocah itu. Di saat aku bangun tadi, dia sudah tidak ada di dalam. Apa yang terjadi padanya, ya?

Kamarku baru saja habis kecurian, jangan-jangan…

Yaji baru saja memikirkan skenario terburuk yang bisa terjadi kepada anak itu. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya. Ini bukan urusanmu. Kau seharusnya lebih memikirkan dirimu sendiri daripada orang lain di saat seperti ini, begitu gumamnya.

Srak!

Yaji terkejut seketika. Ia langsung menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Perasaanku saja, kah?

Mulai merasa tidak enak dan sepertinya sedang diikuti seseorang, Yaji pun mulai berjalan kembali menuju kamarnya. Yah, bukan seperti ia mempunyai kegiatan lain yang bisa dia lakukan di dalam kamarnya yang kosong melompong sekarang.

Akhirnya ia hanya menghabiskan harinya dengan menyeduh kopi saset. Berjam-jam, ia hanya bisa melamun sambil terkantuk-kantuk. Sekarang, bahkan tidak ada hal yang bisa mengisi kebosanannya.

Hari mulai beranjak malam. Yaji baru tersadar kalau plastik besar sampahnya belum ia buang ke luar. Dengan malas, ia mengangkat plastik sampah yang berat itu menuju pintu depan.

Baru saja ia membuka pintu, ia langsung menurunkan plastik sampah di tangannya. Ia terdiam di tepatnya berdiri untuk sejenak.

Tepat di depan pintunya, ada seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil bersandar ke dinding di belakangnya. Wajahnya memang tidak kelihatan karena ia sedang menunduk, namun Yaji langsung mengetahuinya dari pakaian yang sedang dikenakan gadis itu dan boneka beruang yang sedang dipeluk erat oleh kedua tangannya.

Dia… bocah yang kemarin?

Seketika itu juga, embusan angin malam yang menusuk tulang menghantam telak punggung Yaji yang membuatnya menggigil seketika. Ia segera menghampiri gadis itu.

Gadis itu mendengkur halus, tubuhnya terasa dingin. Mungkin gadis ini sudah menunggu cukup lama di sini, begitu pikir Yaji. Ini langsung membuatnya menjadi sedikit panik, ia langsung segera menggendong gadis itu ke dalam kamarnya untuk menghangatkan tubuhnya.

“AAAAAAH!”

Gadis itu tiba-tiba terbangun di gendongan Yaji dan langsung berteriak nyaring, mengejutkan Yaji. Ia buru-buru menurunkan gadis itu, lantas mundur selangkah. Gadis itu menatap ke arah Yaji dengan tatapan penuh ketakutan.

Beberapa detik penuh keheningan yang canggung. Yaji juga merasa kesulitan harus memulai percakapan dari mana.

Kurasa menanyainya tentang pencurian besar yang terjadi di sini mungkin tidak cocok untuk sekarang…

“Um… jadi, kenapa kau kembali lagi ke sini?”

Gadis itu tidak menjawab. Yaji menggaruk-garuk kepalanya.

“Duh, begini, ya. Kalau kau tidak berkata apa-apa, aku juga tidak bisa membantumu…”

Gadis itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, meletakkannya di hadapan Yaji—membuatnya cukup terkejut. Benda itu adalah dompet milik Yaji.

Yaji mengambil dompet itu, melihat-lihat isinya. “Ini…”

“S-saya… minta maaf…” Gadis kecil itu mulai bersujud di hadapan Yaji, badannya gemetaran.

Sebenarnya Yaji sudah hendak meluapkan amarahnya, namun ia masih menahannya dan menghela napas panjang. “Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

Gadis itu mulai mengangkat kepalanya perlahan, kini wajahnya bisa terlihat dengan jelas. Rasanya baru pertama kali ini Yaji bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas dan saksama sejak pertemuan pertama mereka kemarin.

Yaji menebak gadis itu berusia sekitar 8 tahun. Ia selalu memeluk boneka beruang miliknya itu tanpa pernah melepaskannya. Dan hal yang membuat Yaji sedikit merasa tidak nyaman adalah keberadaan kantung mata di bawah kedua mata gadis itu. Tentu saja seorang gadis seusianya yang memiliki kantung mata menandakan adanya sesuatu yang tidak beres. Namun untuk sekarang, ia mengurungkan niatnya untuk menggali lebih jauh soal itu.

“Saya… saya…. saya hanya dipaksa…”

“Hm? Dipaksa? Oleh siapa?”

Gadis itu sudah membuka mulutnya, namun ia tak bisa berkata-kata setelahnya. Tubuhnya gemetaran hebat.

Yaji menghela napas. “Ya sudah, kalau kau tidak ingin menjawabnya. Ah, rumahku barusan kecurian. Yang dicuri lumayan banyak, jadi…”

“S-soal itu…!” potong gadis itu cepat.

“Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja, kurasa aku tidak bisa membuatmu menginap di sini untuk sekarang. Kau tahu… kondisi di sini sekarang agak… Ah, iya! Bukankah kau harus segera pulang untuk sekarang? Orang tuamu pasti sedang cemas menunggumu di rumah, bukan?”

Gadis kecil itu hanya bisa membalas dengan tersenyum canggung. “A-ah, iya…”

“Benar begitu, kan? Jangan buat orang tuamu cemas, lho. Tapi maaf, kamu memang harus pulang secepatnya sekarang, kamu tidak bisa menginap di sini untuk malam ini, aku juga tidak bisa mengantarmu…”

“T-tidak apa-apa. S-saya tadi membuntut—maksud saya, bukan… Anu…”

Gadis itu semakin tergagap dalam perkataannya. Yaji juga sepertinya mulai paham soal kecurigaannya saat berjalan-jalan di luar tadi.

“A-anu… saya hanya ingin… meminta maaf… Maafkan saya… karena saya…”

“Sudah, sudah! Tidak apa-apa. Itu sudah tidak masalah lagi. Yang penting, kamu harus segera pulang sekarang. Semakin cepat semakin baik. Kau mengerti, kan?”

Gadis itu pun mengangguk pelan. Mereka berdua mulai berdiri, berjalan dengan canggung menuju pintu depan. Yaji membukakan pintu, dan gadis kecil itu melangkahkan kakinya keluar.

“S-saya sungguh minta maaf, Paman—”

“Iya, iya. Aku mengerti. Kumaafkan, kok. Sekarang, kamu cepat pulang, ya.”

Brak. Yaji menutup pintu depannya begitu saja. Ia buru-buru kembali duduk di sofa, menghela napas panjang.

Uwaaah. Akhirnya.

Yaji memainkan dompet miliknya sembari tiduran malas di atas sofa. Perasaannya lumayan bercampur aduk untuk sekarang. Saat ini, ia merasa bersalah karena mengusir gadis itu begitu saja di malam hari seperti ini. Tapi di saat yang bersamaan, bagaimanapun juga ia tetap merasa kesal terhadap gadis itu. Pertama, ia sangat yakin bahwa gadis itu sudah mengikutinya secara diam-diam dari belakang dari tadi yang membuatnya merasa tidak nyaman dan waspada. Yang kedua, fakta bahwa dompetnya bisa berada di tangan gadis kecil itu. Ini berarti tak menutup kemungkinan bahwa gadis kecil itu adalah pencuri sesungguhnya—namun, Yaji masih meragukan soal ini mengingat gelagatnya yang seperti itu, dan ia juga berpikir gadis itu tak mungkin mampu untuk membawa semua perangkat elektronik yang besar seperti itu sendirian.

Sejauh ini, Yaji memang cenderung menjauhi untuk berhubungan dengan orang lain. Ditambah dengan suasana hatinya yang sedang buruk dari pencurian yang terjadi, ia lebih memilih untuk tidak menambah masalah yang bisa memusingkan pikirannya dari berurusan dengan gadis kecil itu untuk lebih lama. Malam ini, ia benar-benar berharap untuk bisa tidur nyenyak tanpa perasaan beban apapun. Dua hari belakangan ini sudah lebih dari cukup untuk membuat stresnya memuncak.

Mungkin hanya ada satu hal yang membuatnya bingung untuk sekarang. Kalau dia memang berniat ingin mencuri, lantas mengapa ia sampai diam-diam membuntutiku untuk mengembalikan dompetku? Ia juga terlihat gemetaran tadi…

Akan tetapi, Yaji sudah terlalu malas untuk memikirkannya sekarang. Untuk urusan melaporkan ini ke pihak kepolisian, ia juga berencana untuk melakukannya keesokan harinya. Dan begitulah, Yaji pun langsung tertidur pulas di atas sofanya.

Namun, tanpa sepengetahuannya, malam ini justru adalah satu malam di mana ia seharusnya tidak menghabiskannya hanya dengan tertidur pulas.

Malam hari yang akan mengubah kehidupannya dengan drastis ke depannya. …

Keesokan harinya. Hari ini hari libur, sehingga seharusnya Yaji bisa bangun kesiangan tanpa beban. Namun, kali ini berbeda.

Tok! Tok! Tok!

Ini sudah berjalan lebih dari lima menit, dan suara itu tak kunjung berhenti. Pintu kamarnya sedang diketuk berulang kali dengan cukup keras. Yaji yang sudah separuh sadar sekarang mulai naik pitam. Di dalam hatinya, ia tak berhenti menyumpah. Ya ampun, kapan aku bisa dapat hari libur yang tenang, sih?! Ugh!

Dengan malas, ia pun berjalan menuju pintu dengan amarah yang meluap-luap. Ia membuka pintunya dengan keras.

“Siapa, sih?! Ganggu saja—”

“Maaf mengganggu. Kami dari kepolisian daerah sekitar ini.”

Mendadak, kedua mata Yaji yang masih setengah sadar kini membelalak lebar. Ia mengucek kedua matanya dengan cepat. Kini ia bisa melihat dengan jelas keberadaan dua orang berseragam kepolisian sedang berdiri di hadapannya sambil menunjukkan kartu identitas mereka.

“E-eh, ke-kepolisian? Ada apa… Ada apa ini?!” tanya Yaji dengan terpatah-patah. “Apakah ini dengan kediaman Bapak Yaji Gakari?”

“I-iya…?” jawab Yaji pelan.

“Baiklah. Kami rasa ini memang tidak sopan, akan tetapi mohon ikutlah dengan kami untuk pagi ini. Apakah Bapak memiliki suatu jadwal yang sangat mendesak untuk sekarang?”

“Eh? T-tidak juga…” Berbeda dengan gadis tadi malam, Yaji tidak bisa berbohong begitu saja di depan aparat kepolisian.

“Kalau begitu, mohon persiapkan diri Anda sekarang. Anda akan kami antar ke markas.”

Lantas salah seorang dari mereka berbalik, berjalan menuju sebuah mobil polisi yang terparkir tidak jauh dari sana. Rekannya masih menunggu di depan pintu kamar.

Yaji pun buru-buru menyiapkan dirinya seadanya. Baju apapun pasti akan lebih baik dipakai daripada piyama yang sekarang sedang ia pakai. Ia juga merapikan rambut tidurnya sekenanya, dan membasuh mukanya.

Ia pun berjalan beriringan dengan salah satu personel yang masih menunggu di depan kamarnya. Ia duduk di kursi bagian tengah mobil. Mobil pun mulai berjalan.

Sampai titik ini, Yaji masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang terjadi padanya sekarang.

Aku? Sekarang berada di dalam mobil polisi? Diantar menuju kantor polisi? Sungguh, apa-apaan semua ini?! Sialan! Aku tidak berbuat kejahatan apapun! Malah aku yang menjadi korban kejahatan…

Tunggu. Apakah kepolisian sudah tahu soal perampokan yang terjadi di kamarku? Kalau iya, mungkin saja ini menyangkut soal itu…

Dengan pemikiran seperti itu, Yaji akhirnya berhasil menenangkan dirinya di tengah perjalanan. Ia menghela napas panjang. Tenang. Semuanya akan baik-baik saja, begitu pikirnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri dalam semua ini.

Sesampainya di kantor polisi. Yaji bersama dengan dua personel polisi tadi turun dari mobil. Di dalam kantor polisi, tanpa basa-basi, kedua personel mulai bertanya-tanya kejadian pencurian yang terjadi kepadanya dua hari yang lalu. Setelah Yaji mengonfirmasinya, ia ditunjukkan dengan pelaku pencurian yang sekarang sedang mendekam di balik jeruji besi rumah tahanan. Ada beberapa pria berpakaian seperti gangster atau preman jalanan, menatap ke arah Yaji dengan tatapan sinis. Setelah itu, polisi menunjukkan barang-barang yang berhasil diamankan dari tempat kejadian perkara—di antaranya barang milik Yaji yang dicuri.

Beberapa di antaranya memiliki beberapa masalah di kondisi dan ada barang yang memang tidak ditemukan—dugaan dari pihak kepolisian bahwa kemungkinan barang itu sudah dijual atau dibawa ke tempat lain—namun Yaji tidak terlalu peduli dengan itu.

Urusan-urusan administrasi yang berlangsung di dalam kantor polisi memang merepotkan. Untuk beberapa hari ke depan, ia harus mengikuti serangkaian protokol seperti ini.

“Tapi, sungguh, Pak. Untuk semua ini, kami harus berterima kasih terhadap keberanian orang yang berani mengungkap semua ini kepada kami.” Sang Penyidik tersenyum halus.

“Hm?”

“Tapi, saya sangat menyayangkan kondisinya yang sekarang… sungguh kasihan. Dia tidak seharusnya terlibat dalam semua hal ini.”

“Eh? Apa? Siapa yang sedang Bapak bicarakan?” Yaji kebingungan dengan ‘seseorang’ yang dimaksud oleh Sang Penyidik.

“Saya rasa, Anda juga harus berterima kasih kepadanya secara langsung dalam masalah ini. Apakah Anda memiliki kesibukan setelah ini? Apabila tidak, saya bisa mengantar Anda langsung.”

Yaji hanya mengiyakan tanpa berpikir panjang. Mereka berdua pun berangkat menaiki mobil kepolisian. Mereka berdua tak saling berbicara banyak di tengah perjalanan, namun Yaji mulai merasakan firasat buruk ketika mobil mulai memasuki gerbang sebuah bangunan.

“Rumah… sakit…?” tanya Yaji dengan ragu.

“Benar,” jawab Sang Penyidik.

Setelah itu, Sang Penyidik memarkirkan mobilnya dan mereka berdua pun keluar, memasuki gedung rumah sakit. Seorang suster ikut mengantar mereka setelah Sang Penyidik memberikan beberapa keterangan di bagian administrasi rumah sakit. Firasat Yaji semakin menjadi tidak enak seiring kakinya melangkah di dalam lorong-lorong rumah sakit yang bernuansa putih dan berbau obat-obatan.

Sekarang mereka bertiga sudah sampai di depan sebuah pintu kamar.

“Kondisinya sekarang… masih belum terlalu membaik. Saya tidak merekomendasikan untuk Anda masuk sekarang, namun paling tidak Anda bisa melihat dari sini,” kata Sang Suster.

Yaji pun melangkah mendekat, lantas mendekatkan wajahnya di kaca yang terdapat pada pintu kamar. Setelah itu, ia tak mampu memalingkan wajahnya untuk beberapa saat.

Di dalam, ia melihat seorang gadis sedang duduk di ranjang rumah sakit, menatap ke arah luar jendela tepat di sebelah ranjangnya. Dari tempatnya berdiri, Yaji tidak bisa melihat mukanya dengan jelas, namun satu hal yang ia sangat yakini di dalam hatinya.

Yap. Dia adalah gadis kecil pembawa boneka yang sudah berkunjung dua kali ke rumahnya itu.

“Gadis itu berada di sana saat pencurian terjadi, benar begitu, Pak?”

“Anu… sepertinya iya…” jawab Yaji dengan setengah tidak percaya.

“Hmm… kalau begitu memang sangat disayangkan.” Sang Penyidik berhenti sejenak di tengah perkataannya. “Gadis itu sekarang sedang mengalami trauma berat. Namun di tengah kondisinya yang seperti itu, ia bahkan masih sempat untuk datang dan melapor ke markas. Mungkin kasus ini takkan terungkap apabila ia tidak melakukannya saat itu…”

Yaji membeku di tempatnya berdiri setelah mendengarnya. Ia menoleh ke arah Sang Penyidik dengan tatapan tidak percaya. Gadis itu? Ia mengalami trauma berat?

“Anu, barusan Bu Suster berbisik kepada saya, dan sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berkunjung. Mungkin lain kali. Saat itu tiba, saya akan langsung menghubungi Anda.”

Setelah beberapa kalimat penutup, akhirnya kunjungan berakhir di situ. Yaji pulang dengan kendaraan umum. Begitu sampai di kamarnya, ia langsung berbaring lemas di sofa. Ia mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan memandanginya dengan malas.

Jadi waktu itu… dia memang memberanikan dirinya untuk mengembalikan ini…

Pada akhirnya, ia bisa tertidur pulas begitu saja untuk malam itu.

Pada sebuah kesempatan, Yaji sempat mengira bahwa semuanya sudah selesai begitu saja. Namun, ujung dari kasus pencurian yang melibatkan dirinya ini ternyata berbuntut cukup panjang. Untuk beberapa hari, ia harus menghadiri pengadilan untuk memberi kesaksian dalam kasus ini. Meskipun ia memang pada dasarnya adalah pemalas, namun tetap saja ia harus melakukannya agar kelompok pencuri itu bisa diadili dengan hukuman yang setimpal. Seluruh rangkaian proses itu bisa ia lewati dengan lancar, namun ia menjadi penasaran dengan satu hal.

Ia sempat mendengar “bukti pembunuhan dan penyiksaan” di dalam ruang sidang— membuat bulu kuduknya merinding begitu mendengarnya.

Jadi mereka juga menyiksa, bahkan membunuh orang? Benak Yaji. Masalah ini menjadi lebih serius dari yang ia perkirakan, namun ia tetap mengikuti persidangan seperti biasa.

Sampai hari persidangan terakhir, hakim pun menjatuhkan pidananya kepada kelompok kriminal itu. Yaji keluar dari ruang persidangan dengan perasaan lega setelah semuanya selesai. Akhirnya aku bisa pulang ke rumah dan bermain konsolku lagi, begitu pikirnya.

“Anu, Pak.” Seseorang menepuknya dari belakang.

“Hm… iya?” Yaji menoleh ke belakang. Rupanya penyidik yang pernah bersamanya tempo hari.

“Begini… apakah Anda ada waktu luang setelah ini?”

“Iya…” jawab Yaji dengan nada kurang yakin. Apa lagi kali ini?

“Saya baru saja dapat kabar, kalau gadis itu sudah bisa dikunjungi kali ini. Anda mau menjenguknya?”

“E-eh?” Yaji setengah terkejut mendengarnya. “Sekarang juga?”

“Benar, sekarang. Saya bisa mengantar Anda.”

Yaji menelan ludah. Ia mengiyakan saja tawaran itu. Gadis itu sudah menyeretnya ke dalam banyak masalah kali ini, namun ia tetap saja penasaran dengan kondisi gadis itu sekarang. Kalau bisa, Yaji juga hendak mengajaknya mengobrol.

Pada akhirnya, mereka berdua sampai di depan kamar gadis itu. Suster membuka pintunya, dan Yaji pun melangkah masuk.

Yaji kehabisan kata-kata ketika melihat kondisi gadis itu yang terbaring di atas kasur.

Sorot matanya kelihatan mati, menatap kosong ke arah ujung kasur. Rambutnya yang panjang terurai ke mana-mana bak kurang perawatan. Sejak Yaji masuk ke dalam, gadis itu hanya bergeming di tempatnya—bahkan tak menoleh sedikitpun. Suster mulai mendekat ke arahnya, mencoba mengajaknya berinteraksi. Gadis itu baru mulai sedikit merespons setelah sekitar lima menit diajak berbicara oleh Sang Suster. Begitu gadis itu mengangkat kepalanya, ia langsung berteriak keras ketika tatapan matanya bertemu dengan Yaji.

Gadis itu tampak begitu gemetaran, beringsut menjauh di tempat tidurnya. Raut wajahnya persis seperti pertama kali ia berkunjung ke kamar Yaji, namun sekarang lebih parah. Rasanya, untuk mendekati gadis itu saja sulit untuk sekarang.

Sang Suster terus berusaha menenangkan gadis kecil itu, namun tidak terlalu membuahkan hasil. Yaji hanya mendekat satu langkah, namun gadis itu kembali berteriak.

“Anu, maaf Pak, namun sepertinya kondisinya menjadi labil lagi. Ini di luar perkiraan kami, padahal dari pagi dia sudah rileks. Saya sungguh minta maaf sekali lagi, tapi Anda bisa berkunjung untuk lain kali.”

Setelah sepatah-dua patah kalimat yang canggung, akhirnya Yaji dan Sang Penyidik keluar dari kamar itu. Tak lama kemudian, Sang Penyidik juga izin untuk meninggalkan Yaji— ada urusan yang cukup mendadak dari markasnya. Akhirnya kini tinggal Yaji sendirian yang berjalan meninggalkan rumah sakit.

Ia sama sekali tidak bisa tenang sepanjang perjalanan. Yang terjadi di kamar rumah sakit barusan terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Begitu mengingatnya, dadanya merasa sakit. Ia berhenti sejenak, meremas dadanya sendiri. Sudah berapa lama, ya? Sejak aku merasa kasihan dengan orang lain.

Hari pun berlalu dengan begitu saja. Keesokan harinya, rutinitas kembali berjalan normal seperti biasa. Yaji kembali berangkat ke kantor. Setelah pulang di sore hari, ia mengurus barang-barangnya untuk dibawa pulang dari kantor polisi. Selebihnya, tak banyak yang banyak berbeda dari hari-hari sebelumnya—kembali ke hari-harinya yang membosankan.

Meskipun begitu, sebenarnya ia merasakan suatu perubahan dalam dirinya. Selama ini, ia selalu sadar akan dirinya sendiri yang hanya berusaha hidup tenang tanpa perlu memedulikan orang lain. Namun, ia tak bisa berhenti memikirkan nasib gadis yang berada di rumah sakit itu. Sorot mata kosongnya yang ia lihat di hari itu terus terngiang-ngiang di kala Yaji melamun.

Hari-hari terus berlalu. Tak terasa lamanya, sudah sekitar satu bulan berlalu sejak ia dipanggil ke kantor polisi untuk yang pertama kalinya. Kali ini, ia mendapatkan cuti beberapa hari dari tempatnya bekerja setelah sebulan penuh perusahaannya sibuk dengan permintaan klien yang tiba-tiba saja melonjak. Tentu saja, seperti biasanya ia ingin menghabiskannya dengan bermain konsol game miliknya untuk menghilangkan stres. Namun, ia juga baru saja sadar akan sesuatu ketika hendak menyalakan konsolnya setelah sekian lama.

Oh iya, sampai sekarang aku belum berterima kasih secara langsung kepadanya, ya…

Meskipun dulunya ia merasa cukup kesal dengan keberadaan gadis itu di depan pintunya, namun ia tetap merasa harus berterima kasih atas keberanian gadis itu untuk mengembalikan dompet miliknya hari itu. Itu pasti sebuah hal yang berat untuk dilakukan, apalagi jika ia sedang dalam kondisi trauma pada saat itu.

Dengan penampilan seadanya, ia bersepeda menuju sebuah panti asuhan—ia diberitahu oleh Sang Penyidik dulunya bahwa gadis itu akan dipindahkan ke sana setelah ia keluar dari rumah sakit. Letaknya cukup jauh dari kamar kontrakannya—membuatnya tersengal dan basah kuyup oleh keringat begitu sampai. Begitu masuk, ia langsung bertemu dengan salah satu pengasuh di sana. Tanpa basa-basi, sang pengasuh langsung dengan ramah mengajak Yaji untuk masuk ke dalam. Di dalam, Yaji melihat banyak anak-anak yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Yang masih kecil cenderung bermain bersama dan berlari-larian, dan yang sudah berusia remaja lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gawai dan membantu pekerjaan sehari-hari para pengasuh.

“Anu… saya ke sini sebenarnya untuk…” tanya Yaji dengan nada ragu-ragu. “Hm?”

“Saya ke sini untuk mencari… anu… seorang gadis kecil dengan boneka… beruang? Iya, sepertinya beruang. Apakah Ibu pernah melihatnya…”

Belum selesai bertanya, namun raut wajah Sang Pengasuh berubah seketika. Yang tadinya selalu tersenyum, kini menjadi sedih.

“Oh, anak itu…”

Sang pengasuh diam sejenak. Yaji hanya bisa menunggu.

“Dia sudah kembali lagi ke rumah sakit seminggu yang lalu. Sepertinya ia memiliki masalah yang terlalu berat untuk kami atasi sekarang…”

Mendengar hal itu, tentu saja langsung membuat Yaji membulatkan matanya dan penasaran. Apa? Kenapa dia dikembalikan ke rumah sakit?

“Anak itu… saya benar-benar kasihan kepadanya. Meskipun saya dan yang lainnya sudah sering mengingatkan anak-anak yang lain, namun dia masih kerap kali menjadi bahan perundungan di sini. Semuanya menganggapnya anak yang aneh ketika melihatnya berbicara sendiri dengan boneka miliknya. Perundungan itu hanya berlanjut semakin parah, dan akhirnya tak terbendung lagi…”

“Apa yang terjadi…?”

“Anak itu… dia… berusaha bun—maksud saya… anu… mengakhiri hidupnya…” pungkas sang pengasuh sambil menutup mulutnya.

Yaji hanya bisa terkesima mendengarnya. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, namun beberapa anak kecil yang kebetulan lewat bertanya sesuatu kepada sang pengasuh soal kedatangan Yaji—membuat sang pengasuh harus kembali tersenyum dan riang di depan anak-anak, begitu pula dengan Yaji yang menjadi canggung ketika digoda oleh anak-anak.

“Maaf kalau kunjungan Anda ke sini malah membuat Anda kecewa. Kami di sini sudah berusaha sekuat yang kami bisa, namun anak itu tetap saja…”

“A-anu, anak itu sekarang berada di rumah sakit tempat dia dirawat sebelumnya, kan?” “Benar…”

“Kalau begitu, saya permisi pamit dulu, ya, Bu. Terima kasih sudah mengantar saya berkeliling di sini.” Tak ingin memperpanjang kecanggungan, Yaji memilih untuk mengakhiri pembicaraan dan keluar dari panti secepatnya.

Ia tak menyangka bahwa kondisi mental gadis itu sampai seburuk itu sejak ia dirawat di rumah sakit. Memangnya apa saja yang terjadi hingga membuatnya seperti itu, ia tak bisa berhenti memikirkannya untuk sekarang. Yaji mungkin masih belum menyadarinya untuk sekarang. Namun, dirinya sudah mulai berubah. Bila bukan karena serangkaian kejadian yang melibatkannya kali ini, ia pasti masih duduk di sofa depan televisinya, bermain konsol sepanjang hari untuk mengisi hari liburnya.

Untuk mengetahui apa yang terjadi kepada gadis itu, ia pergi menuju kantor polisi. Begitu di dalam, ia langsung meminta izin menemui Sang Penyidik yang membantunya dulu—mungkin dia tahu sesuatu soal gadis itu. Meskipun ia harus menunggu cukup lama untuk bertemu dengan Sang Penyidik karena datang dengan mendadak, ia tidak mempedulikannya.

Setelah seharian menunggu, akhirnya sudah memasuki jam pulang kerja. Yaji pun akhirnya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sang Penyidik. Meskipun harus menunggu sangat lama, ia tidak bermasalah dengan itu—lagipula ia tak punya kegiatan apapun jika ia pulang.

Mereka berdua langsung mencari sebuah tempat di sekitar kantor polisi yang jarang dilewati orang. Begitu mereka berdua sudah duduk berhadapan empat mata, Yaji pun tak perlu basa-basi dengan pembicaraannya. Ia langsung bertanya tentang informasi yang dipunyai kepolisian soal latar belakang gadis itu. Sang Penyidik langsung meresponsnya dengan menurunkan volume bicaranya.

“Apakah Anda yakin ingin mendengarnya? Saya pikir, Anda sudah terlepas dari kasus ini sepenuhnya.”

Yaji membulatkan matanya. “Apapun itu, saya akan mendengarkannya. Saya tahu kasus ini sudah diselesaikan sejak lama, namun saya merasa bahwa saya masih memiliki tanggung jawab terhadap keadaan gadis itu yang sekarang.”

Sang Penyidik menghela napas. “Baiklah jika begitu.”

Lalu Sang Penyidik pun mulai bercerita. Ia menjelaskan di awal, bahwa semua yang akan diceritakannya ini hanyalah deduksi penyelidikan dari kepolisian, dan tidak ada yang bisa diverifikasi karena tidak ada saksi lain yang berhubungan selain gadis itu—juga dari kondisi gadis itu yang sampai sekarang membuatnya sulit untuk dimintai keterangan. Yaji hanya bisa mengiyakan—karena hanya ini satu-satunya informasi yang bisa ia dapatkan untuk sekarang.

Melalui bukti-bukti yang ditemukan di TKP, kepolisian bisa menyimpulkan beberapa hal. Gadis itu memang berada dalam pengaruh dan kendali kelompok pencuri itu. Ia sama sekali tidak bisa melawan.

Latar belakang keluarga gadis itu juga cukup kelam. Berdasarkan informasi yang bisa digali dari pihak kepolisian, keluarga gadis itu sebenarnya baik-baik saja sedari dulu. Namun, ada beberapa hal yang terkesan sangat memilukan saat kepolisian menyadari kebenarannya.

Gadis itu dijual oleh kedua orang tuanya kepada kelompok pencuri itu beberapa minggu yang lalu. Belum lagi, gadis itu mendapat perlakuan yang tidak manusiawi di sana. Perwakilan dari kelompok pencuri itu mengaku, bahwa saat gadis itu sudah lebih besar maka itu tak menutup kemungkinan untuk takdir yang lebih kelam yang menanti di masa depan gadis itu.

“Ini memang sangat disayangkan. Sepertinya mereka adalah keluarga yang baik-baik saja pada awalnya, namun memang keluarga mereka terimpit masalah ekonomi yang cukup parah sehingga menyebabkan ini bisa terjadi.

“Kami tidak tahu secara detail apa saja yang ia alami selama berada di dalam lingkungan kelompok itu, tapi yang jelas gadis itu sudah menunjukkan gejala trauma yang berat. Saya juga tak lama ini juga mendengar kabar dari pihak panti asuhan tentang kondisinya, dan saya cukup menyesal bahwa saya tak bisa berbuat banyak terkait hal itu,” pungkas Sang Penyidik.

Sementara itu, Yaji hanya terus mendengarkan sambil menundukkan kepalanya. Isi hatinya hanya terus bertambah pilu seiring ia mendengarkan semua nasib buruk yang menimpa gadis itu.

“S-sebenarnya… tempo hari… gadis itu juga sempat mendatangi kediaman saya. Dia sepertinya menunggu di depan pintu kamar saya sampai kedinginan. Setelah bangun, dia hanya mengembalikan dompet milik saya dan meminta maaf… dan sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dia melakukan hal seperti itu,” jelas Yaji.

“Dia melakukan hal seperti itu?”

Yaji mengangguk.

Sang Penyidik hanya bisa tersenyum tipis. “Yah, saya dan pihak kepolisian mungkin tidak bisa tahu apa yang gadis itu pikirkan, namun ada satu hal yang jelas di mata kami. Fakta bahwa gadis itu adalah anak yang pemberani memang benar—ia adalah faktor terbesar dalam penyelesaian kasus ini. Oleh karena itu, saya pribadi juga merasa bersalah karena tidak bisa berterima kasih secara layak kepadanya dalam kondisinya yang sekarang…”

Yaji hanya bisa menelan ludahnya. Ia kehabisan kata-kata.

Beberapa saat kemudian, gawai milik Sang Penyidik tiba-tiba berbunyi. Sang Penyidik menjawabnya dalam sepatah-dua kata, lalu langsung menutupnya.

“Maaf tapi sepertinya saya harus pergi untuk sekarang. Sepertinya keluarga saya sudah menunggu di rumah. Begini, daripada Anda harus datang ke markas untuk bertanya sesuatu soal kasus ini lagi, Anda bisa menghubungi saya secara pribadi lewat nomor ini.” Sang Penyidik pun mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari tas kerjanya, dan menulis sebuah nomor telepon beserta beberapa informasi lainnya. Setelah itu, ia memberikannya kepada Yaji.

“Kalau begitu, saya permisi dulu.” Sang Penyidik pun beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan Yaji yang masih bergeming dari tempat duduknya.

Angin malam yang dingin menyadarkan Yaji dari lamunannya, mengingatkannya untuk segera pulang. Ia pun berjalan dengan malas menuju sepeda miliknya, namun entah mengapa ia merasa malas untuk bersepeda sekarang. Ia lebih memilih untuk menuntun sepedanya sambil berjalan pulang.

Di tengah perjalanan, ia terus melamun seraya menuntun sepedanya di pinggiran jalan. Matanya menatap kosong trotoar di depannya. Untung saja jalan yang ia ambil untuk pulang cukup sepi—apalagi saat malam hari—bila tidak, ia pasti sudah sering mendengar klakson kendaraan yang akan mengagetkannya dari lamunannya di tengah jalan.

Sesampainya di kamarnya, ia menatapi seluruh isi ruangannya—terutama perangkat elektronik yang dulunya sempat dicuri. Kemudian seperti biasa, ia melepas bajunya dan beranjak mandi. Namun masih sama seperti sebelumnya, ia kembali melamun lama di kamar mandi.

Selesai dari mandinya, Yaji belum bisa menyelesaikan lamunannya. Secara refleks, ia berjalan malas menuju sofa di depan televisi. Begitu melihat konsol game miliknya yang tergeletak di sana, ia mulai tersadar dari lamunannya. Ia perlahan mengambilnya dengan sedikit gemetaran.

Tes. Tes. Tes.

Tanpa sadar, Yaji sudah meneteskan air matanya. Ia juga mulai terisak perlahan. Tangisan itu tidak hanya berlangsung sebentar. Hampir beberapa jam ia habiskan untuk menangis dan merenungi apa yang sudah ia lakukan hingga saat ini, sampai pada akhirnya ia tertidur lelap karena kelelahan menangis.

Keesokan harinya, ia masih melanjutkan renungannya semalam. Ia mencemaskan kondisi gadis itu setiap saat. Setiap kali ia melihat konsol gamenya, dadanya langsung merasa sakit. Sekarang ia juga baru menyadari dengan sangat jelas, bahwa ia sudah merusak kehidupan seseorang yang lain dengan alat itu. Kali ini, ia akhirnya bisa tegas untuk berkata dalam hatinya untuk mengurungkan dirinya untuk memainkan alat itu.

Hidupmu memang sudah berantakan. Tapi paling tidak, jangan seret orang lain ke dalam ini semua, dasar tidak berguna!

Malam itu, bila saja aku bisa lebih peduli dan tidak egois… semua ini…

Untuk beberapa hari ke depannya, Yaji masih terus mencemaskan kondisi gadis itu. Terkadang, ia menjadi bingung dengan dirinya sendiri. Ia hanyalah seorang pegawai kantoran yang sering menyendiri, dan sekarang ia mencemaskan orang lain sampai seperti ini. Padahal apabila bukan karena insiden pencurian yang menimpanya kemarin, ini semua takkan terjadi.

Semakin hari, rasa bersalah itu hanya terus bertambah parah. Dalam hati, ia terus mengutuk dalam dirinya sendiri yang bersikap seperti seorang pengecut besar saat malam itu.

Sekarang saat melihat balik ke apa saja yang terjadi di malam itu,

Pada akhirnya setelah beberapa hari yang ia habiskan untuk menimbang-nimbang dan berpikir, Yaji pun sudah memutuskan. Sebuah keputusan yang tak mungkin bisa terjadi bila bukan karena semua rangkaian kejadian yang terjadi padanya hingga saat ini. Pada suatu malam, Yaji mengumpulkan segenap keberanian dan mengambil napas sebelum memasukkan sebuah nomor telepon di ponselnya. Setelah beberapa nada statis, teleponnya diangkat.

“Halo permisi, ini dengan siapa?”

“Saya Yaji, Pak Penyidik.”

“Oh, Pak Yaji! Apa kabarnya seka–”

“Bolehkan saya meminta tolong suatu hal?”

Untuk beberapa hari kemudian, Yaji akhirnya bisa mengunjungi gadis itu di rumah sakit. Dari yang ia dengar, pada akhirnya kondisi gadis itu kembali stabil lagi untuk sekarang. Yaji pun melangkah dengan cukup yakin saat memasuki ruangan gadis itu seperti kunjungan pertamanya dulu, namun hal yang sama juga terulang. Gadis itu tiba-tiba berteriak histeris dan gemetar begitu melihat sosok Yaji berada tepat di hadapannya. Kini, sepertinya ia bisa melihat sebuah pola yang sedang terjadi di sini. Benar, gadis itu masih dipenuhi oleh rasa bersalah terhadapnya.

“Nak, saya hari ini ingin berbicara denganmu—”

Seperti yang dulu juga, gadis itu malah semakin gemetaran ketika Yaji mencoba untuk mengajaknya bicara. Namun kali ini, Yaji yang akan mengambil inisiatif. Bukannya mundur, namun ia melangkah untuk semakin mendekat kepada gadis itu.

“Siapa namamu?”

Gadis kecil itu memang menjadi lebih takut dengan Yaji yang kini hanya berjarak selangkah darinya. Ia memalingkah wajahnya. Namun, Yaji pun tetap bersikeras. Ia mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Suster di belakangnya memberi isyarat kepadanya untuk berhenti, namun Yaji mengangkat sebelah tangannya, seolah berkata, biarkan aku yang menangani ini.

Gadis kecil itu masih tak berani untuk menatap Yaji secara langsung. Yaji pun menghela napas. Ia sudah memperkirakan bahwa ini akan terjadi sebelumnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa, lantas menundukkan badannya hingga lebih rendah daripada kasur gadis itu.

“Hai! Namaku Keko. Kalau namamu siapa?”

Hening sejenak. Gadis kecil itu memasang wajah kebingungan, begitu juga dengan Sang Suster. Yaji sedang memegang sebuah boneka beruang, dan berbicara sambil menggerak gerakkan boneka di tangannya. Ia sebenarnya ingin meniru seorang ventriloquist yang bisa mengisi suara untuk boneka yang sedang ia pegang, namun ia sama sekali tidak terbiasa dengan ini—meskipun sudah latihan beberapa kali sebelumnya di kamarnya. Kemudian, Yaji meraih boneka beruang milik gadis itu yang terduduk di pinggiran kasur.

“Aku? Namaku Quma—uhuk,” Yaji mencoba untuk membuat suara yang lebih melengking, namun ia langsung terbatuk. Gadis itu masih memasang wajah kebingungan, sementara Sang Suster menahan tawa. Yaji sempat mendecak pelan, aku sudah latihan untuk ini, tahu.

Yaji pun memperbaiki posisinya. Ia berdeham beberapa kali, menyiapkan pita suaranya. Ia berharap untuk bisa melanjutkan ‘pertunjukan’ kecilnya untuk sedikit lebih lama lagi.

“Kamu… punya teman, ya, Quma?”

“Oh, iya!” Yaji pun mengarahkan kedua boneka ke arah gadis itu. “Kenalkan, ini temanku, Onako. Dia gadis yang baik, lho!”

“Wah! Kalau begitu, salam kenal, ya, Onako! Aku Keko. Ngomong-ngomong, aku juga punya teman, lho!”

“Hm, siapa itu?”

“Namanya Yaji! Dia ada di—sebentar,” Yaji menggerak-gerakkan kedua boneka di tangannya, membuatnya seperti sedang melihat-lihat sekitar ruangan. “Yah, sepertinya dia sedang tidak ada di sini. Aneh, padahal tadi aku ke sini bersamanya, lho!”

“Oh, begitu kah? Aneh ya!”

Yaji berusaha untuk membuat suara tertawa dengan dua boneka itu, namun ia kembali lagi terbatuk-batuk. Kali ini, Sang Suster hanya tersenyum tipis melihat Yaji yang sedang berusaha untuk menarik perhatian gadis itu.

Setelah itu, Yaji menghentikan ‘pertunjukan’-nya. Ia mengambil minuman dari tasnya, meneguknya untuk menghentikan batuknya. Ia meletakkan boneka beruang milik gadis itu di atas kasur lalu berdiri, memakai tasnya.

“Kalau begitu, sampai nanti, ya, Onako.” Yaji pun berjalan menuju pintu kamar, meninggalkan sang gadis yang masih bingung di tempatnya. Sang Suster sedikit terkejut, dan mengikuti langkah Yaji keluar.

“Maaf, Suster, tapi saya sampai sini dulu. Saya akan kembali di lain hari.”

Hanya dengan begitu, kunjungannya hari ini di rumah sakit sudah selesai. Ia mempercepat kayuhannya saat pulang. Ia sudah menyiapkan banyak hal untuk kesempatan ini. Ia menggali banyak informasi dari berkas kepolisian yang bisa ia dapatkan dari Sang Penyidik tentang gadis itu.

Ya. Gadis itu bernama Onako. Ia selalu bersama dengan Quma, boneka beruang miliknya. Dari informasi yang bisa ia dapatkan, gadis itu memang menjadi sering berbicara sendiri dengan bonekanya semenjak orang tuanya meninggalkannya.

Yaji juga langsung mengerti setelah melihat reaksi Onako tadi. Gadis itu masih takut dengannya—kemungkinan masih merasa bersalah dari kejadian tempo hari. Bila ini terus terjadi, maka Yaji takkan pernah punya kesempatan untuk saling berkomunikasi dengannya. Mau tidak mau, ia harus berusaha untuk memenangkan hati gadis itu terlebih dahulu.

Sesampainya di kamarnya, Yaji langsung duduk di meja kerjanya, mengambil kertas dan pensil dengan cepat. Ia langsung menggurat-gurat kertasnya dengan bersemangat.

Sampai saat itu, ia sama sekali belum sadar dengan dirinya sendiri. Entah kenapa ia bisa menjadi sangat bersemangat seperti ini. Dari tadi bersepeda pulang dari rumah sakit, ia tak bisa berhenti tersenyum. Dadanya terasa buncah sekarang. Berbagai macam ide untuk ‘pertunjukan’ selanjutnya mulai bermunculan di kepalanya.

Kenapa? Padahal penampilanku yang tadi bukanlah sesuatu yang hebat. Gadis itu juga tidak tersenyum sedikitpun dari awal sampai akhir. Tapi kenapa aku bisa merasa bersemangat seperti ini?

Yaji tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Padahal, gadis itu tidak tersenyum sedikitpun dari awal sampai akhir ‘pertunjukannya’. Tapi, tetap saja—ini adalah sebuah kemajuan bagi Yaji. Gadis itu tidak berteriak dan ketakutan saja adalah sebuah kemajuan yang baik.

Terserahlah. Kemajuan adalah kemajuan. Aku harus memanfaatkan ini dengan baik.

Setelah itu, Yaji semakin sering mengunjungi Onako. Setiap kali berkunjung, ia selalu membawa boneka beruang miliknya—Keko—untuk melakukan sebuah ‘pertunjukan’ boneka sederhana dengan Quma, boneka beruang milik Onako. Untuk beberapa kunjungan pertama, reaksi Onako memang tak terlalu berbeda dari yang sebelumnya. Ia hanya diam selama pertunjukan, juga tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun, hal itu tentunya tidak langsung membuat Yaji hilang semangat. Ia terus berusaha untuk berkunjung sesering mungkin di luar jam pekerjaannya. Ia masih percaya dalam asumsinya—selama ia tidak takut denganku saat berada di dekatnya, maka pasti selalu ada kesempatan untuk mencoba.

Tak terasa, seminggu pun berlalu begitu saja. Di suatu hari, Onako akhirnya menunjukkan sedikit ekspresi. Meskipun hanya untuk sebentar, ia sempat melihat Onako tersenyum tipis setelah pertunjukan selesai. Begitu mengetahuinya, Yaji tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia hampir saja meloncat-loncat kegirangan, namun ia menahan dirinya.

“Kau menyukainya?”

Onako tampak sedikit terkejut ketika ditanya. Ia menunduk, pipinya sedikit memerah. Ia pun mengangguk perlahan.

Melihat reaksi Onako, Yaji benar-benar buncah. Ia tersenyum dengan begitu lebarnya. Hampir saja ia refleks hendak memeluk gadis itu, namun sekali lagi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukannya sekarang—lagipula, ia masih sedang dalam masa pemulihan traumanya.

Keseharian itu terus berlanjut. Rutinitas Yaji sepulang kerjanya kini sepenuhnya ia gunakan untuk memikirkan untuk ide-ide untuk ‘pertunjukan-pertunjukan’ selanjutnya. Bahkan konsol game kesayangannya sudah hampir tak pernah ia sentuh lagi.

Tak terasa, sekarang sebulan telah berlalu. Sekarang Onako sudah mulai bisa rileks saat berinteraksi dengan Yaji. Ia sudah bisa sedikit tertawa di tengah-tengah pertunjukan, mengobrol pendek, dan berterima kasih dengan malu-malu begitu selesai. Semua perkembangan ini tentunya hanya akan membuat Yaji semakin bersemangat dengan ‘pertunjukan-pertunjukan’-nya yang akan datang.

Namun, hal itu tidak berdampak baik bagi pekerjaannya. Saking asyiknya memikirkan ‘pertunjukan’ yang akan ia bawakan, banyak beban kerjanya terlalaikan. Ia mendapat berbagai komplain dari atasannya, dan akibatnya ia tak bisa berkunjung ke rumah sakit untuk beberapa hari sampai masalahnya kantornya terurus.

Ia melewatkan satu minggu kunjungannya ke rumah sakit. Begitu ia kembali, ia sempat mengintip terlebih dahulu lewat kaca di pintu kamar Onako sebelum memasukinya. Gadis itu tampak lesu sambil menatap ke luar jendela di sebelah ranjangnya, persis seperti saat Yaji pertama kali melihatnya dulu dari sudut yang sama. Begitu ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam, raut wajah gadis itu langsung berubah cerah. Ia tersenyum lebar sambil menyodorkan Quma miliknya kepada Yaji.

“Maaf, tapi mungkin setelah ini aku hanya bisa berkunjung dua kali seminggu, atau bahkan hanya sekali. Kau tahu, pekerjaanku sekarang sedang dalam masalah dan cukup sibuk, jadi…”

Seketika, raut wajah Onako kembali berubah muram. Ia juga sama sekali tidak bersemangat ketika Yaji membawakan ‘pertunjukan’-nya, tak mengucap sepatah kata pun hingga selesai. Begitu pulang, Yaji merasa bersalah dengan dirinya sendiri.

Kalau ini terus berlanjut, maka…

Yaji mengerem sepedanya dengan mendadak. Ia segera berbalik, kembali menuju rumah sakit. Sesampainya di dalam, suster sempat mengingatkan bahwa jam besuk sudah berakhir. Namun, Yaji memohon dengan serius, berkilah bahwa ini urusan yang penting. Akhirnya, suster pun mengizinkan Yaji untuk kembali bertemu dengan gadis itu—lagipula, para suster juga sudah mengenal baik sosok Yaji yang rajin berkunjung.

Ia membuka pintu kamar Onako dengan terburu-buru. Napasnya sedikit tersengal. “Onako!”

Onako menoleh dengan wajah terkejut. “P-Paman?”

Yaji meminta Sang Suster dengan halus untuk menunggu di luar sebentar. Ia kemudian duduk di lantai di hadapan Onako, lalu menunduk.

“Begini, Onako…”

Gadis itu hanya memasang wajah bingung. “Paman… ada apa…”

Yaji mengepalkan kedua tangan, menelan ludahnya. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya.

“B-bolehkah… aku mengangkatmu sebagai anak?”

Hening.

Yaji hanya menatap langit-langit dengan malas sembari bersandar di kursinya. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil mendengus kesal. Kertas ide di hadapannya sekarang bukan berisi ide dialog, dari tadi ia hanya mencoret-coret sembarang di atas kertasnya.

Aku baru saja merusaknya…

Setelah ia mengucapkan permintaan itu, wajah Onako malah berubah menjadi semakin muram dan ketakutan. Seolah ia benar-benar kembali ke dirinya yang dulu sebelum Yaji mulai mengunjunginya. Yaji pun tak mampu menahan kecanggungan situasi pada saat itu, dan langsung beranjak pulang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

“Aaaaaagh!”

Yaji! Kau sudah tahu kalau gadis itu memiliki trauma. Memang satu bulan sudah berlalu sejak saat itu, dan dia sudah mulai bisa lebih terbuka kepadaku. Namun apa yang membuatmu berpikir ia akan menerimanya begitu saja dengan senang hati? Jelas-jelas dia memiliki trauma yang dalam dengan kedua orang tuanya dulu. Serius, apa yang kau lakukan, diriku!

Kalau dilihat kembali, yang dilakukan Yaji tadi memang impulsif. Namun tetap saja, ia sudah membuat kesalahan yang besar. Bisa saja seluruh selama satu bulan ini berakhir sia-sia begitu saja. Wajah ketakutan Onako yang seperti itu, Yaji sungguh tidak kuat untuk mengingatnya kembali.

Sebenarnya, Yaji memang sudah merencanakan soal ini sejak lama. Ia sudah membicarakan soal ini dengan Sang Penyidik dulu dalam sebuah satu percakapan lewat telepon yang panjang. Ia ingin mengambil tanggung jawab terhadap nasib Onako, tentunya setelah mempertimbangkan banyak hal. Tentu saja sebelumnya ia harus memperbaiki hubungannya dengan gadis itu terlebih dahulu, baru apabila waktunya sudah tepat ia akan bertanya soal hal ini kepada gadis itu. Namun, yang ia lakukan pada saat itu jelas bukanlah waktu yang tepat. Ia sangat frustrasi akan tindakan impulsifnya saat itu.

Yaji tidak bisa berpikir jernih untuk sepanjang malam itu, ia juga tidak bisa tidur. Apabila ia berkunjung ke rumah sakit lagi, ia takut apabila Onako memang benar-benar akan kembali ke kondisi lamanya dahulu ketika bertemu dengannya. Untuk sekarang, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia memutuskan untuk menghentikan kunjungannya untuk beberapa hari ke depan, berharap agar situasi hati Onako bisa sedikit membaik dengan berjalannya waktu.

Tak terasa, seminggu telah berlalu. Sekarang Yaji kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan di malam hari. Ia tak bersemangat lagi untuk menulis dialog ‘pertunjukan’, ataupun untuk bermain game dengan konsolnya. Ia hanya bisa tiduran malas di sofanya sambil menatap lesu langit-langit kamarnya.

Kriiing. Kriiing.

Malam sudah cukup larut, namun tiba-tiba ada suara panggilan telepon dari ponsel milik Yaji. Ia sedikit terkaget, langsung bergegas untuk mengangkatnya. Ia sekilas melihat nomor sang penelepon. Dari rumah sakit? Untuk apa mereka menelepon di waktu seperti ini…

“Halo?”

“P—Paman?”

Begitu terkejutnya Yaji mendengar suara itu dari ponselnya. “Onako?!”

Hening seketika. Yaji baru sadar bahwa suaranya terlalu keras barusan. Ia mengecilkan suara bicaranya. “A-anu, maafkan aku yang tadi. Benarkah itu kamu, Onako?”

“I-iya…”

Yaji menghela napas lega. Ia memperbaiki posisi duduknya. “Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?”

“Hm-hm.” Suara Onako terdengar lemah di telepon.

“Jadi, ada urusan apa kamu meneleponku sekarang?”

“Ng… Anu…”

Yaji masih menunggu jawaban. Onako terdengar masih kesusahan untuk berbicara. “Aku… aku… minta maaf…”

“Hm?”

“Padahal… Paman sudah berusaha untukku… tapi aku malah… hiks…” Onako terdengar menangis lirih di telepon.

“Ah, tidak apa-apa, kok. Aku tidak mempermasalahkannya.”

“Di sini… aku… kesepian…” Onako semakin terisak-isak dalma tangisnya. Yaji hanya bisa mendengarkan dengan sabar, hatinya juga ikut pilu mendengar Onako yang seperti itu.

Setelah beberapa menit hening dengan suara isakan di telepon, akhirnya lumayan mereda juga.

“Jadi, Paman…”

“Iya?”

“Maukah Paman berkunjung lagi ke sini?”

Yaji mengulas senyum. “Bisa, kok. Aku akan pergi ke sana besok.”

“B-besok…? Benarkah…?”

“Hm-hm.” Yaji mengangguk-angguk dengan sendirinya.

“Te-terima kasih… Paman…”

“Sama-sama.”

Beberapa menit kemudian. Masih hening, hanya isakan lirih Onako yang masih terdengar. Tapi sepertinya sudah hampir selesai.

“Jadi, apakah masih ada yang ingin kamu katakan?”

“Mm, tidak. Aku tunggu besok, ya, Paman.”

“Baiklah. Selamat tidur.”

“Selamat tidur juga, Paman.”

Telepon ditutup. Yaji kembali berbaring di atas sofanya, menghela napas panjang. Ia senyum-senyum sendiri.

Meskipun ketakutan dan sampai menangis seperti itu, namun ia masih berani untuk meneleponku dan meminta maaf. Ya ampun, dia memang anak yang hebat.

Setelah itu, ia langsung beranjak duduk di kursi kerjanya dan mencengkeram pulpen miliknya. Ia sama sekali tidak bisa tidur malam itu.

Pagi hari, matahari baru saja mulai naik. Namun, salah seorang pekerja kantoran sudah mengayuh sepedanya dengan bersemangatnya sembari bersenandung ria.

Ya, siapa lagi kalau bukan Yaji. Ia sudah menunggu-nunggu momen ini semalaman penuh. Ia memarkir sepedanya di parkiran rumah sakit yang masih sepi, langsung bergegas menuju kamar Onako.

Klak. Yaji membuka pintu, melangkah masuk.

Onako menoleh, lantas tersenyum lebar. “Selamat pagi, Paman!”

Yaji juga membalasnya dengan tersenyum. “Selamat pagi juga, Onako.”

Yaji meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi seperti biasanya. Ia memerhatikan wajah Onako dari dekat, lalu ia menaikkan alisnya. Ia bisa melihat kantung hitam yang tipis di kedua mata Onako. “Kamu tidak tidur semalam?”

Onako hanya tersenyum tipis. “Anu, maaf… tapi aku tidak bisa tidur tadi malam…”

“Kalau begitu, kita sama, dong.” Yaji tertawa renyah. Padahal, kita berdua saling mengucap selamat tidur tadi malam, namun kami berdua juga pada akhirnya tidak bisa tidur semalaman.

Akan tetapi, meskipun semalaman suntuk ia habiskan untuk membuat dialog ‘pertunjukan’-nya, namun pada akhirnya ia sama sekali tidak bisa fokus dan tidak menulis apapun. Namun ia tidak cemas, ia sudah tahu bagaimana solusinya.

Yaji mengeluarkan Keko dari tasnya. Namun, kali ini ia tidak menyiapkan ‘pertunjukan’-nya yang seperti biasanya. Ia meletakkan Quma di tangan Onako.

“Kali ini, kamu juga akan ikut.”

“E-eh?”

“Ya. Aku akan berperan sebagai Keko, dan kamu akan berperan sebagai Quma. Bagaimana?”

Onako menjadi malu-malu dan salah tingkah untuk sejenak. “T-tapi…”

“Tidak apa-apa. Kalau aku terus yang harus memerankan keduanya, juga aneh, kan? Toh, Quma juga sudah menjadi teman dekatmu dari dulu.”

Meskipun Onako masih tampak penuh keraguan, namun pada akhirnya ia menerima ajakan Yaji. Ia memegang Quma dengan tangan kanannya, dan mencoba untuk membuat Quma ‘berbicara’.

“Bagus! Seperti itu. Keko dan Quma akan mengobrol seperti biasa saja. Tidak ada naskah atau apapun itu. Bagaimana?”

Onako kembali tampak gelisah, namun ia tetap mengangguk-ngangguk lemah.

“Baiklah. Aku mulai, ya. Halo, Quma, Onako! Apa kabar kalian berdua?” Yaji berbicara dengan nada tinggi seperti ketika saat ia memerankan Keko di akhir perkataannya.

Onako mulai mencoba untuk berbicara, namun beberapa kali ia terhenti sebelum kata-katanya keluar. Yaji juga terus menyemangati Onako tiap kali ia gagal. Perlahan tapi pasti, gadis ini pasti bisa melakukannya, benak Yaji.

H-halo, Keko… a-aku Quma…”

Onako akhirnya berhasil berbicara dengan nada lengking untuk memerankan Quma. Yaji tersenyum lebar, memberi selamat.

“Bagus! Sekarang, kamu tinggal mengobrol dengan Keko seperti biasa dengan suara seperti itu.”

Meskipun wajah Onako masih menunjukkan ekspresi yang malu-malu, namun ia juga mengulas sedikit senyum.

Tuh kan, apa yang kubilang. Kalau gadis ini, pasti dia bisa.

Satu jam berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya dunia serasa milik berdua bagi Yaji dan Onako, namun ‘pertunjukan’ mereka harus dipotong oleh kedatangan suster untuk mengantarkan sarapan Onako.

“Bagaimana? Tak terlalu buruk, bukan? Aku tahu kamu bisa melakukannya.” Onako hanya mengangguk-angguk, ia masih sibuk melahap sarapannya.

Mereka berdua hanya bercengkerama biasa. Bercanda ringan, saling tertawa, dan mengobrol soal diri mereka masing-masing sebagai Quma dan Keko. Salah satu dari mereka adalah pekerja kantoran yang benci bersosialisasi dengan orang lain, dan satunya lagi adalah gadis kecil dengan trauma yang buruk. Namun, interaksi itu bisa menjadi sebegitu serunya di antara mereka berdua.

Melihat Onako bisa tersenyum saja, itu sudah cukup bagi Yaji. Itu artinya, usahanya selama ini tidak sia-sia.

Andai saja… pada hari itu aku bisa melakukan sesuatu untuknya… semua ini…

Yaji memasukkan Keko ke dalam tasnya, beranjak berdiri. “Kalau begitu, sepertinya untuk hari ini sampai di sini dulu…”

Namun, begitu Yaji berbalik badan, tiba-tiba ia merasa kemejanya ditarik dari belakang. Ia menoleh ke belakang.

“Hm? Ada apa?”

“Jangan pergi… Paman…”

Yaji langsung refleks untuk kembali meletakkan tasnya, kembali duduk. Onako tiba tiba terisak pelan.

“Onako, ada apa? Kamu merasa tidak enak badan?”

“Jangan pergi…”

Yaji masih belum paham dengan apa yang terjadi, ia masih tidak berani untuk menyentuh Onako secara langsung. Ia malah jadi salah tingkah sendiri. “A-anu… begini…”

“Aku tidak mau… di sini. Di sini… membosankan…”

Yaji masih kesulitan mencari cara untuk menenangkannya. Ia bergegas berdiri. “Sebentar, aku akan panggilkan suster…”

“JANGAN!”

Yaji benar-benar terkejut. Onako tiba-tiba berteriak lantang di tengah tangisannya. Baru pertama kali ia mendengar Onako mengeluarkan suara sekeras itu.

“Jangan… jangan pergi…!”

“T-tapi…”

Dalam sekelebat, Onako langsung mencengkeram erat lengan Yaji dengan kedua tangan kecilnya.

“Aku ingin ikut dengan Paman!”

Yaji mematung di tempatnya untuk sejenak. Perkataan Onako barusan membuatnya kehabisan kata-kata.

“M-maksudmu?”

“Paman… sebelumnya pernah bilang, kan? Soal menjadikanku… anak… angkat…”

Yaji kembali terkejut. Ia langsung tersipu malu dan menjadi salah tingkah. “E-e-eh…! Soal itu… erm… Lupakan saja untuk sekarang—”

“Hm?” Onako mendongak, ia menatap Yaji dengan wajah penuh mengharap. Matanya yang sembab dan pipinya yang merah dan basah kini terlihat dengan jelas. “Memangnya kenapa, Paman?”

“Tidak…! Maksudku… aduh, bagaimana, ya…” Kepala Yaji tidak bisa mengikuti semua perubahan emosi yang mendadak ini. “Ternyata, kamu masih mengingatnya, ya…”

“Te-tentu saja! Aku tidak pernah lupa. Lalu… aku juga selalu… ingin meminta maaf dengan benar kepada Paman. Saat itu… aku benar-benar tidak sopan. Paman hanya bertanya kepadaku, tapi aku… aku… minta maaf…”

Mendengar perkataan Onako yang patah-patah dan kaku, Yaji hanya bisa tersenyum takzim. Ia berjongkok di hadapan Onako.

“Kamu sudah mendengar perkataanku di telepon tadi malam, bukan? Aku tidak mempermasalahkannya. Kamu tidak perlu meminta maaf untuk apapun. Kamu yang mengingat permintaanku pada hari itu saja, itu sudah membuatku bahagia. Jadi, jangan menangis. Oke?”

Yaji tanpa sadar mengelus ubun-ubun Onako dengan lembut. Setelah itu, isakan Onako perlahan mereda. Gadis itu mengelap pipinya yang basah.

“Jadi, apakah aku boleh ikut dengan Paman?”

Yaji menghentikan elusannya. “Hm? Apa?”

“… Apakah tidak boleh?”

Yaji baru saja tersadar akan sesuatu. “E-eh? Kamu… kamu serius soal itu?”

“Eng… Iya…?” jawab Onako dengan wajah sedikit bingung.

“Aku… aku tidak sedang bercanda, lho?”

“Um… iya… memang begitu, kan?”

Yaji tersentak selangkah ke belakang. Di luar dugaannya, ternyata gadis ini serius soal permintaannya saat itu. Tapi, apakah ia sungguh…

“Kamu tidak sedang menggodaku, kan?”

“Aku tidak sedang bercanda, Paman.” Wajah Onako tampak sedikit sebal. Sial. Gadis ini benar-benar serius.

Yaji memang sudah memikirkannya sejak lama dan matang-matang, namun tentu saja mendapat persetujuan yang cukup mendadak seperti membuatnya kembali berpikir soal keputusannya ini. “Tapi… sebenarnya… aku masih tidak terlalu yakin…”

“Hm?”

“Yah… kamu tahu… tempat tinggalku tidak terlalu luas dan nyaman… lalu aku mungkin kurang bisa diandalkan…” Yaji mulai secara tidak sadar mengalihkan pandangannya, pikirannya mulai ke mana-mana.

“Um… sekarang ada apa, Paman?”

“Kamu… benar-benar yakin? Mungkin kamu bisa jadi malah kecewa nantinya—” “Tidak apa-apa kok, Paman.”

Yaji terdiam seketika. Ia menatap lurus wajah Onako di hadapannya.

“Apapun itu, aku tetap ingin ikut dengan Paman. Dengan begitu, aku bisa mendengarkan Quma dan Keko mengobrol lebih sering lagi. Lalu, aku bisa bertemu dengan Paman… setiap hari. Rasanya… pasti menyenangkan.”

Tanpa sadar, Yaji sudah berlinang air mata. Ia bersegera mengelapnya.

“Anu… Paman, ada apa?”

“Eh, tidak…”

Emosi Yaji benar-benar bercampur aduk saat itu. Untuk sesaat, ia masih tidak paham mengapa ia bisa sampai menitikkan air mata seperti ini. Mengapa, hanya karena Onako menerimaku, aku bisa menjadi seperti ini?

“Paman… tidak enak badan?”

“Tidak… aku hanya sedang merasa senang.” Yaji buru-buru tersenyum lebar, berusaha untuk kembali mengendalikan emosinya. “Lebih dari itu, pokoknya aku tidak apa-apa.”

Onako memasang wajah kebingungan, membuat situasi canggung seketika. Yaji buru buru memasang senyum lebar agar tidak membuat gadis itu cemas.

“Bolehkah aku memelukmu sekarang?”

Tepat setelah mengatakan itu, Yaji juga menyadari mungkin ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah—ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan memalingkan tatapannya. “Maaf—”

“Boleh, kok!”

Yaji terkejut. Ia kembali menatap wajah Onako. Kini gadis kecil itu tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya. Yaji tidak melewatkan kesempatan ini, ia langsung memeluk Onako dengan hangat.

“Terima kasih, Onako.”

“… Paman sudah merasa lebih baik sekarang?”

Yaji melepaskan pelukannya, mengangguk-angguk. “Hm-hm. Jauh lebih baik.”

Kemudian, Yaji memegang Keko dengan tangannya. “Aku juga senang, lho! Sekarang, kita semua bisa saling bertemu bersama lebih sering lagi. Ini pasti akan menjadi semakin menyenangkan. Bukan begitu, Quma, Onako?”

Onako sempat kebingungan, namun ia langsung mengerti. Ia segera mengambil Quma miliknya. “Tentu saja! Aku sangat menantikannya!”

Mereka berdua pada akhirnya saling tertawa lepas bersamaan. Kemudian mengobrol untuk lebih lama lagi.

Selama ini, Yaji tidak sadar. Mungkin ia memang sudah banyak dipuji oleh atasannya, dan orang-orang lain di kantornya. Namun, ia tak pernah merasa senang atas semua pujian itu. Ia selalu merasa bahwa ia tak melakukan sesuatu yang spesial. Ia hanya sekadar melaksanakan hal yang ia perlu lakukan, lalu ia akan mendapatkan gajinya, dan akhirnya bermain konsol game di kamarnya untuk melepas penat.

Namun, kali ini berbeda. Yaji berusaha keras untuk mendapatkan hati Onako yang masih diselimuti oleh trauma dan kenangan buruk. Kali ini, ia tidak melakukannya karena pekerjaan. Semua perasaan bersalahnya terhadap Onako sudah membuka hatinya. Secara perlahan ia mulai mengerti, bahwa berinteraksi dan melakukan sesuatu demi kebaikan orang lain bisa menjadi menyenangkan juga. Mengurung dan menutup diri dari orang lain tidak akan mengubah apapun. Pada akhirnya, menerima pengakuan dari Onako yang seperti itu, Yaji benar-benar tidak berdaya untuk menahan luapan emosinya.

Hal yang ia dapatkan kali ini bukan sekadar pujian hambar dari orang-orang di kantornya, melainkan dari seseorang yang ia anggap penting dan berharga.

Pertama kali sejak sekian lama, ia benar-benar merasa bahagia dari lubuk hatinya.

~TO BE CONTINUED, (HOPEFULLY)~

Beberapa hari setelah itu.

Yaji sudah membulatkan tekadnya. Ia akan bertanggung jawab secara penuh atas Onako. Proses untuk mengadopsi gadis itu berjalan jauh lebih cepat dari yang dikira. Karena kondisinya yang sekarang tinggal sebatang kara dan tidak punya apa-apa, Yaji hanya perlu untuk pergi ke kantor kependudukan di daerah sekitar untuk mengurus semua perizinan dan administrasinya. Seluruh proses itu bisa selesai hanya dalam satu hari saja.

Selesai menandatangani dokumen terakhir yang harus ia urus, Yaji pun melangkah keluar dari pintu kantor kependudukan dan beranjak pulang. Sesampainya di kamarnya, ia kembali mengamati berkas-berkas yang sudah ia urus tadi. Memang, keseluruhan proses ini berjalan tanpa ikut campur oleh gadis itu sendiri. Namun, Yaji kembali teringat oleh panggilan telepon yang ia lakukan tadi pagi.

“Tapi, apakah Anda benar-benar yakin soal ini? Anak itu mungkin takkan menyukainya. Lalu… menurut saya ini semua tidaklah sesederhana itu… mengadopsi dan mengasuh seorang anak itu–”

“Ya, saya mengerti. Tapi, tidak ada pilihan lain. Saya harus melakukannya. Demi kebaikan gadis itu. Lalu…”

“Huh… baiklah kalau Anda mengerti. Juga… kondisinya sekarang–”

“Iya, saya mengerti, Pak. Saya mengerti dengan sangat jelas. Saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya dengan baik.”

Kurang lebih begitulah akhir pembicaraan Yaji dengan Sang Penyidik di telepon tadi pagi. Yaji sendiri juga menyadari bahwa ia melakukan semua ini tidak hanya untuk kebaikan gadis itu, melainkan juga untuk menebus kesalahannya kali ini. Ia tak bisa membayangkan hari-hari yang akan ia lalui ke depannya apabila ia masih terus dibayangi rasa bersalah akan kejadian ini. Ia takkan bisa tidur dengan lelap untuk setiap malamnya.

Yaji mengepalkan tangannya. Ini adalah jalan yang sudah kupilih. Aku tidak boleh ragu untuk sekarang.

Apapun yang terjadi dari sekarang, semuanya akan baik-baik saja.

Demi keegoisanku, dan juga gadis itu.


Penulis: MysticaLoof

What Awaits upon the End of a Journey?

Entry Writchal #3
Tema: Coming of Age, Fantasy, Psychological, Drama, Romance, Philosophical


“Woah, keren!” 

“Ceritakan lagi, ceritaaa!!” 

“Jadi, bagaimana akhirnya?” 

Sekelompok anak kecil sedang berkumpul di suatu ruangan, mendengarkan dongeng dari seorang  kakek tua. Mereka semua saling menggigiti ibu jari mereka masing-masing, banyak yang mengeluh karena sang  kakek yang sengaja melambatkan temponya bercerita. 

“Ah, sebentar. Aku lupa.” Kakek itu tertawa lebar dan sedikit terbatuk-batuk. 

Setelahnya, seisi ruangan semakin menjadi. Semuanya saling berteriak dan mengeluh tak terkendali.  Anak kecil yang duduk berdekatan sang kakek mulai menarik-narik jubah tua miliknya. Sang Kakek hanya  terkekeh kecil dalam keributan ini. 

“Jadi, selanjutnya… Si Pahlawan akan—“ 

Hanya dengan satu kalimat yang keluar dari bibir keriputnya langsung membuat seisi ruangan sunyi  dalam sekejap. Semuanya langsung kembali duduk manis di tempatnya masing-masing. Ia menghela napas  sejenak. 

Sang Kakek terus melanjutkan ceritanya, sekarang sudah memasuki klimaks. Mungkin tak ada yang  menyadari, tak satupun dari anak-anak kecil yang sedang berada di dalam ruangan mengedipkan matanya  sekarang. Seolah perkataan kakek itu memiliki semacam sihir, memikat semua pendengarnya.  

Ah, bukan seperti itu. Aku tidak punya sihir apapun. Aku juga tidak berpikir penyampaian ceritaku  sebagus itu.  

Tapi, aku tahu seseorang. Dia bisa memakai sihir, dan semua hal luar biasa lainnya. Dia benar-benar  orang yang penuh keajaiban. 

“Lalu ziiing! Si monster lumut berhasil dikalahkannya setelah perlawanan yang panjang. Semuanya  tersenyum dengan luka dan keringat kebanggaan dari wajah mereka.” 

Sang kakek menutup buku cerita miliknya. “Selesai.” 

Prok. Prok. Prok prok. Prok prok prok prok. 

Ruangan langsung dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan dan sorakan. Bisa dilihat wajah-wajah  senang dan penuh semangat dari para bocah laki-laki, juga ada beberapa yang meneteskan air mata dari  beberapa bocah perempuan. Sang kakek menghela napas, ia merasa lega. Jarum jam sudah menunjukkan pukul  delapan malam. Anak-anak pun berdiri serentak, mengucapkan terima kasih dengan kompak. Satu per satu  mulai membentuk antrean untuk meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumah masing-masing. 

Sampai sekarang, mungkin aku masih merasa sedikit kesepian tanpamu, tapi aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Kek? 

“Apa yang menunggu di akhir sebuah perjalanan panjang?” 

Itulah pertanyaan yang sering kali mengganggu pikiranku. Aku hanya memandangi kota dari kejauhan dari atas bukit sambil menggigit malas buah apel yang sedang kupegang.  

Namaku Lacke. Hanyalah seorang pemuda biasa yang membosankan. Aku tinggal di sebuah gubuk  kecil di atas bukit. Sejak kecil aku selalu hidup sendiri, tak memiliki satu pun kerabat. Aku sudah tinggal di  gubuk kecil ini sejak aku masih berusia lima tahun, sejak seorang pak tua membolehkanku untuk tinggal secara  cuma-cuma. Oh iya, apabila kalian penasaran—dia meninggal sebulan setelah itu. Kuburannya ada di lereng  bukit sekarang. 

Setiap hari, aku hanya menjalani hidupku di bukit ini. Tak ada yang spesial. Paling tidak, aku cukup  ahli dalam menangkap kelinci liar dan memanjat pohon untuk mengambil buah-buahan. Namun, hanya  sebatas itu saja. Aku hanya menjalani kehidupan sehari-hariku di bukit ini—tak kurang, tak lebih. Begitulah,  dan lama-kelamaan aku mulai memikirkan pertanyaan seperti itu. 

Mati? Tentu saja aku pernah memikirkan itu. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana rasanya mati. Tak  ada yang bisa bercerita soal itu. Benar, mati hanya sekali dan kau tak bisa kembali lagi. Oleh karena itu, aku  hanya penasaran soal apa saja yang bisa kulakukan sebelum aku mati. Tapi, aku masih tak punya ide sama sekali  soal itu sampai sekarang.  

Mungkin, mati sekarang bukanlah ide yang buruk. 

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Keseharianku hanya berisi kekosongan seperti ini.  

Perlahan kesadaranku mulai menipis, mataku mulai menutup. Namun, beberapa detik kemudian, aku  merasakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku seketika membuka mataku lebar-lebar, dan pandanganku  berputar-putar. Aku sedang menggelinding menuruni lereng bukit. Aku sudah hidup di bukit ini bertahun tahun, dan aku tahu kecuraman lereng bukit ini. Aku takkan bisa selamat setelah sampai di dasar nanti. Entah  apa yang aku pikirkan untuk duduk di atas sana saat aku mengantuk. Aku menutup mataku rapat-rapat. 

Sekujur tubuhku rasanya sakit semua. Aku tidak suka ini. Ini rasanya menyakitkan. 

Apakah mati itu rasanya seperti ini? 

Wooosh! Srak! 

Tiba-tiba aku merasakan tubuhku berhenti menggelinding, rasanya aku dihentikan oleh sesuatu secara  lembut. Aku membuka mataku. 

“Whoa, whoa. Apa yang terjadi di sini, anak muda?” 

Seorang kakek tua berjubah hitam sedang menggendongku sekarang. Aku hanya bisa merasa  kebingungan.  

“Aduh, ah…” Rasa sakit langsung menyergapku. Aku baru menyadari bahwa sekujur tubuhku  sekarang penuh luka dan bersimbah darah. Kakek tua itu buru-buru menurunkanku.  

“Tunggu sebentar…”

Aku hanya bisa meringis kesakitan. Pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan rasa sakit yang  seperti ini. Rasanya perih sekali. Namun, aku tiba-tiba melihat sesuatu yang sama sekali tidak bisa kupercaya  dengan mata kepalaku sendiri. Seketika aku langsung melupakan seluruh rasa sakit yang sedang kurasakan. 

Kakek tua itu tiba-tiba menggumamkan sesuatu, lalu cahaya berwarna-warni mulai keluar dari kedua  tangannya. Ia mendekatkan tangannya kepada luka-lukaku. Seketika, lukaku langsung menutup dan tubuhku  terasa hangat.  

“Hm? Kau tak tampak begitu terkejut, ya.” 

“Eh—ah—” Aku menjadi sedikit tergagap, bingung hendak berkata apa.  

Kakek tua itu tertawa kecil. “Ya ampun. Memangnya kau tak pernah mendengar dongeng?” “Ngg… tak pernah…” 

“Kau serius?” 

“I-itu benar…” 

Kakek tua itu tersenyum. Cahaya di tangannya meredup. Luka di sekujur tubuhku sudah pulih  sepenuhnya, justru sekarang badanku merasa segar. Darah dan kotoran pada pakaianku juga sudah bersih. Aku  kehabisan kata-kata.  

“Di mana orang tuamu?”  

Aku hanya menggeleng pelan. 

Kakek tua itu mengamatiku secara perlahan. “Apakah kau tinggal sendirian?” 

“… Begitulah.” 

Kakek tua itu tersenyum takzim. “Ah, benar. Yang sepertimu memang ada, ya. Maafkan aku.” 

“… Hm.” Aku masih tak bisa berkata apapun. Aku yang selama ini sendirian menyulitkanku untuk  mengikuti percakapan dan rangkaian kejadian ini.  

“Kuberitahu saja.” Kakek itu kembali mengangkat kedua tangannya, dan cahaya berwarna-warni  seperti yang tadi keluar dari tangannya. “Ini namanya sihir. Ini sangat hebat, lho. Kau bisa melakukan berbagai  hal luar biasa dengan ini. Seperti menyembuhkan lukamu yang tadi, itu tak ada apa-apanya.” 

Meskipun tak menunjukkannya, sebenarnya aku cukup terkejut sekarang. Sihir. Aku pernah  mendengarnya dari percakapan orang-orang di kota dulu, namun tak pernah tahu apa itu. Melihatnya secara  langsung di depan mata kepalaku seperti ini, entah mengapa… rasanya hebat. 

“Sihir? Tapi bukankah itu sudah lama sekali hilang…” Paling tidak, itulah yang dulunya sering  kudengar dari orang-orang. 

“Oh? Jadi kau tahu tentang sihir.” 

“A-aku hanya pernah beberapa kali mendengarnya dulu…” 

“Begitu, ya.”

Hening sejenak. Situasi menjadi canggung untuk beberapa detik.  

“Dari yang kau dengar, sudah berapa lama sihir hilang dari dunia ini?” 

“Eng—aku tak terlalu ingat… Tapi sepertinya sudah lama sekali… kurasa sudah tak ada yang  memakainya sekarang.” 

Kakek tua itu mendekat kepadaku, menatap wajahku dari dekat. Ia nyengir lebar. “Kalau begitu,  menurutmu kenapa aku bisa memakainya sekarang?” 

Aku beringsut mundur untuk menjaga jarak. “A-aku tidak tahu…” 

“Ayolah, tebak saja. Memangnya wajah ini tidak memberimu ide sama sekali?” 

Aku berpikir sejenak. Yah, memang dia sudah kakek-kakek, sih… memang mungkin saja dia sudah  hidup sangat lama sejak zaman sihir. 

“Berarti… Kakek sudah hidup sejak zaman sihir masih ada di dunia ini?” 

Dalam sekejap, senyum di wajah kakek tua itu langsung berubah terkejut. “Tunggu dulu. Apa yang  kau bilang tadi?” 

“E-eh? Anu… apakah kakek sudah—” 

“Kau bilang kakek?” 

“I-iya…” jawabku dengan kebingungan. Memangnya ada apa? 

Kakek itu memegangi wajahnya sendiri, merapalkan sesuatu. Untuk beberapa detik, cahaya sempat  keluar dari kedua tangannya. Sekarang ia menatapku tajam. “Bagaimana dengan sekarang?” 

Aku semakin kebingungan. “A-ada apa?” 

“Kau… sungguh tak melihatnya?” 

“Melihat apa?” 

“Eng… sudahlah, lupakan saja.” Kakek itu mengusap wajahnya, lantas kembali tersenyum. “Maaf, tapi  kau harus melupakan semua yang terjadi di sini. Yah, paling tidak aku bersyukur bisa menyelamatkanmu tadi.” 

Setelah itu, Kakek tua itu memegang dahiku dengan tangannya yang kembali memancarkan cahaya.  Ia menggumamkan sesuatu, sama seperti saat tadi ia menyembuhkan lukaku dengan cahaya aneh ini. Apakah  masih ada luka di dahiku? 

Cahayanya meredup, kakek tua itu menurunkan tangannya. Wajahnya tampak terkejut. 

Kakek itu segera memegang dahiku kembali, kini cengkeramannya lebih kuat. Cahaya kembali  memancar dan kakek tua itu kembali bergumam, kini lebih cepat. Setelah ia selesai, tak ada apapun yang terjadi.  Ekspresi terkejut di wajah kakek itu sekarang berubah menjadi panik.  

“… Kek?” 

“K-kau tidak tertidur? Kau tidak merasa mengantuk?”

Aku memegangi dahiku. “Apakah masih ada luka di dahiku?” 

“Tidak, bukan begitu.” Kakek tua itu mengusap wajahnya, menundukkan kepalanya. “Itu barusan  adalah sihir untuk manipulasi ingatan. Seharusnya itu mempan terhadap semua makhluk hidup yang  kutemui…” 

Aku mengusap-usap dahiku. Sudah sejauh ini, dan aku masih kebingungan soal semua yang terjadi di  sini sekarang. “Hm…” 

“Hei, Nak. Kau… masih mengingat semuanya? Soal pembicaraan kita barusan?” 

Aku hanya mengangguk pelan.  

“Saat aku menyembuhkan lukamu juga?” 

Aku kembali mengangguk pelan, sementara kakek tua di hadapanku ini semakin kelabakan. “Anu… apakah kau benar-benar tak bisa melupakannya?” 

“Aku… tidak tahu.” 

Kakek tua itu menghela napas panjang. “Apakah kau akan memberitahu orang lain soal semua yang  terjadi hari ini?” 

“… Aku juga tidak tahu.” 

“Begini, tolong, tolong! Jangan beritahukan soal hari ini kepada siapapun! Kumohon!” Kakek tua itu terdengar sangat gelisah, ia tiba-tiba bersujud di hadapanku. Kini aku benar-benar tak tahu harus apa. 

“A-anu…” 

“Tolong! Aku mohon kepadamu! Aku rela melakukan apapun!” 

“Y-yah, maksudku, aku juga jarang mengobrol dengan orang lain juga… aku menghabiskan  keseharianku di bukit ini.” 

“Benarkah?!” Kakek itu mengangkat wajahnya, ia tampak putus asa.  

“I-iya…” 

“Terima kasih! Terima kasih!” Aku langsung dipeluk erat olehnya. Jujur saja, aku sebenarnya tak  merasa begitu nyaman dipeluk erat oleh seorang kakek-kakek seperti ini.  

“… Kau tidak berbohong, kan? Kau berjanji kepadaku?” 

“Ah… Baiklah. Aku mengerti.” 

Kakek tua itu menghela napas panjang. Ia langsung mengempaskan punggungnya di atas rumput. “Aku sungguh berterima kasih, anak muda. Aku sungguh berterima kasih.” 

Aku tak menjawab. Embusan angin bertiup menyela pohon-pohon dan rerumputan, menerbangkan  anak rambutku dan jubah kakek tua itu.

“Anu… kakek. Apakah aku boleh bertanya sesuatu?” 

“Ah, silakan. Tanyakan apa saja yang kau mau.” Kakek tua itu tersenyum lebar. “Ah, tapi kalau kau  ingin bertanya soal sihir atau yang lainnya, tolong jangan bercerita kepada siapapun, oke?” 

Aku mengangguk lemas.  

“Kakek… bagaimana kalau aku mati sekarang?” 

Senyum di wajah kakek tua itu langsung menghilang, digantikan oleh wajah keheranan. “Maaf?” … 

“Jadi, begini…” 

“Hei—hei! Jangan bercanda hal seperti itu, Nak! Itu tidak baik!” Kakek tua itu segera mengguncang  pundakku.  

“Tapi… aku serius. Aku tidak sedang bercanda.” 

Kakek itu terkesiap seketika. “Nak! Apa yang kau katakan?!” 

“S-sudah kubilang, aku tidak bercanda…” 

Akan tetapi, kakek itu sepertinya tetap salah paham dengan perkataanku dan terus mengoceh  setelahnya. Aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan racauannya.Aku hanya bisa menghela napas panjang. 

“Jadi, Kakek tidak mau menjawabnya, ya…” 

Mendadak, ocehan kakek itu berhenti. “E-eh, tidak! Bukan begitu juga… anu…” 

Kakek itu pun menenangkan dirinya dan mengambil napas panjang. Ia memperbaiki posisi duduknya. 

“Maaf. Padahal aku sudah berjanji sebelumnya. Baiklah, aku akan mencoba untuk menjawabnya  sebisaku terlebih dahulu.” 

Kakek itu menangkupkan kedua tangannya. “Jadi, kau bertanya, bagaimana kalau kau mati sekarang,  begitu?” 

“Iya.”  

“Apakah kau ingin mati sekarang?” 

“Entahlah… mungkin… iya.” Aku menjawabnya dengan penuh keraguan. 

“Hmm.” Kakek tua itu menundukkan kepalanya. “Kau punya suatu alasan untuk itu?” 

“Aku… juga tidak terlalu tahu. Selama ini, aku merasa kosong. Aku terus hidup, tapi tak pernah  melakukan apapun. Makanya, aku mulai bertanya-tanya apakah aku masih perlu melanjutkan semua ini atau  tidak…”

“Jadi, berarti aku yang menyelamatkanmu tadi hanyalah menghalangi keinginanmu untuk mengakhiri  hidupmu?” 

“Tidak… yang barusan itu kecelakaan. Aku tidak sengaja tertidur di puncak bukit dan terjatuh…” “Jadi yang barusan itu bukan karena kehendakmu?” 

“… Bukan.” 

“Apakah setelah ini kau akan mencoba lagi? Bunuh diri?” 

“Soal itu… aku juga tidak tahu.” 

Mata kami berdua bertatapan sejenak, namun aku langsung memalingkan wajahku. Kakek tua itu  menyeringai tipis. “Kau ini memang penuh kebimbangan, ya, Nak.” 

“Memangnya kenapa? Kalau kau merasa memang ingin mengakhirinya, kenapa tak kau lakukan?” Aku tidak menjawab. Justru itulah yang aku bingungkan sekarang.  

“Aku bisa tahu setelah melihatmu sekarang. Kau kesepian, bukan? Kalaupun kau mati, takkan ada  yang tahu ataupun menangisimu. Apakah aku salah?” 

Aku menggeleng. “Sepertinya… memang begitu adanya.” 

“Kalau begitu, apa yang menghalangimu dari itu? Kalau kau mau, kau bisa melakukannya kapan saja.” Aku mengepalkan kedua tanganku, sekujur badanku mulai gemetaran. “Sebenarnya… aku takut.” “Hm? Takut?” 

“Aku memang merasa kosong untuk terus hidup di sini, tapi aku juga tak tahu apa yang akan terjadi  setelah aku mati nanti. Tak ada seorangpun yang pernah bercerita soal apa yang terjadi setelah seseorang mati.  Setiap orang hanya bisa mati sekali, dan itu memang wajar. Aku juga tak terkecuali.  

“Di saat yang sama, aku terus-menerus bertanya kepada diriku sendiri. Apakah ada hal yang bisa  kulakukan di dunia ini sebelum aku mati? Karena mati hanya sekali, dan aku takkan bisa kembali lagi ke dunia  ini. Kalau saja hal seperti itu memang ada, aku ingin melakukannya. Tapi, sampai sekarang, aku tak pernah  menemukannya. Oleh karena itu, aku mulai berpikir… bahwa apakah sekarang adalah saat yang tepat untuk  mengakhiri semuanya…” 

Kakek tua di hadapanku sekarang menggumam panjang sambil mengelus-elus janggutnya. “Ya ampun.  Kau ini benar-benar cocok dengan ‘hidup segan, mati tak mau’. Heheh,” Kakek itu tertawa kecil. Aku juga  setuju, aku tak bisa membalas perkataannya. 

“Jadi, pada intinya, kau ingin melakukan sesuatu yang berguna sebelum kau mati, bukan? Hanya  sesederhana itu.” 

Aku mengangguk lemah. 

“Eng… begini. Kau ingin menemukan sesuatu yang ingin kau lakukan sebelum kau mati?” Aku kembali mengangguk lemah. “Ya, kurang lebih begitu.”

“Hm, baiklah. Satu tahun. Untuk satu tahun dari sekarang, apakah kau mau ikut denganku?” “Hm?” 

“Seperti yang kau lihat, aku ini seorang penyihir, namun aku juga seorang pengembara. Aku  menjelajahi banyak tempat di dunia ini. Bila kau ingin mencari sesuatu yang ingin kau lakukan, kau bisa  mencarinya bersamaku. Bagaimana?” 

Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna perkataan kakek barusan. “Anu…” 

“Aku tahu ini keputusan yang besar, tapi kupikir pemuda kesepian sepertimu tak butuh waktu yang  lama untuk memutuskan. Kau tak punya banyak hal yang perlu dipertimbangkan juga, kan?” 

Kakek itu benar. Aku hanyalah seseorang yang kesepian, kosong, dan tanpa tujuan yang tinggal  menunggu kematian. Namun, hanya saja… 

“… Ke mana saja kakek akan berkelana?” 

Kakek tua itu langsung tersenyum lebar. Wajahnya langsung kembali bersemangat dalam seketika.  “Haha! Tentu saja, seluruh dunia!” 

Aku kembali lagi terdiam, tak bisa langsung memahami perkataan kakek ini secara langsung. “Oi, apa yang kau bengongkan. Jadi, apa jawabanmu?” 

“Eng… Anu…” 

“Aku ini penyihir yang hebat. Banyak sekali hal tak mungkin yang bisa menjadi mungkin dengan sihirku. Kau tak percaya denganku?”  

“T-tentu saja aku percaya hal itu. Hanya saja…” 

Kakek itu menaikkan sebelah alisnya. “Hanya saja?” 

“Aku sama sekali tidak tahu dunia luar akan menjadi seperti apa. Aku saja jarang meninggalkan bukit  ini…” 

“Heh. Itu sudah jelas. Oleh karena itu, kau akan ikut denganku, bukan begitu?” 

Aku memainkan jemariku perlahan. Menundukkan wajahku. Aku masih merasa gelisah. 

“Tenang saja, Nak. Yah… aku memang tidak bisa menjaminmu dunia luar itu seperti apa. Tapi, satu  hal yang bisa kujamin, dunia luar itu sangat luas dan penuh hal baru yang bahkan tak pernah kau bayangkan  sebelumnya.” 

“Apakah dunia luar… menyenangkan? Atau…” 

“Hei, barusan kukatakan, bukan? Aku tak bisa menjamin apapun. Semua hal bisa terjadi di luar sana.  Menyenangkan, ataupun tidak. Aku hanya tak ingin mengecewakanmu.” 

Aku merapatkan gigiku. Mengapa aku begitu gelisah? Aku tak punya apapun yang menghalangiku  untuk menerima tawarannya. Ini mungkin adalah tawaran sekali seumur hidup yang mungkin takkan pernah  kudapatkan lagi kelak. Aku harus melakukannya.

Aku mengangkat wajahku, menatap kakek itu dengan penuh keyakinan. “Aku akan ikut denganmu,  Kek.” 

Kakek itu langsung tersenyum lebar. Ia berdiri sambil memegangi tanganku, memaksaku juga ikut  berdiri. “Itulah jawaban yang kutunggu. Baiklah, kita berangkat sekarang!” 

“E—eh?!” Aku mengeluh pendek. “S-sekarang?” 

“Tentu saja! Menurutmu kapan lagi?” 

Aku sebenarnya hendak mengeluh soal ini, namun kuurungkan. Aku hanya punya waktu satu tahun  dengan kakek ini untuk menemukan hal yang ingin kulakukan di dunia ini dengan berkeliling dunia. Aku  berjanji dengan diriku sendiri, aku takkan melewatkan satu hari pun dengan percuma.  

“Namaku Eon. Kau?” Kakek itu mengulurkan tangannya.  

Aku menjabat tangannya dengan yakin. “Lacke, Kek.” 

… 

“Bagaimana hari ini, Kek?” Seorang penjaga panti bertanya sambil mengelap beberapa perabotan di  ruangan tengah. 

Kakek itu meluruskan janggut panjangnya. “Hmm… Menyenangkan, seperti biasa.” “Sejak kau datang ke sini, kau selalu melakukan ini. Apa kau tidak bosan?” 

Kakek itu tertawa renyah. “Hah? Bosan? Kau pasti bercanda.” 

“Yah… tapi…” 

“Tak mengapa. Memang inilah yang kuinginkan.” 

Penjaga itu menyeduh secangkir teh, menyajikannya di meja kecil di dekat sang Kakek. “Tapi… kau  dulunya adalah pengembara, bukan? Pengembara yang sangat terkenal. Kau berkeliling dunia, melanglang  buana ke semua macam tempat. Menulis cerita tentang semua tempat yang kau datangi. Tak ada yang pernah  mengira bahwa kau akan ‘pensiun’ dari kehidupanmu sebagai pengembara dan akhirnya menetap di tempat  seperti ini.” 

“… Dan kau penasaran?” Kakek itu menyeruput teh hangat miliknya. 

“Yah… tentu saja. Selama ini tak pernah ada yang menanyakanmu karena kau selalu saja menghindari  pertanyaan itu.” 

“… Oh, sampai di mana kita tadi? Uh…”  

Si penjaga panti menghela napas. “Mulai lagi. Berpura-pura pikun. Hentikan itu, semuanya juga sudah  bosan dengan itu.” Ia mengambil teh milik sang kakek, pergi meninggalkan sang kakek sendirian di dalam  ruangan.

“Ah, sepertinya aku membuatnya marah…” 

Sang kakek terdiam, menatap takzim ke arah jendela sambil menerawang jauh. Ia menyeringai halus. 

Tentu saja aku tidak pikun. Malahan, aku masih ingat semuanya sampai detik ini. Semuanya, sampai  mustahil bagiku untuk melakukannya. Ya ampun. 

Hanya saja, aku takkan pernah membeberkannya. Apapun yang terjadi. 

Itulah yang sudah kuputuskan pada hari itu. Dan aku takkan pernah mengingkarinya. … 

Semuanya benar-benar di luar perkiraan akal sehatku. 

Di saat Kakek Eon mengajakku untuk pergi berkeliling dunia dalam setahun, aku masih penasaran  bagaimana itu bisa mungkin. Aku tahu aku tak pernah pergi kemanapun, tapi dunia itu luas, bukan? Sangatlah luas. Bagaimana seseorang akan mengelilinginya hanya dalam setahun? Aku tak pernah terpikir bagaimana cara untuk melakukan hal seperti itu. 

Namun, Kakek Eon tak berbohong soal dirinya. Ia benar-benar seorang penyihir hebat. Dia bisa  melakukan apapun. Ia bisa melakukan sihir teleportasi untuk berpindah tempat ke mana pun di bumi ini dalam  sekejap, yang membuat berkeliling dunia dengan cepat tak mustahil. Membuat sesuatu tak terlihat,  menghasilkan barang dari tangannya, menggunakan sihir elemen, dan banyak lagi. Benar-benar serbaguna. 

Hampir tak ada hal yang tidak bisa dilakukannya.  

Yang aku masih belum mengerti, kenapa Kakek Eon masih bersikeras untuk menutupi ini semua dari  orang-orang. Ia adalah seseorang yang sangat cocok untuk menjadi pahlawan. Kakek Eon juga banyak  membantu orang lain dalam perjalanan. Setelah menggunakan sihirnya di depan orang lain, ia langsung  memanipulasi ingatan semua orang yang sedang menyaksikannya—dan setelah itu, takkan ada yang mengingat  apa yang barusan terjadi. Terus terang, ini membuatku sedikit bingung.  

Saat daerah sekitar sepi, aku sering kali mencoba untuk bertanya. “Kek, kenapa kau selalu  menyembunyikan kekuatanmu dari semua orang?” 

“Oh?” Kakek Eon menoleh kearahku, menyeringai tipis. “Kau ingin tahu soal itu?” “Kau bisa melakukan apa saja, kan? Sihir Kakek sangat hebat. Kau bisa menjadi pahlawan terkenal.” Kakek Eon tertawa keras. “Kakek sepertiku? Pahlawan? Kau sedang bercanda.” 

“Tapi… aku tidak sedang bercanda…” 

Ini sudah yang kelima kalinya aku menanyakan soal ini kepada Kakek Eon. Aku hanya penasaran,  namun tetap saja. Mungkin saja, dia punya suatu alasan tersendiri dan tidak ingin memberitahuku. Lagipula,  Kakek Eon memang orang misterius yang bisa menggunakan sihir. Pasti ia sudah menyembunyikan banyak hal  yang lainnya selama ini juga. Tapi, yang kuanggap aneh, Kakek Eon sepertinya tidak memakai sihir 

penyamarannya. Semua orang yang berinteraksi dengannya sejauh ini memanggilnya ‘Kek’, seperti seorang  kakek-kakek biasa dipanggil. Namun, aku sebenarnya tidak terlalu mempedulikan hal itu sekarang. 

Tak terasa, sudah hampir satu tahun berlalu. Saat pertama kali mengikuti Kakek Eon, aku mulai  menyadari sesuatu, bahwa dunia luar tidak semengerikan yang aku kira sebelumnya. 

Ya, kami berdua benar-benar sudah mengarungi seluruh dunia. Berbagai macam negara, daerah, cuaca,  orang, suku, semuanya sudah pernah kutemui. Semuanya hal-hal yang baru bagiku dan sangat menyenangkan.  Tidak ada hal-hal tak terduga maupun tidak menyenangkan seperti yang Kakek Eon pernah katakan kepadaku  dulu. Tentu saja ada satu-dua masalah kecil yang muncul di tengah perjalanan, namun Kakek Eon bisa langsung  menyelesaikannya dengan sihirnya. Kakek Eon membantu banyak sekali orang, saling tertawa bersama, lalu  berpisah setelah ingatan mereka dimanipulasi. Tentu saja, tak ada yang mengingat apapun setelah mereka  melihat ataupun bertemu dengan Kakek Eon, kecuali aku. Yah, pokoknya perjalanan secara keseluruhan adalah  pengalaman yang luar biasa dan sungguh menyenangkan bagiku.  

Hanya saja, masih ada satu hal yang masih mengganjalku sampai sekarang. Kakek Eon sudah sebaik  ini untuk memberikan kesempatan denganku untuk ikut dengan perjalanan panjangnya, namun sampai  sekarang aku masih belum memenuhi tujuan utamaku untuk mengikuti perjalanan ini.  

Aku masih belum menemukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Dari semua yang sudah kulewati  bersama Kakek Eon, aku masih belum bisa menemukannya. Sekarang, aku merasa bersalah dengan diriku  sendiri. Aku tidak menepati janji yang kubuat kepada diriku sendiri tepat sebelum memulai perjalanan ini.  

Sekarang, apa yang harus kulakukan? 

“Nak.” 

Aku terbuyar dari lamunanku sejenak. Aku melihat Kakek Eon sedang berdiri di ambang pintu kamar  penginapanku. “Iya, Kek?” 

“Maukah kau menemaniku malam ini?” 

“… Menemani? Boleh saja, tapi… ada apa?” Kakek Eon tidak biasanya bertanya seperti ini. Bila ia  ingin aku menemaninya di malam hari, biasanya ia langsung membawaku bahkan sebelum aku mengiyakannya  tanpa perlu repot-repot bertanya. 

“Tak apa, hanya saja…”  

Aku mulai merasa sedikit cemas. Ini pertama kalinya aku melihat Kakek Eon berwajah seperti itu.  Biasanya ia terlihat senang dan bersemangat terutama saat ia menggunakan sihirnya di hadapanku, namun  sekarang ia tampak cukup murung dan lesu. 

“Kek, kau tidak apa-apa…?” 

“Ah, kau tak terlalu untuk memikirkanku. Masih terlalu cepat bagimu seribu tahun untuk  mencemaskanku, tahu.” 

Kakek Eon memasang wajah tersenyum sebelum meninggalkanku di dalam kamar. Aku memang tidak  terlalu berpengalaman soal ini, tapi… hanya saja firasatku mengatakan bahwa pasti terjadi sesuatu dengan  Kakek Eon.

Malam telah tiba. Kami berdua berjalan menyusuri jalanan malam yang ramai. Mulai berjalan menjauh,  memasuki daerah hutan di tepian kota. 

“Anu, Kek… kita akan berjalan ke mana? 

“Diam saja dan ikuti aku.” 

Aku cukup terkejut dengan jawaban dingin itu. Ya, sesuatu pasti sudah terjadi kepada Kakek Eon. 

Kami berdua berjalan melewati sebuah lorong di tengah hutan yang gelap gulita. Tiba-tiba aku merasa  merinding luar biasa. Dari semua tempat di dunia ini yang sudah kudatangi, belum pernah ada yang seperti ini.  Penerangan hanya bersumber dari api kecil yang dihasilkan dari tangan Kakek Eon dengan sihirnya.  

“A-anu… Kek… tempat ini…” 

Kakek Eon tak merespons, hanya terus berjalan menatap ke depan tanpa menoleh sedikitpun. Aku jadi  tambah takut. Aku ingin sekali bertanya tentang tempat ini, namun urung setelah melihat wajah Kakek Eon  yang tampak benar-benar serius. 

“Kita sudah sampai.” 

Di depanku sekarang hanyalah sebuah dataran kosong muram yang tak bisa kulihat ujungnya. Udaranya dipenuhi dengan kabut. Jarak pandangnya sangat terbatas. 

Aku sebenarnya masih ketakutan sekarang, sama sekali tidak tahu-menahu tempat apa ini. Namun,  entah mengapa tubuhku merasa tenang dan rileks. Aku melirik ke arah Kakek Eon di sebelahku. Sepertinya tempat aneh ini bukan dari ulah sihirnya. Lantas, apa yang sedang terjadi di sini? 

“Nak. Selamat datang di Alam Permulaan.” 

Aku melirik ke arah wajah Kakek Eon dengan gemetaran. “… Alam Permulaan?” 

“Kau tahu sosok dengan kedudukan tertinggi di dunia ini, kan?” 

“… Sang Pencipta?” jawabku dengan ragu-ragu. 

“Ya, benar. Sekarang, dia ada di sini.” 

Aku langsung membelalakkan mata. Menelan ludahku dengan kuat-kuat. Bulu roma di sekujur  tubuhku langsung berdiri tajam. 

“D-di sini…? 

“Ya. Aku baru pernah sekali datang ke sini, dan itu sudah beratus-ratus tahun yang lalu. Saat itu, aku  mendapat semacam petunjuk sebelum datang ke tempat ini. Lalu, beberapa jam yang lalu aku mendapatkan hal  yang sama… dan sepertinya dalam petunjuk itu, aku disuruh untuk mengajakmu juga.” 

“Anu… Kakek tid—” 

Tidak. Jelas saja Kakek Eon sedang tidak bercanda. Dari tadi sejak mengajakku ke tempat ini, ia tak  pernah tersenyum sekalipun. Kakek Eon yang kukenal tak pernah bertingkah sedingin ini.  

“Selamat datang, kalian berdua.”

Aku sedikit terkejut. Aku menoleh cepat ke arah seluruh penjuru mata angin. Suara barusan itu… 

“Ya. Beliaulah Sang Pencipta.” Setelah itu, Kakek Eon langsung duduk bersimpuh dan menundukkan  kepalanya. “Kau, lakukan sepertiku sekarang.” 

“Ya ampun. Kau masih saja kaku seperti biasanya, ya.” 

“M-maaf.” Kakek Eon langsung kembali ke posisi duduk biasa.  

“Nak. Kau.” 

Aku langsung merinding. “S-saya…?” 

“Ya, kau. Jangan seperti kakek tua di sebelahmu itu. Duduklah dengan santai saja. Tak perlu sungkan.  Lagipula, aku sendiri yang mengundangmu ke sini.” 

Aku masih gemetaran. Aku diundang ke sini…? 

Aku melirik ke arah Kakek Eon. Ia sedang berkeringat dingin, menatap tanah di depannya dengan  wajah ketakutan. Bila Kakek Eon saja sampai seperti ini, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan  di saat seperti ini. 

“Yah, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak akan melakukan apapun pada kalian berdua atau  apapun, kok. Aku berjanji.” 

Aku menelan ludah. Apakah aku harus percaya kata-kata itu…? Aku sungguh tidak tahu. 

“Jadi, daripada berlama-lama, mari kita langsung ke alasan langsung aku mengundang kalian berdua  ke sini. Kau, Anak Muda, ada hal yang harus kau ketahui, mumpung kau sekarang sudah di sini. Eon, tolong.” 

“Saya mengerti.” 

Kakek Eon lantas berdiri, memegang tanganku. “Ayo.” 

Kami berdua baru berjalan sebentar, dan Kakek Eon kemudian menjentikkan jarinya. Setelah itu, tiba tiba sekelilingku berubah drastis. Sekarang kami berdua sedang berada di dalam sebuah perkotaan yang ramai.  Meskipun aku sudah berkeliling dunia dan mendatangi segala macam tempat, namun aku belum pernah  melihat yang seperti ini. Pakaian yang dikenakan orang-orang terkesan kuno dan ketinggalan zaman.  Bangunan-bangunan di sekitar juga sama, tampak kuno dan sederhana. Rasanya seperti aku kembali ke sebuah  zaman di masa lampau. Aku paham mungkin ini adalah ulah dari sihir Kakek, namun sejauh ini aku belum  pernah melihat yang seperti ini. 

“Kau tahu tempat apa ini?” 

Aku mendengar percakapan orang-orang di sekitar, sepertinya bahasa yang mereka gunakan bukanlah  bahasa kuno atau apapun—hanya logatnya saja yang terdengar berbeda. “Apakah ini… Kota Centro?” 

“Benar sekali. Bahasa yang mereka gunakan sama sekali tidak pernah berubah, bahkan sejak ribuan  tahun yang lalu.” 

Aku menelan ludah. Jadi ini adalah… Kota Centro di masa lampau?

“Kota ini memang dikenal sebagai Kota Permulaan, awal dari segalanya. Kau sudah mengerti  sejarahnya, kan?” 

Aku mengangguk. Siapa yang tidak tahu sejarah kota ini? Semua orang tahu apa yang terjadi di tempat  bersejarah ini. Ya, aku bisa ceritakan dengan singkat.  

Di masa lampau, pernah ada seorang kaisar yang berniat untuk menaklukkan dunia. Ia memang sangat  hebat dan cerdas, namun hatinya benar-benar jahat dan ia menghalalkan cara apapun untuk meraih apa yang  ia impikan. Sudah separuh dunia ia kuasai, dan ia tak berhenti sampai di situ. 

Namun, pada akhirnya negara-negara yang belum ditaklukkan oleh kaisar itu membentuk aliansi  bersama dan melakukan perlawanan balik. Dan pada sebuah hari yang ditakdirkan, kaisar jahat itu berhasil  dikalahkan. Itu adalah tonggak balik dari kemajuan dunia dari zaman kegelapan saat kaisar itu berkuasa. Selesai. 

“Lihatlah itu.”  

Aku kehabisan kata-kata saat melihat apa yang ada di hadapanku sekarang ini. Sebuah patung raksasa  yang terbuat dari batu terlihat mencolok di persimpangan jalan. Di situ terukir sesosok pria yang sedang dalam  posisi telentang, dengan puluhan pedang yang menusuk setiap inci tubuhnya. Jujur saja itu membuatku sedikit  ngeri dan mual, namun aku masih bisa menahannya. Apa ini? Kenapa patung seperti ini bisa ada di tengah kota  seperti ini? Siapa yang memiliki ide untuk membuat patung seperti ini? 

“Jadi begini, Nak. Aku punya pengakuan kepadamu…” 

Aku menoleh ke arah Kakek Eon. “Pengakuan?” 

“Sosok yang terukir di patung itu… adalah aku.” 

“E—eh, apa?” Apa yang Kakek katakan barusan? Apakah aku tidak salah dengar? 

Kematian Kedua Sang Pembawa Bencana. Itulah nama dari patung ini.” 

Aku mulai menyadari sesuatu. “Itu… berarti…” 

Kakek Eon mengangguk lemah. “Akulah sang kaisar kejam itu. Pembawa bencana terburuk yang  pernah hidup di masa lalu.” 

Isi kepalaku mendadak menjadi kosong untuk beberapa detik. Aku kesulitan memproses apa yang  barusan kudengar. 

“Kalau kau mau, kau bisa memastikannya.” Kakek Eon menunjuk ke arah patung tersebut. Aku pun  perlahan mendekat ke patung itu, memperhatikannya dengan cermat.  

Ini adalah wajah Kakek Eon. Tak salah lagi. Wajahnya persis seperti wajah Kakek Eon yang kukenal  sampai sekarang, ia tidak tampak sedikitpun lebih muda. Memang cukup sulit untuk memastikannya bila hanya  dilihat sekilas, tapi tak salah lagi. Tapi, kalau orang-orang di zaman sekarang tahu wajah kaisar itu dan melihat  Kakek sekarang, maka…! 

“KEK!” Aku langsung berlari menghambur ke arah Kakek Eon. Sebelum orang-orang di sekitar  mengenali wajahnya…

“Hei, hei, tenanglah, Nak. Tenang.” Kakek Eon langsung memelukku, mencengkeram punggungku  erat. “Aku tahu apa yang kau cemaskan. Ini bukanlah dunia yang sebenarnya. Ini hanyalah sebuah gambaran  dunia yang kubuat sendiri. Sekarang, coba kau sentuh orang di sebelahmu.” 

Aku awalnya agak ragu-ragu, namun aku akhirnya tetap mengikuti perkataan Kakek Eon. Dan betapa  kagetnya setelah aku mencobanya. Tanganku langsung menembus tubuh orang di sebelahku begitu saja. Orang  itu juga tampaknya tak memberikan respons apapun. 

“Mereka juga tidaklah asli. Mereka takkan bisa menyentuh, mendengar maupun melihat kita. Jadi,  tenanglah,” pungkas Kakek Eon seraya menjentikkan jarinya. 

Setelah itu, sekeliling kami berdua kembali melebur menjadi ketiadaan seperti ruang kosong yang tadi.  Kira-kira sihir apa yang barusan itu, ya? Pasti semacam sihir rumit yang tidak kumengerti sama sekali. 

“Jadi, begitulah, Nak. Patung itu tadi dibuat beberapa tahun setelah ‘kematian’ keduaku. Kau masih  tidak percaya soal diriku yang sebenarnya di masa lalu?” 

“T-tidak, bukan begitu… Tapi…”  

Aku tidak ingin menganggapnya berbohong, aku hanya merasa bahwa semua ini serba terlalu cepat  dan mendadak. Tapi tetap saja… 

“Aku tahu itu memang sulit. Siapapun pasti takkan percaya itu dalam sekali dengar.” “Kalian berdua.” 

Kami berdua langsung menghentikan langkah kami. Suara ini. 

“Lacke, katakan. Apakah kau ingin tahu lebih banyak soal Kakek di sebelahmu itu?” 

Aku menggigit bibirku. Aku sedang berhadapan dengan Sang Pencipta dunia ini sekarang. Aku sangat  takut untuk salah mengatakan sesuatu, namun aku tetap harus mengatakan ini sekarang. 

Aku mengepalkan kedua tanganku dengan kuat. “Saya ingin tahu.”  

“Baiklah. Eon, mulai sekarang aku yang akan mengambil alih. Kau sudah cukup menjalankan  bagianmu. Aku yang akan melanjutkan dari sini.” 

“Dimengerti.” Kakek Eon berkata lirih. 

“Lacke, sekarang berjalanlah lurus ke depan.” 

Aku sedikit terkejut, langsung mengambil langkah tanpa banyak pertimbangan. Aku sedikit menoleh  ke sebelahku, lalu menoleh ke belakang. Kakek Eon tidak ikut?! 

Kakek Eon hanya tersenyum di tempatnya berdiri. Entah kenapa… aku merasa bahwa aku baru  mengenal Kakek Eon lebih dalam di waktu seperti ini. Sebelumnya, aku hanya mengira bahwa ia adalah seorang  kakek yang periang dengan sihir-sihirnya yang hebat. Aku tak pernah menyangka bahwa semuanya akan  menjadi seperti ini.  

“Berhenti, dan duduklah.”

Aku menghentikan langkahku, dan duduk bersimpuh. Apa yang akan terjadi sekarang? 

Tak lama setelahnya, tiba-tiba banyak gambaran berkelebat memenuhi kepalaku secara bersamaan.  Kepalaku merasa pusing luar biasa. Perlahan, aku mulai menyadari sesuatu. Tidak, semua gambaran ini… aku  tak pernah melihatnya sebelumnya. Apa-apaan semua ini? 

Namun, sebelum aku menyadarinya, aku sudah tak sadarkan diri di tengah prosesnya. … 

Aku tidak bisa tidur malam ini. Dan mungkin juga untuk beberapa hari ke depannya. Sial, aku bahkan  mungkin tidak tidur untuk berminggu-minggu karena ini. 

Tengah malam di kamar penginapan. Aku menatap nanar langit-langit kamar yang remang. Hari ini,  banyak sekali yang terjadi sampai kepalaku hampir tidak bisa mengikuti. 

Hanya beberapa menit waktu yang kuhabiskan di Alam Permulaan. Namun, aku merasa sangat  kelelahan hari ini. Semua yang terjadi di Alam Permulaan itu benar-benar menguras pikiranku.  

Aku ingin cepat-cepat tidur. Melupakan semua ini. Rasanya, aku tidak ingin semua ini nyata. Namun,  bagaimanapun aku mencoba untuk melupakannya, semuanya menjadi semakin susah untuk dilupakan dan  selalu terngiang-ngiang setiap saat.  

Singkat cerita, semua kelebat gambar yang memenuhi kepalaku saat itu adalah ingatan. Sang Pencipta  memberikan keseluruhan ingatan Kakek Eon di masa lalu kepadaku. Setelah memutar beberapa cuplikan  ingatan itu di dalam kepalaku sekarang, aku bisa tahu. Kakek Eon adalah benar-benar seorang kaisar bengis itu  di masa lalu. Sosok manusia terkejam yang pernah ada. Ia sudah hidup lebih dari seribu tahun sejak zaman itu  sampai sekarang. 

Dari ingatan itu, aku bisa melihat bagaimana Kakek Eon menjalani kehidupannya selama lebih dari  seribu tahun itu. Dari sejak ia berkuasa, hingga menjadi sosoknya yang sekarang. Selain itu, aku juga  menyaksikan sebuah kisah yang saat ini menarik perhatianku.  

… 

Saat menjadi kaisar, Kakek Eon meninggal karena usia tua. Setelah meninggal, jiwa Kakek Eon masih  ditolak oleh Sang Pencipta. Ia dianggap telah membuat kerusakan yang terlalu besar di muka bumi ini. Sang  Pencipta pun memberikan hukuman kepada Kakek Eon untuk membereskan seluruh kerusakan yang telah ia  buat di dunia ini. 

Mekanismenya sederhana. Sang Pencipta memberikannya kekuatan sihir yang tidak ada tandingannya,  yang dapat melakukan banyak sekali hal—bahkan yang mustahil sekalipun—namun dengan beberapa  pengecualian. Pertama, sihirnya takkan bisa mempengaruhi hati orang lain. Kedua, sihirnya takkan 

memengaruhi aliran waktu. Ketiga, sihirnya juga tak bisa memanipulasi kematian ataupun kehidupan dari  sesuatu. Sang Pencipta mengklaim bahwa aspek aliran waktu dan kematian akan menjadi terlalu berbahaya  untuk dimanipulasi oleh sesosok makhluk hidup. 

Lalu, setiap ada orang yang merasakan kesedihan dan kesengsaraan dari seluruh penjuru dunia, Kakek  Eon akan merasakan rasa sakit yang luar biasa dalam dadanya. Segala jenis sihir penyembuhan takkan bisa  mengobati rasa sakit itu. Rasa sakit itu hanya akan hilang sampai seluruh orang di dunia ini tidak merasakan  kesedihan apapun. Ia juga tidak bisa mengambil jalan pintas untuk mengubah hati orang lain untuk menjadi  bahagia hanya dengan sihir, sesuai dari pengecualian yang tadi. Ia tidak bisa memanipulasi kebahagiaan orang  lain, melainkan ia harus menciptakannya.  

Kakek Eon juga diberikan tubuh yang abadi. Ini tentunya juga untuk mencegah segala jalan pintas yang  bisa ia ambil untuk melarikan diri dari semua ini—lewat bunuh diri atau semacamnya. Sang Pencipta benar benar membuat sebuah sistem di mana Kakek Eon akan terus mengabdi demi membahagiakan orang lain dan  menghilangkan kesedihan dari dunia ini sepanjang hidupnya. Tak ada jalan pintas sama sekali. 

Sang Pencipta menyebut misi jangka panjang ini sebagai misi seorang Pemelihara. Yakni untuk  memelihara dunia ini dari segala macam kesedihan dan hal-hal buruk. 

Begitulah hukuman yang diberikan kepada kaisar terkejam dunia ini. Tak ada jalan pintas untuk keluar  dari semua ini. Sang Pencipta tidak main-main untuk membuat Kakek Eon membereskan semua masalah dan  kerusakan yang telah ia buat di dunia ini.  

Tentu saja pada awalnya, Kakek Eon sama sekali tidak tertarik untuk mengambil peran Pemelihara iniIa hanya akan berusaha untuk terus menjalani kehidupan keduanya seperti kehidupan sebelumnya dahulu. Ia  akan muncul dan menyatakan diri sebagai kaisar yang hidup kembali dan kembali menguasai dunia.  Sesederhana itu. 

Tapi, kenyataannya tidak begitu. Saat ia mengumumkan secara terang-terangan ke seluruh dunia soal  kebangkitannya, tak satupun manusia yang menyambutnya dengan bahagia. Justru semuanya menolak  keberadaannya kembali di dunia ini. Bahkan seluruh bawahan tepercaya, tangan kanan, dan orang-orang yang  kenal baik dengannya sebelum ia mati sekarang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan.  Kakek Eon diserang secara mendadak saat sedang sendirian di dalam ruangannya oleh mantan tangan  kanannya saat di kekaisaran dulu. Jantung Kakek Eon tertusuk dengan telak, namun tentu saja ia adalah  makhluk yang abadi sekarang. Ia hanya merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun ia tidak bisa mati. 

Setelah menyadari ada yang aneh dengan tubuh Kakek Eon, sang mantan tangan kanan tersebut  langsung berteriak dan kabur. Ia tak bisa selamat dari serangan sihir milik Kakek Eon, namun seisi istana sudah  mengetahui kekacauan yang terjadi. Tidak memakan waktu lama untuk kabar bahwa sosok manusia terkejam  di masa lalu sekarang telah hidup kembali—dan kabar buruknya, ia sekarang abadi dan memiliki sihir yang  jauh lebih kuat dari siapapun. Berita ini langsung menggemparkan seluruh negeri, dan juga dunia. 

Singkatnya, semuanya langsung menjadi kacau pada saat itu. Seisi dunia hendak melancarkan  serangan apapun untuk melenyapkan keberadaan Kakek Eon, namun tidak ada yang bekerja dengan baik. Ia  benar-benar abadi. Semua bagian tubuhnya yang hancur ketika menerima serangan hanya akan pulih kembali.  Namun tentu saja ia tetap merasakan rasa sakit yang luar biasa dari semua itu. Semua kegilaan ini membuatnya  hilang kesabaran. Dalam situasi terdesak, ia sempat terpikirkan sesuatu.

Hm. Bagaimana bila aku melenyapkan seluruh manusia di dunia ini untuk menghilangkan rasa sakit sialan ini? Aku memiliki sihir yang hebat sekarang, begitu pikirnya. Sang Pencipta mengatakan bahwa rasa sakit  ini hanya akan hilang saat semua kesedihan dan kesengsaraan yang dialami seluruh manusia di dunia ini  menghilang. Tentu saja Kakek Eon takkan melewatkan kesempatan ini. 

Akhirnya, dalam satu kesempatan, ia melancarkan serangan sihir dalam skala besar yang  meluluhlantakkan seisi kota dalam satu kali serangan. Tak ada satupun jiwa yang selamat dari serangan sihir  itu. Lenyap sudah seisi Kota Centro dalam sekejap. Kakek Eon berdiri dengan jemawa di atas bekas kehancuran  Kota Centro, tertawa dengan panjang dan luwes setelahnya. Rasa sakit di dadanya juga berkurang, walaupun  hanya sedikit. Ia merasa sudah menemukan jalan pintas yang mudah dengan situasinya sekarang. 

Tapi, semua itu hanya untuk sesaat. Tak lama setelah tawa panjang itu, Kakek Eon langsung  memuntahkan darah dari mulutnya terus-menerus, seluruh organ dalamnya terasa hancur berantakan. Rasa  sakit ini jauh lebih parah dari sebelumnya—bahkan lebih sakit daripada kematian yang pernah ia rasakan  sebelumnya. Namun kembali lagi—karena dia abadi—ia hanya bisa menahan rasa sakit itu. Mati bukan  menjadi jalan pintas yang mudah baginya. 

Rupanya, berita soal kehancuran instan negara itu cepat sekali menyebar ke negara-negara yang lain.  Hal itu hanya menambah kesedihan dan kecemasan dalam hati orang-orang di seluruh dunia. Bukannya  berkurang, namun rasa sakit itu hanya semakin bertambah parah dan terus-menerus menggerogoti tubuh  Kakek Eon dalam setiap napasnya.  

Setelah beberapa hari dirundung rasa sakit itu, Kakek Eon tidak bisa berbuat banyak. Ia sudah tidak  tahan lagi. Akhirnya, ia mulai berniat untuk mulai mengikuti apa yang ditugaskan Sang Pencipta kepadanya.  Mencoba melakukan sedikit pekerjaan dari seorang Pemelihara. 

Awalnya, ia hanya berniat untuk membantu seorang anak kecil yang hidup di suatu daerah kumuh.  Tentu saja, saat itu ia menggunakan sihir untuk mengubah penampilannya menjadi seorang laki-laki tampan  di usia 30-an. Ia membelikan sebungkus makanan untuk anak kecil itu dengan setengah hati.  

“Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih!” 

Setelah mengatakannya, anak kecil itu langsung berbalik badan dan berlari dengan cepat. Kakek Eon  hanya bisa mematung di tempatnya berdiri. Awalnya ia hanya ingin sedikit menjalankan perannya sebagai  Pemelihara agar rasa sakit di tubuhnya ini dapat berkurang. Namun… 

Senyum itu. Gigi anak kecil yang ompong itu terlihat dengan jelas dari senyum lebarnya. Setelah  melihatnya, Kakek Eon tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa aneh. 

Aku hanya memberinya sebungkus roti yang murah. Ia tampak senang, dan rasa sakit yang kurasakan  sampai sekarang masih tidak berubah. Tapi… 

Itu adalah perasaan yang baru bagi Kakek Eon. Ia melihat tangan yang barusan ia gunakan untuk  memberikan makanan itu.  

Aku… apakah aku baru saja berbuat sesuatu yang baik? Atau… 

Merasa penasaran, Kakek Eon berjalan mengikuti jalan yang dilewati anak itu barusan. Setelah  beberapa saat berjalan, ia mulai mendengar suara yang sayup-sayup.

“Ini enak sekali, Kak!” 

“Hehe, sudah kubilang. Paman itu baik sekali!” 

“Kalau dia orang baik, apakah aku boleh menikahinya nanti, Kak? Boleh, kan?” 

“Bodoh. Tak mungkin dia mau menikahi anak-anak kotor seperti kita. Mendapat makanan darinya  saja sudah keajaiban, tahu. Tapi tak apa, Kakak akan selalu mendukungmu sampai kau besar nanti!” 

“Mmm! Kakak yang terbaik!” 

Ada dua bocah yang sedang makan di dalam sebuah gang kecil yang tersembunyi ini. Bocah laki-laki  yang tadi dengan adik perempuannya. Sepertinya mereka berdua saling berbagi roti yang kuberikan tadi. 

Aku juga hampir tertawa dengan si adik yang berkata hendak menikahiku tadi. Tapi, apa-apaan? Itu  hanyalah candaan anak kecil. Tapi, kenapa? Kenapa aku tertawa akan itu? 

Dan kenapa… kenapa… 

Bruk. Kakek Eon tiba-tiba terduduk simpuh di atas tanah. 

Kenapa… lututku gemetaran? Kenapa aku tiba-tiba terjatuh di atas tanah?  

Aku sungguh tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadaku. Rasa sakit dalam dadaku sempat bertambah  ringan, meskipun hanya untuk sesaat. Setelah itu, rasa sakit dalam dadaku malah bertambah lagi. Tapi, kali ini  rasanya berbeda… sakitnya tidak terasa mencabik. Melainkan, rasanya seperti sesuatu yang hangat dan pilu… 

Dan kenapa… air mata ini tak mau berhenti mengalir di kedua pipiku sekarang? Kenapa? Ada apa ini? Kenapa sekarang aku menangis seperti anak kecil? Kenapa?  

Tolong, siapapun… beritahu aku… 

“Paman, paman tidak apa-apa?” 

Tanpa Kakek Eon sadari, kedua bocah tadi sudah berada di sampingnya. Wajah mereka tampak cemas. “Ada apa, paman?” Kini sang adik perempuan yang bertanya. 

Kakek Eon langsung menunduk, lantas mengusap wajahnya dan menarik ingusnya dengan cepat. Ia  mengangkat wajahnya, menatap kedua bocah itu bergantian.  

“Saya tidak apa-apa, kok.” 

Wajah bocah laki-laki itu tampak terkejut. “Paman… kau tersenyum!” 

“A-apa? Tersenyum?” tanya Kakek Eon. 

“Yah, soalnya tadi Paman kelihatan murung terus…” 

Kakek Eon memegangi kedua pipinya. Aku… barusan tersenyum. 

“Tampannya…” kata sang adik perempuan lirih dengan pipinya yang memerah. 

Kakek Eon menoleh ke arah sang adik perempuan. Apa? Apa yang barusan…

“Anu… Paman… apakah paman mau menikahiku nanti—” 

“Hei!” Sang kakak langsung sigap menutup mulut adik perempuannya. “Anu, Paman, soal itu…” 

“Yah, mungkin saat kau sudah besar nanti,” jawab Kakek Eon dengan tersenyum. Aku tidak  seharusnya berbohong seperti ini. Namun entah mengapa… instingku secara tidak sadar mengatakan apabila  aku berbohong, aku akan membuat bocah perempuan ini sedih. Dan aku juga tidak mengerti… kenapa aku harus  mengikuti instingku yang seperti ini sekarang. 

“Hei, kau ini! Bukannya berterima kasih, kau malah berkata tidak sopan begitu! Sekarang minta maaf!” Sang kakak memarahi adik perempuannya. 

“E-eh? A-anu… maafkan aku, Paman…” 

“Haha… hahaha…” 

“Sekarang Paman tertawa! Ada apa, Paman?” 

“Tidak, saya hanya…” 

Meskipun hanya untuk momen ini, hanya untuk beberapa saat… 

Aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku sudah sering sekali merasa  puas dan senang dalam kehidupanku yang sebelumnya. Namun, kali ini rasanya benar-benar berbeda. 

Rasanya… seperti aku bisa tertawa dan tersenyum sebebasnya. 

Rasanya… seperti aku terlahir kembali. 

… 

Dan hanya dengan begitu, Kakek Eon merasa ingin mencobanya lagi. Ia mulai lebih sering  mendedikasikan waktu, pikiran dan kekuatannya untuk membantu orang lain. Perlahan tapi pasti, ia semakin  dikenal oleh orang banyak. Sihir teleportasi yang sekarang ia punya juga semakin memudahkan dirinya untuk  berpindah antar tempat. Walhasil, sekarang seluruh dunia mengenal sesosok pahlawan baik hati dan tampan  yang muncul setelah tirani kekaisaran dan kebangkitan sang kaisar sebelumnya. Mereka tidak tahu, bahwa  mereka berdua sebenarnya adalah orang yang sama. 

Hanya dalam waktu beberapa tahun, Kakek Eon berhasil kembali lagi menjadi pemimpin dunia. Kota  Centro yang dulunya ia luluhlantakkan dalam sekejap beberapa tahun yang lalu sekarang sudah kembali  sepenuhnya, juga berkat usahanya. Kota ini sekarang kembali lagi menjadi pusat dari pemerintahan dunia, dan  sekarang Kakek Eon berhasil memimpin di sana. Ia juga membuat cerita palsu kepada masyarakat soal tentang  sang kaisar abadi yang kembali binasa dari kesombongannya sendiri saat menghancurkan seisi kota pada saat  itu untuk menghilangkan kegelisahan masyarakat dunia soal kaisar abadi yang bangkit kembali pada saat itu.  Ia sempat berpikir bahwa, mungkin dengan menjadi pemimpin dunia ini, ia bisa melenyapkan kesedihan di  hati seluruh manusia dengan lebih cepat.

Tapi, sebenarnya tidak sesederhana itu. Walaupun sudah bekerja keras sebagai seorang Pemelihara untuk membahagiakan semua orang dari posisi yang ia miliki sekarang, rasa sakit yang dirasakan oleh Kakek  Eon masih belum hilang sepenuhnya. Pada beberapa kesempatan, hati dan pikirannya sempat bereaksi secara  impulsif untuk memanipulasi orang lain seperti dirinya yang jahat di kehidupan pertamanya. Ia sangat takut  apabila hal itu semakin menjadi, ia tak ingin kembali ke dirinya yang lama. Pasti ada sesuatu yang ia lakukan  dengan salah. 

Setelah mencari, Kakek Eon akhirnya menyadari akan sesuatu yang sudah ia abaikan sejak lama.  Padahal ini hanyalah sesuatu yang sangat sederhana baginya. 

Tanpa ia sadari, ia merindukan perasaan itu. Saat pertama kali ia memberikan makanan kepada kedua  kakak-beradik itu. Saling berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang ia temui secara acak. 

Kakek Eon mulai berpikir. Ya, tidak ada jalan pintas untuk memelihara dunia ini hanya dari menjadi  seorang pemimpin. Menjadi pemimpin dunia berarti meminimalkan waktu untuk berinteraksi langsung  dengan banyak orang—malah cenderung menjauhi banyak orang karena posisinya sebagai orang yang penting.  Hal itu tentunya hanya akan menghambat misinya sebagai Pemelihara. Akhirnya, ia sampai pada sebuah solusi.  Ia tak boleh mencolok di mata orang-orang. Ya, tidak perlu menjadi pemimpin dunia. Lagipula, pasti masih  banyak orang lain di luar sana yang lebih cocok untuk melakukannya dibandingkan dengan tiran kejam  sepertinya. 

Mengapa tidak menjadi pengembara saja? Sederhana. Mengembara ke banyak tempat, dan kau bisa  bertemu dengan siapa saja yang kau mau. Sang Pencipta sudah memberi Kakek Eon keabadian dan kemampuan  sihir yang luar biasa. Tak perlu buru-buru. Perlahan saja, dan membahagiakan semua orang di dunia ini  bukanlah hal yang mustahil. Tapi, tentu saja apabila ingin menjadi pengembara yang takkan menarik perhatian  banyak orang, Kakek Eon perlu melakukan sesuatu yang sangat besar. 

Memanipulasi ingatan seluruh manusia di bumi ini. 

Kakek Eon sudah memutuskan bahwa ia ingin membantu orang lain sebanyak mungkin tanpa diingat  seorangpun. Banyak orang yang mengingat sosoknya hanya akan membuatnya semakin sulit untuk  menjalankan misinya sebagai Pemelihara. Ia juga sudah mengerti betul bahwa jalan yang akan ia lalui akan  menjadi jalan yang panjang, dan dipenuhi kesepian. Namun, ia sudah memantapkan dirinya. 

Akhirnya, Kakek Eon mengumpulkan energi sihirnya dengan matang selama satu bulan penuh.  Sebelum meluncurkan sihirnya, ia memberikan jabatannya kepada tangan kanannya di pemerintahan secara  diam-diam. Pada awalnya, si tangan kanan tentunya menolak dan kebingungan dengan ini. Namun, Kakek Eon  tidak memberikan penjelasan apapun. Ia langsung kembali ke ruangannya dan bersiap-siap. 

Setelah semuanya siap, ia akhirnya meluncurkan sihir skala global itu. Ia berhasil menghapus ingatan  manusia di seluruh dunia terhadap sosoknya sekarang. Sekarang tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang  mengingat soal sosoknya. 

Sihir manipulasi ingatan milik Kakek Eon akan menghapus ingatan dan menggantinya dengan sesuatu  yang lain. Ingatan yang menggantikan biasanya akan terbuat dengan sendirinya, yaitu skenario yang mungkin  terjadi tanpa interferensi dari ingatan yang dihapus tadi. Jadi dalam kasus ini, seharusnya ingatan orang-orang  soal ‘pahlawan’ dan ‘pemimpin dunia’ yang telah melekat padanya sekarang seharusnya sudah berpindah 

kepada mantan tangan kanannya di pemerintahan yang sekarang menjadi mengambil jabatannya sebagai  pemimpin—dan si tangan kanan itu sendiri juga takkan ingat pernah bekerja dengannya.  

Dengan begini, Kakek Eon sekarang bukanlah siapa-siapa di mata orang-orang. Ia tidak perlu cemas  soal dirinya menjadi terkenal lagi meskipun ia akan bertemu dan membantu banyak orang lain kedepannya.  

Pengembaraan pun dimulai. Sama seperti dulu, ia akan menjelajahi banyak tempat dan berusaha sebisa  mungkin membahagiakan semua orang yang dia temui. Dengan sihirnya yang sangat beragam dan hebat, ia  menyelesaikan segala macam masalah yang bisa dia temukan selama ia mengembara. Masalah perorangan,  politik, komunitas, atau yang bahkan berskala negara. Ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan  semua masalah sampai ke akar-akarnya, dengan tujuan agar semua orang bisa benar-benar merasa bahagia.  

Tentu saja semua ini bukan tanpa pengorbanan. Kakek Eon harus terus mengerahkan segenap pikiran  dan tenaganya untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Sihir teleportasi, manipulasi ingatan, dan  penyamaran menjadi yang paling banyak ia gunakan dalam menyelesaikan permasalahan, terutama urusan  antar hubungan manusia. Berpindah-pindah ke banyak tempat, menyamar menjadi orang lain, dan banyak hal  lainnya. Semuanya harus ia lakukan sendiri tanpa bantuan dari orang lain sama sekali. Apabila  permasalahannya memang besar dan rumit, itu bisa memakan hingga berbulan-bulan, atau bahkan tahunan  bagi Kakek Eon untuk menyelesaikannya hingga tuntas ke akar permasalahannya—bahkan dengan  kemampuan dan sihirnya yang luar biasa. Setelah masalah diselesaikan, ia akan memanipulasi ingatan seluruh  orang yang bersangkutan untuk melupakan soal sosoknya. Dengan begitu, ia sendiri bisa yakin bahwa ia telah  berbuat sesuatu yang baik untuk orang-orang. 

Semuanya memang sangat melelahkan baginya, namun Kakek Eon merasakan bahwa ada sesuatu yang  berubah. Ia mulai merasakan rasa sakit yang ia alami sekarang sedikit lebih ringan dari biasanya seiring waktu  berjalan. Itu artinya cara yang ia lakukan sekarang bekerja lebih baik daripada menjadi seorang penguasa seperti  dahulu. Ia juga kembali familiar dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan selama ia menjadi seorang  penguasa. Tentu saja, yaitu berbagi kebahagiaan dengan orang lain secara langsung.  

Setelah beberapa tahun hidup sebagai Pemelihara, Kakek Eon mulai merasa nyaman dengan dirinya  sendiri. Bila terus begini, semuanya akan baik-baik saja, begitu pikirnya. Namun, sebenarnya Kakek Eon baru  akan mengerti sebuah hal penting yang masih ia lupakan setelah sebuah reuni dengan seseorang. Atau bisa lebih  tepat dibilang, benang merah takdir yang mulai melilitnya tanpa ampun. 

“Permisiii!” 

Kakek Eon membalikkan badannya. Sepertinya ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.  “Apa ada yang bisa saya bantu—” 

Kakek Eon langsung dihadapkan dengan seorang wanita berjubah tudung, ia mengira bahwa wanita  itu berusia 25 sampai 30-an. Ia sedang mengelap keringat di dahinya, sepertinya ia kehabisan napas setelah  berlari. Wajahnya sangat cantik, bahkan membuat Kakek Eon sempat tersipu sejenak. 

“Anu, Tuan… apakah saya pernah bertemu dengan anda sebelumnya?” 

Kakek Eon menaikkan sebelah alisnya. “Tidak…? Saya tidak tahu, tapi sepertinya tidak…”

Wanita itu berjalan semakin mendekat. Wajahnya tampak cemas dan kebingungan. “Anu, begini… Apakah Tuan memiliki waktu luang?” 

“Hmm… Ada apa memangnya? Apakah anda punya keperluan dengan saya?” 

“S-sebenarnya…” Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya. 

Baru sebentar berbicara dengan wanita itu, Kakek Eon langsung menyadari sesuatu. Raut wajahnya  memang cemas, namun ia sebenarnya juga sedang menyimpan sesuatu yang lain yang takut untuk ia utarakan.  Sudah tak terhitung jumlahnya Kakek Eon sudah menemui orang seperti ini dalam pengembaraannya— lagipula, memang salah satu target utama pekerjaan seorang Pemelihara adalah kelompok orang yang seperti  ini. Kakek Eon pun langsung mengambil inisiatif. 

“Bagaimana kalau kita membicarakan ini sambil makan siang di suatu tempat?” Kakek Eon tersenyum  untuk meyakinkan wanita itu. 

“B-baiklah…” 

“Anda punya rekomendasi tempat?” 

“Anu… kalau soal itu… mungkin yang di sana saja.” Wanita itu menunjuk sebuah kedai yang hanya  berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdua berdiri. 

“Hm, baiklah. Ayo kita lanjutkan di sana.” 

Mereka berdua pun berjalan ke arah sebuah kedai terdekat. Bangunannya terasa kecil dan sederhana  dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di kota ini. 

“Selamat datang.” Sang pemilik kedai menyapa dari tempatnya berdiri setelah pintunya dibuka. 

Mereka berdua pun duduk di salah satu meja. Suasana di dalam cukup sepi, sedang tidak ada pelanggan  lain selain mereka berdua. Menu sudah disediakan di atas masing-masing meja. 

“Tak perlu sungkan. Saya yang akan mentraktir untuk ini,” kata Kakek Eon. 

“T-tidak! Saya yang akan membayar,” jawab wanita itu dengan nada yang cukup tinggi. Kakek Eon  paham akan apa artinya itu, dan tidak membantahnya lebih jauh lagi. 

Wanita itu pun berjalan ke arah kasir untuk membayarnya, dan kembali lagi ke kursinya. Kakek Eon  tersenyum tipis. Wanita berdikari, ya. 

“Baiklah.” Kakek Eon menelungkupkan kedua tangannya di atas meja. “Jadi, apakah kita bisa mulai  sekarang?” 

Sang wanita mengangguk pelan. 

“Hm. Jadi, sebelumnya anda berkata bahwa anda pernah bertemu dengan saya. Di mana, dan kapan  tepatnya?” 

“Soal itu… sebenarnya… saya tidak tahu…” 

“Anda bahkan juga tidak ingat soal itu?”

“T-tapi…! Saya benar-benar… tolong tunggu sebentar.” Wanita itu merogoh tasnya, lalu ia  mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya. Lalu ia langsung menyodorkannya ke arah Kakek Eon. 

Kakek Eon membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya. Tulisannya tidak rapi dan penuh  coretan, seperti tulisan anak kecil. Seiring ia membaca, ia mulai menyadari sesuatu. 

“Eng… Apakah ini surat wasiat?” 

“B-betul. Itu surat wasiat dari kakak saya.” 

Kakek Eon berhenti membaca, menutup kembali lipatannya. Ia menyodorkannya kembali ke wanita  itu. “Anu… saya mungkin tidak sopan, tapi sebaiknya anda tidak boleh membiarkan orang asing seperti saya  untuk membaca isi surat wasiat milik kakak Anda…” 

“Tidak, bukan begitu… tolong baca isinya terlebih dahulu.” 

“Tapi, saya pikir saya tidak bisa membacanya…” 

“Tolong bacalah, Tuan!” 

Sang wanita tiba-tiba menaikkan nadanya, membuat Kakek Eon sedikit terkejut. “Ya ampun,  tenanglah dulu. Tapi, saya benar-benar tidak bisa membaca ini. Seperti yang saya bilang, saya tidak bisa  sembarangan untuk membaca sesuatu seperti ini…” 

“Anda bukan orang asing!” 

Kakek Eon mengerutkan dahinya. Ia juga separuh terkejut. “Maaf?” 

“Anda… saya yakin saya pernah bertemu dengan Anda… hanya saja, saya sama sekali tidak bisa  mengingatnya…” 

Kakek Eon berpikir sejenak. Apa mungkin karena saat itu? Saat aku memanipulasi ingatan semua  manusia di bumi ini? Tapi kenapa dia sepertinya tahu sesuatu soal diriku… 

“Saya tahu ini terdengar sangat bodoh dan tidak bisa dipercaya. Tapi, begini… kakak saya meninggal  ketika kami berdua masih kecil. Dia meninggal karena sebuah penyakit parah. Setelah itu, beberapa tahun  kemudian, semua ingatan dalam kepala saya tiba-tiba berubah.” 

Kakek Eon mengangguk-angguk. Sepertinya tebakanku benar. 

“… Anda tidak merasa bahwa saya barusan mengatakan hal yang aneh?” 

“Tidak. Lanjutkan saja.” Yah, lagipula itu aku yang melakukannya, sih. 

“B-baiklah. Jadi, begini… saya tidak tahu persis semua saja yang terjadi sebelum ingatan saya berubah.  Saya masih ingat bahwa saya adalah seorang yatim piatu bersama dengan kakak saya dulu. Saya sempat  dipindahkan ke panti asuhan beberapa tahun sebelum ingatan saya berubah. Tapi, ada satu hal yang tidak saya  mengerti…” 

Wanita itu kembali merogoh tasnya. Kali ini, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan  menyodorkannya kepada Kakek Eon.

“Saya sama sekali tidak tahu kenapa ada gambar-gambar ini di kamar panti saya.” 

Kakek Eon melihat isi kertas-kertas itu. Gambarnya memang tidak terlalu bagus, namun ia bisa melihat  dua sosok anak kecil dengan seorang pemuda sedang tersenyum dalam gambar itu. Hampir semua gambar di  kertas itu diisi oleh ketiga figur itu.  

“Itu semua gambar dan tulisan saya sendiri. Dua anak kecil dalam gambar itu jelas kakak saya dan saya  sendiri, tapi saya sama sekali tidak tahu soal pria yang ada di situ. Sebelumnya, saya mengira bahwa saya hanya  menghabiskan masa kecil bersama dengan kakak saya saja. Tapi, sepertinya saya juga pernah bertemu dengan  pria ini di suatu tempat, dan saya tidak bisa mengingatnya sama sekali. Dari sinilah saya sadar bahwa ada yang  aneh dengan ingatan saya.” 

Kakek Eon berhenti melihat kertas-kertas itu sejenak. Tunggu dulu. Sepertinya firasatku tidak enak  soal ini… 

“Saya tidak tahu apa-apa soal pria yang ada di situ. Namun, setiap kali saya melihatnya, dada saya  terasa sesak. Saya tidak tahu mengapa. Semakin saya mengingat dan melihatnya, dada saya terasa semakin sesak.  Lalu, setelah kembali membaca wasiat milik kakak saya, saya akhirnya mengerti. Semuanya menjadi jelas.” 

Kakek Eon mulai berkeringat dingin, ia mulai bisa membaca ke mana arah pembicaraan ini menuju.  “Anu… apakah saya benar-benar boleh untuk membaca surat wasiat kakakmu ini?” 

“Ya, silakan. Saya memang ingin Anda membacanya…” 

Kakek Eon kembali membuka lipatan surat wasiat itu. Sekarang, ia benar-benar akan membaca semua  isinya. 

*** 

Hei, Gi. Ini kakakmu. Yah, pertama, maaf kalau tulisanku jelek. Kita berdua memang belum pernah  sekolah sebelumnya, kan? 

Lalu, pak dokter bilang kalau aku tidak akan hidup lebih lama lagi. Yah, itu memang menyebalkan, sih.  Aku masih anak kecil, dan masih banyak yang ingin aku lakukan. Tapi hei, kita berdua yatim piatu dan tidak  punya uang. Jadi, kupikir tidak buruk juga bila seperti ini. 

Hanya saja, aku cemas denganmu. Aku takkan bisa menjagamu lagi. Kau masih kecil, dan kau perlu  seseorang untuk menjagamu. Dan soal itu, sepertinya aku tahu seseorang.  

Kau tahu, aku minta maaf soal hari itu. Aku seharusnya tidak marah-marah kepadamu pada hari itu.  Kalau kau memang serius menyukai orang itu, kejar saja dia. Kau juga tahu dia orang yang baik, kan? Kalau  itu kau, aku yakin pasti bisa melakukannya. Orang itu pasti bisa menjagamu dengan baik kelak.  

Aku baik-baik saja di sini. Malah, aku jauh, jauh lebih cemas denganmu. Jaga dirimu baik-baik, ya. 

*** 

Kakek Eon menyelesaikan surat wasiat itu dengan membelalakkan matanya. Sekarang ia paham  sepenuhnya apa yang sedang terjadi sekarang. 

“Saya… telah jatuh cinta kepada Anda, Tuan.” 

Deg. Kakek Eon tersadar dari lamunan singkatnya setelah mendengarnya. 

“T-tidak, tidak, bukan begitu…” 

“Memang begitulah keadaannya sekarang, Tuan.” 

“Tidak! Anda pasti salah orang…” 

“Saya yakin bahwa saya tidak salah orang.” 

“Dan bagaimana Anda bisa seyakin itu?” Bagaimana ini semua bisa terjadi? Ini semua cuma kebetulan,  bukan?! 

Kakek Eon masih berusaha untuk tetap bersikap tenang, namun ia benar-benar tak habis pikir.  Penyamaran yang digunakannya selalu ia ubah setiap kali ia berpindah kota, dan ia tak pernah lupa untuk  memastikannya. Meskipun ia memang selalu memilih sesosok pria dewasa untuk penyamarannya, wajah dan  perawakan yang ia tampilkan dengan sihirnya selalu berbeda-beda.Ia yakin sihir penyamarannya masih bekerja  sekarang. 

“Soal itu… sejujurnya, saya sendiri juga tidak terlalu mengerti. Saya langsung merasakannya begitu  saya melihat Anda tadi…” 

“Merasakannya…?” 

“…Betul. Kembali lagi, saya mungkin tidak waras saat mengatakan ini. Saya mengatakan sebelumnya  kalau dada saya terasa sesak saat melihat gambar-gambar ini, bukan? Itulah yang terjadi tadi.” Wanita itu  kemudian meletakkan tangannya di depan dadanya sendiri. “Begitu saya melihat sosok Anda, dada saya  langsung terasa sesak. Bahkan jauh lebih sesak dari biasanya, membuat saya kesulitan bernapas. Seakan, saya  mendengar hati saya berkata, ‘Aku harus mengejar orang itu. Apabila kulepaskan, aku pasti akan menyesal  seumur hidupku’ di dalam kepalaku.” 

Kakek Eon mulai menyadari apa yang terjadi. Tidak, tidak. Aku telah membuat kesalahan. Ini semua  terjadi karena kelalaianku. 

Benar. Kakek Eon memang bisa memanipulasi pikiran dan ingatan, tapi ia tidak bisa mengubah hati  seseorang. Itulah masalah yang sedang terjadi kepada wanita di hadapannya sekarang.  

Sepertinya, pemahaman terhadap waktu oleh Kakek Eon memang sudah berubah. Hidup abadi dan  mengembara membuatnya merasa semuanya berlalu tanpa terasa. Ia sama sekali tak merasa semua sudah  berlalu selama itu. Bocah perempuan kecil di lokasi kumuh puluhan tahun yang lalu itu sekarang sudah tumbuh  menjadi wanita dewasa yang cantik nan jelita di hadapannya sekarang. Rupanya, yang dikatakan oleh wanita  itu saat ia kecil dulu bukan hanya sebuah candaan semata—dan perasaan itu masih melekat kuat sampai  sekarang. 

Kakek Eon menatap wajah wanita di hadapannya sekarang itu. Tak ada keraguan dalam tatapan  matanya. Ia benar-benar serius soal ini. 

Kakek Eon langsung memikirkan banyak hal dalam kepalanya. Takkan ada sihirnya yang bisa  memengaruhi wanita ini sekarang. Hatinya sudah tertambat kepada Kakek Eon sejak pertemuan mereka  puluhan tahun yang lalu. Ia harus segera menemukan solusi dari ini semua. 

Kakek Eon tidak bisa menggunakan alasan penyamarannya. Wanita itu tidak mempunyai ingatan apapun soal wajah Kakek Eon ketika bertemu pertama kali dulu. Ia memang selalu mengubah penyamarannya,  namun ia selalu menyamar menjadi seorang pria dewasa sejak dulu. Meyakinkan wanita itu bahwa ia  sesungguhnya adalah kakek tua yang sedang menyamar hanya akan memperumit masalah. 

Meninggalkan wanita ini sekarang bukanlah jalan keluar. Lagipula,sepertinya sumber kegelisahan dan  ketidaknyamanan darinya juga bersumber dari semua permasalahan ini. Meninggalkan wanita ini berarti  mengabaikan tugasnya sebagai seorang Pemelihara. 

Atau… menerima pengakuan cintanya…? Apakah itu bisa menjadi solusinya? 

Kakek Eon menggaruk kepalanya dalam frustrasi, menggeleng. Tidak, tidak, tidak! Ingat siapa dirimu  di masa lalu! Kau sama sekali bukan orang yang pantas untuk itu! 

Kau sedang dalam misimu sebagai Pemelihara. Kau sama sekali tak bisa melibatkan siapapun dalam  ini. Bukankah kau sudah berkomitmen? Isi hati Kakek Eon berkecamuk. 

“Maaf, tapi tetap saja… Saya tidak bisa menerima lamaran Anda. Saya tidak bisa menjamin untuk  membahagiakan Anda…” 

“Tidak apa-apa! Saya sudah bisa hidup mandiri sekarang. Sebenarnya… saya bekerja sebagai model pakaian sekarang. Saya sudah bisa mencukupi diri sendiri. Saya bukan lagi anak yatim piatu seperti dulu—” 

Bruk! 

“Sudah, cukup!” 

Kakek Eon memukul meja. Ia kehabisan ide atas apa yang bisa ia lakukan dalam momen itu. Baru  pertama kali ini ia merasa sebuntu ini terhadap suatu permasalahan. Ia merasa sangat frustrasi. 

“Saya minta maaf sekali lagi, tapi tetap saja, saya tidak akan menerima lamaran ini. Ini semua terlalu  mendadak, dan saya juga takkan membahasnya lebih lanjut lagi. Oleh karena itu—” 

Kakek Eon menghentikan perkataannya secara tiba-tiba. Wanita itu seketika berlinangan air mata di  hadapannya. Kakek Eon segera mengaktifkan sihir ruang miliknya, membuat hawa keberadaan mereka berdua  lenyap dan membuat mereka berdua tak terlihat. Suara juga takkan bisa keluar dan masuk dariruang buatannya. Pelayan dari dapur hendak mulai mengirimkan makanan ke meja, namun ia dibuat kebingungan ketika melihat  dua orang yang duduk di sana barusan tiba-tiba lenyap menghilang tanpa jejak. 

“Tenanglah, Nona. Maaf, saya tidak bermaksud untuk…” 

“Saya sudah… saya sudah berusaha… tsk… hiks…” 

“Saya minta maaf.” Kakek Eon sekarang mengelus-elus punggung wanita itu, berusaha  menenangkannya.  

“Saya… selama ini… selalu mencari Anda…”

Kakek Eon tertegun seketika. Mencari? 

“Maafkan saya, Nona.” Kakek Eon pun akhirnya tak punya pilihan, ia menempelkan tangannya ke  dahi wanita itu untuk melihat isi ingatannya dengan sihir. Ia terpaksa melakukan ini karena ia tak ingin  membuat kesalahan lagi. Apabila ia tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini, ia mungkin bisa  bersikap lebih rasional dan lebih waspada ke depannya. 

Memang benar, ingatan soal Kakek Eon sudah lenyap dari kepala wanita itu. Wanita itu juga tidak  berbohong soal latar belakangnya sama sekali. Soal kakaknya yang meninggal di usia kanak-kanak, rasa sesak yang ia rasakan di dadanya, wasiat milik kakaknya, dan semuanya. Setelah beranjak dewasa, parasnya juga  mulai berubah jelita, dan ia pun mulai mencoba keras untuk memasuki dunia permodelan pakaian. Memang  sangat sulit, namun dengan usahanya yang juga tidak setengah-setengah, ia akhirnya berhasil sukses dalam  industri tersebut. Ia berkeliling dunia dalam pekerjaannya. Di setiap kota yang ia singgahi, ia selalu mengadakan  acara amal yang ia adakan secara mandiri untuk anak panti asuhan ataupun anak tidak mampu dalam kota itu sebagai bentuk rasa pedulinya, juga sebagai pengingat untuk pengalaman masa lalunya. Pada saat waktu luang  seperti itulah, ia akan mengenakan jubah tudung seperti yang sedang ia kenakan sekarang, berkeliling mencari  kota. Untuk mencari seseorang. 

Kakek Eon melepaskan tangannya. Wanita itu mulai menjadi lebih tenang sekarang, hanya terisak  ringan. 

“… Sudah merasa lebih tenang?” 

Wanita itu mengangguk lemah. 

“Baiklah.” Kakek Eon kembali lagi ke kursinya. “Jadi, apakah Anda benar-benar… menganggap saya  seseorang yang berharga?” 

Wanita itu kembali mengangguk lemah. 

“…Saking berharganya, sampai kau ingin menikah denganku?” 

Wanita itu kembali mengangguk, kini sambil menundukkan kepalanya. 

Kakek Eon menghela napas. “Baiklah, saya mengerti.” 

Wanita itu mengangkat kepalanya. 

“Saya akan memikirkannya. Berikan saya waktu satu bulan.” 

Dalam sekejap, kedua mata wanita itu langsung berbinar-binar seolah wajah sedihnya barusan tak  pernah terjadi. “S-sungguh, Tuan?” 

Kakek Eon mengangguk. 

Wanita itu kemudian menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. “Terima… kasih…” “Tapi, ada satu syarat.” 

Wanita itu tampak sedikit terkejut. “A-apa itu, Tuan?”

“Dalam waktu itu, saya akan ikut dengan Anda dan mengamati keseharian Anda. Apabila saya benar benar akan menikah dengan Anda nantinya, saya harus tahu seperti apa orang yang akan saya nikahi, bukan?” 

“Begitu…” Wanita itu mengangguk-angguk. 

“Bagaimana? Apakah Anda keberatan?” 

“T-tidak sama sekali, Tuan!” Wanita itu menggeleng cepat.  

“Baiklah, kalau begitu.” Kakek Eon kemudian menjentikkan jarinya, menghilangkan ruangan khusus  yang ia buat sebelumnya. Untung saja isi kedai masih kosong, kemunculan mereka berdua yang tiba-tiba setelah  sihir ruangan itu dibatalkan bisa menyebabkan keributan yang akan merepotkan bagi Kakek Eon. Hanya  pelayan saja yang sedikit kaget melihat Kakek Eon bersama dengan wanita itu yang tiba-tiba mendatanginya  untuk membayar makanan setelah melihat mereka berdua menghilang dari kursi barusan. 

Setelah itu, dimulailah masa percobaan bagi wanita model itu. Sayangnya, Kakek Eon sebenarnya  tidak berencana untuk benar-benar menikahinya di akhir nanti—soal bagaimana jalan keluarnya saat itu tiba akan ia pikirkan nanti. Ia hanya ingin sedikit bernostalgia dengan salah satu figur penting yang pernah  ditemuinya di masa lalu. Namanya Gi, seorang wanita model pakaian. Ia ingin melihat secara langsung,  bagaimana bocah perempuan pemalu yang pernah ia temui puluhan tahun yang lalu itu sekarang sudah tumbuh  menjadi seorang wanita dewasa yang mandiri. 

Hari-hari pun berlalu. Selama satu bulan mengamati, tentunya Kakek Eon takkan memakai sihir  apapun selain sihir penyamaran yang selalu ia gunakan sepanjang waktu. Setiap harinya, Kakek Eon akan terus  bersama dengan Gi untuk mengamati kesehariannya dari jauh. Itu berarti, apabila Gi benar-benar akan sering  berpindah kota sesuai dengan ingatan yang ia intip, maka ia juga harus mengikutinya. 

Dan sampai sejauh ini, itu terbukti benar. Pada hari-hari kerja yang sibuk, Gi akan menjadi sangat  sibuk dengan jadwalnya. Dari pagi buta sampai malam hari, hampir tak ada waktu istirahat yang cukup baginya. Ia selalu berpindah-pindah kota dan penginapan setiap beberapa waktu karena pekerjaannya. Sama dengan  ingatan yang sempat Kakek Eon intip sebelumnya. Itu membuktikan bahwa ia benar-benar bekerja keras, tidak  hanya sedang berusaha untuk membuat dirinya terlihat lebih baik di hadapan Kakek Eon. 

Gi menggunakan akhir pekannya untuk mengunjungi panti asuhan yang ada di kota yang sedang ia  kunjungi, memberikan sejumlah bantuan finansial dan berinteraksi dengan anak-anak di dalamnya. Ia juga  akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian masyarakat sekitar. Ia selalu menggunakan jubah  bertudung dan nama samaran setiap kali menghabiskan hari liburnya. Semua ini juga masih sama persis dengan  ingatan yang dilihat Kakek Eon. 

Kakek Eon sudah bercerita kepada Gi bahwa ia adalah seorang penyihir, dan ia tampaknya sama sekali  tidak keberatan dengan itu. Lagipula, reputasi penyihir pada zaman itu sudah kembali membaik setelah  sebelumnya dicap sebagai amunisi mematikan dalam peperangan saat zaman Kakek Eon masih berkuasa dulu. Sesekali mereka makan bersama, mengobrol ringan. Gi sekarang tampak jauh lebih tenang saat mengobrol  dengan Kakek Eon dibandingkan dengan pertemuan pertama mereka dulu. 

Pekan berlalu, dan tenggat waktu satu bulan sudah dekat. Memang rencananya, Kakek Eon juga ingin  mengambil sedikit jeda dari misinya sebagai Pemelihara. Ia benar-benar menikmati waktunya saat mengawasi  Gi. Meskipun mereka berdua hanya sempat mengobrol dan berinteraksi untuk beberapa menit sehari, namun 

ia tetap menikmati hari-hari yang mereka habiskan bersama. Sering kali, ia mengamati Gi yang bermain-main  dengan anak-anak panti asuhan dari kejauhan sembari membaca buku.  

Semua ini membuat Kakek Eon merasakan ketenangan dalam jiwanya. Sering kali, ia bahkan  melupakan rasa sakit di dadanya yang sebenarnya masih sering mengganggu kesehariannya. Ia merasa begitu  tentram dan rileks. Ia belum merasakan hal seperti ini sepanjang ia hidup—entah di kehidupan pertamanya,  maupun sepanjang misinya sebagai Pemelihara sekarang. 

Lama-kelamaan, Kakek Eon mulai melupakan janji yang sudah ia buat. Walaupun setelah lewat satu  bulan, ia belum meninggalkan Gi. Ia perlahan mulai menikmati kehidupan barunya. Hanya bersantai dan  mengamati Gi yang ceria dari kejauhan dengan anak-anak panti. Gi juga sepertinya tak masalah dengan Kakek  Eon yang berada di sekitarnya, ia sama sekali tidak mengungkit soal perjanjiannya dengan Kakek Eon soal  waktu percobaan itu. 

Sampai pada suatu hari. Setelah mereka berdua berpindah kota, rutinitas berjalan seperti biasa. Di  akhir pekan, Gi akan memakai jubah tudungnya untuk menyembunyikan identitasnya dan mengunjungi panti  asuhan di kota tersebut. Namun, ada sebuah masalah. Di kota tersebut, tidak terdapat panti asuhan. 

Gi sudah bertanya kepada banyak penduduk sekitar, namun mereka semua menjawab bahwa tidak ada  panti asuhan di kota ini. Kakek Eon merasakan ada sesuatu yang aneh. Sebuah kota biasanya selalu mempunyai  sebuah panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim dan tidak mampu di dalam kota. Namun, kota yang  kali ini mereka kunjungi sepertinya tidak mempunyainya. 

Kakek Eon tidak terlalu memikirkan soal masalah itu pada awalnya. Gi sepertinya juga demikian.  Mengetahui kota kali ini tidak memiliki panti asuhan, Gi langsung berkeliling kota untuk mengumpulkan  seluruh anak-anak yang tinggal di jalanan. Ya, tidak mempunyai panti asuhan bukan berarti kota tersebut tidak  mempunyai anak-anak yatim-piatu maupun yang kurang beruntung. 

Gi mengumpulkan mereka semua di penginapan, dan bermain-main dengan mereka semua. Berbagi  sedikit kebahagiaan bersama anak-anak jalanan dan yatim-piatu, seperti yang biasa ia lakukan. Kakek Eon tetap  mengawasi dari pojok ruangan sambil menyamarkan hawa keberadaannya. Namun, semuanya tidak berjalan  mulus setelahnya. 

Keesokan harinya. Tiba-tiba, penginapan tempat Kakek Eon dan Gi menginap menjadi ramai. Beberapa orang dengan penampilan tidak biasa langsung berduyung-duyung memasuki pintu depan,  mengejutkan Gi dan anak-anak yang lain. Kakek Eon melihat mereka. Ia bisa merasakannya. Beberapa dari  mereka adalah penyihir. Ia mempunyai firasat yang buruk soal ini. 

Anak-anak menjadi ketakutan, mereka semua bergerumbul di belakang Gi. Gi berusaha menenangkan  mereka sejenak, lantas maju selangkah untuk menghadapi sekelompok orang tersebut.  

Sekelompok orang tersebut menanyakan soal apa yang Gi lakukan bersama dengan anak-anak itu di  dalam penginapan. Gi menjawab dengan nada bergetar, bahwa ia hanya sedang bermain-main dengan mereka.  Kakek Eon menyadari langsung bahwa Gi sebenarnya juga sedang ketakutan. Ia hanya berusaha bersikap  tenang dan tegar di depan anak-anak.

Percakapan berlangsung cukup alot. Sekelompok orang itu menyuruh Gi untuk membatalkan semua  kegiatannya bersama anak-anak ini. Tentu saja Gi menolaknya secara halus pada awalnya, namun lama-lama  percakapan berubah menjadi semakin intens dan menegangkan. Kedua pihak sama-sama keras kepala. 

“Lagipula, kenapa kota ini tidak memiliki panti asuhan? Itu aneh sekali. Setiap kota seharusnya  memilikinya,” sergah Gi. 

“Memangnya ada peraturan yang seperti itu? Tidak ada sama sekali!” Orang yang berdebat—yang  sepertinya merupakan pemimpin dari kelompok itu—menyanggah dengan tak kalah keras. 

“Tapi, dengan begitu, mereka semua ini kasihan, tahu! Mereka kelaparan dan harus tidur di luar setiap  hari! Pemerintah kota ini seharusnya—” 

“Oi, kau tidak punya hak untuk bilang begitu. Kau bahkan tidak pernah meminta izin atau apapun  untuk mengadakan kegiatan seperti ini kepada kami, otoritas kota.” Kakek Eon meningkatkan kewaspadaannya.  Seperti yang ia duga, mereka pasti ada hubungannya langsung dengan petinggi kota ini. 

“Memangnya hanya berkumpul dengan anak-anak seperti mereka ini juga memerlukan izin dari  kalian segala?!” 

“Tentu saja! Kau bahkan bukan penduduk kota ini, bukan? Kau hanya pengunjung di sini!” Orang  itu semakin menaikkan nadanya, ia seperti hampir berteriak.  

Kakek Eon sudah bersiap untuk melakukan sesuatu, namun Gi membuat isyarat dengan tangan di  belakang punggungnya bahwa ia tidak apa-apa. Kakek Eon sebenarnya merasa cukup ragu dengan ini, namun  ia bisa melihat senyuman percaya diri Gi dari belakang. Ia berusaha untuk percaya. 

“Apapun yang terjadi, saya akan ada selalu berada di pihak anak-anak ini.” 

Pemimpin kelompok itu mendecak. “Sudah cukup! Pokoknya, hentikan semua ini. Kalau kau hendak  mengadakan sesuatu seperti ini, kau harus melaporkannya kepada otoritas kota terlebih dahulu. Memang  begitu aturannya. Semua yang menginjakkan kakinya di kota ini perlu mematuhinya, tak peduli siapapun itu.  Cukup sampai di sini. Kalian semua, ikut dengan kami!” 

Pemimpin kelompok itu mengisyaratkan anak-anak untuk berbaris dan meninggalkan penginapan, mengikuti mereka. Namun mereka semua tampaknya masih terlalu takut untuk mematuhi instruksi itu.  Pemimpin kelompok itu kembali mendecak dan meninggalkan penginapan bersama dengan kelompoknya.  

“Dasar anak-anak sialan tidak berguna. Cepat! Berbaris yang rapi, dan keluar dari sini!” 

Pemimpin kelompok itu membentak dengan lantang, dan akhirnya anak-anak itu mengikuti  instruksinya dengan wajah ketakutan. Secara spontan, Kakek Eon langsung berdiri dan merangsek menuju  kelompok orang itu.  

Tap. 

Gi langsung menangkap tangan Kakek Eon. Kakek Eon yang terkejut menoleh ke arah Gi. Dengan  wajah lesu, Gi menggelengkan kepalanya. 

Meskipun begitu, Kakek Eon bisa merasakan Gi sedang gemetaran hebat ketika memegang tangannya.  Cengkeramannya juga terasa sangat kuat. Dia pasti juga merasa sangat marah sekarang. 

Anak terakhir sudah keluar dari pintu depan penginapan, mengikuti kelompok orang itu. Gi dan  Kakek Eon pun kembali berjalan menuju kamarnya masing-masing dengan lemas. Tidak ada yang bisa mereka  lakukan sekarang.  

Mereka berdua sudah sampai di kamar Kakek Eon. Begitu Kakek Eon memasuki kamarnya, Ia juga  menarik Gi untuk masuk. 

“Tunggu dulu Tuan, kenapa—” 

Kakek Eon menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia memasukkan kuncinya ke dalam kantong  pakaiannya. “Hentikan saja. Aku tahu apa yang kau pikirkan.” 

Gi tidak membalas perkataan Kakek Eon, ia hanya bisa mengalihkan sorot matanya.  

“Aku tahu kau mau melakukan sesuatu untuk anak-anak itu, kan? Hentikan saja. Kita tak bisa  melakukan apapun untuk malam ini. Untuk membawa mereka kembali, kita butuh informasi soal kota ini dan mencari tahu soal masalah mereka dengan anak-anak itu—” 

“Tapi, tidak ada waktu untuk itu, Tuan!” Gi memotong dengan keras.  

“Tenanglah! Tak ada yang akan berakhir baik apabila terburu-buru. Kita harus memikirkan solusi  untuk ini dengan baik dan matang. Untuk sekarang, kau akan tidur di kasurku. Aku akan berjaga sambil  memikirkan solusi yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan semua ini.” Kakek Eon kemudian duduk di  kursi dan menyalakan lilin di mejanya.  

“Tapi—” 

“Jangan membantah! Ikuti perkataanku untuk saat ini. Percayalah denganku.” 

Gi pun akhirnya mengempaskan badannya di atas kasur sambil mendecak. Sepertinya kekesalannya  sedang memuncak. Namun, mau bagaimana lagi. Untuk menyelesaikan masalah di daerah yang belum pernah  ia datangi sebelumnya, Kakek Eon harus mengumpulkan informasi terlebih dahulu. Ia pun membuka diari  pengembaraan yang ia miliki. Mungkin ia mempunyai informasi soal daerah terdekat dengan kota ini yang  pernah ia kunjungi sebelumnya. 

Satu jam ia membaca diari miliknya, dan ia tidak menemukan banyak informasi yang berguna. Yang  ia dapatkan, kota-kota terdekat dari sini yang pernah dia kunjungi tidak memiliki banyak masalah yang  tergolong aneh. Kakek Eon memijat dahinya. Membolak-balik halaman diarinya dengan malas.  

Sesaat kemudian, ia mendengar suara dari arah kasur. Sepertinya Gi mulai berdiri, ia belum tidur dari  tadi. 

“Apapun yang kau rencanakan, kau tidak akan bisa keluar dari sini. Tidak dalam pengawasanku,” kata  Kakek Eon tegas tanpa mengalihkan pandangan dari diarinya. 

“Saya hanya ingin minum sedikit, ya ampun…” 

Kakek Eon melirik ke arah Gi. Ia memang hanya sedang meminum air dari cangkir miliknya. 

Selesai meneguk dari cangkirnya, Gi menoleh ke arah Kakek Eon. “Anu, Tuan… apakah hanya firasat saya saja, tapi… wajah Anda terlihat aneh?” 

Kakek Eon langsung mematung seketika. Sebelumnya ia memang yakin dalam pengawasannya,  namun mendengar perkataan itu membuatnya panik dalam seketika.  

Ada apa dengan penyamaranku? Apakah dia melihat sesuatu yang aneh dalam penyamaranku? 

Kakek Eon tidak ingin penyamarannya terbongkar di depan Gi, paling tidak untuk sekarang. Sampai  sekarang, penyamarannya belum pernah bocor kepada siapapun. Tapi, dengan Gi yang dulu bisa mengenalinya  langsung bahkan setelah ingatannya terhapus, mungkin ini adalah sesuatu yang berbeda yang tidak bisa ia duga  sebelumnya.  

“… Aneh, katamu?” 

“Iya. Aneh, Tuan. Lihat—” Gi melangkah mendekat kepada Kakek Eon. Ia mulai menyentuh kedua  pipi Kakek Eon, memutar kepalanya hingga wajah mereka berdua sekarang saling berhadapan dari dekat.  

“H-hei! Apa yang kau lakukan—” 

Cup. 

“Ap—eh? Eh?!” 

Tanpa ada hujan, tanpa ada angin. Dalam sekelebat, Gi mencium Kakek Eon tepat di bibirnya. Kakek  Eon langsung refleks menggeser kursinya untuk menjauh. Ia menjadi salah tingkah. “Apa yang barusan kau  lakukan?!” 

“Maafkan saya, Tuan.” 

“Yang barusan itu… Apa—” 

Gi sekarang sedang merapalkan sesuatu dengan cepat di mulutnya. Kakek Eon merasa seperti pernah  mendengar itu. Ia seketika bergerak untuk menghentikan Gi. Namun, ia kalah cepat. Gi dengan cepat langsung  menempelkan sebuah kertas di dahi Kakek Eon. Seketika, kesadarannya mulai memudar dengan cepat.  

“Maafkan saya, Tuan. Saya telah berbuat kesalahan. Saya akan bertanggung jawab soal ini. Saya…  benar-benar… minta maaf…” 

Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, Kakek Eon melihat sosok Gi yang mulai berderai air mata dan tersenyum pahit. Ia benar-benar ingin bangun dan melakukan sesuatu soal itu, namun ia tidak bisa. Ia  langsung tertidur lelap setelahnya. 

Malam akan berlangsung panjang, dan Kakek Eon sekarang hanya akan menghabiskannya dengan  terlelap di atas kursinya. 

“AAAAHH!!” 

Kakek Eon langsung bangkit dari tidurnya. Sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Ia kehabisan  napas seperti setelah berlari untuk waktu yang lama. 

Apa… yang barusan kumimpikan itu?

Kakek Eon barusan bermimpi buruk soal Gi. Ia melihat ada sebuah kertas sihir yang terjatuh di lantai  kamarnya. Ia memungutnya, dan ia seketika panik. Itu adalah kertas sihir tingkat tinggi yang sangat mahal dan  langka. Dengan kertas sihir itu, penggunanya bisa memohon hal-hal di luar nalar dengan satu syarat yang  bebannya setimpal. Dalam kasus ini, Gi pasti meminta agar Kakek Eon bisa tertidur lelap dengan waktu yang  lama dengan syarat menciumnya secara langsung di bibir. Tapi, Kakek Eon juga masih bingung dengan semua  ini. 

Memangnya hanya dengan ciuman bisa setimpal dengan membuatku tertidur lelap untuk waktu yang  lama? Tunggu dulu, lagipula bagaimana caranya bisa mendapatkan kertas ini?! Ini bukan atribut sihir biasa  yang bisa didapatkan dengan mudah. Sial, pasti aku melewatkan banyak hal ketika melihat ingatannya dulu… 

Kakek Eon sadar ia harus bergerak cepat. Apabila Gi benar-benar ingin melakukan sesuatu terhadap  anak-anak itu, dia pasti berada dalam istana kota sekarang. Tapi, itu semua tidak lebih dari sekadar perkiraan.  Kakek Eon harus benar-benar mencari lokasi pastinya, dan tentu saja tidak ada waktu untuk mencarinya dengan berkeliling untuk sekarang. Ia terpaksa harus memakai sihir skala besarnya kali ini. Ia menggunakan  sihir pendeteksi dengan radius satu kota penuh. Sihir berkala besar memakan banyak sekali stamina dan energi  sihir miliknya, jadi Kakek Eon biasanya jarang menggunakannya. Namun, sekarang bukanlah saatnya untuk  ragu.  

Konsentrasi penuh. Kakek Eon mulai melancarkan sihir deteksinya. Kepalanya akan cepat pusing  dengan segala informasi yang ia peroleh dalam waktu singkat, jadi ia benar-benar harus mencarinya dengan  cepat. Setelah beberapa detik, Kakek Eon akhirnya menemukannya. 

Dugaanku benar. Dia sekarang berada di istana kota. Di bawah tanah. 

Sihir deteksi Kakek Eon hanya bisa mendeteksi hawa keberadaan benda dan makhluk hidup. Ia tidak  tahu apa yang sedang terjadi dengan Gi sekarang. Namun, ruang bawah istana kota bukanlah tempat yang  normal untuk sekadar jalan-jalan di malam hari.  

Kakek Eon langsung bersiap untuk merapal sihir teleportasinya. Namun seketika itu juga, ia baru  teringat akan sesuatu. Ia tidak bisa berteleportasi ke suatu tempat apabila ia belum pernah ke sana atau tidak  melihatnya secara langsung. Ia baru datang di kota ini, dan belum berkeliling ke banyak tempat. Ia menyumpahi  dirinya sendiri. Ia jadinya harus berteleportasi secara bertahap hingga mencapai istana kota. Ini tentunya sangat  menghambat pergerakannya. 

Kakek Eon butuh sekitar sepuluh menit untuk berteleportasi bertahap menuju istana kota. Sihir skala  besar dan teleportasi beruntunnya sampai ke istana benar-benar menguras energi sihirnya dengan drastis. Di  atas semua itu, ia juga harus menghilangkan hawa keberadaan dan penampilannya dengan sempurna setiap  waktu—karena penyihir dalam istana dan di jalanan kemungkinan masih bisa mendeteksinya apabila ia lengah. 

Penjagaan di istana sepertinya sedang diketatkan, ia merasa bahwa jumlah penjaga yang berpatroli tidak  sebanyak ini. Ia mulai kehabisan napasnya dan berkeringat deras. 

Duar!  

Kakek Eon tiba-tiba mendengar suara ledakan. Suara itu terdengar dari lantai. Para penjaga mulai  curiga, dan mulai bergerak untuk mencari sumber suara.

Kakek Eon juga langsung sigap bergerak. Dengan sunyi, ia bergerak mendekat kepada setiap penjaga  yang ia temui dan langsung menyerang tengkuk mereka, membuat mereka pingsan seketika. Kakek Eon juga  berusaha bergerak dengan cepat dengan berusaha mencari sumber suara barusan dan sebisa mungkin untuk  tidak membuat suara. 

Duar! Duar! Duar!  

Kali ini, ia mendengar suara ledakan beruntun. Dinding-dinding istana mulai bergetar. Kakek Eon  memepercepat langkahnya. Pasti sesuatu yang gila sedang terjadi di bawah! 

Kakek Eon pun akhirnya menemukan tangga menuju bagian bawah tanah istana. Ia mendengar dua  ledakan lagi dalam perjalanan menuju ke bawah. Ia kembali mempercepat langkahnya saat menuruni tangga.  

Dengan kepayahan, akhirnya ia sampai di ruang bawah tanah istana kota. Ruang bawah tanah istana  biasanya berisikan penjara-penjara kriminal bangsawan. Kakek Eon sudah sangat sering melihat pemandangan  seperti ini. Namun, pemandangan kali ini terlihat berbeda.  

Penjara bawah tanah istana sekarang tampak seperti habis dilanda bencana. Semua jeruji besi pada sel hancur berkeping-keping. Lantai penjara dipenuhi dengan reruntuhan dan puing-puing dari dinding penjara  yang hancur. Bau darah, debu, dan asap memenuhi ruangan. Beberapa titik api kecil masih menyala di beberapa  sudut ruangan. 

Kakek Eon akhirnya bisa melepaskan sihir penghilang tubuhnya. Ia memakai sihir api miliknya untuk  penerangan. Begitu dapat melihat keseluruhan ruangan secara jelas, Kakek Eon kehabisan kata-kata.  

Gi sedang terduduk di pojokan salah satu sel di ujung penjara. Kakek Eon hanya bisa merasakan hawa  kehidupan Gi yang sudah sangat lemah sekarang. Di sekeliling Gi terdapat banyak jasad anak-anak yang  terbakar habis. Ada juga jasad seorang penyihir di dekatnya bersamaan dengan jasad seorang penjaga istana  yang kehilangan kepala di dekatnya. Di beberapa sel, terdapat jasad orang dewasa yang juga terbakar dengan  parah. 

Kakek Eon mulai memeriksa kondisi Gi dari dekat. Sebagian besar bagian tubuh atas Gi terkena luka  bakar yang mematikan, dan terdapat juga beberapa luka tusukan besar di badannya yang darahnya masih  sedikit menetes. Kakek Eon juga baru menyadari kalau darah sampai menggenang di lantai sel.  

Pertama, Kakek Eon menggunakan sihir pembaca pikirannya pada Gi untuk memastikan apa yang  sebenarnya terjadi di penjara bawah istana ini. Ia memegang dahi Gi dan mulai merapal. 

… 

Dari yang ia lihat, sepertinya Gi membeberkan identitas aslinya sebagai model terkenal agar dapat  masuk ke dalam istana. Ia masih mempermasalahkan soal anak-anak yang tadi. 

Gi dan petinggi kota sempat terlibat dalam perdebatan hebat. Dari Gi maupun pemerintah kota,  keduanya tidak ada yang mau saling mendengarkan dan mengalah. Setelah mendengar bahwa anak-anak itu  sekarang berada dalam penjara bawah tanah istana, Gi kehilangan kesabaran dan berteriak penuh amarah di 

dalam istana. Di saat itulah, para penyihir dan penjaga istana sepertinya memutuskan untuk mengurungnya di  penjara bersama dengan anak-anak itu. 

Gi berjalan bersama seorang penjaga istana bertombak dan penyihir menuju penjara bawah tanah.  Anak-anak itu dikurung di sel yang berbeda-beda, beberapa dari mereka bahkan dikurung bersama dengan  narapidana yang menempati sel itu sebelumnya. Mereka semua terkejut dengan kedatangan Gi, namun  tentunya tidak dapat berbuat apa-apa soal itu. Gi dikurung dalam sel yang kosong di pojokan penjara. 

Setelah penjaga dan penyihir itu pergi, Gi langsung melancarkan aksinya. Ia berhasil menyelundupkan  banyak kertas sihir ledak tingkat tinggi ke dalam istana di dalam pakaiannya—sepertinya ia selalu menyimpan  itu dalam pakaiannya untuk saat-saat seperti ini. Bahkan jeruji penjara istana bukan tandingan sebuah kertas  sihir tingkat tinggi yang ia miliki. Gi menempelkan selembar kertas peledak itu di jeruji selnya, lantas merapal  sebuah mantra. 

Duar! Kertas sihir itu meledakkan jeruji sel dengan hebat. Suara ledakannya memekikkan telinga.  Sangat berisiko, namun rencana Gi berhasil. Ia berhasil keluar dari selnya hanya dengan luka-luka kecil. 

Gi tentunya menyadari kalau suara ledakan barusan akan memancing perhatian istana dengan segera.  Ia pun langsung bergerak cepat, menempelkan kertas sihir miliknya ke semua jeruji yang berisikan anak-anak  itu. Ia berteriak, menyuruh mereka untuk menjauh dari jeruji untuk sesaat. Ia pun merapalkan mantra seperti  sebelumnya, dan semua kertas itu meledak secara bersamaan. Ledakan beruntun yang terjadi sangat hebat,  hingga membuat seisi penjara seperti dilanda gempa. Semua jeruji berhasil diledakkan dengan telak.  Narapidana maupun anak-anak jalanan langsung berhamburan keluar dengan luka-luka. Namun, semua tidak  berjalan semulus itu. 

Hanya beberapa detik setelah Gi meledakkan semua jeruji, penjaga dan penyihir yang barusan  mengantar Gi sudah kembali. Murka, penyihir itu langsung melancarkan sihir api dalam skala yang cukup besar.  Narapidana lama yang hendak kabur menjadi target pelampiasan amarah sang penyihir. Tak ada yang selamat  dari mereka setelah serangan itu. Anak-anak semakin ketakutan setelah melihat pemandangan itu, mereka  semua beringsut mundur dan mengambil perlindungan di belakang Gi.  

Gi dan anak-anak itu terus mundur, hingga mereka menyentuh dinding. Mereka tidak bisa mundur  lagi, sementara penyihir dan penjaga yang marah terus bergerak mendekati mereka.  

Pada awalnya, nyali Gi sempat menciut ketika ia melihat serangan api dahsyat itu. Ia hendak  mengambil selangkah maju, namun… 

Salah seorang anak tiba-tiba berteriak kencang, dan merangsek maju dengan cepat. Lalu, satu-persatu  anak-anak yang lain juga mengikutinya.  

“Demi Kak Gi!” 

“Maju!! Jangan takut!” 

“Aaaaahh! Semuanya, maju!” 

Di luar perkiraan Gi, anak-anak jalanan itu justru berubah berani, bergerak kompak untuk maju dan  membelanya. Gi tahu betul apa yang akan terjadi setelahnya, tapi ia sudah sangat terlambat untuk mencegahnya.

Dalam sekejap, penyihir itu mengeluarkan sihir apinya, kini bahkan lebih besar dari yang tadi. Api itu  langsung melahap habis gerombolan anak-anak itu. Tak lebih dari sepuluh detik, hanya jasad hitam dan abu  yang tersisa dari luapan api itu. 

Melihat pemandangan itu, Gi langsung kehilangan kendali. Ia berteriak parau penuh keputusasaan,  dan langsung merangsek maju. Penyihir itu kembali melancarkan sihir api miliknya, dan menghantam telak Gi.  Namun, Gi tidak berhenti sampai di situ. Ia terus maju dan melawan api itu, mengabaikan tubuhnya yang  terbakar dengan cepat. Sampai akhirnya, ia berhasil menerobos sampai berhadapan langsung dengan penyihir  itu. Penyihir itu sepertinya sama sekali tidak menyangka soal ini. Dalam sekelebat, ia mengeluarkan kertas sihir  ledak dari pakaiannya dan langsung menempelkannya ke tubuh penyihir itu. Ia merapal mantra dengan cepat,  dan langsung mundur dengan cepat setelahnya.  

Duar! Ledakan itu telak. Penyihir itu tumbang seketika. 

Masih ada satu penjaga lagi yang harus diurusi. Gi kembali merangsek maju untuk menyerang, namun  penjaga itu sepertinya sudah mengetahui taktik sederhana Gi. Ia lebih terbiasa dalam pertarungan jarak dekat.  Ia menusukkan tombak miliknya bertubi-tubi ke tubuh Gi. Setelah Gi merasa bahwa ia sama sekali tidak bisa  mendekati penjaga itu, ia pun mencoba sesuatu yang lain. 

Ia mengambil seluruh kertas sihir yang masih tersisa. Kebanyakan sudah bolong dan basah oleh darah,  dan hanya menyisakan selembar yang kondisinya masih cukup baik. Gi meremas kertas itu, dan melemparkan  gumpalan kertas itu ke arah penjaga itu. Di saat yang bersamaan, ia merapalkan mantranya dengan cepat.  Walhasil, lemparan itu berhasil meledak tepat di depan wajah penjaga itu. Penjaga itu pun tewas seketika. 

Setelahnya, ia langsung melepaskan tombak itu dari tubuhnya, dan menyeret tubuhnya menuju jasad  anak-anak yang terbakar habis. Sekarang, sudah tidak ada yang bisa ia lakukan. Seluruh amunisi kertas sihirnya  sudah habis dan rusak. Ia sedang sekarat, hanya tinggal menunggu saja. 

Baru beberapa saat kemudian, ia mendengar lamat-lamat suara langkah kaki mendekat untuk  memasuki penjara bawah tanah. 

… 

Kakek Eon sudah paham sepenuhnya akan situasinya sekarang. Ia sekarang hendak menggunakan sihir penyembuhnya. Namun, setelah beberapa detik mencobanya, ia sadar bahwa ia sudah sangat terlambat  untuk melakukannya. Dalam kondisi primanya, ia bisa menyembuhkan luka fatal yang sudah sangat parah  dengan segenap kekuatannya. Namun, dengan energi sihirnya yang sudah sangat terkuras seperti sekarang, itu  mustahil dilakukan. Ia bisa merasakan Gi masih bernapas perlahan dengan denyut nadi yang sangat lemah. Ia  tak punya pilihan lain. 

Ini adalah saat-saat terakhir Gi. 

“Uhuk, uhuk…”

Gi terbatuk lemah. Kakek Eon memegang tangan Gi dan merapalkan sihir teleportasi. Saat menyusup  ke dalam istana tadi, sepertinya ia sempat menemukan sebuah tempat kosong yang tidak dilewati sama sekali  oleh penjaga yang berpatrol. Untuk sekarang, hanya sebatas ini yang bisa ia lakukan.  

Bruk. Pendaratan mereka tidak terlalu mulus dan sepertinya membangunkan Gi. 

“Tuan…?” Gi membuka matanya perlahan, menatap lurus wajah Kakek Eon di hadapannya sekarang.  

“Jangan banyak bergerak.” Kakek Eon berusaha selembut mungkin untuk membaringkan tubuh Gi. Gi bahkan tidak berteriak kesakitan apapun, wajahnya terlihat tenang. Sepertinya ia sudah tidak bisa merasakan  bagian tubuhnya yang terbakar parah sama sekali. 

“Ini… di mana… Kenapa… Anda ada di sini… uhuk!” 

Kakek Eon mengeluarkan sihir penyembuhnya yang lemah di daerah dada Gi. “Maafkan aku.  Sepertinya aku tidak bisa berbuat banyak.” 

“Bukankah sekarang Anda seharusnya sedang tidur…” 

“Apa yang kau bicarakan? Selembar kertas seperti itu takkan bisa menghambatku semudah yang kau  pikirkan, tahu.” 

“Padahal, saya sudah meminta agar kertas itu untuk menidurkan Anda hingga fajar… tapi sepertinya  saya gagal, ya.” Gi mengulas senyuman tipis di wajahnya. 

“Ya ampun. Kau ini memang gegabah. Sangat gegabah.” 

“Sepertinya, saya takkan bisa bertahan lebih lama lagi, ya.” 

“… Kupikir begitu.” Kakek Eon mengatakannya dengan nada berat. 

Gi terbatuk dengan cukup keras, mengeluarkan banyak darah. Kakek Eon membagi sihir  penyembuhannya. Tangan kirinya menyembuhkan daerah dada, sementara tangan kanannya di daerah leher Gi. Ia juga meningkatkan intensitas penyembuhan, meskipun energi sihir yang ia miliki tinggal sangat sedikit. 

“Tuan… kenapa…” 

“Hanya ini yang bisa kulakukan. Kalau kau punya kata-kata terakhir, katakan saja. Aku akan  mendengarkannya dengan baik.” 

“Ya ampun, bahkan di saat seperti ini…” 

Hening sejenak. Kakek Eon masih harus berfokus untuk mempertahankan sihir yang ia gunakan. Ia  tak bisa berbuat banyak di saat seperti ini. 

“Perkataan terakhir, ya. Apakah saya boleh mengatakan apapun?” 

“Silakan saja.” 

Gi menutup matanya perlahan. “Apa ya, yang harus saya katakan… Kurasa saya hanya ingin membuat  pengakuan.” 

Kakek Eon mendengarkan dengan takzim.

“Sebenarnya, saya bukanlah seseorang yang baik. Saya sama sekali bukan seperti yang Anda lihat dari  luar. Saya sebenarnya tidak terlalu suka dalam bermain dengan anak-anak seperti mereka. Saya selama ini  melakukannya demi membuat diri saya terlihat baik di mata orang lain. Terutama Anda, Tuan… orang yang  selama ini saya cari dan saya cintai.” 

Fokus Kakek Eon menjadi terganggu. “Kau sedang berbohong. Aku tidak memercayai itu.” 

“Tidak… saya tidak berbohong. Niatan saya selalu seperti itu sejak pertama kali melakukannya dulu.  Sampai sekarang pun tidak berubah. Namun, hanya saja…” 

“Hanya saja?” 

“Saat melihat mereka semua mati begitu saja di hadapan saya… saya tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri. Saya merasa bahwa saya adalah orang paling payah sedunia karena tidak bisa mencegah itu terjadi. Beritahu aku, Tuan. Apakah saya salah dengan berpikir seperti itu?” 

Kakek Eon berpikir sejenak. “… Saya tidak berpikir kalau itu salah.” 

“Kenapa…?” 

“Pada akhirnya, kau tetap peduli dengan anak-anak itu, bukan? Tak peduli niatan awalmu seperti apa. Kau bahkan rela sampai berbuat sejauh ini. Tidak salah lagi, kau pasti melakukannya untuk mereka. Meskipun  kau tidak menyadarinya, namun kau sudah banyak berubah dari tujuan awalmu yang seperti itu.” 

“Bagaimana… Anda bisa tahu sampai sejauh itu?” 

Kakek Eon tersenyum tipis. Ia sudah berurusan dengan berbagai macam orang untuk tahu seperti apa  orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, ataupun orang-orang yang licik. 

“Siapa saja bisa melihatnya. Saat bersama anak-anak… kau terlihat begitu senang. Kau selalu  tersenyum lebar. Kau tampak begitu bahagia, menikmati setiap detiknya. Semua yang kau tunjukkan ketika  bersama dengan anak-anak itu… sama sekali tidak terasa palsu. Semuanya terasa tulus, penuh kasih sayang.” 

“Apakah… saya memang terlihat seperti itu di mata Anda, Tuan?” 

Kakek Eon tertawa lirih. “Tidak hanya saya sendiri. Saya yakin, semua orang yang melihatmu juga  akan berpikir demikian.” 

“Tapi, sepertinya tadi saya berubah menjadi orang kesetanan di dalam, sih… apakah Anda  melihatnya? Saya tidak terlalu ingat banyak hal saat itu terjadi…” 

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kau sendiri sudah melakukan yang terbaik dalam situasi yang  sedang kau hadapi, dan saya sangat menghargai akan hal itu. Berbahagialah dengan apa yang sudah kau capai.” Kakek Eon memilih untuk tidak mengungkit soal fakta bahwa Gi barusan sudah membunuh dua orang dengan  tangannya sendiri. Sepertinya Gi tidak mengingat apapun saat ia mengamuk tadi. Terkadang, sesuatu memang  lebih baik untuk tetap menjadi rahasia hingga akhir. 

Gi memasang senyum lemas. Ia memejamkan kedua matanya untuk sejenak. “Kalau begitu,  syukurlah… uhuk!”

Gi kembali batuk berdarah dengan kencang. Kakek Eon berusaha untuk tetap fokus dan menambah  intensitas sihir penyembuhannya, tapi ia sudah tidak bisa melakukannya lagi. Energi sihir dan tenaganya sudah  mulai habis. 

“Selama ini, saya… hanya tak ingin mengecewakan Anda dan Kakak. Saya sudah berusaha keras untuk  mendapatkan pekerjaan, agar dapat mandiri menghidupi diri sendiri. Saya juga sudah mencoba untuk terlihat  baik saat bermain dengan anak-anak jalanan. Saya selalu mencari Anda di waktu luang yang saya miliki. Semua  itu dengan harapan… agar saya dapat menjadi orang yang pantas apabila saya bertemu dengan Anda suatu saat  nantinya. Dan lihatlah, sekarang Anda berada tepat di hadapan saya. Pada akhirnya, saya sama sekali masih  belum pantas…” 

“Siapa yang bilang begitu?” 

Seketika, raut wajah Gi berubah. Ia menatap Kakek Eon, tampak kebingungan. 

“Kau sudah pantas, kok. Saya mengakuimu sekarang. Saya sudah cukup mengamatimu selama ini.  Meskipun tidak mulus, namun kau sudah melakukan yang terbaik hingga sekarang.” 

“Apakah itu berarti… lamaran saya…” 

Kakek Eon hanya mengangguk seraya memasang senyum lembut di wajahnya. Ia mengelus ubun ubun Gi dengan lembut. “Kau lulus.” 

Setelah itu, terdapat setetes air mata terjatuh dari kelopak mata Gi. Ia juga tersenyum tipis sambil  menatap langit malam yang berbintang. “Kakak… akhirnya… aku berhasil melakukannya…” 

Kakek Eon tiba-tiba teringat sesuatu. Ia akhirnya menghentikan sihir penyembuhan yang ia lakukan.  “Sebenarnya, saya juga punya pengakuan.” 

Sekarang, ia menempelkan dahinya dengan dahi Gi. Ia mengerahkan semua energi sihirnya yang masih  tersisa, menggunakannya untuk membagi ingatan yang ia miliki saat ia bertemu dengan Gi dan kakaknya saat  mereka masih kecil dulu. Hanya memori yang singkat, namun Kakek Eon merasa bahwa ia harus melakukannya. Setelah melakukannya, ia sudah benar-benar kehabisan tenaga dan energi sihirnya. Sihir yang ia gunakan untuk  menyamar menjadi pria dewasa selama ini juga mulai menghilang. Sekarang ia kembali ke wujud aslinya,  seorang kakek tua yang kurus dan penuh keriput. 

“Ingatan ini… begitu, ya. Seperti yang saya duga. Saya pernah bertemu dengan Anda sebelumnya.  Bersama dengan Kakak juga.Dan ternyata Anda selama ini menyamar, yah… saya tak pernah bisa menebaknya.  Uhuk, uhuk!” 

Kondisi Gi menjadi semakin parah dengan cepat tanpa sihir penyembuhan Kakek Eon. Kini, waktunya  benar-benar sudah tidak lama lagi.  

“Tapi, perasaan saya takkan berubah, kok. Tuan memang selalu menjadi orang yang baik hati dari dulu  sampai sekarang. Perasaan ini akan saya bawa sampai mati. Yah, tapi tetap saja, waktu saya memang sudah  tidak banyak lagi, ya? Uhuk-uhuk.” Gi memasang senyuman polos, sedikit bercanda. 

“Kau, bahkan di saat seperti ini… masih saja…” Kakek Eon mulai menitikkan air mata.

“Sebenarnya, saya masih menyesal karena tidak bisa menyelamatkan anak-anak itu, tapi apa boleh buat  sekarang. Aku… hanya bisa berharap… mereka semua… baik-baik saja… di alam sana.” Napas Gi semakin  lemah, tempo perkataannya juga melambat. 

“Keberadaan Anda… dan Kakak… adalah sesuatu… yang tak tergantikan… dalam kehidupan saya.  Saya benar-benar… merasa bersyukur… untuk bisa… bertemu dengan Anda… sebelum saya mati. Saya…  benar-benar… bahagia.” 

Kakek Eon hanya bisa terdiam di tempatnya sembari terisak lirih. Rasanya benar-benar menyakitkan  untuk mendengar perkataan Gi yang terputus-putus seperti ini. 

“Tuan… Terima kasih… untuk segalanya. Dan…” 

Gi berhenti sejenak, mengambil napas yang sangat panjang. 

“Saya mencintai Anda… Tuan Eon.” 

Senyap. Yang tersisa hanyalah isakan lirih Kakek Eon. Barusan itu adalah napas terakhir Gi. Kakek Eon  berusaha menghentikan isakannya, ia menutup kedua kelopak mata Gi yang masih sedikit membuka. Ia  meninggal dalam keadaan tersenyum, wajahnya tampak begitu damai.  

“Aku… juga mencintaimu, Gi.” 

Kakek Eon berusaha tersenyum, walaupun suasana hatinya sekarang sedang begitu getir. Ia  membopong tubuh Gi yang mulai dingin, meninggalkan lingkungan istana dalam senyap. 

Ah, benar. Ini adalah kedua kalinya aku menangis seumur hidupku. Yang pertama kali, saat itu aku  juga sedang bersama denganmu. Bukankah begitu, Gi? 

Kakek Eon membawa jasad Gi ke hutan perkotaan yang terisolasi dari orang-orang. Pagi harinya,  Kakek Eon sudah mengisi kembali sejumlah energi sihir miliknya. Ia menggunakannya untuk mencari kuburan  kakak Gi—ia berniat memakamkan Gi di sebelah kakaknya apabila bisa. Namun, setelah dua hari penuh  mencari dengan berteleportasi yang tak terhitung jumlahnya, kondisi jasad Gi mulai memburuk. Kakek Eon  memutuskan untuk menyerah mencari. Ia memutuskan untuk memakamkannya di kota terakhir mereka  bertemu.  

Maaf, Gi. Aku tidak bisa menemukan kuburan kakakmu. Tapi tenang saja, aku takkan melupakan  kalian berdua seumur hidupku. Kakek Eon berkata dalam hatinya setelah selesai mengubur jasad Gi. Ia  berencana untuk berkunjung setiap bulannya. 

Kakek Eon mulai merenungi soal kehidupan keduanya ini seiring ia melanjutkan pengembaraannya.  Ia sudah berkeliling dunia—mengunjungi berbagai macam tempat, dan bertemu dengan berbagai macam  orang. Sudah tak terhitung berapa banyak permasalahan yang dia selesaikan, dan kebahagiaan yang sudah dia  berikan kepada orang-orang. Namun, pertemuannya dengan Gi adalah sesuatu yang sangat spesial.  Mengajarkannya perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. 

Perasaan bahagia. Khawatir. Cinta. Frustrasi. Keputusasaan. Kesedihan mendalam setelah  ditinggalkan oleh seseorang yang berharga. Gi adalah orang pertama yang mengajarinya semua itu. Ia takkan 

pernah melupakannya seumur hidupnya. Terkadang, apabila ia memikirkan sosok Gi, dadanya merasa sesak.  Rasanya menusuk dalam, membuatnya merana.  

Jadi, seperti ini rasanya orang-orang saat kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Dulu, aku tak  pernah memikirkan soal ini. Ternyata rasanya bisa sesakit ini.  

Tak terhitung sudah berapa banyak orang yang kubuat untuk merasakan hal memilukan seperti ini di  masa lalu. Ya ampun, memangnya aku diperbolehkan untuk merasa sedih soal ini? 

Benar. Saat ini, hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Melanjutkan misiku sebagai Pemelihara, dan  melanjutkan hidup. Kali ini, akan kulakukan untuk Gi juga. 

Akhirnya, Kakek Eon mulai kembali fokus kepada misinya. Mencari tahu masalah apa yang  sebenarnya terjadi pada kota tersebut, dan menyelesaikannya. Setelah pencarian dan penyelidikan yang ia  lakukan dengan teliti, rupanya kota itu biasanya akan menunggu hingga anak-anak yatim-piatu dan anak  jalanan di sana menginjak usia dewasa, lalu menculiknya dan menjadikannya budak ataupun dijual ke tempat  lain. Sungguh masalah yang rumit. Namun, sekarang tanpa interferensi apapun yang mengganggu, Kakek Eon  pada akhirnya tetap berhasil mengatasinya dengan sihir dan kecerdasannya, dan sekarang kota tersebut sudah  mempunyai panti asuhan, sebagaimana mestinya dimiliki oleh setiap kota untuk menampung anak-anak yang  kurang beruntung. 

Kakek Eon juga mulai menambahkan beberapa catatan dalam pengembaraannya. Pertama, ia harus  benar-benar teliti dan waspada dalam bertindak. Ia sekarang paham betul dengan batasan kemampuan sihirnya.  Terutama soal ia bisa mengubah pikiran seseorang, namun tidak bisa mengubah hati mereka. Ia harus  memastikan dengan betul bahwa hasil pekerjaannya tidak diketahui siapapun—itu artinya ia harus benar-benar  membatasi penggunaan sihirnya yang berisiko terlihat orang lain dengan mudah, dan memastikan untuk tidak  terlalu berhubungan dekat dengan siapapun agar sosoknya tidak membekas di hati mereka di luar  sepengetahuannya, seperti yang terjadi pada Gi. Itulah yang terpenting.  

Dan dengan begitu, tahun-tahun berlalu dengan cepat. Melewati berbagai zaman dan peradaban yang  semakin berkembang dan berubah.  

Seperti yang sudah ia ikrarkan kepada dirinya sendiri. Menjalani kehidupan. 

… 

Dan begitulah masa lalu dan kisah cinta seorang tiran terkejam yang pernah hidup di dunia ini. Aku  tidak bisa menahan deraian air mataku di akhir kisah cinta dari Kakek Eon tersebut. Aku tak pernah mengira  kalau Kakek Eon memiliki kehidupan yang seperti itu di masa lalu. Padahal, itu hanya salah satu dari sekian  banyak kisah hidup panjang Kakek Eon yang terekam dalam ingatan ini. 

Lalu, bukan hanya itu saja alasanku tidak bisa menutup mataku rapat-rapat untuk tidur sekarang. Ini  juga karena sesuatu hal yang dikatakan Sang Pencipta kepadaku saat itu.

Eon telah melakukannya dengan baik sampai sekarang, bahkan jauh melampaui ekspektasiku. Aku  berubah pikiran tentangnya. Oleh karena itu, dalam waktu tujuh hari, Eon akan menyelesaikan perjalanan  panjangnya. 

Sekarang, apakah kau bersedia untuk menjadi penerusnya? 

Menjadi seorang Pemelihara.  

Begitulah yang disampaikan kepadaku. Itu berarti, Kakek Eon akan segera pergi dari dunia ini. Aku  tidak tahu harus merasa bagaimana soal ini. Kurasa, Kakek Eon sudah menjadi sosok yang tak tergantikan  dalam hidupku. Aku tidak ingin dia pergi… 

Sepertinya percuma saja aku mencoba untuk tidur malam ini. Aku memutuskan untuk bangun dari  tempat tidurku, hendak mencari Kakek Eon. Dilihat dari suasana hati Kakek Eon sejak pulang dari Alam  Permulaan tadi, sepertinya aku tahu di mana dia sekarang.  

Setelah lima belas menit berkendara dari penginapan, aku akhirnya sampai di menara jam kota.  Aku turun dari tumpangan kuda yang kupesan. Mengucapkan satu-dua patah kata terima kasih kepada si  kusir. Kemudian aku mendongak ke atas.  

Sudah kuduga.  

Aku menaiki menara jam itu hingga ke pucuknya. Sepertinya menara jam ini setinggi bangunan  sepuluh lantai, membuatku kehabisan napas ketika menaikinya.  

“Apa yang kau lakukan di sini, Nak?” 

“Uh… selamat malam, Kek.” 

Kakek Eon sedang duduk di balkon yang menghadap langsung ke kota. Aku ikut duduk di  sebelahnya. Dari ingatan yang kuperoleh, Kakek Eon sepertinya suka menghabiskan malamnya dengan  menatapi suasana malam dari ketinggian apabila suasana hatinya sedang tidak enak. Aku melangkah  mendekat, dan duduk di sebelah Kakek Eon.  

“Dari mana kau tahu aku berada di sini?” 

“S-soal itu…” 

“Sudahlah, aku sudah tahu. Ini pasti ulah dari Sang Pencipta, bukan?” 

Aku menelan ludah. Aku tidak punya kata-kata apapun untuk menyanggahnya.  

“Tak perlu takut seperti itu, hei. Santai saja. Kita berdua sekarang sedang menikmati pemandangan  kota dari atas sini, bukan? Tak pernah membuatku bosan.” 

Aku setuju kalau pemandangannya bagus. Hanya saja… 

“Kurasa, aku tak perlu menyembunyikan apapun lagi darimu, ya, Nak.” 

TUNG! TUNG! TUNG! 

Aku refleks menutup telingaku dan bergerak mundur. Menara jam sedang berdetak keras tepat di  belakangku, menandakan tengah malam. Kakek Eon tidak bergerak sesenti pun dari tempatnya duduk, sepertinya ia tak terpengaruh sama sekali oleh suara keras itu. 

“Mulai dari sekarang, tujuh hari lagi, aku akan menyelesaikan perjalananku dan menghilang dari  dunia ini. Lalu, kau mendapat penawaran untuk menjadi Pemelihara untuk menggantikanku. Begitu,  bukan?” 

“I-iya…” 

“Apakah kau akan rindu denganku setelah aku pergi?” 

“Tentu… Tentu saja! Sangat!” 

Kakek Eon tertawa ringan. “Bagaimana, melihatku di masa lalu dari sudut pandangku sendiri? Kau  merasakan rasa sakit di dada yang kurasakan?” 

“Tidak… kurasa tidak begitu. Aku tidak merasakannya…” 

“Begitu, ya. Apakah mengasyikkan? Seberapa banyak yang sudah kau lihat?” 

“T-tidak terlalu banyak. Sampai sekarang, baru ingatan dengan wanita model itu…” 

“Ah, maksudmu Gi? Ya ampun, sudah berapa ratus tahun yang lalu, ya? Sudah lama sekali aku  tidak berkunjung ke kuburannya. Yah, mau bagaimana lagi, kuburannya dulu digunakan sebagai lahan  pembangunan. Apa boleh buat.” Kakek Eon tertawa lepas setelahnya. 

“… Tidak, bukan begitu. Aku bukan bermaksud untuk menertawakan itu. Hanya saja… untuk  seseorang yang sudah hidup lama sepertiku, perspektifku terhadap waktu mulai berubah. Hal yang terjadi  ratusan tahun lahu, terkadang rasanya seperti baru kemarin terjadi.  

“Gi adalah… sosok yang sangat berharga bagiku. Meskipun aku tak bisa berkunjung ke kuburannya  lagi, dia takkan pernah kulupakan dari ingatanku. Kau sudah melihat apa yang dia lakukan di ruang bawah  tanah istana? Dia sangat hebat, bukan?” 

Aku mengangguk-angguk. Gi memang sosok yang luar biasa.  

“Dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Yah, walaupun begitu, bukan berarti kita berdua bisa  bersama. Bahkan dari awal, sebenarnya aku sudah tidak pantas untuk jatuh cinta dengan siapapun. Aku juga  sadar diri dengan siapa diriku di masa lalu. Aku sebenarnya sudah sangat kelewatan dengan jatuh cinta  seperti itu, kau tahu?” 

“T-tapi, tetap saja… Anda—” 

“‘Anda sudah berbuat kebaikan selama ratusan tahun juga’, begitu yang ingin kau katakan?” Aku terdiam. Mudah sekali terbaca, rupanya. 

“Kau salah paham. ‘Berbuat baik selama ratusan tahun’ mungkin terdengar seperti sesuatu yang hebat.  Tapi, sebenarnya itu sama sekali tidak. Justru sebaliknya, aku sama sekali tidak merasa bahwa aku telah  menyelesaikan apapun dalam kehidupan keduaku ini.”

Aku hendak mengatakan sesuatu, tapi langsung mengurungkannya. Dunia ini sudah menjadi jauh  lebih baik sekarang, kan? Tidak ada lagi perang, tak banyak konflik, dan kedamaian di mana-mana. Bukankah  itu karena kerja keras Kakek Eon juga? 

“Kau ingat, kalau aku diberi hukuman dengan rasa sakit di dalam dadaku ini? Sampai sekarang pun  aku masih merasakannya. Memang tidak separah dulu, namun ini sebenarnya masih terasa sakit. Masih banyak  orang-orang di dunia ini yang tidak bahagia dan berada dalam kesedihan. Saat kupikir aku sudah  membahagiakan seluruh orang di dunia ini, rasa sakit ini tetap ada dan tak pernah hilang sepenuhnya. Itu  artinya aku belum berhasil dalam misiku ini. 

“Lalu, apakah kau juga ingat? Saat hari pertama kita berdua bertemu. Itu bukanlah kebetulan. Lebih  tepatnya, itu seperti sebuah takdir.” 

“Takdir…?” 

“Beberapa hari sebelum bertemu denganmu, Sang Pencipta sudah memberitahuku soal hari akhirku  yang sudah dekat. Pada saat itu, aku merasa sangat bingung. Seperti yang kubilang, aku sama sekali belum  menyelesaikan tugasku sebagai seorang Pemelihara. Kukira aku akan hidup abadi—aku bahkan sudah siap  untuk itu. Namun, ternyata tidak demikian.  

“Sang Pencipta juga mengatakan bahwa aku akan bertemu dengan seorang pemuda, dan ia  menyuruhku untuk berteman dengannya selama satu tahun. Pada awalnya, kukira itu tidak mungkin—karena  pada dasarnya, aku memang tidak boleh berhubungan dekat dengan siapapun demi kelancaran misiku. Namun,  pada akhirnya aku tetap bertemu denganmu di bukit itu. Saat kupikir aku bisa meninggalkanmu dan  memanipulasi ingatanmu begitu saja, aku salah besar. Ini seperti, Sang Pencipta sengaja membuat pengecualian  hanya untukmu agar aku tak bisa menjauhimu. Begitu menyadari hal itu, aku pun menyerah dan mengajakmu  dalam perjalananku.” 

Aku merasa sedikit merinding. Aku adalah pengecualian? Ditakdirkan untuk bertemu dengan Kakek  Eon?  

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau itu ‘orang yang ditakdirkan’, lho.” Kakek Eon tertawa ringan,  menepuk punggungku perlahan. 

“Aku… masih tidak merasa bahwa aku adalah orang yang pantas sebagai orang yang ditakdirkan seperti itu,” kataku dengan nada pesimis. “Lagipula, aku bahkan masih belum terlalu mengerti apa itu artinya  menjadi seorang Pemelihara. Apakah menjadi seorang Pemelihara berarti… melakukan apa yang Kakek Eon  lakukan selama ini?” 

“Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin saja.” 

“K-kalau begitu, pasti banyak orang lain di luar sana yang jauh lebih cocok dariku untuk menjadi  Pemelihara… Kenapa harus aku—” 

“Sudah, sudah,” potong Kakek Eon cepat. “Sebaiknya jangan terlalu kau pikirkan soal Pemelihara itu.  Bahkan dari awal, seharusnya aku tetap tak boleh membiarkan orang lain yang mengambil tanggung jawab dari  misi yang diberikan kepadaku ini. Kau tidak perlu menanggung beban apapun dari masalah yang kubuat. Kau 

belum menemukan sesuatu yang ingin kau lakukan, bukan? Lebih baik pikirkan saja apa yang terbaik untuk  dirimu sendiri sekarang.”  

“Apa yang akan terjadi… bila aku tidak menjadi Pemelihara?” 

“Hm? Kupikir tidak akan terjadi apa-apa, kok. Ya ampun, kau ini khawatir sekali.” Kakek Eon kembali  tertawa kecil, lalu beranjak berdiri. 

“Dunia takkan berubah hanya karena seorang kakek tua sepertiku menghilang. Maksudku, lihatlah.  Aku mungkin seorang Pemelihara, namun kesedihan dan kesengsaraan takkan pernah menghilang sepenuhnya  dari dunia ini. Jadi, yah, apabila hari itu tiba… 

“Aku hanya akan menghilang dari dunia ini. Begitu saja.” Aku melirik ke arah Kakek Eon sejenak. Ia  tampak tersenyum lebar. Namun, aku merasakan ada sesuatu yang ganjil dari senyuman itu. 

Kakek Eon pun berbalik, mulai berjalan menuruni menara jam. 

“Kek…!” 

“Ah, aku hanya sedikit lapar. Kau mau ikut?” 

… 

Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa tidur di malam itu. Setelah pembicaraan itu dengan Kakek Eon,  semakin banyak hal yang sedang berkecamuk di kepalaku. 

Apakah aku memang orang yang pantas untuk menjadi seorang Pemelihara? Aku tak henti-hentinya  berkata seperti itu dalam hatiku.  

Masih ada masalah yang lain. Apa yang harus kulakukan dengan ingatan Kakek Eon yang berada di  dalam kepalaku sekarang ini? Apakah aku harus meminta… tidak, Kakek Eon sudah bilang bahwa dia tidak  bisa memanipulasi ingatan milikku bagaimanapun juga. Dia juga bilang, bahwa pengecualian yang terdapat  padaku pasti memiliki suatu campur tangan dari Sang Pencipta. 

Aku terus berpikir. Apa hubungan dari semua ini? Pertemuanku dengan Kakek Eon yang ditakdirkan.  Aku yang dijadikan sebuah pengecualian agar bisa bersama dengannya. Ingatan kehidupan Kakek Eon yang  diberikan kepadaku. Menawariku untuk menjadi Pemelihara. Setelah kupikir-pikir lagi, dari semua itu selalu  ada campur tangan dari Sang Pencipta. Tak salah lagi. 

Sang Pencipta secara tidak langsung sudah memilihku sebagai penerusnya sebagai Pemelihara. Tapi  tetap saja, pertanyaan itu masih belum bisa kutemukan jawabannya. Kenapa harus aku? Sang Pencipta pasti  punya suatu alasan untuk ini, yang belum aku ketahui.  

Di hari-hari terakhirnya, Kakek Eon memutuskan untuk tidak berpindah kota. Aku sekarang lebih  sering untuk menghabiskan waktu di dalam kamar, melamun. Selalu terngiang-ngiang soal tempo hari. Mau  bagaimanapun aku menimbang-nimbang soal tawaran itu, aku tidak pernah menemukan jawaban yang pasti 

untuk apa yang harus kulakukan. Terkadang, aku hanya bisa menghibur diri dengan melihat potongan potongan ingatan Kakek Eon sewaktu-waktu. Mencoba mencari jawaban atas kebimbanganku di sana. 

Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Sekarang sudah hari terakhir sebelum kepergian Kakek Eon. Aku  akhirnya benar-benar tanpa harapan, buntu. Aku akhirnya memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan di luar  penginapan, untuk menjernihkan kepalaku yang sekarang. 

Situasi tidak terlalu berbeda. Hanya keseharian yang normal. Orang-orang yang berlalu-lalang, hari  yang cerah dan sedikit berangin. Kakek Eon juga tidak melakukan banyak hal yang berbeda dari biasanya— berbagi kebahagiaan dan senyuman dengan orang lain yang ia temui di jalanan.  

Ini tidak membantu. Aku masih merasa jenuh dengan semua ini. Terutama ingatan milik Kakek Eon  di dalam kepalaku sekarang ini. Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa dengan ingatan ini. Mau berapa  kali aku mencoba untuk melihat potongan ingatan dari seribu tahun kehidupannya, aku tidak bisa menemukan  jawaban yang pasti dari kebimbanganku ini.  

Apakah aku bisa memanfaatkannya untuk meniru cara hidup Kakek Eon? Tidak, itu tidak mungkin.  Aku bukanlah penyihir hebat sepertinya. Aku bukanlah siapa-siapa, hanyalah seseorang kesepian yang  kebetulan bisa bertualang bersama dengan seorang yang hebat seperti Kakek Eon. Aku hanya bisa merasa  kosong setiap kali melihat Kakek Eon yang bisa melakukan banyak hal hebat dalam kehidupan keduanya itu.  Seperti… semua ingatan ini hanya ada untuk membebaniku.  

Pada akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa memikirkan ini sendiri. Aku butuh masukan orang  lain untuk masalah ini—selain Kakek Eon, tentunya. Tapi, kembali lagi—aku tidak tahu harus bertanya ke  siapa yang cocok untuk masalah ini. 

Aku melihat anak-anak kecil dengan pakaian kumuh yang berlarian di jalan. Membuatku berpikir di  dalam hati. Masih ada anak-anak seperti mereka di jalanan seperti ini, meskipun Kakek Eon sudah berusaha  keras selama ini. Kalau Kakek Eon saja tidak bisa melakukannya, lantas apa yang bisa kulakukan? 

Setelah berjalan sebentar, aku melirik ke salah satu lorong kecil yang gelap. Terdapat seorang anak— yang kuasumsikan yatim-piatu—sedang duduk di sana, tampak murung. Aku tidak tahu kenapa anak  sepertinya tidak dimasukkan ke dalam panti asuhan—namun bukan itu hal yang penting sekarang. Sesuatu  langsung tebersit dalam kepalaku. 

Apakah aku memang bisa melakukan yang seperti dilakukan Kakek Eon? Aku tidak bisa melakukan  hal-hal luar biasa dan besar yang seperti Kakek Eon lakukan dengan sihirnya. Aku tidak cukup pintar ataupun  memiliki kemampuan yang cukup untuk membantu orang lain menyelesaikan permasalahan mereka. Namun,  aku masih berandai-andai. Satu-satunya hal yang biasa dilakukan Kakek Eon, yang masih mungkin bisa kulakukan. 

Apakah aku bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang barusan kutemui begitu saja?  Aku pun melangkah mendekati anak kecil di lorong itu. Aku menyapanya dengan canggung. “H-halo.” 

Anak kecil itu menoleh dengan pelan kearahku. Ia tidak memberi jawaban apapun, hanya  memperlihatkan wajah kumal dan pucatnya. 

“A-anu…”

Sial. Bahkan sebelum memulai pembicaraan, aku sudah bingung mengatakan apa. Aku hanya spontan  menyapa anak kecil di hadapanku ini, berpikir bisa sedikit membuatnya lebih bahagia seperti yang biasa Kakek  Eon lakukan. Aku sama sekali tidak mempunyai rencana soal ini. 

Tapi, aku sudah telanjur memulainya, dan aku tidak bisa mundur dari posisiku yang sekarang. Aku  harus memikirkan sesuatu dengan cepat.  

Sekarang, hanya ingatan kehidupan Kakek Eon yang ada bersamaku. Mungkin saja, apabila aku…  

“B-begini… aku tidak punya uang atau makanan. Tapi… begini… Apakah kamu ingin mendengarkan  sebuah cerita? Eng…” 

Aku masih patah-patah dalam perkataanku. Anak kecil itu juga tampaknya tak tertarik. Situasinya  semakin canggung. Tapi kembali lagi, aku tidak bisa mundur sekarang. 

“Judulnya… Sang Penyihir yang terbang tinggi di Gunung Es.”  

Aku sendiri langsung merasakan penyesalan dalam hatiku begitu mengatakannya. Itu hanyalah judul  yang kubuat seadanya berdasarkan salah satu potongan ingatan Kakek Eon yang sudah aku lihat sejauh ini.  

Anak kecil itu menoleh ke arahku, membulatkan kedua matanya. “Penyihir…?” 

“Eh? Iya, penyihir…” 

“Kakak… Kakak tahu soal penyihir…?” 

“Anu… sepertinya begitu…” 

“Kakak mau bercerita? Kakak mau bercerita soal penyihir?” Anak kecil itu beranjak berdiri, mendekat  kepadaku. Matanya semakin berbinar-binar. Kembali lagi, aku hanya bisa mengiyakannya dengan canggung. 

“Terima kasih… Kakak! Sebentar, aku akan panggilkan yang lain…”  

Anak kecil itu mulai berlari-lari kecil, menghilang di ujung lorong. Dia akan memanggil teman temannya yang lain?  

Aku menggaruk-garuk kepalaku dengan keras. Ya ampun, apa yang baru saja kulakukan?!  Apakah aku dalam masalah sekarang? Kenapa sekarang jadi seperti ini? 

Beberapa saat kemudian, anak kecil barusan kembali dengan teman-temannya yang lain. Sekarang  anak kecilnya berjumlah empat orang.  

Aku mengamati wajah mereka masing-masing. Dua dari mereka tampak berbinar-binar dan antusias  seperti anak yang tadi, dan satunya lagi berwajah masam. Anak berwajah masam tersebut terus saja mengeluh  soal penyihir yang sebenarnya tidak ada. Sedangkan tiga dari mereka semuanya antusias soal cerita penyihir  yang akan kuceritakan. Sepertinya aku sudah memahami apa yang terjadi dengan anak-anak ini sekarang. 

“Baiklah. Kalian semua duduklah.” 

“Eh? Kakak tidak membaca buku cerita?” 

“… Eng… kurasa tidak. Aku hafal ceritanya.” Aku memasang senyum polos.

Entah mengapa, aku menjadi lebih rileks setelah melihat wajah-wajah mereka barusan. Kini, aku mulai  lebih merasa percaya diri dan berusaha untuk mengurangi semua kecanggungan yang ada.  

Akhirnya, aku pun duduk dan mulai bercerita. Ini adalah kali pertamanya bagiku, jadi tentu saja tidak  berjalan mulus. Penyampaianku masih patah-patah, bahasa yang kupakai juga berantakan dan kaku. Lalu di  tengah-tengah, aku juga sering kali lupa dengan alurnya yang harus membuatku berhenti sejenak untuk  mengintip ingatan Kakek Eon kembali.  

Setelah lima belas menit aku bercerita dengan segala kekurangannya, aku mengelap wajahku yang  berkeringat. Aku gugup sekali tadi.  

Prok. Prok. Prok. 

Di luar dugaanku, anak-anak di hadapanku sekarang bertepuk tangan. Hanya satu anak yang dari tadi  memasang wajah masam yang tidak bertepuk tangan. Ia hanya mendecak, dan terus mengeluh soal ceritaku  yang mengada-ngada. Ia lantas berlari menjauh setelahnya. 

“Jangan dipedulikan, Kak. Dari dulu dia memang tak pernah percaya soal penyihir.” “Iya, lanjutkan dong, Kak! Bagaimana nasib penyihir setelah ia mengalahkan naga es itu!” “Lanjutkan, Kak!” 

“Penyihir itu hebat sekali! Dia benar-benar berani!” 

Aku terdiam, menyaksikan antusiasme anak-anak jalanan di hadapanku sekarang ini. Mereka semua  benar-benar mengikuti ceritaku dengan penuh perhatian—terlepas dari penyampaianku yang jauh dari kata  sempurna. Mereka tidak tahu, kalau aku hanya menceritakan ulang soal sebuah potongan ingatan Kakek Eon  dari masa lalu. Aku hanya tidak menyebutkan nama-nama orang secara eksplisit saja, tidak lebih dari itu. Aku  memang masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi sekarang, namun… 

Aku melihat wajah mereka satu per satu. Mereka tersenyum lebar. Mereka tampak senang. Wajah  muram bocah yang tadi, menjadi seolah tak pernah ada sebelumnya. Dan yang terpenting… 

Apakah aku berhasil membuat mereka merasa bahagia? 

“A-apakah kalian merasa senang?” tanyaku dengan ragu-ragu. 

“Hm! Hm!” Salah satu anak mengangguk antusias. “Kakak, apakah Kakak punya cerita tentang  penyihir yang lain? Atau kelanjutan dari yang tadi?” 

“E-eh? Anu, sebenarnya—” 

“Apakah Kakak pernah bertemu dengan penyihir itu?” Salah satu anak yang lain memotong cepat. “Apa? S-soal itu…” 

Wajah penasaran ketiga anak itu semakin mendekat, membuatku kelabakan.  

“Soal itu… tidak. Sayangnya, aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku hanya suka membaca buku  cerita. Kebetulan ini adalah cerita kesukaanku…”

Terdengar nada kekecewaan dari mereka bertiga. Maaf saja, tapi aku memang benar-benar tidak boleh  membocorkan identitas Kakek Eon yang sebenarnya kepada siapapun. Hanya ini yang bisa kulakukan. 

“Yah, tapi meskipun begitu, aku sepertinya masih berada di sini untuk besok, dan aku mungkin bisa  membawakan cerita yang lain—” 

“Sungguh, Kak?! Hore!” Ketiga anak itu langsung bersorak senang, tidak membiarkanku  menyelesaikan kalimatku. Aku hanya bisa ikut tersenyum. 

“Lalu, bagaimana dengan teman kalian yang tadi pergi?” 

“Oh, dia? Dia sama sekali tidak percaya dengan sihir. Begitu mendengar sesuatu soal sihir ataupun  penyihir, dia biasanya langsung marah-marah sendiri. Biarkan saja.” 

“Ya, biarkan saja dia! Dia sama sekali tidak seru!” 

“Padahal sihir itu seru… dia memang aneh!” 

Ketiga anak itu pun sekarang masing-masing membicarakan salah satu teman mereka yang kabur tadi.  Begitu melihat mereka yang seperti itu, aku baru mulai menyadari sesuatu.  

“Sudah, sudah. Kalian tidak boleh begitu. Tidak baik mengolok-olok teman kalian sendiri saat dia  sedang tidak bersama kalian.” 

“Eh? Tapi… dia memang begitu anaknya. Apabila kami semua berkumpul, dia malah lebih suka  menyendiri. Dia memang menyebalkan!” 

“Ingat, Sang Penyihir tadi tidak pernah berkata buruk soal kawannya, bukan? Dia selalu mendukung  mereka. Apabila mereka bertengkar, mereka saling meminta maaf satu sama lain. Kalian tidak ingin menjadi  seperti Sang Penyihir?”  

Seketika, raut wajah ketiga anak itu melunak. Mereka juga terdiam seketika.  

“M-maafkan aku, Kak…” 

“Jangan meminta maaf padaku. Minta maaf pada teman kalian yang tadi. Kalau dia memang tidak  percaya dengan penyihir, bukan berarti kalian harus bermusuhan dengannya, bukankah begitu?” 

Ketiga anak itu kembali terdiam. 

“Berbaikanlah dulu dengannya, dan besok aku akan datang lagi. Kurang lebih di jam yang sama seperti  sekarang. Kalian mengerti?” Aku beranjak mendekat dan berjongkok, mengelus kepala mereka satu persatu.  

“B-baiklah, Kak!” Mereka bertiga kompak menjawab dengan lantang. 

Aku memasang senyum lebar. “Bagus. Kalau begitu, sampai jumpa besok.” 

“Mhm! Terima kasih banyak untuk hari ini, Kak!”  

“Terima kasih, Kak!” 

“Besok… janji, ya, Kak!”

Setelah itu, mereka bertiga langsung berbalik dan berlarian di lorong gelap yang sempit ini. Mereka  masih bersorak senang, sepertinya antusiasme mereka belum luntur. Aku pun beranjak berdiri, meninggalkan  lorong sempit ini.  

Aku berjalan kembali ke penginapan. Sebelum aku menyadarinya, ternyata aku tidak bisa berhenti  tersenyum. Hanya dari pertemuan yang tadi, aku mendapatkan sesuatu yang sangat penting. 

Hari mulai berganti malam. Aku masih melamun di dalam kamarku, menimbang-nimbang banyak  hal. Namun, suara jam di dinding tetap terus berdetak di tengah kesunyian. Tengah malam semakin dekat. Aku  harus mulai memutuskan. 

Aku membuka pintu kamar Kakek Eon. “Kek…?” 

“Oh, masuklah.” 

“Permisi…” Aku melangkah masuk ke dalam. Tirai jendela kamar sedang dibuka lebar walaupun  sedang malam, memang kebiasaan Kakak Eon untuk melakukannya. Kamarnya sekarang berada d lantai dua  penginapan, dan jendelanya menghadap langsung ke jalanan di depan penginapan. Di malam hari,  pemandangan dari jalanan malam yang ramai dan cahaya bangunan di sekitar yang indah memang adalah  kesukaan Kakek Eon.  

Kakek Eon sedang terbaring di ranjangnya, menutup kedua matanya. Aku duduk di kursi sebelah  ranjangnya. 

“Ya ampun, kau jangan terlihat murung begitu. Ini bukan akhir dunia atau apapun itu.” Kakek Eon  tertawa di tempat tidurnya. 

“Jadi… apakah Kakek… benar-benar akan pergi malam ini?” 

“Aku… sejujurnya juga tidak tahu.” 

“Tidak tahu? Jadi…” 

“Hei, hei, bukan begitu.” Kakek Eon melambaikan tangannya. “Bukan berarti juga kalau aku akan  tetap di sini. Aku bilang, aku tidak tahu. Aku juga merasa lebih lemas dari biasanya sekarang, jadi jangan  berharap banyak.” 

Aku mengulas senyum tipis. “Ya, aku mengerti, kok.” 

“Hm? Kau tidak tampak begitu murung, ya. Kau tidak akan sedih ketika aku pergi?” “B-bukan begitu! Tentu aku juga akan merindukanmu, Kek. Hanya saja…” 

Kakek Eon tertawa. “Heh. Tidak apa-apa. Justru seharusnya kau tidak perlu melakukan itu. Kau tidak  perlu merindukanku atau apapun itu…” 

Aku menundukkan kepalaku. “T-tapi…” 

“Yah, maunya aku berkata seperti itu. Tapi, sepertinya aku membuat kesalahan yang sama lagi, ya? Aku sudah meninggalkan kesan yang terlalu kuat untuk kau lupakan. Sama seperti saat dengan Gi dulu.” 

Aku tetap terdiam. Masih belum berani menatap wajah Kakek Eon secara langsung.

“Kalau aku memang akan menghilang dari dunia ini saat tengah malam nanti, Aku ingin berterima  kasih kepadamu untuk satu tahun ini. Aku benar-benar merasa senang kau bisa menemaniku dalam waktu ini.” 

Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Kakek Eon barusan. “T-tidak, itu bukan seberapa…”  

“Ya ampun, ada apa dengan kau ini? Wajahmu suram sekali. Aku berterima kasih kepadamu, lho.  Setidaknya tersenyumlah.” 

“H-hanya saja… saya yang seharusnya berterima kasih kepada Kakek. Saya bisa melihat banyak hal di  dunia ini, juga berkat Kakek. Sungguh… saya berterima kasih…” 

“Hm-hm. Cukup dengan berterima kasihnya. Ya ampun, suasana di sini jadi kaku sekali.” Kakek Eon  melambaikan tangannya. “Jadi, bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang ingin kau lakukan?” 

Aku tersenyum yakin. “Sudah, Kek.” 

Kakek Eon menaikkan sebelah alisnya. “Oh-ho? Benarkah begitu? Beritahu aku.” 

“Saya ingin meneruskan tugas Anda, menjadi Pemelihara.” 

Hening sejenak. Kakek Eon menatap wajahku dengan tatapan keheranan. “… Apa?” … 

Satu jam menuju tengah malam.  

“Apa aku tidak salah dengar?” 

“Tidak, Kek.” 

“Kau serius?” 

“Aku serius.” 

Kakek Eon mengalihkan pandangannya. Ia bergumam lirih. “Kau pasti sedang bercanda…” “Kenapa Kakek sebegitu tidak percayanya denganku? Aku benar-benar serius soal ini.” 

“Tapi, pikirkanlah lagi!” Kakek Eon terduduk di kasurnya, kedua matanya melotot ke arahku. “Kau  tidak perlu repot-repot untuk melanjutkan pekerjaan orang tua ini. Sudah kubilang, kau tidak perlu terlibat  dengan semua masalah yang kubuat ini. Hidupilah hidupmu sebebas mungkin!” 

“Justru itu, Kek. Ini bukan paksaan siapapun. Aku sendiri yang memilih jalan ini.” 

“Tapi kenapa? Kau tidak tahu apa konsekuensi dari menjadi seorang Pemelihara—” 

“Aku tahu, Kek,” potongku cepat. “Aku sudah tahu banyak hal setelah melihat ke dalam ingatanmu.  Dan setelah menimbang-nimbangnya, aku menjadi yakin sekarang.”

Kakek Eon mengusap wajahnya. “Tapi, kau bukan penyihir… bagaimana kau akan menjadi seorang  Pemelihara? Aku saja gagal, lho! Rasa sakit dalam dadaku ini masih belum hilang, bahkan sampai sekarang.  Sampai akhir, aku tidak bisa menyelesaikan misiku sejak lebih dari seribu tahun yang lalu—” 

“Justru di situlah aku berpikir Kakek Eon salah berpikir,” aku memotong. 

Kakek Eon tercekat. “Salah berpikir? Tentang apa?” 

“Menurut saya, Kakek Eon sudah melakukannya dengan sangat baik. Sang Pencipta tidak salah soal  itu.” 

“Hah? Apa yang kau katakan?” 

“Kakek Eon sepertinya melupakan sebuah hal penting dari peran Pemelihara ini. Bukankah begitu?” “Aku? Melupakan sesuatu? Apa yang kulupakan?” 

Aku membenarkan posisi dudukku. “Sejujurnya, aku masih bingung dengan apa yang harus  kulakukan dengan masa depanku sampai hari ini. Sampai tadi siang.” 

“Apa yang terjadi?” 

Aku pun bercerita soal kejadian tadi siang saat aku bertemu dengan beberapa anak jalanan, dan mulai  bercerita soal salah satu potongan kehidupan dari Kakek Eon yang penuh petualangan dan pengembaraan.  Kakek Eon sempat merasa cemas, lalu aku pun memberitahunya kalau aku tidak membocorkan identitasnya  yang sebenarnya saat bercerita—semuanya baik-baik saja. Aku tertawa kecil setelah bisa membuatnya sedikit  panik. 

“Menjadi seorang Pemelihara bukan berarti harus membahagiakan semua orang. Menjadi seorang  pemelihara berarti merawat dan menjaga. Bukankah begitu, Kek?” 

Kakek Eon tidak menjawab, ia hanya mendengarkanku dengan wajah fokus sekarang. 

“Seorang dokter akan merawat pasiennya, dan seorang peternak akan menjaga ternaknya. Namun,  bukan berarti dokter bisa menyelamatkan semua pasiennya, maupun seorang peternak bisa menjaga seluruh  ternaknya setiap waktu. Mungkin saja dokter bisa membuat kesalahan saat dia sedang banyak pikiran, pun  dengan serigala yang tiba-tiba memakan sebagian besar ternak dalam waktu semalam tanpa sepengetahuan si  peternak. Hal itu sangat lumrah terjadi, bukan? 

“Mereka juga manusia, tidak bisa melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Yang terpenting,  mereka sudah melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugas mereka. Sama seperti Kakek. Kakek sudah  konsisten menjalankan tugas sebagai seorang Pemelihara dalam waktu yang sangat lama—lebih dari seribu  tahun—dan saya sangat mengagumi hal itu. Kakek Eon tidak bisa membahagiakan semua orang ataupun  memelihara seisi dunia ini dengan sempurna, namun Kakek Eon sudah melakukan yang terbaik untuk  melakukan semua itu.  

“Menurutku, itulah hal terpentingnya. Menjadi seorang Pemelihara itu bukan soal keharusan untuk  membahagiakan dan memelihara seisi dunia ini, namun berusaha sebaik mungkin untuk melakukan kedua hal  tersebut. Begitulah menurutku. Eh, Kek? Ada apa?”

Tiba-tiba, Kakek Eon menitikkan air mata di hadapanku. Aku sendiri tidak tahu kenapa. 

“Ah, sial. Kenapa aku seperti ini…” Kakek Eon mengusap wajahnya. Aku hendak mengatakan sesuatu,  tapi urung. 

“Kau benar, Nak. Kau memang betul. Aku… aku tidak pernah menyadarinya sama sekali. Tidak  sekalipun dalam seluruh kehidupanku ini. Aku telah melupakan sesuatu yang sepenting itu… 

“Kupikir, aku harus menebus seluruh dosa yang telah kulakukan dengan membuat semuanya bahagia.  Hanya itu yang ada di pikiranku selama ini, dan aku tak pernah menyelesaikannya. Aku tak pernah menyadari  arti dari kata itu secara menyeluruh. Ya ampun, aku ini memang bodoh…” 

Kakek Eon tersenyum, mengelap pipinya sambil terisak secara bersamaan. Aku tidak benar-benar tahu  aku harus berekspresi seperti apa di saat seperti ini. 

“Kau tahu, selama ini aku terus berpikir. Aku sudah hidup lebih dari seribu tahun tanpa diingat  siapapun. Gi adalah orang terakhir yang benar-benar mengetahui identitasku di kehidupan keduaku ini. Kau  adalah yang kedua.” Kakek Eon selesai mengelap wajahnya, kembali berbaring di atas kasurnya. Ia menatap  kosong langit-langit kamar. 

“Kupikir, aku masih sangat jauh dari garis finis yang hendak kucapai. Apapun yang kulakukan, rasa  sakit ini takkan pernah hilang sepenuhnya. Lantas, mengapa tiba-tiba aku mendapat seorang teman  pengembaraan seperti dirimu setelah ribuan tahun menyendiri? Saat itu, aku sama sekali tidak mengerti. 

“Awalnya, aku sebenarnya merasa tidak pantas untuk menerima ini. Misiku masih jauh dari selesai,  begitu yang kupikirkan. Namun, saat bersamamu, aku tak bisa menahannya. Setelah sekian lama, aku bisa  bersama dengan seseorang di mana aku bisa tertawa dan bercanda dengan bebas sesuka hatiku. Rasanya benar benar luar biasa. 

“Aku juga tidak menyangka ketika Sang Pencipta mengatakan bahwa waktuku akan habis di dunia ini  setelah satu tahun bersama denganmu. Saat itu, kupikir aku akan dijatuhi hukuman karena misiku yang tak  kunjung selesai. Namun, ketika aku bersamamu, aku sama sekali tidak merasa ini adalah sebuah hukuman.  Malahan, rasanya seperti sebuah anugerah. Aku selalu bertanya-tanya kenapa seperti itu, dan sekarang akhirnya  aku tahu jawabannya.” Kakek Eon kembali terisak lirih. 

“Hei, Nak… beritahu aku… apakah aku sudah menjalankan tugasku dengan baik sampai sekarang?” “Eh? Um, soal itu…” 

“Kalau iya, elus kepalaku.” 

Aku terkejut. “E-Eh?!” 

“Ayolah. Beritahu aku.” Kakek Eon tersenyum lebar. 

“Eng… Um…” 

Aku menjadi salah tingkah dan ragu-ragu. Namun, aku tidak bisa menahan ekspresi wajah Kakek Eon  yang begitu mengharap. Akhirnya, aku memberanikan diriku. Tanganku perlahan meraih ubun-ubun Kakek 

Eon, mengelusnya dengan selembut mungkin. Pertamanya aku sedikit takut, namun akhirnya aku tetap ikut  tersenyum setelah melihat wajah Kakek Eon yang tersenyum lebar seperti anak kecil. 

“Anda sudah menjalankannya dengan baik, kok, Kek.” 

“Terima… kasih… Nak…” 

Setelah itu, kami berdua melanjutkan obrolan ringan bersama. Bernostalgia soal satu tahun yang kita  berdua habiskan bersama. Terkadang, Kakek Eon juga bernostalgia soal masa lalunya—anehnya, aku juga bisa  bernostalgia karena aku memiliki ingatan Kakek Eon, padahal aku tidak pernah mengalaminya secara langsung.  Kami berdua benar-benar menikmati sisa waktu terakhir yang kami punya sebelum tengah malam. 

Sampai tinggal beberapa menit sebelum tengah malam. Aku kelelahan, dan sepertinya begitu juga  dengan Kakek Eon. Kami berdua benar-benar membicarakan banyak sekali hal. Dalam menit-menit terakhir  ini, suasana di dalam kamar sudah menjadi jauh lebih tenang. Wajah Kakek Eon mulai tampak pucat. 

“Ah, aku terlalu banyak bernostalgia, sampai terlupa. Soal masa depanmu. Kalau kau memang seyakin  itu, bagaimana kau akan hidup sebagai Pemelihara? Kembali lagi, kau bukanlah seorang penyihir sepertiku.” 

“Oh, soal itu. Aku berencana ingin menjadi penulis cerita!” 

“Penulis cerita…?” Kakek Eon menaikkan sebelah alisnya. 

“Aku percaya bahwa Sang Pencipta memberikan ingatan kehidupan Kakek kepadaku untuk suatu  tujuan. Dan sekarang, akhirnya aku mengerti alasannya, juga bagaimana untuk menggunakannya dengan baik.” 

“Tunggu dulu. Kau akan menulis kehidupanku ke dalam cerita?” 

“Yah… kurang lebih begitulah.” 

“Tidak! Itu ide yang buruk.” 

Sekarang aku yang terkejut sekaligus kebingungan setelah mendengar itu dari Kakek Eon. “Eh?  Memangnya kenapa?” 

“Itu hanya akan menimbulkan banyak masalah. Membiarkan orang-orang tahu dengan perbuatanku bukanlah ide yang bagus. Kau juga tahu sendiri kan? Aku hanya membuat masalah kepada diriku sendiri setelah  orang-orang mengetahui tentang apa yang kulakukan. Membuat diriku terlupakan dari semuanya adalah cara  yang terbaik untuk menjalankan misi ini—” 

“Tunggu dulu, Kek. Bukan seperti itu.” Aku memotong. 

“Huh?” 

“Sudah kubilang, bukan? Aku bercerita kepada anak-anak itu tadi tanpa menyebut nama Kakek ataupun nama orang-orang yang Kakek temui. Aku akan melakukan hal yang sama nantinya—kebanyakan  ceritaku akan bersifat anonim, seperti di dongeng-dongeng. Tentu aku juga ingin menceritakannya sebaik  mungkin, karena itulah aku ingin menjadi penulis yang hebat.” 

“Tapi, tetap saja… rasanya…”

“Tidak apa-apa. Aku juga sadar, bahwa aku bukanlah Kakek Eon. Aku bukanlah orang hebat yang bisa  membuat perubahan besar seperti yang Kakek lakukan. Kakek Eon sudah melakukan banyak hal hebat dan  membuat dunia ini seindah sekarang, dan tidak ada yang mengetahuinya. Yang bisa kulakukan, hanyalah untuk  memberitahu orang-orang bahwa selama ini, ada ‘seorang tanpa nama’ yang melakukan banyak hal demi  kebaikan dunia ini tanpa pamrih sama sekali. 

“Aku pikir, orang-orang harus mengetahui soal kisah hidup Kakek. Aku sangat mengagumi semuanya. Banyak sekali pengalaman hidup yang tak bernilai di dalamnya. Aku yakin, dunia bisa menjadi lebih baik  apabila banyak orang bisa mengetahui soal kisah-kisah yang hebat ini. Aku adalah orang yang sudah diberikan  seluruh ingatan yang luar biasa ini. Oleh karena itu, inilah tugasku untuk melanjutkan misi Kakek, sebagai  seorang Pemelihara.” 

Kakek Eon hanya terdiam sambil menatapku. Setelah itu, dia tersenyum tipis. Wajahnya benar-benar  putih sepucat susu sekarang. 

“Kalau kau percaya itu yang terbaik, maka terserah kau, Nak. Buatlah itu semua terjadi. Aku akan  percaya kepadamu. Kau pasti bisa melakukannya, aku yakin itu. 

“Jadilah Pemelihara yang baik, Lacke. Aku… mengandalkanmu…” 

Tung. Tung. Tung.  

Jam kota di luar sudah berdenting, menandakan waktu tengah malam. Aku mendekatkan jariku ke  bawah hidung Kakek Eon. Tidak ada napas. Aku pun menutup kedua kelopak mata Kakek Eon yang masih  sedikit terbuka. Sekarang, Kakek Eon terlihat seperti terlelap dalam mimpi indah dengan senyuman di wajahnya.  

Aku menitikkan beberapa air mata, namun aku langsung berusaha menghentikannya. Bukan  waktunya untuk ini. Beberapa saat kemudian, aku langsung merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadaku.  Aku langsung jatuh tersungkur di lantai, meremas dadaku dengan gemetaran.  

Jadi, inilah rasa sakit yang dirasakan Kakek Eon selama lebih dari seribu tahun… Dan ini pasti jauh  lebih parah saat pertama kali ia menerimanya.  

Ini sungguh menyakitkan, namun aku tetap berusaha untuk bangkit. Jam kota sudah berhenti  berdenting di luar. Aku merapatkan gigiku dan mengepalkan tanganku. 

Mulai sekarang, aku akan terus menjaga dunia yang sudah ditinggalkan Kakek Eon ini. Aku memang  bukan orang yang hebat atau apapun itu, namun aku tetap akan melakukan yang terbaik. Aku akan  membuktikan kalau aku bisa melakukannya.  

Menjadi seorang Pemelihara, dan memastikan seluruh ingatan dan kisah hidup ini tetap terjaga,  sampai akhir kelak. 

… 

“Kek. Kau yakin kau baik-baik saja?”

“Tentu saja. Memangnya kenapa? Uhuk!” 

“Kau sedang sakit, Kek! Jangan memaksakan diri. Memangnya kau tidak ingin mengambil satu hari  untuk libur, atau apa, begitu? Anak-anak itu bisa menunggu untuk ceritamu di hari-hari lain.” Penjaga panti  bergerak cepat, mencegah sang Kakek bangkit dari tempat tidurnya. 

“Tidak… Aku tetap akan melakukannya. Inilah tugasku. Menyingkirlah.” Sang Kakek masih berusaha  berontak, namun tentu saja tetap tak bisa mengalahkan penjaga panti. 

“Sudahlah, Kek! Tidurlah saja yang nyaman. Kalau besok kau sudah membaik, kau boleh untuk  bercerita lagi. Aku takkan menahanmu seperti ini. Tapi jangan lupa—itu kalau keadaanmu sudah membaik,  ya.” Penjaga panti lantas berjalan keluar kamar, menutup pintu dan kemudian menguncinya dari luar. Sang  Kakek melengos kecewa, dia sekarang terkunci di dalam kamarnya. Ia menatap keluar jendela dengan takzim. 

Aah. Di sinilah aku sekarang. Menyedihkan, rasanya, bukan? 

Ah, kalau kalian belum tahu… ya, ini aku, Lacke. Lihat, aku sudah tua sekarang. Waktu benar-benar  berlangsung tanpa terasa, ya? 

Ya. Aku masih seorang Pemelihara sampai sekarang. Aku tak mengingkari janjiku dengan Kakek Eon.  Aku sudah menjadi penulis dan bercerita ke banyak orang. Aku tak tahu apakah aku sudah melakukannya  dengan baik, tapi aku berjanji aku telah berusaha.  

Soal peran Pemelihara ini, sebenarnya terjadi beberapa perubahan. Sang Pencipta memberitahuku  bahwa peran Pemelihara setelah Kakek Eon takkan memperpanjang usia. Rasa sakit di dada ini masih terus ada,  sampai sekarang. Rasa sakit ini yang selalu mengingatkanku bahwa pasti ada seseorang di luar sana yang masih  menderita dan merasakan kesedihan. Sama seperti yang Kakek Eon katakan dulu—meskipun menyakitkan,  lama-lama kau akan terbiasa, atau bahkan mensyukurinya. 

Sekarang, aku memiliki pertanyaan untuk kalian. Menurut kalian, apa keuntungan dari menjadi  seorang Pemelihara? Sebenarnya, tidak ada sama sekali. Aku tidak mendapatkan kehidupan yang sangat  panjang atau apapun itu, dan aku juga tidak memperoleh sihir yang hebat. Aku juga bukanlah seseorang yang  menganggap peran ini sebuah misi yang penting sebagai bentuk penebusan dosanya. Justru aku harus terus  menahan rasa sakit di dada yang merepotkan ini sampai sekarang. Yang aku dapat hanyalah serangkaian ingatan milik seorang kakek tua. Lantas mengapa aku masih menjalankan peran ini sampai sekarang? 

Jawabannya, sederhana saja. Aku bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Aku bisa melihat lebih  banyak orang tersenyum, dan aku bisa berkelana ke banyak tempat, untuk sekadar menulis buku dan bercerita  kepada anak-anak kecil tentang kisah-kisah hebat ini. Dengan itu semua, aku bisa merasakan ketenangan hati  yang bahkan bisa mengalahkan rasa sakit di dada ini, meskipun hanya untuk sementara. Yah, meskipun sudah  beberapa tahun belakangan ini, aku sudah berhenti mengembara. Badan tuaku sepertinya sudah tidak kuat  untuk melakukan pengembaraan seperti dulu lagi. Apa boleh buat.  

Apakah peran Pemelihara ini bisa diberikan ke orang lain? Bisa. Sama seperti yang terjadi pada Kakek  Eon denganku. Ingatan setiap Pemelihara pendahulu juga akan diwariskan. Namun, kembali lagi, aku ingin  bertanya kepada kalian. Apakah dengan rasa sakit ini, seseorang mau menerima peran ini? Seperti yang  kukatakan, Pemelihara sebenarnya tak mendapat keuntungan apa-apa yang signifikan atau apapun itu. Hanya  mewarisi ingatan saja. Apakah itu sebanding dengan rasa sakit tanpa akhir ini?

Satu pertanyaan lain. Lagipula, apakah peran Pemelihara memang masih dibutuhkan di dunia ini?  Seperti yang terjadi pada Kakek Eon, mau seberapa keras dan lamanya seorang Pemelihara berusaha untuk  membahagiakan dan memelihara dunia ini, itu takkan menghapus segala masalah dan kesedihan di seluruh  dunia ini sekaligus. Rasa sakit ini takkan pernah hilang. Apabila peran Pemelihara lenyap dari dunia ini, juga  takkan membuat dunia ini berubah banyak. Dunia takkan berubah menjadi sentosa selamanya, apapun yang  terjadi. Jadi, kuulangi lagi. Apakah peran Pemelihara benar-benar masih dibutuhkan di dunia ini? 

Apalagi, Sang Pencipta mengatakan bahwa aku dibolehkan untuk tidak mencari seorang penerus. Sang  Pencipta menyuruhku untuk memilih yang terbaik, menurut keputusanku. Aku tahu aku diberi kebebasan,  namun akhirnya aku tetap bingung. Aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk menerima peran ini. Di saat  yang sama, kembali lagi. Tetap tak bisa dipungkiri bahwa peran ini memang tak terlalu dibutuhkan, tak memiliki  banyak keuntungan, dan takkan mengubah dunia secara drastis atau apapun itu.  

Apakah peran ini akan menghilang begitu aku mati kelak, ya? 

Krek. Krek. Krek.  

Terdengar suara kunci pintu dibuka. Seorang anak kecil membuka pintu. 

“Hm? Kau…” 

“Kek!” 

Salah seorang anak panti melangkah masuk ke dalam kamar. Aku sepertinya mengingatnya. Dia adalah  anak terpintar di panti asuhan ini, dan ia jarang mengikuti sesi ceritaku karena ia selalu belajar setiap waktu.  

“Kau… bukankah kau anak teladan? Kenapa kau ada di sini?” 

“Tidak! Aku bukan…” 

Si anak teladan hampir menangis, aku mengelus kepalanya untuk menenangkannya. Aku melihat ke  arah ambang pintu. Kunci-kunci kamar milik penjaga panti masih menggantung di sana. Aku tersenyum  simpul. 

“Tenang. Itu bukan salahmu. Salah sendiri, dia lupa untuk mengambilnya kembali.” “Tapi… tapi…” Si anak teladan masih gemetaran. 

Aku tahu anak teladan ini. Dia sangat penurut, dan hampir tidak pernah membuat masalah di antara  anak-anak yang lain maupun penjaga. Namun, ia terkesan selalu dikurung untuk terus belajar karena kepala  pintarnya demi kepentingan panti. Mungkin ia menunggu kesempatan langka ini untuk memberanikan diri  mengunjungiku. 

“Jadi, untuk apa kau ke sini, Nak?” 

“Aku… aku… ingin menjadi seperti Kakek!” 

Aku menaikkan sebelah alis, setengah terkejut. “Hm?” 

“Aku… aku tidak pernah mendengar saat Kakek bercerita kepada anak-anak yang lain. Namun, malam itu, aku tidak sengaja mendengar Kakek bercerita soal pahlawan dengan monster lumut saat itu… dan 

aku benar-benar tertarik dengan itu. Aku ingin mendengar Kakek bercerita lagi… belajar itu sangat menyebalkan…” 

“Sshh. Jangan berkata begitu. Kau anak teladan, bukan? Semua anak-anak yang lain juga  mengagumimu.” 

“Tapi… saat aku bilang aku ingin mendengar Kakek bercerita… para penjaga tak pernah mau  mendengarkanku. ‘Kau adalah masa depan panti’, atau apapun itu. Aku sudah malas mendengarnya.” 

Aku tertawa kecil. Ah, ‘masa berontak’ yang seperti ini memang tinggal menunggu waktu saja, ya. 

“Tapi tetap saja, kau tak boleh seperti itu. Patuhi apa kata mereka, mereka lebih tahu soal apa yang  terbaik untukmu.” 

Si anak teladan hampir menangis lagi. “Pada akhirnya… Kakek sama saja…” 

“Kau patuhi mereka, dan sebagai gantinya, aku yang akan masuk ke dalam kamarmu dan bercerita  kepadamu setiap malam. Hanya kau dan aku, berdua. Bagaimana? Terdengar menyenangkan, bukan?” 

Si anak teladan langsung membulatkan matanya, menatapku dengan antusias. “S-sungguh, Kek?” “Aku berjanji.” Aku tersenyum, berusaha meyakinkannya. 

“Hore!” Si anak teladan mengangkat kedua tinjunya ke udara. “Malam ini, ya, Kek! Dan besok juga!  Lalu, besok besoknya juga! Janji, ya!” 

Aku menelan ludah, menahan senyumku untuk meyakinkannya. Padahal aku sendiri juga sebenarnya  tidak yakin apabila melakukannya tiap hari, tapi apa boleh buat. “Ya. Aku berjanji.” 

“Terima kasih banyak, Kek!” Si anak teladan langsung menghambur menuju pintu, dan meninggalkan  ruangan. Aku menghela napas. Sepertinya aku barusan menambah masalah untuk diriku sendiri… tapi  sudahlah. Selama dia merasa senang. 

Aku kembali menerawang keluar jendela. Aku sepertinya terlalu banyak merenung sendiri sekarang.  Bernostalgia di dalam kepalaku. Persis seperti kebanyakan orang yang sudah tua, memang. Heh. 

Jujur saja, saat ia mengatakan bahwa ingin menjadi sepertiku, aku sempat tebersit sesuatu—apakah  anak itu mungkin saja bisa meneruskan peran Pemelihara-ku ini. Sekarang, rasanya aku bersalah sudah berpikir  seperti itu. Aku seharusnya tak memaksakan peran ini kepada siapapun. Aku hanya berpikir… akan  menyenangkan apabila memiliki penerus. Tapi, kembali lagi, aku tak boleh egois. Andai saja, andai saja… anak  itu ataupun seseorang yang lain akan menerima peran ini—aku hanya berharap untuk kebaikan dan  kebahagiaan mereka sendiri juga. Jangan sampai mereka membebani mereka sendiri dengan peran ini, apabila  suatu saat nanti mereka akan menerimanya dengan sukarela. 

Lalu, kembali lagi ke pertanyaan penting sejak masa mudaku dulu. 

Apa yang menunggu di akhir sebuah perjalanan panjang? Ada seseorang bertemu dengan orang yang  dicintainya sejak lama, dan cintanya berbalas dengan indah di akhir. Seseorang yang lainnya pada akhirnya bisa  benar-benar merasa bahagia dengan dirinya sendiri dan apa yang telah ia capai, dan menjadi pahlawan dan  sumber inspirasi yang sangat berharga bagi seseorang yang lain.

Sepertinya aku juga sudah mendekati akhir dari perjalananku sendiri, ya. Apa yang akan menungguku  di akhir kelak, ya? Apakah aku bisa meninggalkan sesuatu yang bermakna untuk orang lain? Apakah aku bisa  meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan? Apakah seseorang akan bersedia menerima peran Pemelihara ini  dan bisa menjalani hidupnya dengan bahagia setelahnya? Dan apabila tidak ada yang menerima peran ini,  apakah dunia masih akan seperti ini seterusnya, ataukah justru membaik atau memburuk? 

Ya ampun, sekarang aku tak bisa berhenti senyum-senyum sendiri saat membayangkannya.


Penulis: MysticaLoof