Rendezvous Adieu Reunion

Entri Writchal #4
Tema: Child Care


“Uwaaaah!”

Pria kantoran itu mengeluh panjang ketika ia menghamburkan badannya yang lelah di atas kasurnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan seragam kantornya yang masih penuh dengan keringat.

Namanya Yaji. Dia hanyalah seorang pegawai kantoran yang biasa kalian temui. Bekerja dari jam delapan pagi sampai malam, begitulah kesehariannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Isi kamar kontrakan yang ia tempati—seperti yang kalian harapkan untuk pria kantoran biasa di akhir usia dua puluhannya. Semuanya serba berantakan—bungkus makanan kosong tersebar di mana-mana, tumpukan piring kotor yang diletakkan begitu saja di wastafel tanpa dicuci dengan segera sampai mengeluarkan bau tak sedap, baju kotor yang juga berserakan—pokoknya segala hal yang biasa kalian temui di kamar laki-laki pemalas yang hidup sendirian.

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Pekerjaan kantornya yang biasanya ia terkesan monoton dan membosankan tiba-tiba melonjak parah untuk hari ini. Hal ini masih lumrah terjadi, namun Yaji tetap tak pernah terbiasa dengan anomali seperti ini. Prinsip hidupnya yang ia selalu pegang teguh—kalau bisa dikerjakan orang lain, lantas mengapa harus aku yang mengerjakannya?—kurang lebih seperti itu. Ia tak pernah ambil pusing dengan segala macam proyek ataupun pekerjaan ekstra di kantornya. Selama ia mendapat gajinya dengan rutin setiap bulan, ia tak membutuhkan hal lain lagi. Kehidupan yang membosankan? Yaji sama sekali tidak memedulikan hal itu. Untuk apa bersusah payah demi sesuatu yang penuh risiko dan tidak pasti.

Yaji menundukkan kepalanya ke dalam laci di dekat wastafel, bergumam dengan nada kesal. Sial, di mana kutaruh bungkus kopi itu terakhir kali?

Ia terus mencari kopi saset favoritnya itu. Menurutnya, ia takkan bisa melewatkan sehari tanpa secangkir kopi panas di malam hari. Ia selalu merasa lebih rileks di malam hari dengan meminum kopi. Menghabiskan semalam suntuk bersantai bermain game setelah bekerja adalah hal yang paling ia sukai, terlebih lagi sejak hari ini yang tergolong cukup melelahkan.

Lima menit kemudian, kopi seduhnya sudah siap di dalam cangkir, mengepul panas. Ia menyalakan televisi, kemudian menghubungkannya dengan konsol game miliknya. Ia mengempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan bersemangat. Salah satu tangannya sudah bersiap memegang konsol, sedangkan satu tangannya lagi meraih cangkir di sebelahnya yang masih di mengepul tepat di sebelahnya, menyeruputnya perlahan. Persiapannya sudah siap. Esok adalah hari libur, jadi ia bisa bermain sepuasnya semalaman suntuk. Ia menyeruput kopi panasnya.

Tok, tok, tok.

“Ugh!”

Yaji langsung tersedak seketika, sekitar sepertiga isi cangkir juga tertumpah di atas bajunya. Ia menyumpah-nyumpah kesal sambil merintih. Sekarang bibirnya terasa seperti terbakar.

Suara ketukan itu terus berulang setiap beberapa detik. Amarah Yaji semakin menjadi jadi.

Ia beranjak berdiri, sedikit kesusahan ketika melangkahi lantai kamarnya yang penuh dengan barang-barang yang berserakan. Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar.

“Siapa, hah?! Ini sudah tengah malam, tahu—”

Yaji terhenti di tengah kalimatnya. Ia menurunkan pandangannya. Seorang gadis kecil sekarang sedang berdiri di ambang pintunya. Ia sama sekali tidak mengenalnya. Gadis itu sedang memeluk erat boneka beruang di tangannya. Secara langsung, Yaji bisa menyadari bahwa ia sepertinya sudah berlebihan. Gadis kecil itu mundur selangkah, memasang wajah ketakutan, badannya sedikit bergetar. Namun setelahnya, gadis kecil itu langsung memaksakan senyum di wajahnya yang membuat Yaji sedikit keheranan.

“Halo, kak!” Gadis kecil itu berkata dalam nada riang.

“Eeh? Apa yang kau lakukan di sini, hah?” Yaji agak kebingungan dengan situasi ini. Sebenarnya ia sedang merasa kesal luar biasa dari apa yang terjadi kepadanya barusan, namun melihat gadis kecil yang mengetuk pintu kamarnya di waktu seperti ini membuatnya bersikap lebih waspada.

“Anu…”

Sepertinya gadis kecil itu tidak bisa terus mempertahankan aktingnya. Sekarang senyum di wajahnya sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh wajah penuh kecemasan dan ketakutan.

“Kalau kau tidak ingin mengatakan apapun, pulanglah saja sana. Untuk apa kau berada di luar jam segini? Mana orang tuamu—”

“Aku… aku s-sebenarnya ter… tersesat… apakah aku… boleh… masuk k-ke… ke… dalam…”

Melihat si gadis kecil itu yang sepertinya hampir menangis, Yaji pun tak tega untuk meninggalkannya begitu saja dalam situasi seperti ini. Tepat setelah itu, angin malam yang dingin langsung berembus cukup kencang di depan pintu kamar Yaji, membuat gadis itu menggigil. Tanpa pikir panjang, Yaji langsung menyuruh gadis itu memasuki kamarnya.

“Yah, memang beginilah tempat tinggalku. Maaf kalau berantakan,” kata Yaji malas. Ia kemudian berjalan perlahan ke arah televisi yang masih terhubung dengan konsol game-nya, kemudian mematikan seluruh peralatannya. “Untuk malam ini, kau tidurlah di sini. Maaf kalau berbau seperti kopi, tadi aku menumpahkannya sedikit.”

Dengan gemetaran, gadis kecil itu mulai melangkah patah-patah mendekati Yaji. Saat melihat kondisi sofa yang penuh dengan bungkus-bungkus jajanan yang kosong serta remah remah makanan, gerak-gerik gadis itu menjadi semakin kak—ia juga mulai berkeringat dingin.

“Sudah, jangan sungkan. Tidurlah untuk sekarang. Hoaammm.” Yaji menguap lebar. “Maaf, tapi aku sangat mengantuk sekarang. Aku akan tidur terlebih dahulu,” pungkas Yaji seraya kembali menguap lebar. Ia berjalan sempoyongan menuju area di belakang sofanya, lalu dengan cepat ia langsung terkapar di lantai—ia bahkan belum sempat mematikan lampu. Sepertinya ia memang tak bisa mengalahkan rasa lelah yang telah terkumpul seharian tadi.

Dan malam berlalu begitu saja. Yaji bangun kesiangan, jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia mengucek-ngucek matanya dengan malas. Namun tak lama kemudian, ia langsung berubah panik ketika ia sudah bisa melihat sekitarnya dengan jelas.

Seperti biasa, kamarnya memang masih berantakan seperti biasa. Namun, kali ini berbeda. Banyak sekali barang-barang yang raib dari tempatnya berada. Terutama barang barang berharga dan penting seperti perangkat elektronik, dan sebagainya. Ia menoleh ke arah pintu. Pintu kamarnya sedikit tertutup, namun dengan kunci yang menggantung dari dalam. Tepat di momen itu, Yaji langsung tersadar.

Kamarnya dimasuki pencuri tadi malam.

Yaji berteriak lantang, kesal dengan dirinya sendiri. Semua rangkaian kejadian yang belakangan ini ia alami sampai kemarin seperti mengizinkan pencuri itu untuk mencuri di dalam kamarnya dengan begitu leluasanya tadi malam. Pertama, dia memang sudah sejak lama menjadi penghuni tunggal di bangunan ini. Bangunan yang sudah cukup tua dan lokasinya yang tidak strategis membuat semua penghuni lain selain dirinya sudah berpindah ke tempat lain sejak lama. Ditambah, kemarin ia memang sangat kelelahan hingga membuatnya bisa terlelap dengan pulas sampai tidak menyadari apapun yang terjadi tadi malam. Lalu, bangunan ini memang tak pernah dipasangi kamera pengawas—karena Yaji sendiri memang tak pernah terpikirkan untuk membutuhkannya sebelumnya. Dan inilah yang terjadi.

Sekarang kamarnya benar-benar hanya berisi tumpukan sampah yang berserakan di lantai. Sekarang ia tak memiliki apa-apa lagi. Ia berbaring di atas sofanya, menatap langit langit kamar.

Ah, memang bagus sekali. Sekarang apa?

Yaji bisa merasakan bahwa seisi darah dalam tubuhnya sedang mendidih sekarang, namun ia memilih untuk tidak banyak mengekspresikannya. Semalam ia sudah terlampau lelah dan terganggu oleh kedatangan seorang gadis kecil di dalam kamarnya, lalu tepat keesokan harinya ia harus mengalami hal seperti ini. Menelepon dan berurusan dengan polisi untuk sekarang pun ia malas untuk melakukannya, paling tidak untuk sekarang.

Yaji benar-benar tidak paham apa yang sedang menimpanya sekarang. Ia sungguh tak merasa telah berbuat sesuatu yang terlampau salah sampai sekarang. Dari dulu, ia hanya ingin terus hidup tenang dan damai tanpa banyak gangguan yang berarti. Semenjak kedua orang tuanya bercerai saat ia kecil dulu, ia cenderung memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan-urusan yang membuatnya repot. Di saat ia diasuh oleh neneknya pun, ia lebih memilih untuk menutup diri dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Neneknya meninggal saat ia lulus kuliah, tepat waktu baginya untuk memulai bekerja dan memulai kehidupan sendiri— terbebas dari keluarganya yang sudah ia benci dari dulu.

Terlepas dari semua itu, ia juga baru saja ingat. Hari ini sebenarnya masih hari kerja, namun tentu saja ia takkan berangkat di jam segini, juga dengan situasi seperti ini. Meskipun suasana hatinya sedang sangat buruk, akhirnya ia tetap memutuskan untuk membersihkan kamarnya—sesuatu yang tak pernah ia lakukan dengan serius sejak ia tinggal di sini bertahun-tahun silam.

Semua sampah ia kumpulkan dalam beberapa kantung plastik sampah yang besar, kemudian menaruhnya di pojokan ruangan. Seluruh sudut ruangan ia sapu, lalu ia pel untuk menghilangkan noda-noda yang masih menempel di lantai.

Setelah selesai membersihkan kamarnya, ia mengelap keringat di dahinya dan melihat ke arah jendela. Tak terasa, matahari sudah hampir terbenam begitu ia selesai membersihkan kamarnya. Ia juga baru menyadari bahwa ia belum makan apapun sejak bangun tadi. Dompet miliknya tentu saja juga tercuri, sehingga ia tidak mempunyai akses ke uang ataupun tabungan miliknya sama sekali untuk sekarang.

Apa boleh buat. Yaji membuka lemari persediaan makanannya. Masih ada beberapa bungkus mi instan dan kopi untuk beberapa hari ke depan. Ia mulai menyalakan kompornya.

Setelah sarapan—atau bisa juga disebut makan sore—Yaji pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan melihat situasi di luar. Rasanya sudah lama sekali sejak ia hanya sekadar berjalan-jalan untuk melihat situasi sekitar di luar jam pekerjaannya.

Oh iya. Ngomong-ngomong, soal bocah itu. Di saat aku bangun tadi, dia sudah tidak ada di dalam. Apa yang terjadi padanya, ya?

Kamarku baru saja habis kecurian, jangan-jangan…

Yaji baru saja memikirkan skenario terburuk yang bisa terjadi kepada anak itu. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya. Ini bukan urusanmu. Kau seharusnya lebih memikirkan dirimu sendiri daripada orang lain di saat seperti ini, begitu gumamnya.

Srak!

Yaji terkejut seketika. Ia langsung menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Perasaanku saja, kah?

Mulai merasa tidak enak dan sepertinya sedang diikuti seseorang, Yaji pun mulai berjalan kembali menuju kamarnya. Yah, bukan seperti ia mempunyai kegiatan lain yang bisa dia lakukan di dalam kamarnya yang kosong melompong sekarang.

Akhirnya ia hanya menghabiskan harinya dengan menyeduh kopi saset. Berjam-jam, ia hanya bisa melamun sambil terkantuk-kantuk. Sekarang, bahkan tidak ada hal yang bisa mengisi kebosanannya.

Hari mulai beranjak malam. Yaji baru tersadar kalau plastik besar sampahnya belum ia buang ke luar. Dengan malas, ia mengangkat plastik sampah yang berat itu menuju pintu depan.

Baru saja ia membuka pintu, ia langsung menurunkan plastik sampah di tangannya. Ia terdiam di tepatnya berdiri untuk sejenak.

Tepat di depan pintunya, ada seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil bersandar ke dinding di belakangnya. Wajahnya memang tidak kelihatan karena ia sedang menunduk, namun Yaji langsung mengetahuinya dari pakaian yang sedang dikenakan gadis itu dan boneka beruang yang sedang dipeluk erat oleh kedua tangannya.

Dia… bocah yang kemarin?

Seketika itu juga, embusan angin malam yang menusuk tulang menghantam telak punggung Yaji yang membuatnya menggigil seketika. Ia segera menghampiri gadis itu.

Gadis itu mendengkur halus, tubuhnya terasa dingin. Mungkin gadis ini sudah menunggu cukup lama di sini, begitu pikir Yaji. Ini langsung membuatnya menjadi sedikit panik, ia langsung segera menggendong gadis itu ke dalam kamarnya untuk menghangatkan tubuhnya.

“AAAAAAH!”

Gadis itu tiba-tiba terbangun di gendongan Yaji dan langsung berteriak nyaring, mengejutkan Yaji. Ia buru-buru menurunkan gadis itu, lantas mundur selangkah. Gadis itu menatap ke arah Yaji dengan tatapan penuh ketakutan.

Beberapa detik penuh keheningan yang canggung. Yaji juga merasa kesulitan harus memulai percakapan dari mana.

Kurasa menanyainya tentang pencurian besar yang terjadi di sini mungkin tidak cocok untuk sekarang…

“Um… jadi, kenapa kau kembali lagi ke sini?”

Gadis itu tidak menjawab. Yaji menggaruk-garuk kepalanya.

“Duh, begini, ya. Kalau kau tidak berkata apa-apa, aku juga tidak bisa membantumu…”

Gadis itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, meletakkannya di hadapan Yaji—membuatnya cukup terkejut. Benda itu adalah dompet milik Yaji.

Yaji mengambil dompet itu, melihat-lihat isinya. “Ini…”

“S-saya… minta maaf…” Gadis kecil itu mulai bersujud di hadapan Yaji, badannya gemetaran.

Sebenarnya Yaji sudah hendak meluapkan amarahnya, namun ia masih menahannya dan menghela napas panjang. “Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

Gadis itu mulai mengangkat kepalanya perlahan, kini wajahnya bisa terlihat dengan jelas. Rasanya baru pertama kali ini Yaji bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas dan saksama sejak pertemuan pertama mereka kemarin.

Yaji menebak gadis itu berusia sekitar 8 tahun. Ia selalu memeluk boneka beruang miliknya itu tanpa pernah melepaskannya. Dan hal yang membuat Yaji sedikit merasa tidak nyaman adalah keberadaan kantung mata di bawah kedua mata gadis itu. Tentu saja seorang gadis seusianya yang memiliki kantung mata menandakan adanya sesuatu yang tidak beres. Namun untuk sekarang, ia mengurungkan niatnya untuk menggali lebih jauh soal itu.

“Saya… saya…. saya hanya dipaksa…”

“Hm? Dipaksa? Oleh siapa?”

Gadis itu sudah membuka mulutnya, namun ia tak bisa berkata-kata setelahnya. Tubuhnya gemetaran hebat.

Yaji menghela napas. “Ya sudah, kalau kau tidak ingin menjawabnya. Ah, rumahku barusan kecurian. Yang dicuri lumayan banyak, jadi…”

“S-soal itu…!” potong gadis itu cepat.

“Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja, kurasa aku tidak bisa membuatmu menginap di sini untuk sekarang. Kau tahu… kondisi di sini sekarang agak… Ah, iya! Bukankah kau harus segera pulang untuk sekarang? Orang tuamu pasti sedang cemas menunggumu di rumah, bukan?”

Gadis kecil itu hanya bisa membalas dengan tersenyum canggung. “A-ah, iya…”

“Benar begitu, kan? Jangan buat orang tuamu cemas, lho. Tapi maaf, kamu memang harus pulang secepatnya sekarang, kamu tidak bisa menginap di sini untuk malam ini, aku juga tidak bisa mengantarmu…”

“T-tidak apa-apa. S-saya tadi membuntut—maksud saya, bukan… Anu…”

Gadis itu semakin tergagap dalam perkataannya. Yaji juga sepertinya mulai paham soal kecurigaannya saat berjalan-jalan di luar tadi.

“A-anu… saya hanya ingin… meminta maaf… Maafkan saya… karena saya…”

“Sudah, sudah! Tidak apa-apa. Itu sudah tidak masalah lagi. Yang penting, kamu harus segera pulang sekarang. Semakin cepat semakin baik. Kau mengerti, kan?”

Gadis itu pun mengangguk pelan. Mereka berdua mulai berdiri, berjalan dengan canggung menuju pintu depan. Yaji membukakan pintu, dan gadis kecil itu melangkahkan kakinya keluar.

“S-saya sungguh minta maaf, Paman—”

“Iya, iya. Aku mengerti. Kumaafkan, kok. Sekarang, kamu cepat pulang, ya.”

Brak. Yaji menutup pintu depannya begitu saja. Ia buru-buru kembali duduk di sofa, menghela napas panjang.

Uwaaah. Akhirnya.

Yaji memainkan dompet miliknya sembari tiduran malas di atas sofa. Perasaannya lumayan bercampur aduk untuk sekarang. Saat ini, ia merasa bersalah karena mengusir gadis itu begitu saja di malam hari seperti ini. Tapi di saat yang bersamaan, bagaimanapun juga ia tetap merasa kesal terhadap gadis itu. Pertama, ia sangat yakin bahwa gadis itu sudah mengikutinya secara diam-diam dari belakang dari tadi yang membuatnya merasa tidak nyaman dan waspada. Yang kedua, fakta bahwa dompetnya bisa berada di tangan gadis kecil itu. Ini berarti tak menutup kemungkinan bahwa gadis kecil itu adalah pencuri sesungguhnya—namun, Yaji masih meragukan soal ini mengingat gelagatnya yang seperti itu, dan ia juga berpikir gadis itu tak mungkin mampu untuk membawa semua perangkat elektronik yang besar seperti itu sendirian.

Sejauh ini, Yaji memang cenderung menjauhi untuk berhubungan dengan orang lain. Ditambah dengan suasana hatinya yang sedang buruk dari pencurian yang terjadi, ia lebih memilih untuk tidak menambah masalah yang bisa memusingkan pikirannya dari berurusan dengan gadis kecil itu untuk lebih lama. Malam ini, ia benar-benar berharap untuk bisa tidur nyenyak tanpa perasaan beban apapun. Dua hari belakangan ini sudah lebih dari cukup untuk membuat stresnya memuncak.

Mungkin hanya ada satu hal yang membuatnya bingung untuk sekarang. Kalau dia memang berniat ingin mencuri, lantas mengapa ia sampai diam-diam membuntutiku untuk mengembalikan dompetku? Ia juga terlihat gemetaran tadi…

Akan tetapi, Yaji sudah terlalu malas untuk memikirkannya sekarang. Untuk urusan melaporkan ini ke pihak kepolisian, ia juga berencana untuk melakukannya keesokan harinya. Dan begitulah, Yaji pun langsung tertidur pulas di atas sofanya.

Namun, tanpa sepengetahuannya, malam ini justru adalah satu malam di mana ia seharusnya tidak menghabiskannya hanya dengan tertidur pulas.

Malam hari yang akan mengubah kehidupannya dengan drastis ke depannya. …

Keesokan harinya. Hari ini hari libur, sehingga seharusnya Yaji bisa bangun kesiangan tanpa beban. Namun, kali ini berbeda.

Tok! Tok! Tok!

Ini sudah berjalan lebih dari lima menit, dan suara itu tak kunjung berhenti. Pintu kamarnya sedang diketuk berulang kali dengan cukup keras. Yaji yang sudah separuh sadar sekarang mulai naik pitam. Di dalam hatinya, ia tak berhenti menyumpah. Ya ampun, kapan aku bisa dapat hari libur yang tenang, sih?! Ugh!

Dengan malas, ia pun berjalan menuju pintu dengan amarah yang meluap-luap. Ia membuka pintunya dengan keras.

“Siapa, sih?! Ganggu saja—”

“Maaf mengganggu. Kami dari kepolisian daerah sekitar ini.”

Mendadak, kedua mata Yaji yang masih setengah sadar kini membelalak lebar. Ia mengucek kedua matanya dengan cepat. Kini ia bisa melihat dengan jelas keberadaan dua orang berseragam kepolisian sedang berdiri di hadapannya sambil menunjukkan kartu identitas mereka.

“E-eh, ke-kepolisian? Ada apa… Ada apa ini?!” tanya Yaji dengan terpatah-patah. “Apakah ini dengan kediaman Bapak Yaji Gakari?”

“I-iya…?” jawab Yaji pelan.

“Baiklah. Kami rasa ini memang tidak sopan, akan tetapi mohon ikutlah dengan kami untuk pagi ini. Apakah Bapak memiliki suatu jadwal yang sangat mendesak untuk sekarang?”

“Eh? T-tidak juga…” Berbeda dengan gadis tadi malam, Yaji tidak bisa berbohong begitu saja di depan aparat kepolisian.

“Kalau begitu, mohon persiapkan diri Anda sekarang. Anda akan kami antar ke markas.”

Lantas salah seorang dari mereka berbalik, berjalan menuju sebuah mobil polisi yang terparkir tidak jauh dari sana. Rekannya masih menunggu di depan pintu kamar.

Yaji pun buru-buru menyiapkan dirinya seadanya. Baju apapun pasti akan lebih baik dipakai daripada piyama yang sekarang sedang ia pakai. Ia juga merapikan rambut tidurnya sekenanya, dan membasuh mukanya.

Ia pun berjalan beriringan dengan salah satu personel yang masih menunggu di depan kamarnya. Ia duduk di kursi bagian tengah mobil. Mobil pun mulai berjalan.

Sampai titik ini, Yaji masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang terjadi padanya sekarang.

Aku? Sekarang berada di dalam mobil polisi? Diantar menuju kantor polisi? Sungguh, apa-apaan semua ini?! Sialan! Aku tidak berbuat kejahatan apapun! Malah aku yang menjadi korban kejahatan…

Tunggu. Apakah kepolisian sudah tahu soal perampokan yang terjadi di kamarku? Kalau iya, mungkin saja ini menyangkut soal itu…

Dengan pemikiran seperti itu, Yaji akhirnya berhasil menenangkan dirinya di tengah perjalanan. Ia menghela napas panjang. Tenang. Semuanya akan baik-baik saja, begitu pikirnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri dalam semua ini.

Sesampainya di kantor polisi. Yaji bersama dengan dua personel polisi tadi turun dari mobil. Di dalam kantor polisi, tanpa basa-basi, kedua personel mulai bertanya-tanya kejadian pencurian yang terjadi kepadanya dua hari yang lalu. Setelah Yaji mengonfirmasinya, ia ditunjukkan dengan pelaku pencurian yang sekarang sedang mendekam di balik jeruji besi rumah tahanan. Ada beberapa pria berpakaian seperti gangster atau preman jalanan, menatap ke arah Yaji dengan tatapan sinis. Setelah itu, polisi menunjukkan barang-barang yang berhasil diamankan dari tempat kejadian perkara—di antaranya barang milik Yaji yang dicuri.

Beberapa di antaranya memiliki beberapa masalah di kondisi dan ada barang yang memang tidak ditemukan—dugaan dari pihak kepolisian bahwa kemungkinan barang itu sudah dijual atau dibawa ke tempat lain—namun Yaji tidak terlalu peduli dengan itu.

Urusan-urusan administrasi yang berlangsung di dalam kantor polisi memang merepotkan. Untuk beberapa hari ke depan, ia harus mengikuti serangkaian protokol seperti ini.

“Tapi, sungguh, Pak. Untuk semua ini, kami harus berterima kasih terhadap keberanian orang yang berani mengungkap semua ini kepada kami.” Sang Penyidik tersenyum halus.

“Hm?”

“Tapi, saya sangat menyayangkan kondisinya yang sekarang… sungguh kasihan. Dia tidak seharusnya terlibat dalam semua hal ini.”

“Eh? Apa? Siapa yang sedang Bapak bicarakan?” Yaji kebingungan dengan ‘seseorang’ yang dimaksud oleh Sang Penyidik.

“Saya rasa, Anda juga harus berterima kasih kepadanya secara langsung dalam masalah ini. Apakah Anda memiliki kesibukan setelah ini? Apabila tidak, saya bisa mengantar Anda langsung.”

Yaji hanya mengiyakan tanpa berpikir panjang. Mereka berdua pun berangkat menaiki mobil kepolisian. Mereka berdua tak saling berbicara banyak di tengah perjalanan, namun Yaji mulai merasakan firasat buruk ketika mobil mulai memasuki gerbang sebuah bangunan.

“Rumah… sakit…?” tanya Yaji dengan ragu.

“Benar,” jawab Sang Penyidik.

Setelah itu, Sang Penyidik memarkirkan mobilnya dan mereka berdua pun keluar, memasuki gedung rumah sakit. Seorang suster ikut mengantar mereka setelah Sang Penyidik memberikan beberapa keterangan di bagian administrasi rumah sakit. Firasat Yaji semakin menjadi tidak enak seiring kakinya melangkah di dalam lorong-lorong rumah sakit yang bernuansa putih dan berbau obat-obatan.

Sekarang mereka bertiga sudah sampai di depan sebuah pintu kamar.

“Kondisinya sekarang… masih belum terlalu membaik. Saya tidak merekomendasikan untuk Anda masuk sekarang, namun paling tidak Anda bisa melihat dari sini,” kata Sang Suster.

Yaji pun melangkah mendekat, lantas mendekatkan wajahnya di kaca yang terdapat pada pintu kamar. Setelah itu, ia tak mampu memalingkan wajahnya untuk beberapa saat.

Di dalam, ia melihat seorang gadis sedang duduk di ranjang rumah sakit, menatap ke arah luar jendela tepat di sebelah ranjangnya. Dari tempatnya berdiri, Yaji tidak bisa melihat mukanya dengan jelas, namun satu hal yang ia sangat yakini di dalam hatinya.

Yap. Dia adalah gadis kecil pembawa boneka yang sudah berkunjung dua kali ke rumahnya itu.

“Gadis itu berada di sana saat pencurian terjadi, benar begitu, Pak?”

“Anu… sepertinya iya…” jawab Yaji dengan setengah tidak percaya.

“Hmm… kalau begitu memang sangat disayangkan.” Sang Penyidik berhenti sejenak di tengah perkataannya. “Gadis itu sekarang sedang mengalami trauma berat. Namun di tengah kondisinya yang seperti itu, ia bahkan masih sempat untuk datang dan melapor ke markas. Mungkin kasus ini takkan terungkap apabila ia tidak melakukannya saat itu…”

Yaji membeku di tempatnya berdiri setelah mendengarnya. Ia menoleh ke arah Sang Penyidik dengan tatapan tidak percaya. Gadis itu? Ia mengalami trauma berat?

“Anu, barusan Bu Suster berbisik kepada saya, dan sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berkunjung. Mungkin lain kali. Saat itu tiba, saya akan langsung menghubungi Anda.”

Setelah beberapa kalimat penutup, akhirnya kunjungan berakhir di situ. Yaji pulang dengan kendaraan umum. Begitu sampai di kamarnya, ia langsung berbaring lemas di sofa. Ia mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan memandanginya dengan malas.

Jadi waktu itu… dia memang memberanikan dirinya untuk mengembalikan ini…

Pada akhirnya, ia bisa tertidur pulas begitu saja untuk malam itu.

Pada sebuah kesempatan, Yaji sempat mengira bahwa semuanya sudah selesai begitu saja. Namun, ujung dari kasus pencurian yang melibatkan dirinya ini ternyata berbuntut cukup panjang. Untuk beberapa hari, ia harus menghadiri pengadilan untuk memberi kesaksian dalam kasus ini. Meskipun ia memang pada dasarnya adalah pemalas, namun tetap saja ia harus melakukannya agar kelompok pencuri itu bisa diadili dengan hukuman yang setimpal. Seluruh rangkaian proses itu bisa ia lewati dengan lancar, namun ia menjadi penasaran dengan satu hal.

Ia sempat mendengar “bukti pembunuhan dan penyiksaan” di dalam ruang sidang— membuat bulu kuduknya merinding begitu mendengarnya.

Jadi mereka juga menyiksa, bahkan membunuh orang? Benak Yaji. Masalah ini menjadi lebih serius dari yang ia perkirakan, namun ia tetap mengikuti persidangan seperti biasa.

Sampai hari persidangan terakhir, hakim pun menjatuhkan pidananya kepada kelompok kriminal itu. Yaji keluar dari ruang persidangan dengan perasaan lega setelah semuanya selesai. Akhirnya aku bisa pulang ke rumah dan bermain konsolku lagi, begitu pikirnya.

“Anu, Pak.” Seseorang menepuknya dari belakang.

“Hm… iya?” Yaji menoleh ke belakang. Rupanya penyidik yang pernah bersamanya tempo hari.

“Begini… apakah Anda ada waktu luang setelah ini?”

“Iya…” jawab Yaji dengan nada kurang yakin. Apa lagi kali ini?

“Saya baru saja dapat kabar, kalau gadis itu sudah bisa dikunjungi kali ini. Anda mau menjenguknya?”

“E-eh?” Yaji setengah terkejut mendengarnya. “Sekarang juga?”

“Benar, sekarang. Saya bisa mengantar Anda.”

Yaji menelan ludah. Ia mengiyakan saja tawaran itu. Gadis itu sudah menyeretnya ke dalam banyak masalah kali ini, namun ia tetap saja penasaran dengan kondisi gadis itu sekarang. Kalau bisa, Yaji juga hendak mengajaknya mengobrol.

Pada akhirnya, mereka berdua sampai di depan kamar gadis itu. Suster membuka pintunya, dan Yaji pun melangkah masuk.

Yaji kehabisan kata-kata ketika melihat kondisi gadis itu yang terbaring di atas kasur.

Sorot matanya kelihatan mati, menatap kosong ke arah ujung kasur. Rambutnya yang panjang terurai ke mana-mana bak kurang perawatan. Sejak Yaji masuk ke dalam, gadis itu hanya bergeming di tempatnya—bahkan tak menoleh sedikitpun. Suster mulai mendekat ke arahnya, mencoba mengajaknya berinteraksi. Gadis itu baru mulai sedikit merespons setelah sekitar lima menit diajak berbicara oleh Sang Suster. Begitu gadis itu mengangkat kepalanya, ia langsung berteriak keras ketika tatapan matanya bertemu dengan Yaji.

Gadis itu tampak begitu gemetaran, beringsut menjauh di tempat tidurnya. Raut wajahnya persis seperti pertama kali ia berkunjung ke kamar Yaji, namun sekarang lebih parah. Rasanya, untuk mendekati gadis itu saja sulit untuk sekarang.

Sang Suster terus berusaha menenangkan gadis kecil itu, namun tidak terlalu membuahkan hasil. Yaji hanya mendekat satu langkah, namun gadis itu kembali berteriak.

“Anu, maaf Pak, namun sepertinya kondisinya menjadi labil lagi. Ini di luar perkiraan kami, padahal dari pagi dia sudah rileks. Saya sungguh minta maaf sekali lagi, tapi Anda bisa berkunjung untuk lain kali.”

Setelah sepatah-dua patah kalimat yang canggung, akhirnya Yaji dan Sang Penyidik keluar dari kamar itu. Tak lama kemudian, Sang Penyidik juga izin untuk meninggalkan Yaji— ada urusan yang cukup mendadak dari markasnya. Akhirnya kini tinggal Yaji sendirian yang berjalan meninggalkan rumah sakit.

Ia sama sekali tidak bisa tenang sepanjang perjalanan. Yang terjadi di kamar rumah sakit barusan terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Begitu mengingatnya, dadanya merasa sakit. Ia berhenti sejenak, meremas dadanya sendiri. Sudah berapa lama, ya? Sejak aku merasa kasihan dengan orang lain.

Hari pun berlalu dengan begitu saja. Keesokan harinya, rutinitas kembali berjalan normal seperti biasa. Yaji kembali berangkat ke kantor. Setelah pulang di sore hari, ia mengurus barang-barangnya untuk dibawa pulang dari kantor polisi. Selebihnya, tak banyak yang banyak berbeda dari hari-hari sebelumnya—kembali ke hari-harinya yang membosankan.

Meskipun begitu, sebenarnya ia merasakan suatu perubahan dalam dirinya. Selama ini, ia selalu sadar akan dirinya sendiri yang hanya berusaha hidup tenang tanpa perlu memedulikan orang lain. Namun, ia tak bisa berhenti memikirkan nasib gadis yang berada di rumah sakit itu. Sorot mata kosongnya yang ia lihat di hari itu terus terngiang-ngiang di kala Yaji melamun.

Hari-hari terus berlalu. Tak terasa lamanya, sudah sekitar satu bulan berlalu sejak ia dipanggil ke kantor polisi untuk yang pertama kalinya. Kali ini, ia mendapatkan cuti beberapa hari dari tempatnya bekerja setelah sebulan penuh perusahaannya sibuk dengan permintaan klien yang tiba-tiba saja melonjak. Tentu saja, seperti biasanya ia ingin menghabiskannya dengan bermain konsol game miliknya untuk menghilangkan stres. Namun, ia juga baru saja sadar akan sesuatu ketika hendak menyalakan konsolnya setelah sekian lama.

Oh iya, sampai sekarang aku belum berterima kasih secara langsung kepadanya, ya…

Meskipun dulunya ia merasa cukup kesal dengan keberadaan gadis itu di depan pintunya, namun ia tetap merasa harus berterima kasih atas keberanian gadis itu untuk mengembalikan dompet miliknya hari itu. Itu pasti sebuah hal yang berat untuk dilakukan, apalagi jika ia sedang dalam kondisi trauma pada saat itu.

Dengan penampilan seadanya, ia bersepeda menuju sebuah panti asuhan—ia diberitahu oleh Sang Penyidik dulunya bahwa gadis itu akan dipindahkan ke sana setelah ia keluar dari rumah sakit. Letaknya cukup jauh dari kamar kontrakannya—membuatnya tersengal dan basah kuyup oleh keringat begitu sampai. Begitu masuk, ia langsung bertemu dengan salah satu pengasuh di sana. Tanpa basa-basi, sang pengasuh langsung dengan ramah mengajak Yaji untuk masuk ke dalam. Di dalam, Yaji melihat banyak anak-anak yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Yang masih kecil cenderung bermain bersama dan berlari-larian, dan yang sudah berusia remaja lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gawai dan membantu pekerjaan sehari-hari para pengasuh.

“Anu… saya ke sini sebenarnya untuk…” tanya Yaji dengan nada ragu-ragu. “Hm?”

“Saya ke sini untuk mencari… anu… seorang gadis kecil dengan boneka… beruang? Iya, sepertinya beruang. Apakah Ibu pernah melihatnya…”

Belum selesai bertanya, namun raut wajah Sang Pengasuh berubah seketika. Yang tadinya selalu tersenyum, kini menjadi sedih.

“Oh, anak itu…”

Sang pengasuh diam sejenak. Yaji hanya bisa menunggu.

“Dia sudah kembali lagi ke rumah sakit seminggu yang lalu. Sepertinya ia memiliki masalah yang terlalu berat untuk kami atasi sekarang…”

Mendengar hal itu, tentu saja langsung membuat Yaji membulatkan matanya dan penasaran. Apa? Kenapa dia dikembalikan ke rumah sakit?

“Anak itu… saya benar-benar kasihan kepadanya. Meskipun saya dan yang lainnya sudah sering mengingatkan anak-anak yang lain, namun dia masih kerap kali menjadi bahan perundungan di sini. Semuanya menganggapnya anak yang aneh ketika melihatnya berbicara sendiri dengan boneka miliknya. Perundungan itu hanya berlanjut semakin parah, dan akhirnya tak terbendung lagi…”

“Apa yang terjadi…?”

“Anak itu… dia… berusaha bun—maksud saya… anu… mengakhiri hidupnya…” pungkas sang pengasuh sambil menutup mulutnya.

Yaji hanya bisa terkesima mendengarnya. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, namun beberapa anak kecil yang kebetulan lewat bertanya sesuatu kepada sang pengasuh soal kedatangan Yaji—membuat sang pengasuh harus kembali tersenyum dan riang di depan anak-anak, begitu pula dengan Yaji yang menjadi canggung ketika digoda oleh anak-anak.

“Maaf kalau kunjungan Anda ke sini malah membuat Anda kecewa. Kami di sini sudah berusaha sekuat yang kami bisa, namun anak itu tetap saja…”

“A-anu, anak itu sekarang berada di rumah sakit tempat dia dirawat sebelumnya, kan?” “Benar…”

“Kalau begitu, saya permisi pamit dulu, ya, Bu. Terima kasih sudah mengantar saya berkeliling di sini.” Tak ingin memperpanjang kecanggungan, Yaji memilih untuk mengakhiri pembicaraan dan keluar dari panti secepatnya.

Ia tak menyangka bahwa kondisi mental gadis itu sampai seburuk itu sejak ia dirawat di rumah sakit. Memangnya apa saja yang terjadi hingga membuatnya seperti itu, ia tak bisa berhenti memikirkannya untuk sekarang. Yaji mungkin masih belum menyadarinya untuk sekarang. Namun, dirinya sudah mulai berubah. Bila bukan karena serangkaian kejadian yang melibatkannya kali ini, ia pasti masih duduk di sofa depan televisinya, bermain konsol sepanjang hari untuk mengisi hari liburnya.

Untuk mengetahui apa yang terjadi kepada gadis itu, ia pergi menuju kantor polisi. Begitu di dalam, ia langsung meminta izin menemui Sang Penyidik yang membantunya dulu—mungkin dia tahu sesuatu soal gadis itu. Meskipun ia harus menunggu cukup lama untuk bertemu dengan Sang Penyidik karena datang dengan mendadak, ia tidak mempedulikannya.

Setelah seharian menunggu, akhirnya sudah memasuki jam pulang kerja. Yaji pun akhirnya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sang Penyidik. Meskipun harus menunggu sangat lama, ia tidak bermasalah dengan itu—lagipula ia tak punya kegiatan apapun jika ia pulang.

Mereka berdua langsung mencari sebuah tempat di sekitar kantor polisi yang jarang dilewati orang. Begitu mereka berdua sudah duduk berhadapan empat mata, Yaji pun tak perlu basa-basi dengan pembicaraannya. Ia langsung bertanya tentang informasi yang dipunyai kepolisian soal latar belakang gadis itu. Sang Penyidik langsung meresponsnya dengan menurunkan volume bicaranya.

“Apakah Anda yakin ingin mendengarnya? Saya pikir, Anda sudah terlepas dari kasus ini sepenuhnya.”

Yaji membulatkan matanya. “Apapun itu, saya akan mendengarkannya. Saya tahu kasus ini sudah diselesaikan sejak lama, namun saya merasa bahwa saya masih memiliki tanggung jawab terhadap keadaan gadis itu yang sekarang.”

Sang Penyidik menghela napas. “Baiklah jika begitu.”

Lalu Sang Penyidik pun mulai bercerita. Ia menjelaskan di awal, bahwa semua yang akan diceritakannya ini hanyalah deduksi penyelidikan dari kepolisian, dan tidak ada yang bisa diverifikasi karena tidak ada saksi lain yang berhubungan selain gadis itu—juga dari kondisi gadis itu yang sampai sekarang membuatnya sulit untuk dimintai keterangan. Yaji hanya bisa mengiyakan—karena hanya ini satu-satunya informasi yang bisa ia dapatkan untuk sekarang.

Melalui bukti-bukti yang ditemukan di TKP, kepolisian bisa menyimpulkan beberapa hal. Gadis itu memang berada dalam pengaruh dan kendali kelompok pencuri itu. Ia sama sekali tidak bisa melawan.

Latar belakang keluarga gadis itu juga cukup kelam. Berdasarkan informasi yang bisa digali dari pihak kepolisian, keluarga gadis itu sebenarnya baik-baik saja sedari dulu. Namun, ada beberapa hal yang terkesan sangat memilukan saat kepolisian menyadari kebenarannya.

Gadis itu dijual oleh kedua orang tuanya kepada kelompok pencuri itu beberapa minggu yang lalu. Belum lagi, gadis itu mendapat perlakuan yang tidak manusiawi di sana. Perwakilan dari kelompok pencuri itu mengaku, bahwa saat gadis itu sudah lebih besar maka itu tak menutup kemungkinan untuk takdir yang lebih kelam yang menanti di masa depan gadis itu.

“Ini memang sangat disayangkan. Sepertinya mereka adalah keluarga yang baik-baik saja pada awalnya, namun memang keluarga mereka terimpit masalah ekonomi yang cukup parah sehingga menyebabkan ini bisa terjadi.

“Kami tidak tahu secara detail apa saja yang ia alami selama berada di dalam lingkungan kelompok itu, tapi yang jelas gadis itu sudah menunjukkan gejala trauma yang berat. Saya juga tak lama ini juga mendengar kabar dari pihak panti asuhan tentang kondisinya, dan saya cukup menyesal bahwa saya tak bisa berbuat banyak terkait hal itu,” pungkas Sang Penyidik.

Sementara itu, Yaji hanya terus mendengarkan sambil menundukkan kepalanya. Isi hatinya hanya terus bertambah pilu seiring ia mendengarkan semua nasib buruk yang menimpa gadis itu.

“S-sebenarnya… tempo hari… gadis itu juga sempat mendatangi kediaman saya. Dia sepertinya menunggu di depan pintu kamar saya sampai kedinginan. Setelah bangun, dia hanya mengembalikan dompet milik saya dan meminta maaf… dan sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dia melakukan hal seperti itu,” jelas Yaji.

“Dia melakukan hal seperti itu?”

Yaji mengangguk.

Sang Penyidik hanya bisa tersenyum tipis. “Yah, saya dan pihak kepolisian mungkin tidak bisa tahu apa yang gadis itu pikirkan, namun ada satu hal yang jelas di mata kami. Fakta bahwa gadis itu adalah anak yang pemberani memang benar—ia adalah faktor terbesar dalam penyelesaian kasus ini. Oleh karena itu, saya pribadi juga merasa bersalah karena tidak bisa berterima kasih secara layak kepadanya dalam kondisinya yang sekarang…”

Yaji hanya bisa menelan ludahnya. Ia kehabisan kata-kata.

Beberapa saat kemudian, gawai milik Sang Penyidik tiba-tiba berbunyi. Sang Penyidik menjawabnya dalam sepatah-dua kata, lalu langsung menutupnya.

“Maaf tapi sepertinya saya harus pergi untuk sekarang. Sepertinya keluarga saya sudah menunggu di rumah. Begini, daripada Anda harus datang ke markas untuk bertanya sesuatu soal kasus ini lagi, Anda bisa menghubungi saya secara pribadi lewat nomor ini.” Sang Penyidik pun mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari tas kerjanya, dan menulis sebuah nomor telepon beserta beberapa informasi lainnya. Setelah itu, ia memberikannya kepada Yaji.

“Kalau begitu, saya permisi dulu.” Sang Penyidik pun beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan Yaji yang masih bergeming dari tempat duduknya.

Angin malam yang dingin menyadarkan Yaji dari lamunannya, mengingatkannya untuk segera pulang. Ia pun berjalan dengan malas menuju sepeda miliknya, namun entah mengapa ia merasa malas untuk bersepeda sekarang. Ia lebih memilih untuk menuntun sepedanya sambil berjalan pulang.

Di tengah perjalanan, ia terus melamun seraya menuntun sepedanya di pinggiran jalan. Matanya menatap kosong trotoar di depannya. Untung saja jalan yang ia ambil untuk pulang cukup sepi—apalagi saat malam hari—bila tidak, ia pasti sudah sering mendengar klakson kendaraan yang akan mengagetkannya dari lamunannya di tengah jalan.

Sesampainya di kamarnya, ia menatapi seluruh isi ruangannya—terutama perangkat elektronik yang dulunya sempat dicuri. Kemudian seperti biasa, ia melepas bajunya dan beranjak mandi. Namun masih sama seperti sebelumnya, ia kembali melamun lama di kamar mandi.

Selesai dari mandinya, Yaji belum bisa menyelesaikan lamunannya. Secara refleks, ia berjalan malas menuju sofa di depan televisi. Begitu melihat konsol game miliknya yang tergeletak di sana, ia mulai tersadar dari lamunannya. Ia perlahan mengambilnya dengan sedikit gemetaran.

Tes. Tes. Tes.

Tanpa sadar, Yaji sudah meneteskan air matanya. Ia juga mulai terisak perlahan. Tangisan itu tidak hanya berlangsung sebentar. Hampir beberapa jam ia habiskan untuk menangis dan merenungi apa yang sudah ia lakukan hingga saat ini, sampai pada akhirnya ia tertidur lelap karena kelelahan menangis.

Keesokan harinya, ia masih melanjutkan renungannya semalam. Ia mencemaskan kondisi gadis itu setiap saat. Setiap kali ia melihat konsol gamenya, dadanya langsung merasa sakit. Sekarang ia juga baru menyadari dengan sangat jelas, bahwa ia sudah merusak kehidupan seseorang yang lain dengan alat itu. Kali ini, ia akhirnya bisa tegas untuk berkata dalam hatinya untuk mengurungkan dirinya untuk memainkan alat itu.

Hidupmu memang sudah berantakan. Tapi paling tidak, jangan seret orang lain ke dalam ini semua, dasar tidak berguna!

Malam itu, bila saja aku bisa lebih peduli dan tidak egois… semua ini…

Untuk beberapa hari ke depannya, Yaji masih terus mencemaskan kondisi gadis itu. Terkadang, ia menjadi bingung dengan dirinya sendiri. Ia hanyalah seorang pegawai kantoran yang sering menyendiri, dan sekarang ia mencemaskan orang lain sampai seperti ini. Padahal apabila bukan karena insiden pencurian yang menimpanya kemarin, ini semua takkan terjadi.

Semakin hari, rasa bersalah itu hanya terus bertambah parah. Dalam hati, ia terus mengutuk dalam dirinya sendiri yang bersikap seperti seorang pengecut besar saat malam itu.

Sekarang saat melihat balik ke apa saja yang terjadi di malam itu,

Pada akhirnya setelah beberapa hari yang ia habiskan untuk menimbang-nimbang dan berpikir, Yaji pun sudah memutuskan. Sebuah keputusan yang tak mungkin bisa terjadi bila bukan karena semua rangkaian kejadian yang terjadi padanya hingga saat ini. Pada suatu malam, Yaji mengumpulkan segenap keberanian dan mengambil napas sebelum memasukkan sebuah nomor telepon di ponselnya. Setelah beberapa nada statis, teleponnya diangkat.

“Halo permisi, ini dengan siapa?”

“Saya Yaji, Pak Penyidik.”

“Oh, Pak Yaji! Apa kabarnya seka–”

“Bolehkan saya meminta tolong suatu hal?”

Untuk beberapa hari kemudian, Yaji akhirnya bisa mengunjungi gadis itu di rumah sakit. Dari yang ia dengar, pada akhirnya kondisi gadis itu kembali stabil lagi untuk sekarang. Yaji pun melangkah dengan cukup yakin saat memasuki ruangan gadis itu seperti kunjungan pertamanya dulu, namun hal yang sama juga terulang. Gadis itu tiba-tiba berteriak histeris dan gemetar begitu melihat sosok Yaji berada tepat di hadapannya. Kini, sepertinya ia bisa melihat sebuah pola yang sedang terjadi di sini. Benar, gadis itu masih dipenuhi oleh rasa bersalah terhadapnya.

“Nak, saya hari ini ingin berbicara denganmu—”

Seperti yang dulu juga, gadis itu malah semakin gemetaran ketika Yaji mencoba untuk mengajaknya bicara. Namun kali ini, Yaji yang akan mengambil inisiatif. Bukannya mundur, namun ia melangkah untuk semakin mendekat kepada gadis itu.

“Siapa namamu?”

Gadis kecil itu memang menjadi lebih takut dengan Yaji yang kini hanya berjarak selangkah darinya. Ia memalingkah wajahnya. Namun, Yaji pun tetap bersikeras. Ia mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Suster di belakangnya memberi isyarat kepadanya untuk berhenti, namun Yaji mengangkat sebelah tangannya, seolah berkata, biarkan aku yang menangani ini.

Gadis kecil itu masih tak berani untuk menatap Yaji secara langsung. Yaji pun menghela napas. Ia sudah memperkirakan bahwa ini akan terjadi sebelumnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa, lantas menundukkan badannya hingga lebih rendah daripada kasur gadis itu.

“Hai! Namaku Keko. Kalau namamu siapa?”

Hening sejenak. Gadis kecil itu memasang wajah kebingungan, begitu juga dengan Sang Suster. Yaji sedang memegang sebuah boneka beruang, dan berbicara sambil menggerak gerakkan boneka di tangannya. Ia sebenarnya ingin meniru seorang ventriloquist yang bisa mengisi suara untuk boneka yang sedang ia pegang, namun ia sama sekali tidak terbiasa dengan ini—meskipun sudah latihan beberapa kali sebelumnya di kamarnya. Kemudian, Yaji meraih boneka beruang milik gadis itu yang terduduk di pinggiran kasur.

“Aku? Namaku Quma—uhuk,” Yaji mencoba untuk membuat suara yang lebih melengking, namun ia langsung terbatuk. Gadis itu masih memasang wajah kebingungan, sementara Sang Suster menahan tawa. Yaji sempat mendecak pelan, aku sudah latihan untuk ini, tahu.

Yaji pun memperbaiki posisinya. Ia berdeham beberapa kali, menyiapkan pita suaranya. Ia berharap untuk bisa melanjutkan ‘pertunjukan’ kecilnya untuk sedikit lebih lama lagi.

“Kamu… punya teman, ya, Quma?”

“Oh, iya!” Yaji pun mengarahkan kedua boneka ke arah gadis itu. “Kenalkan, ini temanku, Onako. Dia gadis yang baik, lho!”

“Wah! Kalau begitu, salam kenal, ya, Onako! Aku Keko. Ngomong-ngomong, aku juga punya teman, lho!”

“Hm, siapa itu?”

“Namanya Yaji! Dia ada di—sebentar,” Yaji menggerak-gerakkan kedua boneka di tangannya, membuatnya seperti sedang melihat-lihat sekitar ruangan. “Yah, sepertinya dia sedang tidak ada di sini. Aneh, padahal tadi aku ke sini bersamanya, lho!”

“Oh, begitu kah? Aneh ya!”

Yaji berusaha untuk membuat suara tertawa dengan dua boneka itu, namun ia kembali lagi terbatuk-batuk. Kali ini, Sang Suster hanya tersenyum tipis melihat Yaji yang sedang berusaha untuk menarik perhatian gadis itu.

Setelah itu, Yaji menghentikan ‘pertunjukan’-nya. Ia mengambil minuman dari tasnya, meneguknya untuk menghentikan batuknya. Ia meletakkan boneka beruang milik gadis itu di atas kasur lalu berdiri, memakai tasnya.

“Kalau begitu, sampai nanti, ya, Onako.” Yaji pun berjalan menuju pintu kamar, meninggalkan sang gadis yang masih bingung di tempatnya. Sang Suster sedikit terkejut, dan mengikuti langkah Yaji keluar.

“Maaf, Suster, tapi saya sampai sini dulu. Saya akan kembali di lain hari.”

Hanya dengan begitu, kunjungannya hari ini di rumah sakit sudah selesai. Ia mempercepat kayuhannya saat pulang. Ia sudah menyiapkan banyak hal untuk kesempatan ini. Ia menggali banyak informasi dari berkas kepolisian yang bisa ia dapatkan dari Sang Penyidik tentang gadis itu.

Ya. Gadis itu bernama Onako. Ia selalu bersama dengan Quma, boneka beruang miliknya. Dari informasi yang bisa ia dapatkan, gadis itu memang menjadi sering berbicara sendiri dengan bonekanya semenjak orang tuanya meninggalkannya.

Yaji juga langsung mengerti setelah melihat reaksi Onako tadi. Gadis itu masih takut dengannya—kemungkinan masih merasa bersalah dari kejadian tempo hari. Bila ini terus terjadi, maka Yaji takkan pernah punya kesempatan untuk saling berkomunikasi dengannya. Mau tidak mau, ia harus berusaha untuk memenangkan hati gadis itu terlebih dahulu.

Sesampainya di kamarnya, Yaji langsung duduk di meja kerjanya, mengambil kertas dan pensil dengan cepat. Ia langsung menggurat-gurat kertasnya dengan bersemangat.

Sampai saat itu, ia sama sekali belum sadar dengan dirinya sendiri. Entah kenapa ia bisa menjadi sangat bersemangat seperti ini. Dari tadi bersepeda pulang dari rumah sakit, ia tak bisa berhenti tersenyum. Dadanya terasa buncah sekarang. Berbagai macam ide untuk ‘pertunjukan’ selanjutnya mulai bermunculan di kepalanya.

Kenapa? Padahal penampilanku yang tadi bukanlah sesuatu yang hebat. Gadis itu juga tidak tersenyum sedikitpun dari awal sampai akhir. Tapi kenapa aku bisa merasa bersemangat seperti ini?

Yaji tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Padahal, gadis itu tidak tersenyum sedikitpun dari awal sampai akhir ‘pertunjukannya’. Tapi, tetap saja—ini adalah sebuah kemajuan bagi Yaji. Gadis itu tidak berteriak dan ketakutan saja adalah sebuah kemajuan yang baik.

Terserahlah. Kemajuan adalah kemajuan. Aku harus memanfaatkan ini dengan baik.

Setelah itu, Yaji semakin sering mengunjungi Onako. Setiap kali berkunjung, ia selalu membawa boneka beruang miliknya—Keko—untuk melakukan sebuah ‘pertunjukan’ boneka sederhana dengan Quma, boneka beruang milik Onako. Untuk beberapa kunjungan pertama, reaksi Onako memang tak terlalu berbeda dari yang sebelumnya. Ia hanya diam selama pertunjukan, juga tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun, hal itu tentunya tidak langsung membuat Yaji hilang semangat. Ia terus berusaha untuk berkunjung sesering mungkin di luar jam pekerjaannya. Ia masih percaya dalam asumsinya—selama ia tidak takut denganku saat berada di dekatnya, maka pasti selalu ada kesempatan untuk mencoba.

Tak terasa, seminggu pun berlalu begitu saja. Di suatu hari, Onako akhirnya menunjukkan sedikit ekspresi. Meskipun hanya untuk sebentar, ia sempat melihat Onako tersenyum tipis setelah pertunjukan selesai. Begitu mengetahuinya, Yaji tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia hampir saja meloncat-loncat kegirangan, namun ia menahan dirinya.

“Kau menyukainya?”

Onako tampak sedikit terkejut ketika ditanya. Ia menunduk, pipinya sedikit memerah. Ia pun mengangguk perlahan.

Melihat reaksi Onako, Yaji benar-benar buncah. Ia tersenyum dengan begitu lebarnya. Hampir saja ia refleks hendak memeluk gadis itu, namun sekali lagi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukannya sekarang—lagipula, ia masih sedang dalam masa pemulihan traumanya.

Keseharian itu terus berlanjut. Rutinitas Yaji sepulang kerjanya kini sepenuhnya ia gunakan untuk memikirkan untuk ide-ide untuk ‘pertunjukan-pertunjukan’ selanjutnya. Bahkan konsol game kesayangannya sudah hampir tak pernah ia sentuh lagi.

Tak terasa, sekarang sebulan telah berlalu. Sekarang Onako sudah mulai bisa rileks saat berinteraksi dengan Yaji. Ia sudah bisa sedikit tertawa di tengah-tengah pertunjukan, mengobrol pendek, dan berterima kasih dengan malu-malu begitu selesai. Semua perkembangan ini tentunya hanya akan membuat Yaji semakin bersemangat dengan ‘pertunjukan-pertunjukan’-nya yang akan datang.

Namun, hal itu tidak berdampak baik bagi pekerjaannya. Saking asyiknya memikirkan ‘pertunjukan’ yang akan ia bawakan, banyak beban kerjanya terlalaikan. Ia mendapat berbagai komplain dari atasannya, dan akibatnya ia tak bisa berkunjung ke rumah sakit untuk beberapa hari sampai masalahnya kantornya terurus.

Ia melewatkan satu minggu kunjungannya ke rumah sakit. Begitu ia kembali, ia sempat mengintip terlebih dahulu lewat kaca di pintu kamar Onako sebelum memasukinya. Gadis itu tampak lesu sambil menatap ke luar jendela di sebelah ranjangnya, persis seperti saat Yaji pertama kali melihatnya dulu dari sudut yang sama. Begitu ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam, raut wajah gadis itu langsung berubah cerah. Ia tersenyum lebar sambil menyodorkan Quma miliknya kepada Yaji.

“Maaf, tapi mungkin setelah ini aku hanya bisa berkunjung dua kali seminggu, atau bahkan hanya sekali. Kau tahu, pekerjaanku sekarang sedang dalam masalah dan cukup sibuk, jadi…”

Seketika, raut wajah Onako kembali berubah muram. Ia juga sama sekali tidak bersemangat ketika Yaji membawakan ‘pertunjukan’-nya, tak mengucap sepatah kata pun hingga selesai. Begitu pulang, Yaji merasa bersalah dengan dirinya sendiri.

Kalau ini terus berlanjut, maka…

Yaji mengerem sepedanya dengan mendadak. Ia segera berbalik, kembali menuju rumah sakit. Sesampainya di dalam, suster sempat mengingatkan bahwa jam besuk sudah berakhir. Namun, Yaji memohon dengan serius, berkilah bahwa ini urusan yang penting. Akhirnya, suster pun mengizinkan Yaji untuk kembali bertemu dengan gadis itu—lagipula, para suster juga sudah mengenal baik sosok Yaji yang rajin berkunjung.

Ia membuka pintu kamar Onako dengan terburu-buru. Napasnya sedikit tersengal. “Onako!”

Onako menoleh dengan wajah terkejut. “P-Paman?”

Yaji meminta Sang Suster dengan halus untuk menunggu di luar sebentar. Ia kemudian duduk di lantai di hadapan Onako, lalu menunduk.

“Begini, Onako…”

Gadis itu hanya memasang wajah bingung. “Paman… ada apa…”

Yaji mengepalkan kedua tangan, menelan ludahnya. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya.

“B-bolehkah… aku mengangkatmu sebagai anak?”

Hening.

Yaji hanya menatap langit-langit dengan malas sembari bersandar di kursinya. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil mendengus kesal. Kertas ide di hadapannya sekarang bukan berisi ide dialog, dari tadi ia hanya mencoret-coret sembarang di atas kertasnya.

Aku baru saja merusaknya…

Setelah ia mengucapkan permintaan itu, wajah Onako malah berubah menjadi semakin muram dan ketakutan. Seolah ia benar-benar kembali ke dirinya yang dulu sebelum Yaji mulai mengunjunginya. Yaji pun tak mampu menahan kecanggungan situasi pada saat itu, dan langsung beranjak pulang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

“Aaaaaagh!”

Yaji! Kau sudah tahu kalau gadis itu memiliki trauma. Memang satu bulan sudah berlalu sejak saat itu, dan dia sudah mulai bisa lebih terbuka kepadaku. Namun apa yang membuatmu berpikir ia akan menerimanya begitu saja dengan senang hati? Jelas-jelas dia memiliki trauma yang dalam dengan kedua orang tuanya dulu. Serius, apa yang kau lakukan, diriku!

Kalau dilihat kembali, yang dilakukan Yaji tadi memang impulsif. Namun tetap saja, ia sudah membuat kesalahan yang besar. Bisa saja seluruh selama satu bulan ini berakhir sia-sia begitu saja. Wajah ketakutan Onako yang seperti itu, Yaji sungguh tidak kuat untuk mengingatnya kembali.

Sebenarnya, Yaji memang sudah merencanakan soal ini sejak lama. Ia sudah membicarakan soal ini dengan Sang Penyidik dulu dalam sebuah satu percakapan lewat telepon yang panjang. Ia ingin mengambil tanggung jawab terhadap nasib Onako, tentunya setelah mempertimbangkan banyak hal. Tentu saja sebelumnya ia harus memperbaiki hubungannya dengan gadis itu terlebih dahulu, baru apabila waktunya sudah tepat ia akan bertanya soal hal ini kepada gadis itu. Namun, yang ia lakukan pada saat itu jelas bukanlah waktu yang tepat. Ia sangat frustrasi akan tindakan impulsifnya saat itu.

Yaji tidak bisa berpikir jernih untuk sepanjang malam itu, ia juga tidak bisa tidur. Apabila ia berkunjung ke rumah sakit lagi, ia takut apabila Onako memang benar-benar akan kembali ke kondisi lamanya dahulu ketika bertemu dengannya. Untuk sekarang, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia memutuskan untuk menghentikan kunjungannya untuk beberapa hari ke depan, berharap agar situasi hati Onako bisa sedikit membaik dengan berjalannya waktu.

Tak terasa, seminggu telah berlalu. Sekarang Yaji kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan di malam hari. Ia tak bersemangat lagi untuk menulis dialog ‘pertunjukan’, ataupun untuk bermain game dengan konsolnya. Ia hanya bisa tiduran malas di sofanya sambil menatap lesu langit-langit kamarnya.

Kriiing. Kriiing.

Malam sudah cukup larut, namun tiba-tiba ada suara panggilan telepon dari ponsel milik Yaji. Ia sedikit terkaget, langsung bergegas untuk mengangkatnya. Ia sekilas melihat nomor sang penelepon. Dari rumah sakit? Untuk apa mereka menelepon di waktu seperti ini…

“Halo?”

“P—Paman?”

Begitu terkejutnya Yaji mendengar suara itu dari ponselnya. “Onako?!”

Hening seketika. Yaji baru sadar bahwa suaranya terlalu keras barusan. Ia mengecilkan suara bicaranya. “A-anu, maafkan aku yang tadi. Benarkah itu kamu, Onako?”

“I-iya…”

Yaji menghela napas lega. Ia memperbaiki posisi duduknya. “Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?”

“Hm-hm.” Suara Onako terdengar lemah di telepon.

“Jadi, ada urusan apa kamu meneleponku sekarang?”

“Ng… Anu…”

Yaji masih menunggu jawaban. Onako terdengar masih kesusahan untuk berbicara. “Aku… aku… minta maaf…”

“Hm?”

“Padahal… Paman sudah berusaha untukku… tapi aku malah… hiks…” Onako terdengar menangis lirih di telepon.

“Ah, tidak apa-apa, kok. Aku tidak mempermasalahkannya.”

“Di sini… aku… kesepian…” Onako semakin terisak-isak dalma tangisnya. Yaji hanya bisa mendengarkan dengan sabar, hatinya juga ikut pilu mendengar Onako yang seperti itu.

Setelah beberapa menit hening dengan suara isakan di telepon, akhirnya lumayan mereda juga.

“Jadi, Paman…”

“Iya?”

“Maukah Paman berkunjung lagi ke sini?”

Yaji mengulas senyum. “Bisa, kok. Aku akan pergi ke sana besok.”

“B-besok…? Benarkah…?”

“Hm-hm.” Yaji mengangguk-angguk dengan sendirinya.

“Te-terima kasih… Paman…”

“Sama-sama.”

Beberapa menit kemudian. Masih hening, hanya isakan lirih Onako yang masih terdengar. Tapi sepertinya sudah hampir selesai.

“Jadi, apakah masih ada yang ingin kamu katakan?”

“Mm, tidak. Aku tunggu besok, ya, Paman.”

“Baiklah. Selamat tidur.”

“Selamat tidur juga, Paman.”

Telepon ditutup. Yaji kembali berbaring di atas sofanya, menghela napas panjang. Ia senyum-senyum sendiri.

Meskipun ketakutan dan sampai menangis seperti itu, namun ia masih berani untuk meneleponku dan meminta maaf. Ya ampun, dia memang anak yang hebat.

Setelah itu, ia langsung beranjak duduk di kursi kerjanya dan mencengkeram pulpen miliknya. Ia sama sekali tidak bisa tidur malam itu.

Pagi hari, matahari baru saja mulai naik. Namun, salah seorang pekerja kantoran sudah mengayuh sepedanya dengan bersemangatnya sembari bersenandung ria.

Ya, siapa lagi kalau bukan Yaji. Ia sudah menunggu-nunggu momen ini semalaman penuh. Ia memarkir sepedanya di parkiran rumah sakit yang masih sepi, langsung bergegas menuju kamar Onako.

Klak. Yaji membuka pintu, melangkah masuk.

Onako menoleh, lantas tersenyum lebar. “Selamat pagi, Paman!”

Yaji juga membalasnya dengan tersenyum. “Selamat pagi juga, Onako.”

Yaji meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi seperti biasanya. Ia memerhatikan wajah Onako dari dekat, lalu ia menaikkan alisnya. Ia bisa melihat kantung hitam yang tipis di kedua mata Onako. “Kamu tidak tidur semalam?”

Onako hanya tersenyum tipis. “Anu, maaf… tapi aku tidak bisa tidur tadi malam…”

“Kalau begitu, kita sama, dong.” Yaji tertawa renyah. Padahal, kita berdua saling mengucap selamat tidur tadi malam, namun kami berdua juga pada akhirnya tidak bisa tidur semalaman.

Akan tetapi, meskipun semalaman suntuk ia habiskan untuk membuat dialog ‘pertunjukan’-nya, namun pada akhirnya ia sama sekali tidak bisa fokus dan tidak menulis apapun. Namun ia tidak cemas, ia sudah tahu bagaimana solusinya.

Yaji mengeluarkan Keko dari tasnya. Namun, kali ini ia tidak menyiapkan ‘pertunjukan’-nya yang seperti biasanya. Ia meletakkan Quma di tangan Onako.

“Kali ini, kamu juga akan ikut.”

“E-eh?”

“Ya. Aku akan berperan sebagai Keko, dan kamu akan berperan sebagai Quma. Bagaimana?”

Onako menjadi malu-malu dan salah tingkah untuk sejenak. “T-tapi…”

“Tidak apa-apa. Kalau aku terus yang harus memerankan keduanya, juga aneh, kan? Toh, Quma juga sudah menjadi teman dekatmu dari dulu.”

Meskipun Onako masih tampak penuh keraguan, namun pada akhirnya ia menerima ajakan Yaji. Ia memegang Quma dengan tangan kanannya, dan mencoba untuk membuat Quma ‘berbicara’.

“Bagus! Seperti itu. Keko dan Quma akan mengobrol seperti biasa saja. Tidak ada naskah atau apapun itu. Bagaimana?”

Onako kembali tampak gelisah, namun ia tetap mengangguk-ngangguk lemah.

“Baiklah. Aku mulai, ya. Halo, Quma, Onako! Apa kabar kalian berdua?” Yaji berbicara dengan nada tinggi seperti ketika saat ia memerankan Keko di akhir perkataannya.

Onako mulai mencoba untuk berbicara, namun beberapa kali ia terhenti sebelum kata-katanya keluar. Yaji juga terus menyemangati Onako tiap kali ia gagal. Perlahan tapi pasti, gadis ini pasti bisa melakukannya, benak Yaji.

H-halo, Keko… a-aku Quma…”

Onako akhirnya berhasil berbicara dengan nada lengking untuk memerankan Quma. Yaji tersenyum lebar, memberi selamat.

“Bagus! Sekarang, kamu tinggal mengobrol dengan Keko seperti biasa dengan suara seperti itu.”

Meskipun wajah Onako masih menunjukkan ekspresi yang malu-malu, namun ia juga mengulas sedikit senyum.

Tuh kan, apa yang kubilang. Kalau gadis ini, pasti dia bisa.

Satu jam berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya dunia serasa milik berdua bagi Yaji dan Onako, namun ‘pertunjukan’ mereka harus dipotong oleh kedatangan suster untuk mengantarkan sarapan Onako.

“Bagaimana? Tak terlalu buruk, bukan? Aku tahu kamu bisa melakukannya.” Onako hanya mengangguk-angguk, ia masih sibuk melahap sarapannya.

Mereka berdua hanya bercengkerama biasa. Bercanda ringan, saling tertawa, dan mengobrol soal diri mereka masing-masing sebagai Quma dan Keko. Salah satu dari mereka adalah pekerja kantoran yang benci bersosialisasi dengan orang lain, dan satunya lagi adalah gadis kecil dengan trauma yang buruk. Namun, interaksi itu bisa menjadi sebegitu serunya di antara mereka berdua.

Melihat Onako bisa tersenyum saja, itu sudah cukup bagi Yaji. Itu artinya, usahanya selama ini tidak sia-sia.

Andai saja… pada hari itu aku bisa melakukan sesuatu untuknya… semua ini…

Yaji memasukkan Keko ke dalam tasnya, beranjak berdiri. “Kalau begitu, sepertinya untuk hari ini sampai di sini dulu…”

Namun, begitu Yaji berbalik badan, tiba-tiba ia merasa kemejanya ditarik dari belakang. Ia menoleh ke belakang.

“Hm? Ada apa?”

“Jangan pergi… Paman…”

Yaji langsung refleks untuk kembali meletakkan tasnya, kembali duduk. Onako tiba tiba terisak pelan.

“Onako, ada apa? Kamu merasa tidak enak badan?”

“Jangan pergi…”

Yaji masih belum paham dengan apa yang terjadi, ia masih tidak berani untuk menyentuh Onako secara langsung. Ia malah jadi salah tingkah sendiri. “A-anu… begini…”

“Aku tidak mau… di sini. Di sini… membosankan…”

Yaji masih kesulitan mencari cara untuk menenangkannya. Ia bergegas berdiri. “Sebentar, aku akan panggilkan suster…”

“JANGAN!”

Yaji benar-benar terkejut. Onako tiba-tiba berteriak lantang di tengah tangisannya. Baru pertama kali ia mendengar Onako mengeluarkan suara sekeras itu.

“Jangan… jangan pergi…!”

“T-tapi…”

Dalam sekelebat, Onako langsung mencengkeram erat lengan Yaji dengan kedua tangan kecilnya.

“Aku ingin ikut dengan Paman!”

Yaji mematung di tempatnya untuk sejenak. Perkataan Onako barusan membuatnya kehabisan kata-kata.

“M-maksudmu?”

“Paman… sebelumnya pernah bilang, kan? Soal menjadikanku… anak… angkat…”

Yaji kembali terkejut. Ia langsung tersipu malu dan menjadi salah tingkah. “E-e-eh…! Soal itu… erm… Lupakan saja untuk sekarang—”

“Hm?” Onako mendongak, ia menatap Yaji dengan wajah penuh mengharap. Matanya yang sembab dan pipinya yang merah dan basah kini terlihat dengan jelas. “Memangnya kenapa, Paman?”

“Tidak…! Maksudku… aduh, bagaimana, ya…” Kepala Yaji tidak bisa mengikuti semua perubahan emosi yang mendadak ini. “Ternyata, kamu masih mengingatnya, ya…”

“Te-tentu saja! Aku tidak pernah lupa. Lalu… aku juga selalu… ingin meminta maaf dengan benar kepada Paman. Saat itu… aku benar-benar tidak sopan. Paman hanya bertanya kepadaku, tapi aku… aku… minta maaf…”

Mendengar perkataan Onako yang patah-patah dan kaku, Yaji hanya bisa tersenyum takzim. Ia berjongkok di hadapan Onako.

“Kamu sudah mendengar perkataanku di telepon tadi malam, bukan? Aku tidak mempermasalahkannya. Kamu tidak perlu meminta maaf untuk apapun. Kamu yang mengingat permintaanku pada hari itu saja, itu sudah membuatku bahagia. Jadi, jangan menangis. Oke?”

Yaji tanpa sadar mengelus ubun-ubun Onako dengan lembut. Setelah itu, isakan Onako perlahan mereda. Gadis itu mengelap pipinya yang basah.

“Jadi, apakah aku boleh ikut dengan Paman?”

Yaji menghentikan elusannya. “Hm? Apa?”

“… Apakah tidak boleh?”

Yaji baru saja tersadar akan sesuatu. “E-eh? Kamu… kamu serius soal itu?”

“Eng… Iya…?” jawab Onako dengan wajah sedikit bingung.

“Aku… aku tidak sedang bercanda, lho?”

“Um… iya… memang begitu, kan?”

Yaji tersentak selangkah ke belakang. Di luar dugaannya, ternyata gadis ini serius soal permintaannya saat itu. Tapi, apakah ia sungguh…

“Kamu tidak sedang menggodaku, kan?”

“Aku tidak sedang bercanda, Paman.” Wajah Onako tampak sedikit sebal. Sial. Gadis ini benar-benar serius.

Yaji memang sudah memikirkannya sejak lama dan matang-matang, namun tentu saja mendapat persetujuan yang cukup mendadak seperti membuatnya kembali berpikir soal keputusannya ini. “Tapi… sebenarnya… aku masih tidak terlalu yakin…”

“Hm?”

“Yah… kamu tahu… tempat tinggalku tidak terlalu luas dan nyaman… lalu aku mungkin kurang bisa diandalkan…” Yaji mulai secara tidak sadar mengalihkan pandangannya, pikirannya mulai ke mana-mana.

“Um… sekarang ada apa, Paman?”

“Kamu… benar-benar yakin? Mungkin kamu bisa jadi malah kecewa nantinya—” “Tidak apa-apa kok, Paman.”

Yaji terdiam seketika. Ia menatap lurus wajah Onako di hadapannya.

“Apapun itu, aku tetap ingin ikut dengan Paman. Dengan begitu, aku bisa mendengarkan Quma dan Keko mengobrol lebih sering lagi. Lalu, aku bisa bertemu dengan Paman… setiap hari. Rasanya… pasti menyenangkan.”

Tanpa sadar, Yaji sudah berlinang air mata. Ia bersegera mengelapnya.

“Anu… Paman, ada apa?”

“Eh, tidak…”

Emosi Yaji benar-benar bercampur aduk saat itu. Untuk sesaat, ia masih tidak paham mengapa ia bisa sampai menitikkan air mata seperti ini. Mengapa, hanya karena Onako menerimaku, aku bisa menjadi seperti ini?

“Paman… tidak enak badan?”

“Tidak… aku hanya sedang merasa senang.” Yaji buru-buru tersenyum lebar, berusaha untuk kembali mengendalikan emosinya. “Lebih dari itu, pokoknya aku tidak apa-apa.”

Onako memasang wajah kebingungan, membuat situasi canggung seketika. Yaji buru buru memasang senyum lebar agar tidak membuat gadis itu cemas.

“Bolehkah aku memelukmu sekarang?”

Tepat setelah mengatakan itu, Yaji juga menyadari mungkin ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah—ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan memalingkan tatapannya. “Maaf—”

“Boleh, kok!”

Yaji terkejut. Ia kembali menatap wajah Onako. Kini gadis kecil itu tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya. Yaji tidak melewatkan kesempatan ini, ia langsung memeluk Onako dengan hangat.

“Terima kasih, Onako.”

“… Paman sudah merasa lebih baik sekarang?”

Yaji melepaskan pelukannya, mengangguk-angguk. “Hm-hm. Jauh lebih baik.”

Kemudian, Yaji memegang Keko dengan tangannya. “Aku juga senang, lho! Sekarang, kita semua bisa saling bertemu bersama lebih sering lagi. Ini pasti akan menjadi semakin menyenangkan. Bukan begitu, Quma, Onako?”

Onako sempat kebingungan, namun ia langsung mengerti. Ia segera mengambil Quma miliknya. “Tentu saja! Aku sangat menantikannya!”

Mereka berdua pada akhirnya saling tertawa lepas bersamaan. Kemudian mengobrol untuk lebih lama lagi.

Selama ini, Yaji tidak sadar. Mungkin ia memang sudah banyak dipuji oleh atasannya, dan orang-orang lain di kantornya. Namun, ia tak pernah merasa senang atas semua pujian itu. Ia selalu merasa bahwa ia tak melakukan sesuatu yang spesial. Ia hanya sekadar melaksanakan hal yang ia perlu lakukan, lalu ia akan mendapatkan gajinya, dan akhirnya bermain konsol game di kamarnya untuk melepas penat.

Namun, kali ini berbeda. Yaji berusaha keras untuk mendapatkan hati Onako yang masih diselimuti oleh trauma dan kenangan buruk. Kali ini, ia tidak melakukannya karena pekerjaan. Semua perasaan bersalahnya terhadap Onako sudah membuka hatinya. Secara perlahan ia mulai mengerti, bahwa berinteraksi dan melakukan sesuatu demi kebaikan orang lain bisa menjadi menyenangkan juga. Mengurung dan menutup diri dari orang lain tidak akan mengubah apapun. Pada akhirnya, menerima pengakuan dari Onako yang seperti itu, Yaji benar-benar tidak berdaya untuk menahan luapan emosinya.

Hal yang ia dapatkan kali ini bukan sekadar pujian hambar dari orang-orang di kantornya, melainkan dari seseorang yang ia anggap penting dan berharga.

Pertama kali sejak sekian lama, ia benar-benar merasa bahagia dari lubuk hatinya.

~TO BE CONTINUED, (HOPEFULLY)~

Beberapa hari setelah itu.

Yaji sudah membulatkan tekadnya. Ia akan bertanggung jawab secara penuh atas Onako. Proses untuk mengadopsi gadis itu berjalan jauh lebih cepat dari yang dikira. Karena kondisinya yang sekarang tinggal sebatang kara dan tidak punya apa-apa, Yaji hanya perlu untuk pergi ke kantor kependudukan di daerah sekitar untuk mengurus semua perizinan dan administrasinya. Seluruh proses itu bisa selesai hanya dalam satu hari saja.

Selesai menandatangani dokumen terakhir yang harus ia urus, Yaji pun melangkah keluar dari pintu kantor kependudukan dan beranjak pulang. Sesampainya di kamarnya, ia kembali mengamati berkas-berkas yang sudah ia urus tadi. Memang, keseluruhan proses ini berjalan tanpa ikut campur oleh gadis itu sendiri. Namun, Yaji kembali teringat oleh panggilan telepon yang ia lakukan tadi pagi.

“Tapi, apakah Anda benar-benar yakin soal ini? Anak itu mungkin takkan menyukainya. Lalu… menurut saya ini semua tidaklah sesederhana itu… mengadopsi dan mengasuh seorang anak itu–”

“Ya, saya mengerti. Tapi, tidak ada pilihan lain. Saya harus melakukannya. Demi kebaikan gadis itu. Lalu…”

“Huh… baiklah kalau Anda mengerti. Juga… kondisinya sekarang–”

“Iya, saya mengerti, Pak. Saya mengerti dengan sangat jelas. Saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya dengan baik.”

Kurang lebih begitulah akhir pembicaraan Yaji dengan Sang Penyidik di telepon tadi pagi. Yaji sendiri juga menyadari bahwa ia melakukan semua ini tidak hanya untuk kebaikan gadis itu, melainkan juga untuk menebus kesalahannya kali ini. Ia tak bisa membayangkan hari-hari yang akan ia lalui ke depannya apabila ia masih terus dibayangi rasa bersalah akan kejadian ini. Ia takkan bisa tidur dengan lelap untuk setiap malamnya.

Yaji mengepalkan tangannya. Ini adalah jalan yang sudah kupilih. Aku tidak boleh ragu untuk sekarang.

Apapun yang terjadi dari sekarang, semuanya akan baik-baik saja.

Demi keegoisanku, dan juga gadis itu.


Penulis: MysticaLoof

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *