Rendezvous Adieu Reunion

Entri Writchal #4
Tema: Child Care


“Uwaaaah!”

Pria kantoran itu mengeluh panjang ketika ia menghamburkan badannya yang lelah di atas kasurnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan seragam kantornya yang masih penuh dengan keringat.

Namanya Yaji. Dia hanyalah seorang pegawai kantoran yang biasa kalian temui. Bekerja dari jam delapan pagi sampai malam, begitulah kesehariannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Isi kamar kontrakan yang ia tempati—seperti yang kalian harapkan untuk pria kantoran biasa di akhir usia dua puluhannya. Semuanya serba berantakan—bungkus makanan kosong tersebar di mana-mana, tumpukan piring kotor yang diletakkan begitu saja di wastafel tanpa dicuci dengan segera sampai mengeluarkan bau tak sedap, baju kotor yang juga berserakan—pokoknya segala hal yang biasa kalian temui di kamar laki-laki pemalas yang hidup sendirian.

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Pekerjaan kantornya yang biasanya ia terkesan monoton dan membosankan tiba-tiba melonjak parah untuk hari ini. Hal ini masih lumrah terjadi, namun Yaji tetap tak pernah terbiasa dengan anomali seperti ini. Prinsip hidupnya yang ia selalu pegang teguh—kalau bisa dikerjakan orang lain, lantas mengapa harus aku yang mengerjakannya?—kurang lebih seperti itu. Ia tak pernah ambil pusing dengan segala macam proyek ataupun pekerjaan ekstra di kantornya. Selama ia mendapat gajinya dengan rutin setiap bulan, ia tak membutuhkan hal lain lagi. Kehidupan yang membosankan? Yaji sama sekali tidak memedulikan hal itu. Untuk apa bersusah payah demi sesuatu yang penuh risiko dan tidak pasti.

Yaji menundukkan kepalanya ke dalam laci di dekat wastafel, bergumam dengan nada kesal. Sial, di mana kutaruh bungkus kopi itu terakhir kali?

Ia terus mencari kopi saset favoritnya itu. Menurutnya, ia takkan bisa melewatkan sehari tanpa secangkir kopi panas di malam hari. Ia selalu merasa lebih rileks di malam hari dengan meminum kopi. Menghabiskan semalam suntuk bersantai bermain game setelah bekerja adalah hal yang paling ia sukai, terlebih lagi sejak hari ini yang tergolong cukup melelahkan.

Lima menit kemudian, kopi seduhnya sudah siap di dalam cangkir, mengepul panas. Ia menyalakan televisi, kemudian menghubungkannya dengan konsol game miliknya. Ia mengempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan bersemangat. Salah satu tangannya sudah bersiap memegang konsol, sedangkan satu tangannya lagi meraih cangkir di sebelahnya yang masih di mengepul tepat di sebelahnya, menyeruputnya perlahan. Persiapannya sudah siap. Esok adalah hari libur, jadi ia bisa bermain sepuasnya semalaman suntuk. Ia menyeruput kopi panasnya.

Tok, tok, tok.

“Ugh!”

Yaji langsung tersedak seketika, sekitar sepertiga isi cangkir juga tertumpah di atas bajunya. Ia menyumpah-nyumpah kesal sambil merintih. Sekarang bibirnya terasa seperti terbakar.

Suara ketukan itu terus berulang setiap beberapa detik. Amarah Yaji semakin menjadi jadi.

Ia beranjak berdiri, sedikit kesusahan ketika melangkahi lantai kamarnya yang penuh dengan barang-barang yang berserakan. Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar.

“Siapa, hah?! Ini sudah tengah malam, tahu—”

Yaji terhenti di tengah kalimatnya. Ia menurunkan pandangannya. Seorang gadis kecil sekarang sedang berdiri di ambang pintunya. Ia sama sekali tidak mengenalnya. Gadis itu sedang memeluk erat boneka beruang di tangannya. Secara langsung, Yaji bisa menyadari bahwa ia sepertinya sudah berlebihan. Gadis kecil itu mundur selangkah, memasang wajah ketakutan, badannya sedikit bergetar. Namun setelahnya, gadis kecil itu langsung memaksakan senyum di wajahnya yang membuat Yaji sedikit keheranan.

“Halo, kak!” Gadis kecil itu berkata dalam nada riang.

“Eeh? Apa yang kau lakukan di sini, hah?” Yaji agak kebingungan dengan situasi ini. Sebenarnya ia sedang merasa kesal luar biasa dari apa yang terjadi kepadanya barusan, namun melihat gadis kecil yang mengetuk pintu kamarnya di waktu seperti ini membuatnya bersikap lebih waspada.

“Anu…”

Sepertinya gadis kecil itu tidak bisa terus mempertahankan aktingnya. Sekarang senyum di wajahnya sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh wajah penuh kecemasan dan ketakutan.

“Kalau kau tidak ingin mengatakan apapun, pulanglah saja sana. Untuk apa kau berada di luar jam segini? Mana orang tuamu—”

“Aku… aku s-sebenarnya ter… tersesat… apakah aku… boleh… masuk k-ke… ke… dalam…”

Melihat si gadis kecil itu yang sepertinya hampir menangis, Yaji pun tak tega untuk meninggalkannya begitu saja dalam situasi seperti ini. Tepat setelah itu, angin malam yang dingin langsung berembus cukup kencang di depan pintu kamar Yaji, membuat gadis itu menggigil. Tanpa pikir panjang, Yaji langsung menyuruh gadis itu memasuki kamarnya.

“Yah, memang beginilah tempat tinggalku. Maaf kalau berantakan,” kata Yaji malas. Ia kemudian berjalan perlahan ke arah televisi yang masih terhubung dengan konsol game-nya, kemudian mematikan seluruh peralatannya. “Untuk malam ini, kau tidurlah di sini. Maaf kalau berbau seperti kopi, tadi aku menumpahkannya sedikit.”

Dengan gemetaran, gadis kecil itu mulai melangkah patah-patah mendekati Yaji. Saat melihat kondisi sofa yang penuh dengan bungkus-bungkus jajanan yang kosong serta remah remah makanan, gerak-gerik gadis itu menjadi semakin kak—ia juga mulai berkeringat dingin.

“Sudah, jangan sungkan. Tidurlah untuk sekarang. Hoaammm.” Yaji menguap lebar. “Maaf, tapi aku sangat mengantuk sekarang. Aku akan tidur terlebih dahulu,” pungkas Yaji seraya kembali menguap lebar. Ia berjalan sempoyongan menuju area di belakang sofanya, lalu dengan cepat ia langsung terkapar di lantai—ia bahkan belum sempat mematikan lampu. Sepertinya ia memang tak bisa mengalahkan rasa lelah yang telah terkumpul seharian tadi.

Dan malam berlalu begitu saja. Yaji bangun kesiangan, jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia mengucek-ngucek matanya dengan malas. Namun tak lama kemudian, ia langsung berubah panik ketika ia sudah bisa melihat sekitarnya dengan jelas.

Seperti biasa, kamarnya memang masih berantakan seperti biasa. Namun, kali ini berbeda. Banyak sekali barang-barang yang raib dari tempatnya berada. Terutama barang barang berharga dan penting seperti perangkat elektronik, dan sebagainya. Ia menoleh ke arah pintu. Pintu kamarnya sedikit tertutup, namun dengan kunci yang menggantung dari dalam. Tepat di momen itu, Yaji langsung tersadar.

Kamarnya dimasuki pencuri tadi malam.

Yaji berteriak lantang, kesal dengan dirinya sendiri. Semua rangkaian kejadian yang belakangan ini ia alami sampai kemarin seperti mengizinkan pencuri itu untuk mencuri di dalam kamarnya dengan begitu leluasanya tadi malam. Pertama, dia memang sudah sejak lama menjadi penghuni tunggal di bangunan ini. Bangunan yang sudah cukup tua dan lokasinya yang tidak strategis membuat semua penghuni lain selain dirinya sudah berpindah ke tempat lain sejak lama. Ditambah, kemarin ia memang sangat kelelahan hingga membuatnya bisa terlelap dengan pulas sampai tidak menyadari apapun yang terjadi tadi malam. Lalu, bangunan ini memang tak pernah dipasangi kamera pengawas—karena Yaji sendiri memang tak pernah terpikirkan untuk membutuhkannya sebelumnya. Dan inilah yang terjadi.

Sekarang kamarnya benar-benar hanya berisi tumpukan sampah yang berserakan di lantai. Sekarang ia tak memiliki apa-apa lagi. Ia berbaring di atas sofanya, menatap langit langit kamar.

Ah, memang bagus sekali. Sekarang apa?

Yaji bisa merasakan bahwa seisi darah dalam tubuhnya sedang mendidih sekarang, namun ia memilih untuk tidak banyak mengekspresikannya. Semalam ia sudah terlampau lelah dan terganggu oleh kedatangan seorang gadis kecil di dalam kamarnya, lalu tepat keesokan harinya ia harus mengalami hal seperti ini. Menelepon dan berurusan dengan polisi untuk sekarang pun ia malas untuk melakukannya, paling tidak untuk sekarang.

Yaji benar-benar tidak paham apa yang sedang menimpanya sekarang. Ia sungguh tak merasa telah berbuat sesuatu yang terlampau salah sampai sekarang. Dari dulu, ia hanya ingin terus hidup tenang dan damai tanpa banyak gangguan yang berarti. Semenjak kedua orang tuanya bercerai saat ia kecil dulu, ia cenderung memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan-urusan yang membuatnya repot. Di saat ia diasuh oleh neneknya pun, ia lebih memilih untuk menutup diri dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Neneknya meninggal saat ia lulus kuliah, tepat waktu baginya untuk memulai bekerja dan memulai kehidupan sendiri— terbebas dari keluarganya yang sudah ia benci dari dulu.

Terlepas dari semua itu, ia juga baru saja ingat. Hari ini sebenarnya masih hari kerja, namun tentu saja ia takkan berangkat di jam segini, juga dengan situasi seperti ini. Meskipun suasana hatinya sedang sangat buruk, akhirnya ia tetap memutuskan untuk membersihkan kamarnya—sesuatu yang tak pernah ia lakukan dengan serius sejak ia tinggal di sini bertahun-tahun silam.

Semua sampah ia kumpulkan dalam beberapa kantung plastik sampah yang besar, kemudian menaruhnya di pojokan ruangan. Seluruh sudut ruangan ia sapu, lalu ia pel untuk menghilangkan noda-noda yang masih menempel di lantai.

Setelah selesai membersihkan kamarnya, ia mengelap keringat di dahinya dan melihat ke arah jendela. Tak terasa, matahari sudah hampir terbenam begitu ia selesai membersihkan kamarnya. Ia juga baru menyadari bahwa ia belum makan apapun sejak bangun tadi. Dompet miliknya tentu saja juga tercuri, sehingga ia tidak mempunyai akses ke uang ataupun tabungan miliknya sama sekali untuk sekarang.

Apa boleh buat. Yaji membuka lemari persediaan makanannya. Masih ada beberapa bungkus mi instan dan kopi untuk beberapa hari ke depan. Ia mulai menyalakan kompornya.

Setelah sarapan—atau bisa juga disebut makan sore—Yaji pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan melihat situasi di luar. Rasanya sudah lama sekali sejak ia hanya sekadar berjalan-jalan untuk melihat situasi sekitar di luar jam pekerjaannya.

Oh iya. Ngomong-ngomong, soal bocah itu. Di saat aku bangun tadi, dia sudah tidak ada di dalam. Apa yang terjadi padanya, ya?

Kamarku baru saja habis kecurian, jangan-jangan…

Yaji baru saja memikirkan skenario terburuk yang bisa terjadi kepada anak itu. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya. Ini bukan urusanmu. Kau seharusnya lebih memikirkan dirimu sendiri daripada orang lain di saat seperti ini, begitu gumamnya.

Srak!

Yaji terkejut seketika. Ia langsung menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Perasaanku saja, kah?

Mulai merasa tidak enak dan sepertinya sedang diikuti seseorang, Yaji pun mulai berjalan kembali menuju kamarnya. Yah, bukan seperti ia mempunyai kegiatan lain yang bisa dia lakukan di dalam kamarnya yang kosong melompong sekarang.

Akhirnya ia hanya menghabiskan harinya dengan menyeduh kopi saset. Berjam-jam, ia hanya bisa melamun sambil terkantuk-kantuk. Sekarang, bahkan tidak ada hal yang bisa mengisi kebosanannya.

Hari mulai beranjak malam. Yaji baru tersadar kalau plastik besar sampahnya belum ia buang ke luar. Dengan malas, ia mengangkat plastik sampah yang berat itu menuju pintu depan.

Baru saja ia membuka pintu, ia langsung menurunkan plastik sampah di tangannya. Ia terdiam di tepatnya berdiri untuk sejenak.

Tepat di depan pintunya, ada seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil bersandar ke dinding di belakangnya. Wajahnya memang tidak kelihatan karena ia sedang menunduk, namun Yaji langsung mengetahuinya dari pakaian yang sedang dikenakan gadis itu dan boneka beruang yang sedang dipeluk erat oleh kedua tangannya.

Dia… bocah yang kemarin?

Seketika itu juga, embusan angin malam yang menusuk tulang menghantam telak punggung Yaji yang membuatnya menggigil seketika. Ia segera menghampiri gadis itu.

Gadis itu mendengkur halus, tubuhnya terasa dingin. Mungkin gadis ini sudah menunggu cukup lama di sini, begitu pikir Yaji. Ini langsung membuatnya menjadi sedikit panik, ia langsung segera menggendong gadis itu ke dalam kamarnya untuk menghangatkan tubuhnya.

“AAAAAAH!”

Gadis itu tiba-tiba terbangun di gendongan Yaji dan langsung berteriak nyaring, mengejutkan Yaji. Ia buru-buru menurunkan gadis itu, lantas mundur selangkah. Gadis itu menatap ke arah Yaji dengan tatapan penuh ketakutan.

Beberapa detik penuh keheningan yang canggung. Yaji juga merasa kesulitan harus memulai percakapan dari mana.

Kurasa menanyainya tentang pencurian besar yang terjadi di sini mungkin tidak cocok untuk sekarang…

“Um… jadi, kenapa kau kembali lagi ke sini?”

Gadis itu tidak menjawab. Yaji menggaruk-garuk kepalanya.

“Duh, begini, ya. Kalau kau tidak berkata apa-apa, aku juga tidak bisa membantumu…”

Gadis itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, meletakkannya di hadapan Yaji—membuatnya cukup terkejut. Benda itu adalah dompet milik Yaji.

Yaji mengambil dompet itu, melihat-lihat isinya. “Ini…”

“S-saya… minta maaf…” Gadis kecil itu mulai bersujud di hadapan Yaji, badannya gemetaran.

Sebenarnya Yaji sudah hendak meluapkan amarahnya, namun ia masih menahannya dan menghela napas panjang. “Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

Gadis itu mulai mengangkat kepalanya perlahan, kini wajahnya bisa terlihat dengan jelas. Rasanya baru pertama kali ini Yaji bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas dan saksama sejak pertemuan pertama mereka kemarin.

Yaji menebak gadis itu berusia sekitar 8 tahun. Ia selalu memeluk boneka beruang miliknya itu tanpa pernah melepaskannya. Dan hal yang membuat Yaji sedikit merasa tidak nyaman adalah keberadaan kantung mata di bawah kedua mata gadis itu. Tentu saja seorang gadis seusianya yang memiliki kantung mata menandakan adanya sesuatu yang tidak beres. Namun untuk sekarang, ia mengurungkan niatnya untuk menggali lebih jauh soal itu.

“Saya… saya…. saya hanya dipaksa…”

“Hm? Dipaksa? Oleh siapa?”

Gadis itu sudah membuka mulutnya, namun ia tak bisa berkata-kata setelahnya. Tubuhnya gemetaran hebat.

Yaji menghela napas. “Ya sudah, kalau kau tidak ingin menjawabnya. Ah, rumahku barusan kecurian. Yang dicuri lumayan banyak, jadi…”

“S-soal itu…!” potong gadis itu cepat.

“Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja, kurasa aku tidak bisa membuatmu menginap di sini untuk sekarang. Kau tahu… kondisi di sini sekarang agak… Ah, iya! Bukankah kau harus segera pulang untuk sekarang? Orang tuamu pasti sedang cemas menunggumu di rumah, bukan?”

Gadis kecil itu hanya bisa membalas dengan tersenyum canggung. “A-ah, iya…”

“Benar begitu, kan? Jangan buat orang tuamu cemas, lho. Tapi maaf, kamu memang harus pulang secepatnya sekarang, kamu tidak bisa menginap di sini untuk malam ini, aku juga tidak bisa mengantarmu…”

“T-tidak apa-apa. S-saya tadi membuntut—maksud saya, bukan… Anu…”

Gadis itu semakin tergagap dalam perkataannya. Yaji juga sepertinya mulai paham soal kecurigaannya saat berjalan-jalan di luar tadi.

“A-anu… saya hanya ingin… meminta maaf… Maafkan saya… karena saya…”

“Sudah, sudah! Tidak apa-apa. Itu sudah tidak masalah lagi. Yang penting, kamu harus segera pulang sekarang. Semakin cepat semakin baik. Kau mengerti, kan?”

Gadis itu pun mengangguk pelan. Mereka berdua mulai berdiri, berjalan dengan canggung menuju pintu depan. Yaji membukakan pintu, dan gadis kecil itu melangkahkan kakinya keluar.

“S-saya sungguh minta maaf, Paman—”

“Iya, iya. Aku mengerti. Kumaafkan, kok. Sekarang, kamu cepat pulang, ya.”

Brak. Yaji menutup pintu depannya begitu saja. Ia buru-buru kembali duduk di sofa, menghela napas panjang.

Uwaaah. Akhirnya.

Yaji memainkan dompet miliknya sembari tiduran malas di atas sofa. Perasaannya lumayan bercampur aduk untuk sekarang. Saat ini, ia merasa bersalah karena mengusir gadis itu begitu saja di malam hari seperti ini. Tapi di saat yang bersamaan, bagaimanapun juga ia tetap merasa kesal terhadap gadis itu. Pertama, ia sangat yakin bahwa gadis itu sudah mengikutinya secara diam-diam dari belakang dari tadi yang membuatnya merasa tidak nyaman dan waspada. Yang kedua, fakta bahwa dompetnya bisa berada di tangan gadis kecil itu. Ini berarti tak menutup kemungkinan bahwa gadis kecil itu adalah pencuri sesungguhnya—namun, Yaji masih meragukan soal ini mengingat gelagatnya yang seperti itu, dan ia juga berpikir gadis itu tak mungkin mampu untuk membawa semua perangkat elektronik yang besar seperti itu sendirian.

Sejauh ini, Yaji memang cenderung menjauhi untuk berhubungan dengan orang lain. Ditambah dengan suasana hatinya yang sedang buruk dari pencurian yang terjadi, ia lebih memilih untuk tidak menambah masalah yang bisa memusingkan pikirannya dari berurusan dengan gadis kecil itu untuk lebih lama. Malam ini, ia benar-benar berharap untuk bisa tidur nyenyak tanpa perasaan beban apapun. Dua hari belakangan ini sudah lebih dari cukup untuk membuat stresnya memuncak.

Mungkin hanya ada satu hal yang membuatnya bingung untuk sekarang. Kalau dia memang berniat ingin mencuri, lantas mengapa ia sampai diam-diam membuntutiku untuk mengembalikan dompetku? Ia juga terlihat gemetaran tadi…

Akan tetapi, Yaji sudah terlalu malas untuk memikirkannya sekarang. Untuk urusan melaporkan ini ke pihak kepolisian, ia juga berencana untuk melakukannya keesokan harinya. Dan begitulah, Yaji pun langsung tertidur pulas di atas sofanya.

Namun, tanpa sepengetahuannya, malam ini justru adalah satu malam di mana ia seharusnya tidak menghabiskannya hanya dengan tertidur pulas.

Malam hari yang akan mengubah kehidupannya dengan drastis ke depannya. …

Keesokan harinya. Hari ini hari libur, sehingga seharusnya Yaji bisa bangun kesiangan tanpa beban. Namun, kali ini berbeda.

Tok! Tok! Tok!

Ini sudah berjalan lebih dari lima menit, dan suara itu tak kunjung berhenti. Pintu kamarnya sedang diketuk berulang kali dengan cukup keras. Yaji yang sudah separuh sadar sekarang mulai naik pitam. Di dalam hatinya, ia tak berhenti menyumpah. Ya ampun, kapan aku bisa dapat hari libur yang tenang, sih?! Ugh!

Dengan malas, ia pun berjalan menuju pintu dengan amarah yang meluap-luap. Ia membuka pintunya dengan keras.

“Siapa, sih?! Ganggu saja—”

“Maaf mengganggu. Kami dari kepolisian daerah sekitar ini.”

Mendadak, kedua mata Yaji yang masih setengah sadar kini membelalak lebar. Ia mengucek kedua matanya dengan cepat. Kini ia bisa melihat dengan jelas keberadaan dua orang berseragam kepolisian sedang berdiri di hadapannya sambil menunjukkan kartu identitas mereka.

“E-eh, ke-kepolisian? Ada apa… Ada apa ini?!” tanya Yaji dengan terpatah-patah. “Apakah ini dengan kediaman Bapak Yaji Gakari?”

“I-iya…?” jawab Yaji pelan.

“Baiklah. Kami rasa ini memang tidak sopan, akan tetapi mohon ikutlah dengan kami untuk pagi ini. Apakah Bapak memiliki suatu jadwal yang sangat mendesak untuk sekarang?”

“Eh? T-tidak juga…” Berbeda dengan gadis tadi malam, Yaji tidak bisa berbohong begitu saja di depan aparat kepolisian.

“Kalau begitu, mohon persiapkan diri Anda sekarang. Anda akan kami antar ke markas.”

Lantas salah seorang dari mereka berbalik, berjalan menuju sebuah mobil polisi yang terparkir tidak jauh dari sana. Rekannya masih menunggu di depan pintu kamar.

Yaji pun buru-buru menyiapkan dirinya seadanya. Baju apapun pasti akan lebih baik dipakai daripada piyama yang sekarang sedang ia pakai. Ia juga merapikan rambut tidurnya sekenanya, dan membasuh mukanya.

Ia pun berjalan beriringan dengan salah satu personel yang masih menunggu di depan kamarnya. Ia duduk di kursi bagian tengah mobil. Mobil pun mulai berjalan.

Sampai titik ini, Yaji masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang terjadi padanya sekarang.

Aku? Sekarang berada di dalam mobil polisi? Diantar menuju kantor polisi? Sungguh, apa-apaan semua ini?! Sialan! Aku tidak berbuat kejahatan apapun! Malah aku yang menjadi korban kejahatan…

Tunggu. Apakah kepolisian sudah tahu soal perampokan yang terjadi di kamarku? Kalau iya, mungkin saja ini menyangkut soal itu…

Dengan pemikiran seperti itu, Yaji akhirnya berhasil menenangkan dirinya di tengah perjalanan. Ia menghela napas panjang. Tenang. Semuanya akan baik-baik saja, begitu pikirnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri dalam semua ini.

Sesampainya di kantor polisi. Yaji bersama dengan dua personel polisi tadi turun dari mobil. Di dalam kantor polisi, tanpa basa-basi, kedua personel mulai bertanya-tanya kejadian pencurian yang terjadi kepadanya dua hari yang lalu. Setelah Yaji mengonfirmasinya, ia ditunjukkan dengan pelaku pencurian yang sekarang sedang mendekam di balik jeruji besi rumah tahanan. Ada beberapa pria berpakaian seperti gangster atau preman jalanan, menatap ke arah Yaji dengan tatapan sinis. Setelah itu, polisi menunjukkan barang-barang yang berhasil diamankan dari tempat kejadian perkara—di antaranya barang milik Yaji yang dicuri.

Beberapa di antaranya memiliki beberapa masalah di kondisi dan ada barang yang memang tidak ditemukan—dugaan dari pihak kepolisian bahwa kemungkinan barang itu sudah dijual atau dibawa ke tempat lain—namun Yaji tidak terlalu peduli dengan itu.

Urusan-urusan administrasi yang berlangsung di dalam kantor polisi memang merepotkan. Untuk beberapa hari ke depan, ia harus mengikuti serangkaian protokol seperti ini.

“Tapi, sungguh, Pak. Untuk semua ini, kami harus berterima kasih terhadap keberanian orang yang berani mengungkap semua ini kepada kami.” Sang Penyidik tersenyum halus.

“Hm?”

“Tapi, saya sangat menyayangkan kondisinya yang sekarang… sungguh kasihan. Dia tidak seharusnya terlibat dalam semua hal ini.”

“Eh? Apa? Siapa yang sedang Bapak bicarakan?” Yaji kebingungan dengan ‘seseorang’ yang dimaksud oleh Sang Penyidik.

“Saya rasa, Anda juga harus berterima kasih kepadanya secara langsung dalam masalah ini. Apakah Anda memiliki kesibukan setelah ini? Apabila tidak, saya bisa mengantar Anda langsung.”

Yaji hanya mengiyakan tanpa berpikir panjang. Mereka berdua pun berangkat menaiki mobil kepolisian. Mereka berdua tak saling berbicara banyak di tengah perjalanan, namun Yaji mulai merasakan firasat buruk ketika mobil mulai memasuki gerbang sebuah bangunan.

“Rumah… sakit…?” tanya Yaji dengan ragu.

“Benar,” jawab Sang Penyidik.

Setelah itu, Sang Penyidik memarkirkan mobilnya dan mereka berdua pun keluar, memasuki gedung rumah sakit. Seorang suster ikut mengantar mereka setelah Sang Penyidik memberikan beberapa keterangan di bagian administrasi rumah sakit. Firasat Yaji semakin menjadi tidak enak seiring kakinya melangkah di dalam lorong-lorong rumah sakit yang bernuansa putih dan berbau obat-obatan.

Sekarang mereka bertiga sudah sampai di depan sebuah pintu kamar.

“Kondisinya sekarang… masih belum terlalu membaik. Saya tidak merekomendasikan untuk Anda masuk sekarang, namun paling tidak Anda bisa melihat dari sini,” kata Sang Suster.

Yaji pun melangkah mendekat, lantas mendekatkan wajahnya di kaca yang terdapat pada pintu kamar. Setelah itu, ia tak mampu memalingkan wajahnya untuk beberapa saat.

Di dalam, ia melihat seorang gadis sedang duduk di ranjang rumah sakit, menatap ke arah luar jendela tepat di sebelah ranjangnya. Dari tempatnya berdiri, Yaji tidak bisa melihat mukanya dengan jelas, namun satu hal yang ia sangat yakini di dalam hatinya.

Yap. Dia adalah gadis kecil pembawa boneka yang sudah berkunjung dua kali ke rumahnya itu.

“Gadis itu berada di sana saat pencurian terjadi, benar begitu, Pak?”

“Anu… sepertinya iya…” jawab Yaji dengan setengah tidak percaya.

“Hmm… kalau begitu memang sangat disayangkan.” Sang Penyidik berhenti sejenak di tengah perkataannya. “Gadis itu sekarang sedang mengalami trauma berat. Namun di tengah kondisinya yang seperti itu, ia bahkan masih sempat untuk datang dan melapor ke markas. Mungkin kasus ini takkan terungkap apabila ia tidak melakukannya saat itu…”

Yaji membeku di tempatnya berdiri setelah mendengarnya. Ia menoleh ke arah Sang Penyidik dengan tatapan tidak percaya. Gadis itu? Ia mengalami trauma berat?

“Anu, barusan Bu Suster berbisik kepada saya, dan sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berkunjung. Mungkin lain kali. Saat itu tiba, saya akan langsung menghubungi Anda.”

Setelah beberapa kalimat penutup, akhirnya kunjungan berakhir di situ. Yaji pulang dengan kendaraan umum. Begitu sampai di kamarnya, ia langsung berbaring lemas di sofa. Ia mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan memandanginya dengan malas.

Jadi waktu itu… dia memang memberanikan dirinya untuk mengembalikan ini…

Pada akhirnya, ia bisa tertidur pulas begitu saja untuk malam itu.

Pada sebuah kesempatan, Yaji sempat mengira bahwa semuanya sudah selesai begitu saja. Namun, ujung dari kasus pencurian yang melibatkan dirinya ini ternyata berbuntut cukup panjang. Untuk beberapa hari, ia harus menghadiri pengadilan untuk memberi kesaksian dalam kasus ini. Meskipun ia memang pada dasarnya adalah pemalas, namun tetap saja ia harus melakukannya agar kelompok pencuri itu bisa diadili dengan hukuman yang setimpal. Seluruh rangkaian proses itu bisa ia lewati dengan lancar, namun ia menjadi penasaran dengan satu hal.

Ia sempat mendengar “bukti pembunuhan dan penyiksaan” di dalam ruang sidang— membuat bulu kuduknya merinding begitu mendengarnya.

Jadi mereka juga menyiksa, bahkan membunuh orang? Benak Yaji. Masalah ini menjadi lebih serius dari yang ia perkirakan, namun ia tetap mengikuti persidangan seperti biasa.

Sampai hari persidangan terakhir, hakim pun menjatuhkan pidananya kepada kelompok kriminal itu. Yaji keluar dari ruang persidangan dengan perasaan lega setelah semuanya selesai. Akhirnya aku bisa pulang ke rumah dan bermain konsolku lagi, begitu pikirnya.

“Anu, Pak.” Seseorang menepuknya dari belakang.

“Hm… iya?” Yaji menoleh ke belakang. Rupanya penyidik yang pernah bersamanya tempo hari.

“Begini… apakah Anda ada waktu luang setelah ini?”

“Iya…” jawab Yaji dengan nada kurang yakin. Apa lagi kali ini?

“Saya baru saja dapat kabar, kalau gadis itu sudah bisa dikunjungi kali ini. Anda mau menjenguknya?”

“E-eh?” Yaji setengah terkejut mendengarnya. “Sekarang juga?”

“Benar, sekarang. Saya bisa mengantar Anda.”

Yaji menelan ludah. Ia mengiyakan saja tawaran itu. Gadis itu sudah menyeretnya ke dalam banyak masalah kali ini, namun ia tetap saja penasaran dengan kondisi gadis itu sekarang. Kalau bisa, Yaji juga hendak mengajaknya mengobrol.

Pada akhirnya, mereka berdua sampai di depan kamar gadis itu. Suster membuka pintunya, dan Yaji pun melangkah masuk.

Yaji kehabisan kata-kata ketika melihat kondisi gadis itu yang terbaring di atas kasur.

Sorot matanya kelihatan mati, menatap kosong ke arah ujung kasur. Rambutnya yang panjang terurai ke mana-mana bak kurang perawatan. Sejak Yaji masuk ke dalam, gadis itu hanya bergeming di tempatnya—bahkan tak menoleh sedikitpun. Suster mulai mendekat ke arahnya, mencoba mengajaknya berinteraksi. Gadis itu baru mulai sedikit merespons setelah sekitar lima menit diajak berbicara oleh Sang Suster. Begitu gadis itu mengangkat kepalanya, ia langsung berteriak keras ketika tatapan matanya bertemu dengan Yaji.

Gadis itu tampak begitu gemetaran, beringsut menjauh di tempat tidurnya. Raut wajahnya persis seperti pertama kali ia berkunjung ke kamar Yaji, namun sekarang lebih parah. Rasanya, untuk mendekati gadis itu saja sulit untuk sekarang.

Sang Suster terus berusaha menenangkan gadis kecil itu, namun tidak terlalu membuahkan hasil. Yaji hanya mendekat satu langkah, namun gadis itu kembali berteriak.

“Anu, maaf Pak, namun sepertinya kondisinya menjadi labil lagi. Ini di luar perkiraan kami, padahal dari pagi dia sudah rileks. Saya sungguh minta maaf sekali lagi, tapi Anda bisa berkunjung untuk lain kali.”

Setelah sepatah-dua patah kalimat yang canggung, akhirnya Yaji dan Sang Penyidik keluar dari kamar itu. Tak lama kemudian, Sang Penyidik juga izin untuk meninggalkan Yaji— ada urusan yang cukup mendadak dari markasnya. Akhirnya kini tinggal Yaji sendirian yang berjalan meninggalkan rumah sakit.

Ia sama sekali tidak bisa tenang sepanjang perjalanan. Yang terjadi di kamar rumah sakit barusan terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Begitu mengingatnya, dadanya merasa sakit. Ia berhenti sejenak, meremas dadanya sendiri. Sudah berapa lama, ya? Sejak aku merasa kasihan dengan orang lain.

Hari pun berlalu dengan begitu saja. Keesokan harinya, rutinitas kembali berjalan normal seperti biasa. Yaji kembali berangkat ke kantor. Setelah pulang di sore hari, ia mengurus barang-barangnya untuk dibawa pulang dari kantor polisi. Selebihnya, tak banyak yang banyak berbeda dari hari-hari sebelumnya—kembali ke hari-harinya yang membosankan.

Meskipun begitu, sebenarnya ia merasakan suatu perubahan dalam dirinya. Selama ini, ia selalu sadar akan dirinya sendiri yang hanya berusaha hidup tenang tanpa perlu memedulikan orang lain. Namun, ia tak bisa berhenti memikirkan nasib gadis yang berada di rumah sakit itu. Sorot mata kosongnya yang ia lihat di hari itu terus terngiang-ngiang di kala Yaji melamun.

Hari-hari terus berlalu. Tak terasa lamanya, sudah sekitar satu bulan berlalu sejak ia dipanggil ke kantor polisi untuk yang pertama kalinya. Kali ini, ia mendapatkan cuti beberapa hari dari tempatnya bekerja setelah sebulan penuh perusahaannya sibuk dengan permintaan klien yang tiba-tiba saja melonjak. Tentu saja, seperti biasanya ia ingin menghabiskannya dengan bermain konsol game miliknya untuk menghilangkan stres. Namun, ia juga baru saja sadar akan sesuatu ketika hendak menyalakan konsolnya setelah sekian lama.

Oh iya, sampai sekarang aku belum berterima kasih secara langsung kepadanya, ya…

Meskipun dulunya ia merasa cukup kesal dengan keberadaan gadis itu di depan pintunya, namun ia tetap merasa harus berterima kasih atas keberanian gadis itu untuk mengembalikan dompet miliknya hari itu. Itu pasti sebuah hal yang berat untuk dilakukan, apalagi jika ia sedang dalam kondisi trauma pada saat itu.

Dengan penampilan seadanya, ia bersepeda menuju sebuah panti asuhan—ia diberitahu oleh Sang Penyidik dulunya bahwa gadis itu akan dipindahkan ke sana setelah ia keluar dari rumah sakit. Letaknya cukup jauh dari kamar kontrakannya—membuatnya tersengal dan basah kuyup oleh keringat begitu sampai. Begitu masuk, ia langsung bertemu dengan salah satu pengasuh di sana. Tanpa basa-basi, sang pengasuh langsung dengan ramah mengajak Yaji untuk masuk ke dalam. Di dalam, Yaji melihat banyak anak-anak yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Yang masih kecil cenderung bermain bersama dan berlari-larian, dan yang sudah berusia remaja lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gawai dan membantu pekerjaan sehari-hari para pengasuh.

“Anu… saya ke sini sebenarnya untuk…” tanya Yaji dengan nada ragu-ragu. “Hm?”

“Saya ke sini untuk mencari… anu… seorang gadis kecil dengan boneka… beruang? Iya, sepertinya beruang. Apakah Ibu pernah melihatnya…”

Belum selesai bertanya, namun raut wajah Sang Pengasuh berubah seketika. Yang tadinya selalu tersenyum, kini menjadi sedih.

“Oh, anak itu…”

Sang pengasuh diam sejenak. Yaji hanya bisa menunggu.

“Dia sudah kembali lagi ke rumah sakit seminggu yang lalu. Sepertinya ia memiliki masalah yang terlalu berat untuk kami atasi sekarang…”

Mendengar hal itu, tentu saja langsung membuat Yaji membulatkan matanya dan penasaran. Apa? Kenapa dia dikembalikan ke rumah sakit?

“Anak itu… saya benar-benar kasihan kepadanya. Meskipun saya dan yang lainnya sudah sering mengingatkan anak-anak yang lain, namun dia masih kerap kali menjadi bahan perundungan di sini. Semuanya menganggapnya anak yang aneh ketika melihatnya berbicara sendiri dengan boneka miliknya. Perundungan itu hanya berlanjut semakin parah, dan akhirnya tak terbendung lagi…”

“Apa yang terjadi…?”

“Anak itu… dia… berusaha bun—maksud saya… anu… mengakhiri hidupnya…” pungkas sang pengasuh sambil menutup mulutnya.

Yaji hanya bisa terkesima mendengarnya. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, namun beberapa anak kecil yang kebetulan lewat bertanya sesuatu kepada sang pengasuh soal kedatangan Yaji—membuat sang pengasuh harus kembali tersenyum dan riang di depan anak-anak, begitu pula dengan Yaji yang menjadi canggung ketika digoda oleh anak-anak.

“Maaf kalau kunjungan Anda ke sini malah membuat Anda kecewa. Kami di sini sudah berusaha sekuat yang kami bisa, namun anak itu tetap saja…”

“A-anu, anak itu sekarang berada di rumah sakit tempat dia dirawat sebelumnya, kan?” “Benar…”

“Kalau begitu, saya permisi pamit dulu, ya, Bu. Terima kasih sudah mengantar saya berkeliling di sini.” Tak ingin memperpanjang kecanggungan, Yaji memilih untuk mengakhiri pembicaraan dan keluar dari panti secepatnya.

Ia tak menyangka bahwa kondisi mental gadis itu sampai seburuk itu sejak ia dirawat di rumah sakit. Memangnya apa saja yang terjadi hingga membuatnya seperti itu, ia tak bisa berhenti memikirkannya untuk sekarang. Yaji mungkin masih belum menyadarinya untuk sekarang. Namun, dirinya sudah mulai berubah. Bila bukan karena serangkaian kejadian yang melibatkannya kali ini, ia pasti masih duduk di sofa depan televisinya, bermain konsol sepanjang hari untuk mengisi hari liburnya.

Untuk mengetahui apa yang terjadi kepada gadis itu, ia pergi menuju kantor polisi. Begitu di dalam, ia langsung meminta izin menemui Sang Penyidik yang membantunya dulu—mungkin dia tahu sesuatu soal gadis itu. Meskipun ia harus menunggu cukup lama untuk bertemu dengan Sang Penyidik karena datang dengan mendadak, ia tidak mempedulikannya.

Setelah seharian menunggu, akhirnya sudah memasuki jam pulang kerja. Yaji pun akhirnya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sang Penyidik. Meskipun harus menunggu sangat lama, ia tidak bermasalah dengan itu—lagipula ia tak punya kegiatan apapun jika ia pulang.

Mereka berdua langsung mencari sebuah tempat di sekitar kantor polisi yang jarang dilewati orang. Begitu mereka berdua sudah duduk berhadapan empat mata, Yaji pun tak perlu basa-basi dengan pembicaraannya. Ia langsung bertanya tentang informasi yang dipunyai kepolisian soal latar belakang gadis itu. Sang Penyidik langsung meresponsnya dengan menurunkan volume bicaranya.

“Apakah Anda yakin ingin mendengarnya? Saya pikir, Anda sudah terlepas dari kasus ini sepenuhnya.”

Yaji membulatkan matanya. “Apapun itu, saya akan mendengarkannya. Saya tahu kasus ini sudah diselesaikan sejak lama, namun saya merasa bahwa saya masih memiliki tanggung jawab terhadap keadaan gadis itu yang sekarang.”

Sang Penyidik menghela napas. “Baiklah jika begitu.”

Lalu Sang Penyidik pun mulai bercerita. Ia menjelaskan di awal, bahwa semua yang akan diceritakannya ini hanyalah deduksi penyelidikan dari kepolisian, dan tidak ada yang bisa diverifikasi karena tidak ada saksi lain yang berhubungan selain gadis itu—juga dari kondisi gadis itu yang sampai sekarang membuatnya sulit untuk dimintai keterangan. Yaji hanya bisa mengiyakan—karena hanya ini satu-satunya informasi yang bisa ia dapatkan untuk sekarang.

Melalui bukti-bukti yang ditemukan di TKP, kepolisian bisa menyimpulkan beberapa hal. Gadis itu memang berada dalam pengaruh dan kendali kelompok pencuri itu. Ia sama sekali tidak bisa melawan.

Latar belakang keluarga gadis itu juga cukup kelam. Berdasarkan informasi yang bisa digali dari pihak kepolisian, keluarga gadis itu sebenarnya baik-baik saja sedari dulu. Namun, ada beberapa hal yang terkesan sangat memilukan saat kepolisian menyadari kebenarannya.

Gadis itu dijual oleh kedua orang tuanya kepada kelompok pencuri itu beberapa minggu yang lalu. Belum lagi, gadis itu mendapat perlakuan yang tidak manusiawi di sana. Perwakilan dari kelompok pencuri itu mengaku, bahwa saat gadis itu sudah lebih besar maka itu tak menutup kemungkinan untuk takdir yang lebih kelam yang menanti di masa depan gadis itu.

“Ini memang sangat disayangkan. Sepertinya mereka adalah keluarga yang baik-baik saja pada awalnya, namun memang keluarga mereka terimpit masalah ekonomi yang cukup parah sehingga menyebabkan ini bisa terjadi.

“Kami tidak tahu secara detail apa saja yang ia alami selama berada di dalam lingkungan kelompok itu, tapi yang jelas gadis itu sudah menunjukkan gejala trauma yang berat. Saya juga tak lama ini juga mendengar kabar dari pihak panti asuhan tentang kondisinya, dan saya cukup menyesal bahwa saya tak bisa berbuat banyak terkait hal itu,” pungkas Sang Penyidik.

Sementara itu, Yaji hanya terus mendengarkan sambil menundukkan kepalanya. Isi hatinya hanya terus bertambah pilu seiring ia mendengarkan semua nasib buruk yang menimpa gadis itu.

“S-sebenarnya… tempo hari… gadis itu juga sempat mendatangi kediaman saya. Dia sepertinya menunggu di depan pintu kamar saya sampai kedinginan. Setelah bangun, dia hanya mengembalikan dompet milik saya dan meminta maaf… dan sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dia melakukan hal seperti itu,” jelas Yaji.

“Dia melakukan hal seperti itu?”

Yaji mengangguk.

Sang Penyidik hanya bisa tersenyum tipis. “Yah, saya dan pihak kepolisian mungkin tidak bisa tahu apa yang gadis itu pikirkan, namun ada satu hal yang jelas di mata kami. Fakta bahwa gadis itu adalah anak yang pemberani memang benar—ia adalah faktor terbesar dalam penyelesaian kasus ini. Oleh karena itu, saya pribadi juga merasa bersalah karena tidak bisa berterima kasih secara layak kepadanya dalam kondisinya yang sekarang…”

Yaji hanya bisa menelan ludahnya. Ia kehabisan kata-kata.

Beberapa saat kemudian, gawai milik Sang Penyidik tiba-tiba berbunyi. Sang Penyidik menjawabnya dalam sepatah-dua kata, lalu langsung menutupnya.

“Maaf tapi sepertinya saya harus pergi untuk sekarang. Sepertinya keluarga saya sudah menunggu di rumah. Begini, daripada Anda harus datang ke markas untuk bertanya sesuatu soal kasus ini lagi, Anda bisa menghubungi saya secara pribadi lewat nomor ini.” Sang Penyidik pun mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari tas kerjanya, dan menulis sebuah nomor telepon beserta beberapa informasi lainnya. Setelah itu, ia memberikannya kepada Yaji.

“Kalau begitu, saya permisi dulu.” Sang Penyidik pun beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan Yaji yang masih bergeming dari tempat duduknya.

Angin malam yang dingin menyadarkan Yaji dari lamunannya, mengingatkannya untuk segera pulang. Ia pun berjalan dengan malas menuju sepeda miliknya, namun entah mengapa ia merasa malas untuk bersepeda sekarang. Ia lebih memilih untuk menuntun sepedanya sambil berjalan pulang.

Di tengah perjalanan, ia terus melamun seraya menuntun sepedanya di pinggiran jalan. Matanya menatap kosong trotoar di depannya. Untung saja jalan yang ia ambil untuk pulang cukup sepi—apalagi saat malam hari—bila tidak, ia pasti sudah sering mendengar klakson kendaraan yang akan mengagetkannya dari lamunannya di tengah jalan.

Sesampainya di kamarnya, ia menatapi seluruh isi ruangannya—terutama perangkat elektronik yang dulunya sempat dicuri. Kemudian seperti biasa, ia melepas bajunya dan beranjak mandi. Namun masih sama seperti sebelumnya, ia kembali melamun lama di kamar mandi.

Selesai dari mandinya, Yaji belum bisa menyelesaikan lamunannya. Secara refleks, ia berjalan malas menuju sofa di depan televisi. Begitu melihat konsol game miliknya yang tergeletak di sana, ia mulai tersadar dari lamunannya. Ia perlahan mengambilnya dengan sedikit gemetaran.

Tes. Tes. Tes.

Tanpa sadar, Yaji sudah meneteskan air matanya. Ia juga mulai terisak perlahan. Tangisan itu tidak hanya berlangsung sebentar. Hampir beberapa jam ia habiskan untuk menangis dan merenungi apa yang sudah ia lakukan hingga saat ini, sampai pada akhirnya ia tertidur lelap karena kelelahan menangis.

Keesokan harinya, ia masih melanjutkan renungannya semalam. Ia mencemaskan kondisi gadis itu setiap saat. Setiap kali ia melihat konsol gamenya, dadanya langsung merasa sakit. Sekarang ia juga baru menyadari dengan sangat jelas, bahwa ia sudah merusak kehidupan seseorang yang lain dengan alat itu. Kali ini, ia akhirnya bisa tegas untuk berkata dalam hatinya untuk mengurungkan dirinya untuk memainkan alat itu.

Hidupmu memang sudah berantakan. Tapi paling tidak, jangan seret orang lain ke dalam ini semua, dasar tidak berguna!

Malam itu, bila saja aku bisa lebih peduli dan tidak egois… semua ini…

Untuk beberapa hari ke depannya, Yaji masih terus mencemaskan kondisi gadis itu. Terkadang, ia menjadi bingung dengan dirinya sendiri. Ia hanyalah seorang pegawai kantoran yang sering menyendiri, dan sekarang ia mencemaskan orang lain sampai seperti ini. Padahal apabila bukan karena insiden pencurian yang menimpanya kemarin, ini semua takkan terjadi.

Semakin hari, rasa bersalah itu hanya terus bertambah parah. Dalam hati, ia terus mengutuk dalam dirinya sendiri yang bersikap seperti seorang pengecut besar saat malam itu.

Sekarang saat melihat balik ke apa saja yang terjadi di malam itu,

Pada akhirnya setelah beberapa hari yang ia habiskan untuk menimbang-nimbang dan berpikir, Yaji pun sudah memutuskan. Sebuah keputusan yang tak mungkin bisa terjadi bila bukan karena semua rangkaian kejadian yang terjadi padanya hingga saat ini. Pada suatu malam, Yaji mengumpulkan segenap keberanian dan mengambil napas sebelum memasukkan sebuah nomor telepon di ponselnya. Setelah beberapa nada statis, teleponnya diangkat.

“Halo permisi, ini dengan siapa?”

“Saya Yaji, Pak Penyidik.”

“Oh, Pak Yaji! Apa kabarnya seka–”

“Bolehkan saya meminta tolong suatu hal?”

Untuk beberapa hari kemudian, Yaji akhirnya bisa mengunjungi gadis itu di rumah sakit. Dari yang ia dengar, pada akhirnya kondisi gadis itu kembali stabil lagi untuk sekarang. Yaji pun melangkah dengan cukup yakin saat memasuki ruangan gadis itu seperti kunjungan pertamanya dulu, namun hal yang sama juga terulang. Gadis itu tiba-tiba berteriak histeris dan gemetar begitu melihat sosok Yaji berada tepat di hadapannya. Kini, sepertinya ia bisa melihat sebuah pola yang sedang terjadi di sini. Benar, gadis itu masih dipenuhi oleh rasa bersalah terhadapnya.

“Nak, saya hari ini ingin berbicara denganmu—”

Seperti yang dulu juga, gadis itu malah semakin gemetaran ketika Yaji mencoba untuk mengajaknya bicara. Namun kali ini, Yaji yang akan mengambil inisiatif. Bukannya mundur, namun ia melangkah untuk semakin mendekat kepada gadis itu.

“Siapa namamu?”

Gadis kecil itu memang menjadi lebih takut dengan Yaji yang kini hanya berjarak selangkah darinya. Ia memalingkah wajahnya. Namun, Yaji pun tetap bersikeras. Ia mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Suster di belakangnya memberi isyarat kepadanya untuk berhenti, namun Yaji mengangkat sebelah tangannya, seolah berkata, biarkan aku yang menangani ini.

Gadis kecil itu masih tak berani untuk menatap Yaji secara langsung. Yaji pun menghela napas. Ia sudah memperkirakan bahwa ini akan terjadi sebelumnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa, lantas menundukkan badannya hingga lebih rendah daripada kasur gadis itu.

“Hai! Namaku Keko. Kalau namamu siapa?”

Hening sejenak. Gadis kecil itu memasang wajah kebingungan, begitu juga dengan Sang Suster. Yaji sedang memegang sebuah boneka beruang, dan berbicara sambil menggerak gerakkan boneka di tangannya. Ia sebenarnya ingin meniru seorang ventriloquist yang bisa mengisi suara untuk boneka yang sedang ia pegang, namun ia sama sekali tidak terbiasa dengan ini—meskipun sudah latihan beberapa kali sebelumnya di kamarnya. Kemudian, Yaji meraih boneka beruang milik gadis itu yang terduduk di pinggiran kasur.

“Aku? Namaku Quma—uhuk,” Yaji mencoba untuk membuat suara yang lebih melengking, namun ia langsung terbatuk. Gadis itu masih memasang wajah kebingungan, sementara Sang Suster menahan tawa. Yaji sempat mendecak pelan, aku sudah latihan untuk ini, tahu.

Yaji pun memperbaiki posisinya. Ia berdeham beberapa kali, menyiapkan pita suaranya. Ia berharap untuk bisa melanjutkan ‘pertunjukan’ kecilnya untuk sedikit lebih lama lagi.

“Kamu… punya teman, ya, Quma?”

“Oh, iya!” Yaji pun mengarahkan kedua boneka ke arah gadis itu. “Kenalkan, ini temanku, Onako. Dia gadis yang baik, lho!”

“Wah! Kalau begitu, salam kenal, ya, Onako! Aku Keko. Ngomong-ngomong, aku juga punya teman, lho!”

“Hm, siapa itu?”

“Namanya Yaji! Dia ada di—sebentar,” Yaji menggerak-gerakkan kedua boneka di tangannya, membuatnya seperti sedang melihat-lihat sekitar ruangan. “Yah, sepertinya dia sedang tidak ada di sini. Aneh, padahal tadi aku ke sini bersamanya, lho!”

“Oh, begitu kah? Aneh ya!”

Yaji berusaha untuk membuat suara tertawa dengan dua boneka itu, namun ia kembali lagi terbatuk-batuk. Kali ini, Sang Suster hanya tersenyum tipis melihat Yaji yang sedang berusaha untuk menarik perhatian gadis itu.

Setelah itu, Yaji menghentikan ‘pertunjukan’-nya. Ia mengambil minuman dari tasnya, meneguknya untuk menghentikan batuknya. Ia meletakkan boneka beruang milik gadis itu di atas kasur lalu berdiri, memakai tasnya.

“Kalau begitu, sampai nanti, ya, Onako.” Yaji pun berjalan menuju pintu kamar, meninggalkan sang gadis yang masih bingung di tempatnya. Sang Suster sedikit terkejut, dan mengikuti langkah Yaji keluar.

“Maaf, Suster, tapi saya sampai sini dulu. Saya akan kembali di lain hari.”

Hanya dengan begitu, kunjungannya hari ini di rumah sakit sudah selesai. Ia mempercepat kayuhannya saat pulang. Ia sudah menyiapkan banyak hal untuk kesempatan ini. Ia menggali banyak informasi dari berkas kepolisian yang bisa ia dapatkan dari Sang Penyidik tentang gadis itu.

Ya. Gadis itu bernama Onako. Ia selalu bersama dengan Quma, boneka beruang miliknya. Dari informasi yang bisa ia dapatkan, gadis itu memang menjadi sering berbicara sendiri dengan bonekanya semenjak orang tuanya meninggalkannya.

Yaji juga langsung mengerti setelah melihat reaksi Onako tadi. Gadis itu masih takut dengannya—kemungkinan masih merasa bersalah dari kejadian tempo hari. Bila ini terus terjadi, maka Yaji takkan pernah punya kesempatan untuk saling berkomunikasi dengannya. Mau tidak mau, ia harus berusaha untuk memenangkan hati gadis itu terlebih dahulu.

Sesampainya di kamarnya, Yaji langsung duduk di meja kerjanya, mengambil kertas dan pensil dengan cepat. Ia langsung menggurat-gurat kertasnya dengan bersemangat.

Sampai saat itu, ia sama sekali belum sadar dengan dirinya sendiri. Entah kenapa ia bisa menjadi sangat bersemangat seperti ini. Dari tadi bersepeda pulang dari rumah sakit, ia tak bisa berhenti tersenyum. Dadanya terasa buncah sekarang. Berbagai macam ide untuk ‘pertunjukan’ selanjutnya mulai bermunculan di kepalanya.

Kenapa? Padahal penampilanku yang tadi bukanlah sesuatu yang hebat. Gadis itu juga tidak tersenyum sedikitpun dari awal sampai akhir. Tapi kenapa aku bisa merasa bersemangat seperti ini?

Yaji tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Padahal, gadis itu tidak tersenyum sedikitpun dari awal sampai akhir ‘pertunjukannya’. Tapi, tetap saja—ini adalah sebuah kemajuan bagi Yaji. Gadis itu tidak berteriak dan ketakutan saja adalah sebuah kemajuan yang baik.

Terserahlah. Kemajuan adalah kemajuan. Aku harus memanfaatkan ini dengan baik.

Setelah itu, Yaji semakin sering mengunjungi Onako. Setiap kali berkunjung, ia selalu membawa boneka beruang miliknya—Keko—untuk melakukan sebuah ‘pertunjukan’ boneka sederhana dengan Quma, boneka beruang milik Onako. Untuk beberapa kunjungan pertama, reaksi Onako memang tak terlalu berbeda dari yang sebelumnya. Ia hanya diam selama pertunjukan, juga tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun, hal itu tentunya tidak langsung membuat Yaji hilang semangat. Ia terus berusaha untuk berkunjung sesering mungkin di luar jam pekerjaannya. Ia masih percaya dalam asumsinya—selama ia tidak takut denganku saat berada di dekatnya, maka pasti selalu ada kesempatan untuk mencoba.

Tak terasa, seminggu pun berlalu begitu saja. Di suatu hari, Onako akhirnya menunjukkan sedikit ekspresi. Meskipun hanya untuk sebentar, ia sempat melihat Onako tersenyum tipis setelah pertunjukan selesai. Begitu mengetahuinya, Yaji tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia hampir saja meloncat-loncat kegirangan, namun ia menahan dirinya.

“Kau menyukainya?”

Onako tampak sedikit terkejut ketika ditanya. Ia menunduk, pipinya sedikit memerah. Ia pun mengangguk perlahan.

Melihat reaksi Onako, Yaji benar-benar buncah. Ia tersenyum dengan begitu lebarnya. Hampir saja ia refleks hendak memeluk gadis itu, namun sekali lagi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukannya sekarang—lagipula, ia masih sedang dalam masa pemulihan traumanya.

Keseharian itu terus berlanjut. Rutinitas Yaji sepulang kerjanya kini sepenuhnya ia gunakan untuk memikirkan untuk ide-ide untuk ‘pertunjukan-pertunjukan’ selanjutnya. Bahkan konsol game kesayangannya sudah hampir tak pernah ia sentuh lagi.

Tak terasa, sekarang sebulan telah berlalu. Sekarang Onako sudah mulai bisa rileks saat berinteraksi dengan Yaji. Ia sudah bisa sedikit tertawa di tengah-tengah pertunjukan, mengobrol pendek, dan berterima kasih dengan malu-malu begitu selesai. Semua perkembangan ini tentunya hanya akan membuat Yaji semakin bersemangat dengan ‘pertunjukan-pertunjukan’-nya yang akan datang.

Namun, hal itu tidak berdampak baik bagi pekerjaannya. Saking asyiknya memikirkan ‘pertunjukan’ yang akan ia bawakan, banyak beban kerjanya terlalaikan. Ia mendapat berbagai komplain dari atasannya, dan akibatnya ia tak bisa berkunjung ke rumah sakit untuk beberapa hari sampai masalahnya kantornya terurus.

Ia melewatkan satu minggu kunjungannya ke rumah sakit. Begitu ia kembali, ia sempat mengintip terlebih dahulu lewat kaca di pintu kamar Onako sebelum memasukinya. Gadis itu tampak lesu sambil menatap ke luar jendela di sebelah ranjangnya, persis seperti saat Yaji pertama kali melihatnya dulu dari sudut yang sama. Begitu ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam, raut wajah gadis itu langsung berubah cerah. Ia tersenyum lebar sambil menyodorkan Quma miliknya kepada Yaji.

“Maaf, tapi mungkin setelah ini aku hanya bisa berkunjung dua kali seminggu, atau bahkan hanya sekali. Kau tahu, pekerjaanku sekarang sedang dalam masalah dan cukup sibuk, jadi…”

Seketika, raut wajah Onako kembali berubah muram. Ia juga sama sekali tidak bersemangat ketika Yaji membawakan ‘pertunjukan’-nya, tak mengucap sepatah kata pun hingga selesai. Begitu pulang, Yaji merasa bersalah dengan dirinya sendiri.

Kalau ini terus berlanjut, maka…

Yaji mengerem sepedanya dengan mendadak. Ia segera berbalik, kembali menuju rumah sakit. Sesampainya di dalam, suster sempat mengingatkan bahwa jam besuk sudah berakhir. Namun, Yaji memohon dengan serius, berkilah bahwa ini urusan yang penting. Akhirnya, suster pun mengizinkan Yaji untuk kembali bertemu dengan gadis itu—lagipula, para suster juga sudah mengenal baik sosok Yaji yang rajin berkunjung.

Ia membuka pintu kamar Onako dengan terburu-buru. Napasnya sedikit tersengal. “Onako!”

Onako menoleh dengan wajah terkejut. “P-Paman?”

Yaji meminta Sang Suster dengan halus untuk menunggu di luar sebentar. Ia kemudian duduk di lantai di hadapan Onako, lalu menunduk.

“Begini, Onako…”

Gadis itu hanya memasang wajah bingung. “Paman… ada apa…”

Yaji mengepalkan kedua tangan, menelan ludahnya. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya.

“B-bolehkah… aku mengangkatmu sebagai anak?”

Hening.

Yaji hanya menatap langit-langit dengan malas sembari bersandar di kursinya. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil mendengus kesal. Kertas ide di hadapannya sekarang bukan berisi ide dialog, dari tadi ia hanya mencoret-coret sembarang di atas kertasnya.

Aku baru saja merusaknya…

Setelah ia mengucapkan permintaan itu, wajah Onako malah berubah menjadi semakin muram dan ketakutan. Seolah ia benar-benar kembali ke dirinya yang dulu sebelum Yaji mulai mengunjunginya. Yaji pun tak mampu menahan kecanggungan situasi pada saat itu, dan langsung beranjak pulang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

“Aaaaaagh!”

Yaji! Kau sudah tahu kalau gadis itu memiliki trauma. Memang satu bulan sudah berlalu sejak saat itu, dan dia sudah mulai bisa lebih terbuka kepadaku. Namun apa yang membuatmu berpikir ia akan menerimanya begitu saja dengan senang hati? Jelas-jelas dia memiliki trauma yang dalam dengan kedua orang tuanya dulu. Serius, apa yang kau lakukan, diriku!

Kalau dilihat kembali, yang dilakukan Yaji tadi memang impulsif. Namun tetap saja, ia sudah membuat kesalahan yang besar. Bisa saja seluruh selama satu bulan ini berakhir sia-sia begitu saja. Wajah ketakutan Onako yang seperti itu, Yaji sungguh tidak kuat untuk mengingatnya kembali.

Sebenarnya, Yaji memang sudah merencanakan soal ini sejak lama. Ia sudah membicarakan soal ini dengan Sang Penyidik dulu dalam sebuah satu percakapan lewat telepon yang panjang. Ia ingin mengambil tanggung jawab terhadap nasib Onako, tentunya setelah mempertimbangkan banyak hal. Tentu saja sebelumnya ia harus memperbaiki hubungannya dengan gadis itu terlebih dahulu, baru apabila waktunya sudah tepat ia akan bertanya soal hal ini kepada gadis itu. Namun, yang ia lakukan pada saat itu jelas bukanlah waktu yang tepat. Ia sangat frustrasi akan tindakan impulsifnya saat itu.

Yaji tidak bisa berpikir jernih untuk sepanjang malam itu, ia juga tidak bisa tidur. Apabila ia berkunjung ke rumah sakit lagi, ia takut apabila Onako memang benar-benar akan kembali ke kondisi lamanya dahulu ketika bertemu dengannya. Untuk sekarang, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia memutuskan untuk menghentikan kunjungannya untuk beberapa hari ke depan, berharap agar situasi hati Onako bisa sedikit membaik dengan berjalannya waktu.

Tak terasa, seminggu telah berlalu. Sekarang Yaji kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan di malam hari. Ia tak bersemangat lagi untuk menulis dialog ‘pertunjukan’, ataupun untuk bermain game dengan konsolnya. Ia hanya bisa tiduran malas di sofanya sambil menatap lesu langit-langit kamarnya.

Kriiing. Kriiing.

Malam sudah cukup larut, namun tiba-tiba ada suara panggilan telepon dari ponsel milik Yaji. Ia sedikit terkaget, langsung bergegas untuk mengangkatnya. Ia sekilas melihat nomor sang penelepon. Dari rumah sakit? Untuk apa mereka menelepon di waktu seperti ini…

“Halo?”

“P—Paman?”

Begitu terkejutnya Yaji mendengar suara itu dari ponselnya. “Onako?!”

Hening seketika. Yaji baru sadar bahwa suaranya terlalu keras barusan. Ia mengecilkan suara bicaranya. “A-anu, maafkan aku yang tadi. Benarkah itu kamu, Onako?”

“I-iya…”

Yaji menghela napas lega. Ia memperbaiki posisi duduknya. “Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?”

“Hm-hm.” Suara Onako terdengar lemah di telepon.

“Jadi, ada urusan apa kamu meneleponku sekarang?”

“Ng… Anu…”

Yaji masih menunggu jawaban. Onako terdengar masih kesusahan untuk berbicara. “Aku… aku… minta maaf…”

“Hm?”

“Padahal… Paman sudah berusaha untukku… tapi aku malah… hiks…” Onako terdengar menangis lirih di telepon.

“Ah, tidak apa-apa, kok. Aku tidak mempermasalahkannya.”

“Di sini… aku… kesepian…” Onako semakin terisak-isak dalma tangisnya. Yaji hanya bisa mendengarkan dengan sabar, hatinya juga ikut pilu mendengar Onako yang seperti itu.

Setelah beberapa menit hening dengan suara isakan di telepon, akhirnya lumayan mereda juga.

“Jadi, Paman…”

“Iya?”

“Maukah Paman berkunjung lagi ke sini?”

Yaji mengulas senyum. “Bisa, kok. Aku akan pergi ke sana besok.”

“B-besok…? Benarkah…?”

“Hm-hm.” Yaji mengangguk-angguk dengan sendirinya.

“Te-terima kasih… Paman…”

“Sama-sama.”

Beberapa menit kemudian. Masih hening, hanya isakan lirih Onako yang masih terdengar. Tapi sepertinya sudah hampir selesai.

“Jadi, apakah masih ada yang ingin kamu katakan?”

“Mm, tidak. Aku tunggu besok, ya, Paman.”

“Baiklah. Selamat tidur.”

“Selamat tidur juga, Paman.”

Telepon ditutup. Yaji kembali berbaring di atas sofanya, menghela napas panjang. Ia senyum-senyum sendiri.

Meskipun ketakutan dan sampai menangis seperti itu, namun ia masih berani untuk meneleponku dan meminta maaf. Ya ampun, dia memang anak yang hebat.

Setelah itu, ia langsung beranjak duduk di kursi kerjanya dan mencengkeram pulpen miliknya. Ia sama sekali tidak bisa tidur malam itu.

Pagi hari, matahari baru saja mulai naik. Namun, salah seorang pekerja kantoran sudah mengayuh sepedanya dengan bersemangatnya sembari bersenandung ria.

Ya, siapa lagi kalau bukan Yaji. Ia sudah menunggu-nunggu momen ini semalaman penuh. Ia memarkir sepedanya di parkiran rumah sakit yang masih sepi, langsung bergegas menuju kamar Onako.

Klak. Yaji membuka pintu, melangkah masuk.

Onako menoleh, lantas tersenyum lebar. “Selamat pagi, Paman!”

Yaji juga membalasnya dengan tersenyum. “Selamat pagi juga, Onako.”

Yaji meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi seperti biasanya. Ia memerhatikan wajah Onako dari dekat, lalu ia menaikkan alisnya. Ia bisa melihat kantung hitam yang tipis di kedua mata Onako. “Kamu tidak tidur semalam?”

Onako hanya tersenyum tipis. “Anu, maaf… tapi aku tidak bisa tidur tadi malam…”

“Kalau begitu, kita sama, dong.” Yaji tertawa renyah. Padahal, kita berdua saling mengucap selamat tidur tadi malam, namun kami berdua juga pada akhirnya tidak bisa tidur semalaman.

Akan tetapi, meskipun semalaman suntuk ia habiskan untuk membuat dialog ‘pertunjukan’-nya, namun pada akhirnya ia sama sekali tidak bisa fokus dan tidak menulis apapun. Namun ia tidak cemas, ia sudah tahu bagaimana solusinya.

Yaji mengeluarkan Keko dari tasnya. Namun, kali ini ia tidak menyiapkan ‘pertunjukan’-nya yang seperti biasanya. Ia meletakkan Quma di tangan Onako.

“Kali ini, kamu juga akan ikut.”

“E-eh?”

“Ya. Aku akan berperan sebagai Keko, dan kamu akan berperan sebagai Quma. Bagaimana?”

Onako menjadi malu-malu dan salah tingkah untuk sejenak. “T-tapi…”

“Tidak apa-apa. Kalau aku terus yang harus memerankan keduanya, juga aneh, kan? Toh, Quma juga sudah menjadi teman dekatmu dari dulu.”

Meskipun Onako masih tampak penuh keraguan, namun pada akhirnya ia menerima ajakan Yaji. Ia memegang Quma dengan tangan kanannya, dan mencoba untuk membuat Quma ‘berbicara’.

“Bagus! Seperti itu. Keko dan Quma akan mengobrol seperti biasa saja. Tidak ada naskah atau apapun itu. Bagaimana?”

Onako kembali tampak gelisah, namun ia tetap mengangguk-ngangguk lemah.

“Baiklah. Aku mulai, ya. Halo, Quma, Onako! Apa kabar kalian berdua?” Yaji berbicara dengan nada tinggi seperti ketika saat ia memerankan Keko di akhir perkataannya.

Onako mulai mencoba untuk berbicara, namun beberapa kali ia terhenti sebelum kata-katanya keluar. Yaji juga terus menyemangati Onako tiap kali ia gagal. Perlahan tapi pasti, gadis ini pasti bisa melakukannya, benak Yaji.

H-halo, Keko… a-aku Quma…”

Onako akhirnya berhasil berbicara dengan nada lengking untuk memerankan Quma. Yaji tersenyum lebar, memberi selamat.

“Bagus! Sekarang, kamu tinggal mengobrol dengan Keko seperti biasa dengan suara seperti itu.”

Meskipun wajah Onako masih menunjukkan ekspresi yang malu-malu, namun ia juga mengulas sedikit senyum.

Tuh kan, apa yang kubilang. Kalau gadis ini, pasti dia bisa.

Satu jam berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya dunia serasa milik berdua bagi Yaji dan Onako, namun ‘pertunjukan’ mereka harus dipotong oleh kedatangan suster untuk mengantarkan sarapan Onako.

“Bagaimana? Tak terlalu buruk, bukan? Aku tahu kamu bisa melakukannya.” Onako hanya mengangguk-angguk, ia masih sibuk melahap sarapannya.

Mereka berdua hanya bercengkerama biasa. Bercanda ringan, saling tertawa, dan mengobrol soal diri mereka masing-masing sebagai Quma dan Keko. Salah satu dari mereka adalah pekerja kantoran yang benci bersosialisasi dengan orang lain, dan satunya lagi adalah gadis kecil dengan trauma yang buruk. Namun, interaksi itu bisa menjadi sebegitu serunya di antara mereka berdua.

Melihat Onako bisa tersenyum saja, itu sudah cukup bagi Yaji. Itu artinya, usahanya selama ini tidak sia-sia.

Andai saja… pada hari itu aku bisa melakukan sesuatu untuknya… semua ini…

Yaji memasukkan Keko ke dalam tasnya, beranjak berdiri. “Kalau begitu, sepertinya untuk hari ini sampai di sini dulu…”

Namun, begitu Yaji berbalik badan, tiba-tiba ia merasa kemejanya ditarik dari belakang. Ia menoleh ke belakang.

“Hm? Ada apa?”

“Jangan pergi… Paman…”

Yaji langsung refleks untuk kembali meletakkan tasnya, kembali duduk. Onako tiba tiba terisak pelan.

“Onako, ada apa? Kamu merasa tidak enak badan?”

“Jangan pergi…”

Yaji masih belum paham dengan apa yang terjadi, ia masih tidak berani untuk menyentuh Onako secara langsung. Ia malah jadi salah tingkah sendiri. “A-anu… begini…”

“Aku tidak mau… di sini. Di sini… membosankan…”

Yaji masih kesulitan mencari cara untuk menenangkannya. Ia bergegas berdiri. “Sebentar, aku akan panggilkan suster…”

“JANGAN!”

Yaji benar-benar terkejut. Onako tiba-tiba berteriak lantang di tengah tangisannya. Baru pertama kali ia mendengar Onako mengeluarkan suara sekeras itu.

“Jangan… jangan pergi…!”

“T-tapi…”

Dalam sekelebat, Onako langsung mencengkeram erat lengan Yaji dengan kedua tangan kecilnya.

“Aku ingin ikut dengan Paman!”

Yaji mematung di tempatnya untuk sejenak. Perkataan Onako barusan membuatnya kehabisan kata-kata.

“M-maksudmu?”

“Paman… sebelumnya pernah bilang, kan? Soal menjadikanku… anak… angkat…”

Yaji kembali terkejut. Ia langsung tersipu malu dan menjadi salah tingkah. “E-e-eh…! Soal itu… erm… Lupakan saja untuk sekarang—”

“Hm?” Onako mendongak, ia menatap Yaji dengan wajah penuh mengharap. Matanya yang sembab dan pipinya yang merah dan basah kini terlihat dengan jelas. “Memangnya kenapa, Paman?”

“Tidak…! Maksudku… aduh, bagaimana, ya…” Kepala Yaji tidak bisa mengikuti semua perubahan emosi yang mendadak ini. “Ternyata, kamu masih mengingatnya, ya…”

“Te-tentu saja! Aku tidak pernah lupa. Lalu… aku juga selalu… ingin meminta maaf dengan benar kepada Paman. Saat itu… aku benar-benar tidak sopan. Paman hanya bertanya kepadaku, tapi aku… aku… minta maaf…”

Mendengar perkataan Onako yang patah-patah dan kaku, Yaji hanya bisa tersenyum takzim. Ia berjongkok di hadapan Onako.

“Kamu sudah mendengar perkataanku di telepon tadi malam, bukan? Aku tidak mempermasalahkannya. Kamu tidak perlu meminta maaf untuk apapun. Kamu yang mengingat permintaanku pada hari itu saja, itu sudah membuatku bahagia. Jadi, jangan menangis. Oke?”

Yaji tanpa sadar mengelus ubun-ubun Onako dengan lembut. Setelah itu, isakan Onako perlahan mereda. Gadis itu mengelap pipinya yang basah.

“Jadi, apakah aku boleh ikut dengan Paman?”

Yaji menghentikan elusannya. “Hm? Apa?”

“… Apakah tidak boleh?”

Yaji baru saja tersadar akan sesuatu. “E-eh? Kamu… kamu serius soal itu?”

“Eng… Iya…?” jawab Onako dengan wajah sedikit bingung.

“Aku… aku tidak sedang bercanda, lho?”

“Um… iya… memang begitu, kan?”

Yaji tersentak selangkah ke belakang. Di luar dugaannya, ternyata gadis ini serius soal permintaannya saat itu. Tapi, apakah ia sungguh…

“Kamu tidak sedang menggodaku, kan?”

“Aku tidak sedang bercanda, Paman.” Wajah Onako tampak sedikit sebal. Sial. Gadis ini benar-benar serius.

Yaji memang sudah memikirkannya sejak lama dan matang-matang, namun tentu saja mendapat persetujuan yang cukup mendadak seperti membuatnya kembali berpikir soal keputusannya ini. “Tapi… sebenarnya… aku masih tidak terlalu yakin…”

“Hm?”

“Yah… kamu tahu… tempat tinggalku tidak terlalu luas dan nyaman… lalu aku mungkin kurang bisa diandalkan…” Yaji mulai secara tidak sadar mengalihkan pandangannya, pikirannya mulai ke mana-mana.

“Um… sekarang ada apa, Paman?”

“Kamu… benar-benar yakin? Mungkin kamu bisa jadi malah kecewa nantinya—” “Tidak apa-apa kok, Paman.”

Yaji terdiam seketika. Ia menatap lurus wajah Onako di hadapannya.

“Apapun itu, aku tetap ingin ikut dengan Paman. Dengan begitu, aku bisa mendengarkan Quma dan Keko mengobrol lebih sering lagi. Lalu, aku bisa bertemu dengan Paman… setiap hari. Rasanya… pasti menyenangkan.”

Tanpa sadar, Yaji sudah berlinang air mata. Ia bersegera mengelapnya.

“Anu… Paman, ada apa?”

“Eh, tidak…”

Emosi Yaji benar-benar bercampur aduk saat itu. Untuk sesaat, ia masih tidak paham mengapa ia bisa sampai menitikkan air mata seperti ini. Mengapa, hanya karena Onako menerimaku, aku bisa menjadi seperti ini?

“Paman… tidak enak badan?”

“Tidak… aku hanya sedang merasa senang.” Yaji buru-buru tersenyum lebar, berusaha untuk kembali mengendalikan emosinya. “Lebih dari itu, pokoknya aku tidak apa-apa.”

Onako memasang wajah kebingungan, membuat situasi canggung seketika. Yaji buru buru memasang senyum lebar agar tidak membuat gadis itu cemas.

“Bolehkah aku memelukmu sekarang?”

Tepat setelah mengatakan itu, Yaji juga menyadari mungkin ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah—ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan memalingkan tatapannya. “Maaf—”

“Boleh, kok!”

Yaji terkejut. Ia kembali menatap wajah Onako. Kini gadis kecil itu tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya. Yaji tidak melewatkan kesempatan ini, ia langsung memeluk Onako dengan hangat.

“Terima kasih, Onako.”

“… Paman sudah merasa lebih baik sekarang?”

Yaji melepaskan pelukannya, mengangguk-angguk. “Hm-hm. Jauh lebih baik.”

Kemudian, Yaji memegang Keko dengan tangannya. “Aku juga senang, lho! Sekarang, kita semua bisa saling bertemu bersama lebih sering lagi. Ini pasti akan menjadi semakin menyenangkan. Bukan begitu, Quma, Onako?”

Onako sempat kebingungan, namun ia langsung mengerti. Ia segera mengambil Quma miliknya. “Tentu saja! Aku sangat menantikannya!”

Mereka berdua pada akhirnya saling tertawa lepas bersamaan. Kemudian mengobrol untuk lebih lama lagi.

Selama ini, Yaji tidak sadar. Mungkin ia memang sudah banyak dipuji oleh atasannya, dan orang-orang lain di kantornya. Namun, ia tak pernah merasa senang atas semua pujian itu. Ia selalu merasa bahwa ia tak melakukan sesuatu yang spesial. Ia hanya sekadar melaksanakan hal yang ia perlu lakukan, lalu ia akan mendapatkan gajinya, dan akhirnya bermain konsol game di kamarnya untuk melepas penat.

Namun, kali ini berbeda. Yaji berusaha keras untuk mendapatkan hati Onako yang masih diselimuti oleh trauma dan kenangan buruk. Kali ini, ia tidak melakukannya karena pekerjaan. Semua perasaan bersalahnya terhadap Onako sudah membuka hatinya. Secara perlahan ia mulai mengerti, bahwa berinteraksi dan melakukan sesuatu demi kebaikan orang lain bisa menjadi menyenangkan juga. Mengurung dan menutup diri dari orang lain tidak akan mengubah apapun. Pada akhirnya, menerima pengakuan dari Onako yang seperti itu, Yaji benar-benar tidak berdaya untuk menahan luapan emosinya.

Hal yang ia dapatkan kali ini bukan sekadar pujian hambar dari orang-orang di kantornya, melainkan dari seseorang yang ia anggap penting dan berharga.

Pertama kali sejak sekian lama, ia benar-benar merasa bahagia dari lubuk hatinya.

~TO BE CONTINUED, (HOPEFULLY)~

Beberapa hari setelah itu.

Yaji sudah membulatkan tekadnya. Ia akan bertanggung jawab secara penuh atas Onako. Proses untuk mengadopsi gadis itu berjalan jauh lebih cepat dari yang dikira. Karena kondisinya yang sekarang tinggal sebatang kara dan tidak punya apa-apa, Yaji hanya perlu untuk pergi ke kantor kependudukan di daerah sekitar untuk mengurus semua perizinan dan administrasinya. Seluruh proses itu bisa selesai hanya dalam satu hari saja.

Selesai menandatangani dokumen terakhir yang harus ia urus, Yaji pun melangkah keluar dari pintu kantor kependudukan dan beranjak pulang. Sesampainya di kamarnya, ia kembali mengamati berkas-berkas yang sudah ia urus tadi. Memang, keseluruhan proses ini berjalan tanpa ikut campur oleh gadis itu sendiri. Namun, Yaji kembali teringat oleh panggilan telepon yang ia lakukan tadi pagi.

“Tapi, apakah Anda benar-benar yakin soal ini? Anak itu mungkin takkan menyukainya. Lalu… menurut saya ini semua tidaklah sesederhana itu… mengadopsi dan mengasuh seorang anak itu–”

“Ya, saya mengerti. Tapi, tidak ada pilihan lain. Saya harus melakukannya. Demi kebaikan gadis itu. Lalu…”

“Huh… baiklah kalau Anda mengerti. Juga… kondisinya sekarang–”

“Iya, saya mengerti, Pak. Saya mengerti dengan sangat jelas. Saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya dengan baik.”

Kurang lebih begitulah akhir pembicaraan Yaji dengan Sang Penyidik di telepon tadi pagi. Yaji sendiri juga menyadari bahwa ia melakukan semua ini tidak hanya untuk kebaikan gadis itu, melainkan juga untuk menebus kesalahannya kali ini. Ia tak bisa membayangkan hari-hari yang akan ia lalui ke depannya apabila ia masih terus dibayangi rasa bersalah akan kejadian ini. Ia takkan bisa tidur dengan lelap untuk setiap malamnya.

Yaji mengepalkan tangannya. Ini adalah jalan yang sudah kupilih. Aku tidak boleh ragu untuk sekarang.

Apapun yang terjadi dari sekarang, semuanya akan baik-baik saja.

Demi keegoisanku, dan juga gadis itu.


Penulis: MysticaLoof

ARCING FORWARD

Entry for Writchal #4
Theme: Unexpected Rendezvous


The summer sun glazes the plantation. The children follow up her joy. The boys, most of them, dash through the lawns. With their arms extended, they bank left and right as they traverse a column of trees in the orchard. The girls, sitting on a cloth made out of knitted flannels, fiddle with their kitty plushies surrounding the toy cooking utensils neatly stacked in the centre.

A boy’s laugh is in crescendo. She snaps her thought and turns around. Then a thud as that boy crashes, his head sinks briefly to the bottom part of her abdomen.

“Hngh.” He grunts.

The impact nudges her slightly back. It must be painful to crash into an Android. She hopes that her uniform, overlaid with an apron, soften it up enough.

The other two following him stops briefly before approaching.

“I told you, you were going too fast.” One of his friend scolds. “And you were not looking too.”

Caitlyn put her broom stick aside before grabbing the shoulders of the boy on her.

“Are you alright?” She asks.

The boy gazes back with eyes and mouth wide. From the looks of it, he doesn’t seem to be in any pain at all.

Caitlyn smiles at him. “Be careful next time.”

“U…uuh,” The boy stutters. “Yes. Yes, ma’am.” He says.

She then let go and grabs her broom stick. “Go back to your friends.”

The boy doesn’t say anything as he returns to his two buddies. All of them hot-foot it away from her.

Caitlyn sighs. She turns her gaze back to the tree she was observing. It’s a beautiful day. Perfect for her to be in the orchard. The citrus trees breathe a soothing chill amidst the searing heat. Their fruits shine bright colours rivalling the sun. She is going to pick them soon and distribute the majority to the market. It has been so far their most reliable way to make a living. Local Proxy Command would come to purchase their goods most of the time for the personnel stationed there.

“Sister Grauwelle Caitlyn!” Caitlyn tightens her shoulder in the wake of a loud female voice that flips her adrenaline switch.

She turns around to a young woman in a similar housemaid uniform as hers, marching toward her with a frowned face.

“You’ve been here for two hours and I only see a third of this orchard mopped up.”

“Uh…” Caitlyn scratches the back of her head. “Apologies, Sister Gloria.” She let the broom stick falls to her left arm as she puts her hands together in front of her. “I was about to…”

Gloria breaks her gesture as she snatches the broom stick from her.

“You know what, I’ll do it.” She grouches. “There’s a kettle of water cooking back there. Go watch that instead.” Gloria says as she begins to sweep the pile of leaves just beside Caitlyn. “God…I thought Androids are meant to ease works.” Caitlyn catches her mumble.

She takes a breath before trudging back to the mansion with her head to the ground. On a staircase leading to the terrace, she sits with her legs tight; chin on hand. Her sight is to the children on the lawn before her.

It is nearly a year since she is first activated here by the owner of this mansion. She came out of a manufacture branch whose Androids are meant for civil use. Those who are willing to afford shall incorporate them to their household. By then they would be just as citizen as their owner.

A girl sits beside her. Her chocolate hair is bundled up on the back of her head, her locks extend past her face. She wears a white headband with a bunny pin attached to its right side.

“Daydreaming again, Caitlyn?”

Caitlyn turns to her with a dissatisfied face. “I was taking a break.”

“I caught you gazing silently at that tree for fifteen minutes straight.” She says. “That seems like a daydreaming to me.”

Caitlyn sighs.

The girl is the oldest, about ten years old. And she is of the outgoing type. Enough to make friend with strangers that she just met. Just like Caitlyn.

“Well, what are you supposed to do when you are not doing anything?”

The girl giggles.

“Anyway, you are an Android, right?” She asks. “What are you daydreaming about?”

Caitlyn’s attention turns to the tree she was gazing at. It’s about two times her height. It has two main branches which splits further into five; three on one and two on the other. Its dense leaves stood out from the rest of the trees. Regardless, it bears not as much fruit compared to the adjacent ones. She attempts to recall any thought that appeared in the past several minutes. To her dismay, none showed up.

“I was thinking the tree looks nice.” She says.

“Really?” The girl beside her tilts her head. “Aren’t you just daydreaming about being a princess who wishes that a handsome prince would come and pick you up?”

Caitlyn leers at the canopy above. She didn’t actually think that she was whatever the girl described. They are fairy tale entities as far as she is aware of. And she doesn’t think herself to be that helpless as to wishing a prince would come and save her. Though it’d be sweet when that actually happens, there is no guarantee that a charming figure would definitely hook her heart.

“Probably.” Caitlyn shrugs.

The girl giggles again. “You’re funny, Caitlyn.”

She is not sure whether that’s a compliment or a ridicule. Her attitude drives a smile on her face, nevertheless. Caitlyn turns to her face again.

“Am I?” She asks.

“Cute and funny, should I say.” The girl continues her giggling whilst leaning to her. “Maybe a prince would actually come and pick you one day.”

Caitlyn chuckles. “Well…” Caitlyn jerks her head. “Maybe if it’s for the best.”

“Sister Caitlyn.” Another mature voice calls for her.

Caitlyn looks over her shoulder and finds a figure striding gently toward her.

“I thought you are supposed to mop the orchard.” She says.

“Well, about that…” Caitlyn replies, glancing toward Gloria who is harshly sweeping the leaves with the broom stick.

The woman, also in the same uniform as her, follows her glance for a brief second before taking a deep breath; striking a concerned face.

“Oh well.” She says. “Ilyavna, get a hold of your friends okay?” She raises her left hand in level with her face. On it is a handbell that she then shakes. The ringing stuns the children, nine of them. They all turn a wishful gaze toward the woman before storming the terrace. The three remains still as the children run past their left.

Caitlyn and Ilyavna stands up as soon as the last children entered the mansion.

“Alright, I got it miss Gvozdika.” Ilyavna says, gesturing toward the woman before following her friends. On her way in, she cries to everyone else not to let clumsiness arise due to their haste.

“W-what can I do, Sister Gvozdika?” Caitlyn asks her, locking her hands.

Gvozdika looks down on her for a split second. Her face is relaxed; her expression is that of pity. As if she is in despair in dealing with the youngest of her sisters.

“Someone is boiling a water kettle back there.” Gvozdika jerks her head. “You might want to make mother her green tea.”

Oh…yes…

Caitlyn recalls that it is what Gloria just asked of her.

“Yes, Sister Gvozdika. Will do.” She nods, leaning slightly forward.

Caitlyn nimbly climbs the remaining step to enter the mansion. Gvozdika comes after her.

The mansion isn’t as glamour as it sounds. It’s basically a farmhouse large enough to support as much as twenty individuals. The walls are of a bland beige. There are barely any paintings or pictures hanging to flavour them. The furniture has minimal aesthetic value. The halls are mostly empty. Each has a plant in certain corners to at least liven them a bit.

A whistling noise grows louder as Caitlyn approaches the kitchen. Fumes are spewing out of the kettle. She marches toward the stove and turns it off. Once she has the cup and its plate set, she reaches for a box in the shelves above. Inside are a bundle of teabags from which she abducts one and put it in the cup. She pours the boiled water into the cup after returning the box. The contents of the teabag diffuse; the water turn light brownish colour.

Seeing her reflection on the tea, she pauses for a while.

No…

Caitlyn shakes her head just after. “This is for mother.” She says.

She tucks in two sachets of sugar on the plate before making her way upstairs.

The room on the other side is where all the hubbub is happening. The children are in a queue, one by one making their way along a meshed table picking the meals into their plate. Ilyavna stands in the last. Gvozdika keeps the children in check.

Caitlyn slows her steps to gaze at the commotion. It is when she almost crashed with another figure hustling toward her. She turned at the right moment for her reflex to halt her. The girl she was about to crash to also stops just before her.

“Sister Giriltsa.” She says. “You almost spilled mother’s tea.”

“Well that’s a relief.” Giriltsa replies. Her face frowns after she said that. “But stop slowing me down, damn it. I got a lot of work to do.” She continues hustling past Caitlyn.

Caitlyn sighs before proceeding.

As she heads for the stairs, she catches a glimpse of her other sister washing the utensils. The housemaid shares a glance briefly with her, Gravlya. Caitlyn smiles and nods to her. But she doesn’t say anything; instead keeping up in silence.

Eventually she reaches her mother’s room on the second floor. A frail voice permits entry after some knocking. Caitlyn gently nudges the door.

A senile woman is sitting on a rocking chair. Her gaze is to the book on her lap. She only turns when Caitlyn is three steps away from her.

“Ah…my sweet Caitlyn.” She says. “Is that tea for me, dear?” The woman leans her head toward her, slightly shifting her glasses down her nose.

“Yes, mother. Allow me to put it on the table for you.” Caitlyn bends slightly before a table beside her mother and places her tea on it.

“Oh, thank you dear.” Her mother grasps her chest. “I’m not really thirsty at the moment, but you can expect that cup to be empty in about ten minutes.”

Caitlyn locks her hands as she turns to face her. “Glad to hear it, mother.”

“By the way…” The mother says steadily. “We’re going to celebrate your birthday real soon.”

“My birthday?”

“Correct.” She raises a finger toward Caitlyn. “If I remember correctly, your second year will begin next week.”

Caitlyn brings up her activation date from her memory. The date is coming exactly in a week. Her memory is fascinating for a person of her age she thought. She is grateful that her mother remembers the date of her activation. The sense of recognition, although small, hits warm. It makes her feel accepted in the household.

“So…congratulations.” Her mother gently claps her hands.

Caitlyn smiles at that response. “Thank you, mother.”

“Why don’t you sit down for a moment?” Her mother nods at an empty chair near her.

“Um…”

She is, indeed, the most caressed out of her sisters despite her being there for less than a year. From her experience, her mother likes to spend time with her. Most of the times it prevents her from doing the chores assigned. But she couldn’t make herself to deny her requests. Especially when she is her only family member that treated her like one.

“Okay.” Caitlyn sits at the empty chair.

“So,” Her mother raises her head as she opens her mouth again. “How are you doing with your sisters?”

My sisters?

Gvozdika looked down on her with despair. Gloria just yelled at her. Gravlya didn’t reply to her greetings. Giriltsa just scolded her. It’s possible that her minds are just pulling strings on her. It is however, undisputable that she is the driving factor behind her sisters’ apparent contempt.

“We’re doing fine mother.” Caitlyn forces a smile through, hoping that she doesn’t catch that. “We…got along well.”

Her mother takes a deep breath. “Oh, dear Caitlyn.” She says, reaching for her face. “I know a faked smile when I see one.” She gently rubs Caitlyn right cheek.

Caitlyn grabs her mother’s hand with both of hers. She feels its wrinkling texture. Her might is enough to cause a major fracture.

“I’m sorry, mother.” Caitlyn replies. “I couldn’t bring myself to hand over the bad news to you.”

“Don’t worry, dear. Your old woman prefers the bitter truth more than a sweet lie.” She pauses for a breath. “It’s not your fault that they behave like this. They haven’t lived a decent life lately.” The woman shrugs. “Not the one they dreamed of at least.”

The woman puts her hand down as she sets her gaze to a desk on her right. There sits a lamp and a picture of two people. One is her, the other is a man.

“Your old man dreamed of making a haven where he could protect the unfortunate children left by their parents. Even in his deathbed, this place is just as he dreamed about. Until in some time after his passing that a scheme caught us up. We were forced to pay a huge sum of money, the sum of money that we didn’t have, for something that we didn’t do.

“And without any way to pay our maidservants, they all left. Your sisters are forced to take their place ever since.”

“Was it the reason why they resent me?”

“They…” The woman pauses for a breath. “don’t really resent you dear. They just don’t like it when you add to their burden.”

Caitlyn squints. She thought of the scheme that fell on them. Who did that to them? What did they ever do to deserve that?

“Why would someone do that to us? What did we do?” Caitlyn asks.

Her mother looks down as that question hits her. She gently shakes her head. “I don’t know, dear.” She raises her head again to meet Caitlyn in the eye. “Some people can really dislike people for being…” she shrugs. “people.” The old woman takes a breath and looks out the window before opening her mouth again. “Well, what can I say? Life is unpleasant. Everything in life is not meant to be. That’s why dear, the most righteous thing you could do is to make it more pleasant for the others.”

More pleasant for the others…

Caitlyn’s mind lingers on that last part of her mother’s statement. She does add that it is the most righteous thing to do. The way she sees it, it has to be about her previous statement. So far, she has been slacking in her chores. Not once she finds herself thinking about random things all of a sudden. It shouldn’t be a problem if she keeps up with what she is doing. That is not the case. The way she revels in them interferes with her duty if not halt it entirely.

The door behind her opens. “Sister Caitlyn,” Another voice calls her. “I need you to wash the remaining dishes.”

“Yes, Sister Gravlya.” Caitlyn straightens her posture. She turns to her mother again. “I’m going to leave for the dishes, mother.”

Her mother smiles and nods.

Caitlyn marches past Gravlya who then closes the door after a small greeting with her mother.

On the sink are stacked plates and the utensils. She picks the top plate and turns on the tap before scrubbing it with a foamed sponge. All the while reflecting on what her mother said about the scheme she mentioned.

What is it that actually caught up to them? How could they let that happen?

Thinking of ways that could’ve prevented it would be a waste since there’s nothing can be done to change that. She could only strive to solve the problems she is facing. Either overcoming her slacking behaviour, or resolve the debt that burdens the household.

How am I supposed to do that?

Then a pat on her right shoulder halts her scrubbing. She looks over her shoulder and finds Ilyavna.

“I’ll help you with that.” She says, positioning herself beside her.

“Uh, you don’t have to do that.” Caitlyn replies, shaking her head.

“It’s okay, I insist.” Ilyavna nods toward the sink. “You don’t want to be yelled by your sisters again, do you?” She shuts one eye.

Caitlyn smiles. “Thank you.”

“Besides, I need to start taking responsibilities.” Ilyavna puffs her chest.

Caitlyn only nods. She is grateful to have her. The girl never fails to cheer her up even when the day is not in her favour. She wishes she have something in return for her kindness. Her brows relax as she realizes that she won’t have anything soon when she keeps on slacking on her job. She has to do something.

The next day.

Caitlyn treads under the bright sky. The road is flanked by hilly plains to the right and a wooded valley to the left. The heat turns delicate as she steps into a shade. A humongous cloud cruise overhead. All around it are thin formations like stretched cotton sheet haphazardly woven together. She let a breeze flutter her ponytail and the skirt of her uniform. A breeze that most of the times took her thought with them to a heavenly ballet far from the reaches of any lands.

“Step back, ma’am!” A Proxy extends his right arm toward her; his palm open. “Convoy is coming through.” He points his thumb to his right.

“Convoy?” Caitlyn tilts her head.

The soldier then turns to said direction. Caitlyn steps a bit closer to him, gazing at the same direction with her head extended. Her view is obstructed by the houses and the wooded area to her left. What’s evident is the rumbling noise that keeps getting louder. Until they eventually pass before her and the Proxy beside her.

An eight-wheeler with a roughly bar-shaped front compartment and a large container on its back. Caitlyn believes that is what they refer as truck. It is only slightly larger than what she is aware of. Its back end is open, revealing some more Proxies sitting inside with a bunch of other containers. A handful more of those trucks follows. She notices that most of them are vacant.

“What’s happening?” Caitlyn asks the Proxy beside her.

“Recruitment fair, ma’am.” He answers. “They’re gathering fresh troops for the war.”

War…?

“What war?” Caitlyn frowns, more of a concerned look.

“The war against the Terran Vindicators.” He nods. “The Primus have been on their edge for a long time now. And I don’t think he’ll call it a day until their reign is vanquished.”

“Why are we fighting against them?”

The soldier steals a glance to the ongoing convoy before replying.

Caitlyn follows his gaze. There’s another eight-wheeler climbing up the road. It has a different shape and seemingly more compact than the trucks. Its top is relatively flat; slightly curving at the front, meeting the bottom section of the hull which also has a curved front. What’s notable to her is the bulge on top of its hull with a flat top that has a long pole-like object sticking out of it. There are another two smaller ones perching on the bulge.

“I suggest you check the fair, ma’am. I believe the commissar there can do a better job explaining than me.”

The ground quakes harder as the soldier finishes his sentence. A vehicle emerges in front of Caitlyn. One that is roughly comparable as the previous two in size, but has such a distinct form that kept Caitlyn’s eyes wide and fixed.

It has seven wheels on each side. Unlike the other two, they are not encased in rubber tires. Instead, they are attached side by side and sewn together by what appears to be a metallic belt that circumvent the wheels as the vehicle rolls through the road. Only half of the formation is visible from the bottom up, the rest is concealed by its extended side-hull. Its overall shape is relatively rectangular with a curving on its front. It also has a similar bulge with the previous vehicle as well as a pole-like object sticking out of it. Only many times larger. The pole object even extends beyond the frontmost tip of its hull. And the bulge is not just a bulge; rather a combination of a skewed nonagon and a rectangle.

“That there is a tank, ma’am.” The solider says to her, seemingly noticing that she has her wide-open eyes directed at that vehicle. “Very lethal, when supported.”

“A tank.”

“I think you have some interest in the field. I highly recommend you visit the fair. All Androids like you are fit for the job. The splendid wages and prestige are the cherry on top of that.” The soldier says to her in a friendly tone.

“Huh…”

Another tank passes by. It hooks Caitlyn’s attention again as it climbs the road. She watches it disappear to the other side. Nothing else follows that tank.

“Guess that’s the last of it.” The solider says, stepping aside. “Sorry for the inconvenience, ma’am. You may proceed now.”

“Thank you, sir.” Caitlyn smiles and nods at him.

She has a grocery task this morning. Her mind lingers at the sight that she has just beheld. The vehicle looks surreal at first glance. But they are truly distinctive and don’t seem like it could be found parking on one side of the streets. She wants to believe she is not seeing things. Thus, she decides to head for the fair the grocery. That led to a double time. Without her realizing, she is now marching at an unusually fast pace.

Caitlyn arrives at the fair thirty minutes later. Having procured all the items in her shopping list, her left arm is occupied for holding the bag stuffed with the groceries. The town centre sees a lot of people coalescing around the military personnel in the area. A Proxy is standing in front of his tent demonstrating his rifle. A group of female personnel with a uniform similar to her are establishing a tent. Some men are seen erecting what appears to be a shooting target inside the tent. Beside them are mannequins wearing various uniforms, including the maid ones. A handful of the crowds stop by to admire their elegance.

The commotion is further amplified by a man standing on an elevated position yelling through a loudspeaker. Caitlyn gazes at him as she walks past.

“Rise o’ children of the motherland! Our enemies have once more took up arms to snatch The Primus’ blessing from us!” The man waves his arm around as he utters his words. “Are we going to let those thralls impose their superstitious views upon us!? Are we going to let the same view that once brought only bloodbath to our people return!? We shall teach them our way instead! We shall liberate them from their wretched belief! And the beacon of knowledge, the beacon of science established by The Primus himself, shall pull them out of the filth just like it once did with us! Scientia, victrix!”

The beacon of science…

The Primus employed all the scholars, teachers, thinkers, and researchers at his disposal to mass-educate the citizens once he consolidated his rule. It transforms the Artificial Creationist from a divine decree driven state into a nation with reason as the order of the day. The people are either developing a concept, or supporting the development of a concept. That is perhaps the beacon of science the man is referring to. One novelty the ArC still holds to this day is the ability to mass-produce high-quality Androids for civil and military use. Caitlyn is one of them.

The Terran Vindicators are looking to replace them with something else. The man calls it superstitious views. The country appears to have had a grim past with them. A bloody one if his words are to be taken. Perhaps that is the reason they are fighting them. If any of it rings inside her is that uniting for a cause is better than a free for all battle royale.

The man proceeds along those lines. His thundering voice is probably heard from anywhere across the small town.

A few steps back behind him is another sight that caught Caitlyn’s eyes. A female officer with a service cap. The ArC insignia shines bright in its face. Her brown hair is straight past her shoulder. There is a tiny braid behind her right ear, to which a denim ribbon is hanging. She is wearing a black double-breasted greatcoat with golden trims tightened on her waist by a silver belt; her white shirt as well as the frills and a pin attached to its collar underneath are visible. The coat has a turnback at the front that reveals her legs. For her bottoms, there are folded skirt that goes about her knee and a pair of tightened boots both of black shade.

The young woman suddenly meets Caitlyn’s gaze, seemingly noticing that she is being watched. Caitlyn immediately flinches away her face. It remains that way until she is way past her. She keeps making her way through the commotion until she finds the mesmerizing vehicle parked on one corner of the fair.

“Tanks…” She says before trotting closer.

A group of people is surrounding the area. Some are gazing at the mighty vehicle. A handful has their attention fixed to a crewman handing explanation, possibly a commander. Caitlyn approaches him, slipping amidst the townsfolk for a better view. As soon as she got the better hearing of what the crewman is saying,

“Who would like a free ride?”

A free ride…

Sounds like an opportunity for her to be in that tank thing. It has to be something to ride on those giant cars. Thus,

“Ah, yes!” The crewman responds excitedly. “You ma’am with the maid uniform. Thank you for raising your hand.” He points at Caitlyn.

“Huh?” She looks around confusingly.

Only then she realizes that she raised her hand. She just got here. The crewman’s offer is the only sentence from him that catches her ears. She hasn’t heard any explanation at all. Yet for some reason, she decides to pounce at that offer.

The crowds around shift slightly, enough for her to move.

“Uh, okay…” She jerks her head before stepping forward.

“What a fine maid to ride our tank.” The crewman says to her.

“Thanks.” Caitlyn smiles and nods.

“Allow me to keep an eye over that grocery of yours.”

Caitlyn hands over the grocery before climbing up to the driver hatch in front of the turret; the driver who had been sitting there climbed out of his hatch when she took the offer and assist her.

“Easy…” The driver says to her as she puts her legs inside. “There we go. If you wish to pop your head out of the hatch, just stand at the seat okay?”

“Okay.” Caitlyn says to him. She turns to the crowds for a brief second and is amazed at the fact that she can now see the top of everyone’s head. A fascinating sight. Everyone was pretty much taller than her a few moments ago.

“Now sit down, ma’am. We’ll drive you soon.” The driver jumps down from the tank’s hull. Caitlyn finds that odd.

“Wait, who’s going to drive?” She asks the man.

The man then slams his fist into the side hull of the tank. “Get moving, she is in place.” He says to the tank. Meanwhile his partner who is holding her grocery disperse the crowd slightly more.

“Alright, ma’am.”

Caitlyn flinches at the suddenly heard rough voice seemingly emerging out of nowhere.

“First, I want you to sit down nicely. I’m down here.” The voice says.

Caitlyn does what the voice asks of her. On her front is a control panel with series of buttons, levers, and a steer that she doesn’t understand. She quickly notices a glowing screen to her right, on the interior across her. It shows a line that wiggles continuously.

“Good, now you see me. At least, my interface.” The wiggles intensify as the voice speaks.

“You can talk?”

“I’m basically you manifesting a vehicular form.” The voice says. “Though not exactly since I’m a male, but you get my point.”

“Huh…” Caitlyn tilts her head.

“My name is Zalatovich by the way. I’m the one that’s taking you for a drive.” The tank says to her. “Now, sit tight. We’re going off.”

The engine roars as soon as he finishes that statement. The tank moves shortly after.

“Whoa.” Caitlyn exclaims as the sudden boost pushes her toward the seat.

The tank strolls for a lap through the countryside. Caitlyn pops her head out of the hatch when the vehicle stabilizes. The breeze streams against her face. A chilling stream of air under the warmth of the day. They cruise through gardens, wheat and flower fields, as well as houses. In the

distances are mountains scraping the skies. Her face is beaming at the spectacle. All appears to be oddly shorter as she gazes upon them.

“So, how do you like it?”

“All of you can move by yourself then?” Caitlyn asks him.

“There is a switch for that actually. It just happens that my commander granted me full control for this affair.”

“Can you rotate your…uh…” Caitlyn pauses. Not knowing what the term is, she continues “head?”

“It is called turret, ma’am. Yes, I can. Here…” Zalatovich raises his barrel and rotates his turret as soon as he says that.

“Woahh…” Caitlyn skips a blink. Her attention is all to the turret as it rotates.

Amazing…

Apart from its impressive stature, the vehicle also has a built-in software that could interact with the crew as well as operating it. Caitlyn realizes that she has never been this amazed in her life before. It must have been spectacular for those who get to ride them on a daily basis. Watching the enemies run as one of them barges in is probably a common sight for the crews.

Eventually Zalatovich reaches the fair again. “Consider enlisting ma’am. We shall appreciate you dearly. We’re departing in six days.”

Enlisting means she has to leave her household behind. All the problems it is suffering from won’t follow her into the war. Which sounds like an escapism from a certain view. An act of denying the reality presenting before her. An act of cowardice.

Caitlyn couldn’t stop thinking about it as she makes her way back home. The Proxy she met at the intersection claims that the salary for their service is impressive. However, she is not sure whether that is worth leaving her mother and sisters behind. Not to mention Ilyavna. Worse her death would harm them even more.

It is noon when she reaches the intersection where she saw the convoy. Two men in black suit is standing on the other end of the crossing. One of them notices her presence. She tries not to bother with them as she crosses the road. Unfortunately, they fall on her as soon as she reached the other side.

“Good afternoon, ma’am.” One of them says.

Caitlyn inches away slightly. But she doesn’t feel threatened thanks to the Proxy from before watching them. As far as she knows, he will commit non-lethal wound to those insisting agitations to citizen.

“Afternoon, sir.” Caitlyn squints as she meets the men’s faces; the sun slightly messing with her view.

“We suspect you are associated with Klara Zhel’niyya.”

Caitlyn’s eyes widen as the name is mentioned. “She is my mother.”

“Perfect.” The man snaps his fingers. “Now, please listen to me ma’am. We’d like to pay for your troubles.”

Caitlyn raises an eyebrow. “Excuse me?”

“Your family is in quite of a debt, isn’t it?”

“How do you know?” Caitlyn tilts her head.

The man smashes his palms against each other. “Well there’s no need for that.” He states that sentence quickly. “Let’s just say, you’re going to be free of that soon enough.”

“Really?”

“Of course.”

His partner hands him a pad as well as an electronic pen.

“Just sign right here.” The man shoves the pad to her.

All her problems flashes to mind as she stares at the blank white screen of the pad. She has to overcome her slacking behaviour. The household conditions already don’t favour them. She must not add to their burden.

That, or…

Paying the debt.

And now there are two men offering to do it for them. Clearly a chance to save her family.

“I don’t have a sign.”

“Just, write your name then.” The man nods.

“Okay.”

Caitlyn takes the pen and write her name on the pad. The two men then withdrew their gadgets as quickly as they pulled them out.

“Thank you for your cooperation, ma’am.” He says again. “I can assure you that you’ve made the right choice.”

They then turn around and walk away from her.

Caitlyn sighs a relief. It’ll be over soon. Their debt will be lifted. Her mother and sisters will surely be grateful for it.

“Good day, ma’am.” The Proxy guarding the intersection greets her as she continues walking by.

Back home, she finds Gvozdika on the front. It doesn’t take long until she notices Caitlyn. The young woman nonchalantly crosses her arms. Caitlyn rushes toward her.

“Where have you been?” Gvozdika asks as Caitlyn reaches her.

“I…uh…” Caitlyn rubs the back of her head. “There is a…recruitment fair.” She sinks to herself, pointing her indexes to her right.

“Recruitment fair?” Gvozdika tilts her head.

Caitlyn nods, “Yes.”

“You don’t intend of joining, do you?”

“Of course not, Sister Gvozdika.” She says, smiling hesitantly. “No way I’m interested in what they are up to.”

Gvozdika takes a deep breath. “We need that grocery for breakfast.” She shrugs. “But I guess you came just in time for lunch.”

Caitlyn hands the grocery to her per her request.

“Now sweep the lawn, Sister Caitlyn. And please…actually do it this time.”

Caitlyn presents a single nod. A short but sure gesture. She proceeds to grab a broomstick and begin doing what’s asked of her. Her shoulder light, knowing that this burden on her family will be over soon.

The day quickly turns dark. All the children are already asleep.

When Caitlyn is wiping the kitchen sink…

“CAITLYN!!!” A thundering voice calls to her.

She turns around and finds Gloria striding toward her at an unusual speed and might in each step.

“Sister Gloria.” She greets her. But she doesn’t show a sign of stopping anytime soon. The frown on her face grows ever more evident as she is closing in. Her left palm is clenching. On her right hand is a letter and an envelope.

Without a warning, she yanks Caitlyn’s uniform near the collar; her left fist tight on it.

“What have you done!?” The tone on her last word is higher than the rest.

Gravlya and Giriltsa emerges from the corners at Gloria’s yell.

“Huh…?” Caitlyn stutters. She really has no idea what she did.

Gloria casts the papers on her right hand aside and shoves Caitlyn down with both of her hands against the kitchen sink. Her back slams against the shelves while her head just hit its edge. Caitlyn dares to raises her sight. She finds before her a wrath incarnate.

Gloria hangs the letter she was carrying in front of Caitlyn’s face. Caitlyn finds a statement written as clear as the war on the horizon.

…the approval to yield the properties of Gregori Zhel’niyya to Prime Respite…

Signed, Grauwelle Caitlyn.

Caitlyn’s core sinks. It is as if she is just shot point blank with a tank’s main gun.

“You sold us out, you MUG!”

“I’m sorry, Sister Gloria.” Caitlyn pants as she utters those words. “I didn’t know it would be like this.”

How could she know? No one informed her beforehand. She really thought those two men would help without any repercussion such as written.

“Oh…right…you didn’t know.” Gloria rolls her eyes, turning around. Gravlya and Giriltsa walks closer as she does that. “Guess it’s right for me to be here then,” She turns her attention back at Caitlyn, nodding at her. “Because it’s time to teach you a lesson!”

Her harsh words are followed by a severe kick to Caitlyn’s chest.

“Aaghh!” Caitlyn presses her hands against the part where Gloria’s foot landed.

Gloria chuckles. “Good thing they installed pain receptors on you, eh?” She sweeps the back of her feet against Caitlyn’s left abdomen.

“Grrghh!” Caitlyn cowers as she strives to minimize the pain. Her body collapses sideway.

Then another kick; as powerful as a football player’s penalty. But instead of a ball, it is Caitlyn’s stomach.

“Aaahh!”

“I should’ve done this a long time ago!” Gloria yells again.

“That’s right, make her repent.” Giriltsa adds to that in a loud and flat tone.

Caitlyn pulls her legs closer. But then Gloria stomps on her right waist. She slowly raises her shaking hands at Gloria.

“P-please Sister Gloria…I’m sorry.” She stutters.

“Sorry doesn’t help us in any way.” Gloria replies. She follows it up with a kick to Caitlyn’s face.

Then another.

And another.

She thought for a moment that her sisters would appreciate her deed. How naive that thought is. How poorly that aged.

Gloria pants as she takes a step back. It appears that she is merely taking a break. It is when she hears something rolling on the kitchen sink. Caitlyn steals a peek. A dough roll is now on Gloria’s hands.

The pain starts to grow unbearable for her. She is recently activated anyway. Caitlyn eventually gives up. With her heavy breath, she musters her strength to acquire a deep one and relaxes herself. All she would do now is to cover her head. Not to minimize the pain, but to conceal the sight of what Gloria is about to do next.

“I don’t remember agreeing for you to be here…” Gloria says, slamming the dough roll to Caitlyn’s face. The crash is heard across the house.

“And so far…you only make our life harder!” The dough roll again crashes against Caitlyn’s face.

“You should just DIE!” Gloria slams Caitlyn for the third time.

Then the fourth.

And fifth.

“Hh…hghh…hh…”

Caitlyn’s body is shaking on the floor. Her arms lie flaccid before her face as she lost the strength to lift them. Gloria raises the dough roll again for another score. But that’s when a hand grabs her wrist.

“That’s enough!”

Gloria looks over her shoulder and finds Gvozdika standing firm behind her. She shakes her arm trying to break loose from her grip.

“Let…go!” She exclaims.

Gvozdika does what she says after she yanks her arm for the third time. Then Gloria shoves the letter to her sister’s face.

“You see this, Gvozdika!? She just doomed us all!”

Gvozdika grabs the letter from her. Her eyes moving left and right as she process the text.

“This place now belongs to Prime Respite, that damned corporate entity, thanks to this piece of junk!” Gloria yells again. “She destroyed what father had strived for years to create! She has to be punished! SHE HAS TO PAY!” With all her might she lifts the dough roll high just as her statement ended.

But Gvozdika is quicker. She pulls her back—the moment force enough to turn her around—and slap her face.

“I said enough!” Gvozdika’s tone shocks her sisters. It is one raised to a level never before heard by any of them. “Stand down, Sister Gloria! She doesn’t know.”

Gloria shoots a bitter glare at her.

“You are not the Gloria I know.” Gvozdika says. “Go back to your room, immediately! Whoever you are!”

Gloria sniffles. She then stomps the floor before striding away, throwing the dough roll down in the process. Gvozdika grabs it as it rolls. Her sight is turned to her other sisters when she stands up. They’re still standing there with half-lidded eyes, avoiding Gvozdika’s glance.

“You both aren’t exceptions.”

Gravlya and Giriltsa walks away like nothing happened.

Gvozdika crouches on a knee before Caitlyn once she returned the dough roll.

Caitlyn is panting as she struggles to push herself up with her feeble arms. Her chest feels heavy in addition to the pain. And she realizes that her eyes become wet as a tear trickle down to the floor.

“Sister Caitlyn,” Gvozdika grabs her left shoulder. “It’s okay…”

Her whimpering grows. Three more droplets of tear hit the floor. Gvozdika inches closer to her, positioning her face just beside her weeping sister.

“Hush…” She whispers. “It’s okay, Sister Caitlyn. It’s okay. Don’t worry.”

Caitlyn knows that she didn’t mean those words. How could selling out the entire orphanage and its orchard is okay? It is their only residence and their only way to make a living. How could one not worry about where should they live afterward? Most notably, how could she be okay should something happened to her mother when she heard of this additional burden?

Gvozdika is about to pull Caitlyn closer when she suddenly shoves herself away from her. She quickly rises on her feet before nimbly trudging away; her left arm holding her stomach. Once she is inside her room, she shut the door—locking it—and cower inside the enclosure of her blanket. There she sinks her face to her knee and let her tears run free.

Why does this have to happen? Why it has to be me? Who have I wronged? Why would anyone do this to me?

No daylight touches her for the next five days. She doesn’t bother to open the curtains. There are knocking on the door several times. She doesn’t bother to respond either. Not even when Ilyavna is behind it. Her room is on the second floor and has no balcony. Hence no one could enter without breaking a furniture or two.

Gvozdika once more stands before the door at the evening.

“Sister Caitlyn, please…open up.” She asks in her ever-gentle voice. “I want to talk to you.”

Caitlyn pulls her blanket closer. Her pain is probably nothing compared to Gvozdika’s. She is the oldest after all. Thus, being an example is mandatory for her. Being persistent in her job while keeping the household together in the face of harsh reality has probably shoved plenty if not hundreds of swords through her back. Caitlyn fears that she adds into them a single force of a giant hammer that pushes those swords even deeper. How could she face her after that?

“Caitlyn please…” Gvozdika knocks again. “It’s just between us. Please…”

At this point, Caitlyn lost count how many times she pledges. She is such a determined woman. If she couldn’t enter per Caitlyn’s consent today, she will return the next day. And it will go over and over again. So, it’s probably better to let her in now. She saved her too anyway.

Caitlyn hesitantly rises from her bed and opens the locks on the door. She then returns to her bed and cover her body with the blanket again.

The door creaks. Gvozdika gently enters the room and shut the door.

She hears her approaching her bed. Her hand reaches for the curtain. But Caitlyn grips the curtain just as she does.

“Please, don’t.”

“Isn’t it too dark for you?”

Caitlyn shakes her head.

Gvozdika proceeds to light a candle which she then puts on a desk. She pulls a chair beside Caitlyn’s bed and sit there.

“Sister Caitlyn, I appreciate that you want to change our situation for the better.”

“But I did it wrong, didn’t I?”

“Well…” Gvozdika sighs. “It is my fault. I should have told you.”

Caitlyn pulls her blanket tighter.

“Prime Respite found us shortly after we’re in debt. For years they have offered us to pay for it, in exchange for our properties. And for years, I have rejected their offer.” Gvozdika turns her attention to the walls and ceilings of Caitlyn’s room. “This mansion is father’s legacy. It is a witness to his sweat and blood. They have to get through me if they wanted to grip this place.”

“Now it belongs to them, isn’t it?”

Gvozdika flinches her head. “Sort of…”

“Sort of?” Caitlyn’s eyes widen.

Gvozdika nods. “I took this matter to court. They manipulated you to sign the deal with them. It is against the regulation. So, they aren’t allowed to touch this place for the next twelve years. In fact, they are prohibited from entering this region at all.”

Caitlyn turns slightly to her sister. “I’m not hearing things, am I?”

“No, you’re not. Being a corporation, screwing up can cost you dearly. But we have to pay them away within that timespan if we wish to keep this place. The sum is…too much given our capabilities. I am only confident in keeping this mansion.”

“I see.” Caitlyn returns her sight back to the walls before her.

Gvozdika turns away. “I’m sorry for what happened to you. I could have prevented it, but…”

“I understand, Sister Gvozdika.”

“I’ll make sure the others apologize to you. One way or another.”

Caitlyn gently nods.

“We can make it. As long as we stick together and not giving up, I believe we can.”

Caitlyn takes a moment to appreciate her. She finds comfort in her soothing voice. Turns out the way she looked down on her isn’t really genuine. She does care for her, even concerned. Maybe she was just tired when she heard Caitlyn haven’t finished her job. It felt like she is actually sick of her behaviour. But then realizing that she lacks the energy to change that, she is forced to accept it. Who can blame her after all her responsibilities?

“I will start working tomorrow.”

Gvozdika raises her attention to her. “You don’t have to. If you still need time you can-”

“I insist.”

Her words halt Gvozdika’s. A smile is her first response to that. “Very well. But take it easy, okay?”

Caitlyn nods.

“That’s all I have to say.” Gvozdika stands up. “I’ll see you tomorrow.”

Hearing the footsteps of her sister, Caitlyn twists her body. She finds Gvozdika walking back to the door. Something urges her to move. So, she rises up and trots to her.

“Sister Gvozdika…” She calls her.

In a split second after Gvozdika turns around, Caitlyn wraps her arms around her.

“Thank you. Thank you very much.”

Gvozdika rubs her hair. “Anything for my youngest sister.”

Caitlyn tightens her embrace. “I love you, Sister Gvozdika.”

Gvozdika wraps her arm around Caitlyn. She pats and rubs her back.

“We love you too, Sister Caitlyn. Don’t ever act like we don’t.”

Caitlyn doesn’t feel like letting go. The embrace is such a solace for her. She still holds the responsibility for what she did. But at least she can now be at ease with it. Deep down she wishes to be the one who pulls the swords out of her and mend her wounds.

They gently let go one minute later. Gvozdika returns to her work while Caitlyn returns to her bed as soon as she locks the door again.

Paying the debt is now out of the table apparently. There is no shortcut to that. Her option therefore is to change her behaviour. From a slack to disciplined. Who could provide better guarantee…

…than the military?

Caitlyn grips her hands. Another chance to set things right is there. The Proxies will shape her discipline into its utmost rigorous form. And if what the Proxy at the intersection meant what he said, the salary could full Prime Respite’s hands so they won’t lay it on her family’s properties. Those sweet promises however, comes at an unsettling yet obvious risk.

“Death…”

The ArC is mobilizing for a war. As far as she is aware of, people die there. A lot of them both humans and Androids. Caitlyn could no longer perceive that as dreadful as it’s supposed to be. Because it’s her only path to salvation. Besides, she is an Android. It would at least take more than what’s required to kill a human. She believes that she could get through when she does her best.

Caitlyn takes a deep breath.

She promised to Gvozdika to start working tomorrow. But she didn’t specify what work is she about to do. Moreover, the fair is scheduled to leave tomorrow as Zalatovich said.

“So be it…”

Caitlyn picks a sheet of paper and a pen in her room and begin writing a letter. Then she grabs a duffle bag and fills it with her things, mostly two set of clothing beside the uniform she is wearing. Once everyone is asleep, right at one hour before midnight, she rushes to a convenience store which opens for twenty-four hours and purchases some cooking ingredients.

Back home, she unloads her grocery and begin mixing measures of them. Her product meets its completion two hours later. A cake with chocolate icing and white frosting along its top and bottom circumference. She returns to her room and packs her bag as well as her letter. Caitlyn gently intrudes her mother’s room; finding her still asleep. She tip-toe closer and kisses her in the forehead.

“Farewell, mother.” She whispers. “I will atone for what I did. I will fix our situation.”

Once she shut the door, she heads down to the dining table and put the letter beside the cake. She then tucks a candle in the centre. A single candle that represents her age, the relative amount of time since her activation. Caitlyn takes a deep breath after covering the cake with a food cover.

“Here I go.”

Caitlyn leaves the mansion once more and rushes for where the fair was. There she boards a truck along with several people that just make it. And as dawn break on the horizon, the convoy makes their departure.

Her seat is next to the open end of the container. She watches in awe as her hometown grows ever smaller. All the while recalling what she has written in her letter.

Dear my beloved mother and sisters…

I hope you will all do fine in my absence. Don’t let it be known that contempt drove me into this, rather my love for all of you. I apologize for making the past year harder for all of you. I don’t intent for that to be. Now I’m in safe hands. The Proxies will take care of me. They will surely change me. And while that is happening, you don’t have to drag me around like you always did.

I promise that upon my return, I will be a different Caitlyn. The one who will make you proud. The one who will stand on her own feet and carry years’ worth of weight which have been sitting on your shoulder. But before that, I first have to do my duty.

To serve the ArC.

To serve The Primus.

To serve science.

Scientia, victrix.

Sincerely, Grauwelle Caitlyn.

P.S. Please take care of Ilyavna for me.


Writer: PrimDom

I miss you, My Lord ….

Entri Writchal #4
Tema: Prompt Adik Kecil


Suara sirine ambulan berdenging keras di dalam kepalaku. Menutupi suara-suara yang meminta pertolongan. Pandanganku pun kabur, tak ada yang bisa kulihat.

Yang kurasakan saat itu hanyalah … kekhawatiran seseorang pada genggaman tanganku

Kota Beta, 26 Juni 2022

Seorang mahasiswa yang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Yang konon katanya, jika ia serius, dirinya itu mampu mendapatkan nilai sempurna pada semua mata kuliah. Selain kepintarannya, dia juga memiliki fisik yang kuat. Dengan berbagai ilmu dan teknik bela diri yang dikuasainya, kejuaraan-kejuaraan yang ada sering dimenangi oleh dirinya. Tetapi semua hal itu ia tutupi demi menjalani kehidupan yang normal. ‘Tidak memiliki tekanan ataupun tuntutan dalam menjalani hidup’, itu adalah prinsip hidupnya.

Selain kelebihan itu, dia juga mampu melihat berbagai macam warna yang dikeluarkan banyak orang. Merah, biru, jingga, hijau, putih, bahkan hitam semua itu keluar dari semua orang yang ia lihat. Setiap warna menginterpretasikan sifat-sifat yang dimiliki. Pada dasarnya, warna tiap orang tidak akan pernah berubah. Akan tetapi, terkadang terdapat abu, noda, ataupun hal-hal lainnya yang sulit dijelaskan. Hal ini disebabkan karena terjadinya guncangan pada orang tersebut. Stress, benci, dendam, iri, hingga cinta, semua itu mampu mengganggu warna yang ada.

Raditya Rafat, itulah namanya. Tidak memiliki kedua orang tua. Kecelakaan bus saat keduanya pergi untuk menuntaskan pekerjaan, itu yang menjadi alasannya. Adik satu-satunya yang dimiliki pun telah direnggut oleh sesuatu yang tinggal di atas langit sana. Saat ini, dirinya hidup sendiri menduduki bangku mahasiswa universitas teknik pada semester 5. Meskipun begitu, ia tidak pernah memasangkan kesedihan pada wajahnya. Bahkan dirinya itu pun tidak pernah tersenyum ….

~***~

“Makan apa ya hari ini …,” ucap Rafat sembari berjalan-jalan mencari makanan di pinggir jalan.

Tidak ada kuliah untuk hari ini. Ujian akhir semester baru saja selesai. Pada saat itu, Rafat melihat banyak sekali warna yang terdistorsi. Hal itu disebabkan bentuk stress dan depresi yang dialami orang-orang. Meskipun tidak berdampak secara langsung saat Rafat melihatnya, tetapi tetap akan terasa pusing dan mual, sama halnya saat menaiki mobil yang terguncang-guncang.

Maka dari itu, Rafat memutuskan untuk sedikit menjauhi kampus, kurang lebih 1 minggu lamanya. Sebenarnya, memang sudah tidak ada kegiatan di dalam kampus, tetapi terkadang ada kakak tingkat atau dosen yang selalu memanggil adik tingkatnya untuk datang ke kampus. Ia akan menolak semua suruhan dan ajakan itu semua. Bermain bebas, itulah yang ia inginkan saat ini.

“MekDi sepertinya oke juga.” Dapat dikatakan bahwa Rafat ini sudah memiliki pemasukan yang pasif setiap bulannya. Koneksi yang dirinya miliki serta kemampuan bersosialisasi yang hebat membuatnya memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada pandangan kenalannya. Karena dasar kepercayaan itu, Rafat memiliki modal yang cukup fantastis dari kenalan-kenalannya itu untuk membiarkan dirinya memainkan saham. Tetapi, setelah modal itu berubah menjadi bentuk yang menggunung, para investor menarik semua modalnya itu. Dan mereka juga mulai tertarik untuk menanamkan modal yang lebih tinggi lagi. Hanya saja, Rafat menolaknya.

‘Tidak pernah mengalami kerugian’, mungkin terdengar seperti mimpi para trader. Kemampuan analisisnya sudah tidak dapat dinalar lagi. Mungkin juga banyak investor yang berbondong-bondong untuk menanamkan modalnya juga pada Rafat karena alasan tersebut. Namun, dirinya itu hanya menerima modal dari teman yang sudah meninggalkan dirinya itu.

Temannya itu menitipkan adiknya serta seluruh hartanya kepada Rafat.

Aku penasaran dengan kabar Alifha. Mungkin minggu ini aku akan mendatanginya. — pikir Rafat yang sedang mengunyah ayam goreng.

Selepasnya makan, ia berjalan kembali menuju kosnya. Sepanjang perjalanan ia melihat siswa-siswi SMP dan SMA yang sudah memulai sekolahnya kembali secara luring. “Jadi pandeminya hanya sampai sini, ya. Mungkin aku juga harus mulai memikirkan semuanya untuk ke depannya.” Meregangkan badannya dan mulai berlari sekencang mungkin menuju kosnya. “Permisi, pak.” Salamnya untuk satpam yang sedang menjaga kos tersebut.

“Hati-hati, nak! Jangan lari-lari!” seru satpam.

Sampai di kamar kosnya, dirinya itu merebahkan diri, menarik selimut, dan mulai tertidur. “Mikirnya nanti saja, saat ini lebih baik tidur.”

Kamar yang sempit, hawa udara yang mulai terasa panas sebab jam sudah menunjuk pukul tepat 12 siang. Suasana yang benar-benar sempurna untuk tidur. Rafat yang terbaring di kasurnya langsung tertidur begitu lelap. Suara jangkrik dan kicauan burung yang nyaring terdengar jelas oleh Rafat, meskipun dirinya itu sudah tertidur.

Ahh … damainya~

Tak lama setelah dirinya terjatuh dalam dunia mimpi, terdengar sebuah ketukan pintu kamar kosnya. Rafat yang mendengarnya langsung membuka mata dan menegakkan badannya. “Siapa ya?” gumam Rafat yang sedikit kesal karena tidurnya terganggu.

Suara ketukan itu terdengar lagi, “Ya, ya, sebentar.” Rafat berjalan menuju pintu dan membukanya. Silauan matahari yang terlihat setelah berada dalam ruangan yang gelap membuatnya sedikit pusing. Saat melihat ke depan, tidak ada siapa-siapa di sana.

“Halo Kak!” terdengar seperti suara anak kecil di dekatnya.

Saat Rafat melihat ke bawah, ia melihat seorang gadis dikucir juga poni panjang menutupi mata kanannya. Gadis itu juga tersenyum begitu manis kepadanya sembari mendengkap bonekanya. Dan gadis itu seperti sedang menahan tangisan.

“Umm, ada apa ya?” tanya Rafat.

“Kau! Itu adalah kau!” Wajah gadis itu semakin berseri-seri. Dan seketika gadis itu memeluk Rafat.

Di sana, Rafat hanya terbingung dengan apa yang terjadi. Gadis itu terus menerus memeluknya sembari bergumam kesenangan.

“Umm, apa kamu anak tersesat?”

Gadis itu melepaskan pelukannya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, aku benar-benar mencarimu, ‘Tuan Tidak Memiliki Warna’.”

Untuk sesaat Rafat membantu dan menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya. Tak disengaja juga ia memegangi bahu gadis itu dengan sedikit keras. Rafat terus menatap ke dalam mata gadis itu. Dan yang ia lihat adalah ‘kehampaan’.

“Kau bisa melihat warna orang, ya?” tanya Rafat.

“Betul sekali!” Menjawabnya dengan penuh riang meskipun Rafat masih memegangi bahunya dengan begitu keras. “Aaa—” Reflek gadis itu seperti berteriak kesakitan tetapi mulutnya langsung ia tutup.

“Ah, maafkan aku.” Rafat melepaskan bahunya. “Lalu apa yang kau inginkan?”

Entah kenapa warna gadis kecil ini terasa sangat tidak jelas. Seperti kosong menuju kehampaan — pikir Rafat sembari terus menerus melihat lebih dalam warnanya.

“Aku ingin tinggal bersama dan mengabdi kepada kakak!”

“Eh?” — Rafat yang sedang serius tiba-tiba memasang wajah bingung yang datar — “, tolong ulangi lagi ….”

“Aku ingin tinggal bersama dan mengabdi kepada kakak!” dengan wajah riang yang sama seperti sebelumnya.

“Tu—Tunggu dulu! Apa maksud dari ‘mengabdi’ ini? Dan kenapa tinggal bersama?”

“Karena aku diciptakan untuk selalu berada di sisi Tuan.” Menjawabnya dengan wajah yang serius.

“Tuan? Aku tidak paham … Tunggu, apa kamu berpikir jika aku adalah reinkarnasi dari Tuanmu itu?”

Gadis kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ibuku berkata, manusia yang tidak memiliki warna sama sekali adalah Tuanku. Dan dia hanyalah satu … anda, Tuanku.” Gadis kecil itu langsung membungkuk dan menekukkan lututnya. Poni gadis itu terkibas angin, yang Rafat lihat adalah mata kanannya terlihat sangat hitam.

“Tolong perlihatkan mata kananmu,” dengan spontan Rafat menyuruhnya.

“Tapi, Tuan ….”

“Tidak apa-apa.”

Gadis itu menggerakkan tangan untuk mengangkat poninya. Seperti yang tadi Rafat lihat, matanya itu hitam.

“Saat aku diciptakan, aku tidak memiliki mata sama sekali. Ibuku mengajariku untuk memanfaatkan keempat indra yang lain. Namun satu ketika, Ibu menyuruhku untuk memasangkan sesuatu kepada mataku. Tanpa ku ketahui, aku tiba-tiba bisa melihat ….” Penjelasan secara singkat dari sang gadis tersebut.

Untuk sekian lamanya, Rafat kembali terkejut saat melihat gadis kecil itu. Ia membatu untuk memproses semua yang dilihatnya tadi. Karena dia sendiri sudah terlalu capek, dia membiarkan gadis itu untuk tinggal bersamanya.

“Ya sudahlah, kau boleh tinggal bersamaku.”

“Terima kasih, Tuanku.”

“Tolong hentikan panggilan ‘Tuan’ itu. Panggil saja aku dengan ‘Kakak’, seperti saat kamu pertama kali memanggilku.”

“Baik kak! Hehe.” Gadis itu memajang wajahnya yang sangat berseri.

Bagi Rafat, tinggal bersama orang lain bahkan orang asing merupakan masalah baginya. Hanya saja, dirinya itu merasa bahwa harus menerima gadis itu.

“Siapa namamu?”

“Tolong beri aku nama, Kakak!”

Dia terkejut untuk sekali lagi, “Ibumu tidak memberi— ah, ya sudahlah. Kalau begitu, saat ini namamu adalah Evalina. Kupanggil Eva. Bagaimana?”

“Evalina … Eva … Nama yang cantik, Tu—Kakak! Hehe.”

Rafat menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamar kosnya.

Mungkin aku harus meminta izin kepada pemilik kos. Lebih baik aku menggunakan alasan bahwa dia adalah adikku saja.

“Maaf jika kamar ini sempit. Oh ya, apa kamu sudah makan? Apa yang kamu suka?” tanya Rafat.

“Tinggal bersama kakak saja sudah merupakan kebahagiaan bagi Eva. Makanan, apapun yang kakak berikan, Eva menyukainya.”

Mendengar ucapan itu, Rafat seperti teringat sesuatu. ‘Déjà vu’ itulah yang dirinya rasakan saat ini.

Aku seperti pernah mendengar perkataan itu. Tapi entah di mana.

~***~

Kota Deutyerdaf, 10 Agustus 1918

Akhir dari Perang Dunia I sudah mulai terlihat. Langit mulai terlihat membiru kembali. Tawa riang dan kesenangan mulai menular satu sama lain antar korban perang. Tangis dan duka akan keluarga yang meninggal mulai luruh sedikit demi sedikit. Di sepanjang jalan, semua orang mulai membangun kembali rumahnya. Tidak hanya sendiri, orang-orang silih membantu satu sama lainnya. Noda pada warna mereka mulai terhapus. Warna yang timbul pun kian terlihat jelas.

“Tuan, ini bunganya!” seorang gadis kecil menyebarkan bunga tulip. Orang-orang menerimanya dengan senyuman yang luar biasa ceria.

Tulip ya ….

“Apa perlu, Tuan?” seorang pelayan mengulurkan tangannya, menawarkan tangannya untuk membawa bunga itu.

“Tidak perlu, biar aku saja yang memegangnya.”

Wangi. — Dia menghirup bunga itu untuk waktu yang lama. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya.

“Akhirnya kita sampai.” Sebuah rumah besar yang sudah bobrok. Terlihat bekas bakaran dan juga lantai yang retak-retak. Dengan santainya, mereka berdua menginjak-injak lantainya, seperti sedang mengecek sesuatu.

“Di sini, Tuan.” Pelayannya itu memberitahu Tuannya.

“Tolong angkat penghalangnya,” perintah sang Tuan.

“Baik, Tuan.” Meskipun fisiknya yang terlihat seperti sudah tua, sang pelayan sebenarnya memiliki kemampuan fisik yang lumayan kuat.

Setelah mengangkat penghalang tersebut, terlihat sebuah tangga menuju ke bawah dengan ujungnya yang sangat gelap. Pelayan itu berusaha untuk menyalakan sumber cahaya yang dimilikinya. Tetapi Tuannya menghentikannya, “Tidak perlu.” Sang pelayan pun mendudukkan kepalanya.

Pria itu berjalan menyusuri tangga-tangga menuju dalamnya kegelapan dan diikuti oleh pelayannya. Sang pelayan sadar bahwa dirinya saat ini sedang berada di dalam saluran pembuangan, tetapi ia tidak mengeluh dengan bau yang ada. Tak lama di sana, mereka sampai di sebuah tempat dengan sebuah pintu yang diterangi oleh dua buah lampu.

“Tolong jubahku dan topengnya. Kau juga gunakan topengmu.”

“Baik, Tuan.”

Tuannya tersebut menggunakan topeng berwarna putih terang tak bermotif dan jubah berwarna hijau gelap. Hal itu menandakan bahwa dirinya adalah salah satu petinggi di bidang militer. Yaratsch, itulah namanya. Dia adalah seorang komandan divisi strategi militer paling jenius di benua Eropa. Meskpiun begitu, ia tidak terkenal sama sekali. Ia hanya mendapatkan kehormatan yang layak dari negaranya untuk menjalani sisa hidupnya dengan damai.

“Rafael, kenapa kamu menggunakan topeng itu?” Yaratsch bertanya ke pelayannya itu.

“Karena … lucu?” Pelayannya itu menggunakan topeng dengan bentuknya yang persis seperti wajah rubah. Bahkan ia juga melakukan beberapa posenya.

“Terserah saja. Tolong jangan lakukan apapun, sebelum aku memerintah.”

“Baik, Tuan.”

Yaratsch mendorong pintu dengan salah satu lengannya dan di dalamnya terlihat sebuah cahaya yang begitu terang. Ruangan yang megah dan luas, kesannya seperti sebuah tempat yang mirip seperti aula konser orkestra. Debu-debu di sana terasa sangat halus dan juga hangat. Di sana sudah banyak orang yang datang menggunakan jubah dengan warna dan arti yang berbeda.

Saat Yaratsch memasuki aula itu dan menapakkan kakinya selangkah, pandangan semua orang langsung tertuju padanya. Suara sepatunya yang khas nan gagah itu terdengar menggema di aula. Keributan pun menjadi hening seketika. Orang-orang mulai berbisik membicarakan dirinya.

Berjalan menuju kursi paling depan. Yang lainnya mulai terkejut lagi karena dengan jubah warna seperti itu bukannya duduk di kursi VIP melainkan kursi tamu. “Rafael,” Yaratsch memanggil pelayannya.

“Ya?”

“Tolong kondisikan situasinya dan sebisa mungkin jangan terlalu berlebihan.”

“Baik, Tuan.”

Yaratsch duduk, sedangkan Rafael berdiri dan menghadap ke seluruh tamu. “Sshhh ….” Rafael menyuruh mereka semua untuk diam. Tidak hanya itu, Rafael juga memancarkan aura intimidasi dari sekujur tubuhnya terutama pandangan tajamnya. Tamu lain gemetar setelah melihat mata Rafael. Tatapannya itu sangat horor.

Tak lama dari sana, acara pun dimulai. “Salam sejahtera, salam hormat untuk seluruh hadirin yang sudah datang kemari.” Basa-basi dari sang pembawa acara mulai terdengar.

Singkatnya, di sini adalah tempat di mana semua barang itu dilelang. Tidak hanya barang, bahkan ….

“Oh … sandera perang pun ada,” gumam para tamu.

Mereka melakukan lelang dengan kelipatan 50 Dalc. Tidak hanya barang antik ataupun rampasan perang, di sini pun ada sandera, mantan budak, hingga subjek penelitian — pikir Yaratsch sembari mengamati semuanya.

Seluruh manusia yang dilelang di sana ditelanjangi agar para tamu bisa melihat spesifikasi yang ada.

Ternyata banyak juga sandera mantan bangsawan di sini dan yang membelinya … Aku dapat menebaknya — Yaratsch memandangi Rafael dan memberikan sebuah kode hanya dengan tatapannya. Ia meminta Rafael untuk menyelidiki semua orang yang membeli para mantan sandera dan bangsawan.

Rafael pun menggunakan alat komunikasi jarak jauh yang tersembunyi untuk berkomunikasi dengan rekannya yang di luar. Rekan yang di luarnya menggunakan teknologi saat itu untuk mengidentifikasi para pemenang lelang dari frekuensi suaranya.

“Tuan, apa yang akan anda lakukan untuk selanjutnya?”

“Beritahu pada Alpha-1 dan juga regu Beta-3 … Bunuh mereka semua.”

Code:11912-L.” Rafael menyampaikan pesannya lagi.

Tujuan Yaratsch di sini adalah untuk menyelamatkan para sandera perang yang ada. Hal itu dibutuhkan untuk memenuhi perjanjian perdamaian. Namun, Yaratsch berpikir untuk menembak dua burung dengan satu anak panahnya. Ia berniat untuk menumpas segala macam tindak kejahatan lainnya. Perbudakan, penggelapan dana, korupsi, pasar gelap, hingga perampokan, semuanya itu akan Yaratsch tumpas.

Semuanya berjalan begitu lancar, tidak ada objek yang benar-benar tidak memiliki tawaran. Hanya saja, semuanya sedikit terhenti saat mencapai objek terakhir.

“Dia adalah subjek penelitian dari Adam’s Project: Hawa. Mungkin tidak sempurna seperti yang lainnya, tetapi kami akan tetap membuka harga untuk dirinya. Kami mulai dari 0 Dalc,” ucap pembawa acara.

Gadis kecil dengan rambut hitam terang yang pendek. Tubuhnya sangat tidak berisi, seperti baru saja melalui banyaknya siksaan dan tidak diberi makan sama sekali. Matanya pun ditutupi oleh perban. Rantai panjang dan besar yang mengikat leher dan kedua tangannya. Kondisi yang benar-benar ironis.

Adam’s Project, ya. Tak kusangka mereka memiliki subjek itu di sini. Mungkin mereka berucap tidak sempurna, sepertinya mereka keliru — Yaratsch memiliki kemampuan untuk melihat bahkan membedakan seseorang berdasarkan warna yang dilihatnya. Dapat dikatakan, itu adalah bakatnya.

Penjelasan singkat, Adam’s Project adalah proyek yang dilakukan oleh banyak ilmuan negara di benua Eropa. Rasa keingintahuan yang luas terhadap alam semesta menjadi alasan dari proyek ini. Para ilmuan melakukan penelitian terhadap sub-Dimensi yang ada pada sampel DNA manusia purba. Mereka melakukan transplatasi dengan berbagai makhluk hidup untuk membandingkan hingga melihat masa lalu dari makhluk hidup tersebut. Namun sayangnya, beberapa dari mereka memanfaatkan hal ini untuk menciptakan manusia buatan, Homunculus.

“Kami buka untuk 3 menit,” pengumuman dari pembawa acara.

Sudah pasti mereka semua tidak akan ada yang ingin mengambilnya. Mungkin aku harus merelakan yang satu ini — saat Yaratsch berpikir seperti itu. Entah kenapa ia tidak bisa melihat warna dari gadis kecil itu.

Aku tidak bisa melihat warnanya! Bukan karena dia tidak memiliki mata … Hanya saja aku seperti sedang berhadapan dengan seorang mayat.

Para tamu bersorak untuk menyuruh para panitia membukakan perban pada matanya, “Bukakan perbannya!”, “Jangan ada sehelai kain pada barang lelang! Apa kalian berniat menipu kami?!”

Tentu saja mereka berniat menipu kalian, karena dia pasti tidak memiliki bola mata.

Gadis kecil itu menggerakkan kepalanya dan seolah-olah sedang menatap Yaratsch. Sorot lampu yang menerangi tubuh kecil telanjang itu tidak bisa mengalihkan pandangan Yaratsch. Sejak saat itu, Yaratsch memiliki pikiran bahwa gadis kecil itu bukanlah subjek tidak sempurna bahkan gagal. Gadis itu adalah subjek sempurna tanpa cacat sedikitpun. Dia adalah subjek yang berhasil menarik jiwa Hawa, pasangan hidup Adam. Lubang hitam pada wajahnya itu bukanlah menggambarkan kekosongan, Yaratsch berhasil melihat sesuatu. Ia melihat kekecewaan dan juga kesedihan sang Hawa.

Kesedihan akan sikap cucu-cucunya yang berperilaku seperti iblis penuh nafsu dan juga serakah. Mereka melempari gadis kecil itu dengan kata-kata kasar dan tak senonoh.

“Rafael.” Yaratsch bangun dari posisi duduknya dan memanggil pelayannya.

“Ya, Tuan?”

“Perintah seluruh regu, alihkan seluruh perintah ke Code: R-54 — sisakan para sandera dan budak. Dan ikuti aku.”

Rafael yang mendengarnya terkejut setelah Tuannya menyuarakan perintah tersebut. “Baik, Tuan.” Rafael mengikuti Tuannya itu yang sedang berjalan mendekati panggung tersebut.

Jika objek lelang tidak ada yang membeli, maka akan dihancurkan … kan? — Yaratsch sudah menyadarinya. Seorang penembak jitu dibalik bayang-bayang gelap di ujung panggung sudah menodongkan senjatanya kepada gadis kecil itu. Dengan memerintahkan Rafael untuk mengurus penembak itu, dirinya bisa mendekati sang gadis dengan leluasa.

Di atas panggung, Yaratsch berdiri tepat di depan gadis itu. Jubah hijau gelapnya itu menutupi cahaya yang sedang menyoroti gadis kecil. Di dalam bayangannya sendiri, Yaratsch melontarkan sebuah pertanyaan kepada sang gadis kecil, “Apakah kau ingin hidup?”

Gadis itu tidak menggerakkan tubuhnya, bahkan mulutnya pun tak kuasa untuk mengucap. Namun, Yaratsch sadar akan sesuatu. Pertanyaan yang ia lontar, memicu warna gadis itu. Warna kuning yang tipis samar-samar keluar dari wajahnya. Tersirat, gadis itu ingin menangis tetapi tidak bisa.

“Aku akan mengambil gadis ini! 200 Dalc. Sekaligus biaya ganti rugi senjata yang sudah dirusak oleh pelayanku di sana. Ayo kita kembali, Rafael.” Yaratsch menghancurkan rantai dan menutupi tubuh gadis kecil dengan jubah hijaunya. Dia juga memberikan uang 200 Dalc secara langsung pada penjualnya. “Aku sarankan kau dan kalian penyelenggara segera keluar dari sini. Terima kasih.” Yaratsch memberi hormat dan juga peringatan kepadanya, dilanjut dengan berjalan keluar ke arah jalan yang sama saat mereka masuk.

“Rafael, berapa regu yang siap?”

“10 regu, Tuan.”

“Kerahkan semuanya, selamatkan para budak dan sandera, dan bunuh semua babi-babi tidak tahu adab itu.”

Rafael beserta regu dan anggota lainnya di pintu keluar mulai masuk kembali ke dalam. Pembantaian terjadi secara brutal. Kejadian dan kasus itu diingat sebagai Blood Auction Festival. Petinggi lainnya menutup mata dan telinga mereka karena tak ingin berurusan dengan Yaratsch. Maka, tidak ada yang mampu menyentuh sang gadis kecil jika sudah berada di tangan Yaratsch.

Sesampainya di kediaman Yaratsch, “Kau, katakan namamu siapa?” Yaratsch menanyakan hal tersebut kepada gadis kecil itu. Hanya saja, sang gadis hanya menggerakkan kepalanya kiri dan kanan seperti sedang mengamati sesuatu. “Hei, katakan nam— ah, mungkin begitu, ya. Tunggu sebentar.” Yaratsch pergi menuju dapur untuk mengambilkan segelas air. “Minumlah.”

Tangan sang gadis masih gemetar karena tak memiliki tenaga sama sekali untuk melakukan sesuatu. Terpaksa Yaratsch yang menyuapinya. Tak hanya minum, dirinya juga memberikannya makanan. “Tenang saja, kau tidak akan mengalami hal buruk lagi di sini.”

“Te … ri … ma kasih,” ucap gadis itu secara pelan dan lemas.

“Makan saja dulu, aku akan kembali lagi.” Saat Yaratsch bangkit dari duduknya, gadis kecil itu memegangi pakaian Yaratsch. Wajah gadis itu seperti meminta agar Yaratsch untuk tidak pergi.

Trauma berat, ya ….

“Baiklah, aku akan menemanimu hingga selesai makan. Pelan-pelan saja.”

Untuk pertama kalinya, Yaratsch tersenyum hanya karena melihat gadis itu. Bahkan pelayannya, Rafael, terkejut dan turut senang melihat Tuannya tersenyum. Rafael datang menghampiri Yaratsch, “Kamar untuknya sudah saya siapkan, Tuan.” Suara Rafael terdengar oleh sang gadis kecil dan membuatnya sedikit ketakutan.

“Terima kasih, Rafael,” ucap Yaratsch. “Tidak apa-apa, dia adalah temanku. Kau juga bisa meminta tolong kepadanya nanti.” Hanya dengan anggukan kepalanya, Yaratsch paham dengan maksud sang gadis kecil. “Setelah makan, aku akan mengantarmu ke kamar.”

Setelah Yaratsch berhasil menidurkan gadis itu, ia berbincang dengan Rafael.

“Tuan, bukankah lebih baik Anda memberi anak itu nama?” saran Rafael.

Yaratsch duduk di kursi halaman depan, menatapi bintang-bintang di langit. “Sudah lama aku tidak melihat bintang. Bintang ….” Seketika sebuah nama terlintas pada pikiran Yaratsch. “Rafael, aku sudah tahu nama yang akan kuberikan.”

Rafael membungkukkan badannya, “Ya, Tuan?”

“Mulai sekarang, aku akan mengangkat anak itu dan kuberi nama ‘Eva’, Carina Eva. Bagaimana?”

“Nama yang indah, Tuan.” Rafael melihat Tuannya tersenyum dan tertawa begitu lebar. Momen itu sangatlah langka.

~***~

Kembali pada saat jaman sekarang.

Kota Beta, 27 Juni 2022

“Hei Eva, bangun!”

Eva dengan dengan pakainnya yang acak-acak karena tidurnya tidak bisa diam. Bahkan, saat terbangun, pakaiannya terlepas dengan sendirinya. “Uwaa!” dengan spontan Eva terkejut dengan sendirinya.

“Hei Eva! Jangan berteriak!” seru Rafat.

“Maafkan aku, kak.” Eva merapikan pakaian serta tempat tidurnya.

“Gunakan kamar mandinya sana, mandi, dan ganti pakaianmu,” suruh Rafat sembari melihat cermin menyisir rambutnya.

“Anu, kak … Eva tidak punya pakaian lain,” ucap Eva di depan pintu kamar mandi tanpa menggunakan busana apa pun.

“Eva … Cepat masuk ke kamar mandi!” Rafat menutup pintu kamar mandinya.

Hadeh, sepertinya aku harus pergi mencari pakaian untuknya.

“Kak! Airnya sangat panas!” teriak Eva.

Rafat secara reflek berlari ke kamar mandi, membuka pintu, dan mengatur suhu airnya. Ia juga memberi tahu cara mengatur suhunya. “Apa kau sudah paham?”

“Paham, kak!”

Mungkin kehidupanku akan lebih ramai setelah ini, haha.

Eva yang selesai mandi masih menggunakan pakaian lamanya. Rafat mengajak Eva untuk ikut dengan dirinya berkeliling kota. Tanpa menjawab ‘Ya’, Rafat langsung paham hanya dengan melihat kelakuan Eva. Rasa senang Eva saat diajak berjalan-jalan bersama Rafat, sangat terlihat jelas oleh mata Rafat.

“Berwarna kuning terang,” gumam Rafat.

“Kenapa kak?” tanya Eva yang tak sengaja mendengar gumaman Rafat.

Rafat hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala Eva, “Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita pergi! Jangan pernah angkat ponimu itu, ya?”

“Siap, kak!”

Mereka pergi menuju sebuah tempat perbelanjaan. Di sana, Eva sangat kagum dengan sebuah gedung yang sangat megah dan terkesan sangat modern. Dirinya itu sangat berinisiatif hingga menarik-narik pakaian Rafat untuk pergi menuju berbagai tempat. Rafat pun terasa sangat menikmatinya. Ia seperti melihat almarhum adik perempuannya yang sudah tiada.

Adik … ya? Aku merasa Tuhan seperti sedang mempermainkan perasaanku — pikir Rafat yang terus menerus terpikirkan adiknya.

“Kak! Eva ingin minuman dengan bola-bola hitam itu!” memanggil Rafat sembari menunjuk-nunjuk satu tempat.

Meskipun terasa seperti itu, Rafat hanya bisa terus melangkah maju dan mendoakan keluarganya yang telah berada di atas langit. “Kamu ini banyak makan juga.” Menyubit pipi Eva sembari tertawa karena melihat wajah lucu dari Eva.

Seperti ini … Boleh juga.

“Setelah ini kita beli pakaian untukmu, ya?”

“Ayaye.”

Mereka pergi menuju toko pakaian. Banyak sekali jenis pakaian yang dilihat oleh Eva. Saking banyaknya ia sampai kebingungan untuk memilihnya. “Kakak, kakak! Bagaimana ini?! Eva tidak bisa memilih!”

“Hahaha! Santai saja, kita punya banyak waktu untuk ini.”

Disaat Eva mencoba satu per satu pakaian, Rafat melihat-lihat beberapa aksesoris di sana. Ia seperti iseng untuk melihat-lihat saja. Namun, pada akhirnya ia membelinya. “Kakak! Lihat Eva!” — memamerkan pakaian yang sedang dipakainya — “Bagaimana kak?”

Rafat dan kasir di sana menahan senyum dan tawanya. Mereka melihat Eva memakai pakaian itu dengan salah, sehingga terkesan lucu untuk dilihat. “Kemarilah, biar kakak yang rapikan.” Rafat merapikan beberapa bagiannya, seperti aksesoris pada kepalanya, ikatan pita pada bajunya, serta bagian lengannya. “Nah, kalau begini ….” Rafat terkejut sesaat begitu melihat Eva menggunakan pakaian itu.

Dia sangat imut …. — pikir Rafat.

“Walah! Nona ini sangat manis.” Pujian beberapa orang yang sedang mengantri di kasir.

Mendengar hal tersebut, Eva akhirnya memutuskan untuk membeli pakaian itu. “Kakak! Eva ingin baju ini,”

Dengan senyum, Rafat menjawab dengan singkat, “Ya, boleh kok.”

Pada akhirnya mereka membeli beberapa pakaian lainnya. Setelah berada di toko pakaian yang cukup lama, mereka beranjak menuju lantai paling atas. Di sana terdapat semacam food court. Lagi-lagi Eva terkejut melihat gerai-gerai makanan yang sangat banyak. Cahaya jingga yang terang seperti sedang menyoroti mereka berdua.

Eva berlari ke arah depan dan tidak sengaja tersandung oleh kaki seseorang. Spontan Rafat menghampirinya, “Maafkan adikku.”

“Ah, ya, tidak apa-apa.”

Rafat langsung melihat apakah ada luka pada Eva, “Apa kamu tidak apa-apa?”

Eva yang terjatuh di bawah lantai melihat ke arah Rafat. Dirinya sedang ditutupi oleh tubuh Rafat, duduk di dalam bayangannya. Tatapannya itu terfokus pada mata Rafat. “Aku melihatnya … Aku melihatnya,” gumam Eva.

Rafat sendiri kebingungan dengan maksud gumaman Eva itu. Tetapi, tanpa disengaja, Rafat melihat dan terjatuh ke dalam mata Eva. Tubuhnya sedikit bergeming, terbeku untuk sesaat. “Kakak, kenapa?” Eva langsung menyadarkan Rafat.

“Maaf, aku tidak apa-apa. Ayo kita pesan makanan.”

“Hum!” Eva langsung berdiri dan melihat-lihat ada makanan apa saja di sana.

Mungkin ini hanya perasaanku saja atau memang aku baru melihat sesuatu … Seperti masa lalu seseorang. — pikir Rafat.

Saat Rafat berjalan-jalan menemani Eva mengelilingi terdapat seorang karyawan salah satu gerai memanggil namanya, “Rafat, kan?”

Dirinya yang mendengar itu sedikit terkejut, “Eh?”

“Manajer! Ada Rafat di sini!”

Manajer?! Tunggu! Berarti dia di sini! — Rafat menyadari seseorang yang ia kenal sedang berada di sana juga.

Dengan reflek Rafat menarik lengan Eva sembari membawa belanjaannya di tangan satunya, “Eva! Ayo kita pindah dari tempat ini!”

“Eh? Kenapa kak?”

Tak lama sebelum mereka meninggalkan tempat itu, “Rafat! Aku merindukanmu!” terdengar orang berteriak memanggil dirinya.

“Sialan!” Rafat terpaksa harus membalikkan tubuhnya untuk membalas orang yang tadi memanggilnya. “Hehe …. Halo, kak Putih.”

Terlihat seorang gadis yang lebih pendek dari Rafat dengan rambut yang sangat putih, seputih salju tanpa ada noda. Hanya dalam sekali melihat, Eva terkejut dengan warna yang dipancarkan oleh gadis itu. “Merah terang, merah yang sangat elegan,” ucap Eva.

“Cantik, kan? Dia itu adalah seorang manusia dengan bentuk dari keeleganan itu sendiri. Nadila Yuriana, putri dari seorang seniman jenius.” Rafat menjelaskan dengan suara yang kecil namun terdengar oleh Eva.

Mungkin dalam pikiran Eva saat ini, ia hanya terkejut melihat warna merah terang tanpa noda sama sekali.

“Halo Rafat! Sudah lama sekali ya, hehe!” Nadila memeluk Rafat seakan-akan dia itu seperti pasangan yang sudah lama tidak bertemu. “Apa kamu tidak merindukanku?” Dengan wajah manisnya.

“Tolong menjauh!” Rafat mendorong badan Nadila yang terlalu menempel dengannya.

“Kamu itu tidak pernah berubah, ya,” — ucapannya terhenti setelah melihat ada anak kecil yang berdiri di belakang Rafat — “Ra—Rafat, kamu! —” ucapannya terpotong.

Dengan ringannya, tangan Rafat menjitak kepala Nadila. “Tidak perlu berpikir yang aneh-aneh.”

“Hei! Aku ini lebih tua darimu loh!” Nadila memegangi kepalanya.

Dengan wajah meremehkan, “Heh, memangnya aku pernah peduli dengan itu? Pendek.” Karena kesal mendengar ejekannya itu, Nadila menggigit lengan Rafat yang tadi digunakan untuk menjitaknya.

Melihat kakaknya disakiti, Eva terkejut hingga beranjak dari belakang Rafat dan berusaha untuk memisahkan mereka berdua, “Jangan sakiti kakak!” Eva mendorong Nadila dengan lumayan keras. Wajahnya seriusnya itu terlihat jelas oleh Nadila dan Rafat. Sorot matanya yang tajam serta berlinang air mata di sana.

“Eva … Santai saja, kak Putih hanya main-main,” ucap Rafat. Setelah mengucapkan itu, Eva memeluk Rafat. Pada akhirnya Rafat menggendong Eva untuk menenangkannya. “Tunggu sebentar, nanti akan kujelaskan semuanya.”

“Baiklah, aku akan menunggumu. Aku juga akan menyiapkan beberapa makanan untuk kalian berdua.”

“Terima kasih.”

Di pangkuan, Eva terus menerus mendekap dan memegangi pakaian Rafat. Dengan berbagai cara, Rafat mencoba untuk menenangkan dirinya. Tapi sangat sulit untuk menenangkannya. Seketika, Rafat mendapatkan sebuah ide. “Eva, lihat mataku.” Dengan mata yang sudah berair-air, Eva melepaskan genggamannya dan melihat mata Rafat.

Hanya dengan sekejap, Eva menjadi lebih tenang. Ia juga meminta untuk diturunkan dari pangkuan. “Maafkan Eva, sudah berbuat nakal.”

“Tidak, Eva tidak nakal. Sekarang Eva ingin makan apa?”

Eva mengusap-usap wajahnya dengan lengannya, “Eva ingin apa saja yang kakak berikan.”

“Ya sudah, ayo kita duduk.”

Tadi aku hanya ingin mengetes sesuatu, entah kenapa malah berhasil.

Eva menikmati makanan yang dihidangkan oleh Nadila. Momen itu digunakan Nadila untuk menanyakan banyak hal kepada Rafat. “Pertama, siapa anak itu?”

“Aku sendiri tidak tahu siapa dirinya. Ia datang ke kamar kosku begitu saja. Dia juga memanggilku,” — ucapannya terhenti karena berpikir, jika ia mengatakan bahwa dia dipanggil dengan panggilan ‘Tuan’, apa yang akan dipikirkan oleh Nadila — “dengan sebutan ‘Kakak’.”

“Oh, seperti itu ya … Siapa juga yang percaya dengan cerita seperti itu!” menggebrakkan meja.

Rafat terkejut dengannya, “Kalau kau memang penasaran, kenapa tidak kau tanya sendiri saja kepadanya?”

“Kau bercanda kan?!”

Karena Rafat mengetahui sifat dari Nadila yang sangat keras kepala, ia terpaksa untuk menjelaskan semua yang ia ketahui. Pada awalnya Nadila sendiri tetap tidak percaya dengan apa yang terjadi, tetapi memang seperti itulah keadaannya. Nadila menanyakan banyak hal lagi, seperti masa lalunya, alasan dia menerimanya, dan juga apa yang akan dilakukan oleh Rafat ke depannya.

“Lalu, bagaimana dengan pendapat Alifha?” tanya Nadila.

“Aku belum memberitahunya. Mungkin besok.”

“Baiklah, garis besarnya aku paham dengan kondisimu saat ini.”

“Terima kasih.”

Seketika Nadila menggenggam tangan Rafat, “Kalau begitu, bagaimana jika aku menjadi ibu—” Omongannya terhenti karena wajahnya ditutupi oleh tangan Rafat.

“Jangan memikirkan hal aneh-aneh.” Rafat beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Eva, “Bagaimana Eva? Apakah makanannya enak?”

Eva tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mulut yang penuh dengan makanan. Lalu ia menelan semua makanan itu, “Benar-benar enak!”

“Baguslah jika begitu.”

Nadila memperhatikan Rafat dan Eva, ia hanya tersenyum yang penuh rasa syukur. “Akhirnya kamu menemukan jalan hidup baru ya, Rafat,” ucap Nadila

“Ya, kak? Kenapa?” Rafat mendengar Nadila seperti memanggil namanya.

“Tidak, bukan apa-apa.”

~***~

Aku menitipkan Eva dan Alifha jika terjadi sesuatu padaku.’ Itulah yang kukatakan pada Nadila tadi — Rafat merasakan suatu firasat buruk mengenai sesuatu. Sebenarnya Rafat sendiri tidak ingin berkata demikian sebelum pergi kembali menuju kosnya. Namun, untuk jaga-jaga, Nadila harus mengetahuinya.

“Eva, sebelum tidur, kamu harus mandi terlebih dahulu,” ucap Rafat sembari membuka pintu kamar kosnya.

Eva mengucapkan salam dan membuka alas kakinya, “Baik, kak.” Tak segan-segan, Eva melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia membuka pakaiannya tepat di depan Rafat. Tetapi, Rafat sendiri sudah tidak terlalu peduli. Jadi, Rafat mengabaikannya begitu saja.

Rafat sendiri kelelahan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memandangi langit-langit kamar, melihat lampu yang sangat terang. “Apa yang harus aku lakukan selanjutnya … ya?” gumam Rafat karena terpikirkan perkataan Nadila sebelumnya. Laron-laron terbang mengelilingi lampu. “Padahal saat ini sedang musim panas, tapi banyak sekali laron.” Rafat bangun dari tempat tidur dan menyapu sayap-sayap laron yang berjatuhan di lantai. Tak disengaja, ia melihat debu-debu yang mulai menumpuk di pojokan kasurnya. Masker dan sarung tangan digunakan guna menghindari kotoran yang tak diduga.

Tok … tok …. — terdengar suara ketukan pintu yang ritmenya lumayan lambat. Suaranya sangat konstan.

Rafat spontan melirik ke arah kamar mandi, lalu menguncinya dari luar. Ia juga melihat ke arah jam, “Pukul 21.48. Sangat malam dan juga tidak ada suara memanggil namaku,” gumam Rafat. Dirinya memfokuskan fungsi otak ke syaraf-syaraf perabanya.

Dua orang, ya? — itulah yang dirasakan oleh sekujur tubuh Rafat.

Karena Rafat sudah mempersiapkan semuanya, ia membuka pintu. “Ya, ya, tunggu sebentar.”

Begitu membukanya, udara malam menerobos masuk ke dalam kamar. Bahkan, bulu kuduk Rafat berdiri tegak. Sebuah pistol sudah ditodongkan di kepala Rafat.

Glock 42 — Rafat mengamati pistol yang digunakan.

Pria yang menodongkannya bahkan tidak berbicara sama sekali. Ia berniat untuk langsung menarik pelatuknya. Namun, gerakannya kalah cepat dibandingkan dengan reflek Rafat. Pistolnya itu terlempar lumayan keras ke dinding sebab ditampar oleh Rafat.

“Siapa kalian?” tanya Rafat dengan santai … dan tatapannya yang sangat mengancam.

Teman pria itu menodongkan senjatanya dari belakang. Saat begitu pun mereka tidak berbicara sama sekali. Dan lagi-lagi mereka tidak segan-segan untuk menyerang Rafat. Akan tetapi, mereka mungkin tidak sadar. Tangan Rafat sudah memegangi sebuah sapu yang sebelumnya ia hendak gunakan. Dirinya masih mengingat retakkan pada sapu itu. Dengan memanfaatkan kerapuhan itu, ia mematahkannya. Lalu, melemparkan sisi tajamnya menuju arah pria yang memegangi pistol.

Siapa sangka, lemparan itu akan tepat tertancap pada dada kirinya. “Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh ….” Rafat berhitung mundur. “Dalam tiga detik lagi, kau akan merasakan namanya sakit yang luar biasa pada punggung bagian kiri.”

Pria itu panik dan malah mencabut kayu itu. Bukannya meredakan rasa sakit, darah yang bercucuran malah semakin banyak. Saat berusaha menutupi lukanya dengan sobekan kain dari pakaiannya, tiba-tiba dirinya terjatuh sembari memegangi dada kirinya. “Ughh! —”

“Bingo! Selamat tinggal. Tersisa satu orang lagi,” ucap Rafat dengan santainya. “Apa kau tidak khawatir dengan kawanmu itu?” Rafat memancingnya agar mendapatkan celah untuk menyerang. Dan sepertinya gertakan itu gagal, pria itu malah mengeluarkan dua buah pisau dari kantung sampingnya.

“Eh! Terkunci, Kakak!” suara Eva dari dalam kamar mandi.

Setelah mendengar suara Eva, pria itu sedikit menggerakkan alisnya. Seakan-akan Eva adalah incaran sebenarnya. Demikian, celah terlihat oleh Rafat. Karena tak ingin melewatkan kesempatan itu, Rafat langsung menerjang maju.

Dengan reflek, pria itu bergerak mundur. Tersandung karena temannya hingga melepaskan salah satu pisau dari tangannya. Rafat yang menerjang maju merebut pisau itu dan mulai untuk menikamnya. Saat ingin menikamnya, pria itu mendorong tubuh Rafat dengan sangat keras pada bagian dadanya. Mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya Rafat memiliki kelemahan pada paru-parunya.

Melihat keadaan Rafat yang terengah-engah, pria itu kembali berdiri dan menerjang maju. Posisinya seperti siap untuk menikam tepat pada bagian kepala Rafat. Saat ujung pisau itu hampir menyentuh dahi Rafat, gerakan pria itu menjadi terhenti.

“Maaf saja, tapi kita ini sama-sama pria.” Rafat memukul dengan keras organ vital laki-laki yang berada di bawah. Untuk sesaat pria itu tidak aka sadarkan diri. “Aku harus memindahkan mereka semua.” Memindahkan kedua orang itu menjadi terasa lumayan berat saat Rafat harus mengatur napasnya. Lokasi kamar Rafat yang berada di lantai 1 memudahkan dirinya untuk memindahkan tubuh kedua pria itu. Dan juga karena Rafat mengetahui jalan belakang, ia bisa memanfaatkannya.

Dia meletakkan kedua tubuh pria bersebrangan. Lalu, ia mengambil pistol dan menembakkan ke bahu pria yang terakhir ia kalahkan. Pistolnya diletakkan di tangan pria yang tertancap kayu. Dengan begitu skenarionya akan terlihat seperti ‘Perkelahian Jalanan’.

Rafat kembali ke kamarnya, membukakan pintu kamar mandi. Di sana Eva sudah menangis tersedu-sedu karena ketakutan. “Maafkan aku, Eva. Tadi aku ketiduran.” Mudahnya ia berbohong.

Eva dengan badan yang masih basah tanpa busana berlari menuju Rafat, lalu memeluknya. Dirinya itu ingin berteriak dan menangis, tapi ia tidak bisa. Tangannya tak kuasa untuk melepas genggamannya pada tangan Rafat. Tubuhnya pun gemetar, terpancar ketakutan yang luar biasa.

“Kakak … Eva takut ….” Cengkraman tangannya semakin kuat.

Rafat mengambil handuk dan menutupi tubuh Eva. “Keringkan badan dan pakai pakaianmu, ini sudah malam. Nanti kamu masuk angin.”

Maafkan aku. Tapi, kamu tidak boleh mengetahui semuanya tentangku — pikir Rafat.

Tak lama setelah memakai pakaian, akhirnya Eva tertidur. Setelah kejadian itu, Rafat sendiri merasa harus terjaga semalam penuh. Biasanya Rafat sendiri tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi. Karena apa pun itu masalahnya, semuanya akan selesai tanpa butuh usaha khusus.

Rafat menelepon Alifha, adik dari almarhum temannya. “Halo, Alifha. Besok kakak akan datang ke apartemenmu bersama dengan seseorang.”

Siapa?” tanya Alifha.

“Adikku. Dan juga kakak ingin Alifha melakukan sesuatu.”

Keesokan harinya, Rafat dan Eva berkunjung ke apartemen Alifha. Jarak yang dekat membuat mereka berangkat tanpa menggunakan kendaraan. Pakaian Rafat sedikit berbeda dengan hari sebelumnya, terlihat lebih rapi. Eva juga mengenakan pakaian yang baru saja dibeli.

“Kakak, kita ke mana?” tanya Eva.

“Bermain ke rumah adik kakak yang lainnya.”

“Kakak punya adik?” Genggaman Eva semakin erat.

“Ya, dia itu adik yang sangat hebat.”

Mendengarnya, Eva menjadi kesal. Rafat pun menyadarinya, tapi ia memiliki maksud untuk berkata demikian. Perasaan buruk Rafat masih terus menghantui dirinya. Ia hanya takut apa yang akan terjadi pada Eva jika dirinya itu terjerat suatu masalah berat.

Sebenarnya aku sudah tahu, yang kemarin malam itu memang mengincar Eva — Rafat mulai berpikir, rencana apa yang harus dirinya lakukan. Sepanjang perjalanan, Eva hanya melihat wajah Rafat yang sangat serius menatap ke depan dengan tangan memegangi dagunya.

Ting! — terdengar suara bel setelah Rafat memencet sebuah tombol di depan kamar bernomor S-102.

Bahkan tidak sedetik, pintu kamarnya langsung terbuka begitu saja. “Kakak! Aku kangen sekali! Sudah lama kakak tidak datang ke sini,” muncul seorang gadis kecil imut dengan busana kaos dan juga celana pendek mendekap Rafat.

“Ah, Alifha … Sepertinya sudah kebiasaanmu, ya. Saat aku datang, kamu langsung memelukku.”

“Hehe,” Alifha menggesek-gesekkan kepalanya ke badan Rafat.

Alifha masih belum berubah juga ternyata. Syukurlah — Rafat mengusap-usap kepala Alifha.

“Alifha, kakak ingin mengenalkan kepadamu, adikku—Eva.” Eva berdiri tepat di samping Rafat sembari memegangi pakaiannya. “Ayo perkenalkan dirimu, Eva.”

“Salam kenal, kak,” ucap Eva dengan nada malu-malu.

Sepertinya Eva terkejut karena melihat warna Alifha yang terkesan tidak normal.

“Eehh … Jadi dia, ya?” Alifha menyubiti pipinya Eva karena gemas. Ia juga menyadari mengenai mata kanan Eva yang tidak ada. Namun, ia memilih untuk diam saja. “Halo Eva, salam kenal juga, ya.”

“Alifha, apakah kau sudah melakukannya?”

“Yang kemarin kakak minta, kan? Alifha sudah menemukannya.” Alifha menyuruh mereka berdua masuk. Saat ingin masuk, Eva sedikit ketakutan dan terus-menerus menarik pakaian Rafat.

“Tidak apa-apa, Eva.”

Sepertinya dia masih belum terbiasa dengan warnanya Alifha, warna yang tidak menentu, selalu berubah — pikir Rafat.

“Maaf, ya. Aku tidak menyiapkan apa-apa.” Berjalan mengambil gelas untuk dituangi es jeruk dari dalam kulkasnya.

Rafat sedikit terkejut saat melihat kondisi kamar Alifha, “Kau ini perempuan, tapi kamarmu seperti kapal pecah.” Kamarnya sangat berantakan. Karena tak tahan dengan kondisi itu, Rafat dengan gesit membersihkan dan merapikan semua barang yang ada di kamar Alifha.

“Hoo, kakak memang hebat.” Tepuk tangan dengan wajah kagum. Karena kesal, Rafat menyubit pipi Alifha hingga merah. “Aaa~ Swakit kakak.”

Eva yang melihatnya hanya bisa cemburu. Saking cemburunya, pipinya membesar.

“Kita sudahi bercandanya. Alifha tolong tunjukkan berkas dan jurnalnya.”

“Tunggu sebentar,” Alifha mengambil laptop dan membukanya. Ia seperti menjelajahi sebuah situs yang entah apa itu isi dan bentuknya. Tampilannya sedikit berbeda dengan browser yang ada. “Reruntuhan Laboratorium, Peninggalan Perang Dunia I, Penjualan Budak, Bom Atom Jepang 1945, semua itu mengarah pada satu judul jurnal yang kutemukan ini, ‘Adam’s Project: Hawa’,” — Alifha memberikan laptopnya kepada Rafat untuk menunjukkan isi jurnalnya — “di sana tertulis bahwa, bangsa Eropa dulunya sangat menginginkan bentuk pertama dari nenek dan kakek moyang manusia, Adam dan Hawa.”

“Dan tujuannya adalah waktu, ya?”

Alifha terkejut saat mendengar Rafat berbicara demikian, “Hebat sekali. Benar, bangsa Eropa menginginkan sebuah pengetahuan yang di mana mereka dapat pergi ke masa lalu dan kembali ke masa depan.” Penjelasan singkat Alifha.

“Sebodoh itu kah bangsa Eropa dulu. Lalu, siapa penulis jurnal ini?” sembari membuka dan mencari-cari di hingga halaman terakhir.

“Yaratsch, dialah penulisnya. Dari laman ini, aku menjelajahinya lebih dalam lagi. Namun, yang aku temui, pengunggahnya adalah —” ucapan Alifha terhenti karena teringat sesuatu. “Namamu Eva, kan?” mendekati Eva yang sedang anteng menikmati es jeruk. “Jangan-jangan, kamu yang —”

Rafat menarik lengan Alifha, “Hentikan Alifha. Jika memang itu adalah dirinya, dia pasti sudah memberitahuku dari tadi. Dan juga aku tidak melihat kecurigaan pada warnanya —” ucapan Rafat tepotong oleh Eva.

“Tidak, bukan Eva yang mengunggahnya. Tetapi, Eva tahu siapa yang mengunggahnya,” ucap Eva dengan santai.

Seketika, terasa seperti petir menyambar Alifha dan Rafat. “Kau mengetahuinya?! Eva?” tanya Rafat. Eva menjawab hanya dengan menganggukkan kepalanya.

“Ibuku — ‘Eva’ sebelum diriku yang mengunggah jurnal itu. Dan Yaratsch itu adalah ayah angkat dari ibuku.”

“Jadi kamu dan ibumu itu adalah objek dari Adam’s Project?” tanya Alifha.

Eva menggeleng-gelengkan kepalanya dan menjawab, “Hanya ibuku saja yang termasuk dalam objek Adam’s Project. Aku … hanyalah salinan yang diciptakan oleh ibuku untuk bertemu dengan kakak,” menunjuk Rafat.

Entah kenapa aku merasa kesal dengan kegilaan dunia ini. Manusia buatan? Jangan bercanda!

“Alifha, kakak ingin bicara empat mata denganmu. Eva tunggu dulu di sini, ya.” Rafat mengelus-elus kepala Eva, lalu pergi ke depan pintu kamar. Di luar, Rafat membuka dawainya dan menghubungi seseorang dengan nama ‘Fumiko Kana’. Dengan bahasa inggris Rafat berbicara, “Halo Kana. Mungkin ini akan menjadi terakhir kali aku menghubungimu dengan serius. Tolong katakan kepada anggota yang lainnya ….” Rafat menyampaikan sebuah kalimat kode dan memberitahunya untuk segera dipecahkan, lalu melaksanakannya pada lusa.

Hei, Rafat! Katakan apa yang terjadi!” Fumiko berteriak marah karena bingung dengan apa yang terjadi.

“Aku punya perasaan yang buruk tentang masalah ini, jadi aku meminta bantuan kepada kalian. Dan … mungkin ini akan menjadi kekalahan pertama dan terakhirku.” Rafat tersenyum begitu saja dan menutup teleponnya.

Alifha terdiam setelah mendengar perkataan kakaknya itu. Wajahnya berubah menjadi lebih ganas, “Kakak! Apa-apaan perkataanmu tadi?! Apa maksud dari ‘terakhir’-mu itu tadi?!?” Berjalan mendekati Rafat dan menarik kerah bajunya. Tak hanya itu, Alifha bahkan mengangkatnya, “Cepat tarik kembali kata-katamu!”

“Tidak,” jawab Rafat dengan singkat.

Kekesalan Alifha meningkat, “Kakak!” Ia menyikut perut Rafat dan membantingnya ke lantai. Duduk di atas perutnya, memukuli wajahnya dengan begitu keras. Namun, Rafat sama sekali tidak membalasnya. Luka yang dulu disebabkan oleh Alifha pun muncul kembali, rahang bawah Rafat mengalami dislokasi.

Tangan Alifha mulai berhenti. Wajah Rafat pun dibasahi oleh sebuah bentuk tangisan kecewa. “Kakak … Aku mohon, jangan tinggalkan Alifha. Pertama orang tua Alifha, paman, lalu kak Dayyan, dan sekarang kak Rafat juga ingin meninggalkan Alifha?! Kenapa kalian semua begitu ingin meninggalkanku?! KENAPA KAK!?!” menarik-narik kerah Rafat.

“Apa kau sudah puas memukulku?” tanya Rafat dengan kondisi wajahnya yang sudah babak belur.

“Alifha belum puas.” Ia mendaratkan satu lagi pukulan telak pada hidung. Saat berdiri, Alifha juga meludah pada wajah Rafat. “Sekarang Alifha sudah puas.”

“Menjijikan.” Rafat mengelap wajahnya yang sudah bersimbah darah dan ludah Alifha. “Lagian siapa juga yang ingin mati. Meskipun memang benar peluang matiku nanti sangat besar —”

Alifha memukul perut Rafat dengan sangat keras, “Ucapan kakak itu benar-benar menyebalkan.”

“Akhir dunia, sudah sangat dekat,” ucap Rafat sambil mengatur napasnya.

“Apa maksud kakak?”

Adam’s Project, mereka bukan hanya mengincar pengetahuan mengenai masa lalu dan masa depan. Tetapi, tentara manusia buatan, manipulasi nuklir, sumber daya tak terbatas, asal-usul keberadaan manusia, dan Tuhan. Mereka mengincar semuanya. Pada 70 tahun yang lalu, mungkin ini adalah sebuah lelucon. Saat ini, teknologi sudah berkembang.”

“Lalu, kenapa kakak berpikir mengenai kematian?”

Rafat bersandar pada dinding, “Kemarin malam, kamar kosku diserang dua pria. Dan sepertinya, yang mereka cari bukan hanya Eva.”

“Namun, kakak juga?”

Rafat menganggukkan kepalanya, “Betul sekali. Mereka sudah menemukan ‘sang Adam’, dengan cara membiarkan sang Hawa — Eva, mencarinya.”

Alifha tidak memberikan tanggapan dan hanya mengatakan, “Percaya diri sekali kakak, menyebut diri sendiri ‘sang Adam’.”

“Hmph.” Rafat tertawa kecil dan beranjak menuju Eva berada. “Alifha, mohon bantuannya nanti.”

“Terserah kakak.” Alifha masih kesal dengan kata-kata Rafat.

~***~

Dua hari kemudian ….

“Alifha, Eva telah direbut oleh mereka,” suara Rafat dalam telepon. “Kakak, membutuhkan bantuanmu.” Telepon itu langsung ditutup dan Rafat pergi bersiap-siap.

Aku benar-benar ceroboh. Namun, memang sesuai perkiraanku.

“Kakak … Jangan kalah,” gumam Alifha.

Rafat pergi menuju gudang di dekat kampusnya. Semua barang-barang rahasia disimpan di sana. Senjata api, senjata tajam dan beberapa perlengkapan lainnya ia bawa. Alat komunikasi jarak jauh pada telinga sudah terpasang dan terhubung dengan Alifha.

Mungkin sedikit mengejutkan jika seorang mahasiswa diperbolehkan membawa barang-barang tersebut. Rafat ini sangat berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Saat SMP, dia pernah memenangi sebuah kompetisi melawan para jenius di dunia. Lalu, ia juga lulus dari sebuah instansi pendidikan internasional yang berada di Indonesia hanya dalam tiga hari. Normalnya, dibutuhkan tiga tahun untuk lulus. Meskipun tanpa sebuah pengetahuan dan pelatihan militer, ia mampu melawan 10 orang dewasa sekaligus saat di bangku SMA. Karena beberapa kejadian juga, dirinya diberikan surat izin untuk membebaskan dirinya memiliki barang-barang tersebut.

“Eva, tunggu kakak,” Rafat keluar menggunakan motorsport-nya. Teknologi yang terpasang pada motornya sudah jauh lebih canggih dibanding yang lain. Dan semua itu adalah perbuatan Rafat dan Alifha. “Gemini, tolong arahkan aku ke tempat Eva. Sagitarius, bantu Alifha menjalankan tugasnya,” Rafat berbicara dengan para AI-nya.

Baik,” jawab serentak.

“Halo, Alifha. Apakah suaraku terdengar?” ucap Rafat sembari fokus berkendara.

Terdengar jelas, kak. Sagitarius sudah sampai di komputerku.

Rafat tersenyum, “Tolong katakan kepada Kana, ‘200, 250, 500, dan 1425 meter di depanku akan ada seorang teroris.’ Apa kamu bisa menyampaikannya?”

Baiklah, kak.

“Gemini, tolong kendarai secara otomatis.” Rafat mengeluarkan seperti pil obat dari dalam kantungnya.

Tuan, ini bukan jadwal Anda meminum obat tersebut,” ucap Gemini.

Kakak! Kamu meminum obat itu lagi?!” teriak Alifha.

“Berisik sekali, kalian berdua! Tenang saja, yang seperti ini tidak akan membuatku mati.” Rafat meningkatkan kecepatannya.

Sepanjang perjalanan, Rafat tidak bertemu dengan masalah lain. Akhirnya dia tiba di sebuah tempat, seperti sebuah gedung tak terpakai. Lokasinya sendiri berada di tengah kota, yang berarti banyak kendaraan dan pejalan kaki berlalu-lalang. “Musuhku kali ini sangatlah cerdik.” Rafat berjalan masuk menuju basement gedung tersebut.

Lebih baik kakak tunggu bala bantuan dari kak Kana,” saran Alifha.

“Tidak, lebih baik aku melakukannya sendiri. Komunikasi akan kakak putuskan di sini.”

Kakak terlalu gegabah.”

“Kakak masih memiliki ‘kemampuan’ yang lain.”

Kakak! Jangan pernah gunakan—” suara Alifha terputus karena Rafat mematikan jalur komunikasinya.

Rafat mulai memasuki gedung, di sana tidak ada penjaga sama sekali. Ia sadar dengan beberapa CCTV yang terpasang. Maka dari itu, ia meminta Alifha untuk mengnonaktifkan seluruh sistem keamanan dan memancing semua orang dalam gedung itu untuk pergi ke lobi.

Nguunggg! — terdengar suara alarm yang cukup keras. Langkah kaki pun terdengar jelas di sebrang tembok tepat di mana Rafat berada. Kesempatan untuk menerobos masuk.

“Eva sepertinya berada di lantai tiga.”

Sepanjang lorong, Rafat menghabisi semua orang hanya dengan kemampuan bela dirinya. Ia mengambil perlengkapan dan pelindung kepala dari orang yang baru saja dikalahkan. Tak disangka dengan cara tersebut, dirinya bisa berjalan dengan santai hingga lantai ke-3. Selama di perjalanannya, ia menghabisi para teroris dan menyembunyikan tubuhnya di tempat yang tidak terlihat.

Karena Rafat yang terlalu terburu-buru, para teroris sadar dengan keberadaan Rafat di dalam gedung sana. Ia memusatkan kinerja otaknya pada indera perabanya, “20 orang ya, memang terlalu banyak. Tapi sepertinya aku bisa melakukannya. Gemini, tolong nyalakan sistem pemadam kebakaran.” Pandangan semua orang seketika tertutup oleh cipratan air. Dengan celah itu, Rafat memusatkan kendali otaknya hanya pada otot. Pengelihatannya menjadi gelap, tetapi kemampuan fisiknya seperti hewan buas dari padang sabana. Memangsa musuh-musuhnya, jumlah yang banyak pun bukan menjadi sebuah masalah.

Sampai saat ini, Rafat sama sekali belum menggunakan senjatanya. Dengan tubuhnya yang basah kuyup, ia membiarkan Gemini memasuki jaringan sistem pada gedung itu. “Gemini, tolong bukakan pintu ini.”

Baik, Tuan. Dibutuhkan waktu 30 detik untuk memecahkan kata sandi.”

Saat Rafat mengembalikan fungsi otaknya ke seluruh tubuh, napasnya menjadi sangat tidak karuan. Tubuhnya tumbang hingga tidak dapat digerakkan. Detak jantungnya berdegup sangat kencang.

Aku harus mengontrol semuanya — Rafat berusaha untuk menstabilkan keadaan tubuhnya.

Tak disangka, salah satu dari teroris yang baru dikalahkan ada yang tersadar. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari kantung belakangnya. Kepalanya yang masih sangat pusing membuat dirinya kesulitan membidik kepala Rafat yang terkapar di lantai. Sesaat setelah menarik pelatuknya, Rafat menyadari sesuatu di dekatnya. Dengan usaha menghindar, kepalanya selamat dari tembakan tersebut.

“Dasar kau monster,” teroris yang menembak tadi berjalan mendekati rafat, menodongkan pistolnya tepat di kepala Rafat. Suara rintikan air yang terjatuh sedikit demi sedikit mulai menghilang. Ketegangan muncul di antara Rafat dan teroris itu.

Muncul suara Gemini dengan tiba-tiba, “Tuan, pintu akan saya buka.” Suara itu terdengar jelas oleh teroris itu dan membuat dirinya lengah.

Kesempatan! — Rafat memutar tubuhnya dan menendang kaki teroris itu hingga terjatuh. Lalu, menghantam wajahnya dengan sebuah tendangan telak.

“Tak kusangka tembakan tadi akan mengenai kaki kiriku.” Berjalan pincang menuju ruangan Eva berada.

Tuan, pendarahanmu harus dihentikan.

“Aku tahu. Namun, aku harus segera membawa Eva dan keluar dari sini.” Rafat membuka satu per satu pintu yang terdapat di lorong itu. Ia menahan rasa sakit kakinya sembari memegangi senjata api yang ia bawa, Magnum. Pintu ke-12 yang ia buka, terlihat Eva sedang duduk dengan badan terikat di sebuah tempat tidur. Rafat menghampirinya, lalu melepaskan ikatannya.

Peringatan! Tekanan darah Anda menurun,” Gemini mengingatkan Tuannya.

“Berisik, Gemini! Matikan semua pemberitahuan kondisiku!” Rafat memangku Eva dengan satu tangan. “Kita akan keluar dari sini dengan selamat.” Ia berjalan keluar, mencari tangga untuk pergi menuju ke atap gedung. “Taurus, apakah kamu sudah mendapatkan data-data dari organisasi mereka?” tanya Rafat ke salah satu AI-nya. Saat Rafat berjalan menuju lokasi kamar Eva, ia menyentuh setiap perangkat yang memungkinkan tersambung ke jaringan di gedung tersebut dan yang bersangkutan.

Semuanya sudah saya pindahkan ke perangkat nona Alifha, Tuan.”

“Bagus.”

Aku harus segera pergi ke atap. Kana pasti sudah menungguku.

Suara langkah di tengah kesepian, memangku seorang gadis kecil dengan jalan pincangnya. Rencana Rafat, semuanya berjalan sesuai yang diperkirakan. Semua teroris yang dipancing oleh alarm buatan menuju lobi pasti sekarang sedang mengejar Rafat. Dan bagian lantai atas sudah dibersihkan oleh pasukan penembak jitu Fumiko Kana. 

Suara tetesan air menggema sepanjang lorong di gedung gelap itu. Tapi itu hanya sesaat.

Aku mendengar dentuman yang lumayan besar.

“Ada bom?!” Rafat melirik ke sekitarnya dan mencari sumber dentuman itu.

Tidak! Bukan bom! Ini adalah gempa.

Dengan tenaga yang tersisa Rafat berlari menuju ke atas. Wajahnya yang pucat karena kehilangan banyak darah, tubuhnya yang kedinginan, dan pandangannya yang sudah mulai kabur, semuanya itu dipaksa oleh kegigihan Rafat. Saat ini, Rafat masih berada di lantai 7. Untuk menuju atap — tepatnya di atas lantai 8, ia harus menaiki tangga yang berada di sisi lain gedung.

Dentumannya semakin besar! — air mata Rafat mulai mengalir.

“Sial! Bukan waktunya menangis! Aku harus terus berlari!”

Aku tak ingin mati! Aku masih ingin bertemu banyak orang! Aku masih belum menemukan kakakku! — Rafat terus menerus memaksakkan kedua kakinya itu hingga berwarna biru hitam bengkak pada bagian mata kakinya.

Sesampainya di lantai 8, ia melihat beberapa pasukan Fumiko Kana menjemput Rafat dan Eva.

“Ayo, Nak! Kemari!” dalam bahasa Jepang.

Oh, tidak! Suara dentumannya sudah sampai di permukaan.

“Larilah! Cepat!” teriak Rafat.

“Eh?!” para pasukan Fumiko Kana kebingungan.

Karena mereka tidak mendengarnya, Rafat mengeluarkan senjata apinya dan menembaki mereka supaya lari. Tubuh rafat yang sudah sampai batasnya, terkapar menatap langit-langit dengan Eva berada pada pelukannya. Pilar-pilar gedung pun mulai retak.

“Ini gempa! Kita harus lari!” ucap pasukan Fumiko Kana. Mereka mulai kembali ke atap untuk menaiki helikopter.

Aku mendengar suara helikopter. Kana, sudah di atas sana. Tapi … tubuhku sudah tidak kuat.

“Ka—kak?” Eva terbangun dari pingsannya.

“Eva sudah bangun, ya. Maaf. Sepertinya aku tidak bisa membawamu keluar dengan selamat.” Rafat sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Ia mencoba untuk mengelus-elus kepala Eva.

Lantai-lantai mulai jatuh, pilar-pilar gedung pun mulai berhancuran. “Tidak, kakak sudah berusaha. Selama Eva berada di sisi kakak, tidak masalah apa pun yang terjadi.”

Kau itu memang aneh, Eva. Sejak awal datang ke kamar kosku pun kau memanggilku ‘Kakak’. Lalu memanggilku ‘Tuan’. Tetapi, sifat polos dan lugunya sangat lucu — air mata Rafat mulai keluar deras.

“Gemini, alihkan semua AI-ku ke perangkat Alifha,” ucap Rafat, lalu ia melemparkan alat komunikasi di telinganya ke atas.

Gempa itu meruntuhkan gedung, tempat di mana Rafat dan Eva sekarang berada. Meskipun kondisinya sangat mengerikan, Rafat sama sekali tidak ingin pasrah. Ia menggunakan kemampuan terakhirnya, kemampuan “Mata Batin”. Warna, jin, dan makhluk lainnya yang dapat ia lihat, itu bukanlah sebatas kemampuan supernatural biasa. Rafat mampu memasuki pikiran seseorang dan mengintip masa lalunya, bahkan mampu mengubahnya. Tetapi terakhir kali ia melakukannya, pembuluh darah pada kedua matanya itu pecah. Darah mengalir pada matanya.

Saat ini, Rafat ingin melakukan hal serupa. Ia merasuki semua pikiran para teroris dan ‘menghipnotis’ mereka semua untuk membentuk sebuah matras untuk mendarat. Efek yang diterima Rafat bukan lagi pecah pembuluh darah, namun kedua bola matanya meleleh. Selain itu juga, beberapa sel otaknya mulai terbakar karena tak kuat menampung semua memori orang yang ia masuki.

Sakit sekali! Tapi aku harus terus melakukan ini.

Dari luar, terlihat gedung itu sudah hancur rata seperti sebuah istana pasir yang dihantam keras oleh ombak. Orang-orang di sekitar pun terkejut dan berlarian menjauhi lokasi. Fumiko Kana masih tetap mencari keberadaan Rafat. Dirinya itu benar-benar tidak menyerah.

Di lain sisi, Rafat dan Eva berhasil mendarat dengan selamat, tetapi tertutupi oleh puing-puing bangunan. “Eva … Eva … Eva.” Rafat mencoba untuk memanggil Eva yang berada pada pangkuannya itu. Ia mencoba meraba dan membangunkan Eva. Tubuh Eva sama sekali tidak menanggapinya dan suhunya pun sangat dingin. Rafat juga mencoba untuk meraba lagi dan ia menyadari, Eva tertusuk oleh tiang penyangga pada bagian pinggangnya.

Rafat sendiri sudah tidak bisa melihat dan menggerakkan tubuhnya lebih dari itu. ‘Menyerahkan diri’, mungkin itu yang sudah ada dipikiran Rafat. Ia tidak dapat berpikir lagi untuk menyelamatkan diri.

“Ka… kak… Dingin ….” gumam Eva terdengar pelan pada telinga Rafat.

Rafat terkejut dan hanya bisa memasang senyum, lalu memeluknya.

Waktu singkat bersamamu memang benar terasa menyenangkan. Sejujurnya di saat seperti ini aku ingin sekali melihatmu. Tapi, sepertinya Tuhan sudah merenggut kedua mataku. Sayang sekali.

Jumlah teroris, 45 orang dan jumlah korban, 47 orang

Adam dan Eve diusir dari surga sebab Eve — Hawa, memakan buah terlarang.

~***~

12 tahun pun berlalu begitu saja. Setelah kejadian itu, Fumiko Kana dan seluruh rekan Rafat menghentikan serta menghapus segala jejak dari penelitian Adam’s Project. Alifha yang memiliki semua datanya, membantu melacak jejak yang masih tersisa. 

Dan di zaman ini juga, Alifha sudah mendirikan sebuah rumah sakit. Tepatnya, sekitar empat tahun yang lalu, Alifha menemukan sebuah catatan yang di mana almarhum kakaknya, kak Dayyan sangat ingin mendirikan sebuah rumah sakit. Dan dari sana, ia memiliki tekad untuk membangun rumah sakit.

Kota Gamma, 18 Mei 2034

Seorang gadis kecil berdiri dengan posisi kepala menunduk. Seperti orang yang putus asa terhadap sesuatu.

“Ini adalah tagihan rumah sakit untuk kakakmu. Di mana orang tuamu?” ucap salah satu petugas di sana.

“A-anu, kami sudah tidak memiliki orang tua.” Gadis kecil itu murung dan bingung, bagaimana cara ia membayarnya.

“Aduh ….”

Terdengar suara langkah sepatu mendekat, “Permisi, bisakah aku saja yang membayarnya?”

Gadis kecil itu melihat seorang pria gagah dengan tongkatnya mengulurkan tangannya. Seperti meminta tagihannya. Petugas itu memberikan tagihannya ke pria tersebut. Dan pria tersebut meminta sang gadis kecil membacakan jumlah tagihannya. Setelah sang gadis kecil membacakan jumlahnya, pria itu hanya tersenyum.

“Aku akan membayarnya, tolong antarkan aku ke loket pembayaran.”

“Baik, Tuan.” Petugas itu menuntun pria itu.

Sang gadis kecil mengkuti pria itu. Melihat bahwa pria itu benar-benar membayarkan seluruh biaya rawat inap kakaknya itu. “Tuan, terima kasih,” ucap gadis kecil itu dengan senang. Wajahnya pun kembali riang. Pria itu masih tetap memasangkan senyumnya saja tanpa merespon rasa syukurnya sang gadis kecil.

“Sepertinya kakakmu sudah sadar,” ucap sang pria.

Dengan wajah terkejutnya, “Benarkah?!”

“Temani kakakmu yang baru bangun.” Pria itu menyuruhnya untuk segera mendatangi kakaknya.

Hanya dengan memberi salam dan terima kasih, gadis kecil itu pergi berlari menuju kamar kakaknya. Entah benar atau tidak apa yang dikatakan pria tadi, yang diharapkannya itu hanya keselamatan kakaknya. Gadis dengan penampilan compang-camping berlarian di koridor rumah sakit. Banyak orang yang melihatinya, akan tetapi dia tidak peduli.

Beberapa saat yang lalu, kakaknya itu mengalami kecelakaan jalanan. Ia tertabrak oleh sebuah mobil yang sedang dikendarai oleh orang mabuk. Tepatnya, saat sang kakak sedang membelikan sebuah boneka untuk adiknya. Semua itu terjadi di depan mata adiknya sendiri.

Hanya saja, semua itu akan berlalu begitu saja. Kebahagiaan terpancar penuh di dalam kamar tersebut. Warna kuning dan biru cerah benar-benar mewarnai dari setiap sudut ruangan. “Kakak! Syukurlah ….” Sang adik langsung memeluk kakaknya yang baru saja terbangun dari tidurnya. “Tidak tahu harus bagaimana lagi, jika kakak meninggalkanku.”

“Sepertinya kakakmu sudah membaik, ya.”

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan.” Sang adik langsung mengatakan ke kakaknya bahwa Tuan itu adalah orang yang telah membayar semua biaya pengobatan.

“Ha-Hawa —” kepalanya merasa kesakitan. “Ah iya, aku mengingatnya. Aku mengalami kecelakaan.” Sang kakak beranjak dari kasurnya dan membungkukkan badannya, “Saya ucapkan terima kasih karena telah menjaga adik saya dan juga membayar biaya pengobatan saya. Suatu saat hutang budi Anda akan saya balas.”

“Haha, kalian ini sangat lucu. Meskipun aku buta, tapi aku bisa melihat warna kalian.”

Mereka berdua terkejut karena pria itu membawah ‘melihat warna’. “Apakah Tuan bisa melihat warna juga?”

“Tentu saja. Dari awal, aku memang ingin mengasuh kalian. Pendidikan, pakaian, makanan, dan lainnya, aku akan menanggungnya.”

Mendengar hal tersebut, kakak beradik itu sangat senang. Mereka juga menerima penawaran itu. Dan juga mereka bersumpah, “Kami bersumpah akan membuat nama baik Tuan tidak tercoreng.”

“Haha, jangan panggil aku dengan ‘Tuan’ —” ucapannya terpotong karena ada orang lain yang berbicara juga dari belakangnya.

“Pria ini jangan kalian panggil dengan sebutan ‘Tuan’,” ucap seorang gadis dengan jas dokternya.

“Yang kak Alifha katakan itu benar. Jangan panggil ‘Tuan’. Panggil dia dengan panggilan ‘Kakak’. Bukankah begitu … kak Rafat? Sepertinya kepulanganmu dari Australia lebih cepat dari yang dijadwalkan,” ucap gadis lainnya dengan pakaian yang sangat anggun, auranya pun sangat terasa hangat.

“Ternyata kalian berdua sedang berada di sini ya, Alifha, Eva.” Mereka bertiga tertawa dan saling bertukar salam. “Benar sekali, jangan panggil aku ‘Tuan’. Tapi panggil aku dengan ‘Kakak’,” ucap Rafat.

“Baik, kakak.”

“Mungkin aku belum memperkenalkan diriku dengan benar. Aku, Raditya Rafat, hanya seorang manusia biasa yang tak bisa melihat.”

Gadis dengan pakaian anggun menggandeng tangan Rafat, “Perkenalkan, aku adalah Eva, adik dari kakak satu ini.”

“Dan aku adalah Alifha, kalian berdua bisa mengandalkanku jika ada apa-apa,” ucap gadis dengan jas dokternya.

Setelah mendengar mereka berkenalan, kakak adik ini pun mengenalkan dirinya sendiri. “Perkenalkan aku, Hawa, kedua orang tua kami sudah tiada. Dan kami hidup dengan cara bekerja paruh waktu.”

Paruh waktu? Umur mereka mungkin sekitar … 5 dan 7 tahun — pikir Rafat.

“Sebelumnya kuucapkan terima kasih karena sudah ingin menampung dan mengasuh kami,” — sang kakak berjalan mendekati Rafat dan memeroleh tangannya — “Aku adalah Adam, salam kenal, kak Rafat. Sepertinya saat aku terpingsan, mimpi yang kulihat adalah masa lalu Anda, kak Rafat” Ia mencium tangan Rafat.

Rafat hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Selamat datang di keluarga, Adam, Hawa. Jika yang Adam lihat demikian, maka itu adalah benar.”

~***~

Kembali ke masa di mana akhir dari Perang Dunia ke-2 hampir terlihat.

Hiroshima, 5 Agustus 1945

“Wah! Ayah, lihat itu! Ada kereta di tengah jalan!” seorang gadis terkagum-kagum melihat keindahan kota di sana. Banyak orang-orang menggunakan pakaian kimono. “Ayah! Pakaian mereka sangat lucu!” Bahkan udara di sana masih terasa sangat segar, meskipun saat itu sedang berada pada musim panas.

“Hei, Eva! Jangan berlarian ke sana kemari. Banyak orang yang berlalu-lalang,” seorang dengan pakaian berjas ditemani oleh seorang pelayan tua. “Dasar, padahal dia itu sudah besar.”

“Apakah perlu saya menegurnya, Tuan?”

“Tidak perlu, kita di sini untuk menikmati sisa liburan kita. Oh ya, apakah kamu bisa mencari sebuah penginapan untuk kita tempati?”

“Baik, Tuan.” Rafael pergi meninggalkan mereka berdua.

Dan sekarang hanya tinggal mereka berdua, Eva dan Yaratsch. Eva saat ini mampu melihat dengan satu matanya. Itu adalah pemberian dari mata kanan Yaratsch.

Saat ini kami benar-benar bisa berbagi pengelihatan.

“Ayah!” Eva berlari ke arah Yaratsch dan sedikit ketakutan, ia juga menunjuk ke arah langit. “Ayah, langit itu sangat gelap.” Setelah Eva menerima mata kiri Yaratsch, dia juga mampu melihat berbagai warna.

Semoga saja firasat burukku ini salah — Yaratsch sangat gelisah sesampainya di sana.

“Sekarang masih jam empat sore, apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Yaratsch.

“Kemana pun! Asalkan bersama ayah, Eva akan merasa senang.” Eva tersenyum kepada ayahnya di bawah langit jingga.

Mungkin itu adalah terakhir kalinya dirinya itu tersenyum.

Tanpa kusadari, semuanya berlalu begitu saja. Aku terbangun dalam tidur panjang. Dan yang kulihat di sana hanyalah kedengkian yang sang pekat. Rasa mual membuat seluruh tubuhku bergetar. Semua roh manusia beterbangan ke sana kemari. Tidak ada lagi kesenangan di dalamnya. Saat kuberjalan di dalamnya, aku benar-benar tidak bisa merasakan kehangatan kasih sayang. Semuanya telah tiada. Rasanya seperti berada di dunia lain.

Ingatan terakhirku … ayahku memasukkanku ke dalam sebuah kotak di dalam tanah. Dia juga seperti sedang menahan tembakan yang mengarah kepadaku. Bahkan untuk saat terakhir pun, aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku kesal. Aku sedih. Tapi aku tidak bisa menangis, aku hanya bisa berteriak keras tanpa ada yang bisa mendengarku.

Hiroshima, 6 Agustus 1945 pukul 18.20

Hari di mana Amerika Serikat menjatuhkan bom nuklir di kota ini. Akibat dari radiasi yang dipancarkan membuat makhluk hidup di sana mengalami beberapa keanehan. Hanya saja, tubuh Eva saat itu tidak merasakan apa pun selain mualnya. Seakan-akan tubuh buatannya itu tidak terpengaruh oleh radioaktif.

Di tengah kegelapan, Eva berjalan entah ke mana arahnya. Ia memasuki pegunungan dengan pohon-pohon yang rindang. Tanpa makanan, tanpa minuman, tubuh Eva sudah mencapai batasnya. Hingga ia sampai di sebuah gubuk yang kumuh. Di dalamnya tidak ada siapa-siapa, tetapi persediaan makanannya terlihat sangat banyak. Kondisi rumahnya pun terasa sangat kering untuk seukuran gubuk kumuh di pegunungan.

Karena tubuhnya sudah tidak kuat untuk bertahan lagi, Eva terbaring di depan gubuk itu. Tak lama, kabut di daerah pegunungan itu semakin tebal.

Aahhh … Aku akan mati. Tapi, memang seharusnya seperti ini — pikir Eva.

“Kamu tidak akan mati kok,” terdengar suara anak kecil laki-laki seperti berbicara tepat di samping telinga Eva. 

Siapa?

“Ternyata ada orang yang datang ke dunia ini.” Seorang kakek membawa pacul berjalan mendekatinya. “Kau tidak seharusnya datang kemari, nak.”

Nak? Mungkin dia memanggil diriku…. — Eva kehilangan kesadarannya.

Kakek itu membawa Eva ke dalam gubuknya dan membantunya menghangatkan tubuh. Ia juga menyiapkan makanan berupa sup agar mudah dicerna oleh Eva. Dengan mengambil beberapa tumbuhan herba dari belakang dapurnya, ia membuat suatu obat pil kecil. Entah dengan sihir atau ilmu apa, gelas dengan air hangat juga muncul pada tangan kanannya.

“Sepertinya kamu sudah sadar.” Kakek itu berjalan mendekati Eva sembari membawa air dan obat. “Sebelum kamu makan, minumlah obat ini lebih dahulu.” Eva sedikit ketakutan setelah melihat wajah dari kakek tersebut dan seperti menjauhinya. “Tenang saja, ini adalah obat agar organ pencernaanmu tetap dalam kondisi baik-baik saja.”

Karena sadar bahwa perutnya seperti terasa melilit, Eva terpaksa memakan obat tersebut. Setelah itu, ia menyantap sup yang telah dibuat oleh kakek tersebut. “Terima kasih atas makanannya.” Makanan itu habis dengan begitu cepat dan Eva menyerahkan mangkuknya kembali kepada kakek itu.

“Apa kamu ingin menambah?” Kakek itu menawarkan makanannya lagi. 

Dan Eva hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Terima kasih, kakek.”

“Baguslah. Jika kondisimu sudah membaik, kakek ingin berbicara denganmu. Aku akan menunggumu di depan gubuk ini.”

Karena tak ingin membuang-buang waktunya, Eva menahan lengan kakek tersebut. “Tidak perlu, kakek. Eva sudah membaik.”

“Kalau begitu, kamu harus cepat keluar dari gunung ini. Jika kamu terlalu lama di sini, tubuhmu akan terus semakin muda hingga kembali menjadi sebuah bentuk roh tanpa wujud fisik.”

Benar juga, aku … menjadi anak kecil lagi.

“Tetapi, aku sudah tidak tahu harus ke mana lagi.” Eva pasrah dan bingung dengan keadaannya sekarang.

“Tidak sulit kok, mungkin aku bisa menunjukkan suatu tempat yang bagus untukmu.” Seorang anak kecil tiba-tiba muncul di samping Eva.

“Si-siapa?”

Anak kecil itu berdiri menghadap Eva, “Aku adalah Sulaiman.” Mendengar perkenalannya saja, hati Eva langsung berdegup kencang. “Sejujurnya, aku senang dengan manusia seperti ayah angkatmu itu. Dia benar-benar mengerti hati dari setiap manusia. Namun, sepertinya ia sudah tiada, ya?”

“Ayahku salah satu korban.”

“Maka dari itu, aku ingin kamu menemukan sosok yang mirip dengan ayahmu. Hal itu ditujukan untuk mencegah segala peluang terjadinya akhir dunia.” Anak kecil itu meraih tangan Eva, lalu menundukkan tubuhnya.

Eva menjawabnya dengan ragu-ragu, “Mungkin … bisa saja. Tapi, aku tidak yakin bagaimana caranya.”

“Untuk masalah cara, kamu bisa menentukannya setelah sampai di tempatnya.”

“Baiklah, aku menerimanya. Lagipula, sekarang ku sudah bingung ingin melakukan apa. Jika itu untuk bertemu ayah kembali, maka kuterima.”

“Terima kasih.” Anak kecil mengangkat tangannya. Lalu, tiba-tiba muncul cahaya yang menyambar tubuh Eva di tengah tebalnya kabut itu.

Sang kakek itu seperti menyerahkan sesuatu kepada Eva, “Mungkin ini akan membantumu di sana.”

Saat Eva melihatnya, “Apakah kakek serius?” Ia melihat uang yang luar biasa jumlahnya.

“Itu adalah uang yang kudapat dari orang-orang berdoa. Kau bisa menggunakannya.” Kakek itu hanya tersenyum dan melanjutkan ucapannya, “Aku bukanlah dewa, hanya sebuah roh yang bersemayam di gunung ini.”

“Baiklah, sekarang aku akan memindahkanmu,” ucap Sulaiman. “Semoga kamu berhasil.”

“Terima kasih.” Eva menutup matanya. Cahaya-cahaya itu menarik Eva menuju tempat lain. Saat Eva membuka matanya, di depannya itu terdapat sebuah gua besar. Tanpa disadari juga, tubuh Eva kembali seperti umur 6 tahun. Di tengah hutan tanpa manusia, Eva baru menyadarinya.

Aku tidak butuh uang ….

Beruntungnya, setelah Eva dipindahkan, ia sadar bahwa terdapat kemampuan ghaib khusus pada dirinya. Berbicara pada hewan dan tumbuhan, itu adalah kemampuan yang ia dapatkan. Dengan kemampuannya Eva masih bisa terus bertahan hidup dan juga terus mengemban tanggung jawab untuk terus mencari sosok yang serupa dengan Yaratsch.

Namun, ia masih bingung dengan klasifikasi yang dibutuhkan agar sesuai dengan sosok ayahnya itu. Meskipun sudah berlangsung sekitar 50 tahun lamanya, Eva masih tidak menyerah untuk menemukannya. Semua cara dan bantuan dari setiap tumbuhan dan hewan sudah ia coba. Hasilnya tetap nihil, ia tidak dapat mengetahui caranya.

Sejenak ia memiliki pikiran untuk menyerah, “Apakah aku harus menyerah?” Ia menangis menatap langit yang mendung dari daratan tinggi. 

Aku sangat merindukan ayah. Sudah lama sekali aku tidak melihat bermacam warna manusia … Warna! Benar sekali! Aku baru menyadarinya — Eva beranjak dari posisinya dan mengusap air matanya.

Sulaiman yang mengawasinya dari jauh hanya tersenyum dan mengatakan, “Hmm, akhirnya kamu sadar juga. Sepertinya aku akan kembali lagi ke tempat kakek tua itu.”

Dengan kepercayaan dirinya yang baru, Eva meminta hewan dan tumbuhan lainnya untuk mencari manusia yang tidak memiliki warna. Hasil yang didapatkan memang lebih akurat, tetapi tetap saja hasilnya masih nihil. Hingga 8 tahun kemudian, ia mendapatkan informasi bahwa seorang bayi lahir dengan prediksi kelamin yang salah, lalu ia juga terindikasi tidak memiliki roh di dalamnya. Namun, bayi itu tetap hidup meskipun kritis karena penyakit yang dibawanya.

Dalam pertumbuhan, bayi itu sering diganggu oleh hal-hal mistis. Eva melindungi bayinya dengan cara meminta bantuan para serangga serta akar tumbuhan untuk selalu melindunginya. 

Sadar akan tubuhnya yang sudah mulai menua, Eva berpikir untuk membuat kloning dirinya sendiri. Akan tetapi, ada sebuah peraturan yang dilanggar nantinya. Jika klon itu lahir sebelum Eva meninggal dunia, akan terjadi suatu hal yang tidak dapat diprediksi antara Eva dengan kloningnya.

Maka dari itu, Eva membuat teknologi untuk melatih kloningnya agar mampu bertahan hidup setelah terlahir nanti. Sedikit lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas tersebut, sekitar 9 tahun ia membangunnya sendiri. Dengan pengetahuan yang ia miliki, Eva mampu mengembangkan janin kloningnya selama 3 tahun.

“Akhirnya, aku berhasil mengembangkannya.” Tubuh Eva yang mengeriput karena sabar menunggu janin kloningnya. Boneka dan pakaian yang ia siapkan untuk kloningnya pun sudah selesai dirajut.

Mungkin kloningku nanti akan memiliki ingatan yang baru, tetapi ambisiku akan terus tertanam dalam hatinya.

Eva berjalan menuju kursi. Mengambil sebuah kotak, lalu memasukkan pakaian serta bonekanya. Dia duduk di kursi dengan posisi kotak berada pangkuannya. Di hadapannya saat ini hanyalah janin yang sudah siap menerima roh.

“Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan sosok ayahku.” Eva memasang sebuah alat di kepalanya. Dibantu dengan para hewan dan tumbuhan untuk memasang alat lainnya.

Terima kasih semuanya ….

Saat mesin itu menyala, roh Eva ditarik ke dalam sistemnya. Dan mulai menginfusi rohnya ke dalam sang janin. Sebelum infusi benar-benar selesai 100%, Eva membuat dunia virtual yang di mana dirinya menjadi sosok ibu bagi kloningnya. Ia mengajari banyak hal di sana.

Enam tahun pun berlalu.

Sang janin sudah berkembang menjadi seorang anak kecil yang sudah siap tinggal di dunia luas. Saat ia membuka matanya, ia melihat sosok mayat tersenyum yang menghadap pada dirinya sembari memegang sebuah kotak. Mayat itu seperti dijaga oleh para tumbuhan, hewan, bahkan mikroorganisme. Sebuah makam yang sangat cantik.

Kloning ini berjalan, mengambil kotak tersebut lalu memakai yang ada di dalamnya. Tanpa mengetahui ingatan lama dari tubuh aslinya, sang kloning berjalan keluar mencari sosok yang dicarinya. Mungkin sekitar sebulan hingga ia benar-benar melihat sosoknya itu.

Sosok itu berlari tepat di depan pandangannya.

Kakak?! — pikir sang kloning pergi mengejar sosoknya yang sedang berlari menuju kamar kosnya.

Sesampainya di kos itu, ia ditanya oleh penjaga di sana. Dan kloning itu hanya menjawab, “Aku adalah adik dari kakak yang tadi berlari masuk.”

“Aduh! Nak Rafat parah banget sih! Ayo masuk saja, dik.”

Dengan izin tersebut, sang kloning berjalan mencari kamar dari sosoknya tersebut. Setelah menemukannya, tanpa basa-basi, ia langsung mengetuk pintunya.

Saat pintunya terbuka, sontak ia mengatakan, “Halo Kak!” Meskipun dirinya itu tidak paham dari mana rasa bahagia tersebut datang, ia benar-benar menahan rasa ingin menangisnya.


Penulis: Garpit

The Only Child

Entry for Writchal #4
Theme: Unexpected Sibling


Snack’s ready, me laying in this dirty bed for the last time, and the TV remote by my side. Finally, after a week full of exams, I can have my holiday. My lovely parents will pick me up this evening and I will get away from this choking uncared boarding house. There’s only a small desk with a TV on top cramped in front of the bed. I don’t even get an AC here. As an only child, I can live peacefully back at home. I can lay on my comfy bed, watch movies on the TV, and enjoy dinner together with my parents. I miss them so much. 

I turn on the TV and start to watch a murder documentary as there’s nothing more interesting on this old TV. Hour by hour my eyes get more tired from watching documentaries of entire families being killed mysteriously. I yawn before placing my head on the pillow and turn off the TV. Slowly I close my eyes as the sleepiness spreads to my whole body. 

Suddenly I was awakened by the loud banging on my door. I was having such a calm time. Why can’t I just rest in peace? This is still the afternoon, whoever is knocking is not my parents and I don’t care about it. I go back to sleep and close my ears with pillows. That person keeps on knocking, louder and louder. With a fuming head I slam open the door. 

Behind it is a little girl. Her dress is torn. Her shaking hand is holding an old teddy bear with lots of stitches. She wipes the sweat off her dirty forehead and smiles. “Hello,” says her. 

“Who are you?” 

“I’m your sister.” 

“No, you must be mistaken. I’m an only child. Why are you knocking on my door?” “I want to meet you, my brother.” 

I roll my eyes then smile. “Once again, I can’t be your brother. The brother you’re searching for is not here. Do you want me to help you find him?” 

“No, he’s right in front of me. I love you brother.” 

The girl hugs me. I try to release her grip and move her back a bit. 

I squat down. “Hey, I’m not your brother, okay. Hope you can find him. I’m sorry but don’t knock on my door again, okay?” 

She starts to tear up. “But I am your sister.” 

Soon after, she starts crying. 

“Hey, please don’t cry. I’m sure you’ll find your brother soon. I’m sorry that I can’t help you now. I’m really tired.” 

I slowly close my door. The little girl’s cry can still be heard, but not for long. After a few minutes, the cry fully stops. Well, I hope she finds her brother. For now, I better get back to sleep. I keep yawning before I lay on the bed and close my eyes. 

Loud banging awakened me again. I wipe my face and look at the door with pain in my eyes. Is it that little girl again? Why is she knocking this door again? She’s being too loud. “Abie, please open the door,” says a familiar voice. 

That’s not the girl, It’s my mom. They’ve arrived. I quickly run to the door and open it with a smile. Mom is standing behind it with a frown. The same little girl stands behind her, holding her teddy bear tight.

“Abie! Did you just leave your sister here alone? How dare you?” screams Mom. “So she is actually my sister?” 

“Obviously, I gave birth to her. Now pick your stuff up and get in the car,” says her while leaving the building, bringing the little girl with her. The girl keeps looking at me with teary eyes. 

Mom seems very pissed. I shouldn’t waste time then. I pack up my stuff with haste, though I can’t stop thinking about that little girl. How can she be my sister? She looks like a 7 year old, yet I’ve only been in this boarding house for a year. This just doesn’t make sense at all. 

I zip up my bag and lock the door. I give the room key to the owner and head to the front of the boarding house. Mom and Dad are already waiting in their car. I miss seeing this car. I walk closer and find the little girl is already asleep in the back seat. I put my bag on the back and sat next to the girl. Dad Starts the car and we’re on the road back to my home. 

Something is not right with that girl. I look closer at her and don’t find any resemblance with my parents. Her sharp nose is very different from my short and large nose. Her pale skin doesn’t match my skin tone nor my parents. Not only that, her hair is light brown, very different from anyone here. There’s no way she’s my Mom’s child. I should ask MOm about this. 

I place my head on the front seat. “Mom, is she really my biological sister? Her looks are very different from ours.” 

Mom sighs. “Just because she is different doesn’t mean she is not my daughter. You don’t know how much sacrifice and pain I have to endure to give birth to her.” “But she looks like a 7 year old. Why didn’t I see her at all before I went to the boarding house? Are you hiding her from me?” 

Dad looks at me. “Please keep your voice down. I’m driving.” 

I look down. “Sorry. So, why?” 

Mom looks at me. “She was at home even before you went. Don’t tell me you don’t notice your sister at all.” 

“Impossible. I’ve been an only child since birth. You even said it before I went to the boarding house.” 

“What are you talking about?” says Mom, looking at me weirdly. “Oh I see what’s going on. You just hated your sister, didn’t you?” 

“No, I don’t hate her. This just doesn’t make any sense.” 

Mom looks away. “Well you’re the one not making any sense. Don’t talk to me anymore, I want to rest.” 

This definitely isn’t right. I must know why they want to lie to me about the little girl. She’s clearly not my sister. 

“Dad, why—” 

“Shut up. I’m focused on the road,” says him with a raised voice. 

My parents don’t even want to talk to me anymore. Dad used to love talking anytime. Mom likes to joke about everything. What is happening? Why are they so different now? I don’t feel good about any of this. I can’t even sleep anymore, I’m too confused by all of this. Something is definitely wrong with that little girl, but I don’t know what. Whatever is making my parents think that girl is my sister, I must find it out.

*** 

I arrived at my home. Finally I’m back to the place I love, after a year being away. The little girl jumps out of the moving car and my mom quickly follows her inside the house. My dad parks the car in the garage. I step out and go inside the living room, bringing my bag. 

A half circle sofa stands in front of an LED TV. Small coffee table stands between them. A smooth rug stretches from one side of the room to the other side. My favorite bat from my childhood stands beside the TV. This room should be bringing me comfort, but now I just feel uneasy knowing that little girl is here. I walk up the stairs behind the TV and go to my room at the end of the hallway with floorboards. My back hurts from bringin the heavy bag. I step on the creaking floorboard outside of my room. A year away almost made me forget about this. Then, I open the door only to find that the little girl is jumping on my bed. 

I drop my bag. “Hey! This is my bedroom. Get out of here!” 

She stops jumping and starts crying on my bed, closing her face with her teddy bear. Mom runs up the stairs and bumps me while running to the girl. 

“Why do you shout at her?” says Mom while patting the girl. 

“This is my room.” 

“Your sister doesn’t have a bedroom yet. Let her sleep here tonight. She needs rest.” “Well I need rest too,” complains me. “Where am I going to sleep tonight then?” “At the sofa. No more talking and don’t ever shout at her again. I have to make dinner,” says Mom. 

She leaves the room while scratching her head. I’m worried about her but I’m too mad at the moment. I left the room, bringing my bag with me. I throw it to the sofa and lay there to rest my back. There’s nothing weird with that girl so far. She seems like a normal kid. Then what makes my parents turn against me? I have to watch that girl’s behavior more closely. 

Dad just left the garage, holding a rag he used to clean the car. 

“Dad, can I talk for a—” 

“No!” shouts Dad. He sighs. “I’m sorry. I’m just really tired now. We’ll talk tomorrow.” He walks angrily to the kitchen, passing Mom who’s setting up the dining table. I walk up to her. 

“Mom, do you need help preparing dinner?” 

“Sure, set up the table for me. I’ll bring dinner in.” 

She leaves the dining room while I tidy up the table cloth. I set up plates, placing them one by one. Then I place the fourth plate for the chair that no one ever uses. It feels weird that this seat will be used. Then, I place the glasses as Mom brings in plates of dinner. “Dinner’s ready!” shout Mom to upstairs. 

The little girl runs down the stairs while still holding the teddy bear then sits on my usual seat. 

“That’s my seat,” tells me. 

The girl looks at Mom. “But I want to sit here.” 

Mom pushes forward the girl’s chair. “Let her sit here. You sit there,” says her, pointing to the unused chair.

“But I always sit there.” 

Dad comes back from the kitchen. “Stop with the chit chat. I want a calm dinner.” I’m forced to sit on the unused chair. Mom and Dad sit on their usual chairs. Soon after, we started eating. I devour the food on my plate. It’s been so long that I haven’t tasted home cooking. I keep on eating while observing the girl’s behavior. She seems normal, even after dinner is finished. 

Soon it was night. Everything has been tidied up and now everyone is asleep, except for me. I’m laying on the couch, watching my phone as I’m used to sleeping very late. As it reaches midnight, I lay my phone on the coffee table. I yawn then pull up my blanket. My eyes are closed, but then I hear footsteps from upstairs. 

I wake up and don’t think about it much. It’s probably someone going to the toilet. I go back to sleep, but there’s more ruckus. The footsteps now sound heavier. “There’s definitely something wrong up there.” 

I pick up my bat next to the TV and walk up the stairs. I glance to the hallway but there’s nothing. Where are those footsteps coming from? 

There is more sound coming from my bedroom. Something like an old woman speaking, but I don’t understand anything she’s saying. Is there a burglar there? I walk slowly to my room, holding my bat tight next to me. Peeking into my bedroom’s keyhole, there’s a bright light blocking my view. I step forward to look closer, accidentally stepping on the creaking floorboard. The sound stopped. The light dims out in a flash. I open the door only to find the little girl sleeping on my bed. I look around but there’s nothing weird about this place. The window is locked. I don’t see anything that can make a light just like the one I saw. Whatever it is, it has to do with this girl and I’m going to find out. I will check this again tomorrow. 

*** 

Tomorrow has come. Mom is preparing dinner. Dad is cleaning his car. That little girl is in my bedroom the whole day. I go to the dining room again. 

“Mom, do you need help preparing dinner again?” 

She doesn’t answer me. She doesn’t even look whenever I talk. 

“Mom?” I ask again. 

She doesn’t budge and sets the table without acknowledging me. It’s like I don’t even exist to her. 

“That’s it. I’m confronting the girl now.” 

I walk upstairs and look at the keyhole again, avoiding the creaking floorboard. There it is. The same light I saw yesterday. I bash open the door and instantly petrified by what I see. It’s a bear with an exposed skull and rotting skin. Maggots crawl out of its mouth. Red circle glows from beneath it. It stares at me with its empty eye sockets that spew out black goo. The girl sits next to the monster, but she looks so disgusting. Her skin is pale and flabby. Seems like she’s drained out of her blood. The same black goo drips from her eyes. Her teddy bear is nowhere to be seen. 

“Kill him,” growls the bear.

I run away before they even move. I jump down the stairs and pick up my bat from the side of the TV and hold it tight. All I hear is nothing. There’s no sound from upstairs. Mom or Dad is not seen anywhere. What is happening? 

Then I hear a knife being sharpened from the kitchen. 

“Mom?” 

She pushes the door, hitting the wall. Her hand holds a knife steadily. Her look is empty, staring at me. 

“Mom, are you okay?” 

Dad steps out of the garage, holding a wrench. He looks as weird as Mom. Whatever monster that I saw must be controlling them, but I don’t know how to stop it. The girl steps to the top of the stairs, looking back to normal. She holds the teddy bear again. 

“Mom, Dad, there’s a thief! Save me,” cries her. 

Mom charges forward, pointing her knife at me. I dodge to the side and hide behind the TV. 

“Mom, please wake up. This is Abbie, your only son.” 

She doesn’t say anything. Dad strikes the TV, pushing it to me. I fall down with the TV on top of me. Mom runs to me. I manage to push it away in time and get away with my bat. “Dad, wake up, please. Don’t listen to that monster.” 

They both attack me. I hit the wrench out of my Dad’s hand with my bat, but Mom manages to cut my arm. I run away to the back of the sofa while tears drop from my chin. “Please remember me. I don’t want to hurt you. I love you.” 

They keep attacking me but I try to not hurt them and keep evading away. “Mom, Dad, remember me please.” 

“Oh, poor you,” says the girl. 

The constant attacks made me forget about the girl. She’s now standing at the base of the stairs. 

She giggles. “Seems like they don’t remember you anymore. Just give up.” I dodge Dad’s punch and jump back from Mom’s knife. 

“Stop controlling them. Give them back.” 

She laughs. “Why would I do that? I’ll live a happy life with them. While you…” she laughs again. “You’ll be dead now.” 

Mom lunges towards me and cuts my leg. I cover my wound while screaming in pain. I move away from her. Dad punches me straight in the chest and I fall down. I can’t keep dodging everything. I must attack back if I want to survive even though they’re my parents. 

I hit my attacking Dad in the arm and knock him down. I stand up but instantly get attacked by Mom. She tries to stab me. I hit her in the head. She fell, hitting her head on the floor. 

“Mom, I’m so sorry.” 

I look back at the girl. 

“You! You made me hurt my parents.” 

She walks happily over the fallen TV. “I didn’t do anything. You hurt your own parents.” 

“No, you force them to attack me.”

She sighs. “It’s not me dumb dumb. I’m just a weak little girl with wonderful parents. I wonder how much fun we will have after you’re gone.” 

“I won’t let you take them from me.” 

I run to her and bash her with my bat. She fell over. Her teddy bear fell out of her hand. “Abbie, what’s happening?” says Dad from behind me. “Why does my arm hurt?” “Dad, are you okay?” 

I run to them, putting my bat on the coffee table. My mom wakes up from the floor, holding her head. 

“My head really hurts. Abbie, did I fall on the floor?” 

I hold my Mom’s hand. “Mom, I miss you.” 

“Why am I holding a knife?” asks her confused. 

“It’s because of her,” says me pointing to the girl. 

She stands up, holding her wounded face. She’s back to her disgusting self. “How dare you do that. You will suffer now,” screams her. 

She runs to her teddy bear and picks it up. Her skin smoothed and went back as a normal child. All of the sudden Mom stabs my arm. I jump back and get hit on the back by Dad. I kick him and get waya. As soon as the girl grabs that teddy bear, my parents get controlled again. That teddy bear must be her source of power. 

I grab back my bat, holding the pain of blood flowing on the handle. I will end this. I run towards her but Dad blocks my path. I hit him as hard as I can but the girl runs away. Mom screams from my back, running towards me with a knife. I strike her. She loses control and ends up stabbing Dda right in the guts. 

“No!” 

The girl laughs. “Oh look what you do now. He wouldn’t be hurt if you just give up.” “You monster!” 

She picks the knife from Mom’s hand and attacks me. Another swing, another cut. I try to attack back but she manages to cut me several times. I move back then swing hard. She dodges it as Mom strikes me. My head is spinning. I swing back and forward randomly and manage to hit the girl away. I fell to the ground. My bat rolls away to where the girl fell when I hit her. 

“No. Mom.” 

The girl knife was deep in Mom’s neck. The girl stands up with shaking legs, holding her bloody teddy bear tight. I try to move but I have no more strength to pull myself up from the puddle of my own blood. 

She picks up my bat and laughs. “I will end this now.” 

She hit me in the head with the bat. I blacked out. 

*** 

Suddenly I was awakened by the sound of a hammer hitting wood. I try to move but my whole body is roped up. My mouth is sewn together. I look at my surroundings and realized that I’m in a coffin, right at my home’s back garden. The moon is shining bright above. The little girl shows up with her teddy bear and a wooden board on her other arm. 

“Oh look. You’re still alive,” says her smiling. “Well that won’t be a problem soon.”

I try to speak back but that only hurts me more. 

“Isn’t it sad being forgotten by your own family. The ones you trusted the most.” I try to scream, the string slowly rips my lip. 

“Don’t panic. I will let you see them one last time.” 

She puts down the board and snaps her finger. Both of my parents show up then sit next to her. Dad’s gut is spewing out. Mom’s neck is almost fully decapitated. They both hug the girl with their lifeless body. 

I keep trying to scream, ripping my lips even more. 

“That’s it. you’re being too loud.” 

Slowly I rip my lips just to say something but it was too late. The girl throws the wooden board over me. I scream in pain as tears run down my cheeks. 

I heard the girl say one last thing before she buried me alive. “I’m the only child in this family.”


Writer: P. C.

Last Will

Entri Writchal #4
Tema: Tragic love


Mungkin sudah sangat lama aku ingin mengatakan ini tapi biarlah, waktuku sudah tidak banyak lagi,dan pada akhirnya engkau sendiri yang menyadarinya, ini bukanlah perkara mudah mengatakannya kepada teman masa kecil ku.

Keyakinan bahwa, alam sesudah kematian merupakan awal dari kebahagiaan yang abadi selalu ditanamkan oleh lingkunganku sejak kecil, anak anak disekitarku juga demikian, tidak ada yang salah dengan hal ini. Bahkan menurutku ada sisi positifnya, kita yang terlalu sibuk mengejar suatu urusan kehidupan dunia bisa saja lupa dengan balasan untuk perbuatan kita di dunia, Entah engkau akan terenkarnasi menjadi nasi putih gagal panen yang langsung dibuang. Atau mungkin seorang anak pejabat kaya raya.

Triiiiingg……triiiiiinggg….

“Marsintoh kelas 1-2, mulai hari ini saya akan bekerja, maksud saya belajar di kelas ini, mohon bantuannya”

Kalimat yang aku ucapkan di hari pertamaku sekolah sangatlah buruk,huhuhu aku sampai ingin menangis, disaat yang sama ada sesorang yang tidak terduga memanggil namaku.

“Umm…  Ntoh. Apakah kau masih ingat aku?”

“Sebentar…. “

Kalau aku bilang ini kebetulan, pasti indeks keberuntunganku berada diatas 83%, untuk sekali roll, Sutejo. Teman masa kecil yang istimewa, mungkin dalam hidupku aku belum pernah menemukan orang se-Menarik dia, Sebuah kejutan ia masih mengingatku padahal aku sudah pergi dari kota ini selama 5 tahun.

“Mana mungkin aku lupa! Hibinyan sudah besar rupanya,… waktunya menggelitik…”

Hari pertama yang luar biasa, seperti biasa keadaan kelas setelah bel pulang berbunyi sangatlah ricuh, disaat yang seperti itu aku langsung pergi ke bangku Sutejo. Dalam beberapa jam saja rasa yang tidak biasa ini kembali, tanpa  kusadari, aku pun menyukainya

Sebentar mengapa tiba-tiba semua terlihat gelap, pandanganku kabur, kepalaku terasa sakit sekali—–

Brag…

“Bagaimana dok, keadaannya?

“Kalau bergini terus ini akan jadi masalah yang besar—“

Diriku terbangun di sebuah ruangan rumah sakit, kupikir saat itu aku mati, ternyata tidak, sulit dipercaya kedatanganku ke kota ini mendatangkan penyakit yang kukira sudah sembuh sedari 5 tahun lalu, Tumor Otak Stadium 4, mungkin sulit untuk percaya anak berumur 16 tahun terkena penyakit mengerikan ini.

“Tetaplah kuat, Ntoh!!”

Suara seseorang yang memanggil dari balik jendela perawatan, aku tau kau disana tapi rasanya sangat sulit untuk membalas dukungan itu, karena keadaan ini, dan hanya dengan senyum sambil menahan rasa sakit ini saja ku balas dukungan mu, Sutejo. 

“iya, aku akan berjuang lebih keras lagi”

Kucoba jawab dengan suara lemah, tanpa ku sadari airmata mulai menetes

Sebenarnya aku senang, sangat senang, bahkan bisa dibilang ini kesenangan di momen ini lah aku merasa sebagai orang paling Bahagia di dunia karena masih ada orang yang menyayangiku setelah kedua orang tuaku pergi entah kemana. Setelah itu Sutejo pun diperbolehkan menghampiri tempat tidurku oleh dokter, 

Sutejo sudah menungguku, sambil menangis dan memegang selembar kertas yang tidak bisa kubaca dari kejauhan. Dia memelukku dengan erat, airmatanya keluar,membasahi pundak seorang wanita 158 cm. aku sudah tau hal ini akan terjadi suatu saat nanti, Kesedihan akan kepergian diriku

“1 hari tersisa, ini bukan main main, Ntoh, aku ingin mewujudkan kebahagiaanmu, berhenti bersenda gurau, untuk menutupi kesedihanmu.”

Aku tahu menutupi hal ini darinya merupakan hal yang buruk, tapi aku tidak ingin dia bersedih, namun pada akhirnya aku membuatnya bersedih, sungguha aku tidak pandai berbohong 

Sebenarnya ada jalan lain untuk menundanya, yaitu dengan operasi, tapi itu memakan cukup biaya, dan dokter menyarankanku untuk melakukannya malam ini, Sutejo langsung menyetujuinya.

Aku sadar kesempatan hidupku hanya tergantung pada keajaiban, operasi ini sebenarnya sia sia, sebelum, aku dibius, dan mungkin kesempatan sadarku untuk terakhir kalinya, aku menatap jendela luar aku bisa melihat dia disana, 

“Aku mencintaimu.. untuk hari ini, sampai hari terakhirku.. Meski begitu, apakah aku yg mengatakannya di akhir..?”

“Aku hanya berharap kebahagiaanmu di masa depan.”

“Aku harap kita bisa bertemu di reinkarnasi selanjutnya”

“Selamat tinggal…”

Jadinya mati ya gaes ya


Penulis: Kiped

Xdress

Entri Writchal #4
Tema: Oneshot


Aku sedang tertidur lelap di kamar sempit yang aku tinggali seorang diri. Akhirnya, aku dapat menikmati awal dari liburan panjang setelah lama bekerja keras. Kemudian, aku terbangun karena mendengar ketukan dari pintu kama. Ketika membuka pintu, aku disambut oleh sesosok gadis kecil yang membawa boneka di tangan kanannya. Lalu, ia mengucapkan “Halo Kak!” sembari tersenyum.

Namun seketika senyuman itu hilang dari wajahnya. Senyum tersebut berubah menjadi raut wajah bingung. Dia memeluk bonekanya dengan erat menutupi mulutnya. Kemudian kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“Loh, Kakak… siapa?”

Tidak pernah terbayang bahwa suatu hari aku akan merasa lega ketika adik perempuanku tidak mengenaliku.

“Eeeeeh… aku adalah teman kakakmu.” Kuucapkan dengan suara feminin.

Aku berusaha menutupi rasa cemasku sebisa mungkin. Apakah dia akan percaya denganku. Apakah dia akan mencurigaiku.

Ekspresi wajahnya seketika berubah. Senyum kembali menghiasi wajahnya.

“Kau dengar itu, Kani? Kak Raki punya teman yang sangat cantik!” Ucapnya kepada boneka kepiting ditangannya.

Perasaan sedih dan senang datang bersamaan kepadaku saat mendengar kata-kata tersebut. Di satu sisi aku senang karena dia menganggapku cantik, di sisi lain aku sedih karena telah membohonginya.

“Ehehe…” tawaku kecil.

Kemudian pertanyaan lain keluar dari mulutnya.

“Perkenalkan, aku Riho. Nama kakak siapa?”

“Eeeeh… panggil saja aku Rika. Kakakmu sedang pergi ke luar kota dan akan kembali besok. Sebelum dia pergi, dia memintaku untuk menjaga tanaman-tanamannya. Oleh karena itu aku ada disini sekarang.”

Kemudian dari kejauhan tampak seorang perempuan yang berjalan kesini. Benar saja, aku lupa bahwa hari ini ibu datang berkunjung.

“Riho, jangan jalan sendiri- Eh…” Ucap ibu.

Aku pun memberikan penjelasan yang sama kepada ibu seperti yang kujelaskan pada Riho. Kemudian ibu mengajak Riho pergi dan bilang akan berkunjung lagi besok saat “aku” kembali.

Aku menutup pintu kamarku dan berbaring di kasur. Memikirkan apa yang harus kulakukan besok.

Seharusnya aku tidak crossdress saat keluargaku berkunjung.

[Esok harinya]

Ibu datang kembali bersama Riho. Aku pun menjelaskan kepada mereka bahwa Rika adalah temanku dan aku memintanya untuk menjaga tanaman-tanamanku selagi aku pergi. Rika sudah pergi karena ada urusan mendadak. Untungnya mereka memercayai penjelasanku. Kemudian ibu mengajakku pulang ke rumah secara tiba-tiba. Aku meminta waktu kepada ibu untuk menyiapkan barang-barangku sebelum pulang.

“Ibu akan membantumu menyiapkan barang-barangmu.”

“Tidak perlu, bu.”

Wajah ibu terlihat bingung.

“Aku bisa menyiapkannya sendiri, sebaiknya ibu mengajak Riho berkeliling tempat ini saja, Riho kan jarang datang kesini.”

Ibu pun mengiyakan kata-kataku dan mengajak Riho berkeliling. 

Aku masih selamat, meskipun aku sudah menyembunyikan pakaian, make up, dan wig yang kupakai kemarin, ibu bisa saja melihatnya jika membantu menyiapkan barang-barangku. Aku akan memikirkan cara menyimpannya nanti saat aku kembali kesini. Lagi pula, ibu bisa saja memaksa masuk kesini jika aku terlalu lama menyiapkan barang.

Aku pun pulang bersama ibu dan Riho.

“Raki, teman perempuanmu itu sangat cantik ya. Bahkan lebih cantik dari pacarmu. Dan sepertinya kau juga cukup dekat dengannya. Bahkan sampai membiarkan dia menginap di tempatmu.”

Aku terpaku sejenak sambil mencoba untuk mencerna kata-kata ibu. Aku tidak menyangka crossdress ku sebaik itu. Aku pun hanya tertawa kecil dan berharap percakapan ini tidak berlanjut. Namun tiba-tiba Riho pun ikut mengiyakan perkataan ibu.

“Benar, kak Rika sangat cantik. Lebih cantik dari pacar kakak. Riho juga suka dengan suaranya, mirip dengan suara kakak!”

Aku pun hanya tertawa kecil dan langsung pergi ke kamarku agar percakapan ini tidak berlanjut lagi.

Esok harinya, ibu pergi bekerja dan di rumah hanya ada aku dan Riho. Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu. Aku pun menjawab ketukan itu dan membuka pintu.

Pacarku berdiri di depan pintu dan langsung memelukku.

“HAAALOOOOOOO! AKU MERINDUKANMU! Aku sengaja datang tiba-tiba karena ingin memberimu kejutan!”

Dia pun mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah coklat dalam wadah yang berbentuk hati. Dan di saat yang berbahagia ini, Riho tiba-tiba datang berlarian ke arah kami.

“Kak, kak… saat aku dan ibu menjemput kak Raki, ada perempuan cantik yang tinggal di kamarnya. Namanya Rika, dan dia sangat cantik. Bahkan ibu bilang kalau Rika lebih cantik dari kakak loh!”

Dan begitu saja, aku kehilangan pacarku…


Penulis: Compass

Somnolence

Entry for Writchal #4
Theme:
 wc4


Somnolence

I woke up to a vacant space. 

After labouring with the fray. 

Quiet is this place. 

Unlike the battlefield where I was supposed to stay. 

Then I realise. 

I have gone back in time many paces.

I noticed a door in the corner. 

On the left side of the room. 

A dark room. 

My world of worlds. 

I was here. 

I am not here. 

But I was. 

I am still me. 

I am me here.

The world outside is completely dark. 

But I feel more afraid here than in the unlit room. 

Why is there no light? 

The world outside is completely dark. 

A wall has appeared. 

The wall is blocking the door. 

A great effort. 

I strain again and again.

A knock on the door. 

light and delicate. 

The door swings open and I am pushed into a shadowed room 

A familiar figure stood thereof. 

Pristine white. 

Inlay. 

Blue trim. 

Slender and straight. 

Vibrant colours. 

Small flowers. 

Don’t remember flowers. 

Don’t remember the flowers.

Hello, big sister. the figure exclaims. 

A pleasant sight. 

I look at her and see the most beautiful girl. 

A girl with the most beautiful personality. 

A girl with the most beautiful face. 

Lovely smile. 

How I missed your face. 

Saying good bye. 

The white streak, the blue trim, the vivid colours. 

I am left with you. 

Nothing else.

But I have not seen her in years. 

Fumbling in my hands, I gave the most charming smile I could. 

Everything I had. 

The words escaped my mouth and tears dissolves in my eyes. 

I was on my way out of the woods.

Is this a mirage? 

Is this how it used to be? 

Could I go home again? 

Could I still live my life?

The figure grabbed my hand. 

soft, and tender. 

The indescribable feeling overcame my senses. 

Two flowers bloomed in my mind. 

A door in the distance was lit up. 

Familiar flowers. 

Familiar voices 

A young face I used to love. 

A girl. 

A beautiful young girl. 

A girl. 

The door opened, and I was back in time.

Memories took me away, disconcerting me. 

A bell rang. 

Darkness. 

All around me was darkness. 

Immense darkness. 

My face aching, my hand aching. 

Sleeping. 

Sleeping. 

I realized I was, and I was freezing cold. 

A thousand footsteps thundered, and I was cowering in the corner. 

Thud. 

Footsteps. 

Running.

Thundering.

A voice called out to me. 

A soft, tender voice. 

Then there I was. 

Back in the room. 

Familiar faces around me. 

Familiar faces. 

Warm faces. 

But I could not tell who they were. 

Not in that world. 

My world. 

It can’t be. 

“Big sister!” the figure exclaimed to me, yet again.

The figure sat next to me. 

It’s so warm here. 

It’s so peaceful here. 

I am finally home.

I sighed.

I’m finally home.

“Big sister, do you remember how we used to play those games in our summers?”

The figure teased me.

“Do you remember how we used to build sand castles in the sea?”

I could not respond.

Could not speak.

Could not do anything.

I was gone.

This is not the world I left when I died.

Those wonderful times.

Another lifetime.

Another world.

Something within me twisted.

“Big sister, I want to do it again!”

My sister pleaded with me.

“Big sister, I want to play”

She put her hand on my shoulder.

Her hand was so warm.

Her touch was so comforting.

“You are cold.” 

She said.

I was crying.

The sound of the rain, the wind, and the voices around me were muffled.

Why could I hear her?

Why was she comforting me?

Why did she come back?

“The winter is not nice, Big Sis.”

She whispered to me.

“I miss you.”

I said. 

I was happy.

Content.

I couldn’t stop the tears.

I couldn’t stop the tears.

“I miss you, too.”

She said.

The way she was looking at me.

I had forgotten.

“Stay here with me, big sis.” She said.

her voice filled my head.

She said, “Don’t go, please don’t leave me, Big Sis”

The figure placed a tender hand on my shoulder.

I am always here.

Don’t leave.

Stay here, I will be here for you.

I promise, big sis.

I will be here for you.”

I closed my eyes.

As I was struck with sorrow.

The moment came when we parted. 

She disappeared. 

I wanted to go back to her. 

Don’t leave me alone. 

I’ll get old. 

I’ll die. 

I’ll be alone. 

I will have nobody. 

I wailed in tears. 

I wanted to touch her. 

I Couldn’t. 

And then I woke up.

Familiar sight of hospital tent.

Familiar smell.

Familiar beds.

I wanted to leave.

I wanted to leave.

The rain was pouring down heavily.

I wanted to go home.

But I couldn’t go home. I no longer have one.

She’s always here.

A dream.

She’ll be here for me.

A lie.

A murderer I have become.

A mass murderer.

I can no longer stay with her. 

I will never see her face again. 

her tender voice. 

her gentle touch. 

I will never hear her say my name.

Because I can no longer go to where she resides now.

Because…


Writer: Von Grenadus