Vergissmeinnicht

Entry Writchal #2
Tema: High School Romance


Vergissmeinnicht

====================================================

Musim Panas, Tahun Kelima Belas Era Kekuasaan Ratu Theresia

Hari itu, sepulang sekolah, aku melihat seseorang berambut cokelat yang hanya diam selama berjam-jam di bawah pohon ek. Entah apa yang ada di pikirannya. Gerak-geriknya sangat aneh. Terkadang, ia terlihat menggali tanah seperti sedang mencari sesuatu. Sesekali, ia juga berusaha memanjat pohon ek itu meskipun gagal sampai ke puncak. Karena penasaran, aku pun akhirnya mendekatinya.

Apa kau ingat? Itu adalah saat pertama kali aku bertemu denganmu. Aku masih ingat betul, saat itu kau memakai kemeja putih lusuh yang telah ternodai oleh tanah dan celana panjang cokelat dengan tambalan di sana-sini.

Sadar akan kehadiranku, kau pun menghampiri dan menyapaku. Aku membalas sapaanmu, lalu bertanya “Kegiatan apa yang sedang kamu lakukan?” Kau lalu menjawab pertanyaanku dengan penjelasan panjang lebar mengenai tupai, bunga, dan pohon ek.

Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang kau katakan. Namun, entah mengapa, kau menarik perhatianku. Aku suka ekspresimu yang terlihat sangat bersemangat ketika sedang menjelaskan sesuatu, terutama lirikan mata cokelatmu itu. Aku juga suka gerakan tanganmu yang seolah menari-nari mengikuti arah pembicaraanmu.

Setelah itu, kita berkenalan. “Victor.” Ucapmu sambil menjabat tanganku. “Nama yang bagus.” Ucapku di dalam hati.

Kita lalu saling bertukar cerita, baik cerita senang maupun cerita sedih. Kau memberitahuku bahwa kau adalah seorang penjual bunga. Kau juga bercerita bahwa kau tinggal seorang diri di sebuah rumah tua pinggir sungai. Setiap hari, kau memetik bunga lalu menjualnya ke pasar rakyat. Bunga-bunga itu pada awalnya merupakan bunga liar yang kau rawat dan budidayakan di tanah kosong dekat rumahmu.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kamu biasa mencari makanan dari lingkungan sekitarmu. Mencari beri ke hutan, berburu kelinci liar, atau mengumpulkan acorn.

Sejak saat itu, kita makin akrab. Setiap pulang sekolah, aku selalu mampir ke rumahmu. Sambil menungguku dijemput oleh pelayan pribadiku, kau menemaniku bermain. Kau juga selalu mengajakku ke tempat-tempat menakjubkan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kita mencari beri ke hutan, berjalan menyusuri sungai, atau sekedar tiduran di atas padang rumput sambil melihat awan. Kau menunjukkan sebuah dunia baru yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

========================================================

Musim Dingin, Tahun Kelima Belas Era Kekuasaan Ratu Theresia

Musim dingin telah tiba, sekolah pun akhirnya libur. Seluruh kota menjadi berwarna putih tertutupi salju. Suhu udara menurun drastis sampai membuat sampai membuat seluruh penduduk kota menggigil kedinginan.

Aku terkurung di kamarku yang berada di lantai dua rumah. Bukan karena dikurung oleh orangtuaku, melainkan karena aku tidak kuat menghadapi udara dingin. Selimut hangat dan teh panas yang menemaniku sangat cocok untuk menghangatkan tubuhku, tapi tidak untuk hatiku. Aku merindukanmu, Vic.

Tak disangka, kau tiba-tiba mengetuk jendela kamarku. Aku pun terkejut dan menyemburkan teh yang sedang aku minum. Kau pun tertawa terbahak-bahak. Saking asyiknya tertawa, kau pun terjatuh dari tangga yang kau naiki. Aku lalu bergegas memakai pakaian hangatku dan segera keluar rumah untuk mengecek kondisimu.

Untungnya, kau terjatuh ke atas tumpukan salju tebal yang menumpuk sehingga tidak mengalami luka yang fatal. Kau bahkan masih bisa menertawaiku yang terlihat sangat mengkhawatirkan kondisimu. Saat itu, aku yang malu secara refleks melemparkan bola salju ke arah wajahmu. Setelah itu, kita pada akhirnya malah bermain lempar salju.

Setelah puas bermain lempar salju, kau mengajakku membangun orang-orangan salju. Dengan menggunakan bahan-bahan seadanya seperti ranting pohon dan kacang, kau menghias boneka salju itu. Kini, boneka salju itu telah memiliki mata dan hidung walaupun masih tidak karuan bentuk wajahnya. Meskipun begitu, aku tetap senang karena kau telah mencoba menghiburku.

Keesokan harinya, aku terkena demam. Menyebalkan sekali rasanya, semua makanan terasa pahit dan aku hanya bisa berbaring di kasur sepanjang hari. Lebih parahnya lagi, aku tidak bisa bertemu denganmu selama berhari-hari karena aku dilarang keluar rumah sampai sembuh. Untungnya, sesekali kamu mengunjungiku untuk sekedar membawakan kacang atau mengecek kondisiku. Aku senang. Setelah beberapa hari, aku akhirnya sembuh dan bisa kembali bermain denganmu.

Setiap hari, kau mengunjungi kamarku. Kita pun lalu berbincang hangat seperti musim-musim sebelumnya. Kau bercerita bahwa bunga-bunga tidak tumbuh di musim dingin sehingga kau beralih profesi menjadi penjual koran untuk sementara waktu. Meskipun begitu, kau bilang bahwa kau cukup senang dan menikmati pekerjaan barumu itu.

Musim dingin waktu itu terasa spesial bagiku, terutama karena kejadian pada malam tahun baru. Seperti biasa, kau mengetuk jendela kamarku. Namun, kali ini kau mengejutkanku. Tak seperti biasanya, kau memberikanku hadiah berupa syal dan sarung tangan rajutan berwarna biru, seperti warna kesukaanku. Kau lalu bilang bahwa kau sengaja menabung uang hasil jualan demi membelikanku hadiah. Bagiku, hal itu sangat istimewa. Aku merasa sangat bahagia dan langsung memelukmu. Saat itu, aku mulai jatuh hati padamu.

========================================================

Musim Semi, Tahun Keenam Belas Era Kekuasaan Ratu Theresia

Musim semi telah tiba. Bunga di seluruh penjuru kota kembali bermekaran. Kau pun akhirnya kembali menjual bunga. Kali ini, kau bercerita bahwa omzetmu meningkat drastis. Seluruh bungamu laku keras. Kau lalu menjelaskan bahwa semua bungamu dipesan untuk festival bunga tahunan yang diselenggarakan oleh sekolahku. Kau juga diminta untuk membantu mendekor sekolah dengan bunga untuk festival tahun ini. Mendengar hal tersebut, aku sangat bahagia.

Sekolahku adalah sekolah khusus wanita bangsawan sehingga hampir tidak ada pria seumuranku di sini. Pelajaran di kelas tidak terlalu memusingkanku, tetapi pergaulan di sini sangat memuakkan. Setiap hari, setelah kelas berakhir, hampir semua siswi di sini hanya berbicara mengenai keluarga mereka atau mengadu kekayaan mereka. Mereka juga sangat sombong. Aku tidak menyukai mereka.

Oleh karena itu, biasanya ketika jam istirahat, aku selalu pergi ke halaman belakang sekolah seorang diri untuk sekedar melihat-lihat pemandangan. Namun, kali ini, aku bisa melakukannya bersamamu. Kita lalu menghias sekolah dengan berbagai bunga warna-warni sambil berbincang hangat.

Kau membantu menghias taman, sementara aku membantu mendekor gedung-gedung sekolah. Di sela-sela kegiatan, kau memberitahuku makna dari berbagai bunga atau yang biasa kau sebut “bahasa bunga”. Ada yang melambangkan kesetiaan, ambisi, simpati, kesedihan, bahkan kasih yang tak sampai.

Kau juga sempat mengatakan bahwa kau iri kepadaku yang bisa bersekolah dan hidup berkecukupan. Padahal, bagiku malah sebaliknya. Aku iri padamu yang bisa hidup bebas dan bahagia setiap hari tanpa perlu memikirkan urusan sekolah atau rutinitas bangsawan yang membosankan ini.

Hari festival pun tiba. Pada festival bunga tahunan ini, setiap orang dari berbagai kelas boleh datang berkunjung. Kita berkeliling sekolah menikmati acara. Ada parade musik, pameran karya, dan juga banyak orang yang berjualan. Namun, momen yang tak akan kulupakan adalah saat ketika kau menyatakan perasaanmu padaku.

Di dekat gedung tempat lonceng sekolah berada, kau tiba-tiba berlutut di hadapanku. Kau lalu menyatakan perasaanmu sambil memberikan hadiah berupa cincin perak dengan sebuah safir kecil yang sangat indah. Aku menangis bahagia dan langsung mencium bibirmu.

Sejak saat itu, kita akhirnya resmi berpacaran. Namun, aku merahasiakannya dari orang tuaku karena takut mereka tidak setuju. Ayahku adalah seorang bangsawan yang memiliki pengaruh cukup besar di kerajaan. Sayangnya, ia sangat menganggap rendah orang yang bukan berasal dari keluarga bangsawan. Aku takut kita tak bisa bersama lagi jika ia mengetahui hubungan kita.

=======================================================

Musim Panas, Tahun Keenam Belas Era Kekuasaan Ratu Theresia

Kebahagiaan kita tidak berlangsung lama.

Musim panas saat itu sangat berbeda dengan musim panas sebelumnya. Perang sedang berkecamuk. Kerajaan Ingrannia diserang oleh negeri tetangga, Frinsia. Sekolah ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan. Alhasil, aku kembali terkurung di rumah. Kondisi negara yang sedang tidak stabil menjadi alasan bagi ayahku untuk kembali melarangku keluar rumah.

Saat itu, mungkin sudah sekitar seminggu lamanya kita tidak bertemu, Vic. Aku pun akhirnya mencari celah untuk bisa keluar rumah. Saat semua keluarga dan pelayanku sedang lengah, aku akhirnya berhasil pergi menemuimu.

Saat kutemui, kau sedang berdiam diri di rumahmu dan merenung. Aku lalu menanyai kabarmu. “Aku tidak sedang baik-baik saja.” katamu. Aku sempat sedikit menggodanya. Namun, saat kutanya alasannya, kau akhirnya menjelaskan alasan di balik kesedihanmu.

“Akibat perang yang sedang berkecamuk, semua pemuda di negara ini harus mengikuti wajib militer. Aku hanya punya waktu satu minggu sebelum pergi meninggalkan kota ini.”

Hatiku hancur mendengar perkataan itu. Aku langsung memelukmu pada saat itu sambil menangis. Belum kering air mataku, masalah lain kembali datang. Ayahku ternyata berhasil menyusuri jejakku dan memergokiku ketika sedang berpelukan denganmu.

Ia langsung marah besar, menampar pipimu, lalu memaksaku pulang. Ayahku berkata padamu “Kau tidak layak untuk putriku, dasar orang rendahan!” sambil bergegas membawaku pulang ke rumah.

Aku kembali dikurung di kamarku, tetapi dengan penjagaan yang jauh lebih ketat. Pada malam itu, aku hanya bisa menangis. Hatiku tercabik-cabik. Aku takut kehilangan dirimu, Vic.

Seminggu setelah kejadian itu, entah bagaimana caranya, engkau tiba-tiba muncul di jendela kamarku dan mengetuknya. Aku senang, akhirnya kita bisa berjumpa lagi. Namun, aku tahu bahwa kau ingin mengucapkan perpisahan. Hari itu adalah waktu ketika kau pergi ke luar kota untuk mengikuti wajib militer.

Kau berkata “Akan aku buktikan pada ayahmu bahwa aku layak menjadi pasanganmu! Meskipun sulit, aku akan menjadi orang sukses. Tunggulah aku, setelah perang ini telah usai, aku akan kembali membangun bisnisku. Aku akan membuatnya berkembang hingga bisa dikenal di seluruh negeri. Setelah itu, aku akan kembali ke rumah ini dan melamarmu.”

Aku lalu berkata “Berjanjilah bahwa kau akan kembali!”

Kau lalu membalasnya “Janji!”

Sebagai bukti keseriusanmu, kau membawakanku buket bunga forget-me-not.

“Bunga ini berwarna biru, seperti warna kesukaanmu. Bunga ini juga menyimbolkan cinta sejati. Selain itu, seperti namanya, aku harap kau selalu mengingatku, sama seperti aku yang selalu mengingatmu.” ucapmu.

Setelah itu, kita kembali berpelukan. Lalu, kau bergegas pergi sambil menahan air matamu. Aku melambaikan tanganku sambil menyaksikanmu perlahan pergi meninggalkanku.

========================================================

Musim Semi, Tahun Kedua Puluh Enam Era Kekuasaan Ratu Theresia

Sudah sepuluh tahun sejak kepergianmu. Perang pun sudah berakhir tiga tahun yang lalu, tetapi kau tak kunjung dating, Vic. Setiap hari aku selalu menunggumu. Bunga forget-me-not yang kau berikan waktu itu telah aku keringkan dan awetkan, lalu aku pajang di kamarku sebagai memento keberadaanmu.

Bagaimana kabarmu?

Apa saja hal-hal yang kau lakukan selama ini?

Apakah kamu masih menyukai bunga?

Apakah kau makan teratur?

Apakah kamu masih hidup?

Apakah kamu membenciku?

Apakah kamu masih mengingatku?

Apakah kamu masih ingat janjimu?


Penulis: Traveler R

Leave a Reply

Your email address will not be published.