Parallelogram α

Entri Writchal #1

Tema: Kakak Adik


Parallelogram α

Kehidupan yang tenang, sebagai seseorang yang memiliki keluarga bahagia. Sang adik yang selalu menempel dengan kakaknya. Ayah yang selalu bermain bersama dan ibu yang selalu mendukung seluruh kegiatan dan mimpiku.

Sang kakak hanya memiliki satu ambisi, yaitu untuk selalu berada di samping adiknya. Rintangan, tembok setebal apa pun, akan ia terjang demi adiknya.

“Kak, tetaplah jaga adikmu, ya.” Sang ibu mengusap-usap kepala sang kakak. “Ibu, ayah, selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”

Di tengah malam yang dipenuhi suara-suara hewan nokturnal dan cahaya bulan yang menyelimuti dinginnya udara, sang ibu menitikkan air matanya.

Air mata kesedihan yang bahkan tak bisa dimengerti apa maksudnya.

Dengan kecupan terakhir di dahinya, sang ibu pergi meninggalkan sang kakak.

Sang ibu pergi meninggalkan sang kakak. Sang ayah pergi meninggalkan sang adik. Keduanya meninggalkan sepasang kakak beradik.

Di hadapan tumpukan tanah dan nisan dari kayu yang bertuliskan nama dari sang ibu dan ayah. Hujan benar-benar menutupi tangisan kedua anak itu.

Dengan kondisinya yang dikotori lumpur tanah dan wajah runyamnya menangis tersedu-sedu.

“Ibu … Ayah ….” Sang kakak sulit untuk menerima segala pahitnya itu.

Sang adik pun menangis, tetapi … ia menangis karena untuk pertama kalinya melihat sang kakak menangis.

Keduanya benar-benar melepaskan seluruh emosinya. Tak ada yang bisa mendengarnya. Tak ada yang bisa menolong mereka.

Hanya diri mereka sendiri yang bisa menolongnya.

Kekuatan.

Rasa saling membantu.

Kepercayaan.

Sang kakak dan adik benar-benar sudah berubah selama satu tahun ke belakang. Mereka sudah mampu menerima seluruh kenyataan.

Bahkan dengan kemampuan dan bakatnya sekarang, sang kakak mendapatkan sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang cukup besar saat dirinya menduduki bangku SMA. Sedangkan, sang adik mendapatkan penghargaan sebagai siswi terbaik di sekolahnya dan beasiswa penuh.

“Dek, bukannya hari ini kamu ada ujian tengah semester? Kamu bisa terlambat, loh,” teriak sang kakak dari depan pintu kamar adiknya.

Saat ini, mereka berdua hidup dengan damai di sebuah rumah yang dibeli oleh sang kakak dari gaji kerjanya.

Sang kakak mencoba untuk mengetuk-ngetuk kamar adiknya, “Jangan salahkan kakak, ya. Jika kamu terlambat pergi ke sekolah.”

Inilah awal kehidupan sang kakak, seorang siswa yang sudah menduduki bangku kelas 3 SMA. 

~***~

“Kenapa kakak tidak membangunkanku!” sang adik panik karena terlambat untuk mengikuti ujian di sekolahnya.

Kakaknya sedang berada di dapur menyiapkan makanan untuk dirinya, “Apa maksudmu,” — sang kakak menghampiri adiknya dan menjitaknya dengan lembut — “kakak sudah membangunkanmu, tapi kau tidur seperti sedang hibernasi saja.”

“Maafkan dedek,” ucap adiknya sembari pipinya dicubit oleh kakaknya itu. Sang adik merapikan buku-bukunya ke dalam tas dan juga merapikan pakaiannya.

Sang kakak membatunya, “Semangat ujiannya, ya.”

“Terima kasih, kak.” Sang adik tersenyum senang karena baru saja disemangati oleh kakaknya.

“Maksud kakak, semangat menjalani ujian dengan waktu yang tersisa sedikit.”

“Kakak! Sekarang kakak antarkan aku ke sekolah,” menarik pakaian kakaknya dan keluar rumah.

“Baiklah, baiklah.”

Dengan sepedanya yang ada di halaman depan, sang kakak mengantarkan adiknya pergi bersekolah di kursi kelas satu SMP.

Sepanjang perjalanan, sang adik hanya diam melamun. 

Di tengah perjalanan, ban depan sepeda bocor. Terpaksa untuk mereka berdua untuk berjalan sembari sang kakak mendorong sepedanya.

Sang adik seketika mengucapkan sesuatu saat sedang berhenti di depan palang kereta, “Kakak, apakah kita selamanya akan selalu berdua? Dan apakah kita bisa untuk selalu seperti ini saja?”

Sesaat keduanya terdiam akibat pertanyaan itu. Hanya terdengar hembusan angin yang semakin kencang melewati telinga. 

Kereta pun lewat dengan cepat dan suara kencangnya yang menutupi suara rintihan adiknya. 

Sang kakak fokus melihat jalan di depannya, memandangi kereta yang lewat. Bahkan tak ada perubahan raut wajah di mukanya.

“Sepertinya adek menanyakan hal yang aneh, ya? Maaf,” genggaman sang adik pada pakaian kakaknya semakin erat. Wajahnya menjadi sedikit murung. Ia juga menutupi wajahnya pada punggung kakaknya.

Apapun yang terjadi, kakak akan selalu berada di sampingmu — pikir sang kakak.

Berlalu lah waktu di jalan, mereka berdua sampai di sekolah. “Terima kasih, kak.” Sang adik menarik tangan kakaknya untuk salam. Menundukkan kepalanya menghampiri tangan sang kakak.

Setelah salamnya, sang kakak mengusap-usap kepala adiknya, “Semangat, ya.”

Wajah kakaknya tersenyum. Senyuman yang terlihat sangat tulus. Karena senyumannya itu, sang adik semakin semangat lagi untuk mengikuti ujiannya.

“Baik!”

Punggung adiknya sembari membawa tasnya, berlari dengan semangat ke dalam sekolah. Pemandangan itu selalu tertanam dalam pikiran sang kakak.

“Baiklah, mungkin aku akan pergi ke pasar terlebih dahulu.”

Dari sekolah, sang kakak melanjutkan perjalanannya ke pasar.

Tak jauh jaraknya, hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja. Sang kakak memarkirkan sepedanya di salah satu toko yang sering ia kunjungi.

“Ibu kue, saya nitip sepeda saya seperti biasa, ya.”

“Ok, nak.”

“Oh ya, seperti biasa saya pesan yang ‘itu’.”

“Mungkin nanti akan ibu titipkan pada anak ibu.”

“Ok, bu.” Sang kakak berlari ke dalam pasar. Mencari seluruh keperluan yang dibutuhkan.

Sang kakak mencari-cari toko yang kemarin disarankan oleh adiknya, “Sayur … Daging … Toko Ikan Segar. Ah, di situ.” Sang kakak berjalan sembari menyebut toko-toko yang dilewatinya.

“Halo kakak pahlawan, kemari! Kami baru saja mendapatkan ikan segar kesukaan adikmu.” Sang penjual ikan di toko bernamakan “Toko Ikan Segar” itu memanggil sang kakak.

“Jangan panggil seperti itu. Aku malu.”

“Hahaha! Tidak apa-apa. Karena sampean, pasar ini menjadi lebih sejahtera setelah para preman itu pergi.”

“Ya sudah. Saya pesan ikan patinnya, umm … mungkin 1.5 kilo saja?”

“Tidak perlu ribet-ribet jika dengan saya. Nih!” sang pemilik toko itu memberikan 4 ekor ikan patin di dalam bungkusnya. “Harganya seperti biasa saja.” Dia memberikan senyuman ramahnya kepada seluruh pembeli di sana.”

“Baiklah,” sang kakak memberikan uangnya. Lalu menerima kembalian. “Terima kasih,” pergi meninggalkan dan mencari toko lain.

“Terima kasih kembali juga. Ayo! Dibeli-beli ikan segarnya ….”

Saat berkeliling pasar, mencari, serta membeli seluruh kebutuhannya, ia selalu disambut dengan baik oleh para pedagang. Semuanya juga berterima kasih kepadanya. Memang benar, jasanya itu telah membuat senang banyak orang di sana.

Hanya saja, aku malu jika selalu seperti ini ….

Karena semua kebutuhannya sudah terpenuhi, sang kakak kembali ke toko kue tempat ia memarkirkan sepedanya. “Halo, bu. Saya ingin mengambil pesanan saya.”

“Kakak! Ini ibu tadi menitipkan pesanannya ke Talia,” seorang anak kecil yang sedang bermain dengan mainannya.

“Oh, Talia. Ibumu sudah pergi?” mengambil pesanannya dan memberikan uangnya pada Talia.

Talia menyimpan uangnya dalam laci, “Ya, ibu sudah pergi.”

“Nih, kakak punya permen enak,” — memberikan permen tersebut dan mulai membisikkan sesuatu — “tapi jangan bilang pada siapapun, ya? Psttt ….”

Talia mengangguk-anggukkan kepalanya seperti seolah-olah paham, “Baiklah, psttt …. Hehe.” Ia tersenyum manis dengan posisi jari telunjuk pada bibirnya.

“Kalau begitu, kakak pergi duluan. Dadah, Talia.” Sang kakak mengambil sepedanya.

“Dadah, kakak!” melambai-lambaikan tangannya.

~***~

Sang adik datang ke dalam kelas dengan kondisi terlambat. Ia diperbolehkan untuk mengerjakan ujian, hanya saja tidak mendapatkan perpanjangan waktu.

Menurutnya, perpanjangan waktu itu tidaklah terlalu penting. Karena ia tetap bisa mengerjakannya dengan cepat dan tepat.

“Saya sudah selesai, bu. Apakah saya boleh untuk pergi ke kantin untuk istirahat lebih dulu?” ucap dan tanya sang adik. Ia melakukannya dengan cepat, karena ia sadar. Bahwa ia belum sarapan dan perlu untuk sarapan, secepatnya.

Guru pengawas dan siswa di sana terkejut dengan ucapannya, “Ba—baiklah, kamu boleh duluan.” 

Apa yang ingin saya makan, ya? — pikir sang adik.

Tetapi sesampainya di kantin, “Ramai sekali … Aku sudah tidak tahan lagi.”

Dengan seluruh kemampuannya, sang adik berhasil menyelip-nyelip di antara kerumunan dan berhasil mendapatkan tiga potong roti isi.

“Aku mendapatkan isi daging mayo, jagung manis, dan abon. Tidak masalah, yang penting aku masih bisa makan.”

Melihat tempat duduk di sekitar kantin, seluruhnya dipenuhi oleh para murid yang sedang mempelajari materi ujian.

Mungkin aku harus mencari tempat sepi.

Sang adik berkeliling sekolah, mencari tempat yang tenang untuk dirinya makan. Sedikit sulit mencarinya. Di hari itu, seluruh murid datang ke sekolah. Sehingga sekolah terasa sangat padat.

“Di mana, ya …?” bingung mencari tempat yang dapat dinikmati dan menghindari orang banyak.

Dan saat berjalan-jalan hingga ke bagian belakang sekolah, ia melihat adanya seorang lelaki sedang membawa jeriken. Jeriken yang kemungkinan berisikan minyak tanah.

Siapa pria itu? — pikir sang adik.

Sang adik penasaran dan berujung mengikuti lelaki tersebut.

Dia masuk ke dalam sebuah gedung kosong … sebentar, itu gudang, kan?

“Sepertinya, aku tidak bisa untuk mengikutinya lebih jauh lagi. Lebih baik aku kembali ke kelas dan mungkin bertanya ke guru-guru.”

Seperti ada hal yang ganjal.

Tetapi, pada saat ia membalikkan tubuhnya. Ia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang kesannya mencurigakan.

~***~

Kembali pada sang kakak yang baru saja sampai di rumahnya.

“Aku pulang! … Mungkin begitu, tidak ada siapa-siapa di rumah.”

Sang kakak menyimpan seluruh belajaannya di dapur. Sebelum merapikannya, ia mengambil minum dari dispenser di sampingnya.

“Bosan juga, ya.”

Alasan dirinya itu tidak pergi ke sekolah, karena ia baru saja menyelesaikan seluruh pembelajaran di semester tersebut hanya dalam waktu dua bulan. Sehingga ia bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja dan juga merawat adiknya.

Benar juga, tahun depan aku sudah harus pergi berkuliah.

Ia minum sembari duduk di kursi ruang tengah, “Tapi, aku kan sudah mendapatkan beasiswa.”

“….”

Hening, karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi.

Sang kakak masuk ke dalam kamarnya, mengambil laptop untuk mengecek apakah ada pekerjaan baru atau tidak. Ia baru saja menyelesaikan bagiannya yang seharusnya dikerjakan dalam satu bulan. Tetapi, dia menyelesaikannya dalam tiga hari saja.

Tidak heran jika dirinya itu mendapatkan pemasukan yang luar biasa banyaknya dari tempat ia bekerja.

“Tidak ada kerjaan baru lagi.” Menutup laptopnya. Berdiri dan meregangkan tubuhnya.

Seketika ia seperti mendapatkan ide bagus. Alisnya naik.

“Mungkin pergi berolahraga akan bagus.” Ia melihat ke arah jam, “Yosh, masih menunjukkan pukul 7.30.”

Saat salah satu kakinya baru saja melewati pintu rumah, ia teringat sesuatu.

“Benar juga, tadi pagi aku sudah berolahraga. Lagipula, ban sepedanya belum kuperbaiki.” Ia baru saja mengingatnya.

“Mungkin lebih baik, aku tidur saja.”

Saat membalikkan badannya ke dalam rumah, sensor saraf pada leher belakangnya merasakan sesuatu.

Apa itu?! — sang kakak melihat ke arah halaman depan rumah.

Ia juga memegangi punuk lehernya itu, “Mungkin perasaanku saja.”

Dengan perasaan tidak mengenakkan itu, ia masuk ke dalam kamarnya.

Merebahkan tubuhnya. Mencoba untuk menutup mata dan tidur. Tetapi, perasaan tadi terus menghantui pikirannya.

Yang tadi itu, apa? ….

Tak terasa, sang kakak sudah terlelap saja dalam tidurnya.

Tidur dengan baluran cahaya matahari dari jendela kamarnya.

Sangat nyaman.

~***~

Tempat yang sangat hening, tak ada apa-apa di sana.

Kosong.

Hampa.

Sang kakak terbangun di tempat seperti itu.

Ia sadar bahwa itu adalah mimpi. Hanya saja, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sebagaimana dirinya inginkan.

Mimpi? Sepertinya. 

“Entah kenapa, tubuhku terasa sangat ringan.”

Aku bisa berbicara, hanya saja tubuhku terasa terikat oleh sesuatu.

“Tubuh ringan ini, seperti yang orang-orang katakan jika roh seseorang baru saja meninggalkan tubuhnya.”

Jadi … apakah aku mati?

Ia melihat sekitarnya. Semuanya hanyalah putih tak berujung. Tempat yang sangat polos tanpa ada noda sedikitpun.

Sepertinya bukan, mungkin.

Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba tubuhnya mampu ia gerakan sendiri.

Ia melihat tubuhnya sendiri. Memang terasa seperti ada yang mengekang, tapi tidak terlihat di mana-mana.

“Apa tidak ada jalan keluar dari sini?”

Sang kakak berjalan lurus entah tidak tahu ke mana akan membawanya.

Saat dirinya mencoba mengulurkan tangan kanannya, ada sesuatu yang menarik-narik lengan kirinya.

Wajah sang kakak berubah dengan begitu terkejut. Rautannya berubah, dari yang tenang menjadi sangat tidak karuan.

Dengan tersentak, ia terbangun dari tidurnya.

Tubuhnya gemetar luar biasa. Keringat membanjiri tubuhnya. Detak jantungnya berdegup dengan begitu kencang. Rasa pusing yang luar biasa terasa sangat membebani pikirannya.

Apa-apaan mimpi tadi itu?! — pikirnya sembari mengatur napasnya.

Karena ia baru saja tersadar, ia melihat ke arah jam. “Sudah pukul empat sore, apakah adikku belum pulang?!?”

Sang kakak bergegas menuju ruang tengah, “Adek!” Dengan terengah-engah ia memanggil adiknya.

“Ya, kak?” sang adik terkejut dengan sikap kakaknya. “Kenapa, kak? Apa kamu baik-baik saja?” Beranjak dari kursi di ruang tengah, menghampiri kakaknya.

Dia ada di sini. Syukurlah …. — napas lega sang kakak.

Adiknya itu memegangi tangan kakaknya, “Tidak, kakak tidak apa-apa.”

Syukurlah ….

“Lebih baik kakak duduk dan minum terlebih dahulu.” Sang adik menuntun kakaknya ke kursi

“Terima kasih,” jawab kakaknya.

Mimpi tadi itu sangat mengerikan.

“Ini, kak. Minumnya,” suara sang adik memberikan minuman itu kepada kakaknya.

Dan entah kenapa cahaya di luar jendela menjadi berwarna merah pekat.

“Adek ….” Panggil kakaknya sembari melihat jendela. “Adek!”

“Kenapa, kak? Adek di sini.”

Lagi-lagi wajah dan tubuh mengerikan itu terlihat lagi. Sang kakak terkejut untuk kedua kalinya dan juga memasang wajah yang serupa.

Terkejut tanpa mengeluarkan suara sama sekali.

Kedua kalinya, ia terbangun lagi dari tidur dengan kondisi yang buruk. Kelelahan, berkeringat, dan gemetar luar biasa.

Hanya saja, kali ini berbeda.

“Kakak, adek pulang.” Teriak adiknya yang baru saja pulang.

Itu suara adek!

Adiknya itu mengetuk-ngetuk pintu kamar kakaknya. “Adek masuk, ya.”

Dan saat pintu itu terbuka, terlihat adiknya sedang membawa makanan dengan pakaian bebasnya.

“Adek! … Kenapa kamu menggunakan baju bebas? Bagaimana dengan uji—annya …? Adek?” ucapannya terpotong karena bingung.

Entah apa yang terjadi, sang adik memasang wajah ketakutan. Ia berjalan mundur perlahan-lahan dan tersandung jatuh. “Ka-kakak ….” Ia menutup mulutnya. Seakan-akan ingin berteriak, tetapi ia tak sanggup untuk melakukannya.

Semua itu terlihat jelas oleh sang kakak. Seolah-olah sang adik, baru saja melihat hantu atau hal mengerikan lainnya.

Kakaknya mencoba menghampiri adiknya. Dan saat ia mencoba untuk menyentuh adiknya. Lengannya itu menembus tubuh adiknya.

Menembus?!

“Adek! Apa kau mendengarkanku?!” teriak sang kakak.

Apa yang terjadi … dia tidak bisa mendengarku.

Mencoba untuk melihat, apa yang dilihat oleh adiknya. Dan saat melihatnya, sang kakak merasakan mual yang luar biasa. Ia baru saja melihat pemandangan mengerikan. Dengan reflek menutup matanya karena tak kuat untuk melihatnya.

Apa-apaan lagi itu!

Saat sang kakak membuka matanya kembali, seluruhnya menjadi hitam.

Lalu, terdengar suara kereta yang entah dari mana asalnya.

Depan?

Belakang?

Samping?

Tidak, kereta itu berasal dari bawah. Menabrak tubuh sang kakak dengan begitu keras. Seolah-olah terdengar suara balon pecah dengan begitu kencang. Dan rasa dingin darah yang melumuri sekujur tubuh.

Dan mungkin, untuk terakhir kalinya … Sang kakak terbangun dari tidurnya.

Ia langsung memegangi lehernya, melihat seluruh tubuhnya. “A-aku … tidak apa-apa.”

Napasnya itu menjadi sangat tidak teratur.

Mimpi yang luar biasa mengerikan!

“Apa-apaan mimpi tadi itu … Kepalaku menjadi sangat pusing.” Mencoba untuk menenangkan dulu kondisinya.

Tak lama dari sana, ia teringat harus menjemput adiknya.

Benar juga, aku harus menjemput adikku.

Sang kakak langsung pergi menuju sekolah adiknya menggunakan motor yang disimpan dalam garasi. “Aku sudah terlambat.”

Adikku pasti sudah menungguku.

Ia pergi begitu saja, seolah-olah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. 

Sepanjang perjalanan, udara menjadi terasa semakin dingin. Langit-langit pun menggelap. Seolah-olah hal buruk akan segera terjadi.

Apakah aku masih di dalam mimpi? Sepertinya tidak. Kali ini semuanya terasa sangat nyata.

Benar, nyata.

Sesampainya di sekolah sang adik, ia melihat banyak sekali orang berdiam diri di depan gerbang.

Kakak!” terdengar suara samar-samar memanggil sang kakak.

Melihat ke segala arah, “Adek?!”

Tanpa pikir panjang, sang kakak langsung memarkirkan motornya di depan gerbang sekolah.

“Permisi!” ia menerjang masuk ke dalam sekolah.

“Katanya ada seorang murid yang terbunuh akibat mengagalkan rencana pembakaran sekolah.” Terdengar bisikan yang memasuki telinga sang kakak.

Sang kakak, saat tiba di tempat kejadian. Dia benar-benar bingung, ekspresi apa yang harus dipasang. Dia melihat tubuh adiknya sudah berlumuran darah di tanah. Seolah-olah baru saja terjatuh dari lantai atas.

Bentuk tubuhnya sudah tidak karuan.

Kedua kaki sang kakak melemas. Kepalanya merasakan pusing yang luar biasa. Rasa mual pun membuat dirinya muntah.

Rasanya ingin berteriak. Tetapi, mulutnya itu terasa seperti tidak bisa terbuka.

Dan untuk seketika, dia melihat bayangan adiknya dalam mimpi. Dia mengingat semua mimpinya tersebut.

“Murid ini terjatuh karena ada yang mendorongnya —”

“Awalnya murid ini dikejar-kejar oleh pelaku hingga lantai atas.”

Bisikan-bisikan tersebut membuat darah sang kakak mendidih dan mengalir cepat. Rasanya seperti kepala ingin meledak begitu saja.

“Pelakunya itu adalah seorang mantan guru.”

“Benarkah?”

“Mengerikan.”

“Dan katanya ia berhasil melarikan diri sebelum polisi datang kemari.”

Seorang mantan guru di sekolah ini, ya … — sang kakak sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.

Perlahan ia maju, mendekati mayat adiknya itu. Para polisi yang berada di lokasi mencoba untuk menahan orang-orang untuk tidak mendokumentasikannya.

Sedikit demi sedikit, memori adiknya itu muncul dalam pikiran sang kakak. Air mata sudah tak kuasa terbendung. Semua emosi mengalir begitu saja.

Polisi di sana mencoba untuk menahan sang kakak agar tidak mendekati adiknya itu.

“Tenanglah, nak!” para polisi menahan tubuhnya sang kakak.

Dengan tubuhnya yang sudah di luar kendali, sang kakak memukul dan membanting para polisi dengan begitu mudahnya.

“Hei, nak!”

“Hentikan.” Seorang komandan meminta para polisi untuk berhenti. Dia paham dengan apa yang terjadi.

Sang kakak berhasil mendekati mayat adiknya. Ia memandang ke bawah, bertekuk. Tangisannya itu membersihkan wajah sang adik dari simbah darah.

“Adek ….”

Ia mengepalkan tangannya. Memukulkan tangan itu dengan keras ke tanah. Bahkan, hingga tangannya itu mengalami luka sobek yang cukup serius.

Dia berteriak dengan begitu kencang.

“Arghh! Sialan! Aaaa!! Sialan! Sialan! Sialan!!! Aku benci semua ini!”

Dengan pukulan terakhirnya ia terjatuh tepat di samping adiknya.

Orang-orang berhenti ribut setelah melihat sang kakak, berteriak begitu kencang sembari memukulkan tangannya ke tanah.

Aku benci diri sendiri yang tidak mampu melindungi adikku.

Kesedihan dan kemarahan sang kakak terlukis pada langit yang semakin gelap. Tidak ada cahaya matahari yang menembus. Gemuruh pun semakin kencang.

Ia mencoba bangun, duduk di samping adiknya. Meraih tangannya yang bahkan sudah tidak terhubung dengan tubuhnya.

Hujan turun dengan begitu deras. Menyapu habis darah yang ada di tanah dan juga tubuh sang adik. Air yang jatuh juga menutupi kesedihan dan gemuruh menghalangi jeritan sang kakak.

Komandan yang tadi menghampiri sang kakak, “Nak.” Dirinya itu terkejut melihat pemuda itu memiliki tatapan kosong.

“Sadarlah,” ucap komandan tersebut.

Sang kakak menghempaskan tangan komandan tersebut. “Minggirlah.”

Tunggu saja, dek. Aku akan membalaskan dendammu.

~***~

Pemakaman berlangsung dengan dihadiri banyak orang, termasuk juga para pedagang. Pasar dibuat tutup sementara hanya untuk mendatangi acara ini. Semua orang memasang wajah sedih. Mereka kehilangan sosok yang membuat tempat mereka menjadi lebih bahagia.

Sang kakak hanya melihatnya dari kejauhan.

Tepat setelah sang adik dimasukkan kedalam liang lahat, sang kakak pergi dari makam tersebut. Pergi mencari jejak dari pembunuh adiknya tersebut.

Sudah tak ada kehidupan dalam tatapan sang kakak.

Setiap dia diganggu oleh preman. Dia memukulinya hingga para preman itu tidak sadarkan diri.

Pasar, bawah jembatan, hingga gang sempit, semua tempat itu dia lewati tiap malamnya. Mencari bukti dan seluruh informasi mengenai pembunuh adiknya.

“Majulah.” Sang Kakak meremehkan seluruh preman yang menghalangi jalannya.

Para preman merasa kesal karena telah diremehkan. Mereka semua maju bersama menerjang sang kakak.

“Hiyaa!” seorang preman mencoba untuk menusuk.

Tapi serangan lurus seperti itu sangat mudah untuk dihindari dengan cara menggerakkan tubuh ke samping. Sang kakak jongkok menghindari tendangan menuju kepalanya. Ia juga melompat, menghindari serangan sapuan.

Tiga orang preman itu gagal menyerang sang kakak.

Bukan menangkisnya atau membalasnya, sang kakak hanya menghindarinya dengan santai bahkan tanpa menggerakkan tangannya. Tanpa reaksi sama sekali.

“Kali ini, biar aku yang maju.”

Dengan pose seperti ingin menendang ke arah atas, si preman mencoba untuk menghindari tendangannya. Alhasil terjatuh ke belakang. Hanya saja, itu bukanlah bentuk tendangan ke arah atas. Tetapi, tipuan untuk menyapu kakinya.

Tepat sebelum preman itu jatuh. Temannya datang untuk menangkap dan menghentikan pergerakkan sang kakak. Ia memeluknya dengan begitu keras. Preman satunya lagi mencoba untuk memukul sang kakak yang ditangkap.

Pukulannya itu tidak akan pernah sampai, karena ditangkis menggunakan kakinya. Terhempas dengan keras ke atas. Dilanjutkan dengan menginjak kaki preman yang memeganginya.

Injakkannya itu terasa sangat keras. Terdengar suara retakan atau dislokasi seperti plastic warp yang diremas begitu keras. “Aaaaa!!! Sakit!” Preman itu berteriak.

“Aku tak ingin membuang waktuku lagi. Katakan di mana bajingan pembunuh itu?!” sembari menginjak tangannya.

“Aaa! Sialan! Mana aku tahu!” preman itu berteriak dengan sangat keras.

“Tidak berguna.” Menendang kepalanya hingga terpingsan.

Sial, kemana lagi aku harus mencarinya!

Pakaian dan wajahnya sudah lusuh seperti orang yang tidak pernah merawat dirinya sendiri. Dirinya terlalu sibuk untuk mengejar dendamnya itu.

Saat di rumah pun, dia hanya melakukan pekerjaannya demi mendapatkan uang. Dan uangnya tersebut digunakan untuk mencari keberadaan pembunuh tersebut. Ia membayar mata-mata, polisi, bahkan pembunuh bayaran demi mendapatkannya.

Sudah sekitar 10 hari berlalu pencarian jejak pembunuh tersebut.

Selesai dirinya merekap seluruh informasi yang dia dapat. Akhirnya tujuan yang diincar sudah terlihat jelas.

Tepat pada pukul 19.00, dirinya itu pergi menuju kota sebelah. Kereta mengantarkan keberadaannya itu pada tujuan akhirnya.

Entah apa yang terjadi, saat dirinya keluar melewati pintu kereta. Kenangan? Nostalgia? Rasa rindu? Semuanya itu terasa pada dadanya. Seakan-akan ombak itu membasahi hatinya yang mengering.

Perasaan ini?! Adek? — sang kakak menoleh ke segala arah. Mencari rasa ketidakjelasan tersebut.

Hanya bayangan saja? Mungkin.

Sang kakak melanjutkan perjalanannya di bawah sinar rembulan. Berjalan di tempat yang bahkan tidak ia ketahui medannya.

Penginapan, ya … sepertinya aku tidak memiliki waktu untuk itu.

Di sepanjang perjalanan menuju tempat tujuannya. Rasa tadi terpikirkan oleh sang kakak hingga sekarang.

Yang tadi itu … apa? Entah kenapa aku merasakan kehadiran adikku. Tapi secara bersamaan, aku tidak merasakannya juga.

Sang kakak akhirnya tiba di tempat yang dia tuju.

“Sebuah bar. Di sini, ya.” Sang kakak masuk ke dalam tempat yang penuh dengan warna neon dan suara musik yang sangat keras.

Aku benci tempat ini.

Sang kakak berjalan ke tempat bartender berada.

“Ada yang bisa saya bantu, Pengunjung Baru?”

Dia bisa menyadarinya.

“Kalau begitu …” Sang kakak berpikir minuman yang sekiranya tidak akan membuat dirinya mabuk.

Mungkin sedikit alkohol tidak masalah.

“… Mai Tai saja kalau begitu.”

Bartender itu seolah-olah terkejut, “Tuan Muda ini memiliki selera yang lumayan berbeda, ya. Mohon tunggu sebentar.”

Selagi menunggu bartender membuat minumannya, sang kakak memerhatikan sekitarnya. Dia mencoba untuk memahami medan yang ada di sana.

Aku belum melihatnya sama sekali. Seharusnya dia di sini pukul 12 malam — melihat ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul tepat jam 12 malam.

“Silahkan dinikmati, Tuan Muda.”

“Terima kasih.”

Tanpa basa-basi lagi, bartender tadi menanyakan sesuatu kepada sang kakak. “Apakah Tuan Muda ini sedang mencari sesuatu?”

“Ah, tidak. Hanya saja saya takjub dengan tempat ini.” Sang kakak hanya basa-basi karena tidak ingin ketahuan kedoknya.

“Tenang saja, jika Tuan Muda ingin melakukan kerusuhan di sini.”

Sang kakak langsung fokus melihat bartender tadi, “Kakek bartender ini sepertinya ahli membaca pikiran, ya.”

“Wajahmu—tidak, sorot matamu itu benar-benar kosong. Seolah-olah bukan sedang menatap yang ada dihadapanmu. Sepertinya Tuan Muda sedang mengalami masalah,” ucap bartender sembari mengelap gelas-gelas.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Terima ka—” ucapannya terpotong.

Seorang pria tua tiba-tiba berteriak di samping sang kakak. “Pak Tua! Saya ingin Vodka yang seperti biasa.”

“Baiklah,” jawab bartender sembari melihat ekspresi sang kakak yang tiba-tiba terkejut mendengar suaranya.

Tiba-tiba suasananya menjadi sangat canggung. Sang kakak benar-benar bertemu dengan targetnya — lebih tepatnya, targetnya menghampiri dirinya.

“Lama tidak bertemu.” Pria di sampingnya itu memulai pembicaraan lebih dulu.

Sang kakak mendengarnya, tapi tidak mengacuhkan apa yang dikatakan pria tersebut.

“Seperti yang sudah ketahui dan sadari, aku adalah pembunuh dari adikmu.”

Menahan amarahnya dengan begitu keras.

“Aku sudah mengetahui bahwa kau akan kemari. Dan mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhirku untuk meminta maaf.” Pria itu menghadap ke arah sang kakak dan mengucapkan permohonan maaf, “Maafkan aku …”

“… Jujur saja, aku tidak menduga hal tersebut akan terjadi. Karena niat awalku hanyalah ingin membakar gudang tersebut.”

“Selain itu, aku tahu bahwa kau datang kemari dengan bermaksud untuk balas dendam dan membunuhku.”

“Tapi, seperti yang seharusnya sudah kau ketahui juga. Aku tidak akan berdiam diri jika kau berniat seperti itu.” Pria itu mengangkat kepalanya.

Seketika para pengunjung di dalam bar berdiri dan menghadap ke arah sang kakak.

Kepalannya itu melemas, lalu ia mengambil minumannya. Ia meminumnya seteguk.

“Seharusnya kau sudah mengetahuinya juga, bahwa aku tidak akan memaafkanmu. Dan sepertinya, kau salah mengartikan,” ucap sang kakak. Ia berdiri dan mengatakan sesuatu, “Aku tidak hanya akan membunuhmu, tapi aku akan membunuh semuanya.”

Orang-orang di sana tertawa mendengar apa yang dikatakannya. Terkesan melawak saat dirinya mengucapkan demikian. Tapi tidak ada bentuk bercanda dalam setiap ucapannya.

Yang tidak tertawa hanyalah bartender dan pria tersebut.

Seorang pria dengan badan kekar memegang bahu sang kakak, “Hahaha! Nak, lebih baik kam—” Namun, ucapannya terpotong.

Sang kakak memegang lalu mengunci tangannya. Dan mematahkannya menggunakan sikut. Seperti sedang mematahkan kayu atau batu bata. Suaranya terdengar sangat jelas. Suara itu membuat seisi bar itu terdiam.

Pria kekar tersebut menjerit-jerit karena lengannya baru saja patah.

“Seperti bayi,” ucap sang kakak sembari menendang wajah pria kekar itu untuk membungkam mulutnya.

Sang kakak menarik rambutnya lalu memukuli kepalanya hingga benar-benar tak sadarkan diri.

“Hei, pembunuh! Lebih baik kau minum minumanmu. Karena mungkin, minuman itu akan menjadi kenikmatan terakhirmu,” remeh sang kakak.

Seisi bar merasa kesal dengan ucapannya tersebut. Hal itu membuat semuanya menyerang bersamaan ke arah sang kakak.

Satu … Lima … Dua belas, ya? — mencoba untuk menghitung orang yang maju.

Ia menghindari dan menangkis semua serangan yang datang. “Orang dewasa benar-benar lemah.”

Semakin lama waktu berjalan, sang kakak semakin meremehkan orang-orang. Perbedaannya, ucapan yang dia sebutnya itu bukanlah bualan semata.

Karena ….

“Satu,” ucap sang kakak.

… dari apa yang dilihat pun, dia memang benar-benar dapat mengalahkan semuanya seorang diri.

Satu orang telah tumbang. Hanya cukup dengan satu pukulan, ia mengalahkan satu orang di saat semua orang menyerangnya.

“Sialan!” Tak tahu sebabnya, tapi mereka merasa sulit untuk mengalahkan anak tersebut.

Tanpa kata-kata dan reaksi sedikitpun, sang kakak mulai menyerang lagi. Menerjang dengan begitu cepat. Melayangkan hantaman keras pada orang di sampingnya.

“Dua,” menghitung orang yang sudah ditumbangkannya. “Aku sarankan, kalian mengeluarkan senjata kalian. Mustahil untuk mengalahkanku dengan tangan kosong.”

Dari sana, mereka mulai mengeluarkan baton, pisau lipat, senjata tajam lainnya.

Hanya saja, semua itu sia-sia. Sang kakak berhasil mengalahkan keduabelas pria tersebut dengan tangan kosong. 

Melelahkan.

Napas sang kakak menjadi kurang teratur, “Haah … hah ….”

Terdengar suara tepuk tangan yang sangat elegan, “Luar biasa,” ujar sang bartender. “Kau adalah pertama kalinya yang selamat di dalam barku ini.”

“Apa maksudmu?” tanya sang kakak.

Bartender itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak penting pertanyaanmu. Saat ini, semua yang kau inginkan berada di atas kediaman ini.”

Benar sekali! Aku mencari pembunuh adikku!

Dengan reflek, sang kakak berlari ke atas melalui tangga darurat.

Semua pilihan tergantung pada tekadmu, Nak — pikir sang bartender.

Sesampainya di atap, sang kakak melihat pembunuh itu menodongkan senjata kepadanya. “Berhenti di sana.”

Udara malam terasa sangat dingin di atas sana. Berbanding terbalik dengan suasananya. Cahaya bulan tertutup awan-awan yang lewat. Hanya ada pencahayaan dari lampu.

“Apa kau berpikir untuk mengakhiri hidupku juga?” tanya sang kakak.

“Aku … tidak peduli dengan orang lain.”

“Apakah kau berpikir bahwa peluru itu dapat mengenaiku?” tanya kembali.

Sang pembunuh menembakkan tembakannya tepat di samping kaki kakak. Tembakan dengan niat untuk membuat sang kakak gemetar ketakutan.

Nyatanya, bergeming saja tidak. Sang kakak berdiam membatu. Seolah-olah sudah mengetahui, bahwa pelurunya memang tidak akan mengenainya.

Berjalan mendekati sang penjahat.

Lagaknya seperti seseorang yang sudah memenangi pertarungannya.

Penjahat itu terus menodongkan senjata ke arah kakak.

Dengan tak acuh, kakak terus berjalan. Hingga senjata apinya itu menempel pada dahinya.

“Sekarang, bunuhlah aku.”

Keadaan itu membuat detak jantung sang penjahat berdegup begitu kencang. Ia melihat tatapan sang kakak yang begitu mengerikan. Tatapan yang begitu dalam, seperti jurang yang tidak berdasar.

Tangannya gemetar. Ia tidak bisa memegang senjatanya dengan benar.

“Kenapa? Bukankah kau tinggal menembaknya?”

Semuanya hening begitu saja.

“Jika kau tidak mau, maka … biarkan aku saja.” Sang kakak menyiapkan kuda-kuda. Lalu menendang sang penjahat dengan begitu keras ke arah depan. Senjata apinya pun terlempar.

Tendangan itu tidak menghasilkan rasa sakit. Tetapi dorongannya sangat kuat. Penjahat itu terpental hingga hampir jatuh dari bangunan. Ia berhasil selamat. Menggantung pada sisi-sisi gedung.

Penjahat itu merasa kesulitan.

“Bagaimana rasanya menggantung dari ketinggian ini? Menyenangkan bukan?”

Sang kakak menginjak penjahat tersebut, berharap untuk penjahat itu jatuh.

Tetapi, ia terpikirkan ide yang menarik. Sang kakak mengambil senjata api yang terlempar sebelumnya. Dan ia menyodorkannya pada mulut penjahat tersebut.

“Kalau begini,” ujar sang kakak mendorong senjata api itu ke dalam mulut penjahat.

Mulut penjahat yang tertutup senjata api itu terus bersuara.

Sang kakak tidak peduli dan tak ingin membuang waktu lagi, “Baiklah, selamat tinggal.”

Dor!

Terdengar suara tembakan yang cukup keras di tengah-tengah malam yang hening.

Sang penjahat jatuh. Tubuhnya berserakkan. Darah, organ dalam, dan segala isinya keluar, mengotori jalanan di sana. Suara tulang yang patah, kepala yang pecah serasa menggema di sekitar jalan tersebut.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

“Akhirnya … selesai. Dendam terpenuhi.”

Semuanya berakhir begitu saja.

Sang kakak kembali ke rumahnya.

~***~

Sepanjang perjalanan pulang, sang kakak sudah membulatkan niatnya untuk terus berdiam diri di dalam kamar. Khawatir akan pihak berwajib akan mencarinya.

Ia pulang menggunakan kereta yang serupa pada pagi harinya. Sebelum pulang, ia meninggalkan sedikit uang untuk bar yang sebelumnya ia rusak saat pertarungan semalam.

Dan sesampainya di rumah. Ia benar-benar termenung melihat rumahnya.

Sangat ingin dia mengatakan, “Kakak pulang, dek.” Tapi, semua itu sudah tidak bisa dia lakukan kembali.

Saat ini, semuanya hanyalah kenangan.

Dia berjalan masuk ke dalam rumah. Tetapi saat dia melewati pintu rumahnya, dia merasakan perasaan yang serupa saat dirinya turun dari kereta. Ia merasakan perasaan yang membasahi kedua bola matanya. Air mata mengalir begitu saja.

Entah kenapa aku merasakan adikku lagi di sini — sang kakak mengusap-ngusap matanya.

Sialan kau Tuhan.

~***~

Lima tahun berlalu.

Waktu selama itu hanya dihabiskan untuk menghilangkan kesedihan sang kakak.

Sang kakak mencoba untuk keluar dari rumah tersebut.

Ia menarik napas begitu panjang. Tersenyum dengan begitu lebar, seakan-akan kejadian lima tahun lalu itu hanyalah sebuah karangan fiksi belaka.

Dengan keadaan mentalnya saat ini, mungkin dia sudah bisa mendatangi makam adiknya.

Sebelum itu, dia pergi ke sebuah barbershop untuk merapikan rambut panjangnya yang tidak pernah dicukur. Seluruh kesedihan yang dia rasakan selama ini, terlepas begitu saja bersamaan dengan rambut-rambutnya.

Ia menggunakan pakaian serba hitam dengan keranjang bunga di tangan kanannya.

“Halo, adek! Lama tidak berjumpa.”

Sang kakak merapikan makam adiknya. Ia mencabut rumput-rumput yang tumbuh di sana. Menyiraminya dengan air dan menaburkan bunga yang ia bawa sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, ia mencium nisan yang bertuliskan nama adiknya.

Seluruh perasaan rindu, ia lampiaskan tepat di atas makam adiknya.

Dan lagi-lagi, ia tiba-tiba merasakan kehadiran adiknya. Tidak hanya merasakannya. Tetapi hanya untuk sesaat, ia melihat sang adik di hadapannya sedang menatap nisan yang sama.

Bayangan itu hilang kembali.

Perasaan rindu dalam diri sang kakak terpancing keluar. Dan perasaan rindu itu terwujudkan pada senyum sang kakak yang tulus.

Setelah dari pemakaman, ia berjalan ke arah sekolah adiknya.

Ia berbicara dengan satpam yang ada di sana. Dan satpam mengizinkan dia masuk.

Saat itu, lokasi di mana nyawa sang adik direnggut menjadi tempat orang-orang mendoakan adiknya. Sang kakak merasa senang, bahwa kejadian itu tidak menjadikan sebuah trauma bagi orang dan murid lainnya.

Sang kakak pun bertemu dengan para guru dan kepala sekolah di sana. Ia mengucapkan terima kasih atas semua yang telah mereka lakukan untuk adiknya.

Dari sekolah itu, sang kakak berniat untuk berjalan pulang.

Hanya saja, untuk ke sekian kalinya. Ia merasakan kehadiran adiknya kembali.

Berbeda dengan sebelumnya. Perasaannya tergoncangkan begitu kencang, seakan-akan sang adik benar-benar berada di sisinya. Tangannya merasa menyentuh sesuatu. Saat memperhatikan sekitarnya, ia tidak melihat siapapun.

Perjalanan pulang.

Ia melewati jalan di mana kereta harus melewati jalur tersebut.

Palang kereta turun menutupi jalan. Dan suara sirinenya memperingati agar orang-orang tidak melewati palang tersebut.

Langit tertutupi dengan awan-awan gelap. Dan rintikan hujan mulai turun.

Seandainya orang tahu. Saat ini, sebenarnya sang kakak berusaha untuk menegarkan hatinya. Membendung seluruh air mata yang hampir membludak.

Hujan deras pun turun setelah gemuruh keras terdengar.

Kereta pun masih melaju di hadapan sang kakak.

Seluruh suara itu mengingatkan saat dia mengantarkan adiknya menuju sekolah. Dan saat ini, dia berharap bahwa saat itu ia menjemput dan pulang bersama adiknya.

Perasaan yang ia tahan tak sengaja membludak begitu saja. Tangisan mengalir deras bersamaan dengan hujan yang membasahi tubuhnya. Teriakannya tertutupi oleh kerasnya gemuruh dan kereta yang lewat.

Apakah lebih baik aku mengakhiri hidupku di sini?

Aku sudah tidak memiliki tujuan lain.

Bahkan, aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Ia melihat ke depan, kereta melaju dengan begitu cepat. Sang kakak membayangkan dirinya akan tertabrak pada kereta tersebut. Ia mengulurkan tangannya ke depan. Berharap kematian menjemput dirinya.

Mungkin lebih baik aku menutup mataku.

“Kak ….” Terdengar suara samar.

“Kakak!”

Sang kakak membuka matanya. Hujan di sana tiba-tiba berhenti. Tetapi, kereta tetap melaju dengan cepat di hadapannya. Langit terlihat begitu cerah.

Berbeda pada saat awal. Sang kakak menoleh ke arah samping saat bajunya digenggam erat oleh seseorang.

Air mata menitik ke tanah. Sang kakak terdiam membatu saat melihat adiknya berada di sampingnya. Tidak serupa dengan yang lain. Air mata ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.

“Kakak? Kenapa, kak?”

Aaahhh … perasaan apa ini. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sepanjang hidupku.

“Adek.”

“Ya, kak?”

“Apapun yang terjadi, kakak akan selalu berada di sampingmu.” Sang kakak mengucapkan apa yang sebelumnya hanya ia katakan dalam hatinya.


Penulis: Garpit

I miss you, My Lord ….

Entri Writchal #4
Tema: Prompt Adik Kecil


Suara sirine ambulan berdenging keras di dalam kepalaku. Menutupi suara-suara yang meminta pertolongan. Pandanganku pun kabur, tak ada yang bisa kulihat.

Yang kurasakan saat itu hanyalah … kekhawatiran seseorang pada genggaman tanganku

Kota Beta, 26 Juni 2022

Seorang mahasiswa yang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Yang konon katanya, jika ia serius, dirinya itu mampu mendapatkan nilai sempurna pada semua mata kuliah. Selain kepintarannya, dia juga memiliki fisik yang kuat. Dengan berbagai ilmu dan teknik bela diri yang dikuasainya, kejuaraan-kejuaraan yang ada sering dimenangi oleh dirinya. Tetapi semua hal itu ia tutupi demi menjalani kehidupan yang normal. ‘Tidak memiliki tekanan ataupun tuntutan dalam menjalani hidup’, itu adalah prinsip hidupnya.

Selain kelebihan itu, dia juga mampu melihat berbagai macam warna yang dikeluarkan banyak orang. Merah, biru, jingga, hijau, putih, bahkan hitam semua itu keluar dari semua orang yang ia lihat. Setiap warna menginterpretasikan sifat-sifat yang dimiliki. Pada dasarnya, warna tiap orang tidak akan pernah berubah. Akan tetapi, terkadang terdapat abu, noda, ataupun hal-hal lainnya yang sulit dijelaskan. Hal ini disebabkan karena terjadinya guncangan pada orang tersebut. Stress, benci, dendam, iri, hingga cinta, semua itu mampu mengganggu warna yang ada.

Raditya Rafat, itulah namanya. Tidak memiliki kedua orang tua. Kecelakaan bus saat keduanya pergi untuk menuntaskan pekerjaan, itu yang menjadi alasannya. Adik satu-satunya yang dimiliki pun telah direnggut oleh sesuatu yang tinggal di atas langit sana. Saat ini, dirinya hidup sendiri menduduki bangku mahasiswa universitas teknik pada semester 5. Meskipun begitu, ia tidak pernah memasangkan kesedihan pada wajahnya. Bahkan dirinya itu pun tidak pernah tersenyum ….

~***~

“Makan apa ya hari ini …,” ucap Rafat sembari berjalan-jalan mencari makanan di pinggir jalan.

Tidak ada kuliah untuk hari ini. Ujian akhir semester baru saja selesai. Pada saat itu, Rafat melihat banyak sekali warna yang terdistorsi. Hal itu disebabkan bentuk stress dan depresi yang dialami orang-orang. Meskipun tidak berdampak secara langsung saat Rafat melihatnya, tetapi tetap akan terasa pusing dan mual, sama halnya saat menaiki mobil yang terguncang-guncang.

Maka dari itu, Rafat memutuskan untuk sedikit menjauhi kampus, kurang lebih 1 minggu lamanya. Sebenarnya, memang sudah tidak ada kegiatan di dalam kampus, tetapi terkadang ada kakak tingkat atau dosen yang selalu memanggil adik tingkatnya untuk datang ke kampus. Ia akan menolak semua suruhan dan ajakan itu semua. Bermain bebas, itulah yang ia inginkan saat ini.

“MekDi sepertinya oke juga.” Dapat dikatakan bahwa Rafat ini sudah memiliki pemasukan yang pasif setiap bulannya. Koneksi yang dirinya miliki serta kemampuan bersosialisasi yang hebat membuatnya memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada pandangan kenalannya. Karena dasar kepercayaan itu, Rafat memiliki modal yang cukup fantastis dari kenalan-kenalannya itu untuk membiarkan dirinya memainkan saham. Tetapi, setelah modal itu berubah menjadi bentuk yang menggunung, para investor menarik semua modalnya itu. Dan mereka juga mulai tertarik untuk menanamkan modal yang lebih tinggi lagi. Hanya saja, Rafat menolaknya.

‘Tidak pernah mengalami kerugian’, mungkin terdengar seperti mimpi para trader. Kemampuan analisisnya sudah tidak dapat dinalar lagi. Mungkin juga banyak investor yang berbondong-bondong untuk menanamkan modalnya juga pada Rafat karena alasan tersebut. Namun, dirinya itu hanya menerima modal dari teman yang sudah meninggalkan dirinya itu.

Temannya itu menitipkan adiknya serta seluruh hartanya kepada Rafat.

Aku penasaran dengan kabar Alifha. Mungkin minggu ini aku akan mendatanginya. — pikir Rafat yang sedang mengunyah ayam goreng.

Selepasnya makan, ia berjalan kembali menuju kosnya. Sepanjang perjalanan ia melihat siswa-siswi SMP dan SMA yang sudah memulai sekolahnya kembali secara luring. “Jadi pandeminya hanya sampai sini, ya. Mungkin aku juga harus mulai memikirkan semuanya untuk ke depannya.” Meregangkan badannya dan mulai berlari sekencang mungkin menuju kosnya. “Permisi, pak.” Salamnya untuk satpam yang sedang menjaga kos tersebut.

“Hati-hati, nak! Jangan lari-lari!” seru satpam.

Sampai di kamar kosnya, dirinya itu merebahkan diri, menarik selimut, dan mulai tertidur. “Mikirnya nanti saja, saat ini lebih baik tidur.”

Kamar yang sempit, hawa udara yang mulai terasa panas sebab jam sudah menunjuk pukul tepat 12 siang. Suasana yang benar-benar sempurna untuk tidur. Rafat yang terbaring di kasurnya langsung tertidur begitu lelap. Suara jangkrik dan kicauan burung yang nyaring terdengar jelas oleh Rafat, meskipun dirinya itu sudah tertidur.

Ahh … damainya~

Tak lama setelah dirinya terjatuh dalam dunia mimpi, terdengar sebuah ketukan pintu kamar kosnya. Rafat yang mendengarnya langsung membuka mata dan menegakkan badannya. “Siapa ya?” gumam Rafat yang sedikit kesal karena tidurnya terganggu.

Suara ketukan itu terdengar lagi, “Ya, ya, sebentar.” Rafat berjalan menuju pintu dan membukanya. Silauan matahari yang terlihat setelah berada dalam ruangan yang gelap membuatnya sedikit pusing. Saat melihat ke depan, tidak ada siapa-siapa di sana.

“Halo Kak!” terdengar seperti suara anak kecil di dekatnya.

Saat Rafat melihat ke bawah, ia melihat seorang gadis dikucir juga poni panjang menutupi mata kanannya. Gadis itu juga tersenyum begitu manis kepadanya sembari mendengkap bonekanya. Dan gadis itu seperti sedang menahan tangisan.

“Umm, ada apa ya?” tanya Rafat.

“Kau! Itu adalah kau!” Wajah gadis itu semakin berseri-seri. Dan seketika gadis itu memeluk Rafat.

Di sana, Rafat hanya terbingung dengan apa yang terjadi. Gadis itu terus menerus memeluknya sembari bergumam kesenangan.

“Umm, apa kamu anak tersesat?”

Gadis itu melepaskan pelukannya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, aku benar-benar mencarimu, ‘Tuan Tidak Memiliki Warna’.”

Untuk sesaat Rafat membantu dan menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya. Tak disengaja juga ia memegangi bahu gadis itu dengan sedikit keras. Rafat terus menatap ke dalam mata gadis itu. Dan yang ia lihat adalah ‘kehampaan’.

“Kau bisa melihat warna orang, ya?” tanya Rafat.

“Betul sekali!” Menjawabnya dengan penuh riang meskipun Rafat masih memegangi bahunya dengan begitu keras. “Aaa—” Reflek gadis itu seperti berteriak kesakitan tetapi mulutnya langsung ia tutup.

“Ah, maafkan aku.” Rafat melepaskan bahunya. “Lalu apa yang kau inginkan?”

Entah kenapa warna gadis kecil ini terasa sangat tidak jelas. Seperti kosong menuju kehampaan — pikir Rafat sembari terus menerus melihat lebih dalam warnanya.

“Aku ingin tinggal bersama dan mengabdi kepada kakak!”

“Eh?” — Rafat yang sedang serius tiba-tiba memasang wajah bingung yang datar — “, tolong ulangi lagi ….”

“Aku ingin tinggal bersama dan mengabdi kepada kakak!” dengan wajah riang yang sama seperti sebelumnya.

“Tu—Tunggu dulu! Apa maksud dari ‘mengabdi’ ini? Dan kenapa tinggal bersama?”

“Karena aku diciptakan untuk selalu berada di sisi Tuan.” Menjawabnya dengan wajah yang serius.

“Tuan? Aku tidak paham … Tunggu, apa kamu berpikir jika aku adalah reinkarnasi dari Tuanmu itu?”

Gadis kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ibuku berkata, manusia yang tidak memiliki warna sama sekali adalah Tuanku. Dan dia hanyalah satu … anda, Tuanku.” Gadis kecil itu langsung membungkuk dan menekukkan lututnya. Poni gadis itu terkibas angin, yang Rafat lihat adalah mata kanannya terlihat sangat hitam.

“Tolong perlihatkan mata kananmu,” dengan spontan Rafat menyuruhnya.

“Tapi, Tuan ….”

“Tidak apa-apa.”

Gadis itu menggerakkan tangan untuk mengangkat poninya. Seperti yang tadi Rafat lihat, matanya itu hitam.

“Saat aku diciptakan, aku tidak memiliki mata sama sekali. Ibuku mengajariku untuk memanfaatkan keempat indra yang lain. Namun satu ketika, Ibu menyuruhku untuk memasangkan sesuatu kepada mataku. Tanpa ku ketahui, aku tiba-tiba bisa melihat ….” Penjelasan secara singkat dari sang gadis tersebut.

Untuk sekian lamanya, Rafat kembali terkejut saat melihat gadis kecil itu. Ia membatu untuk memproses semua yang dilihatnya tadi. Karena dia sendiri sudah terlalu capek, dia membiarkan gadis itu untuk tinggal bersamanya.

“Ya sudahlah, kau boleh tinggal bersamaku.”

“Terima kasih, Tuanku.”

“Tolong hentikan panggilan ‘Tuan’ itu. Panggil saja aku dengan ‘Kakak’, seperti saat kamu pertama kali memanggilku.”

“Baik kak! Hehe.” Gadis itu memajang wajahnya yang sangat berseri.

Bagi Rafat, tinggal bersama orang lain bahkan orang asing merupakan masalah baginya. Hanya saja, dirinya itu merasa bahwa harus menerima gadis itu.

“Siapa namamu?”

“Tolong beri aku nama, Kakak!”

Dia terkejut untuk sekali lagi, “Ibumu tidak memberi— ah, ya sudahlah. Kalau begitu, saat ini namamu adalah Evalina. Kupanggil Eva. Bagaimana?”

“Evalina … Eva … Nama yang cantik, Tu—Kakak! Hehe.”

Rafat menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamar kosnya.

Mungkin aku harus meminta izin kepada pemilik kos. Lebih baik aku menggunakan alasan bahwa dia adalah adikku saja.

“Maaf jika kamar ini sempit. Oh ya, apa kamu sudah makan? Apa yang kamu suka?” tanya Rafat.

“Tinggal bersama kakak saja sudah merupakan kebahagiaan bagi Eva. Makanan, apapun yang kakak berikan, Eva menyukainya.”

Mendengar ucapan itu, Rafat seperti teringat sesuatu. ‘Déjà vu’ itulah yang dirinya rasakan saat ini.

Aku seperti pernah mendengar perkataan itu. Tapi entah di mana.

~***~

Kota Deutyerdaf, 10 Agustus 1918

Akhir dari Perang Dunia I sudah mulai terlihat. Langit mulai terlihat membiru kembali. Tawa riang dan kesenangan mulai menular satu sama lain antar korban perang. Tangis dan duka akan keluarga yang meninggal mulai luruh sedikit demi sedikit. Di sepanjang jalan, semua orang mulai membangun kembali rumahnya. Tidak hanya sendiri, orang-orang silih membantu satu sama lainnya. Noda pada warna mereka mulai terhapus. Warna yang timbul pun kian terlihat jelas.

“Tuan, ini bunganya!” seorang gadis kecil menyebarkan bunga tulip. Orang-orang menerimanya dengan senyuman yang luar biasa ceria.

Tulip ya ….

“Apa perlu, Tuan?” seorang pelayan mengulurkan tangannya, menawarkan tangannya untuk membawa bunga itu.

“Tidak perlu, biar aku saja yang memegangnya.”

Wangi. — Dia menghirup bunga itu untuk waktu yang lama. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya.

“Akhirnya kita sampai.” Sebuah rumah besar yang sudah bobrok. Terlihat bekas bakaran dan juga lantai yang retak-retak. Dengan santainya, mereka berdua menginjak-injak lantainya, seperti sedang mengecek sesuatu.

“Di sini, Tuan.” Pelayannya itu memberitahu Tuannya.

“Tolong angkat penghalangnya,” perintah sang Tuan.

“Baik, Tuan.” Meskipun fisiknya yang terlihat seperti sudah tua, sang pelayan sebenarnya memiliki kemampuan fisik yang lumayan kuat.

Setelah mengangkat penghalang tersebut, terlihat sebuah tangga menuju ke bawah dengan ujungnya yang sangat gelap. Pelayan itu berusaha untuk menyalakan sumber cahaya yang dimilikinya. Tetapi Tuannya menghentikannya, “Tidak perlu.” Sang pelayan pun mendudukkan kepalanya.

Pria itu berjalan menyusuri tangga-tangga menuju dalamnya kegelapan dan diikuti oleh pelayannya. Sang pelayan sadar bahwa dirinya saat ini sedang berada di dalam saluran pembuangan, tetapi ia tidak mengeluh dengan bau yang ada. Tak lama di sana, mereka sampai di sebuah tempat dengan sebuah pintu yang diterangi oleh dua buah lampu.

“Tolong jubahku dan topengnya. Kau juga gunakan topengmu.”

“Baik, Tuan.”

Tuannya tersebut menggunakan topeng berwarna putih terang tak bermotif dan jubah berwarna hijau gelap. Hal itu menandakan bahwa dirinya adalah salah satu petinggi di bidang militer. Yaratsch, itulah namanya. Dia adalah seorang komandan divisi strategi militer paling jenius di benua Eropa. Meskpiun begitu, ia tidak terkenal sama sekali. Ia hanya mendapatkan kehormatan yang layak dari negaranya untuk menjalani sisa hidupnya dengan damai.

“Rafael, kenapa kamu menggunakan topeng itu?” Yaratsch bertanya ke pelayannya itu.

“Karena … lucu?” Pelayannya itu menggunakan topeng dengan bentuknya yang persis seperti wajah rubah. Bahkan ia juga melakukan beberapa posenya.

“Terserah saja. Tolong jangan lakukan apapun, sebelum aku memerintah.”

“Baik, Tuan.”

Yaratsch mendorong pintu dengan salah satu lengannya dan di dalamnya terlihat sebuah cahaya yang begitu terang. Ruangan yang megah dan luas, kesannya seperti sebuah tempat yang mirip seperti aula konser orkestra. Debu-debu di sana terasa sangat halus dan juga hangat. Di sana sudah banyak orang yang datang menggunakan jubah dengan warna dan arti yang berbeda.

Saat Yaratsch memasuki aula itu dan menapakkan kakinya selangkah, pandangan semua orang langsung tertuju padanya. Suara sepatunya yang khas nan gagah itu terdengar menggema di aula. Keributan pun menjadi hening seketika. Orang-orang mulai berbisik membicarakan dirinya.

Berjalan menuju kursi paling depan. Yang lainnya mulai terkejut lagi karena dengan jubah warna seperti itu bukannya duduk di kursi VIP melainkan kursi tamu. “Rafael,” Yaratsch memanggil pelayannya.

“Ya?”

“Tolong kondisikan situasinya dan sebisa mungkin jangan terlalu berlebihan.”

“Baik, Tuan.”

Yaratsch duduk, sedangkan Rafael berdiri dan menghadap ke seluruh tamu. “Sshhh ….” Rafael menyuruh mereka semua untuk diam. Tidak hanya itu, Rafael juga memancarkan aura intimidasi dari sekujur tubuhnya terutama pandangan tajamnya. Tamu lain gemetar setelah melihat mata Rafael. Tatapannya itu sangat horor.

Tak lama dari sana, acara pun dimulai. “Salam sejahtera, salam hormat untuk seluruh hadirin yang sudah datang kemari.” Basa-basi dari sang pembawa acara mulai terdengar.

Singkatnya, di sini adalah tempat di mana semua barang itu dilelang. Tidak hanya barang, bahkan ….

“Oh … sandera perang pun ada,” gumam para tamu.

Mereka melakukan lelang dengan kelipatan 50 Dalc. Tidak hanya barang antik ataupun rampasan perang, di sini pun ada sandera, mantan budak, hingga subjek penelitian — pikir Yaratsch sembari mengamati semuanya.

Seluruh manusia yang dilelang di sana ditelanjangi agar para tamu bisa melihat spesifikasi yang ada.

Ternyata banyak juga sandera mantan bangsawan di sini dan yang membelinya … Aku dapat menebaknya — Yaratsch memandangi Rafael dan memberikan sebuah kode hanya dengan tatapannya. Ia meminta Rafael untuk menyelidiki semua orang yang membeli para mantan sandera dan bangsawan.

Rafael pun menggunakan alat komunikasi jarak jauh yang tersembunyi untuk berkomunikasi dengan rekannya yang di luar. Rekan yang di luarnya menggunakan teknologi saat itu untuk mengidentifikasi para pemenang lelang dari frekuensi suaranya.

“Tuan, apa yang akan anda lakukan untuk selanjutnya?”

“Beritahu pada Alpha-1 dan juga regu Beta-3 … Bunuh mereka semua.”

Code:11912-L.” Rafael menyampaikan pesannya lagi.

Tujuan Yaratsch di sini adalah untuk menyelamatkan para sandera perang yang ada. Hal itu dibutuhkan untuk memenuhi perjanjian perdamaian. Namun, Yaratsch berpikir untuk menembak dua burung dengan satu anak panahnya. Ia berniat untuk menumpas segala macam tindak kejahatan lainnya. Perbudakan, penggelapan dana, korupsi, pasar gelap, hingga perampokan, semuanya itu akan Yaratsch tumpas.

Semuanya berjalan begitu lancar, tidak ada objek yang benar-benar tidak memiliki tawaran. Hanya saja, semuanya sedikit terhenti saat mencapai objek terakhir.

“Dia adalah subjek penelitian dari Adam’s Project: Hawa. Mungkin tidak sempurna seperti yang lainnya, tetapi kami akan tetap membuka harga untuk dirinya. Kami mulai dari 0 Dalc,” ucap pembawa acara.

Gadis kecil dengan rambut hitam terang yang pendek. Tubuhnya sangat tidak berisi, seperti baru saja melalui banyaknya siksaan dan tidak diberi makan sama sekali. Matanya pun ditutupi oleh perban. Rantai panjang dan besar yang mengikat leher dan kedua tangannya. Kondisi yang benar-benar ironis.

Adam’s Project, ya. Tak kusangka mereka memiliki subjek itu di sini. Mungkin mereka berucap tidak sempurna, sepertinya mereka keliru — Yaratsch memiliki kemampuan untuk melihat bahkan membedakan seseorang berdasarkan warna yang dilihatnya. Dapat dikatakan, itu adalah bakatnya.

Penjelasan singkat, Adam’s Project adalah proyek yang dilakukan oleh banyak ilmuan negara di benua Eropa. Rasa keingintahuan yang luas terhadap alam semesta menjadi alasan dari proyek ini. Para ilmuan melakukan penelitian terhadap sub-Dimensi yang ada pada sampel DNA manusia purba. Mereka melakukan transplatasi dengan berbagai makhluk hidup untuk membandingkan hingga melihat masa lalu dari makhluk hidup tersebut. Namun sayangnya, beberapa dari mereka memanfaatkan hal ini untuk menciptakan manusia buatan, Homunculus.

“Kami buka untuk 3 menit,” pengumuman dari pembawa acara.

Sudah pasti mereka semua tidak akan ada yang ingin mengambilnya. Mungkin aku harus merelakan yang satu ini — saat Yaratsch berpikir seperti itu. Entah kenapa ia tidak bisa melihat warna dari gadis kecil itu.

Aku tidak bisa melihat warnanya! Bukan karena dia tidak memiliki mata … Hanya saja aku seperti sedang berhadapan dengan seorang mayat.

Para tamu bersorak untuk menyuruh para panitia membukakan perban pada matanya, “Bukakan perbannya!”, “Jangan ada sehelai kain pada barang lelang! Apa kalian berniat menipu kami?!”

Tentu saja mereka berniat menipu kalian, karena dia pasti tidak memiliki bola mata.

Gadis kecil itu menggerakkan kepalanya dan seolah-olah sedang menatap Yaratsch. Sorot lampu yang menerangi tubuh kecil telanjang itu tidak bisa mengalihkan pandangan Yaratsch. Sejak saat itu, Yaratsch memiliki pikiran bahwa gadis kecil itu bukanlah subjek tidak sempurna bahkan gagal. Gadis itu adalah subjek sempurna tanpa cacat sedikitpun. Dia adalah subjek yang berhasil menarik jiwa Hawa, pasangan hidup Adam. Lubang hitam pada wajahnya itu bukanlah menggambarkan kekosongan, Yaratsch berhasil melihat sesuatu. Ia melihat kekecewaan dan juga kesedihan sang Hawa.

Kesedihan akan sikap cucu-cucunya yang berperilaku seperti iblis penuh nafsu dan juga serakah. Mereka melempari gadis kecil itu dengan kata-kata kasar dan tak senonoh.

“Rafael.” Yaratsch bangun dari posisi duduknya dan memanggil pelayannya.

“Ya, Tuan?”

“Perintah seluruh regu, alihkan seluruh perintah ke Code: R-54 — sisakan para sandera dan budak. Dan ikuti aku.”

Rafael yang mendengarnya terkejut setelah Tuannya menyuarakan perintah tersebut. “Baik, Tuan.” Rafael mengikuti Tuannya itu yang sedang berjalan mendekati panggung tersebut.

Jika objek lelang tidak ada yang membeli, maka akan dihancurkan … kan? — Yaratsch sudah menyadarinya. Seorang penembak jitu dibalik bayang-bayang gelap di ujung panggung sudah menodongkan senjatanya kepada gadis kecil itu. Dengan memerintahkan Rafael untuk mengurus penembak itu, dirinya bisa mendekati sang gadis dengan leluasa.

Di atas panggung, Yaratsch berdiri tepat di depan gadis itu. Jubah hijau gelapnya itu menutupi cahaya yang sedang menyoroti gadis kecil. Di dalam bayangannya sendiri, Yaratsch melontarkan sebuah pertanyaan kepada sang gadis kecil, “Apakah kau ingin hidup?”

Gadis itu tidak menggerakkan tubuhnya, bahkan mulutnya pun tak kuasa untuk mengucap. Namun, Yaratsch sadar akan sesuatu. Pertanyaan yang ia lontar, memicu warna gadis itu. Warna kuning yang tipis samar-samar keluar dari wajahnya. Tersirat, gadis itu ingin menangis tetapi tidak bisa.

“Aku akan mengambil gadis ini! 200 Dalc. Sekaligus biaya ganti rugi senjata yang sudah dirusak oleh pelayanku di sana. Ayo kita kembali, Rafael.” Yaratsch menghancurkan rantai dan menutupi tubuh gadis kecil dengan jubah hijaunya. Dia juga memberikan uang 200 Dalc secara langsung pada penjualnya. “Aku sarankan kau dan kalian penyelenggara segera keluar dari sini. Terima kasih.” Yaratsch memberi hormat dan juga peringatan kepadanya, dilanjut dengan berjalan keluar ke arah jalan yang sama saat mereka masuk.

“Rafael, berapa regu yang siap?”

“10 regu, Tuan.”

“Kerahkan semuanya, selamatkan para budak dan sandera, dan bunuh semua babi-babi tidak tahu adab itu.”

Rafael beserta regu dan anggota lainnya di pintu keluar mulai masuk kembali ke dalam. Pembantaian terjadi secara brutal. Kejadian dan kasus itu diingat sebagai Blood Auction Festival. Petinggi lainnya menutup mata dan telinga mereka karena tak ingin berurusan dengan Yaratsch. Maka, tidak ada yang mampu menyentuh sang gadis kecil jika sudah berada di tangan Yaratsch.

Sesampainya di kediaman Yaratsch, “Kau, katakan namamu siapa?” Yaratsch menanyakan hal tersebut kepada gadis kecil itu. Hanya saja, sang gadis hanya menggerakkan kepalanya kiri dan kanan seperti sedang mengamati sesuatu. “Hei, katakan nam— ah, mungkin begitu, ya. Tunggu sebentar.” Yaratsch pergi menuju dapur untuk mengambilkan segelas air. “Minumlah.”

Tangan sang gadis masih gemetar karena tak memiliki tenaga sama sekali untuk melakukan sesuatu. Terpaksa Yaratsch yang menyuapinya. Tak hanya minum, dirinya juga memberikannya makanan. “Tenang saja, kau tidak akan mengalami hal buruk lagi di sini.”

“Te … ri … ma kasih,” ucap gadis itu secara pelan dan lemas.

“Makan saja dulu, aku akan kembali lagi.” Saat Yaratsch bangkit dari duduknya, gadis kecil itu memegangi pakaian Yaratsch. Wajah gadis itu seperti meminta agar Yaratsch untuk tidak pergi.

Trauma berat, ya ….

“Baiklah, aku akan menemanimu hingga selesai makan. Pelan-pelan saja.”

Untuk pertama kalinya, Yaratsch tersenyum hanya karena melihat gadis itu. Bahkan pelayannya, Rafael, terkejut dan turut senang melihat Tuannya tersenyum. Rafael datang menghampiri Yaratsch, “Kamar untuknya sudah saya siapkan, Tuan.” Suara Rafael terdengar oleh sang gadis kecil dan membuatnya sedikit ketakutan.

“Terima kasih, Rafael,” ucap Yaratsch. “Tidak apa-apa, dia adalah temanku. Kau juga bisa meminta tolong kepadanya nanti.” Hanya dengan anggukan kepalanya, Yaratsch paham dengan maksud sang gadis kecil. “Setelah makan, aku akan mengantarmu ke kamar.”

Setelah Yaratsch berhasil menidurkan gadis itu, ia berbincang dengan Rafael.

“Tuan, bukankah lebih baik Anda memberi anak itu nama?” saran Rafael.

Yaratsch duduk di kursi halaman depan, menatapi bintang-bintang di langit. “Sudah lama aku tidak melihat bintang. Bintang ….” Seketika sebuah nama terlintas pada pikiran Yaratsch. “Rafael, aku sudah tahu nama yang akan kuberikan.”

Rafael membungkukkan badannya, “Ya, Tuan?”

“Mulai sekarang, aku akan mengangkat anak itu dan kuberi nama ‘Eva’, Carina Eva. Bagaimana?”

“Nama yang indah, Tuan.” Rafael melihat Tuannya tersenyum dan tertawa begitu lebar. Momen itu sangatlah langka.

~***~

Kembali pada saat jaman sekarang.

Kota Beta, 27 Juni 2022

“Hei Eva, bangun!”

Eva dengan dengan pakainnya yang acak-acak karena tidurnya tidak bisa diam. Bahkan, saat terbangun, pakaiannya terlepas dengan sendirinya. “Uwaa!” dengan spontan Eva terkejut dengan sendirinya.

“Hei Eva! Jangan berteriak!” seru Rafat.

“Maafkan aku, kak.” Eva merapikan pakaian serta tempat tidurnya.

“Gunakan kamar mandinya sana, mandi, dan ganti pakaianmu,” suruh Rafat sembari melihat cermin menyisir rambutnya.

“Anu, kak … Eva tidak punya pakaian lain,” ucap Eva di depan pintu kamar mandi tanpa menggunakan busana apa pun.

“Eva … Cepat masuk ke kamar mandi!” Rafat menutup pintu kamar mandinya.

Hadeh, sepertinya aku harus pergi mencari pakaian untuknya.

“Kak! Airnya sangat panas!” teriak Eva.

Rafat secara reflek berlari ke kamar mandi, membuka pintu, dan mengatur suhu airnya. Ia juga memberi tahu cara mengatur suhunya. “Apa kau sudah paham?”

“Paham, kak!”

Mungkin kehidupanku akan lebih ramai setelah ini, haha.

Eva yang selesai mandi masih menggunakan pakaian lamanya. Rafat mengajak Eva untuk ikut dengan dirinya berkeliling kota. Tanpa menjawab ‘Ya’, Rafat langsung paham hanya dengan melihat kelakuan Eva. Rasa senang Eva saat diajak berjalan-jalan bersama Rafat, sangat terlihat jelas oleh mata Rafat.

“Berwarna kuning terang,” gumam Rafat.

“Kenapa kak?” tanya Eva yang tak sengaja mendengar gumaman Rafat.

Rafat hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala Eva, “Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita pergi! Jangan pernah angkat ponimu itu, ya?”

“Siap, kak!”

Mereka pergi menuju sebuah tempat perbelanjaan. Di sana, Eva sangat kagum dengan sebuah gedung yang sangat megah dan terkesan sangat modern. Dirinya itu sangat berinisiatif hingga menarik-narik pakaian Rafat untuk pergi menuju berbagai tempat. Rafat pun terasa sangat menikmatinya. Ia seperti melihat almarhum adik perempuannya yang sudah tiada.

Adik … ya? Aku merasa Tuhan seperti sedang mempermainkan perasaanku — pikir Rafat yang terus menerus terpikirkan adiknya.

“Kak! Eva ingin minuman dengan bola-bola hitam itu!” memanggil Rafat sembari menunjuk-nunjuk satu tempat.

Meskipun terasa seperti itu, Rafat hanya bisa terus melangkah maju dan mendoakan keluarganya yang telah berada di atas langit. “Kamu ini banyak makan juga.” Menyubit pipi Eva sembari tertawa karena melihat wajah lucu dari Eva.

Seperti ini … Boleh juga.

“Setelah ini kita beli pakaian untukmu, ya?”

“Ayaye.”

Mereka pergi menuju toko pakaian. Banyak sekali jenis pakaian yang dilihat oleh Eva. Saking banyaknya ia sampai kebingungan untuk memilihnya. “Kakak, kakak! Bagaimana ini?! Eva tidak bisa memilih!”

“Hahaha! Santai saja, kita punya banyak waktu untuk ini.”

Disaat Eva mencoba satu per satu pakaian, Rafat melihat-lihat beberapa aksesoris di sana. Ia seperti iseng untuk melihat-lihat saja. Namun, pada akhirnya ia membelinya. “Kakak! Lihat Eva!” — memamerkan pakaian yang sedang dipakainya — “Bagaimana kak?”

Rafat dan kasir di sana menahan senyum dan tawanya. Mereka melihat Eva memakai pakaian itu dengan salah, sehingga terkesan lucu untuk dilihat. “Kemarilah, biar kakak yang rapikan.” Rafat merapikan beberapa bagiannya, seperti aksesoris pada kepalanya, ikatan pita pada bajunya, serta bagian lengannya. “Nah, kalau begini ….” Rafat terkejut sesaat begitu melihat Eva menggunakan pakaian itu.

Dia sangat imut …. — pikir Rafat.

“Walah! Nona ini sangat manis.” Pujian beberapa orang yang sedang mengantri di kasir.

Mendengar hal tersebut, Eva akhirnya memutuskan untuk membeli pakaian itu. “Kakak! Eva ingin baju ini,”

Dengan senyum, Rafat menjawab dengan singkat, “Ya, boleh kok.”

Pada akhirnya mereka membeli beberapa pakaian lainnya. Setelah berada di toko pakaian yang cukup lama, mereka beranjak menuju lantai paling atas. Di sana terdapat semacam food court. Lagi-lagi Eva terkejut melihat gerai-gerai makanan yang sangat banyak. Cahaya jingga yang terang seperti sedang menyoroti mereka berdua.

Eva berlari ke arah depan dan tidak sengaja tersandung oleh kaki seseorang. Spontan Rafat menghampirinya, “Maafkan adikku.”

“Ah, ya, tidak apa-apa.”

Rafat langsung melihat apakah ada luka pada Eva, “Apa kamu tidak apa-apa?”

Eva yang terjatuh di bawah lantai melihat ke arah Rafat. Dirinya sedang ditutupi oleh tubuh Rafat, duduk di dalam bayangannya. Tatapannya itu terfokus pada mata Rafat. “Aku melihatnya … Aku melihatnya,” gumam Eva.

Rafat sendiri kebingungan dengan maksud gumaman Eva itu. Tetapi, tanpa disengaja, Rafat melihat dan terjatuh ke dalam mata Eva. Tubuhnya sedikit bergeming, terbeku untuk sesaat. “Kakak, kenapa?” Eva langsung menyadarkan Rafat.

“Maaf, aku tidak apa-apa. Ayo kita pesan makanan.”

“Hum!” Eva langsung berdiri dan melihat-lihat ada makanan apa saja di sana.

Mungkin ini hanya perasaanku saja atau memang aku baru melihat sesuatu … Seperti masa lalu seseorang. — pikir Rafat.

Saat Rafat berjalan-jalan menemani Eva mengelilingi terdapat seorang karyawan salah satu gerai memanggil namanya, “Rafat, kan?”

Dirinya yang mendengar itu sedikit terkejut, “Eh?”

“Manajer! Ada Rafat di sini!”

Manajer?! Tunggu! Berarti dia di sini! — Rafat menyadari seseorang yang ia kenal sedang berada di sana juga.

Dengan reflek Rafat menarik lengan Eva sembari membawa belanjaannya di tangan satunya, “Eva! Ayo kita pindah dari tempat ini!”

“Eh? Kenapa kak?”

Tak lama sebelum mereka meninggalkan tempat itu, “Rafat! Aku merindukanmu!” terdengar orang berteriak memanggil dirinya.

“Sialan!” Rafat terpaksa harus membalikkan tubuhnya untuk membalas orang yang tadi memanggilnya. “Hehe …. Halo, kak Putih.”

Terlihat seorang gadis yang lebih pendek dari Rafat dengan rambut yang sangat putih, seputih salju tanpa ada noda. Hanya dalam sekali melihat, Eva terkejut dengan warna yang dipancarkan oleh gadis itu. “Merah terang, merah yang sangat elegan,” ucap Eva.

“Cantik, kan? Dia itu adalah seorang manusia dengan bentuk dari keeleganan itu sendiri. Nadila Yuriana, putri dari seorang seniman jenius.” Rafat menjelaskan dengan suara yang kecil namun terdengar oleh Eva.

Mungkin dalam pikiran Eva saat ini, ia hanya terkejut melihat warna merah terang tanpa noda sama sekali.

“Halo Rafat! Sudah lama sekali ya, hehe!” Nadila memeluk Rafat seakan-akan dia itu seperti pasangan yang sudah lama tidak bertemu. “Apa kamu tidak merindukanku?” Dengan wajah manisnya.

“Tolong menjauh!” Rafat mendorong badan Nadila yang terlalu menempel dengannya.

“Kamu itu tidak pernah berubah, ya,” — ucapannya terhenti setelah melihat ada anak kecil yang berdiri di belakang Rafat — “Ra—Rafat, kamu! —” ucapannya terpotong.

Dengan ringannya, tangan Rafat menjitak kepala Nadila. “Tidak perlu berpikir yang aneh-aneh.”

“Hei! Aku ini lebih tua darimu loh!” Nadila memegangi kepalanya.

Dengan wajah meremehkan, “Heh, memangnya aku pernah peduli dengan itu? Pendek.” Karena kesal mendengar ejekannya itu, Nadila menggigit lengan Rafat yang tadi digunakan untuk menjitaknya.

Melihat kakaknya disakiti, Eva terkejut hingga beranjak dari belakang Rafat dan berusaha untuk memisahkan mereka berdua, “Jangan sakiti kakak!” Eva mendorong Nadila dengan lumayan keras. Wajahnya seriusnya itu terlihat jelas oleh Nadila dan Rafat. Sorot matanya yang tajam serta berlinang air mata di sana.

“Eva … Santai saja, kak Putih hanya main-main,” ucap Rafat. Setelah mengucapkan itu, Eva memeluk Rafat. Pada akhirnya Rafat menggendong Eva untuk menenangkannya. “Tunggu sebentar, nanti akan kujelaskan semuanya.”

“Baiklah, aku akan menunggumu. Aku juga akan menyiapkan beberapa makanan untuk kalian berdua.”

“Terima kasih.”

Di pangkuan, Eva terus menerus mendekap dan memegangi pakaian Rafat. Dengan berbagai cara, Rafat mencoba untuk menenangkan dirinya. Tapi sangat sulit untuk menenangkannya. Seketika, Rafat mendapatkan sebuah ide. “Eva, lihat mataku.” Dengan mata yang sudah berair-air, Eva melepaskan genggamannya dan melihat mata Rafat.

Hanya dengan sekejap, Eva menjadi lebih tenang. Ia juga meminta untuk diturunkan dari pangkuan. “Maafkan Eva, sudah berbuat nakal.”

“Tidak, Eva tidak nakal. Sekarang Eva ingin makan apa?”

Eva mengusap-usap wajahnya dengan lengannya, “Eva ingin apa saja yang kakak berikan.”

“Ya sudah, ayo kita duduk.”

Tadi aku hanya ingin mengetes sesuatu, entah kenapa malah berhasil.

Eva menikmati makanan yang dihidangkan oleh Nadila. Momen itu digunakan Nadila untuk menanyakan banyak hal kepada Rafat. “Pertama, siapa anak itu?”

“Aku sendiri tidak tahu siapa dirinya. Ia datang ke kamar kosku begitu saja. Dia juga memanggilku,” — ucapannya terhenti karena berpikir, jika ia mengatakan bahwa dia dipanggil dengan panggilan ‘Tuan’, apa yang akan dipikirkan oleh Nadila — “dengan sebutan ‘Kakak’.”

“Oh, seperti itu ya … Siapa juga yang percaya dengan cerita seperti itu!” menggebrakkan meja.

Rafat terkejut dengannya, “Kalau kau memang penasaran, kenapa tidak kau tanya sendiri saja kepadanya?”

“Kau bercanda kan?!”

Karena Rafat mengetahui sifat dari Nadila yang sangat keras kepala, ia terpaksa untuk menjelaskan semua yang ia ketahui. Pada awalnya Nadila sendiri tetap tidak percaya dengan apa yang terjadi, tetapi memang seperti itulah keadaannya. Nadila menanyakan banyak hal lagi, seperti masa lalunya, alasan dia menerimanya, dan juga apa yang akan dilakukan oleh Rafat ke depannya.

“Lalu, bagaimana dengan pendapat Alifha?” tanya Nadila.

“Aku belum memberitahunya. Mungkin besok.”

“Baiklah, garis besarnya aku paham dengan kondisimu saat ini.”

“Terima kasih.”

Seketika Nadila menggenggam tangan Rafat, “Kalau begitu, bagaimana jika aku menjadi ibu—” Omongannya terhenti karena wajahnya ditutupi oleh tangan Rafat.

“Jangan memikirkan hal aneh-aneh.” Rafat beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Eva, “Bagaimana Eva? Apakah makanannya enak?”

Eva tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mulut yang penuh dengan makanan. Lalu ia menelan semua makanan itu, “Benar-benar enak!”

“Baguslah jika begitu.”

Nadila memperhatikan Rafat dan Eva, ia hanya tersenyum yang penuh rasa syukur. “Akhirnya kamu menemukan jalan hidup baru ya, Rafat,” ucap Nadila

“Ya, kak? Kenapa?” Rafat mendengar Nadila seperti memanggil namanya.

“Tidak, bukan apa-apa.”

~***~

Aku menitipkan Eva dan Alifha jika terjadi sesuatu padaku.’ Itulah yang kukatakan pada Nadila tadi — Rafat merasakan suatu firasat buruk mengenai sesuatu. Sebenarnya Rafat sendiri tidak ingin berkata demikian sebelum pergi kembali menuju kosnya. Namun, untuk jaga-jaga, Nadila harus mengetahuinya.

“Eva, sebelum tidur, kamu harus mandi terlebih dahulu,” ucap Rafat sembari membuka pintu kamar kosnya.

Eva mengucapkan salam dan membuka alas kakinya, “Baik, kak.” Tak segan-segan, Eva melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia membuka pakaiannya tepat di depan Rafat. Tetapi, Rafat sendiri sudah tidak terlalu peduli. Jadi, Rafat mengabaikannya begitu saja.

Rafat sendiri kelelahan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memandangi langit-langit kamar, melihat lampu yang sangat terang. “Apa yang harus aku lakukan selanjutnya … ya?” gumam Rafat karena terpikirkan perkataan Nadila sebelumnya. Laron-laron terbang mengelilingi lampu. “Padahal saat ini sedang musim panas, tapi banyak sekali laron.” Rafat bangun dari tempat tidur dan menyapu sayap-sayap laron yang berjatuhan di lantai. Tak disengaja, ia melihat debu-debu yang mulai menumpuk di pojokan kasurnya. Masker dan sarung tangan digunakan guna menghindari kotoran yang tak diduga.

Tok … tok …. — terdengar suara ketukan pintu yang ritmenya lumayan lambat. Suaranya sangat konstan.

Rafat spontan melirik ke arah kamar mandi, lalu menguncinya dari luar. Ia juga melihat ke arah jam, “Pukul 21.48. Sangat malam dan juga tidak ada suara memanggil namaku,” gumam Rafat. Dirinya memfokuskan fungsi otak ke syaraf-syaraf perabanya.

Dua orang, ya? — itulah yang dirasakan oleh sekujur tubuh Rafat.

Karena Rafat sudah mempersiapkan semuanya, ia membuka pintu. “Ya, ya, tunggu sebentar.”

Begitu membukanya, udara malam menerobos masuk ke dalam kamar. Bahkan, bulu kuduk Rafat berdiri tegak. Sebuah pistol sudah ditodongkan di kepala Rafat.

Glock 42 — Rafat mengamati pistol yang digunakan.

Pria yang menodongkannya bahkan tidak berbicara sama sekali. Ia berniat untuk langsung menarik pelatuknya. Namun, gerakannya kalah cepat dibandingkan dengan reflek Rafat. Pistolnya itu terlempar lumayan keras ke dinding sebab ditampar oleh Rafat.

“Siapa kalian?” tanya Rafat dengan santai … dan tatapannya yang sangat mengancam.

Teman pria itu menodongkan senjatanya dari belakang. Saat begitu pun mereka tidak berbicara sama sekali. Dan lagi-lagi mereka tidak segan-segan untuk menyerang Rafat. Akan tetapi, mereka mungkin tidak sadar. Tangan Rafat sudah memegangi sebuah sapu yang sebelumnya ia hendak gunakan. Dirinya masih mengingat retakkan pada sapu itu. Dengan memanfaatkan kerapuhan itu, ia mematahkannya. Lalu, melemparkan sisi tajamnya menuju arah pria yang memegangi pistol.

Siapa sangka, lemparan itu akan tepat tertancap pada dada kirinya. “Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh ….” Rafat berhitung mundur. “Dalam tiga detik lagi, kau akan merasakan namanya sakit yang luar biasa pada punggung bagian kiri.”

Pria itu panik dan malah mencabut kayu itu. Bukannya meredakan rasa sakit, darah yang bercucuran malah semakin banyak. Saat berusaha menutupi lukanya dengan sobekan kain dari pakaiannya, tiba-tiba dirinya terjatuh sembari memegangi dada kirinya. “Ughh! —”

“Bingo! Selamat tinggal. Tersisa satu orang lagi,” ucap Rafat dengan santainya. “Apa kau tidak khawatir dengan kawanmu itu?” Rafat memancingnya agar mendapatkan celah untuk menyerang. Dan sepertinya gertakan itu gagal, pria itu malah mengeluarkan dua buah pisau dari kantung sampingnya.

“Eh! Terkunci, Kakak!” suara Eva dari dalam kamar mandi.

Setelah mendengar suara Eva, pria itu sedikit menggerakkan alisnya. Seakan-akan Eva adalah incaran sebenarnya. Demikian, celah terlihat oleh Rafat. Karena tak ingin melewatkan kesempatan itu, Rafat langsung menerjang maju.

Dengan reflek, pria itu bergerak mundur. Tersandung karena temannya hingga melepaskan salah satu pisau dari tangannya. Rafat yang menerjang maju merebut pisau itu dan mulai untuk menikamnya. Saat ingin menikamnya, pria itu mendorong tubuh Rafat dengan sangat keras pada bagian dadanya. Mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya Rafat memiliki kelemahan pada paru-parunya.

Melihat keadaan Rafat yang terengah-engah, pria itu kembali berdiri dan menerjang maju. Posisinya seperti siap untuk menikam tepat pada bagian kepala Rafat. Saat ujung pisau itu hampir menyentuh dahi Rafat, gerakan pria itu menjadi terhenti.

“Maaf saja, tapi kita ini sama-sama pria.” Rafat memukul dengan keras organ vital laki-laki yang berada di bawah. Untuk sesaat pria itu tidak aka sadarkan diri. “Aku harus memindahkan mereka semua.” Memindahkan kedua orang itu menjadi terasa lumayan berat saat Rafat harus mengatur napasnya. Lokasi kamar Rafat yang berada di lantai 1 memudahkan dirinya untuk memindahkan tubuh kedua pria itu. Dan juga karena Rafat mengetahui jalan belakang, ia bisa memanfaatkannya.

Dia meletakkan kedua tubuh pria bersebrangan. Lalu, ia mengambil pistol dan menembakkan ke bahu pria yang terakhir ia kalahkan. Pistolnya diletakkan di tangan pria yang tertancap kayu. Dengan begitu skenarionya akan terlihat seperti ‘Perkelahian Jalanan’.

Rafat kembali ke kamarnya, membukakan pintu kamar mandi. Di sana Eva sudah menangis tersedu-sedu karena ketakutan. “Maafkan aku, Eva. Tadi aku ketiduran.” Mudahnya ia berbohong.

Eva dengan badan yang masih basah tanpa busana berlari menuju Rafat, lalu memeluknya. Dirinya itu ingin berteriak dan menangis, tapi ia tidak bisa. Tangannya tak kuasa untuk melepas genggamannya pada tangan Rafat. Tubuhnya pun gemetar, terpancar ketakutan yang luar biasa.

“Kakak … Eva takut ….” Cengkraman tangannya semakin kuat.

Rafat mengambil handuk dan menutupi tubuh Eva. “Keringkan badan dan pakai pakaianmu, ini sudah malam. Nanti kamu masuk angin.”

Maafkan aku. Tapi, kamu tidak boleh mengetahui semuanya tentangku — pikir Rafat.

Tak lama setelah memakai pakaian, akhirnya Eva tertidur. Setelah kejadian itu, Rafat sendiri merasa harus terjaga semalam penuh. Biasanya Rafat sendiri tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi. Karena apa pun itu masalahnya, semuanya akan selesai tanpa butuh usaha khusus.

Rafat menelepon Alifha, adik dari almarhum temannya. “Halo, Alifha. Besok kakak akan datang ke apartemenmu bersama dengan seseorang.”

Siapa?” tanya Alifha.

“Adikku. Dan juga kakak ingin Alifha melakukan sesuatu.”

Keesokan harinya, Rafat dan Eva berkunjung ke apartemen Alifha. Jarak yang dekat membuat mereka berangkat tanpa menggunakan kendaraan. Pakaian Rafat sedikit berbeda dengan hari sebelumnya, terlihat lebih rapi. Eva juga mengenakan pakaian yang baru saja dibeli.

“Kakak, kita ke mana?” tanya Eva.

“Bermain ke rumah adik kakak yang lainnya.”

“Kakak punya adik?” Genggaman Eva semakin erat.

“Ya, dia itu adik yang sangat hebat.”

Mendengarnya, Eva menjadi kesal. Rafat pun menyadarinya, tapi ia memiliki maksud untuk berkata demikian. Perasaan buruk Rafat masih terus menghantui dirinya. Ia hanya takut apa yang akan terjadi pada Eva jika dirinya itu terjerat suatu masalah berat.

Sebenarnya aku sudah tahu, yang kemarin malam itu memang mengincar Eva — Rafat mulai berpikir, rencana apa yang harus dirinya lakukan. Sepanjang perjalanan, Eva hanya melihat wajah Rafat yang sangat serius menatap ke depan dengan tangan memegangi dagunya.

Ting! — terdengar suara bel setelah Rafat memencet sebuah tombol di depan kamar bernomor S-102.

Bahkan tidak sedetik, pintu kamarnya langsung terbuka begitu saja. “Kakak! Aku kangen sekali! Sudah lama kakak tidak datang ke sini,” muncul seorang gadis kecil imut dengan busana kaos dan juga celana pendek mendekap Rafat.

“Ah, Alifha … Sepertinya sudah kebiasaanmu, ya. Saat aku datang, kamu langsung memelukku.”

“Hehe,” Alifha menggesek-gesekkan kepalanya ke badan Rafat.

Alifha masih belum berubah juga ternyata. Syukurlah — Rafat mengusap-usap kepala Alifha.

“Alifha, kakak ingin mengenalkan kepadamu, adikku—Eva.” Eva berdiri tepat di samping Rafat sembari memegangi pakaiannya. “Ayo perkenalkan dirimu, Eva.”

“Salam kenal, kak,” ucap Eva dengan nada malu-malu.

Sepertinya Eva terkejut karena melihat warna Alifha yang terkesan tidak normal.

“Eehh … Jadi dia, ya?” Alifha menyubiti pipinya Eva karena gemas. Ia juga menyadari mengenai mata kanan Eva yang tidak ada. Namun, ia memilih untuk diam saja. “Halo Eva, salam kenal juga, ya.”

“Alifha, apakah kau sudah melakukannya?”

“Yang kemarin kakak minta, kan? Alifha sudah menemukannya.” Alifha menyuruh mereka berdua masuk. Saat ingin masuk, Eva sedikit ketakutan dan terus-menerus menarik pakaian Rafat.

“Tidak apa-apa, Eva.”

Sepertinya dia masih belum terbiasa dengan warnanya Alifha, warna yang tidak menentu, selalu berubah — pikir Rafat.

“Maaf, ya. Aku tidak menyiapkan apa-apa.” Berjalan mengambil gelas untuk dituangi es jeruk dari dalam kulkasnya.

Rafat sedikit terkejut saat melihat kondisi kamar Alifha, “Kau ini perempuan, tapi kamarmu seperti kapal pecah.” Kamarnya sangat berantakan. Karena tak tahan dengan kondisi itu, Rafat dengan gesit membersihkan dan merapikan semua barang yang ada di kamar Alifha.

“Hoo, kakak memang hebat.” Tepuk tangan dengan wajah kagum. Karena kesal, Rafat menyubit pipi Alifha hingga merah. “Aaa~ Swakit kakak.”

Eva yang melihatnya hanya bisa cemburu. Saking cemburunya, pipinya membesar.

“Kita sudahi bercandanya. Alifha tolong tunjukkan berkas dan jurnalnya.”

“Tunggu sebentar,” Alifha mengambil laptop dan membukanya. Ia seperti menjelajahi sebuah situs yang entah apa itu isi dan bentuknya. Tampilannya sedikit berbeda dengan browser yang ada. “Reruntuhan Laboratorium, Peninggalan Perang Dunia I, Penjualan Budak, Bom Atom Jepang 1945, semua itu mengarah pada satu judul jurnal yang kutemukan ini, ‘Adam’s Project: Hawa’,” — Alifha memberikan laptopnya kepada Rafat untuk menunjukkan isi jurnalnya — “di sana tertulis bahwa, bangsa Eropa dulunya sangat menginginkan bentuk pertama dari nenek dan kakek moyang manusia, Adam dan Hawa.”

“Dan tujuannya adalah waktu, ya?”

Alifha terkejut saat mendengar Rafat berbicara demikian, “Hebat sekali. Benar, bangsa Eropa menginginkan sebuah pengetahuan yang di mana mereka dapat pergi ke masa lalu dan kembali ke masa depan.” Penjelasan singkat Alifha.

“Sebodoh itu kah bangsa Eropa dulu. Lalu, siapa penulis jurnal ini?” sembari membuka dan mencari-cari di hingga halaman terakhir.

“Yaratsch, dialah penulisnya. Dari laman ini, aku menjelajahinya lebih dalam lagi. Namun, yang aku temui, pengunggahnya adalah —” ucapan Alifha terhenti karena teringat sesuatu. “Namamu Eva, kan?” mendekati Eva yang sedang anteng menikmati es jeruk. “Jangan-jangan, kamu yang —”

Rafat menarik lengan Alifha, “Hentikan Alifha. Jika memang itu adalah dirinya, dia pasti sudah memberitahuku dari tadi. Dan juga aku tidak melihat kecurigaan pada warnanya —” ucapan Rafat tepotong oleh Eva.

“Tidak, bukan Eva yang mengunggahnya. Tetapi, Eva tahu siapa yang mengunggahnya,” ucap Eva dengan santai.

Seketika, terasa seperti petir menyambar Alifha dan Rafat. “Kau mengetahuinya?! Eva?” tanya Rafat. Eva menjawab hanya dengan menganggukkan kepalanya.

“Ibuku — ‘Eva’ sebelum diriku yang mengunggah jurnal itu. Dan Yaratsch itu adalah ayah angkat dari ibuku.”

“Jadi kamu dan ibumu itu adalah objek dari Adam’s Project?” tanya Alifha.

Eva menggeleng-gelengkan kepalanya dan menjawab, “Hanya ibuku saja yang termasuk dalam objek Adam’s Project. Aku … hanyalah salinan yang diciptakan oleh ibuku untuk bertemu dengan kakak,” menunjuk Rafat.

Entah kenapa aku merasa kesal dengan kegilaan dunia ini. Manusia buatan? Jangan bercanda!

“Alifha, kakak ingin bicara empat mata denganmu. Eva tunggu dulu di sini, ya.” Rafat mengelus-elus kepala Eva, lalu pergi ke depan pintu kamar. Di luar, Rafat membuka dawainya dan menghubungi seseorang dengan nama ‘Fumiko Kana’. Dengan bahasa inggris Rafat berbicara, “Halo Kana. Mungkin ini akan menjadi terakhir kali aku menghubungimu dengan serius. Tolong katakan kepada anggota yang lainnya ….” Rafat menyampaikan sebuah kalimat kode dan memberitahunya untuk segera dipecahkan, lalu melaksanakannya pada lusa.

Hei, Rafat! Katakan apa yang terjadi!” Fumiko berteriak marah karena bingung dengan apa yang terjadi.

“Aku punya perasaan yang buruk tentang masalah ini, jadi aku meminta bantuan kepada kalian. Dan … mungkin ini akan menjadi kekalahan pertama dan terakhirku.” Rafat tersenyum begitu saja dan menutup teleponnya.

Alifha terdiam setelah mendengar perkataan kakaknya itu. Wajahnya berubah menjadi lebih ganas, “Kakak! Apa-apaan perkataanmu tadi?! Apa maksud dari ‘terakhir’-mu itu tadi?!?” Berjalan mendekati Rafat dan menarik kerah bajunya. Tak hanya itu, Alifha bahkan mengangkatnya, “Cepat tarik kembali kata-katamu!”

“Tidak,” jawab Rafat dengan singkat.

Kekesalan Alifha meningkat, “Kakak!” Ia menyikut perut Rafat dan membantingnya ke lantai. Duduk di atas perutnya, memukuli wajahnya dengan begitu keras. Namun, Rafat sama sekali tidak membalasnya. Luka yang dulu disebabkan oleh Alifha pun muncul kembali, rahang bawah Rafat mengalami dislokasi.

Tangan Alifha mulai berhenti. Wajah Rafat pun dibasahi oleh sebuah bentuk tangisan kecewa. “Kakak … Aku mohon, jangan tinggalkan Alifha. Pertama orang tua Alifha, paman, lalu kak Dayyan, dan sekarang kak Rafat juga ingin meninggalkan Alifha?! Kenapa kalian semua begitu ingin meninggalkanku?! KENAPA KAK!?!” menarik-narik kerah Rafat.

“Apa kau sudah puas memukulku?” tanya Rafat dengan kondisi wajahnya yang sudah babak belur.

“Alifha belum puas.” Ia mendaratkan satu lagi pukulan telak pada hidung. Saat berdiri, Alifha juga meludah pada wajah Rafat. “Sekarang Alifha sudah puas.”

“Menjijikan.” Rafat mengelap wajahnya yang sudah bersimbah darah dan ludah Alifha. “Lagian siapa juga yang ingin mati. Meskipun memang benar peluang matiku nanti sangat besar —”

Alifha memukul perut Rafat dengan sangat keras, “Ucapan kakak itu benar-benar menyebalkan.”

“Akhir dunia, sudah sangat dekat,” ucap Rafat sambil mengatur napasnya.

“Apa maksud kakak?”

Adam’s Project, mereka bukan hanya mengincar pengetahuan mengenai masa lalu dan masa depan. Tetapi, tentara manusia buatan, manipulasi nuklir, sumber daya tak terbatas, asal-usul keberadaan manusia, dan Tuhan. Mereka mengincar semuanya. Pada 70 tahun yang lalu, mungkin ini adalah sebuah lelucon. Saat ini, teknologi sudah berkembang.”

“Lalu, kenapa kakak berpikir mengenai kematian?”

Rafat bersandar pada dinding, “Kemarin malam, kamar kosku diserang dua pria. Dan sepertinya, yang mereka cari bukan hanya Eva.”

“Namun, kakak juga?”

Rafat menganggukkan kepalanya, “Betul sekali. Mereka sudah menemukan ‘sang Adam’, dengan cara membiarkan sang Hawa — Eva, mencarinya.”

Alifha tidak memberikan tanggapan dan hanya mengatakan, “Percaya diri sekali kakak, menyebut diri sendiri ‘sang Adam’.”

“Hmph.” Rafat tertawa kecil dan beranjak menuju Eva berada. “Alifha, mohon bantuannya nanti.”

“Terserah kakak.” Alifha masih kesal dengan kata-kata Rafat.

~***~

Dua hari kemudian ….

“Alifha, Eva telah direbut oleh mereka,” suara Rafat dalam telepon. “Kakak, membutuhkan bantuanmu.” Telepon itu langsung ditutup dan Rafat pergi bersiap-siap.

Aku benar-benar ceroboh. Namun, memang sesuai perkiraanku.

“Kakak … Jangan kalah,” gumam Alifha.

Rafat pergi menuju gudang di dekat kampusnya. Semua barang-barang rahasia disimpan di sana. Senjata api, senjata tajam dan beberapa perlengkapan lainnya ia bawa. Alat komunikasi jarak jauh pada telinga sudah terpasang dan terhubung dengan Alifha.

Mungkin sedikit mengejutkan jika seorang mahasiswa diperbolehkan membawa barang-barang tersebut. Rafat ini sangat berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Saat SMP, dia pernah memenangi sebuah kompetisi melawan para jenius di dunia. Lalu, ia juga lulus dari sebuah instansi pendidikan internasional yang berada di Indonesia hanya dalam tiga hari. Normalnya, dibutuhkan tiga tahun untuk lulus. Meskipun tanpa sebuah pengetahuan dan pelatihan militer, ia mampu melawan 10 orang dewasa sekaligus saat di bangku SMA. Karena beberapa kejadian juga, dirinya diberikan surat izin untuk membebaskan dirinya memiliki barang-barang tersebut.

“Eva, tunggu kakak,” Rafat keluar menggunakan motorsport-nya. Teknologi yang terpasang pada motornya sudah jauh lebih canggih dibanding yang lain. Dan semua itu adalah perbuatan Rafat dan Alifha. “Gemini, tolong arahkan aku ke tempat Eva. Sagitarius, bantu Alifha menjalankan tugasnya,” Rafat berbicara dengan para AI-nya.

Baik,” jawab serentak.

“Halo, Alifha. Apakah suaraku terdengar?” ucap Rafat sembari fokus berkendara.

Terdengar jelas, kak. Sagitarius sudah sampai di komputerku.

Rafat tersenyum, “Tolong katakan kepada Kana, ‘200, 250, 500, dan 1425 meter di depanku akan ada seorang teroris.’ Apa kamu bisa menyampaikannya?”

Baiklah, kak.

“Gemini, tolong kendarai secara otomatis.” Rafat mengeluarkan seperti pil obat dari dalam kantungnya.

Tuan, ini bukan jadwal Anda meminum obat tersebut,” ucap Gemini.

Kakak! Kamu meminum obat itu lagi?!” teriak Alifha.

“Berisik sekali, kalian berdua! Tenang saja, yang seperti ini tidak akan membuatku mati.” Rafat meningkatkan kecepatannya.

Sepanjang perjalanan, Rafat tidak bertemu dengan masalah lain. Akhirnya dia tiba di sebuah tempat, seperti sebuah gedung tak terpakai. Lokasinya sendiri berada di tengah kota, yang berarti banyak kendaraan dan pejalan kaki berlalu-lalang. “Musuhku kali ini sangatlah cerdik.” Rafat berjalan masuk menuju basement gedung tersebut.

Lebih baik kakak tunggu bala bantuan dari kak Kana,” saran Alifha.

“Tidak, lebih baik aku melakukannya sendiri. Komunikasi akan kakak putuskan di sini.”

Kakak terlalu gegabah.”

“Kakak masih memiliki ‘kemampuan’ yang lain.”

Kakak! Jangan pernah gunakan—” suara Alifha terputus karena Rafat mematikan jalur komunikasinya.

Rafat mulai memasuki gedung, di sana tidak ada penjaga sama sekali. Ia sadar dengan beberapa CCTV yang terpasang. Maka dari itu, ia meminta Alifha untuk mengnonaktifkan seluruh sistem keamanan dan memancing semua orang dalam gedung itu untuk pergi ke lobi.

Nguunggg! — terdengar suara alarm yang cukup keras. Langkah kaki pun terdengar jelas di sebrang tembok tepat di mana Rafat berada. Kesempatan untuk menerobos masuk.

“Eva sepertinya berada di lantai tiga.”

Sepanjang lorong, Rafat menghabisi semua orang hanya dengan kemampuan bela dirinya. Ia mengambil perlengkapan dan pelindung kepala dari orang yang baru saja dikalahkan. Tak disangka dengan cara tersebut, dirinya bisa berjalan dengan santai hingga lantai ke-3. Selama di perjalanannya, ia menghabisi para teroris dan menyembunyikan tubuhnya di tempat yang tidak terlihat.

Karena Rafat yang terlalu terburu-buru, para teroris sadar dengan keberadaan Rafat di dalam gedung sana. Ia memusatkan kinerja otaknya pada indera perabanya, “20 orang ya, memang terlalu banyak. Tapi sepertinya aku bisa melakukannya. Gemini, tolong nyalakan sistem pemadam kebakaran.” Pandangan semua orang seketika tertutup oleh cipratan air. Dengan celah itu, Rafat memusatkan kendali otaknya hanya pada otot. Pengelihatannya menjadi gelap, tetapi kemampuan fisiknya seperti hewan buas dari padang sabana. Memangsa musuh-musuhnya, jumlah yang banyak pun bukan menjadi sebuah masalah.

Sampai saat ini, Rafat sama sekali belum menggunakan senjatanya. Dengan tubuhnya yang basah kuyup, ia membiarkan Gemini memasuki jaringan sistem pada gedung itu. “Gemini, tolong bukakan pintu ini.”

Baik, Tuan. Dibutuhkan waktu 30 detik untuk memecahkan kata sandi.”

Saat Rafat mengembalikan fungsi otaknya ke seluruh tubuh, napasnya menjadi sangat tidak karuan. Tubuhnya tumbang hingga tidak dapat digerakkan. Detak jantungnya berdegup sangat kencang.

Aku harus mengontrol semuanya — Rafat berusaha untuk menstabilkan keadaan tubuhnya.

Tak disangka, salah satu dari teroris yang baru dikalahkan ada yang tersadar. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari kantung belakangnya. Kepalanya yang masih sangat pusing membuat dirinya kesulitan membidik kepala Rafat yang terkapar di lantai. Sesaat setelah menarik pelatuknya, Rafat menyadari sesuatu di dekatnya. Dengan usaha menghindar, kepalanya selamat dari tembakan tersebut.

“Dasar kau monster,” teroris yang menembak tadi berjalan mendekati rafat, menodongkan pistolnya tepat di kepala Rafat. Suara rintikan air yang terjatuh sedikit demi sedikit mulai menghilang. Ketegangan muncul di antara Rafat dan teroris itu.

Muncul suara Gemini dengan tiba-tiba, “Tuan, pintu akan saya buka.” Suara itu terdengar jelas oleh teroris itu dan membuat dirinya lengah.

Kesempatan! — Rafat memutar tubuhnya dan menendang kaki teroris itu hingga terjatuh. Lalu, menghantam wajahnya dengan sebuah tendangan telak.

“Tak kusangka tembakan tadi akan mengenai kaki kiriku.” Berjalan pincang menuju ruangan Eva berada.

Tuan, pendarahanmu harus dihentikan.

“Aku tahu. Namun, aku harus segera membawa Eva dan keluar dari sini.” Rafat membuka satu per satu pintu yang terdapat di lorong itu. Ia menahan rasa sakit kakinya sembari memegangi senjata api yang ia bawa, Magnum. Pintu ke-12 yang ia buka, terlihat Eva sedang duduk dengan badan terikat di sebuah tempat tidur. Rafat menghampirinya, lalu melepaskan ikatannya.

Peringatan! Tekanan darah Anda menurun,” Gemini mengingatkan Tuannya.

“Berisik, Gemini! Matikan semua pemberitahuan kondisiku!” Rafat memangku Eva dengan satu tangan. “Kita akan keluar dari sini dengan selamat.” Ia berjalan keluar, mencari tangga untuk pergi menuju ke atap gedung. “Taurus, apakah kamu sudah mendapatkan data-data dari organisasi mereka?” tanya Rafat ke salah satu AI-nya. Saat Rafat berjalan menuju lokasi kamar Eva, ia menyentuh setiap perangkat yang memungkinkan tersambung ke jaringan di gedung tersebut dan yang bersangkutan.

Semuanya sudah saya pindahkan ke perangkat nona Alifha, Tuan.”

“Bagus.”

Aku harus segera pergi ke atap. Kana pasti sudah menungguku.

Suara langkah di tengah kesepian, memangku seorang gadis kecil dengan jalan pincangnya. Rencana Rafat, semuanya berjalan sesuai yang diperkirakan. Semua teroris yang dipancing oleh alarm buatan menuju lobi pasti sekarang sedang mengejar Rafat. Dan bagian lantai atas sudah dibersihkan oleh pasukan penembak jitu Fumiko Kana. 

Suara tetesan air menggema sepanjang lorong di gedung gelap itu. Tapi itu hanya sesaat.

Aku mendengar dentuman yang lumayan besar.

“Ada bom?!” Rafat melirik ke sekitarnya dan mencari sumber dentuman itu.

Tidak! Bukan bom! Ini adalah gempa.

Dengan tenaga yang tersisa Rafat berlari menuju ke atas. Wajahnya yang pucat karena kehilangan banyak darah, tubuhnya yang kedinginan, dan pandangannya yang sudah mulai kabur, semuanya itu dipaksa oleh kegigihan Rafat. Saat ini, Rafat masih berada di lantai 7. Untuk menuju atap — tepatnya di atas lantai 8, ia harus menaiki tangga yang berada di sisi lain gedung.

Dentumannya semakin besar! — air mata Rafat mulai mengalir.

“Sial! Bukan waktunya menangis! Aku harus terus berlari!”

Aku tak ingin mati! Aku masih ingin bertemu banyak orang! Aku masih belum menemukan kakakku! — Rafat terus menerus memaksakkan kedua kakinya itu hingga berwarna biru hitam bengkak pada bagian mata kakinya.

Sesampainya di lantai 8, ia melihat beberapa pasukan Fumiko Kana menjemput Rafat dan Eva.

“Ayo, Nak! Kemari!” dalam bahasa Jepang.

Oh, tidak! Suara dentumannya sudah sampai di permukaan.

“Larilah! Cepat!” teriak Rafat.

“Eh?!” para pasukan Fumiko Kana kebingungan.

Karena mereka tidak mendengarnya, Rafat mengeluarkan senjata apinya dan menembaki mereka supaya lari. Tubuh rafat yang sudah sampai batasnya, terkapar menatap langit-langit dengan Eva berada pada pelukannya. Pilar-pilar gedung pun mulai retak.

“Ini gempa! Kita harus lari!” ucap pasukan Fumiko Kana. Mereka mulai kembali ke atap untuk menaiki helikopter.

Aku mendengar suara helikopter. Kana, sudah di atas sana. Tapi … tubuhku sudah tidak kuat.

“Ka—kak?” Eva terbangun dari pingsannya.

“Eva sudah bangun, ya. Maaf. Sepertinya aku tidak bisa membawamu keluar dengan selamat.” Rafat sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Ia mencoba untuk mengelus-elus kepala Eva.

Lantai-lantai mulai jatuh, pilar-pilar gedung pun mulai berhancuran. “Tidak, kakak sudah berusaha. Selama Eva berada di sisi kakak, tidak masalah apa pun yang terjadi.”

Kau itu memang aneh, Eva. Sejak awal datang ke kamar kosku pun kau memanggilku ‘Kakak’. Lalu memanggilku ‘Tuan’. Tetapi, sifat polos dan lugunya sangat lucu — air mata Rafat mulai keluar deras.

“Gemini, alihkan semua AI-ku ke perangkat Alifha,” ucap Rafat, lalu ia melemparkan alat komunikasi di telinganya ke atas.

Gempa itu meruntuhkan gedung, tempat di mana Rafat dan Eva sekarang berada. Meskipun kondisinya sangat mengerikan, Rafat sama sekali tidak ingin pasrah. Ia menggunakan kemampuan terakhirnya, kemampuan “Mata Batin”. Warna, jin, dan makhluk lainnya yang dapat ia lihat, itu bukanlah sebatas kemampuan supernatural biasa. Rafat mampu memasuki pikiran seseorang dan mengintip masa lalunya, bahkan mampu mengubahnya. Tetapi terakhir kali ia melakukannya, pembuluh darah pada kedua matanya itu pecah. Darah mengalir pada matanya.

Saat ini, Rafat ingin melakukan hal serupa. Ia merasuki semua pikiran para teroris dan ‘menghipnotis’ mereka semua untuk membentuk sebuah matras untuk mendarat. Efek yang diterima Rafat bukan lagi pecah pembuluh darah, namun kedua bola matanya meleleh. Selain itu juga, beberapa sel otaknya mulai terbakar karena tak kuat menampung semua memori orang yang ia masuki.

Sakit sekali! Tapi aku harus terus melakukan ini.

Dari luar, terlihat gedung itu sudah hancur rata seperti sebuah istana pasir yang dihantam keras oleh ombak. Orang-orang di sekitar pun terkejut dan berlarian menjauhi lokasi. Fumiko Kana masih tetap mencari keberadaan Rafat. Dirinya itu benar-benar tidak menyerah.

Di lain sisi, Rafat dan Eva berhasil mendarat dengan selamat, tetapi tertutupi oleh puing-puing bangunan. “Eva … Eva … Eva.” Rafat mencoba untuk memanggil Eva yang berada pada pangkuannya itu. Ia mencoba meraba dan membangunkan Eva. Tubuh Eva sama sekali tidak menanggapinya dan suhunya pun sangat dingin. Rafat juga mencoba untuk meraba lagi dan ia menyadari, Eva tertusuk oleh tiang penyangga pada bagian pinggangnya.

Rafat sendiri sudah tidak bisa melihat dan menggerakkan tubuhnya lebih dari itu. ‘Menyerahkan diri’, mungkin itu yang sudah ada dipikiran Rafat. Ia tidak dapat berpikir lagi untuk menyelamatkan diri.

“Ka… kak… Dingin ….” gumam Eva terdengar pelan pada telinga Rafat.

Rafat terkejut dan hanya bisa memasang senyum, lalu memeluknya.

Waktu singkat bersamamu memang benar terasa menyenangkan. Sejujurnya di saat seperti ini aku ingin sekali melihatmu. Tapi, sepertinya Tuhan sudah merenggut kedua mataku. Sayang sekali.

Jumlah teroris, 45 orang dan jumlah korban, 47 orang

Adam dan Eve diusir dari surga sebab Eve — Hawa, memakan buah terlarang.

~***~

12 tahun pun berlalu begitu saja. Setelah kejadian itu, Fumiko Kana dan seluruh rekan Rafat menghentikan serta menghapus segala jejak dari penelitian Adam’s Project. Alifha yang memiliki semua datanya, membantu melacak jejak yang masih tersisa. 

Dan di zaman ini juga, Alifha sudah mendirikan sebuah rumah sakit. Tepatnya, sekitar empat tahun yang lalu, Alifha menemukan sebuah catatan yang di mana almarhum kakaknya, kak Dayyan sangat ingin mendirikan sebuah rumah sakit. Dan dari sana, ia memiliki tekad untuk membangun rumah sakit.

Kota Gamma, 18 Mei 2034

Seorang gadis kecil berdiri dengan posisi kepala menunduk. Seperti orang yang putus asa terhadap sesuatu.

“Ini adalah tagihan rumah sakit untuk kakakmu. Di mana orang tuamu?” ucap salah satu petugas di sana.

“A-anu, kami sudah tidak memiliki orang tua.” Gadis kecil itu murung dan bingung, bagaimana cara ia membayarnya.

“Aduh ….”

Terdengar suara langkah sepatu mendekat, “Permisi, bisakah aku saja yang membayarnya?”

Gadis kecil itu melihat seorang pria gagah dengan tongkatnya mengulurkan tangannya. Seperti meminta tagihannya. Petugas itu memberikan tagihannya ke pria tersebut. Dan pria tersebut meminta sang gadis kecil membacakan jumlah tagihannya. Setelah sang gadis kecil membacakan jumlahnya, pria itu hanya tersenyum.

“Aku akan membayarnya, tolong antarkan aku ke loket pembayaran.”

“Baik, Tuan.” Petugas itu menuntun pria itu.

Sang gadis kecil mengkuti pria itu. Melihat bahwa pria itu benar-benar membayarkan seluruh biaya rawat inap kakaknya itu. “Tuan, terima kasih,” ucap gadis kecil itu dengan senang. Wajahnya pun kembali riang. Pria itu masih tetap memasangkan senyumnya saja tanpa merespon rasa syukurnya sang gadis kecil.

“Sepertinya kakakmu sudah sadar,” ucap sang pria.

Dengan wajah terkejutnya, “Benarkah?!”

“Temani kakakmu yang baru bangun.” Pria itu menyuruhnya untuk segera mendatangi kakaknya.

Hanya dengan memberi salam dan terima kasih, gadis kecil itu pergi berlari menuju kamar kakaknya. Entah benar atau tidak apa yang dikatakan pria tadi, yang diharapkannya itu hanya keselamatan kakaknya. Gadis dengan penampilan compang-camping berlarian di koridor rumah sakit. Banyak orang yang melihatinya, akan tetapi dia tidak peduli.

Beberapa saat yang lalu, kakaknya itu mengalami kecelakaan jalanan. Ia tertabrak oleh sebuah mobil yang sedang dikendarai oleh orang mabuk. Tepatnya, saat sang kakak sedang membelikan sebuah boneka untuk adiknya. Semua itu terjadi di depan mata adiknya sendiri.

Hanya saja, semua itu akan berlalu begitu saja. Kebahagiaan terpancar penuh di dalam kamar tersebut. Warna kuning dan biru cerah benar-benar mewarnai dari setiap sudut ruangan. “Kakak! Syukurlah ….” Sang adik langsung memeluk kakaknya yang baru saja terbangun dari tidurnya. “Tidak tahu harus bagaimana lagi, jika kakak meninggalkanku.”

“Sepertinya kakakmu sudah membaik, ya.”

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan.” Sang adik langsung mengatakan ke kakaknya bahwa Tuan itu adalah orang yang telah membayar semua biaya pengobatan.

“Ha-Hawa —” kepalanya merasa kesakitan. “Ah iya, aku mengingatnya. Aku mengalami kecelakaan.” Sang kakak beranjak dari kasurnya dan membungkukkan badannya, “Saya ucapkan terima kasih karena telah menjaga adik saya dan juga membayar biaya pengobatan saya. Suatu saat hutang budi Anda akan saya balas.”

“Haha, kalian ini sangat lucu. Meskipun aku buta, tapi aku bisa melihat warna kalian.”

Mereka berdua terkejut karena pria itu membawah ‘melihat warna’. “Apakah Tuan bisa melihat warna juga?”

“Tentu saja. Dari awal, aku memang ingin mengasuh kalian. Pendidikan, pakaian, makanan, dan lainnya, aku akan menanggungnya.”

Mendengar hal tersebut, kakak beradik itu sangat senang. Mereka juga menerima penawaran itu. Dan juga mereka bersumpah, “Kami bersumpah akan membuat nama baik Tuan tidak tercoreng.”

“Haha, jangan panggil aku dengan ‘Tuan’ —” ucapannya terpotong karena ada orang lain yang berbicara juga dari belakangnya.

“Pria ini jangan kalian panggil dengan sebutan ‘Tuan’,” ucap seorang gadis dengan jas dokternya.

“Yang kak Alifha katakan itu benar. Jangan panggil ‘Tuan’. Panggil dia dengan panggilan ‘Kakak’. Bukankah begitu … kak Rafat? Sepertinya kepulanganmu dari Australia lebih cepat dari yang dijadwalkan,” ucap gadis lainnya dengan pakaian yang sangat anggun, auranya pun sangat terasa hangat.

“Ternyata kalian berdua sedang berada di sini ya, Alifha, Eva.” Mereka bertiga tertawa dan saling bertukar salam. “Benar sekali, jangan panggil aku ‘Tuan’. Tapi panggil aku dengan ‘Kakak’,” ucap Rafat.

“Baik, kakak.”

“Mungkin aku belum memperkenalkan diriku dengan benar. Aku, Raditya Rafat, hanya seorang manusia biasa yang tak bisa melihat.”

Gadis dengan pakaian anggun menggandeng tangan Rafat, “Perkenalkan, aku adalah Eva, adik dari kakak satu ini.”

“Dan aku adalah Alifha, kalian berdua bisa mengandalkanku jika ada apa-apa,” ucap gadis dengan jas dokternya.

Setelah mendengar mereka berkenalan, kakak adik ini pun mengenalkan dirinya sendiri. “Perkenalkan aku, Hawa, kedua orang tua kami sudah tiada. Dan kami hidup dengan cara bekerja paruh waktu.”

Paruh waktu? Umur mereka mungkin sekitar … 5 dan 7 tahun — pikir Rafat.

“Sebelumnya kuucapkan terima kasih karena sudah ingin menampung dan mengasuh kami,” — sang kakak berjalan mendekati Rafat dan memeroleh tangannya — “Aku adalah Adam, salam kenal, kak Rafat. Sepertinya saat aku terpingsan, mimpi yang kulihat adalah masa lalu Anda, kak Rafat” Ia mencium tangan Rafat.

Rafat hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Selamat datang di keluarga, Adam, Hawa. Jika yang Adam lihat demikian, maka itu adalah benar.”

~***~

Kembali ke masa di mana akhir dari Perang Dunia ke-2 hampir terlihat.

Hiroshima, 5 Agustus 1945

“Wah! Ayah, lihat itu! Ada kereta di tengah jalan!” seorang gadis terkagum-kagum melihat keindahan kota di sana. Banyak orang-orang menggunakan pakaian kimono. “Ayah! Pakaian mereka sangat lucu!” Bahkan udara di sana masih terasa sangat segar, meskipun saat itu sedang berada pada musim panas.

“Hei, Eva! Jangan berlarian ke sana kemari. Banyak orang yang berlalu-lalang,” seorang dengan pakaian berjas ditemani oleh seorang pelayan tua. “Dasar, padahal dia itu sudah besar.”

“Apakah perlu saya menegurnya, Tuan?”

“Tidak perlu, kita di sini untuk menikmati sisa liburan kita. Oh ya, apakah kamu bisa mencari sebuah penginapan untuk kita tempati?”

“Baik, Tuan.” Rafael pergi meninggalkan mereka berdua.

Dan sekarang hanya tinggal mereka berdua, Eva dan Yaratsch. Eva saat ini mampu melihat dengan satu matanya. Itu adalah pemberian dari mata kanan Yaratsch.

Saat ini kami benar-benar bisa berbagi pengelihatan.

“Ayah!” Eva berlari ke arah Yaratsch dan sedikit ketakutan, ia juga menunjuk ke arah langit. “Ayah, langit itu sangat gelap.” Setelah Eva menerima mata kiri Yaratsch, dia juga mampu melihat berbagai warna.

Semoga saja firasat burukku ini salah — Yaratsch sangat gelisah sesampainya di sana.

“Sekarang masih jam empat sore, apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Yaratsch.

“Kemana pun! Asalkan bersama ayah, Eva akan merasa senang.” Eva tersenyum kepada ayahnya di bawah langit jingga.

Mungkin itu adalah terakhir kalinya dirinya itu tersenyum.

Tanpa kusadari, semuanya berlalu begitu saja. Aku terbangun dalam tidur panjang. Dan yang kulihat di sana hanyalah kedengkian yang sang pekat. Rasa mual membuat seluruh tubuhku bergetar. Semua roh manusia beterbangan ke sana kemari. Tidak ada lagi kesenangan di dalamnya. Saat kuberjalan di dalamnya, aku benar-benar tidak bisa merasakan kehangatan kasih sayang. Semuanya telah tiada. Rasanya seperti berada di dunia lain.

Ingatan terakhirku … ayahku memasukkanku ke dalam sebuah kotak di dalam tanah. Dia juga seperti sedang menahan tembakan yang mengarah kepadaku. Bahkan untuk saat terakhir pun, aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku kesal. Aku sedih. Tapi aku tidak bisa menangis, aku hanya bisa berteriak keras tanpa ada yang bisa mendengarku.

Hiroshima, 6 Agustus 1945 pukul 18.20

Hari di mana Amerika Serikat menjatuhkan bom nuklir di kota ini. Akibat dari radiasi yang dipancarkan membuat makhluk hidup di sana mengalami beberapa keanehan. Hanya saja, tubuh Eva saat itu tidak merasakan apa pun selain mualnya. Seakan-akan tubuh buatannya itu tidak terpengaruh oleh radioaktif.

Di tengah kegelapan, Eva berjalan entah ke mana arahnya. Ia memasuki pegunungan dengan pohon-pohon yang rindang. Tanpa makanan, tanpa minuman, tubuh Eva sudah mencapai batasnya. Hingga ia sampai di sebuah gubuk yang kumuh. Di dalamnya tidak ada siapa-siapa, tetapi persediaan makanannya terlihat sangat banyak. Kondisi rumahnya pun terasa sangat kering untuk seukuran gubuk kumuh di pegunungan.

Karena tubuhnya sudah tidak kuat untuk bertahan lagi, Eva terbaring di depan gubuk itu. Tak lama, kabut di daerah pegunungan itu semakin tebal.

Aahhh … Aku akan mati. Tapi, memang seharusnya seperti ini — pikir Eva.

“Kamu tidak akan mati kok,” terdengar suara anak kecil laki-laki seperti berbicara tepat di samping telinga Eva. 

Siapa?

“Ternyata ada orang yang datang ke dunia ini.” Seorang kakek membawa pacul berjalan mendekatinya. “Kau tidak seharusnya datang kemari, nak.”

Nak? Mungkin dia memanggil diriku…. — Eva kehilangan kesadarannya.

Kakek itu membawa Eva ke dalam gubuknya dan membantunya menghangatkan tubuh. Ia juga menyiapkan makanan berupa sup agar mudah dicerna oleh Eva. Dengan mengambil beberapa tumbuhan herba dari belakang dapurnya, ia membuat suatu obat pil kecil. Entah dengan sihir atau ilmu apa, gelas dengan air hangat juga muncul pada tangan kanannya.

“Sepertinya kamu sudah sadar.” Kakek itu berjalan mendekati Eva sembari membawa air dan obat. “Sebelum kamu makan, minumlah obat ini lebih dahulu.” Eva sedikit ketakutan setelah melihat wajah dari kakek tersebut dan seperti menjauhinya. “Tenang saja, ini adalah obat agar organ pencernaanmu tetap dalam kondisi baik-baik saja.”

Karena sadar bahwa perutnya seperti terasa melilit, Eva terpaksa memakan obat tersebut. Setelah itu, ia menyantap sup yang telah dibuat oleh kakek tersebut. “Terima kasih atas makanannya.” Makanan itu habis dengan begitu cepat dan Eva menyerahkan mangkuknya kembali kepada kakek itu.

“Apa kamu ingin menambah?” Kakek itu menawarkan makanannya lagi. 

Dan Eva hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Terima kasih, kakek.”

“Baguslah. Jika kondisimu sudah membaik, kakek ingin berbicara denganmu. Aku akan menunggumu di depan gubuk ini.”

Karena tak ingin membuang-buang waktunya, Eva menahan lengan kakek tersebut. “Tidak perlu, kakek. Eva sudah membaik.”

“Kalau begitu, kamu harus cepat keluar dari gunung ini. Jika kamu terlalu lama di sini, tubuhmu akan terus semakin muda hingga kembali menjadi sebuah bentuk roh tanpa wujud fisik.”

Benar juga, aku … menjadi anak kecil lagi.

“Tetapi, aku sudah tidak tahu harus ke mana lagi.” Eva pasrah dan bingung dengan keadaannya sekarang.

“Tidak sulit kok, mungkin aku bisa menunjukkan suatu tempat yang bagus untukmu.” Seorang anak kecil tiba-tiba muncul di samping Eva.

“Si-siapa?”

Anak kecil itu berdiri menghadap Eva, “Aku adalah Sulaiman.” Mendengar perkenalannya saja, hati Eva langsung berdegup kencang. “Sejujurnya, aku senang dengan manusia seperti ayah angkatmu itu. Dia benar-benar mengerti hati dari setiap manusia. Namun, sepertinya ia sudah tiada, ya?”

“Ayahku salah satu korban.”

“Maka dari itu, aku ingin kamu menemukan sosok yang mirip dengan ayahmu. Hal itu ditujukan untuk mencegah segala peluang terjadinya akhir dunia.” Anak kecil itu meraih tangan Eva, lalu menundukkan tubuhnya.

Eva menjawabnya dengan ragu-ragu, “Mungkin … bisa saja. Tapi, aku tidak yakin bagaimana caranya.”

“Untuk masalah cara, kamu bisa menentukannya setelah sampai di tempatnya.”

“Baiklah, aku menerimanya. Lagipula, sekarang ku sudah bingung ingin melakukan apa. Jika itu untuk bertemu ayah kembali, maka kuterima.”

“Terima kasih.” Anak kecil mengangkat tangannya. Lalu, tiba-tiba muncul cahaya yang menyambar tubuh Eva di tengah tebalnya kabut itu.

Sang kakek itu seperti menyerahkan sesuatu kepada Eva, “Mungkin ini akan membantumu di sana.”

Saat Eva melihatnya, “Apakah kakek serius?” Ia melihat uang yang luar biasa jumlahnya.

“Itu adalah uang yang kudapat dari orang-orang berdoa. Kau bisa menggunakannya.” Kakek itu hanya tersenyum dan melanjutkan ucapannya, “Aku bukanlah dewa, hanya sebuah roh yang bersemayam di gunung ini.”

“Baiklah, sekarang aku akan memindahkanmu,” ucap Sulaiman. “Semoga kamu berhasil.”

“Terima kasih.” Eva menutup matanya. Cahaya-cahaya itu menarik Eva menuju tempat lain. Saat Eva membuka matanya, di depannya itu terdapat sebuah gua besar. Tanpa disadari juga, tubuh Eva kembali seperti umur 6 tahun. Di tengah hutan tanpa manusia, Eva baru menyadarinya.

Aku tidak butuh uang ….

Beruntungnya, setelah Eva dipindahkan, ia sadar bahwa terdapat kemampuan ghaib khusus pada dirinya. Berbicara pada hewan dan tumbuhan, itu adalah kemampuan yang ia dapatkan. Dengan kemampuannya Eva masih bisa terus bertahan hidup dan juga terus mengemban tanggung jawab untuk terus mencari sosok yang serupa dengan Yaratsch.

Namun, ia masih bingung dengan klasifikasi yang dibutuhkan agar sesuai dengan sosok ayahnya itu. Meskipun sudah berlangsung sekitar 50 tahun lamanya, Eva masih tidak menyerah untuk menemukannya. Semua cara dan bantuan dari setiap tumbuhan dan hewan sudah ia coba. Hasilnya tetap nihil, ia tidak dapat mengetahui caranya.

Sejenak ia memiliki pikiran untuk menyerah, “Apakah aku harus menyerah?” Ia menangis menatap langit yang mendung dari daratan tinggi. 

Aku sangat merindukan ayah. Sudah lama sekali aku tidak melihat bermacam warna manusia … Warna! Benar sekali! Aku baru menyadarinya — Eva beranjak dari posisinya dan mengusap air matanya.

Sulaiman yang mengawasinya dari jauh hanya tersenyum dan mengatakan, “Hmm, akhirnya kamu sadar juga. Sepertinya aku akan kembali lagi ke tempat kakek tua itu.”

Dengan kepercayaan dirinya yang baru, Eva meminta hewan dan tumbuhan lainnya untuk mencari manusia yang tidak memiliki warna. Hasil yang didapatkan memang lebih akurat, tetapi tetap saja hasilnya masih nihil. Hingga 8 tahun kemudian, ia mendapatkan informasi bahwa seorang bayi lahir dengan prediksi kelamin yang salah, lalu ia juga terindikasi tidak memiliki roh di dalamnya. Namun, bayi itu tetap hidup meskipun kritis karena penyakit yang dibawanya.

Dalam pertumbuhan, bayi itu sering diganggu oleh hal-hal mistis. Eva melindungi bayinya dengan cara meminta bantuan para serangga serta akar tumbuhan untuk selalu melindunginya. 

Sadar akan tubuhnya yang sudah mulai menua, Eva berpikir untuk membuat kloning dirinya sendiri. Akan tetapi, ada sebuah peraturan yang dilanggar nantinya. Jika klon itu lahir sebelum Eva meninggal dunia, akan terjadi suatu hal yang tidak dapat diprediksi antara Eva dengan kloningnya.

Maka dari itu, Eva membuat teknologi untuk melatih kloningnya agar mampu bertahan hidup setelah terlahir nanti. Sedikit lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas tersebut, sekitar 9 tahun ia membangunnya sendiri. Dengan pengetahuan yang ia miliki, Eva mampu mengembangkan janin kloningnya selama 3 tahun.

“Akhirnya, aku berhasil mengembangkannya.” Tubuh Eva yang mengeriput karena sabar menunggu janin kloningnya. Boneka dan pakaian yang ia siapkan untuk kloningnya pun sudah selesai dirajut.

Mungkin kloningku nanti akan memiliki ingatan yang baru, tetapi ambisiku akan terus tertanam dalam hatinya.

Eva berjalan menuju kursi. Mengambil sebuah kotak, lalu memasukkan pakaian serta bonekanya. Dia duduk di kursi dengan posisi kotak berada pangkuannya. Di hadapannya saat ini hanyalah janin yang sudah siap menerima roh.

“Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan sosok ayahku.” Eva memasang sebuah alat di kepalanya. Dibantu dengan para hewan dan tumbuhan untuk memasang alat lainnya.

Terima kasih semuanya ….

Saat mesin itu menyala, roh Eva ditarik ke dalam sistemnya. Dan mulai menginfusi rohnya ke dalam sang janin. Sebelum infusi benar-benar selesai 100%, Eva membuat dunia virtual yang di mana dirinya menjadi sosok ibu bagi kloningnya. Ia mengajari banyak hal di sana.

Enam tahun pun berlalu.

Sang janin sudah berkembang menjadi seorang anak kecil yang sudah siap tinggal di dunia luas. Saat ia membuka matanya, ia melihat sosok mayat tersenyum yang menghadap pada dirinya sembari memegang sebuah kotak. Mayat itu seperti dijaga oleh para tumbuhan, hewan, bahkan mikroorganisme. Sebuah makam yang sangat cantik.

Kloning ini berjalan, mengambil kotak tersebut lalu memakai yang ada di dalamnya. Tanpa mengetahui ingatan lama dari tubuh aslinya, sang kloning berjalan keluar mencari sosok yang dicarinya. Mungkin sekitar sebulan hingga ia benar-benar melihat sosoknya itu.

Sosok itu berlari tepat di depan pandangannya.

Kakak?! — pikir sang kloning pergi mengejar sosoknya yang sedang berlari menuju kamar kosnya.

Sesampainya di kos itu, ia ditanya oleh penjaga di sana. Dan kloning itu hanya menjawab, “Aku adalah adik dari kakak yang tadi berlari masuk.”

“Aduh! Nak Rafat parah banget sih! Ayo masuk saja, dik.”

Dengan izin tersebut, sang kloning berjalan mencari kamar dari sosoknya tersebut. Setelah menemukannya, tanpa basa-basi, ia langsung mengetuk pintunya.

Saat pintunya terbuka, sontak ia mengatakan, “Halo Kak!” Meskipun dirinya itu tidak paham dari mana rasa bahagia tersebut datang, ia benar-benar menahan rasa ingin menangisnya.


Penulis: Garpit

H(OURS) Time: Spin off, Last Chance

Entry Writchal #3
Tema: Mati


Tuhan adalah suatu sosok yang wujud, zat dan keberadaan-Nya absolut di alam semesta ini. Semua yang berada di luasnya semesta ini termasuk salah satu ciptaan-Nya. Dia memiliki 99 nama sebutan, di samping itu namanya pun termasuk kemampuannya.

Malaikat, jin, setan, roh dan manusia hidup di dimensi yang berbeda. Terdapat penghalang bagaikan tembok cahaya yang membatasi para makhluk guna menjaga kedamaian antar dimensi dan penduduknya.

Terdapat tiga dimensi di alam semesta ini: Dimensi Bawah, Dimensi Menengah dan Dimensi Atas.

Malaikat memiliki izin atas ketiga dimensi tersebut. Dikarenakan mereka memiliki kewajiban akan perintah Tuhannya. Mereka sangat patuh kepada Tuhannya tersebut.

Setan hanya memiliki kehidupan di dimensi bawah. Mereka pernah melakukan kesalahan besar yang menyebabkan dijatuhkan dari dimensi atas ke dimensi bawah. Namun beberapa dari mereka masih ada yang mampu berpindah dimensi.

Jin dan manusia tinggal pada dimensi yang sama. Namun terdapat sebuah perbedaan. Jika manusia terbentuk karena adanya wujud jin yang dibaluri tanah dari bumi sebagai bentuk fisiknya. Dan jin hanyalah bentuk roh biasa tanpa adanya bentuk fisik yang terlihat.

Lalu untuk roh adalah keberadaan yang berbeda dari mereka semua. Roh terbentuk atas kehendak Tuhan karena adanya suatu tindakan dan kekuatan pikiran yang terbentuk dari ke-4 makhluk yang lain. Seperti contoh, para dewa.

Namun ada pula roh yang terbentuk karena keinginan suatu fenomena besar yang ada. Keberadaannya tidak pernah diketahui dan diperbolehkan oleh Tuhan. Dan mereka semua disebut sebagai Roh Iregular (Irregular Spirits)

 

“Hai Rani, selamat malam. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun semenjak terakhir kali aku kemari bersama Amelia.” Berdiri di hadapan batu nisan bertuliskan nama ‘Rani’. “Mungkin kau di sana sedang membicarakan diriku dengan yang lainnya ya, haha.”

Seorang pemuda yang telah kehilangan ketiga istrinya dan seorang putrinya, yang tersisa hanyalah kedua putrinya. Rakha, sosok pahlawan yang menyelamatkan banyak siswa dari insiden King Goblin dan sosok penjahat yang menyulut Perang Dunia ke-3 juga pembunuh para Pahlawan Besar.

“Kau tahu Rani. Hidupku saat ini sangat tidak baik-baik saja. Aku takut semuanya akan hilang begitu saja saat di dekatku. Bahkan kalian pun pergi meninggalkanku. Bukankah itu tidak adil?” Menaruh setangkai bunga yang berbeda-beda warnanya pada setiap batu nisan.

Di sebelah makam Rani terdapat makam ketiga istri juga satu putrinya. “Aku hanya bercanda, kalian lah yang menentukan pilihan itu. Meskipun rasa sakit ini tetap ada, kalian adalah cintaku yang sangat pemberani dan ku hormati.” Mencium satu per satu batu nisan dan pergi meninggalkan pemakaman itu dengan rambut panjang yang diberai tertiup angin malam.

~***~

Jauh di atas sana, salah satu mantan malaikat agung, malaikat maut, Azrael, dipenjara karena menentang perintah Tuhan dan juga memilih seorang manusia dibanding dengan tugasnya. Karena hal itu, dirinya diberi julukan sebagai Broken Angel, yang artinya, sebuah malaikat yang gagal dalam memenuhi tugasnya.

Namun karena adanya beberapa insiden yang baru saja terjadi, Azrael terbebas dari penjara Dimensi Atas. Memang pada awalnya Azrael ingin sekali pergi secara paksa, tetapi dirinya merasa sebuah keberuntungan sedang berada pada pihaknya. Ia pergi melarikan diri ke Dimensi Tengah, Galaksi Bima Sakit, Bumi.

Karena aturan semesta yang berlaku, sayap Azrael yang awalnya berjumlah 49 pasang pada saat di atas, hanya menjadi tiga pasang saja saat turun ke bumi. Kekuatannya pun turun lebih dari 90% semulanya. Yang dia mampu lakukan hanya beberapa sihir sederhana tingkat atas.

Tujuan dirinya memilih bumi karena ingin bertemu dengan seseorang, yaitu Lucifer. Dirinya mengetahui beberapa rumor beredar mengenai pemberontakan Lucifer. ‘Sempat melawan bahkan memojokkan Tuhan’, itulah yang Azrael incar. Karena jika hal itu betul kebenarannya, maka akan ada kesempatan baginya untuk mewujudkan impiannya.

“Mungkin aku harus menghilangkan terlebih dahulu sayapku,” memandangi punggungnya yang terdapat tiga pasang sayap hitam.

Hitam ya … wajar saja, karena aku sudah dibuang oleh Tuhan. Rambutku jadi hitam juga.

Dengan menekan aura dan juga kekuatannya, sayap pada punggungnya menghilang dan pakaian yang dikenakan berubah mengikuti sekitar yang ada. “Pakaian apa ini? Yukata? Apakah ini Jepang?”

Mungkin bagi Azrael yang sudah lama tidak melihat bumi dan juga tidak tahu peristiwa apa saja yang sudah terjadi, semua itu akan langsung dikaitkan dengan pengetahuan terakhirnya. 

“Permisi,” menyapa seseorang yang kebetulan melewati Azrael menggunakan bahasa Jepang.

“Ya?” orang itu kebingungan dengan sapaan Azrael, mungkin lebih tepatnya bingung dengan bahasa yang digunakannya.

“Apakah kamu tahu di mana kuil, tempat untuk aku berdoa?” menggunakan bahasa Jepang.

Orang itu kebingungan dengan bahasa yang digunakan oleh Azrael, “Anu … apakah kamu berasal dari pulau seberang?”

Entah kenapa meskipun aku tidak tahu bahasa apa ini, tapi aku dengan mudah paham dengan artinya.

“Ah maksudku, apakah kamu tahu di mana kuil, tempat untuk aku berdoa?” mengulangnya dengan bahasa yang digunakan orang tadi.

“Kuil ya. Kamu tinggal lurus saja dan di sana ada tangga menuju ke atas. Di sanalah tempatnya.”

“Terima kasih banyak,” membungkukkan badannya sedikit, seperti budaya Jepang bada umumnya.

Dengan melihatnya, orang tadi sedikit kebingungan dengan sikap Azrael. Karena memang benar, tempat itu bukanlah Jepang yang biasa Azrael kenal lagi.

Benar sepertinya, ini bukan Jepang. Tetapi akulturasi budayanya hampir mirip. Aku pun tidak merasakan lagi energi beberapa makhluk mistis yang seharusnya ada di sini.

Berjalan lurus ke depan menuju arah kuil. Sepanjang jalan hanya terlihat tenda-tenda untuk orang berdagang. Hal itu membuat Azrael berpikir lagi, ‘Apakah benar ini adalah Jepang yang ia kenal?’

Tak jauh setelah dirinya berjalan, ia melihat beberapa patung dewa yang biasa disembah sudah hancur sebab kerusakan yang disengaja. Tidak hanya itu, dia pun mendengar orang-orang yang terus mengeluh tentang Perang Dunia ke-4.

Perang Dunia ke-4?! Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan bumi?

Karena rasa penasarannya itu, Azrael mencoba untuk mendeteksi seluruh permukaan bumi dengan sihirnya. “Teknik Sihir: Detect.” Pada dasarnya, kekuatan malaikat miliknya sudah diambil oleh Tuhan. Tetapi dia menyimpan sisanya pada 49 pasang sayap yang berubah menjadi hitam itu.

Benar-benar situasi yang sangat buruk — itulah yang dipikirkan Azrael saat melihat kondisi bumi saat ini.

“Permisi paman,” dengan suara imutnya, seorang gadis kecil menepuk-nepuk punggung Azrael. Hawa kehadirannya benar-benar tidak terasa sama sekali.

Sentuhan itu membuat Azrael melepas sihir deteksinya, “Ya? Ada apa ya?”

“Apakah tuan ini seorang malaikat?” tanya seorang gadis dengan pakaian serba tertutup. Mata dan alisnya terlihat berwarna putih. Rambut yang sedikit terlihat pun berwarna putih.

Azrael terkejut saat ada yang mengetahui keberadaannya itu. Seharusnya tidak banyak yang bisa mengetahui identitas malaikat saat sedang di bumi. Kecuali penyihir tinggi juga Legendary Heroes, Alden dan Aghatha.

“K-kau siapa?”

“Ah maaf, perkenalkan diriku Mila.” Membuka penutup wajahnya.

Benar seperti ekspetasi Azrael, semuanya serba putih.

“Manusia?”

Gadis itu tersenyum tipis saat ada yang menanyakan rasnya, “Hihi, apakah aku terlihat seperti bukan manusia?”

Sebenarnya Azrael sedikit curiga dengan gadis itu. Bukan hanya karena penampilannya, namun juga aura yang dipancarkan sangat berbeda dengan yang lain. Dan juga tak terasa energi sihir sama sekali pada dirinya.

“Apakah kamu terkejut melihat diriku yang tidak memiliki sihir? Wajar saja sih, karena pada umumnya setiap manusia memiliki energi sihir meskipun hanya sebesar biji wijen.”

“Jadi ‘apa’ dirimu itu?”

“Kau mengganti pertanyaannya, hihi. Ini semakin lucu saja. Tak kusangka ada malaikat sebodoh ini. Tenang saja, aku ini benar-benar manusia. Hanya saja aku tidak memiliki energi sihir, mirip seperti ayahku.”

“Ayahmu?”

“Ya, ayahku, Rakha. Orang yang berhasil melawan satu dunia ini. Hebat kan?!”

Apa-apaan gadis kecil ini! Dunia ini?! Seorang manusia!? 

“Namun sayang sekali ayahku sedang tidak ada di sini. Omong-omong, paman sedang mencari seseorang?” melanjutkan perkataannya.

“Bagaimana kamu tahu nak?” Mengangkat Mila seperti seorang ayah yang menggendong anaknya.

“Aku bisa melihatnya … warna paman. Seperti seorang anak kecil yang tertinggal oleh ibunya.”

Aura?

“Paman ini malaikat kan? Tunjukkan sayapmu dong.”

“Tidak bisa nak, di sini sedang banyak orang. Mungkin lain kali saja.”

“Eeehhh ….”

Entah bagaimana dan kenapa, Azrael merasa mudah akrab dan dekat dengan Mila. Ada suatu perasaan yang terlupakan oleh memori Azrael tapi tubuhnya tetap mengingat itu.

“Ah iya bagaimana jika kamu membawaku kepada ayahmu saja. Paman ingin berkenalan dengannya.”

“Tidak bisa,” langsung dijawab dengan cepat. “Lokasi ayah tidak diketahui sama sekali, kecuali paman mau membantuku.”

“Baiklah, paman akan bantu sebisa mungkin.”

“Yosh! Ayo kita pergi!”

Mungkin aku tidak perlu buru-buru dengan tujuanku. Akan ku nikmati dulu momen bersama anak ini.

Mereka mulai dengan mengelilingi tempat tadi. Azrael tahu bahwa akan sulit untuk menemui Lucifer, tapi mungkin momen ini bisa ia nikmati dulu. Nostalgia sangat terasa pada perasaan dan pikirannya. Teringat dengan sosok istrinya.

“Paman?” Mila memanggilnya karena melihat Azrael diam bengong memandang langit. Mila mencoba untuk mendekati dan menanyakan sesuatu kepada Azrael, “Paman ini sebenarnya ingin melakukan apa jika sudah bertemu dengan orang itu?”

“Sebenarnya aku ingin menghancurkan konsep kematian pada semesta ini.”

Mila yang mendengarnya sedikit terkejut. Tetapi dia hanya tersenyum dan tertawa tipis untuk menanggapinya, “Haha, paman ini benar-benar malaikat yang bodoh dan lucu.”

“Begitu ya? Haha.”

Karena melihat Azrael yang murung, Mila mencoba untuk menghibur Azrael. Dirinya itu seperti melucu sebagaimana halnya tingkah anak kecil. Karenanya itu, Azrael tersenyum dan tertawa melihat kelakuan Mila.

“Kau ini benar-benar mengingatkanku pada seseorang, haha,” mengusap kepala Mila. “Terima kasih nak. Mungkin mulai sekarang aku akan mencari orang ini sendiri. Nak Mila kembalilah kepada ayahmu itu.” Membelikan sebuah permen kapas untuk Mila.

“Tidak paman, aku akan menemanimu. Lagian aku belum ingin bertemu ayahku.”

Karena terpaksa, Azrael merasa harus membawa Mila dalam perjalanannya. Dia harus tetap mencari Lucifer untuk mewujudkan impiannya. Dengan berpikir dirinya dengan Lucifer adalah sesama mantan malaikat, dia berharap akan dibantu olehnya. Tetapi Azrael belum tahu dengan kondisi semesta saat ini.

Perjalanan panjang sudah ditempuh oleh Azrael dan Mila, melewati pulau Cina. Menurut kabar yang ada, setelah Perang Dunia ke-3, Daratan Cina terpecah-pecah karena ledakan nuklir yang begitu besar hingga membelah benua. Informasi-informasi ini terasa sangat baru bagi Azrael. Bahkan dirinya bingung, ‘Kenapa manusia ingin sekali menghancurkan diri mereka sendiri’.

Dari informasi itu juga, Azrael mengetahui bahwa Malaikat Agung Maut yang baru, Yehudiel, biang keladi dari Perang Dunia ke-4. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang terlihat oleh Azrael hanyalah dunia tanpa Tuhan. Informasi ini sangatlah akurat dan terbukti kebenarannya. Setiap tempat yang dia lewati sudah tidak berbentuk dan jumlah penduduk yang dirasakan pun lebih sedikit dari biasanya.

“Paman Azrael, istirahat dulu. Mila lelah berjalan.”

Mereka memutuskan untuk berhenti dan istirahat sejenak. Sejujurnya daya hidup Azrael hanya tinggal 5 tahun lagi. Tidak banyak energi sihir yang bisa digunakan lagi. Hal itu sudah terasa pada setiap sel-sel tubuhnya, menjerit seperti kesakitan.

Azrael mengeluarkan secarcik surat dan sebuah foto Lucifer. Di surat itu juga terdapat sebuah alamat dan peta yang menunjukkan sebuah tempat.

“Paman Luci!” Mila menunjuk foto itu seolah-olah memanggilnya.

Azrael terkejut saat Mila berteriak, “Kau mengenalnya?”

“Iya! Paman Luci itu yang merawatku dan kakak-kakakku, jika Ayah pergi bekerja.”

“Apa kau tahu di mana dia sekarang?” memegangi bahu Mila.

“Mi-Mila tidak tahu, paman. Paman Luci tidak pernah datang lagi semenjak pergi bekerja bersama ayah.”

“Begitu ya … Kalau begitu kita sementara waktu istirahat dan tidur di sini ya.”

Mila tertidur lelap di atas tumpukan jerami yang sudah disiapkan. Azrael tetap terjaga karena takut akan ada orang yang menyerang dirinya dan Mila. Sambil melihat ke arah langit berbintang, dirinya teringat dengan sebuah momen yang membuat dirinya diasingkan Tuhan dan dipenjarakan.

~***~

Rambut yang berwarna perak terang dan sayap yang begitu gagah menerangi ruangan kerjanya. Kekuatan yang terasa sangat kental dan juga melimpah. Azrael sedang mengerjakan berkas-berkas yang perlu dibuat untuk dilaporkan kepada Agares, sang Tuhan.

Tepat di tengah kesibukannya itu, seorang malaikat bawahannya, malaikat maut, melaporkan sesuatu yang mengganjal pada pekerjaannya. Dia melaporkan bahwa manusia yang menjadi target selanjutnya sudah bisa melihat dirinya. Padahal itu masih berada pada tahap 365 hari sebelum hari kematiannya.

Seperti yang sudah diketahui dan dipercayai banyak orang beriman, setiap manusia dapat melihat malaikat maut tepat saat 40 hari sebelum kematiannya. Itu adalah peringatan dan kesempatan terakhir bagi manusia untuk memperbaiki dirinya. Aturan itu sudah berlaku sejak Adam dan Hawa turun ke bumi.

Namun untuk hal ini, muncul sebuah kasus khusus yang perlu ditangani oleh pimpinan malaikat maut saat itu, salah satu malaikat agung, Azrael. Seorang gadis berumur 24 tahun telah melihat malaikat maut pada 365 hari atau tepat 1 tahun sebelum kematiannya. Kejadian itu sangat langka bahkan bisa saja hanya akan terjadi setiap 10000 tahun sekali.

Dengan menggunakan avatarnya, Azrael turun ke bumi dan menemui gadis itu. “Hai nona, selamat pagi.” Sapaan pagi di sebuah ladang gandum yang begitu luas. Bahkan gesekan antara tanaman gandum yang disebabkan hembusan angin terdengar berirama dan begitu nyaman.

Jas rapi yang dikenakan Azrael seperti seorang bangsawan kelas tinggi nan gayanya yang sopan memberikan sebuah salam hormat. Saat Azrael mengangkat badannya dan memandangi gadis itu. Tubuhnya itu seketika membeku dan padangannya tidak bisa dialihkan ke yang lain. Sebuah kisah malaikat memiliki sebuah rasa kepada manusia untuk pertama kalinya.

Aneisha Clarabel, seorang putri pemilik ladang gandum di Uni Eropa, Jerman. Rambutnya yang berwarna cokelat, diberai tertiup angin menyatu dengan para gandum. Wangi dan hembusannya begitu terasa tenang saat dihirup. Wajahnya yang manis dan ceria membuat orang-orang di sekitarnya begitu senang hingga menular kepada yang lain. Sosok manusia yang hampir menyentuh kata sempurna.

“Iya? Selamat pa—gi?” dengan terkejut melihat seorang pria dengan pakaian sebegitu formalnya datang ke ladangnya. “Maaf, ada keperluan apa ya?” menundukkan kepalanya.

“Aahh, tidak perlu sesopan itu,” — Azrael berpikir adanya perbedaan kasta di sini yang menjadi pembatas antara bangsawan dan petani — “tenang saja, aku hanya ingin berjalan-jalan.”

“Aaa, maafkan saya. Silahkan lanjutkan jalan-jalan Anda.” Terus menerus menundukkan kepalanya.

Kesopanan dan sifat lembut merendah itu terlihat lucu bagi Azrael. Meskipun sudah berumur 24 tahun, kesannya seperti melihat anak kecil berumur 13 tahun yang sedang belajar tata krama.

Aku akan terus memerhatikan dirinya dari kejauhan saja — pikir Azrael.

Berdasarkan pengamatannya, gadis itu tidak memiliki energi sihir yang begitu besar, hanya seukuran manusia biasa. Bukan suatu alasan dirinya bisa melihat malaikat karena sihir. Azrael terus memperhatikannya. Pekerjaan yang ia lakukan sangat tertata dan konsisten. Sikap sopan dan riangnya saat menyapa orang yang melewatinya, benar-benar tidak menggambarkan umurnya.

Apa yang sebenarnya membuat dirinya bisa melihat malaikat ya? — menatap langit sembari tiduran di atas tanah berumput hijau.

“Ah, tuan yang tadi!” suara seorang gadis tepat di belakang Azrael.

“Hmm?” menengok ke arah belakang, melihat Aneisha ada di sana.

Mereka berdua saling bertatapan mata. Pupil berwarna emas milik Aneisha melihat tepat menuju mata Azrael yang berwarna biru laut. “Matamu cantik ya tuan,” Aneisha memberikan pujian kepada Azrael.

Untuk pertama kalinya Azrael memasang wajah malu karena pujian seorang manusia. Dia memalingkan wajahnya, “Oh, begitu ya.”

Dengan tawa kecilnya yang imut, Aneisha bertanya kepada Azrael, “Apakah kamu bukan seorang manusia?”

Tubuh Azrael dengan reflek langsung melihat Aneisha, dia berpikir kenapa Aneisha bisa mengetahuinya. Namun, hal itu langsung terjawab setelah melihat matanya. “Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan, ya?”

“Kau mengetahuinya?! Mata ini!” dengan penasarannya sampai sedikit mendorong Azrael. Tatapannya yang menyala itu menatap serius wajah Azrael.

“Y-ya, aku tahu.”

Tanpa disadari posisi Aneisha berada di atas Azrael. Wajah manis Aneisha terlihat jelas di balik bayangan yang menutupi sinar matahari di langit. Rambut cokelatnya itu mengelilingi wajah Azrael, hingga benar-benar yang ada dihadapannya hanya wajah Aneisha.

“A-anu ….”

Sial, martabatku menghilang! — menyadari diri sendiri kalau mengatakan ‘Anu …’ karena terbiasa dengan bahasa Jepang membuat dirinya seperti menjadi manusia biasa.

Aneisha yang terlambat menyadarinya langsung beranjak dari posisi tadi, “Aaa! Maafkan saya!”

“T-tidak apa-apa.” Mereka berdua merapikan pakaiannya yang sedikit acak-acakan. “Kau sangat penasaran dengan mata itu?”

“Iya. Entah bagaimana caranya aku bisa memiliki mata ini. Saat terbangun dari tidur yang ku lihat hanya bagian dunia yang tidak pernah ku lihat.”

“Karena memang itulah arti dari ‘Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan’, meminta sang pemiliknya untuk melihat seisi dunia.” Azrael menunjukkan mata yang sama kepada Aneisha. “Mata itu memilihmu karena kau memiliki keinginan yang sama dengannya.”

“Melihat seisi dunia ya … Aku kira itu hanya mimpi.” Keputusasaan terpampang pada raut mukanya.

Hanya karena melihat wajahnya, Azrael mengerti dengan perasaan Aneisha. Perasaan terkekang oleh sesuatu yang merenggut kebebasan miliknya. Dirinya itu hanya tersenyum dan berkata, “Maafkan ketidaksopananku, sebelumnya aku tidak sempat memperkenalkan diriku ya. Aku adalah Azrael, kamu bisa memanggilku Rael. Dan tepat seperti dugaanmu, Aku bukanlah manusia, tetapi seorang malaikat. Lebih tepatnya, malaikat maut.” Dengan pose tangan kanan pada dadanya yang penuh hormat.

“Ma-malaikat maut?”

“Benar sekali, malaikat maut. Untuk satu tahun ke depan ini, aku akan menjagamu hingga ajal yang sudah ditentukan menjemputmu, Aneisha Clarabel.”

~***~

“Pa-man … Paman bangun!” suara yang samar semakin jelas terdengar. “Paman malaikat bangun!”

Secara terkejut, Azrael terbangun dari tidurnya. Di sekelilingnya sudah terdapat banyak orang berpakaian serupa seperti orang kantoran. Mila sudah berada ditangkapan mereka. “Sepuluh orang ya — malaikat?”

Salah satu dari perwakilan mereka mendekati Azrael, “Kami malaikat Dimensi Atas datang untuk menangkapmu lagi. Perintah langsung dari pimpinan untuk menangkap tahanan melarikan diri, Azrael.”

Azrael hanya tersenyum dan mulai berdiri dari posisi duduknya. Mengeluarkan energi sihirnya, “Teknik Sihir: Death Touch.” Tangan kanan Azrael seperti mengeluarkan aura berwarna ungu gelap pekat, serasa tidak ingin menyentuhnya. “Hanya dengan ini, kalian semua bisa ku ratakan.”

“Semuanya bersiap!!!” perwakilan tadi memberikan aba-aba. Untuk sesaat, situasi menjadi hening dan tegang. Keduanya saling mempersiapkan kesiapannya untuk bertarung. “Tangkap dia!”

Semua malaikat tadi langsung menyerbu Azrael secara bersama-sama. Tetapi, “Menyerangku langsung ya? Tidak berguna. Teknik Sihir: Lubang Buaya.” Di saat mereka semua melompat ke arah Azrael, beberapa lubang terbentuk di bawah mereka. Dan lubang itu menarik mereka untuk masuk ke dalamnya.

Setelah mereka semua masuk ke lubang itu, datang seperti penutup yang di bawah permukaannya terdapat ujung pedang yang mampu membunuh malaikat. “Matilah kalian semua,” ucap Azrael.

Mila yang sedang dipegangi—mungkin ditawan oleh seorang malaikat tidak memasang wajah panik sama sekali. Dia hanya terdiam melihat Azrael sembari dipegangi oleh seorang malaikat.

Melihat itu membuat Azrael sedikit kesal terhadap perlakuan malaikat itu kepada Mila. Tanpa disadari, Azrael sudah berada di belakang malaikat itu. “Kau juga … susul lah teman-temanmu.” Azrael mengangkat malaikat itu dengan tangan kanannya. Tubuh malaikat itu langsung mengering dan energinya terserap ke dalam tubuh Azrael.

“Memang seharusnya seperti ini,” ucap Azrael. Matanya itu berubah menjadi hitam meskipun pupilnya tetap berwarna biru.

Kekuatan yang Mila rasakan pada Azrael, “Kekuatan paman terasa sangat sesak.”

Beberapa malaikat yang yang selamat dari lubang buaya tadi menampakkan dirinya dengan tubuh penuh luka tusukan. “Azrael, kau benar-benar pengkhianat Tuhan.” Mereka mulai mengeluarkan sayap-sayap malaikat mereka.

“Aku tetap tidak perlu menggunakan kekuatan untuk mengalahkan kalian,” gertakan Azrael dengan mengeluarkan aura energi sihir yang begitu melimpah. “Kenapa kalian tidak berhenti saja,” dengan senyuman lebar nan sadisnya.

Para malaikat pun bergetaran saat melihatnya. Namun karena itu adalah sebuah perintah, “Karena malaikat sepertimu — Azrael, kau baru saja memulai kehancuran pada dunia ini. Serang dia!” Para malaikat mengeluarkan sebuah lingkaran sihir pada punggung mereka. “Teknik Sihir Cahaya Gabungan: Heavenly Chain.” Dari lingkaran sihir itu muncullah semacam rantai cahaya yang mengikat Azrael.

Heavenly Chain?! Bagaimana para keroco ini bisa memanggil salah satu senjata surgawi — itulah yang ada dalam pikiran Azrael.

“Kami, para malaikat bawahan Yehudiel, mampu memanggil salah satu senjata surgawi jika dilakukan bersama. Nah, sekarang kau ikutlah dengan kami.”

Cih! Aku ka— ucapannya terpotong. Tiba-tiba saja datang seorang pria dengan rambut sepanjang bahu. Dia datang begitu saja tepat di tengah-tengah pertarungan. Sosok misterius itu membuat para malaikat terdiam tak berkutik saat melihatnya. 

“Akhirnya aku menemukanmu, Mila.” Pria itu menggunakan pakaian serba hitam, seperti baru saja melayat. Wajah misteriusnya itu terlihat saat angin mengibaskan poninya, meskipun hanya terlihat sebagian wajahnya saja.

“Ayah!”

Ayah? Jadi begitu ya … dia adalah ayahnya. Dia benar-benar terlihat sangat kuat.

Mila mendekati ayahnya dan meminta untuk menggendongnya. Mereka berdua terlihat sangat cocok seperti ayah dan anak. Hal itu membuat Azrael teringat sesuatu yang sudah dirinya lupakan.

“Kau pasti Azrael ya?” Pria itu mendekatinya dan juga mulai memperkenalkan dirinya, “Aku Rakha, ayah dari gadis ini. Kuucapkan terima kasih karena sudah menjaganya.” Dia juga melepaskan rantai-rantai cahaya yang mengekang Azrael hanya dengan menyentuhnya.

Kuat sekali ….

“Kau … manusia! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?!” salah satu dari malaikat itu berteriak kepada Rakha.

“Bagaimana? Oh, ya aku hanya tinggal menerjang mereka semua.” Yang dibicarakan oleh para malaikat itu adalah ribuan pasukan malaikat yang berniat menghadang Azrael jika berhasil melarikan diri lagi.

Para malaikat itu mulai geram dengan perkataan dan sikapnya, “Jangan sombong kau manusia! Teknik Sihir: Angel Feathers.” Mereka menembakkan bulu-bulu dari sayap mereka menuju Rakha. Tetapi dengan mudahnya, Rakha hanya perlu mengangkat satu jarinya untuk melenyapkan bulu-bulu itu.

“Kau berniat memberiku terapi akupuntur ya? Terima kasih, tapi tidak dulu deh. Lebih baik kalian yang di sini membantu malaikat-malaikat lain yang sedang terkapar di sana.” Rakha membukakan celah dimensi untuk mereka semua.

Para malaikat benar-benar sedang terpojok. Mereka terpaksa untuk mundur dan pergi menyelamatkan rekan-rekannya terlebih dulu. “Kami semua akan kembali lagi, Azrael, dan juga kau, Rakha!”

“Ok semuanya sudah selesai. Ayo kita pulang, Mila.”

“Tidak! Mila harus membantu paman ini. Dia sedang mencari seseorang.” Mila menatap serius mata sang Ayah. Tatapan yang membuat Rakha tidak bisa bereaksi apa-apa lagi.

“Baiklah terserah dengan apa yang kau lakukan, tetapi ayah tidak bisa menemani kalian. Karena ada yang harus kuselesaikan dulu.” Menurunkan Mila dari pangkuannya.

“Tidak apa-apa, kami berdua akan mencarinya bersama,” ucap Mila.

Rakha hanya bisa menghelakan nafasnya, “Baiklah tapi hati-hati ya. Kutitipkan lagi anakku padamu ya, Azrael. Kalau begitu aku pamit.” Membukakan celah dimensi untuk pergi ke sebuah tempat.

“Tunggu sebentar!” Azrael meenghentikan Rakha. “Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apakah kau tahu di mana Lucifer saat ini? Jika kau mengenal diriku seharusnya kau juga mengenali Lucifer kan?”

Tanpa membalikkan badannya, Rakha menjawab dengan datar, “Dia sedang dalam sebuah misi yang membutuhkan kekuatannya. Lebih baik kau cari saja orang yang sangat ingin kau temui itu, daripada memikirkan mimpimu yang kosong itu.” Rakha langsung pergi memasuki celah dimensi itu dan menghilang begitu saja.

“Mimpi … yang kosong.” Azrael mengulangi perkataan Rakha tadi.

Benar juga, yang kuinginkan itu bertemu dengannya. Bukan embel-embel menghilangkan kematian.

“Paman! Ayo kita lanjutkan perjalanannya.” Mila mengulurkan tangannya.

“Ya, ayo kita pergi.”

~***~

Azrael dan Mila pergi melanjutkan perjalanannya yang tidak tahu ke mana arahnya. Saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah pada pasir. Tanah Arab, tempat yang sangat gersang dan sangat sulit menemukan sumber air. Tetapi itu pada zaman dulu. Saat ini, Arab sudah dipenuhi dengan tumpukan salju yang sangat putih. Meskipun matahari terik tetap terasa pada ujung kepala, tumpukan salju ini tidak meleleh sama sekali.

“Ini adalah dampak dari perang dunia ketiga. Pusat dari medan magnet bumi terkadang berpindah-pindah, sehingga membuat kondisi iklim sangat tidak stabil,” penjelasan singkat dari Mila.

Hanya mendengar penjelasan itu, perasaan Azrael menjadi sangat tidak menentu. Ambisi dan keinginannya saling bertabrakan sehingga membuat perasaan Azrael sangat labil. “Dari dulu aku sangat benci untuk mencabut nyawa seseorang, tapi aku juga ingin bertemu kedua cintaku. Namun, dengan kekuatan seperti ini … aku hanya bisa melakukan salah satunya.”

Mila mendekati dan memegangi tangan Azrael, “Takdir akan selalu menuntun kita.”

Kalimat itu membuat Azrael mengingat sesuatu yang sangat lama waktunya. Itu adalah di saat-saat dirinya dan Aneisha mendapatkan kebahagian barunya. “Aku ingat.” Azrael langsung menggendong Mila, mengeluarkan sayap hitamnya dan terbang jauh menuju Jerman. Tempat di mana dia memulai dan mengakhiri semuanya.

Dengan kekuatannya itu, terbang dengan kecepatan Mach pun tidak membuat dirinya mengalami gesekan dengan udara. Dia membuat dinding sihir yang tebal di sekitar tubuhnya. Meskipun maksudnya mengurangi gesekan yang ada, sebenarnya tujuannya itu untuk menahan serangan-serangan udara di atas langit medan perang. Dari atas sana, Azrael melihat tanah-tanah yang seharusnya hijau menjadi hitam tandus tanpa kehidupan.

“Menyedihkan.”

Tak lama dari medan perang itu, mereka berdua akhirnya sampai di negara Jerman. Azrael berusaha mengingat-ingat tempat dirinya dengan Aneisha tinggal bersama. Tanpa menggunakan sihir yang ada, akhirnya sampai pada tempat tujuan.

Tempat itu, sudah sangat berubah. Keanggunan ladang gandum dan juga tawa ceria para penduduk menghilang tak terasa oleh Azrael. Mila pergi meninggalkan Azrael, “Eh, kau mau pergi ke mana?” Tampaknya Mila merasakan sesuatu yang membuatnya penasaran. Azrael hanya bisa mengikuti dan mengejarnya.

Padahal hanya tertinggal sedikit, Azrael kehilangan jejak Mila. Tak disadari, dirinya memasuki hutan yang begitu gelap. Ingatan muncul samar-samar sedikit demi sedikit saat berjalan di dalam hutan itu. “Mila, kau di mana?” Berteriak memanggil Mila yang tidak tahu di mana lokasinya.

Saat berjalan-jalan, dia melihat bayang-bayang ingatan lamanya. Dia bahkan mengingat tempat di mana dirinya memperkenalkan dirinya yang malaikat maut kepada Aneisha. “A-neisha?” Bayangan Aneisha muncul begitu saja di hadapan Azrael. Tetapi bayangan itu hanya tersenyum dan pergi menghilang lagi.

“Hei, kamu pergi ke mana Aneisha?!”

Azrael merasakan ada energi yang tidak wajar pada suatu tempat. Dia juga sesekali melihat bayangan Aneisha pergi ke arah yang sama ke tempat dia ingin pergi. “Tunggu sebentar!” Mila di dalam sebuah gubuk melihat Azrael sedang berlari ke arahnya. “Mi-la?” Terlihat gumpalan energi sihir yang begitu padat di dekat Mila. “Awas Mila!”

Duarr!!! Suara ledakan yang begitu besar, bahkan menggetarkan daratan. Sebuah bentuk ledakan seperti serangan nuklir yang berbentuk jamur menembus langit. Hempasan udaranya bahkan terasa hingga ribuan kilometer jauhnya. Lokasi sekitar dengan radius lima kilometer rata tak bersisa.

Di tengah-tengah pusat ledakan itu terlihat gumpalan bulu-bulu hitam yang sedang menutupi sesuatu di dalamnya. Setelah beberapa menit ledakan itu terjadi, bulu-bulu hitam itu menggugurkan dirinya. Mila yang berada di dalamnya sedang dipeluk oleh Azrael yang ternyata sedang membentangkan sayapnya.

Aku sudah tidak kuat lagi … Energi sihirku hanya akan mampu menahan daya hidupku selama satu hari lagi. — Tubuh Azrael mulai terdisintegrasi.

“Paman … tanganmu ….” Mila terbangun dari tubuhnya dan melihat lengan Azrael seperti tanah liat yang retak.

“Pa-Paman tidak apa-apa, bagaimana denganmu.” Menarik kembali sisa-sisa sayap yang masih menempel pada punggungnya.

“Berkat sayap paman, Mila tidak apa-apa.”

Azrael tersenyum, “Baguslah.”

Terdengar suara teriakan dari atas langit, “Akhirnya aku menemukanmu, AZRAEL!” Seperti sebuah roh yang terbang menghampiri Azrael.

“Azrael! Hancurkan roh itu, jangan biarkan dia memasuki dirimu!” Rakha yang mengejar roh itu berteriak kepada Azrael.

“Sudah terlambat!” Roh itu memasuki tubuh Azrael. Dan membuat Azrael berteriak kesakitan.

Sebuah celah dimensi terbuka di sebelah Mila, “Mila cepat masuk ke dalam sana!”

Sebuah ledakan kedua terjadi yang berasal dari tubuh Azrael. Rakha yang sedang terbang hanya terdiam, membiarkan ledakan itu mengenai dirinya. Bukan berarti dirinya tidak bisa melarikan diri, hanya saja ledakan itu bukan masalah besar baginya.

Ledakan kedua ini tidak sebesar yang pertama. Hanya saja daya kejut yang dihasilkan lebih besar dari yang pertama. Hal ini mungkin disebabkan karena energi yang digunakan berasal dari energi murni malaikat. Efek yang diterima pun hanya berpengaruh kepada orang yang memiliki energi sihir yang besar saja. Tidak berpengaruh untuk Rakha yang tidak memiliki energi sihir.

“Aku tidak bisa menutup daya ledaknya karena akan membuat Azrael dalam bahaya.”

Dia masih belum boleh mati.

Dari balik dalam ledakan itu, terlihat Azrael mengeluarkan sayap putih dan hitam secara bersamaan. Aura asing bercampur aduk dengan milik Azrael. Bentuk tubuhnya pun seperti chimera yang memiliki dua kepala. Dan untuk pertama kalinya, malaikat memiliki tanduk pada dahinya, seperti iblis.

Rakha yang berada di atas langit menggunakan tekniknya untuk menekan Azrael ke tanah. “Teknik Pikiran: Press.” Hanya dengan teriakan Azrael, teknik itu langsung dipentalkan. Kekuatan yang tiba-tiba meningkat itu membuat Rakha sedikit terkejut.

“Aku adalah Yehudiel, sang malaikat agung … aku akan menghapuskan kematian dari semesta ini.”

“Omong kosong.” Rakha tepat berada di belakang Azrael yang sedang dirasuki Yehudiel itu. Menempelkan jari telunjuk pada punggungnya, “Cepat keluar dari tubuhnya atau —”

“Atau apa? Aku tidak takut, karna energi ini hanyalah avatar sementara yang kugunakan. Tubuh asliku masih berada di Dimensi Atas. Lakukan saja yang ingin kau laku—” Sebelum ucapannya selesai, Rakha langsung menembakkan sebuah peluru hitam dari jari telunjuknya tepat pada jantung Azrael.

Peluru hitam, lebih tepatnya sebuah tetesan elemen kegelapan yang mampu menembus dan menelan apa pun yang disentuhnya. Lubang yang dihasilkan pada dada Azrael, membuat dirinya jatuh terkapar pada tanah. “Maaf saja … aku tidak senaif itu untuk berbelas kasih saat membunuh orang,” ucap Rakha.

Mila yang berada di celah dimensi langsung memunculkan dirinya di sebelah Azrael, “Hentikan ayah! Jangan bunuh paman ini!”

“Menyingkir nak, biar ayah musnahkan dirinya bersama dengan iblis yang mengaku sebagai malaikat itu.” Tangan kanan Rakha sudah dipenuhi fluida cair berelemen gelap.

“Biarkan paman ini menyelesaikan urusannya sendiri,” sorot mata serius itu membuat Rakha mengingat sesuatu yang sangat ingin ia lupakan.

“Baiklah, jika ada apa-apa. Ayah akan langsung membunuhnya.” Rakha berjalan mendekati tubuh Azrael dan menempelkan semacam kutukan pada dadanya. “Lakukan yang Mila inginkan, ayah akan menonton saja.”

“Kita tidak perlu melakukan apa pun,” gumam Mila.

~***~

Di dalam alam bawah sadar yang penuh kegelapan. Kesepian, penderitaan, dan rasa sakit akan kehilangan, semua itu terkandung dalam kegelapan alam bawah sadar ini. Batas alam yang tak berujung sama sekali. Hukum dimensi waktu dan ruang tidak berlaku di dalam alam ini.

Azrael dengan penampilan malaikat bersayap hitam berjalan ke depan tanpa tahu arah yang ditujunya. Bukan hanya sayapnya, tetapi rambut, pakaian, mata bahkan aura yang dikeluarkan pun berwarna hitam gelap. Lelah berjalan, Azrael berdiam diri, duduk termenung menghadap ke bawah. Dia melihat pantulan akan penampilan dirinya.

“I-Ini … aku?” Melihat cerminan dirinya yang sangat jauh dari kata ‘malaikat’.

“Ya, itu dirimu,” ucap seorang yang bercahaya sangat terang, tetapi cahayanya tidak dapat memancar keluar karena terhalang kegelapan.

Azrael melihat ke arah orang bercahaya itu, “Siapa kamu?”

“Aku, Yehudiel, hanya seorang malaikat maut biasa.” Yehudiel berjalan mendekati Azrael, “Menjadi malaikat maut itu sangat menyebalkan. Kita harus mencabut banyak nyawa, baik itu orang yang dermawan, kaya raya, miskin, bahkan orang yang kita cintai,” — Yehudiel mencoba untuk memancing emosi Azrael — “dengan menghilangkan konsep kematian kita bisa terbebas dari penderitaan ini. Dan juga … kita bisa bertemu lagi dengan orang yang telah tiada.” Yehudiel mengulurkan tangannya kepada Azrael.

Azrael ingin sekali menggapai tangannya, tetapi sebelum itu terjadi muncul seorang wanita dengan jubah putih, mata biru seperti milik seorang malaikat, pedang suci yang energinya sangat terasa, dan juga energi sihirnya yang terasa seperti milik Aneisha. “Hentikan di sana, Yehudiel.” Wanita itu mengarahkan pedangnya ke arah Yehudiel.

“Tak kusangka kau bisa masuk ke dalam sini.”

“Dasar malaikat bajingan.” Wanita itu langsung menghunuskan pedangnya pada kepala Yehudiel.

“Pedang biasa ini—oh, begitu ya … Pedang Suci Terkutuk, tak kusangka manusia bisa menggunakannya.” Yehudiel merasakan getaran energi yang mampu menghancurkan setiap sel energi sihirnya.

Pedang Suci Terkutuk, pedang legendaris yang biasa digunakan para malaikat namun telah diinfus dengan energi sihir kutukan ke dalamnya. Kekuatan di dalamnya menjadi sangat tidak jelas dan sulit dikendalikan. Pedang ini biasanya digunakan oleh beberapa malaikat agung dan juga petinggi dewan Dimensi Bawah.

“Untuk rencana ini akan ku anggap kalian memenangkannya, tetapi tidak untuk lain waktu. Sampai Jumpa.” Yehudiel pergi dari alam tersebut sebelum seluruh rohnya dilahap oleh pedang tersebut.

“Akhirnya aku tepat waktu, ayah.”

“A-ayah?”

Wanita itu tersenyum manis dan mengikis segala kegelapan, “Hai, ayah.”

Senyuman itu mengembalikan semua ingat Azrael yang sudah menghilang karena terkoyak oleh keinginan balas dendamnya, “Anakku.”

~***~

Teknik Pikiran: Kutukan Selaput Kegelapan—Rakha memberikan kutukan pada dada Azrael. “Lakukan yang Mila inginkan, ayah akan menonton saja.”

Saat Rakha berjalan menjauhi tubuh Azrael, datang seseorang berjubah putih dengan pedang sudah berada posisi untuk menghunus seseorang. Orang itu langsung menusuk kutukan Rakha pada dada Azrael yang sedang terkapar. Saat ujung pedang itu menembus tubuh dan menyentuh tanah, semuanya terasa sangat hening. Hanya Rakha yang sedikit terkejut di sana, sedangkan Mila seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

“Sudah saatnya … Ayah!” Mila memanggil ayahnya. Keluarlah roh Yehudiel dari dalam tubuh Azrael, “Ayah hancurkan roh itu!” Dengan mudahnya, Rakha hanya menembakkan peluru hitamnya lagi pada roh itu. Setelah mengenainya, roh Raphael terpecah-pecah menjadi abu dan tertiup angin.

Aku akan kembali lagi dan pastinya dengan wujud juga kekuatan sejatiku,” ucap Yehudiel samar-samar terdengar oleh Rakha.

Pedang yang tertancap pada dada Azrael tiba-tiba menghilang begitu saja. Dan tubuh Azrael sendiri seperti kembali pada wujud malaikatnya dengan sayap putih serta pakaian formal malaikat agung. “Jadi begitu ya, kau adalah anakku.” Datang menghampiri orang berjubah putih itu. “Maafkan aku, karena sudah melupakanmu. Aku terlalu terlena dengan ambisi kosongku.” Membuka poni yang menghalangi wajahnya, “Kau terlihat mirip sekali dengan ibumu.” Memeluknya dengan begitu erat dan memberikan kecupan pada keningnya.

“Rakha,” memanggil dan menghampiri Rakha. “Benar seperti yang kau katakan, ‘dunia tanpa kematian’, hal omong kosong itu akan sulit untuk kami, para malaikat juga roh-roh tinggi, pahami.” Rakha hanya melihat Azrael tanpa memberikan respon apa pun, bahkan sama sekali tidak berkedip. Tetapi Rakha tetap memberikan senyuman dan juga mengulurkan tangannya.

Kematian adalah seni yang kita tuangkan pada kanvas yang bernama kehidupan. Itu adalah hasil terakhir dari kehidupan kita. Semuanya tergantung pada warna yang kita tuang selama hidup. Kematian itu seni manusia yang paling indah.

Untuk sesaat Azrael terdiam melihat tangan Rakha lalu menanggapinya dengan tawa, “Haha, kau lucu sekali. Tapi bukan ide yang buruk.” Azrael menggapai genggaman Rakha. Keduanya hanya saling memberikan senyuman yang menandakan terlahirnya dan juga berpisahnya sepasang teman.

“Hai, nak Mila.”

“Paman.” Mila mendekap Azrael dengan begitu erat, bahkan pakaiannya terlihat semakin kusut. “Warna paman menjadi lebih cerah dan lebih ringan.”

“Seperti itu ya? Syukurlah.” Mengelus-elus kepala Mila, sedangkan anaknya sendiri tidak melihat dirinya sama sekali. “Energi kehidupanku sepertinya tersisa beberapa detik lagi, aku tak bisa berlama lagi di sini.” Sebelum dirinya benar-benar sirna, Rakha mengambil sesuatu dari lengan Azrael. “Kutitipkan harapan terakhirku padamu, Rakha.”

“Terima kasih, semuanya.”

Jaga dirimu baik-baik, anakku. Keinginan dan janjiku sudah terpenuhi.

~***~

“Hei Rael, sisa hidupku tinggal 9 bulan lagi kan? Aku ingin sekali memiliki anak. Tetapi aku tidak ingin meninggalkan suamiku berduaan dengan anakku. Hanya saja, aku bisa saja membiarkan anakku bersama denganmu,” ucap Aneisha di depan api unggun.

“Bukankah kamu ingin mengelilingi dunia dan melihat segala isinya?”

“Maksudku, akan menyenangkan jika memiliki anak sebelum kematianku datang.”

“Tetapi bagaimana dengan nasibnya nanti, dia pasti akan hidup tanpa seorang ibu.”

Aneisha hanya melemparkan tanggung jawab itu kepada Azrael, “Kau pasti bisa menanganinya.”

Tak lama dari perbincangan itu, Azrael memutuskan untuk menerima permintaan Aneisha. Pada dasarnya, malaikat dan manusia tidak dapat berhubungan tubuh. Namun dengan kekuatan tertentu, Azrael mampu membuat Aneisha mengandung seorang anak. Dia menggunakan energi sihir murninya untuk membentuk sebuah janin pada rahim Aneisha.

“Aku berjanji akan membuatmu melihat keturunanmu, sebelum aku mengangkat nyawamu,” ucap Azrael. Tetapi, kalimat itu tidak direspon sama sekali oleh Aneisha.

Azrael menyesal melakukan itu semua. Dia tak sadar bahwa dirinya sudah melihat aura berwarna putih pekat pada tubuh Aneisha. Untuk memastikannya, ia kembali ke Dimensi Atas untuk mengecek sisa umur yang sebenarnya dari seorang Aneisha Clarabel. Dan ternyata ia melihat sebuah manipulasi data yang dibuat secara sengaja oleh seseorang.

Umur dari Aneisha Clarabel hanya tinggal tersisa empat hari lagi dan kandungannya baru saja menginjak umur 6 bulan. Masih ada waktu tiga bulan, agar janin di dalam rahimnya membentuk bayi sempurna. Azrael tidak ingin mengambil nyawanya itu sebelum Aneisha melihat sang buah hatinya terlahir. Ia menggunakan kekuatannya untuk melindungi Aneisha dari para malaikat yang ingin mengambil nyawa Aneisha. Agar tak terlihat oleh Aneisha, setiap pertarungan dilakukan di dalam dimensi buatan miliknya.

Tak terasa, tiga bulan sudah berlalu. Hari di mana Aneisha melaksanakan persalinan, akhirnya tiba. Suara rintihan kesakitan terdengar dari dalam rumah di tengah hutan. Azrael memanggil beberapa rekannya yang paham mengenai persalinan. Butuh banyak usaha agar Aneisha melahirkan anaknya itu. Tangan Azrael digenggam erat oleh Aneisha. Keringat yang dihasilkan Aneisha yang sedang berusaha dan juga Azrael yang khawatir dengan kondisinya terus menetes ke bawah.

Semuanya begitu tegang … hingga suara tangisan bayi terdengar di seluruh isi rumah, bahkan para penghuni hutan pun mendengarnya.

Azrael mencoba untuk menggendong bayi itu, “Kau berhasil Aneisha, bayi mu lahir dengan wajah yang mirip sepertimu —” ucapan dengan nada bahagia itu terhenti setelah melihat kondisi Aneisha.

Napas Aneisha semakin tidak teratur, dia juga tidak dapat melihat apa pun. Semuanya menjadi gelap begitu saja. Bahkan dengan usaha lebih pun, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Tentu saja, Azrael tidak tinggal diam. Dia ingin Aneisha melihat bayinya sebelum ia mencabut nyawanya. Dengan segala bentuk energi sihir ia keluarkan, namun kondisi sakaratul maut Aneisha tak kunjung menghilang.

Aneisha meminta telinga Azrael untuk didekatkan kepada mulutnya. Lalu ia membisikkan sesuatu padanya. Ditengah bisikkan itu, Sabit Surgawi, Heavenly Scythe, sabit yang dimiliki Azrael, terbang begitu saja ke tubuh Aneisha dan menarik rohnya dengan begitu lembut. Tanpa rasa sakit, Aneisha pergi meninggalkan sang buah hati yang baru saja terlahir. Ia meninggalkan senyuman yang begitu tenang terhanyut pada wajahnya.

Tidak ada penyesalan pada kehidupanku”, itulah yang tersirat pada wajah Aneisha.

“Aneisha?” Azrael dengan wajah shoknya menembakkan energi sihirnya ke langit. Karena tembakan itu, ia dibawa oleh beberapa malaikat agung yang turun dari Dimensi Atas. Lengan, kaki, badan, sayap, bahkan lehernya terikat rantai cahaya. 

Aku telah gagal menepati janjiku.

Di sebuah aula yang begitu megah, disaksikan oleh para roh, petinggi alam semesta, dan juga oleh sang Tuhan, Agares. Azrael diadili oleh sang hakim semesta, Adjudicator. Dengan timbangan miliknya, ia memungut suara para roh lainnya mengenai hukuman yang harus diterima oleh Azrael. Dan hasilnya adalah nihil, dengan artian seimbang. Maka dari itu, Adjudicator melemparkan keputusannya langsung kepada sang Tuhan.

“Azrael,” — Agares turun ke bawah, menghampiri Azrael dan memberikan tekanan sihir yang berat — “karena memberontak dari tugas utama malaikat maut, turun ke bumi dengan wujud asli, bahkan menembakkan energi sihir ke Dimensi Atas. Dengan begini, saya, Agares, mewakili dari ketiga roh pencipta, menjatuhkan hukuman penjara selamanya dan juga pencabutan hak beserta kewajibannya sebagai malaikat agung.”

Seisi aula terkejut dengan keputusan Agares, karena pada dasarnya hukuman mati adalah hukuman untuk para pemberontak. Tetapi untuk satu ini, dirinya hanya memberikan hukuman pencabutan kekuatan dan juga hukuman penjara selamanya. Sontak hal itu membuat seisi aula protes dengan keputusannya. Tetapi Agares langsung mengobarkan kekuatannya di sana.

“Siapa pun yang menolak keputusanku, turunlah kemari.” Karena tidak ada yang berani untuk turun, dia menghilangkan kobaran kekuatannya dan mulai pergi meninggalkan ruangan. “Azrael, aku memberikan kamu satu kesempatan terakhir. Jangan sia-siakan dan tunggu saja momentumnya,” bisik Agares kepada Azrael.

Selesailah pengadilan.

Azrael dimasukkan ke dalam penjara Dimensi Atas. Dia terus menerus mengingat janjinya dan tetap terus ingin menepatinya. Dengan rencana melarikan diri, dia akan mengambil roh Aneisha dan mempertemukannya dengan sang anak. Untuk melakukan rencana itu, ia harus menonaktifkan atau menghapus konsep kematian.

Anak? Anak siapa?

Karena beban pikiran yang terlalu berat. Ia mulai melupakan tujuan utamanya dan hanya berfokus dengan menghapuskan kematian. Perubahan yang sangat besar terjadi pada Azrael, hingga saat itu muncul. Ia terbebas dari penjara dan turun ke bumi. Dan seluruh kejadian itu terjadi begitu saja. Ia bertemu dengan sang anak. 

Bisikan Aneisha sebelum dirinya wafat, ternyata teknik untuk menempelkan sisa energi sihirnya kepada Azrael. Energi itu akan aktif jika Azrael bertemu dengan sang anak. Dalam alam bawah sadar Azrael, energi Aneisha bertemu dengan sang anak. Dirinya melihat wajah sang anak dan mengucapkan, “Kau benar Azrael, dia sangat mirip denganku. Dengan begini aku sepenuhnya telah tenang untuk pergi.” Aneisha terbang mendekati, menyentuh wajah, dan mencium Azrael, “Terima kasih telah menepati janjimu.” Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan milik Aneisha terlihat begitu dekat oleh Azrael.

“Dan kau juga nak ….”

“Namaku Aloysia Rosafie … ibu,” wanita berjubah putih ini mengepal erat kedua tangannya, menatap wajah ibundanya.

“Maafkan ibu, tidak memberimu nama. Ibu senang bertemu denganmu, keinginan untuk melihatmu sudah tercapai. Pasti hidupmu dipenuhi rintangan ya. Tapi kamu pasti sudah bisa melewati semuanya ya. Jujur saja, ibu ingin sekali hidup bersama dengan kalian semua.” Mengecup kening Aloysia dan langsung menghilang begitu saja.

Ibu sayang kalian berdua,” kalimat terakhir yang menggema dalam pikiran.

“Ayah juga sepertinya akan menyusul ibumu. Energi kehidupan ayah sudah tidak tersisa lagi. Maafkan ayah, untuk semuanya.” Azrael hilang begitu saja ditelan alam bawah sadarnya sendiri.

Selamat tinggal, ayah … ibu.

⎡ Aloysia mendapatkan Mata Suci Tujuh Penjuru Lautan ⎦


Penulis: Garpit