beauty and the immortal beast.



“Apa itu manusia?” 

Seseorang. 

Tolong beri tahu aku. 

Definisi dari entitas yang mengerikan 

di bawah nama ‘manusia’ 

dan segala kuasa 

di bawah telapak tangan mereka 

yang penuh dengan darah. 

“Apakah … aku juga … manusia?”


“Jika kau terus memakan sesuatu yang terlihat busuk seperti itu, kau akan mati muda, kautahu?” ucap seseorang yang untuk kesekian kalinya kulupakan namanya. Lebih tepatnya, berusaha kulupakan. Tidaklah baik menyimpan hal yang tidak terlalu krusial di dalam memori otak yang sudah kusam dan suram ini. 

Mengedikkan bahu, aku kembali memasukkan tanganku ke dalam bungkus makanan yang entah kapan kubeli. Selama tidak membunuh, sesuatu adalah makanan. Prinsipku tidak akan dipatahkan oleh seseorang yang dalam beberapa detik lagi terlihat akan berteriak― 

“ERINA!” Aku mendengus dan memutuskan untuk angkat suara. “Oh, diamlah kau … ah, er … um …?” 

Sial, mengapa ia terlihat setengah ingin menangis sekarang? “Anne! Aku Anne Justitia! Kurang ajar! Berani-beraninya kau melupakan namaku! Kau bahkan tidak ingat nama belakangku?! Kau sangat jahat! Erina, kau jahat, jahat, jahat! Dasar menyebalkan!” rengeknya sambil menarik-narik luaran bajuku di bagian lengan. 

“Justitia, kalau rajukanmu sampai menjatuhkan makananmu, aku akan benar-benar membunuhmu.” Perlahan, goyangan yang kurasakan di bagian kanan tubuhku melambat dan berhenti sepenuhnya. Meskipun terlintas sedikit ketakutan dalam dua iris berwarna biru laut itu, namun rasa kesal masih terpancar dari bagaimana ia sedikit memajukan bibirnya karena kekalahan dan ketidakpuasan kecilnya. 

Aku memutar mataku dan mulai mengambil langkah, pergi dari pojok salah satu jalan di kota ini. “Aku tidak akan menunggumu, lho.” Kembali lagi kudengar jeritan kecilnya yang berlebihan itu, aku yakin kaki-kaki yang pendek itu sedang mengejarku sekarang. 

Namaku Erina. Erina Millen. Dengar, aku tahu namaku terdengar sangat datar, hambar, tidak menarik, katakan saja apa maumu. Gadis menyebalkan yang sekarang ini sudah nyaris menyamai langkahku―tentunya dengan terengah-engah―dan berisik sedari tadi bernama Roseanne Antoinette Justitia (hal sialan kedua, aku sejatinya masih ingat). Harus kuakui, itu adalah satu nama yang lumayan … menghabiskan waktu untuk diucapkan. Tidak buruk, namun tetap saja merepotkan. 

Tentu saja. Dia bukanlah orang yang berada di kasta yang sama denganku, bukankah dari perbedaan nama kami saja terdengar? Jika kau berpikir dia adalah putri atau semacamnya, mungkin saja memang begitu. Aku tidak terlalu peduli dengan sebagai siapa dia ketika dia sedang ada di seberang sana, yang pasti setiap ia berkunjung ke sini, ia selalu menggangguku, 

“Erina, aku akan membelikanmu makanan yang enak, jadi berhentilah memakan sampah itu! Aku khawatir, tahu!” 

“Diamlah. Ini bukan sampah. Lagi pula, aku tidak membutuhkan bantuanmu.” 

“Kau sungguh keras kepala! Aku tidak bermaksud begitu!”

Kota ini memiliki banyak belokan jalan. Ah, aku menyebut ‘kota ini’ sejak tadi. Daerah yang penuh dengan rongsokan ini bernama …. aku lupa. Dimulai dengan huruf … H. Hymeath. Sesuatu semacam itu, kurasa. Setiap orang yang tinggal di sini tahu bahwa arti dari Hymeath adalah ‘yang tidak diakui’. Perspektifku sendiri mengatakan bahwa filosofi itu tidaklah salah. Seberapa keras pun orang-orang di sini menyangkal, mereka tidak bisa memungkiri bahwa kami―aku tidak terkecuali―adalah bagian dari bangsa yang tidak jelas asal-usulnya. 

Sebagian orang mengatakan bahwa salah satu leluhur kami adalah keturunan dari petinggi Kerajaan Zwede, mungkin saja salah hasil dari salah satu wanita simpanan orang dalam Zwede. Lagipula, mereka bajingan dan orang-orang yang ada di sini pun tidak jauh lebih baik, aku bisa melihat pola dan kemiripannya jika ternyata cerita itu sungguhan. Sebagian yang lain masih bersikeras bahwa tidak mungkin itu benar, sebab leluhur kami (paling tidak, sebagaimana yang mereka percayai) adalah orang-orang yang pelarian dari negara Deinusia sebelum bangsa asli di sana berubah menjadi sesuatu yang … lain. Lagi-lagi, jikalau itu benar, aku pun tidak akan terlalu terkejut, toh, memang sangat banyak pengecut yang tidak berani melakukan apapun selain lari dan kabur dari sesuatu yang mereka awali. 

Apakah aku terdengar sangat sinis? Bukan salahku. Cobalah hidup di sini kurang dari satu minggu dan tebas leherku kalau deskripsi yang pertama kali muncul di kepalamu bukan tentang bagaimana penduduk di sini adalah serendah-rendahnya manusia yang bisa hidup di jagat raya, entah bagaimana caranya. Aku sekali-kali berpikir bahwa dengan ketidakbergunaan mereka, seharusnya lebih dari setengah penduduk Hymeath seharusnya mati ketika sedang keluar-masuk perbatasan kota. Dengan penampilan seperti residivis dalam pengejaran, tidak aneh jika sistem keamanan kota lain menembak mereka dari jarak jauh dengan dugaan terorisme. Ada kalanya otak kriminal sekaligus kebodohan mereka menyelamatkan nyawa pemilik tubuh masing-masing. 

Perempuan itu masih saja mengoceh. Aku terus berjalan sambil membuang bungkus makanan ke pinggir jalan, mengundang decakan kesal darinya. Dasar payah. “… hm.” 


Mereka yang duduk manis di taman kerajaan, 

mereka yang meminum teh setiap pukul tiga sore, 

mereka yang menabrakkan gelas kaca penuh anggurnya, 

mereka semua 

tidak lebih 

dari kekosongan 

yang dilapisi emas belaka. 

“Erina, menurutku, mereka payah. Ya, orang-orang di pusat Eindernesia itu.” 

“Mereka memiliki semua itu tanpa bekerja keras, bukankah itu tidak adil?” 

“Karenanya, jangan sampai menjadi manusia seperti mereka, apa kau mengerti?” 


“E-Erina …”

Aku memanggilnya, namun ia tidak berhenti melangkah. Aku tahu, ia memang sering merasa kesal dengan keberadaanku, namun ia tidak pernah benar-benar mengabaikanku, jika tidak ada apa-apa. Terutama, tidak dengan sorot mata yang menggelap tadi. Kami hanya berjalan, menyusuri salah satu jalan di Hymeath, tanpa gangguan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun ia membuatku takut. 

Tanpa berpikir panjang, aku menarik bahunya dengan sedikit kencang agar ia menoleh ke arahku. “ERINA! Erina, sadarlah! Ini aku, Anne! Jawab aku!” 

Aku siap dengan segala caci maki yang biasa ia keluarkan, asalkan kesadarannya kembali. Aku menatapnya lekat-lekat untuk satu sekon saja. 

“ … ah.” Erina menutup matanya, ia tidak menolak sentuhan yang kuberikan. Napasku masih memburu, aku―“…” 

“Anne? Hei, ada apa denganmu?” ―aku sangat takut. Ia meraih tanganku yang tadinya ada di atas bahunya, meski tidak hangat karena terhalangi oleh sarung tangan kainnya yang tebal, namun aku bisa merasakan ia sedikit mengeratkan rengkuhan tangannya pada tanganku. Ia bahkan memanggil nama panggilanku, sesuatu yang hanya ia lakukan ketika ia tidak bisa mengendalikan sikap dingin yang selalu ia pasang ke semua orang. 

Aku tidak bisa menghentikan air mataku. Sungguh menyebalkan. Situasi ini, mengesalkan. Ia memang bukan orang yang pandai dalam menyampaikan perasaannya. Sebut aku sok tahu, namun aku yakin ia adalah orang yang sangat baik. Aku tahu di saat ia benar baik-baik saja atau berpura-pura. Aku tidak bisa membayangkan jika melihatnya kesakitan lagi seperti hari itu. 

Hari itu adalah hari pertama kali aku bertemu dengannya. Hari di mana aku merasa bahwa aku menemukan seseorang yang berarti sama seperti hidupku sendiri. 


Di bawah langit mentari senja, 

Anne baru menyadari bahwa ia berlari terlalu jauh dari Valorea. 

Sendunya bunyi derik jangkrik yang mulai terdengar, 

gadis itu memeluk dirinya sendiri tanpa menghentikan perjalanannya. 

Jalan setapak ini terasa sangat gersang, 

berlainan dengan rumput segar dengan bunga di sekitar yang ia lewati tiap hari. 

Namun, hatinya tidak membiarkan ia berhenti. 

Tanpa sadar, ia sudah memasuki hutan yang ada di perbatasan kota. 

“Bukankah ini … berbahaya?” Anne menelan ludahnya dengan kasar. “Aku …”


Entah di mana ia berada sekarang. Satu-satunya hal yang dapat ia tangkap adalah di luar Valorea, terdapat hutan yang penuh dengan pepohonan rindang. Jujur saja, Anne tidak merasa sesak, sebab kini ia sedang berada di jalanan mendatar yang tidak terlalu buruk. Tanda tanya memang menghiasi kepalanya, pertanyaan seperti mengapa jalan seperti yang sedang ia lewati harus disiapkan di dalam hutan yang agak dalam seperti ini tentu saja langsung ada di pikirannya. Apakah ada suatu rute yang memang disiapkan dan akan mengantarkannya ke suatu tempat? 

Hal yang aneh bukan hanya jalan ini saja. Sebelum membahasnya, akan lebih baik untuk melakukan kilas balik kecil akan apa yang Anne sedang lakukan sebelumnya. Sore itu, ia sedang menikmati pemandangan Valorea di kala petang. Di samping memiliki kecanggihan yang tidak terbatas, ibu kota negara Eindernesia yang kini ada dalam perjalanan menuju puncak kejayaannya itu masih melindungi berbagai komponen alamiah yang mereka miliki. Bunga-bunga yang tumbuh mengelilingi kota termasuk ke dalamnya. 

Setelah merasa cukup, tentu saja ia pun berpikir untuk langsung pulang ke rumah. Anne adalah salah satu putri dari salah satu bangsawan penasihat Raja yang saat itu memimpin Eindernesia, tidak lain dan tidak bukan, ada peraturan yang perlu diikuti seperti jam malam yang menjadi batasan waktunya dalam berkeliling kota. Penduduk Valorea merupakan manusia-manusia yang memiliki akal budi dan hati nurani yang lebih baik dari siapapun di Eindernesia, namun hal itu tidak menjadi jaminan bahwa Anne akan selamanya baik-baik saja jika selalu ada di luar pengawasan para penjaga. Ia juga perlu melindungi dirinya sendiri dari kecelakaan atau hal tidak beruntung lainnya yang masih bisa terjadi. 

Hamparan bunga yang ada di pojok jalan itu … menariknya untuk pergi lebih jauh lagi. Bunga-bunga yang tumbuh memenuhi petak demi petak itu terlihat sangat indah dengan wanginya yang membuat Anne menjadi seperti sebuah lebah. Terdapat satu jalan di mana hamparan-hamparan itu terus berlanjut. Anne pikir, di akhir jalan, di suatu tempat, akan ada taman yang lebih besar dan cantik, lebih dari semua ini. Karenanya, ia berlari. Dirinya yang inosen berpikir bahwa makin cepat ia berlari, makin cepat ia akan sampai di tempat tujuannya itu. 

Ia tidak pernah berpikir bahwa setelah ia terbawa jauh, hamparan-hamparan bunga itu bahkan sudah tidak ada lagi. Berganti dengan sebuah jalan dengan sisi-sisi yang kosong melompong dan mengarah ke hutan―ke tempat yang sama sekali belum pernah ia dengar atau lihat sebelumnya. ‘Hal aneh’ yang sempat dibahas sebelum ini dimulai dari sini. Hutan yang berperan sebagai perbatasan kota dan sebuah jalan untuk masuk ke dalamnya mungkin tidaklah seganjil itu, tetapi … deretan tiang dengan lampu yang ada di masing-masing ujungnya? Di sepanjang jalan ini? Untuk apa gerangan? 

Anne memiliki opsi untuk memutarbalikkan badannya dan pergi pulang sekarang juga. Sayangnya, tidak seperti jalan ke dalam hutan yang dihiasi dengan lampu-lampu itu, jalan untuk kembali ke Valorea …. sangatlah gelap. Ia tidak tahu … apakah hanya ada orang kota saja di sepanjang jalan kembali. Bila sampai terjadi sesuatu, ia tidak akan bisa melihat apapun. Pada akhirnya, Anne akan tetap mempercayai satu hal. 

Tidak mungkin lampu-lampu ini disediakan tanpa ada gunanya. Mungkin, intuisinya sejak awal memang benar. Benar, memang bukan ladang luas berbunga yang ia dapatkan, namun ia tidak salah mengenai adanya suatu tempat di ujung jalan, bukan? Menyusuri jalan ini hingga akhir bisa saja akan membawanya pada jawaban semua keanehan ini.

Takdir. Semua ini jelas terjadi karena takdir

Anne menganggukan kepalanya sebagai validasi pada diri sendiri. Dengan sedikit berdesis dan menyiapkan hati yang kini berdegup kencang, ia merengkuh tubuhnya sendiri dan melangkah, masuk ke dalam dunia asing yang tidak ia ketahui. Belum ada yang mengejutkan atau menyeramkan untuk beberapa saat. Anne sangat positif untuk mendapatkan hasil yang baik dari perjalanan tiba-tiba ini. Apakah sebenarnya ada kota lain di sisi kiri Valorea? Selama ini, ia selalu mengira bahwa daerah ini tidak terisi oleh penduduk atau kehidupan yang berarti. Apakah akan ada jawaban lain? 

Tenggelam dalam imajinasi liarnya, Anne tidak mendengar derap langkah kaki yang dengan cepat seperti akan datang ke arahnya. Menyadari bebunyian yang keluar dari arah kanan, Anne baru saja ingin menoleh, sebelum sebuah siluet berwarna ungu―rambut seseorang?―menarik pinggangnya dalam satu gerakan, seperti mengangkatnya di udara dengan satu lengan dan membawanya sangat dekat bersamanya. 

Jantung Anne berhenti berdetak untuk beberapa detik, dengan tangannya yang sudah tidak lagi cukup stabil untuk tidak gemetar hebat berusaha untuk menyentuh punggung dari orang yang seperti sedang memeluknya itu sekarang. 

Darah. Anne membelalakkan matanya. Darah, darah, darah. “A-Apa yang―!” 

Dengan posisi seperti ini, ia dapat mendengar jelas bagaimana deru napas lawan bicaranya yang masih membisu itu terdengar. Anne kembali menurunkan tangannya untuk menyusuri punggung perempuan yang ada di rengkuhannya dan menemukan sebilah panah menancap ke tubuhnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia membeku. 

“Aku tidak akan mati.” 

Suara gadis itu menyadarkannya dari kekalutan yang sedang terjadi di pikirannya saat ini. Ia terdengar … sangat lemas, namun di sisi lain, Anne menemukan ketegaran dalam ucapannya. Suatu … keseriusan. 

“Kau tadi nyaris mati. Kau bukan penduduk Hymeath. Mengapa kau ada di sini?” Sosok itu melepaskan tubuh Anne dari tangannya, sedikit mengerang dengan darah yang bercucuran dari ujung bajunya yang tertutup oleh jubah, kemudian dengan sekali tarikan, ia mencabut panah itu dari punggungnya. Meskipun terlihat tidak terlalu dalam, Anne yakin itu sangat menyakitkan dan … apa memang normal jika seorang manusia bertahan hidup setelah melewati kondisi seperti itu? 

“Pulanglah. Jika pergi lebih jauh lagi, akan ada pelarian lain yang kembali melukaimu dan membawamu untuk dijadikan pelacur mereka. Berita buruk setelahnya, mungkin kau akan dijual ke luar Eindernesia. Cepat.” Seakan tidak ada apa-apa, perempuan bersurai ungu dengan disatukan dengan kepangan panjang ke belakang melempar panah itu ke sembarang arah menuju hutan. Ia mengambil lentera listrik yang entah sejak kapan terkapar di salah satu sisi jalan, sepertinya gadis itu menjatuhkannya ketika sedikit mengangkat tubuh Anne tadi. Ia memberikan lentera itu pada Anne. Kini dengan jelas, Anne dapat melihat iris hitam yang gelap melihat ke dalam mata miliknya.

Mata itu … “T-Tapi … kau terlihat kesakitan!” 

Apa yang ia katakan? Bukankah sepatutnya?! Gadis ini sama sekali tidak mengenalnya, namun ia telah menyelamatkan Anne dari entah hal buruk apa yang bisa saja terjadi jikalau ia menariknya tadi! Anne mungkin bisa menjadi gadis penakut dalam banyak kasus, namun ia masih tahu diri untuk memberikan rasa terima kasihnya pada orang ini. 

Sunyi untuk beberapa saat. Kilau lampu jalanan seakan menjadi saksi bisu atas ungkapan Anne tadi. Gadis dari Valorea itu menunduk sedikit, apakah ia lancang? Sinar itu terasa sangat terang dan mungkin sekarang membuat rambut pirangnya tertutup cahaya. Anne menutup matanya erat-erat. Apakah memang seharusnya ia mendengarkannya saja dan pergi dan― 

“… baiklah. Peduli untuk membantuku?” 

Ia tidak pernah terlihat lagi setelahnya. 

Erina menghilang. 

Pertemuan setelah Erina mendadak kehilangan kesadarannya adalah kali terakhir Anne melihatnya. Hanya ada satu hal yang Anne ingat. 

Selamanya akan ia ingat. 

Ia merogoh saku yang ada di dalam gaun tidurnya, 

menemukan secarik kertas berwarna kecoklatan, layaknya daun kering, 

tulisan yang berantakan menghiasi permukaannya, 

bersamaan dengan beberapa tetes darah yang sudah lama mengering. 


“Aku tidak akan pergi jauh. 

Aku akan segera menemuimu kembali di Valorea. 

Bertahanlah dan jangan pernah kembali ke Hymeath. 

Aku mungkin akan melakukan sesuatu yang dapat mengubah takdir

Tetapi Anne, perasaanku tidak akan berubah. 

Tunggu aku melewati lautan yang abadi ini. 

Aku tidak akan mati. 

Tetaplah menjadi manusia, Anne.” 

―surat terakhir darinya, 

Erina Millen.


CHRONICLE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *